Tirtayatra semeton dari Bank BPD Bali, LPD se-Kab. Buleleng dan Kec. Pupuan Tabanan

Om Swantiastu,

Pada Sabtu Umanis 15 Agustus 2015 semeton dari Bank BPD Bali, LPD se-Kab. Buleleng dan Kec. Pupuan Tabanan melaksanakan tirtayatra ke Pura Penanataran Luhur Medang Kamulan. Semeton datang berjumlah 500 lebih orang dengan menggunakan 11 bus yang merupakan gabungan dari semeton dari 2 Bank BPD Bali dan 169 LPD se-Kab. Buleleng dan Kec. Pupuan Tabanan. Ketuanya adalah Bapak I BN Ari Suryantara. Ini merupakan jumlah semeton terbesar yang pernah metirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Hal ini tentu merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan oleh kami seluruh pengurus rumah tangga pura dan juga umat Hindu Gresik umumnya dan Desa Monduku khusunya. Tapi ini juga merupakan tantangan bagi kami untuk bisa menjamu semeton dengan sebaik-baiknya. Tetapi atas restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Leluhur maka semua acara berjalan dengan lancar. Para umat bahu membahu mempersiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan, bahkan banyak umat yang bekerja siang malam mempersiapkan semuanya. Bapak I Nengah Wijana sekeluarga datang dari Singaraja dua hari sebelumnya. Ibu Jero Sinaran sekeluarga juga datang dari Tabanan. Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc Ph.D sekeluarga, Bapak Made Subakti, Bapak Kusno, Bapak Wongso Negoro, Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Puja Pramana dan Mangku Sepuh Sujito semua datang membantu kami.

Menata piring makan

Menata piring makan

Bu Made sedang memasak

Bu Made sedang memasak

Bapak Made S, Bp Nengah Wijana, Bpk Made Subakti dan Bpk Ketut

Bapak Made S, Bp Nengah Wijana, Bpk Made Subakti dan Bpk Ketut

Bapak Prof Sutantra, Bpk Wongso Negoro, Bpk Kusno, Bpk AKP Made Jati Negara dan Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bapak Prof Sutantra, Bpk Wongso Negoro, Bpk Kusno, Bpk AKP Made Jati Negara dan Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Pukul 16.15 WIB rombongan sampai di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bus-bus kemudian diparkir disebelah utara pura. Semeton kemudian menuju ke wantilan untuk melepas lelah. Ada juga yang langsung ke kamar mandi. Kamar mandi di pura sebenarnya cukup banyak yaitu 20 kamar mandi tetapi karena semeton yang datang 500 lebih maka terpaksa banyak yang antri cukup lama. Jadi sambil menunggu giliran, semeton ada yang menikmati minuman dan jajanan yang disediakan pura sedang yang lain duduk beristirahat di tempat yang disediakan.

Bus-bus parkir di sebelah utara pura

Bus-bus parkir di sebelah utara pura

Semeton baru sampai di pura

Semeton baru sampai di pura

Semeton beristirahat di Wantilan

Sebagian Semeton beristirahat di Wantilan

Doa bersama di pimpin Pandita Dukun Eko Warnoto

Doa bersama di pimpin Pandita Dukun Eko Warnoto

Pada kesempatan tersebut, Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah pura ini. Juga tentang adanya pelinggih untuk memuja seluruh Leluhur dari Tanah Jawa yaitu Gedong Lingga Kamulan. Juga adanya pelinggih Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar, Ratu Ken Dedes, Rsi Agastya, Rsi Markendya dan Mpu Kuturan. Kita juga disini menggunakan Banten Jawa Tengger pada setiap upacara yang dilaksanakaan di pura ini. Dan juga dipura ini kita tidak menggunakan daging berkaki empat baik upacara maupun makanannya. Hal ini karena banyak umat dari agama lain yang sering mambantu disini. Sehingga dengan tidak adanya makanan dari hewan tersebut, mereka tidak merasa waswas lagi.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Kemudian sambutan dari Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc Ph.D. Beliau menyampaikan bahwa sudah saatnya kita datang untuk menghadap Leluhur kita yang dari Tanah Jawa. Dan di pura ini memang pusat Leluhur Tanah Jawa. Apalagi desanya adalah Desa Mondoluku berarti Mandala KU yang bermakna bahwa Mandala atau rumah para Leluhur ada disini. Di depan ada Lingga Siwa yang melambangkan trisula yang terdiri dari Kebenaran, Keadilan dan Kejujuran. Ketiganya merupakan dasar dari Dharma. Dengan menegakkan dharma itu maka kesejahteraan seluruh masyarakat akan bisa tercapai.

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc Ph.D.

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc Ph.D.

Selanjutnya Pandita Dukun Eko Warnoto memberikan sambutanya. Beliau menyampaikan kebahagiannya bisa bertemu semeton dari Bali dalam rangka tirtayatra ke pura ini. Beliau juga meyakini bahwa jumlah semeton yang 500 lebih merupakan suatu pertanda ramalan Sabdo Palon yang menyebutkan setelah 500 tahun Sabdo Palon akan mengembalikan lagi budaya Tanah Jawa ini akan terbukti. Pandita Dukun Eko Warnoto juga menyampaikan bahwa di pura inilah seluruh Leluhur Tanah Jawa dilinggihkan. Jadi para semeton yang dulu menyebar ke Bali dan ke Tengger sekarang bisa bertemu di sini. Semoga selalu mendapatkan kedamaian dan ketentraman.

