Melasti

Om Swastiastu,

Hari Minggu, 15 Maret 2015 Umat Hindu di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan melaksanakan melasti ke Petirtaan Suci Jolotundo. Melasti ini merupakan salah satu dari rangkaian Hari Suci Nyepi Saka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015. Pura Penataran Luhur Medang Kamulan sudah 3x melaksanakan melasti dan selalu di Petirtaan Suci Jolotundo. Petirtaan Suci Jolotundo adalah tempat pemandian yang dibuat pada masa Prabu Airlangga.  Petirtaan Suci Jolotundo terletak di desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, tepatnya terletak di lereng Gunung Bekal, yaitu salah satu puncak Gunung Penanggungan. Petirtan Suci Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit.

Petirtaan Suci Jolotundo

Petirtaan Suci Jolotundo

Pada melasti tahun ini selain Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, juga ada pura lain yang juga melasti kesana. Pura-pura tersebut antara lain: Pura Penataran Agung Margo Wening – Krembung – Sidoarjo, Pura Tirta Waluh Surapati – Bangil, Pura Dharma Suci – Pasuruan dan Pura Jagat Sahasra Pasopati – Watu Kosek. Melasti ini juga terasa istimewa karena dipuput oleh 2 Pandita yaitu: Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan.

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Pukul 06.00WIB Umat sudah berdatangan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bahkan ada yang datang ke pura sehari sebalumnya dan mekemit di pura. Seperti Bapak I Nengah Wijana sekeluarga dari Singaraja Bali, Bapak Made Supartana dan Bapak Ketut Mudit dari Bali. Juga dari Mahasiswa-Mahasiswi TPKH ITS diketuai Adik Nyoman Muskoni dan yang paling spesial adalah Mahasiswa-Mahasiswi dari IAIN Sunan Ampel jurusan Sosiologi yang diketuai Mas Zulfi Ikhsan. Mereka ini datang ke pura karena ingin mengetahui dan mendalami tentang budaya agama lain karena disekolah mereka hanya diajari tentang budaya agama mereka sendiri. Mereka juga tidak mempunyai maksud untuk menilai ataupun membanding-bandingkan antara agama mereka dengan agama di sini. Mereka hanya ingin mengetahui makna-makna atas simbul-simbul dan tata cara yang dipakai pada rangkaian upacara Hari Suci Nyepi ini. Mereka juga sangat antusias membantu para umat mempersiapkan segala sesuatunya seperti menata banten, memasang wastra bahkan ikut memasak di dapur. Mereka tidak canggung bahkan ikut membaur saling bersenda gurau bersama umat disini. Dan mereka juga mentaati peraturan yang berlaku di pura ini seperti tidak boleh masuk pura dalam keadaan cuntaka (berhalangan) juga memakai sentang (selendang ) pada waktu masuk pura. Dan pada waktu berangkat melasti, mereka ikut membawa Jempana dan sejata Dewata Nawa Sanga. Umat dari pura lain tentu saja terheran-heran karena melihat ada orang mengenakan jilbab kok ikut melasti dan mau memakai selendang, memakai baju sembahyang dan membawa banten dan sarana nyepi.

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Mempersiapkan Jempana

Mempersiapkan Jempana

Memasang wastra dan hiasan pretima

Memasang wastra dan hiasan pretima

Diskusi

Diskusi

Makan Malam

Makan Malam

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Pukul 08.00WIB Umat berangkat melasti. Rombongan kemudian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama langsung menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo dan rombongan yang kedua singgah dulu ke Pura Penataran Agung Margo Wening untuk matur piuning. Setelah itu Umat dari kedua pura kemudian menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo.

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Foto dulu sebelum berangkat

Foto dulu sebelum berangkat

Persiapan berangkat

Persiapan berangkat

Jempana dinaikkan ke truk

Jempana dinaikkan ke truk

Matur piuning di Pura Margo Wening

Matur piuning di Pura Margo Wening

Sesampai di Petirtaan Suci Jolotundo, Jempana dan Senjata Dewata Nawa Sanga kemudian ditaruh di tempat yang telah disiapkan di tepi kolam bersebelahan dengan Jempana dari pura-pura yang lain. Setelah itu seluruh umat dipimpin Pandita melaksanakan upacara melasti.

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Eksis dulu

Eksis dulu

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten  dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Bapak Made Jati Negara

Bapak Made Jati Negara

Mahasiswa TPKH ITS

Mahasiswa TPKH ITS

Bapak Hadi dkk

Bapak Hadi dkk

Ibu Dewi dkk

Ibu Dewi dkk

Bunda dan Mangku Timbul

Bunda dan Mangku Timbul

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Dharma Wacana. Dharma Wacana kali ini disampaikan oleh Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama dengan Tema: Hari Suci Nyepi 1937 Guna Pembenahan Perilaku Menjadi Lebih Baik dan Benar. Tema itu digunakan karena pada zaman ini terjadi fenomena yaitu banyaknya koruptor, begal dan kemerosotan mental yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Padahal kita sudah mempunyai pedoman atau dasar yang bisa untuk mencegah perilaku tersebut. Dasar itu adalah Tat Twam Asi yang secara garis besar mempunyai makna Janganlah memberi sesuatu kepada orang lain jika kita tidak menyukainya. Juga kita tidak boleh melupakan sejarah masa lalu yang bisa kita pakai sebagai pegangan dalam menjalani hidup di masa depan. Sejarah masa lalu baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan semua itu bisa kita jadikan teladan. Demikian juga dengan sejarah cerita  Aji Saka.

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Dikisahkan bahwa Aji Saka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Aji Saka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Aji Saka.

Lalu, Aji Saka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, tetapi ia jadi suka makan daging manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Aji Saka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Aji Saka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Aji Saka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Aji Saka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Aji Saka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :

Aji Saka Purwawisesa:   Aji = Ajar / Ajaran,  Saka = Pusat Inti/ Pilar Utama/ Inti Utama (“Matahari”),  Purwa = Purba/ Masa lalu yang sangat lama/ Jaman dahulu sekali …atau boleh jadi maksudnya adalah “Leluhur” (?) dan Wisesa = Kuasa/ Penguasa/ Kekuasaan/ Yang berkuasa. Maka, “Aji Saka Purwawisesa” itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut:

  •  Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu
  •  Ajaran utama (para) penguasa masa lalu
  •  Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa
  •  atau boleh jadi artinya “Ajaran Matahari” (Sunda)

Majati : Ma = Ibu,  Jati = Sejati,  Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari ‘yang’ Sejati) . Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” .

Dora dan Sembada :  Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta,  Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat. Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Aji Saka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).

Medang Kamulan : Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).  Kamulan = Kemuliaan. “Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Tanah Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).

Maka cerita Aji Saka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas Tanah Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.

Juru Masak:  Juru = Ahli , ‘pemimpin’, namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).  Masak = Matang, Tua. Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa).

Telunjuk:  Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”. “Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Aji Saka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

Rakyat Medang Kamulan :
Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Tanah Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

Ikat Kepala
Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

Dewata Cengkar :  Dewa = Cahaya (*bukan Sinar/ bukan Matahari),  Ta = Gerak Hidup,  Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir). Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Tanah Jawa atau representasi dari Nusantara.

Buaya Putih
Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat Tanah Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan”. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah  terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara  yang dibawa dari Majati oleh Aji Saka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu/ dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Aji Saka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

– Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke Tanah Jawa hingga ‘Aji Saka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (di duga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

– “Medang Kamulan” atau Tanah Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

– Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘Semar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

– Di jaman Mataram Kuno, Tanah Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

– Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI ” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

– Tanah Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), di duga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

– Aji Saka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

– Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

– Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

– HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Aji Saka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJI SAKA PURWAWISESA. (Sumber

 

Selanjutnya persembahyangan bersama.

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Nunas prasadam

Nunas prasadam

 

Kemudian umat kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: