Tirtayatra Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Om Swastiastu, Pada Minggu, 21 Juni 2015 Semeton dari Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Acara Tirtayatra kali ini merupakan kegiatan rutin acara arisan yang dilaksanakan oleh semeton Kelompok V Sektor Wonocolo tersebut. Tirtayatra kali ini diketuai oleh Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto dan Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Semeton sampai di pura pukul 9.15WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo. Ikut juga dalam rombongan tersebut Ibu Kadek Suati yang juga merupakan keluarga rumah tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura dan konsep jawa yang diusung di pura ini. Beliau juga menyampaikan berbagai cobaan dan godaan yang datang silih berganti selama memimpin pura ini selama 5 tahun terakhir. Seperti ketidaksetujuan beberapa pihak karena pura ini menggunakan banten Jawa Tengger pada setiap upacara dan piodalan. Tetapi dengan keteguhan pengurus rumah tangga pura dan umat Hindu Mondoluku dan juga berkat dukungan berbagai pihak, semua berjalan sesuai konsep awal yang telah disepakati. Juga karena kita merasakan dukungan niskala dari Ida Sang Hyang Widhi, Para Dewa dan Leluhur melalui kejadian-kejadian yang mengiringi setiap kegiatan upacara, maka semakin mantaplah kita ngayah di pura ini.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Kemudian sambutan dari Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat percaya dan setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Jero Sepuh. Beliau juga ikut mengalami kejadian hujan abu Gunung Kelud pada waktu Upacara Ngenteg Linggih. Pada waktu itu baju Beliau semua terkena abu. Dan karena Beliau merasa ini adalah anugerah maka pakaian Beliau tidak Beliau cuci selama 3 hari. Beliau juga meminta kepada umat yang hadir agar bisa selalu tangkil di pura ini karena dari sinilah perubahan seluruh Nusantara kearah yang lebih baik dimulai. Hal ini disebabkan oleh disamping adanya tanda-tanda alam yang mengiringi setiap pelaksanaan upacara, juga karena di pura ini kita bisa melinggihkan para Leluhur Tanah Jawa yang selama 500 tahun tidak pernah diperhatikan oleh anak cucunya. Padahal kaluu kita ingat dan melinggihkan leluhur maka leluhur akan menyayangi kita dan akan selalu menjaga kita dan memberikan kemakmuran hidup kita. Maka pada piodalan purnama kawulu Tanggal 24 Januari 2016 nanti, kita sudah semestinya ngayah ke pura ini.

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Sujana

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana

Selanjutnya sambutan dari Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto. Beliau menyampaikan bahwa Beliau juga merasakan kedamaian selama di pura ini sehingga tidak salah kita memilih pura ini sebagai tempat metirtayatra dan juga arisan. Beliau sangat mendukung agar kita nanti bisa ngayah pada piodalan di pura ini. Juga Beliau akan mengajak semeton yang tidak sempat hadir disini agar bisa ngayah pada piodalan nanti.

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Sebelum persembahyangan, Bapak Jero Sepuh menyampaikan bahwa kita disini mempunyai rerantasan penghubung antara Leluhur kita dengan Leluhur Tanah Jawa yang dilinggihkan di pura ini yang kita sebut Tuhur Taja Medang Kamulan. Rerantasan ini merupakan suatu tanda restu dari Para Leluhur kepada kita sehingga kita dalam bertindak dan bertingkah laku bisa sesuai dijalan Dharma. Nantinya rerantasan ini akan dibawa ke Beji untuk dilukat. Tetapi setelah umat membawa rerantasan ini, umat tidak boleh singgah ke tempat lain dan harus langsung menuju ke rumah masing-masing. Para semeton kemudian banyak yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan rerantasan tersebut. Tetapi karena ternyata jumlahnya cuma 7 buah, terpaksa ada yang harus menunggu dulu karena akan dibuatkan lagi oleh Bapak Purwadi. Kemudian Umat menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah melukat Umat melanjutkan persembahyangan ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi. Kemudian Umat menuju ke Mandala Utama untuk persembahyangan bersama sekaligus nunas tirta dan bija.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah persembahyangan, umat menuju ke wantilan untuk makan siang. Ternyata semeton membawa nasi kotak dari rumah. Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani kemudian menyampaikan agar semeton tidak usah repot-repot lagi membawa makanan dari rumah karena kita dipura selalu menyiapakan jamuan makan kepada umat yang datang/metirtayatra ke pura ini. Semeton cukup memberitahu saja kepada pengurus pura kalau mau metirtayatra ke pura ini.

Makan siang

Makan siang

Setelah makan siang maka semeton melanjutkan acara arisan. Setelah arisan selesai, semeton pamit menuju ke rumah masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: