Upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan 2016

Om Swastiastu,

Pada Purnama Kawulu Minggu Pon 24 Agustus 2016 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan Upacara Piodalan. Upacara Piodalan tahun ini adalah Piodalan yang ketiga kalinya dan dipuput oleh 8 Pandita yaitu Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger, Pandita Dukun Puja Pramana dari Tengger, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna dari Griya Batur Bujangga Waisnawa – Tegalcangkring Jembrana, Ida Rsi Bujangga Suryayana dari Griya Candra Kusuma – Munggu Mengwi Badung, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening dari Griya Agung Segening – Munggu Mengwi Badung, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma dari Griya Anyar – Amlapura Karangasem, Ida Rsi Nabe Bujangga Sangging Prabhangkara Dwijasana dari Griya Kawan Ganggawati – Bangli dan Ida Rsi Bhagawan Darma Cadhu Siddhi dari Griya Suka Yadnya – Karangsari Nusa Penida Klungkung. Umat yang ngayahpun dari berbagai daerah Jawa Timur dan Bali seperti Bapak Made Supartana sekeluarga dari Singaraja, Bapak I Nengah Wijana sekeluarga dari Singaraja, Ibu Agung sekeluarga dari Gianyar, Keluarga Besar Forum Study Majapahit yang diketuai Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA dan keluarga, Bapak Ibu Umat dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon, Grup Seni Reyog Jaranan Campursari “Karyo Budoyo” pimpinan Bapak Warsim dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon, Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhung dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto, Semeton dari Banjar Hindu Kota Gresik, Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti yang diketuai oleh Jero Mangku Ketut Sumertha, Grup kesenian Sanggar Pancer Langit dari Desa Kapal Badung yang dipimpin A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn, Umat Hindu dari Bongso Kulon, Bongso Wetan, Laban,Beton, Mondoluku, Surabaya dan Sidaorjo. Juga Mas Arif dari Majalah Hitam Putih sekeluarga dan Mahasiswa Islam dari IAIN Sunan Ampel dan Unesa yang diketuai oleh Mas Zulfi Ikhsan. Juga warga Desa Mondoluku yang ikut membantu ngayah di pura ini.

Membuat Asahan

Membuat Asahan

Masang Wastra Hyang Semar

Masang Wastra Hyang Semar

Memasang Penjor

Memasang Penjor

Membuat Banten

Membuat Banten

Memasak

Memasak

Semeton Muslim lagi sholat di Wantilan

Semeton Muslim lagi sholat di Wantilan

Seperti piodalan sebelumnya, sebelum acara puncak piodalan pada tanggal 24 Januari 2016, selalu didahului oleh rangkaian upacara-upacara yaitu Jero Sepuh Medang Kamulan Matur Piuning pada Senin Pon 04 Januari 2016. Upacara yang di,mulai pada pukul 21.00WIB tersebut dilaksanakan di Mandala Utama pura dan dihadiri oleh umat dan pengurus pura.

Pada Minggu Wage 10 Januari 2016 dilaksanakan upacara Nancep Karya. Upacara dimulai pada pukul 14.00WIB dilaksanakan di Mandala Utama pura dan puput oleh Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi dari Pura Giri Arjuno. Hadir pada upacara tersebut Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD , Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti yang diketuai oleh Jero Mangku Ketut Sumertha dan Juga Umat Hindu dari berbagai daerah dan pengurus rumah tangga pura.