Pnadita Dukun Eko Warnoto

Pnadita Dukun Eko Warnoto

Selanjutnya Ibu Nyoman Resmi menyampaiakan sambutannya. Beliau menyatakan sangat bersyukur bisa dipercaya sebagai humas pura sehingga Beliau bisa mensosialisasikan pura ini kepada seluruh semeton di Bali. Beliau menyampaikan bahwa Beliau mau melaksanakan amanat ini karena Beliau sendiri merasakan kehadiran Leluhur lewat mimpi yang mengatakan bahwa Leluhur sangat terharu karena selama ratusan tahun gentayangan tidak punya tempat dan baru sekarang dibuatkan pelinggih di pura ini. Karena itu Beliau ikhlas ngayah untuk pura ini bahkan Beliau sudah sering ngayah di pura ini. Beliau juga mengajak para pemedek untuk bisa ikut mensosialisasikan keberadaan pura ini kepada umat yang lain. Mudah-mudahan dengan tangkil di pura ini kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Ibu Nyoman Resmi

Ibu Nyoman Resmi

Kemudian Ibu Jero Sinaran menyampaikan bahwa Beliau sangat merasa bahagia bisa ngayah di pura ini. Hal ini karena Beliau bermimpi sebanyak tiga kali didatangi oleh orang yang berbentuk seperti Tualen didampingi oleh Pemangku Bali. Beliau mengatakan bahwa Beliau melinggih di Pura Dalem Medang Kamulan. Dan Ibu Jero Sinaran disuruh tangkil ke pura itu. Ibu Jero kemudian memikirkan mimpinya tersebut dan Beliau tidak tahu dimana pura itu. Setelah bertanya ke sana kesini akhirnya Beliau sampai di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Kemudian Beliau melihat pelinggih yang mirip dengan Tualen seperti di mimpi di Lingga Yoni. Pelinggih tersebut adalah Hyang Semar. Hyang Semar adalah penjaga Tanah Jawa ini. Sejak itu Beliau sangat yakin bahwa di pura inilah melinggih para Leluhur.

Ibu Jero Sinaran

Ibu Jero Sinaran

Selanjutnya Bapak I BN Ari Suryantara selaku ketua rombongan memberikan punia yang diterima oleh Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila. Setelah itu Bapak Juni menyerahkan 3 buah jam dinding.

Bapak I BN Ari Suryantara memberikan punia diterima oleh Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bapak I BN Ari Suryantara memberikan punia diterima oleh Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bapak Juni punia Jam dinding

Bapak Juni punia Jam dinding

Pembagian rerantasan Tuur Taja Medang Kamulan

Pembagian rerantasan Tuur Taja Medang Kamulan

Karena hari sudah malam maka semeton dan umat menuju ke dapur untuk makan malam.

Makan malam

Makan malam

Pukul 19.45WIB Semeton menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Matur piuning ring Beji

Matur piuning ring Beji

Rerantasan dilukat

Rerantasan dilukat

Kemudian dilanjutkan dengan matur piuning di Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi. Setelah itu Semeton menuju ke Mandala Utama untuk persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama di Mandala Utama

Persembahyangan bersama di Mandala Utama

Persembahyangan bersama di Mandala Utama

Persembahyangan bersama di Mandala Utama

Sebagian semeton terpaksa bersembahyang di Mandala Madya

Sebagian semeton terpaksa bersembahyang di Mandala Madya

Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana memimpin persembahyangan

Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana memimpin persembahyangan

Setelah persembahyangan, semeton mekemit di pura dan acaranya bebas. Ada yang tidur dan ada yang bersembahyang.

Makan malam

Makan malam

Besoknya pagi pukul 05.00WIB semeton bersembahyang di Mandala Utama. Kemudian semeton membawa rantasan Tuhur Taja Medang Kamulan untuk ditaruh menuju ke bus masing-masing.

Persembahyangan pagi hari

Persembahyangan pagi hari

Persembahyangan pagi hari

Persembahyangan pagi hari

Persembahyangan pagi hari

Persembahyangan pagi hari

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Bapak Nyoman Suwida dan teman

Bapak Nyoman Suwida dan teman

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Mekidung dan kirtanam Om Namah Siwaya

Mekidung dan kirtanam Om Namah Siwaya

Ida Bhatara Para Leluhur merestui

Ida Bhatara Para Leluhur merestui

Rerantasan dibawa ke bus

Rerantasan dibawa ke bus

Rerantasan dibawa ke bus masing-masing

Rerantasan dibawa ke bus masing-masing

Setelah itu semeton menuju ke Wantilan untuk makan pagi.

Makan pagi

Makan pagi

Pukul 07.00WIB semeton pamit kembali ke Bali.

Foto bersama Romo Pandita

Foto bersama Romo Pandita

Foto sebelum pulang

Foto sebelum pulang

Berpamitan

Berpamitan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: