Tirtayatra Semeton Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buleleng

Om Swastiastu,
Pada hari Jumat 10 Juli 2015 Semeton dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton yang berjumlah 60 orang dengan menggunakan 2 bus diketuai oleh Bapak Nyoman Gede Suryawan. Semeton sampai di pura pada sekitar pukul 17.00WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk melepas lelah karena perjalanan yang jauh. Pada pukul 19.28WIB umat menikmati makan malam.

Semeton Dinas PU Buleleng

Semeton Dinas PU Buleleng

Makan malam

Makan malam

Setelah itu umat kemudian mendengarkan penjelasan tentang pura dari Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila. Bapak Jero menyampaikan tentang sejarah pura, pelinggih-pelinggih yang terdapat di pura dan juga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan di pura ini. Bapak Jero juga menyampaikan bahwa di pura ini kita berusaha tidak membedakan antara umat satu dengan yang lain. Baik itu pejabat maupun rakyat biasa, semua mendapat posisi yang sama, semua ngayah dihadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Kemudian sambutan dari Bapak Nyoman Gede Suryawan. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat mendukung konsep Jawa yang diterapkan di pura ini. Beliau juga sangat kagum dengan segala perjuangan dalam menghadapi tantangan yang terjadi pada waktu renovasi pura ini sehingga pura ini bisa bagus dan megah seperti sekarang ini. Beliau sangat mendukung pura ini dapat menjadi tempat suci untuk memuja Leluhur dari seluruh Nusantara. Beliau juga mengenal Jero Sepuh sebagai orang yang baik dan suka menolong. Pada waktu truk Beliau mogok di Surabaya, Bapak Jero dengan senang hati membantu mengamankan truk tersebut dan mencarikan teknisi. Beliau juga sangat kagum dengan komitmen Bapak Jero Sepuh untuk menjaga perdamaian antar umat beragama di Mondoluku ini.

Bapak Nyoman Gede Suryawan

Bapak Nyoman Gede Suryawan

Penyerahan punia

Penyerahan punia

Pukul 22.10WIB umat menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan.

Matur Piuning di Beji

Matur Piuning di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Tuhur Taja Medang Kamulan diiring ke Lingga Yoni

Tuhur Taja Medang Kamulan diiring ke Lingga Yoni

Setelah itu umat menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit dan Hyang Semar untuk matur piuning.

Di Lingga Yoni, Surya Majapahit dan Hyang Semar untuk matur piuning

Di Lingga Yoni, Surya Majapahit dan Hyang Semar untuk matur piuning

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Mohon restu ring Lingga Yoni

Mohon restu ring Lingga Yoni

Mohon restu ring Hyang Semar

Mohon restu ring Hyang Semar

Mohon restu ring Surya Majapahit

Mohon restu ring Surya Majapahit

Kemudian beberapa perwakilan umat menuju ke Rsi untuk matur piuning.

Di Rsi untuk matur piuning

Di Rsi untuk matur piuning

Selanjutnya umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

 Jero Mangku Drs. I Nengah Mariasa, M.Hum memimpin persembahyangan

Jero Mangku Drs. I Nengah Mariasa, M.Hum memimpin persembahyangan

Matur Piuning ring Ken Dedes

Matur Piuning ring Ken Dedes

Pukul 01.00WIB Semeton Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buleleng pamit kembali pulang ke Bali
Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Ikatan Keluarga Guru Hindu (IKGH) Mataram – NTB

Om Swastiastu,
Pada Sabtu Wage, 04 Juli 2015 Ikatan Keluarga Guru Hindu (IKGH) Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Desa Karang Medaeng – Mataram melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton yang menggunakan 1 bus berjumlah sekitar 30 Orang diketuai oleh Bapak I Dewa Gede Mudarsana M. Rombongan sampai di pura sekitar pukul 16.00WIB dan diterima oleh pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Mondoluku. Rombongan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat.

Semeton IKGH Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Karang Medaeng

Semeton IKGH Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Karang Medaeng

Semeton IKGH Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Karang Medaeng

Semeton IKGH Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Karang Medaeng

Pada kesempatan tersebut Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura. Juga tentang konsep jawa yang diterapkandi pura ini. Di pura ini juga terdapat pelinggih-pelinggih tempat untuk memuja para leluhur Tanah Jawa da para pengemong Tanah Jawa ini. Pelinggih-pelinggih tersebut adalah Gedong Lingga Kamulan, Hyang Semar, Ratu Ken Dedes, Rsi agastya, Rsi Markendya dan Mpu Kuturan. Juga direncanakan akan dibuat pelinggih Mahapatih Gajah Mada. Selama kita ngayah di pura ini, kita sering mendapat cobaan dan godaan yang mencoba untuk menggoyahkan keimanan kita disini, tetapi atas restu Brahman, Leluhur dan para Dewa, juga berkat dukungan dari semeton berbagai pihak, kita mampu melaluinya dengan selamat. Dan untuk menyambung Leluhur Tanah Bali dengan Leluhur Tanah Jawa yang telah lama terputus maka dibuatlah Tuhur Taja Medang Kamulan.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Setelah beristirahat, para Semeton dan Umat menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan.

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Tuhur Taja Medang Kamulan diiring ke Lingga Yoni

Tuhur Taja Medang Kamulan diiring ke Lingga Yoni

Setelah itu kemudian menuju ke Lingga Yoni untuk matur piuning dan kirtanam dan dilanjutkan dengan ke Pelinggih Tri Suci Maha Rsi.

Matur Piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit dan Hyang Semar

Matur Piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit dan Hyang Semar

Kirtanam Om Namah Siwaya

Kirtanam Om Namah Siwaya

Mencium Lingga Yoni

Memohon Doa Restu

Didepan LIngga Yoni

Didepan LIngga Yoni

Matur Piuning ring Rsi

Matur Piuning ring Rsi

Setelah selesai matur piuning, Umat kemudian menuju ke Mandala Utama untuk sembahyang bersama. Setelah persembahyangan, Ibu-ibu kemudian maturan ke Ratu Ken Dedes.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Sembahyang di Ratu Ken Dedes

Sembahyang di Ratu Ken Dedes

Nunas untuk pengobatan

Nunas untuk pengobatan

Setelah selesai sembahyang, semeton Ikatan Keluarga Guru Hindu (IKGH) Kec. Selaparang – Mataram – NTB dan Semeton Desa Karang Medaeng – Mataram kemudian pamit kembali pulang.

Tuhur Taja Medang Kamulan yang dibawa Semeton pulang

Tuhur Taja Medang Kamulan yang dibawa Semeton pulang

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Siswa-Siswi SMAN 6 Denpasar

Tirtayatra Siswa-Siswi SMAN 6 Denpasar

Tirtayatra Nunas Tirta Keluarga Arya Sentong Tabanan

Om Swastiastu,
Pada Hari Kamis 25 Juni 2015 Keluarga Arya Sentong Tabanan melaksanakan tirtayatra nunas tirta di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Nunas tirta dilaksanakan karena keluarga Arya Sentong akan melaksanakan Piodalan pada Buda Umanis Tanggal 1 Juli 2015. Semeton diketuai oleh Gung Dek Mahendra sampai di pura pada sekitar pukul 10.00WIB. Semeton kemudian beristirahat di Wantilan karena rencana sembahyang pada malam hari.
Pukul 20.00WIB Semeton dan umat menuju ke Beji untuk melukat.

Penglukatan

Penglukatan

Selanjutnya semeton dan umat menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi untuk maturan.
Setelah itu menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Jero Sepuh Istri bersama Bu Jero

Jero Sepuh Istri bersama Bu Jero

Setelah persembahyangan bersama, semeton dan umat menuju ke Wantilan Jenggolo untuk makan malam dan beristirahat. Semeton mekemit di pura.
Esoknya pagi-pagi semeton dan umat melakukan persembahyangan bersama. Setelah persembahyangan, semeton kemudian mepamit kembali ke Bali.

Jero Sepuh Istri mepiuning ring Ratu Ken Dedes

Jero Sepuh Istri mepiuning ring Ratu Ken Dedes

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Foto bersama

Foto bersama

Nunas Tuhur Taja Medang Kamulan

Nunas Tuhur Taja Medang Kamulan

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Om Swastiastu, Pada Minggu, 21 Juni 2015 Semeton dari Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Acara Tirtayatra kali ini merupakan kegiatan rutin acara arisan yang dilaksanakan oleh semeton Kelompok V Sektor Wonocolo tersebut. Tirtayatra kali ini diketuai oleh Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto dan Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Semeton sampai di pura pukul 9.15WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo. Ikut juga dalam rombongan tersebut Ibu Kadek Suati yang juga merupakan keluarga rumah tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura dan konsep jawa yang diusung di pura ini. Beliau juga menyampaikan berbagai cobaan dan godaan yang datang silih berganti selama memimpin pura ini selama 5 tahun terakhir. Seperti ketidaksetujuan beberapa pihak karena pura ini menggunakan banten Jawa Tengger pada setiap upacara dan piodalan. Tetapi dengan keteguhan pengurus rumah tangga pura dan umat Hindu Mondoluku dan juga berkat dukungan berbagai pihak, semua berjalan sesuai konsep awal yang telah disepakati. Juga karena kita merasakan dukungan niskala dari Ida Sang Hyang Widhi, Para Dewa dan Leluhur melalui kejadian-kejadian yang mengiringi setiap kegiatan upacara, maka semakin mantaplah kita ngayah di pura ini.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Kemudian sambutan dari Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat percaya dan setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Jero Sepuh. Beliau juga ikut mengalami kejadian hujan abu Gunung Kelud pada waktu Upacara Ngenteg Linggih. Pada waktu itu baju Beliau semua terkena abu. Dan karena Beliau merasa ini adalah anugerah maka pakaian Beliau tidak Beliau cuci selama 3 hari. Beliau juga meminta kepada umat yang hadir agar bisa selalu tangkil di pura ini karena dari sinilah perubahan seluruh Nusantara kearah yang lebih baik dimulai. Hal ini disebabkan oleh disamping adanya tanda-tanda alam yang mengiringi setiap pelaksanaan upacara, juga karena di pura ini kita bisa melinggihkan para Leluhur Tanah Jawa yang selama 500 tahun tidak pernah diperhatikan oleh anak cucunya. Padahal kaluu kita ingat dan melinggihkan leluhur maka leluhur akan menyayangi kita dan akan selalu menjaga kita dan memberikan kemakmuran hidup kita. Maka pada piodalan purnama kawulu Tanggal 24 Januari 2016 nanti, kita sudah semestinya ngayah ke pura ini.

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Sujana

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana

Selanjutnya sambutan dari Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto. Beliau menyampaikan bahwa Beliau juga merasakan kedamaian selama di pura ini sehingga tidak salah kita memilih pura ini sebagai tempat metirtayatra dan juga arisan. Beliau sangat mendukung agar kita nanti bisa ngayah pada piodalan di pura ini. Juga Beliau akan mengajak semeton yang tidak sempat hadir disini agar bisa ngayah pada piodalan nanti.

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Sebelum persembahyangan, Bapak Jero Sepuh menyampaikan bahwa kita disini mempunyai rerantasan penghubung antara Leluhur kita dengan Leluhur Tanah Jawa yang dilinggihkan di pura ini yang kita sebut Tuhur Taja Medang Kamulan. Rerantasan ini merupakan suatu tanda restu dari Para Leluhur kepada kita sehingga kita dalam bertindak dan bertingkah laku bisa sesuai dijalan Dharma. Nantinya rerantasan ini akan dibawa ke Beji untuk dilukat. Tetapi setelah umat membawa rerantasan ini, umat tidak boleh singgah ke tempat lain dan harus langsung menuju ke rumah masing-masing. Para semeton kemudian banyak yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan rerantasan tersebut. Tetapi karena ternyata jumlahnya cuma 7 buah, terpaksa ada yang harus menunggu dulu karena akan dibuatkan lagi oleh Bapak Purwadi. Kemudian Umat menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah melukat Umat melanjutkan persembahyangan ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi. Kemudian Umat menuju ke Mandala Utama untuk persembahyangan bersama sekaligus nunas tirta dan bija.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah persembahyangan, umat menuju ke wantilan untuk makan siang. Ternyata semeton membawa nasi kotak dari rumah. Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani kemudian menyampaikan agar semeton tidak usah repot-repot lagi membawa makanan dari rumah karena kita dipura selalu menyiapakan jamuan makan kepada umat yang datang/metirtayatra ke pura ini. Semeton cukup memberitahu saja kepada pengurus pura kalau mau metirtayatra ke pura ini.

Makan siang

Makan siang

Setelah makan siang maka semeton melanjutkan acara arisan. Setelah arisan selesai, semeton pamit menuju ke rumah masing-masing.

Tirtayatra IKH dan UKKH Universitas 17 Agustus Surabaya

Om Swastiastu,

Pada Hari Sabtu, 20 Juni 2015 Semeton dari Ikatan Karyawan & Dosen Hindu (IKH) dan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu (UKKH) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Tirtayatra dipimpin oleh Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH. Tirtayatra yang terkesan mendadak karena tidak ada pemberitahuan ini tentus saja membuat pengurs rumah tangga pura tidak mengadakan persiapan apa-apa. Tetapi untunglah ada semeton dari PT. ECCO Sidoarjo yang juga datang ke pura dan juga mau mekemit. Mereka membawa ikan satu keranjang. Demikian juga ada Bapak Arif dan Ibu datang ke pura membawa ikan. Jadi akhirnya kita bisa menjamu semeton untuk makan malam.

Semeton Untag Surabaya

Semeton Untag Surabaya

Mas Arif (Kiri) dan kawan-kawan

Mas Arif (Kiri) dan kawan-kawan

Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo

Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo

Pada kesempatan tersebut, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampikan dengan panjang lebar tentang sejarah Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bapak Jero menyampaikan bahwa di pura ini mengusung konsep jawa. Juga kita melinggihkan para leluhur Tanah Jawa di pura ini melalui Pelinggih Gedong Lingga Kamulan. Juga ada Arca Hyang Semar yang merupakan penjaga Tanah Jawa Ini. Pada waktu mau piodalan kita nunas wastra Beliau di Gunung Arjuna. Di pura ini juga sering ada kejadian yang luar biasa yang mengiringi upacara-upacara piodalan.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya sambutan dari Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat mendukung adanya pura ini. Beliau juga merasakan kedamaian selama di pura ini. Beliau beserta teman-teman dan mahasiswa akan ikut ngayah pada kegiatan upacara piodalan yang akan dilaksanakan pada Purnama Kawulu Tanggal 24 Januari 2016.

Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH

Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH

Selanjutnya Umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah melukat, Umat kemudian melanjutkan persembahyangan ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Setelah itu Umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah melaksanakan prosesi persembahyangan, Umat kembali ke Wantilan untuk makan malam.

Makan Malam

Makan Malam

Makan Malam

Makan Malam

Karena hari sudah larut malam, maka Semeton dari Universitas 17 Agustus Surabaya pamit pulang sedangkan Bapak Arif dan Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo mekemit di pura bersama pengurus rumah tangga pura.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Semeton Sekaa BHATRE (Bhakti Tresna Eling) – Denpasar

Om Swastiastu,
Pada Selasa Umanis Tanggal 16 Juni 2015 bertepatan dengan Tilem Sadha, Rombongan Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan yang diketuai oleh Bapak I Gusti Ketut Widana berjumlah sekitar 40 Orang dengan menggunakan bus. Rombongan sampai di pura pada pukul 16.00 WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk mengaso dan membersihkan diri.

Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar

Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar

Bapak I Gusti Ketut Widana menyerahkan punia diterima Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bapak I Gusti Ketut Widana menyerahkan punia diterima Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Pada kesempatan tersebut para Semeton dan para pengurus pura saling berbincang mengenai perjalanan tirtayatra Semeton tersebut. Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan bahwa Beliau beserta rombongan sebelum ke pura ini sudah melaksanakan tirtayatra ke Malang dan rencananya setelah dari sini akan melanjutkan tirtayatra ke 4 pura di Surabaya dan Sidoarjo. Juga disampaikan bahwa sebagian umat semeton sudah pernah ke pura ini tetapi waktu puranya masih yang lama. Makanya mereka pada kagum dan senang melihat pura sudah berubah menjadi lebih luas dan lebih bagus.

Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan kesannya tentang pura ini

Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan kesannya tentang pura ini

Pada kesempatan tersebut juga Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani menyampaikan urutan persembahyangan di pura ini yaitu melukat di Beji, mepiuning di Lingga Yoni, Mepiuning di Rsi, Persembahyangan di Mandala Utama dan Khusus Ibu-ibu sembahyang di Ken Dedes. Juga disampaikan bahwa dipura ini kita memiliki rerantasan sarana penghubung antara Leluhur Jawa dengan Leluhur Bali yang kita sebut dengan Tuhur Taja (Tuntunan Leluhur Tanah Jawa) yang akan menyatukan lagi leluhur kita yang sudah terpisah selama ratusan tahun. Para Semeton Umat kemudian semua meminta agar bisa mendapatkannya. Tetapi ternyata jumlahnya terbatas yaitu cuma 12 jadi banyak yang tidak kebagian.

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bapak I Gusti Ketut Widana mendata Umat yang mendapat Rantasan Tuhur Taja

Bapak I Gusti Ketut Widana mendata Umat yang mendapat Rantasan Tuhur Taja

Karena hari mulai malam maka Semeton dan umat kemudian makan malam. Setelah itu menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan Kramaning Sembah di Beji

Persembahyangan Kramaning Sembah di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu Umat menuju ke Lingga yoni untuk matur piuning dan kirtanam. Setelah itu beberapa perwakilan umat kemudian menuju ke Rsi untuk matur piuning.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Persembahyangan di Rsi

Persembahyangan di Rsi

Kemudian umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Setelah persembahyangan Umat mendengarkan tentang sejarah dan pelinggih-pelinggih di pura ini oleh Bapak Sai. Bapak Sai menjelaskan bahwa di pura ini hampir semua pelinggihnya berbeda dengan di pura lainnya di Jawa. Seperti adanya pelinggih Gedong Lingga Kamulan yang merupakan tempat melinggihkan para Leluhur Tanah Jawa, baik dari Jaman Kerajaan Mataram Kuno sampai Kerajaan Majapahit. Demikian juga dengan adanya Pelinggih Lingga Yoni, Surya Majapahit , Hyang Semar, Rsi Agastya, Rsi Markendya, Mpu Kuturan dan Ken Dedes. Juga dengan adanya beberapa peristiwa yang mengiringi Upacara-upacara di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini seperti pada waktu melaspas Mandala Utama Gunung Merapi meletus, pada waktu Piodalan yang pertama Gunung Kelud meletus dan pada waktu piodalan 2014 kemarin ada umat kerauhan bahwa Ida Bhatara Siwa hadir dan menyampaikan agar kita selalu tabah dengan berbagai halangan selama ini dan Tanah Jawa (Nusantara) akan mendapatkan kemulyaanya kembali.

Bapak Sai menjelaskan tentang pura

Bapak Sai menjelaskan tentang pura

Pak Sai menerima punia dari Semeton Umat

Pak Sai menerima punia dari Semeton Umat

Semeton nunas tirta untuk dibawa pulang

Semeton nunas tirta untuk dibawa pulang

Persembahyangan di Ratu Ken Dedes

Persembahyangan di Ratu Ken Dedes

Setelah persembahyangan umat kemudian menuju ke Wantilan untuk beristirahat mekemit.
Pagi-pagi Umat dan Semeton bersembahyang di Mandala Utama karena rencananya semeton mau melanjutkan tirtayatra. Setelah bersalam-salaman, Semeton kemudian menuju bus. Tetapi ternyata bus tidak mau dihidupkan. Semua jadi bingung ada apakah? Padahal busnya solar masih penuh dan cuma dibersihkan. Setelah satu jam lebih bus tidak bisa dihidupkan, umat kemudian menuju ke Madala Utama untuk bersembahyang lagi. Dan akhirnya rencana metirtayatra ke pura lain terpaksa dibatalkan dan semeton sepakat akan langsung pulang ke Bali, karena sebenarnya memang rerantasan Tuhur Taja tidak boleh di bawa kesana kemari dan harus langsung dibawa pulang. Montir terbaik pun dipanggil dan orderdil yang asli pun didatangkan dari Surabaya tetapi bus tetap tidak mau hidup dan bahkan montirnya pun bingung karena kelihatan masalahnya sangat sepele tetapi kok tidak bisa mengatasinya. Umat pun menerima dengan ikhlas hati, ini merupakan tanda Ida Bhatara sangat sayang dan kangen kepada kita semua dan Beliau ingin sekali kita agak lama di pura ini. Dan sambil menunggu, sebagian umat ada yang beristirahat dan ada yang ngobrol bahkan ada yang bersembahyang di Mandala Utama.

Bapak Sopir dan Kondektur mencoba memperbaiki bus

Bapak Sopir dan Kondektur mencoba memperbaiki bus

Umat berkumpul di Wantilan

Umat berkumpul di Wantilan

Bersembahyang di pura

Bersembahyang di pura

Bersantai di Warung Bu Giman

Bersantai di Warung Bu Giman

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani ngetisin bus supaya semuanya berjalan baik

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani ngetisin bus supaya semuanya berjalan baik

Montir/Teknisi terbaik didatangkan dari Surabaya

Montir/Teknisi terbaik didatangkan dari Surabaya

Akhirnya setelah malam lagi dan montir sudah mau menyerah, bus tiba-tiba bisa dihidupkan kembali. Umat pun bersyukur dan langsung menuju ke Mandala Utama untuk bersembahyang. Pada kesempatan tersebut Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan kejadian yang pertama kalinya dialami semua semeton sejak pertama kali metirtayatra tahun 1986. Dan Beliau sangat bersyukur karena Ida Bhatara sangat menyayangi kita semua. Dan karena Ida Bhatara ikut mengiringi perjalanan ke Bali maka umat yang mendapat rantasan Tuhur Taja harus berpakaian sembahyang dan tidak boleh berbicara yang aneh-aneh sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba ada salah seorang semeton kerauhan. Dan kerauhannya menggunakan Bahasa Asing (kemungkinan Bahasa Cina). Tentu saja umat bingung apa yang disampaikannya karena semua tidak mengerti. Dan akhirnya ada juga Bahasa Indonesia disampaikan yaitu “ Saya Bahagia dan saya mau pulang”.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Jero Mangku

Jero Mangku

Bapak I Gusti Ketut Widana menyatakan bersyukur atas semuanya

Bapak I Gusti Ketut Widana menyatakan bersyukur atas semuanya

Umat kerauhan

Umat kerauhan

Selanjutnya atas saran dari Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, umat kemudian mepinunasan di Lingga Yoni kemudian di Rsi dan selanjutnya murwa daksina di Mandala Utama.

Murwa Daksina di Lingga Yoni

Murwa Daksina di Lingga Yoni

Mepiuning di Rsi

Mepiuning di Rsi

Setelah itu Umat menuju ke Wantilan untuk makan malam dan bersih-bersih karena sapaya tidak ada lagi berhenti / singgah di perjalanan. Setelah makan, semeton pamit menuju ke Bali.

Bus Siap Berangkat

Bus Siap Berangkat

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Previous Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.