Nancep Karya

Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Pada Minggu Legi 17 Januari 2016 dilaksanakn Nunas Tirta Pekuluh ke Pura-Pura di Wilayah Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan dan Mojokerto. Acara dimulai pukul 09.00WIB diawali dengan kedatangan Tirta dari Pura Panca Sono Giri-Dukuh Kupang dan Tirta dari Pura Tirta Empul-Karang Pilang yang dibawa oleh Jero Mangku Jatmiko. Kemudian Tirta dari Pura Candi Cemara Agung–Tandes yang dibawa oleh Jero Mangku I Gusti Ketut Adnyana, Tirta dari Pura Agung Jagat Karana–Surabaya yang dibawa oleh Jero Mangku Putu Agus, Jero Mangku I Ketut Sedana dan Jero Mangku I Made Paria. Selanjutnya Tirta dari Pura Tungga Jati–Bulak Banteng yang dibawa oleh Jero Mangku Istri Nyoman Citra, Tirta dari Pura Segara Kenjeran yang dibawa oleh Jero Mangku Wayan Wardana, Tirta dari Pura Tirta Wening – Tambaksari Surabaya dibawa oleh Jero Mangku Wayan Sujana, Tirta dari Pura Tirta Gangga – Kertajaya Gg. 10 Gubeng Surabaya dibawa oleh Jero Mangku Wayan Juwet, Tirta dari Pura Kerta Bhumi –Bongso Wetan yang dibawa oleh Jero Mangku Saptono, Bapak Kusno dan Bapak Satiman. Selanjutnya Tirta dari Pura Nirwan Jati–Sekelor, Tirta dari Pura Penataran Agung Margo Wening–Krembung dan Tirta dari Pura Jala Siddhi Amertha–Kenjeran yang dibawa ole Jero Mangku Ketut Sumertha. Setelah itu menyusul Tirta dari 7 pura dari Mojokerto, Tirta dari Pura Kertha Buana–Bongso Kulon, Tirta dari Pura Jagad Dumadi–Laban, Tirta dari Pura Jagat Giri Natha–Beton dan Tirta dari Pura Suweta Maha Suci–Lamongan.

Tirta Pura Jagat Karana, Pura Tunggal Jati, Pura Segara Kenjeran, Pura Tirta Wening dan Pura Tirta Gangga

Tirta Pura Jagat Karana, Pura Tunggal Jati, Pura Segara Kenjeran, Pura Tirta Wening dan Pura Tirta Gangga

Tirta Pura Kertha Bhumi

Tirta Pura Kertha Bhumi

Tirta Pura Nirwan Jati, Pura Margo Wening dan Pura Jala Siddhi Amertha

Tirta Pura Nirwan Jati, Pura Margo Wening dan Pura Jala Siddhi Amertha

Pukul 18.00WIB dilaksanakan upacara Matur Piuning ring Hyang Semar. Berbeda dengan tahun kemarin dimana kita Matur Piuning dan Nunas Wastra Hyang Semar di Gunung Arjuno, maka pada kali ini kita cukup Matur Piuning ring Hyang Semar di pura saja.

Pada Kamis Kliwon 21 Januari 2016 dilaksanakan upacara Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati ke Pantai Ngliyep di Malang Selatan. Upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana dari Tengger dan dihadiri oleh umat dari Gresik dan Surabaya. Juga umat dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger, Ibu Agung sekeluarga dan Adik-adik Mahasiwa/Mahasiswi dari IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Unesa Surabaya. Pukul 03.00WIB umat berkumpul dan bersembahyang di Mandala Utama pura. Setelah itu umat mempersiapkan semua peralatan dan banten yang akan digunakan untuk upacara nanti. Pukul 04.00WIB Umat berangkat menuju ke Pantai Ngliyep. Umat menggunakan 10 mobil berjalan beriringan dengan dikawal voorijder dari Angkatan Laut.

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Persiapan sarana persembahyangan

Persiapan sarana persembahyangan

Pukul 09.40 Umat sampai di Pantai Ngliyep. Kemudian umat beristirahat sebentar sembari menunggu pemuput upacara yang berangkat dari Tengger. Pukul 11.30 Umat menuju ke Gunung Kombang di Pantai Ngliyep tempat pelaksanaan upacara. Sembari menunggu upacara dimulai, beberapa semeton menyampaikan kesan mengikuti upacara ini. Sebagian merasa senang karena tempatnya yang bagus apalagi banyak yang baru pertama ke sini. Tahun depan mereka berencana akan ikut upacara ini lagi. Juga mereka menyampaikan bahwa rangkaian upacara piodalan yang dilaksanakan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini begitu unik tidak sama dengan pura yang lain. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri sehingga membuat mereka ingin selalu bisa ngayah di pura ini. Untuk sarana dan prasarana pada upacara di Pantai Ngliyep ini dibantu oleh Marinir yang bertugas di sini.

Masuk Gunung Kombang

Masuk Gunung Kombang

Persiapan Upacara Larung Sesaji

Persiapan Upacara Larung Sesaji

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Mas Zulfi Ikhsan memberikan testimoni

Mas Zulfi Ikhsan memberikan testimoni

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD memberikan Dharma Wacana

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD memberikan Dharma Wacana

Bapak Agung memberikan testimoni

Bapak Agung memberikan testimoni

Pandita Dukun Eko Warnoto memberikan pencerahan

Pandita Dukun Eko Warnoto memberikan pencerahan

Bendera Merah Putih berkibar di Batu Karang

Bendera Merah Putih berkibar di Batu Karang

Pukul 12.00WIB upacara Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati dimulai. Upacara berlangsung khidmat diiringi suara genta dan deburan ombak Pantai Ngliyep. Juga hujan rintik-rintik dan angin yang menambah kekhusukan upacara ini. Upacara diakhiri dengan melarung semua banten ke laut. Semua ikut ngelarung termasuk Mahasiswa/Mahasiswi Sunan Ampel dan UNESA. Setelah upacara umat kembali ke tempat parkir untuk makan siang bersama anggota Marinir. Pukul 15.00WIB umat kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Persiapan larung sesaji

Persiapan larung sesaji

Banten di larung

Banten di larung

Nunas ajengan

Nunas ajengan

Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Tanggal 23 Januari 2016 pukul 13.00WIB umat berkumpul di Wantilan Jenggolo untuk melaksanakan upacara selamatan terop. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Puja Pramana.

Selamatan Terop

Selamatan Terop

Setelah itu umat menuju ke Candi Bentar Mandala Nista untuk mengikuti upacara Rakatawang. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto. Upacara berlangsung khidmat diiringi oleh hujan rintik-rintik dan musik ketipung dari Semeton Tengger.

Upacara Rakatawang

Upacara Rakatawang

Setelah itu umat menuju ke Mandala Utama untuk mengikuti upacara Pembejian. Upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Puja Pramana, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna, Ida Rsi Bujangga Suryayana, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma. Pada upacara tersebut semua pretima dibawa ke para Pandita untuk dimantrai. Setelah itu semua Pretima, Senjata Dewata Nawa Sanga dan Panji Medang Kamulan dibawa ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk disucikan. Setelah upacara penyucian selesai, umat kembali ke Mandala utama untuk Murwa Daksina (mengelilingi Mandala Utama sebanyak 3 kali sambil mengucap kirtanam “Om Namah Siwaya” berulang-ulang) dan Ngelinggihang Ida Bhatara ring Soang-Soang. Upacara diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Persiapan pembejian

Persiapan pembejian

Pretima

Pretima

Pretima dibawa ke Beji

Pretima dibawa ke Beji

Pada Puranam Kawulu Minggu Pon 24 Januari 2016 dilaksanakan puncak Upacara Piodalan. Mulai pagi-pagi umat sudah sibuk mempersiapkan upacara. Upacara dimulai pukul 15.00WIB. upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Puja Pramana, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna, Ida Rsi Bujangga Suryayana, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma, Ida Rsi Nabe Bujangga Sangging Prabhangkara Dwijasana dan Ida Rsi Bhagawan Darma Cadhu Siddhi. Upacara diawali dengan pecaruan yang dilaksanakan di Mandala Utama oleh para Pemangku. Kemudian para Pandita ngantebang upacara piodalan. Pada kesempatan tersebut, juga dilaksanakan upacara Pawintenan Pemangku kepada Bapak Ketut yang akan menjadi Pemangku di pura ini.

Setelah itu kemudian dilaksanakan Dharma Wacana oleh Pembimas Hindu Kanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur Bapak Ida Bagus Made Windya, S.Ag. Beliau menyampaikan bahwa meski di Desa Mondoluku ini hanya ada 7 KK tetapi pada piodalan kali ini umat yang hadir luar biasa banyaknya . Ini berarti bahwa Ida Bhatara sangat merestui kita semua. Dengan adanya pura menunjukkan bahwa ini merupakan sebuah identitas akan keberadaan Umat Hindu di pura ini. Oleh karena itu kita wajib menjaga kesucian pura ini. Bahkan adanya rencana membangun Panti Wredha di pura ini untuk Umat Hindu yang sudah sepuh wajib didukung dan segera buatkan proposalnya kepada Dirjen Bimas Hindu Kemendag RI di Jakarta. Juga rencana adanya pasraman yang nanti jadi pusat pendidikan Agama Hindu. Kita sebagai Umat Hindu wajib menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama. Dan hal ini sudah diwujudkan dengan Umat yang bahu membahu membatu umat yang sedang mengalami kesusahan akibat bencana seperti adanya Gunung Kelud, Gunung Raung dan Gunung Bromo yang meletus. Umat bahu membahu mengumpulkan bantuan baik berupa punia maupun sembako untuk umat kita yang sedang kesusahan tersebut. Hal ini sesuai dengan adanya pesan dari Sri Kresna yang berbunyi hendakanya kita menyayangi, mengasihi segala makhluk hidup. Persahabatan yang dilandasi dengan kasih sayang.

Setelah itu Dharma Wacana dari Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA. Beliau adalah Ketua Forum Study Majapahit. Beliau juga adalah Anggota Dewan Kehormatan Dewan Persatuan Pasraman Seluruh Indonesia. Sampai hari ini Beliau membina 63 Asraman. Selalu melakukan kunjungan sesempat-sempatnya padahal Beliau mempunyai kesibukan yang luar biasa. Beliau menyampaikan bahwa sebelumnya Beliau sudah beberapa kali ke pura ini, bahkan pada Tanggal 21 Desember 2015 Beliau bersama Teman-teman Forum Study Majapahit dan Umat Hindu yang ada di Gresik dan Surabaya ini telah melaksanakan Upacara Pawintenan Nusantara di pura ini. Pawintenan dilaksanakan untuk menyucikan seluruh Nusantara sesuai dengan petunjuk dari Yang Diatas. Adapun dipilih Tanggal 21 Desember 2015 karena mempunyai makna 21 artinya dari ada diprelina, dan angka 12 bermakna dari nol menjadi ada. Sedangkan 2015 kalau dijumlah menjadi 8. Delapan artinya derap langkah ke depan. Jadi 2-1, 1-2 ini kebangkitan peradaban baru. Semua diprelina kembali ke Medang ke awal. Disini sudah momentumnya menurut Ida. Hal ini karena pada waktu ini Negara kita seperti mengalami masa prelina yang mana ditunjukan oleh para pemimpin kita terang-terangan melakukan dosa baik korupsi dll dan banyak juga yang masuk penjara. Pemimpin yang semestinya menjadi tauladan, sekarang jadi pesakitan di penjara. Hal ini karena kita tidak mengamalkan ajaran Pancasila dengan baim dan benar. Bahkan ada suatu golongan yang menolak Pancasila itu sebagai dasar mereka. Hal ini karena mereka tidak tahu arti dan makna dari Pancasila tersebut.

Setelah itu dilaksanakan Tari Sakral Atithi Dharma Tri Murti yang dibawakan oleh Ibu Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, Ibu Jero Mangku Sri Ngatiin dan Ibu Ni Ketut Nurhoki.

Kemudian dilanjutkan Tari Wali dan Tabuh  yang pembinanya adalah A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn. Officialnya adalah Ngurah Jambe, A.A Mas Sudarningsih, Kadek Elena Kusuma Dewi, I Kadek Permata Nidhi, I Made Yuandika Pramudia, I Putu Gede Bagus Restu Waisnawa, I Komang Jana Artha Suputra . Penabuh : I Made Suardipa, I Putu Agus Widi Adnyana, I Gede Putu Bayu Krisna Permadi, I Made Widnyana, I Made Rai Purnayasa, I Komang Gede Arya Sasmita. Tarian yang ditampilkan adalah Tari Baris yang dibawakan I Gusti Ngurah Agung Giri Putra, Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara, I Kadek Soma Ratmaja, I Gede Wirasantha Ganda Mandana, Ida Bagus Eka Haristha, Ida Bagus Haris Yodhie, Pande Putu Kevin Muliarta, Dewa Dwipayana, I Gede Agus Suparta dan Tari Rejang yang dibawakan oleh Ni Komang Seriati, Putu Fenny Diaristha, Ni Putu Tina Ratna Dewi, Ni Putu Yayang Lorensia Novita, Ida Ayu Sri Purnamadewi, Ni Putu Tina Febri Artaningsih dan Ni Luh Made Maura Agustina.

Setelah itu Tari Majapahit oleh Semeton dari Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhurng dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto.

Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.

Selesai persembahyangan, Umat kemudian menuju ke Wantilan untuk menikmati makan malam dan menonton acara Pentas Seni Budaya.

Pada Senin Wage 25 Januari 2015 pukul 08.00WIB semeton dari BKS LPD Provinsi Bali & LPLPD Provinsi Bali, LPD Sekabupaten Buleleng, BKS LPD Provinsi Bali & LPLPD Provinsi Bali melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton berjumlah sekitar 200 orang di ketuai oleh Bapak Made Nyiri Yasa, S.Sos M.Ma. Semeton kemudian berkumpul di Wantilan untuk mesimakrama.

Pada kesempatan tersebut semeton dan umat mendengarkan Dharma Wacana. Yang pertama dari Pinandita Dr. Drs. I Nyoman Murba Widana M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa saat ini kita hidup di Jaman Kaliyuga. Dan ini tidak singkat semenjak Raja Parikesit dinobatkan dan akan berlangsung selama 420.000 tahun lamanya. Setelah itulah kita akan mengalami Mahapralaya. Adapun ciri-ciri kaliyuga itu adalah Bencana dimana-mana, contohnya Tsunami di Aceh, Gempa di Jepang, Kebakaran di Amerika Serikat. Yang harus kita lakukan adalah dimanapun dan kapanpun kita harus ingat dan melaksanakan kepada sabda Brahma yang berbunyi “ Bila Kamu ingin damai, bila Kamu ingin tenang maka janganlah lupa memuja Para Dewa, janganlah lupa memuja orang suci, janganlah lupa memuja Leluhur-Leluhur kita, kebenaran dan keadilan, kalau ini kita lakukan dengan mantap, tekun kita akan terbebas dari buruknya bencana yang mengerikan itu”. Dan kita wajib bersyukur karena diantara semua makhluk hidup hanya manusia yang bisa membedakan baik dan buruk, karena itu leburlah segala perbuatan buruk itu kedalam perbuatan baik.

Selanjutnya Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA menyampaikan Dharma Wacana. Beliau membagi kepada umat tentang kesaksian Beliau tampil di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini. Beliau baru saja tahu tentang pura ini. Pada saat Beliau nyetir ke Nusa Dua Ida Bhatara tedun di mobil agar Beliau ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan pada Bulan Desember 2015. Beliau bingung letak pura tersebut, tahunya nama Medang di Jawa Barat terus pindah ke Jawa Tengah kemudian pindah ke Jawa Timur yang dibawa oleh Mpu Sendok. Kemudian Beliau mencoba mencari di internet dan akhirnya ketemulah webnya pura ini. Sama seperti semeton ini, Beliau merasa bersyukur bisa hadir dan ngayah di pura ini. Karena di pura ini merupakan awal peradaban yang akan dimulai pada tahun ini. Di pura ini banyak orang-orang yang mempertanyakan kok banyak yang aneh-aneh disini. Salah satu contohnya adalah adanya bendera merah putih di Lingga Yoni dan Kita harus menghormat bendera tersebut. Padahal menghormat bendera cuma ada dalam upacara bendera atau peringatan hari-hari Nasional saja, bukan pada waktu kegiatan upacara Agama Hindu. Terhadap pertanyaan tersebut kita harus bisa mengerti dan memahami bahwa Bendera Merah Putih, Burung Garuda Pancasila dan Semboyan Binneka Tungga Ika itu berasal dari Hindu. Bendera Merah Putih merupakan lambang Bapak dan Ibu kita yang juga merupakan Leluhur kita juga. Maka menghormat kepada Bendera Merah Putih berarti juga menghormat kepada Leluhur kita semua termasuk para pejuang yang telah gugur untuk merebut kemerdekaan Negara kita ini. Tanpa adanya orang tua dan para pejuang tersebut, kita tidak akan ada dan tidak bisa menikmati kemerdekaan kita ini. Oleh karena itu menghormat Bendera Merah Putih juga merupakan bagian dari kita memuja Leluhur kita di pura ini.

Selanjutnya Bapak Made Nyiri Yasa, S.Sos M.Ma menyampaikan sambutannya. Beliau menyampaikan bahwa sekarang Beliau ngayah ngiringang Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga di desa Beliau. Padahal Beliau merasa belum mengerti apa-apa. Tetapi Beliau percaya kalau memang karma wasana, kalau perbuataan terdahulu baik maka sekarang kita menikmatinya. Ketika Beliau pertama kali tangkil (datang) ke pura ini, Beliau merasakan ada sesuatu yang luar biasa yang secara akal sehat tidak bisa Beliau kerjakan dan rasakan tetapi itu bisa Beliau dapatkan. Itulah keyakinan Beliau kepada Leluhur Beliau yang berstana di pura ini. Beliau ngayah Ida Bhatara tujuannya agar nanti bisa memberikan hidup lebih baik dan kebahagiaan kepada anak cucunya dikemudian hari.

Setelah itu semeton melaksanakan persembahyangan, dimulai dari penglukatan di Beji, matur piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar, Rsi, Kanjeng Ratu Kidul dan Ratu Ibu Ken Dedes. Setelah itu semeton melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama. Karena semeton masih ada kegiatan tirtayatra ke pura lain, maka setelah selesai persembahyangan, semeton pamit melanjutkan perjalanan. Sedangkan umat yang lain tetap di pura karena masih banyak kegiatan.

Pukul 13.00 WIB di Wantilan Jenggolo dilaksanakan tari-tarian dari Grup Seni Reyog Jaranan Campursari “Karyo Budoyo” pimpinan Bapak Warsim dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon. Grup ini setiap Piodalan di pura ini selalu ngayah di pura ini. Acara yang ditampilkan adalah Lagu Campursari, Pencak silat, Bantengan, Jaran Pegon, Reog Pakem, Warok, Jatilan, Topeng Kelono Sewandono, Reog dan Jaranan. Pada tarian tersebut banyak pemainnya yang kesurupan makan kaca, lampu neon dan makan ayam hidup-hidup. Bagi yang masih waras, jangan ditiru ya?

Setelah itu pada pukul 18.00WIB dipentaskan Tari-tarian dari Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhurng dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto. Tari yang ditampilkan adalah Bantengan. Tarian inipun tidak kalah seram dengan yang pertama.

Setelah itu kemudian ditampilkan Pentas Tari Balih-balihan. Tabuh Selonding yang dibawakan oleh Divisi Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali. Penata Tabuh : I Made Suardipa dan Penabuh : I Putu Agus Widi Adnyana, I Gede Putu Bayu Krisna, I Made Widnyana, I Made Rai Purnayasa, I Komang Gede Arya Sasmita, Ida Bagus Haris Yodhi.

Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali

Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali

Tari Balih-balihan yang ditampilkan adalah:

  1. Tari kebyar duduk
Tari kebyar duduk

Tari kebyar duduk

Tari ini merupakan ciptaan I Mario dari Tabanan yang menciptakan tarian ini pada tahun 1925. Tari ini disebut Kebyar Duduk oleh karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila). Tari Kebyar Duduk menggambarkan kemahiran seorang pemuda yang menari dengan lincahnya dengan posisi duduk mengikuti irama gamelan.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Penari : Pancer Kumara (I Made Yuandika Pramudia)

  1. Tari baris kembar
Tari baris kembar

Tari baris kembar

Tari Baris Kembar merupakan pengembangan dr Tari Baris Tunggal hanya saja tarian ini ditarikan oleh dua penari. Tari ini mengisahkan pemuda yang gagah berani dengan sifat keprajuritan dan kepahlawanan. Tarian ini penuh dengan irama gerak yang mantap dan tegas wujud sikap seorang prajurit. Tari ini juga mengejawantahkan seorang ksatria muda Bali yang sedang meninjau “daerah kekuasaan” ayahnya yang suatu saat akan dipimpinnya. Gelungan yg dikenakan berwarna putih, menandakan nilai kesucian dan keluhuran sebagai pemimpin.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Penabuh : Pancer Babaswasram, Penari : Pancer Kumara (I Putu Gede Bagus Restu Pratama Waisnawa dan I Komang Jana Artha Suputra). Tari ini mendapatkan Juara 1 Tari Baris kembar dalam HUT Kota Mangupura 2015

  1. Tari jauk manis
Tari Jauk manis

Tari Jauk manis

Tarian ini menceritakan kegagahan dari seorang Pahlawan di hutan,yang dengan keperkasaannya mampu menundukan setiap musuh yang mengganggu kehidupan insan yang penuh kedamaian di dalam hutan Belantara. Dibalik kebringasannya dan kekejamannya terselip pula kelemahlembutannya, terutama kepada mahkluk yang lemah dan taat akan kelestarian hutan.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Tabuh : Pancer Babaswaram, Penari : Pancer Kumara (I Kadek Permata Nidhi). Tari ini mendapatkan Juara 1 lomba Tri Jauk Manis se-Bali dalam Llomba Tari Bali di Kayumas Kaja

  1. Sang Hyang Sembah
Tari Sang Hyang Sembah

Tari Sang Hyang Sembah

Sembah yang artinya “sujud atau sungkem” yang dilakukan dengan cara – cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata – kata maupun tanpa ucapan (pikiran atau perbuatan). Sembah merupakan simbolisasi dari rasa bhakti dan keyakinan yg dilakukan secara tulus ikhlas yg mengandung arti sebagai kontroling diri atas ego sehingga dikatakan pula sembah/bhakti merupakan pondasi dasar dalam perjalanan spiritual sang jiwa menuju pencerahan diri yg sejati.

Penata Tari : I Gusti Ngurah Agung Giri Putra, Penata Tabuh : Pancer Babaswaram, Penari : Pancer Wiswa Natha Raaga ( Ida Bagus Eka Haristha, Dewa Dwipayana, I Gede Wirasantha Ganda Mandana, A.A Mas Sudarningsih, Putu Fenny Diaristha, Kadek Elena Kusuma Dewi)

  1. Tari Carik Kapal
Tari Carik Kapal

Tari Carik Kapal

Carik jika dipahami secara filosofis bukanlah sekedar tempat para petani untuk bercocok tanam. Di dalam sastra Bali juga dikenal kata carik yang disimbolkan dengan cecek (agni) yang berarti saraswati atau pengetahuan. Memahami carik adalah memahami kosmologi tentang awal peradaban manusia. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika banyak para philsuf mengatakan bahwa pertanian adalah “Mother of Culture”. Sebagaimana di Desa Kapal, terdapat tradisi perang tipat bantal yang lahir dari budaya pertanian masyarakat. Dalam Lontar Aci Rah Pengangon, Tipat dan Bantal adalah simbolisasi purusa dan pradana yang harus selalu bertemu untuk mewujudkan kesejahteraan. Masyarakat Desa Kapal meyakini jika tradisi ini tidak dilaksanakan maka carik atau sawah di Desa Kapal akan mengalami kekeringan dan diserang hama (merana). Berpijak dari pemahaman tentang carik dan perang tipat bantal inilah lahir inspirasi untuk merepresentasikan kembali esensi pemahaan tersebut menjadi sebuah karya tari kontemporer dengan judul Carik Kapal. Selain mengusung lokal jenius sebagai sumber inspirasi karya, dalam karya ini juga menyisipkan beberapa kritik atas kondisi pertanian yang kini telah diterjang oleh arus modernitas dan kapitalisme.

Tari Carik Kapal

Tari Carik Kapal

Penata Tari: Agung Rahma Putra, Penari: Pancer Visva Natha Raaga (I Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara, Pande Putu Kevin Dian Muliarta, Ni Putu Yayang Lorensia Novita, Ida Ayu Sri Purnamadewi, Ni Putu Tina Febri Artaningsih). Official: I Gede Agus Suparta, Ngurah Jambe, I Kadek Soma Ratmaja. Tari ini mendapatkan Juara 1 se-Bali dalam Garda Badung Festival dan juara 1 se-Bali pada Realita Budaya diploma FEB Unud.

Foto bersama

Foto bersama

Pada hari ke-3 Selasa Kliwon 26 Januari 2015 pukul 18.00WIB dilaksanakan upacara Nyineb dan Melebar Daksina. Upacara dimulai dengan pementasan Tari Shiva Tandava yang dipentaskan oleh I Gede Agus Suparta, Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara. Pembinanya adalah A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn dan Officialnya adalah Ngurah Jambe.

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Setelah itu dipentaskan juga Tari Sesolahan Topeng Joyoboyo yang dibawakan oleh Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila.

Sesolahan Topeng Joyoboyo

Sesolahan Topeng Joyoboyo

Setelah itu dilaksanakan persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana. Setelah persembahyangan, dilaksanakan melebar daksina, semua pretima dibawa ke Bale Piasan Kemulan.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana

Persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Setelah selesai, umat kembali ke Wantilan Jenggolo untuk menikmati hiburan Kesenian Wayang Kulit Jawa dan Campursari yang sebagai dalangnya adalah Ki Suryono B.C dari Trowulan. Sebelum wayang kulit dimulai, semeton dan warga Desa Mondoluku yang menonton dihibur dengan Lagu-Lagu Campursari yang dibawakan oleh penyanyi yang cantik-cantik. Para penonton banyak yang nyawer termasuk dua pemangku andalan kita yaitu Mangku Nur dan Mangku Timbul. Bahkan Bapak Tomo tidak mau turun dari panggung meski disuruh turun. Semua merasa senang bahkan Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Nurhoki ikut menyanyi campursari diiringi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu Medang Kamulan. Suara mereka berdua yang begitu merdu dan indah membuat penonton terkesima.

Gamelan Karawitan

Gamelan Karawitan

Penyanyi Campursari

Penyanyi Campursari

Jero Sepuh Istri bernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri bernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Arshabernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Arshabernyanyi menghibur penonton

Pemangku ikut nyawer

Pemangku ikut nyawer

Pemangku satunya juga tidak mau kalah

Pemangku satunya juga tidak mau kalah

Bapak Sai menyerahkan gunungan kepada Dalang Ki Suryono sebagai tanda wayang segera di mulai

Bapak Sai menyerahkan gunungan kepada Dalang Ki Suryono sebagai tanda pagelaran wayang segera dimulai

Pementasan Kesenian Wayang Kulit Jawa

Pementasan Kesenian Wayang Kulit Jawa

Selesai sudah rangkaian upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Tahun 2016. Upacara berlangsung lancar dan aman tanpa ada habatan yang berarti. Ini semua karena semuanya ngayah dengan ikhlas. Semua itu menjawab keraguan orang-orang yang tidak percaya kita disini bisa melaksanakan piodalan dengan baik. Semua bertanggungjawab dengan tugas masing-masing. Bahkan ada yang mengerjakan lebih dari satu tugas. Semua saling menutupi kalau ada yang kurang. Semua semangat ngayah baik yang dari Jawa sini maupun yang dari Bali, baik yang Umat Hindu Sendiri maupun dari Muslim. Semua karena satu tujuan yaitu untuk berjanji berbakti dan mengabdi jiwa raga kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Para Leluhur.

Syukuran

Syukuran

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: