Tirtayatra Nunas Tirta Keluarga Arya Sentong Tabanan

Om Swastiastu,
Pada Hari Kamis 25 Juni 2015 Keluarga Arya Sentong Tabanan melaksanakan tirtayatra nunas tirta di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Nunas tirta dilaksanakan karena keluarga Arya Sentong akan melaksanakan Piodalan pada Buda Umanis Tanggal 1 Juli 2015. Semeton diketuai oleh Gung Dek Mahendra sampai di pura pada sekitar pukul 10.00WIB. Semeton kemudian beristirahat di Wantilan karena rencana sembahyang pada malam hari.
Pukul 20.00WIB Semeton dan umat menuju ke Beji untuk melukat.

Penglukatan

Penglukatan

Selanjutnya semeton dan umat menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi untuk maturan.
Setelah itu menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Jero Sepuh Istri bersama Bu Jero

Jero Sepuh Istri bersama Bu Jero

Setelah persembahyangan bersama, semeton dan umat menuju ke Wantilan Jenggolo untuk makan malam dan beristirahat. Semeton mekemit di pura.
Esoknya pagi-pagi semeton dan umat melakukan persembahyangan bersama. Setelah persembahyangan, semeton kemudian mepamit kembali ke Bali.

Jero Sepuh Istri mepiuning ring Ratu Ken Dedes

Jero Sepuh Istri mepiuning ring Ratu Ken Dedes

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Foto bersama

Foto bersama

Nunas Tuhur Taja Medang Kamulan

Nunas Tuhur Taja Medang Kamulan

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Om Swastiastu, Pada Minggu, 21 Juni 2015 Semeton dari Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Acara Tirtayatra kali ini merupakan kegiatan rutin acara arisan yang dilaksanakan oleh semeton Kelompok V Sektor Wonocolo tersebut. Tirtayatra kali ini diketuai oleh Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto dan Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Semeton sampai di pura pukul 9.15WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo. Ikut juga dalam rombongan tersebut Ibu Kadek Suati yang juga merupakan keluarga rumah tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Semeton Kelompok V Sektor Wonocolo Surabaya

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bu Kadek Suati dan Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura dan konsep jawa yang diusung di pura ini. Beliau juga menyampaikan berbagai cobaan dan godaan yang datang silih berganti selama memimpin pura ini selama 5 tahun terakhir. Seperti ketidaksetujuan beberapa pihak karena pura ini menggunakan banten Jawa Tengger pada setiap upacara dan piodalan. Tetapi dengan keteguhan pengurus rumah tangga pura dan umat Hindu Mondoluku dan juga berkat dukungan berbagai pihak, semua berjalan sesuai konsep awal yang telah disepakati. Juga karena kita merasakan dukungan niskala dari Ida Sang Hyang Widhi, Para Dewa dan Leluhur melalui kejadian-kejadian yang mengiringi setiap kegiatan upacara, maka semakin mantaplah kita ngayah di pura ini.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Kemudian sambutan dari Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat percaya dan setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Jero Sepuh. Beliau juga ikut mengalami kejadian hujan abu Gunung Kelud pada waktu Upacara Ngenteg Linggih. Pada waktu itu baju Beliau semua terkena abu. Dan karena Beliau merasa ini adalah anugerah maka pakaian Beliau tidak Beliau cuci selama 3 hari. Beliau juga meminta kepada umat yang hadir agar bisa selalu tangkil di pura ini karena dari sinilah perubahan seluruh Nusantara kearah yang lebih baik dimulai. Hal ini disebabkan oleh disamping adanya tanda-tanda alam yang mengiringi setiap pelaksanaan upacara, juga karena di pura ini kita bisa melinggihkan para Leluhur Tanah Jawa yang selama 500 tahun tidak pernah diperhatikan oleh anak cucunya. Padahal kaluu kita ingat dan melinggihkan leluhur maka leluhur akan menyayangi kita dan akan selalu menjaga kita dan memberikan kemakmuran hidup kita. Maka pada piodalan purnama kawulu Tanggal 24 Januari 2016 nanti, kita sudah semestinya ngayah ke pura ini.

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Sujana

Ketua Parisada Kelompok V Sektor Wonocolo Bapak Made Djana

Selanjutnya sambutan dari Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto. Beliau menyampaikan bahwa Beliau juga merasakan kedamaian selama di pura ini sehingga tidak salah kita memilih pura ini sebagai tempat metirtayatra dan juga arisan. Beliau sangat mendukung agar kita nanti bisa ngayah pada piodalan di pura ini. Juga Beliau akan mengajak semeton yang tidak sempat hadir disini agar bisa ngayah pada piodalan nanti.

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Ketua Sektor Wonocolo Kelompok V Bapak Tri Hardjanto

Sebelum persembahyangan, Bapak Jero Sepuh menyampaikan bahwa kita disini mempunyai rerantasan penghubung antara Leluhur kita dengan Leluhur Tanah Jawa yang dilinggihkan di pura ini yang kita sebut Tuhur Taja Medang Kamulan. Rerantasan ini merupakan suatu tanda restu dari Para Leluhur kepada kita sehingga kita dalam bertindak dan bertingkah laku bisa sesuai dijalan Dharma. Nantinya rerantasan ini akan dibawa ke Beji untuk dilukat. Tetapi setelah umat membawa rerantasan ini, umat tidak boleh singgah ke tempat lain dan harus langsung menuju ke rumah masing-masing. Para semeton kemudian banyak yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan rerantasan tersebut. Tetapi karena ternyata jumlahnya cuma 7 buah, terpaksa ada yang harus menunggu dulu karena akan dibuatkan lagi oleh Bapak Purwadi. Kemudian Umat menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah melukat Umat melanjutkan persembahyangan ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi. Kemudian Umat menuju ke Mandala Utama untuk persembahyangan bersama sekaligus nunas tirta dan bija.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah persembahyangan, umat menuju ke wantilan untuk makan siang. Ternyata semeton membawa nasi kotak dari rumah. Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani kemudian menyampaikan agar semeton tidak usah repot-repot lagi membawa makanan dari rumah karena kita dipura selalu menyiapakan jamuan makan kepada umat yang datang/metirtayatra ke pura ini. Semeton cukup memberitahu saja kepada pengurus pura kalau mau metirtayatra ke pura ini.

Makan siang

Makan siang

Setelah makan siang maka semeton melanjutkan acara arisan. Setelah arisan selesai, semeton pamit menuju ke rumah masing-masing.

Tirtayatra IKH dan UKKH Universitas 17 Agustus Surabaya

Om Swastiastu,

Pada Hari Sabtu, 20 Juni 2015 Semeton dari Ikatan Karyawan & Dosen Hindu (IKH) dan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu (UKKH) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Tirtayatra dipimpin oleh Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH. Tirtayatra yang terkesan mendadak karena tidak ada pemberitahuan ini tentus saja membuat pengurs rumah tangga pura tidak mengadakan persiapan apa-apa. Tetapi untunglah ada semeton dari PT. ECCO Sidoarjo yang juga datang ke pura dan juga mau mekemit. Mereka membawa ikan satu keranjang. Demikian juga ada Bapak Arif dan Ibu datang ke pura membawa ikan. Jadi akhirnya kita bisa menjamu semeton untuk makan malam.

Semeton Untag Surabaya

Semeton Untag Surabaya

Mas Arif (Kiri) dan kawan-kawan

Mas Arif (Kiri) dan kawan-kawan

Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo

Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo

Pada kesempatan tersebut, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampikan dengan panjang lebar tentang sejarah Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bapak Jero menyampaikan bahwa di pura ini mengusung konsep jawa. Juga kita melinggihkan para leluhur Tanah Jawa di pura ini melalui Pelinggih Gedong Lingga Kamulan. Juga ada Arca Hyang Semar yang merupakan penjaga Tanah Jawa Ini. Pada waktu mau piodalan kita nunas wastra Beliau di Gunung Arjuna. Di pura ini juga sering ada kejadian yang luar biasa yang mengiringi upacara-upacara piodalan.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya sambutan dari Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sangat mendukung adanya pura ini. Beliau juga merasakan kedamaian selama di pura ini. Beliau beserta teman-teman dan mahasiswa akan ikut ngayah pada kegiatan upacara piodalan yang akan dilaksanakan pada Purnama Kawulu Tanggal 24 Januari 2016.

Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH

Ketua IKH Bapak Prof. Dr. I Made Warka, SH

Selanjutnya Umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah melukat, Umat kemudian melanjutkan persembahyangan ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Setelah itu Umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah melaksanakan prosesi persembahyangan, Umat kembali ke Wantilan untuk makan malam.

Makan Malam

Makan Malam

Makan Malam

Makan Malam

Karena hari sudah larut malam, maka Semeton dari Universitas 17 Agustus Surabaya pamit pulang sedangkan Bapak Arif dan Semeton dari PT. ECCO Sidoarjo mekemit di pura bersama pengurus rumah tangga pura.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Semeton Sekaa BHATRE (Bhakti Tresna Eling) – Denpasar

Om Swastiastu,
Pada Selasa Umanis Tanggal 16 Juni 2015 bertepatan dengan Tilem Sadha, Rombongan Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan yang diketuai oleh Bapak I Gusti Ketut Widana berjumlah sekitar 40 Orang dengan menggunakan bus. Rombongan sampai di pura pada pukul 16.00 WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk mengaso dan membersihkan diri.

Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar

Semeton Sekaa Tirtayatra Bhatre (Bhakti Tresna Eling) Denpasar

Bapak I Gusti Ketut Widana menyerahkan punia diterima Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bapak I Gusti Ketut Widana menyerahkan punia diterima Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Pada kesempatan tersebut para Semeton dan para pengurus pura saling berbincang mengenai perjalanan tirtayatra Semeton tersebut. Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan bahwa Beliau beserta rombongan sebelum ke pura ini sudah melaksanakan tirtayatra ke Malang dan rencananya setelah dari sini akan melanjutkan tirtayatra ke 4 pura di Surabaya dan Sidoarjo. Juga disampaikan bahwa sebagian umat semeton sudah pernah ke pura ini tetapi waktu puranya masih yang lama. Makanya mereka pada kagum dan senang melihat pura sudah berubah menjadi lebih luas dan lebih bagus.

Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan kesannya tentang pura ini

Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan kesannya tentang pura ini

Pada kesempatan tersebut juga Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani menyampaikan urutan persembahyangan di pura ini yaitu melukat di Beji, mepiuning di Lingga Yoni, Mepiuning di Rsi, Persembahyangan di Mandala Utama dan Khusus Ibu-ibu sembahyang di Ken Dedes. Juga disampaikan bahwa dipura ini kita memiliki rerantasan sarana penghubung antara Leluhur Jawa dengan Leluhur Bali yang kita sebut dengan Tuhur Taja (Tuntunan Leluhur Tanah Jawa) yang akan menyatukan lagi leluhur kita yang sudah terpisah selama ratusan tahun. Para Semeton Umat kemudian semua meminta agar bisa mendapatkannya. Tetapi ternyata jumlahnya terbatas yaitu cuma 12 jadi banyak yang tidak kebagian.

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bapak I Gusti Ketut Widana mendata Umat yang mendapat Rantasan Tuhur Taja

Bapak I Gusti Ketut Widana mendata Umat yang mendapat Rantasan Tuhur Taja

Karena hari mulai malam maka Semeton dan umat kemudian makan malam. Setelah itu menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan Kramaning Sembah di Beji

Persembahyangan Kramaning Sembah di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu Umat menuju ke Lingga yoni untuk matur piuning dan kirtanam. Setelah itu beberapa perwakilan umat kemudian menuju ke Rsi untuk matur piuning.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani memimpin kirtanam

Persembahyangan di Rsi

Persembahyangan di Rsi

Kemudian umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Setelah persembahyangan Umat mendengarkan tentang sejarah dan pelinggih-pelinggih di pura ini oleh Bapak Sai. Bapak Sai menjelaskan bahwa di pura ini hampir semua pelinggihnya berbeda dengan di pura lainnya di Jawa. Seperti adanya pelinggih Gedong Lingga Kamulan yang merupakan tempat melinggihkan para Leluhur Tanah Jawa, baik dari Jaman Kerajaan Mataram Kuno sampai Kerajaan Majapahit. Demikian juga dengan adanya Pelinggih Lingga Yoni, Surya Majapahit , Hyang Semar, Rsi Agastya, Rsi Markendya, Mpu Kuturan dan Ken Dedes. Juga dengan adanya beberapa peristiwa yang mengiringi Upacara-upacara di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini seperti pada waktu melaspas Mandala Utama Gunung Merapi meletus, pada waktu Piodalan yang pertama Gunung Kelud meletus dan pada waktu piodalan 2014 kemarin ada umat kerauhan bahwa Ida Bhatara Siwa hadir dan menyampaikan agar kita selalu tabah dengan berbagai halangan selama ini dan Tanah Jawa (Nusantara) akan mendapatkan kemulyaanya kembali.

Bapak Sai menjelaskan tentang pura

Bapak Sai menjelaskan tentang pura

Pak Sai menerima punia dari Semeton Umat

Pak Sai menerima punia dari Semeton Umat

Semeton nunas tirta untuk dibawa pulang

Semeton nunas tirta untuk dibawa pulang

Persembahyangan di Ratu Ken Dedes

Persembahyangan di Ratu Ken Dedes

Setelah persembahyangan umat kemudian menuju ke Wantilan untuk beristirahat mekemit.
Pagi-pagi Umat dan Semeton bersembahyang di Mandala Utama karena rencananya semeton mau melanjutkan tirtayatra. Setelah bersalam-salaman, Semeton kemudian menuju bus. Tetapi ternyata bus tidak mau dihidupkan. Semua jadi bingung ada apakah? Padahal busnya solar masih penuh dan cuma dibersihkan. Setelah satu jam lebih bus tidak bisa dihidupkan, umat kemudian menuju ke Madala Utama untuk bersembahyang lagi. Dan akhirnya rencana metirtayatra ke pura lain terpaksa dibatalkan dan semeton sepakat akan langsung pulang ke Bali, karena sebenarnya memang rerantasan Tuhur Taja tidak boleh di bawa kesana kemari dan harus langsung dibawa pulang. Montir terbaik pun dipanggil dan orderdil yang asli pun didatangkan dari Surabaya tetapi bus tetap tidak mau hidup dan bahkan montirnya pun bingung karena kelihatan masalahnya sangat sepele tetapi kok tidak bisa mengatasinya. Umat pun menerima dengan ikhlas hati, ini merupakan tanda Ida Bhatara sangat sayang dan kangen kepada kita semua dan Beliau ingin sekali kita agak lama di pura ini. Dan sambil menunggu, sebagian umat ada yang beristirahat dan ada yang ngobrol bahkan ada yang bersembahyang di Mandala Utama.

Bapak Sopir dan Kondektur mencoba memperbaiki bus

Bapak Sopir dan Kondektur mencoba memperbaiki bus

Umat berkumpul di Wantilan

Umat berkumpul di Wantilan

Bersembahyang di pura

Bersembahyang di pura

Bersantai di Warung Bu Giman

Bersantai di Warung Bu Giman

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani ngetisin bus supaya semuanya berjalan baik

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani ngetisin bus supaya semuanya berjalan baik

Montir/Teknisi terbaik didatangkan dari Surabaya

Montir/Teknisi terbaik didatangkan dari Surabaya

Akhirnya setelah malam lagi dan montir sudah mau menyerah, bus tiba-tiba bisa dihidupkan kembali. Umat pun bersyukur dan langsung menuju ke Mandala Utama untuk bersembahyang. Pada kesempatan tersebut Bapak I Gusti Ketut Widana menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan kejadian yang pertama kalinya dialami semua semeton sejak pertama kali metirtayatra tahun 1986. Dan Beliau sangat bersyukur karena Ida Bhatara sangat menyayangi kita semua. Dan karena Ida Bhatara ikut mengiringi perjalanan ke Bali maka umat yang mendapat rantasan Tuhur Taja harus berpakaian sembahyang dan tidak boleh berbicara yang aneh-aneh sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba ada salah seorang semeton kerauhan. Dan kerauhannya menggunakan Bahasa Asing (kemungkinan Bahasa Cina). Tentu saja umat bingung apa yang disampaikannya karena semua tidak mengerti. Dan akhirnya ada juga Bahasa Indonesia disampaikan yaitu “ Saya Bahagia dan saya mau pulang”.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Jero Mangku

Jero Mangku

Bapak I Gusti Ketut Widana menyatakan bersyukur atas semuanya

Bapak I Gusti Ketut Widana menyatakan bersyukur atas semuanya

Umat kerauhan

Umat kerauhan

Selanjutnya atas saran dari Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, umat kemudian mepinunasan di Lingga Yoni kemudian di Rsi dan selanjutnya murwa daksina di Mandala Utama.

Murwa Daksina di Lingga Yoni

Murwa Daksina di Lingga Yoni

Mepiuning di Rsi

Mepiuning di Rsi

Setelah itu Umat menuju ke Wantilan untuk makan malam dan bersih-bersih karena sapaya tidak ada lagi berhenti / singgah di perjalanan. Setelah makan, semeton pamit menuju ke Bali.

Bus Siap Berangkat

Bus Siap Berangkat

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Melasti

Om Swastiastu,

Hari Minggu, 15 Maret 2015 Umat Hindu di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan melaksanakan melasti ke Petirtaan Suci Jolotundo. Melasti ini merupakan salah satu dari rangkaian Hari Suci Nyepi Saka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015. Pura Penataran Luhur Medang Kamulan sudah 3x melaksanakan melasti dan selalu di Petirtaan Suci Jolotundo. Petirtaan Suci Jolotundo adalah tempat pemandian yang dibuat pada masa Prabu Airlangga.  Petirtaan Suci Jolotundo terletak di desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, tepatnya terletak di lereng Gunung Bekal, yaitu salah satu puncak Gunung Penanggungan. Petirtan Suci Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit.

Petirtaan Suci Jolotundo

Petirtaan Suci Jolotundo

Pada melasti tahun ini selain Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, juga ada pura lain yang juga melasti kesana. Pura-pura tersebut antara lain: Pura Penataran Agung Margo Wening – Krembung – Sidoarjo, Pura Tirta Waluh Surapati – Bangil, Pura Dharma Suci – Pasuruan dan Pura Jagat Sahasra Pasopati – Watu Kosek. Melasti ini juga terasa istimewa karena dipuput oleh 2 Pandita yaitu: Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan.

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Pukul 06.00WIB Umat sudah berdatangan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bahkan ada yang datang ke pura sehari sebalumnya dan mekemit di pura. Seperti Bapak I Nengah Wijana sekeluarga dari Singaraja Bali, Bapak Made Supartana dan Bapak Ketut Mudit dari Bali. Juga dari Mahasiswa-Mahasiswi TPKH ITS diketuai Adik Nyoman Muskoni dan yang paling spesial adalah Mahasiswa-Mahasiswi dari IAIN Sunan Ampel jurusan Sosiologi yang diketuai Mas Zulfi Ikhsan. Mereka ini datang ke pura karena ingin mengetahui dan mendalami tentang budaya agama lain karena disekolah mereka hanya diajari tentang budaya agama mereka sendiri. Mereka juga tidak mempunyai maksud untuk menilai ataupun membanding-bandingkan antara agama mereka dengan agama di sini. Mereka hanya ingin mengetahui makna-makna atas simbul-simbul dan tata cara yang dipakai pada rangkaian upacara Hari Suci Nyepi ini. Mereka juga sangat antusias membantu para umat mempersiapkan segala sesuatunya seperti menata banten, memasang wastra bahkan ikut memasak di dapur. Mereka tidak canggung bahkan ikut membaur saling bersenda gurau bersama umat disini. Dan mereka juga mentaati peraturan yang berlaku di pura ini seperti tidak boleh masuk pura dalam keadaan cuntaka (berhalangan) juga memakai sentang (selendang ) pada waktu masuk pura. Dan pada waktu berangkat melasti, mereka ikut membawa Jempana dan sejata Dewata Nawa Sanga. Umat dari pura lain tentu saja terheran-heran karena melihat ada orang mengenakan jilbab kok ikut melasti dan mau memakai selendang, memakai baju sembahyang dan membawa banten dan sarana nyepi.

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Mempersiapkan Jempana

Mempersiapkan Jempana

Memasang wastra dan hiasan pretima

Memasang wastra dan hiasan pretima

Diskusi

Diskusi

Makan Malam

Makan Malam

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Pukul 08.00WIB Umat berangkat melasti. Rombongan kemudian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama langsung menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo dan rombongan yang kedua singgah dulu ke Pura Penataran Agung Margo Wening untuk matur piuning. Setelah itu Umat dari kedua pura kemudian menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo.

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Foto dulu sebelum berangkat

Foto dulu sebelum berangkat

Persiapan berangkat

Persiapan berangkat

Jempana dinaikkan ke truk

Jempana dinaikkan ke truk

Matur piuning di Pura Margo Wening

Matur piuning di Pura Margo Wening

Sesampai di Petirtaan Suci Jolotundo, Jempana dan Senjata Dewata Nawa Sanga kemudian ditaruh di tempat yang telah disiapkan di tepi kolam bersebelahan dengan Jempana dari pura-pura yang lain. Setelah itu seluruh umat dipimpin Pandita melaksanakan upacara melasti.

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Eksis dulu

Eksis dulu

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten  dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Bapak Made Jati Negara

Bapak Made Jati Negara

Mahasiswa TPKH ITS

Mahasiswa TPKH ITS

Bapak Hadi dkk

Bapak Hadi dkk

Ibu Dewi dkk

Ibu Dewi dkk

Bunda dan Mangku Timbul

Bunda dan Mangku Timbul

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Dharma Wacana. Dharma Wacana kali ini disampaikan oleh Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama dengan Tema: Hari Suci Nyepi 1937 Guna Pembenahan Perilaku Menjadi Lebih Baik dan Benar. Tema itu digunakan karena pada zaman ini terjadi fenomena yaitu banyaknya koruptor, begal dan kemerosotan mental yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Padahal kita sudah mempunyai pedoman atau dasar yang bisa untuk mencegah perilaku tersebut. Dasar itu adalah Tat Twam Asi yang secara garis besar mempunyai makna Janganlah memberi sesuatu kepada orang lain jika kita tidak menyukainya. Juga kita tidak boleh melupakan sejarah masa lalu yang bisa kita pakai sebagai pegangan dalam menjalani hidup di masa depan. Sejarah masa lalu baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan semua itu bisa kita jadikan teladan. Demikian juga dengan sejarah cerita  Aji Saka.

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Dikisahkan bahwa Aji Saka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Aji Saka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Aji Saka.

Lalu, Aji Saka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, tetapi ia jadi suka makan daging manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Aji Saka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Aji Saka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Aji Saka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Aji Saka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Aji Saka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :

Aji Saka Purwawisesa:   Aji = Ajar / Ajaran,  Saka = Pusat Inti/ Pilar Utama/ Inti Utama (“Matahari”),  Purwa = Purba/ Masa lalu yang sangat lama/ Jaman dahulu sekali …atau boleh jadi maksudnya adalah “Leluhur” (?) dan Wisesa = Kuasa/ Penguasa/ Kekuasaan/ Yang berkuasa. Maka, “Aji Saka Purwawisesa” itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut:

  •  Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu
  •  Ajaran utama (para) penguasa masa lalu
  •  Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa
  •  atau boleh jadi artinya “Ajaran Matahari” (Sunda)

Majati : Ma = Ibu,  Jati = Sejati,  Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari ‘yang’ Sejati) . Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” .

Dora dan Sembada :  Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta,  Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat. Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Aji Saka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).

Medang Kamulan : Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).  Kamulan = Kemuliaan. “Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Tanah Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).

Maka cerita Aji Saka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas Tanah Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.

Juru Masak:  Juru = Ahli , ‘pemimpin’, namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).  Masak = Matang, Tua. Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa).

Telunjuk:  Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”. “Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Aji Saka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

Rakyat Medang Kamulan :
Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Tanah Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

Ikat Kepala
Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

Dewata Cengkar :  Dewa = Cahaya (*bukan Sinar/ bukan Matahari),  Ta = Gerak Hidup,  Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir). Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Tanah Jawa atau representasi dari Nusantara.

Buaya Putih
Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat Tanah Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan”. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah  terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara  yang dibawa dari Majati oleh Aji Saka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu/ dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Aji Saka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

– Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke Tanah Jawa hingga ‘Aji Saka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (di duga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

– “Medang Kamulan” atau Tanah Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

– Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘Semar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

– Di jaman Mataram Kuno, Tanah Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

– Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI ” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

– Tanah Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), di duga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

– Aji Saka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

– Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

– Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

– HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Aji Saka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJI SAKA PURWAWISESA. (Sumber

 

Selanjutnya persembahyangan bersama.

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Nunas prasadam

Nunas prasadam

 

Kemudian umat kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Bhakti Sosial Pengobatan Gratis

Om Swastastu,

Minggu Pagi, 08 Maret 2015 di Wantilan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan tiba-tiba penuh ramai dengan Umat Hindu dari berbagai daerah sekitar Gresik bahkan ada juga Umat Muslim yang datang ke pura. Mereka itu datang dalam rangka mengikuti program bhakti sosial pengobatan gratis yang dilaksanakan oleh Panitia Dharma Shanti Nyepi Saka 1937 Tahun 2015 tingkat Jawa Timur. Program pengobatan gratis tersebut dilaksanakan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan di Desa Mondoluku Kec. Wringinanom Gresik dan diikuti oleh Umat Hindu dan juga Umat Muslim Dari Desa Mondoluku dan sekitarnya. Jumlah yang mengikuti pengobatan gratis tersebut adalah sebanyak 300 orang. Bukan itu saja, setelah selesai mendapatkan pengobatan, para umat juga mendapatkan paket sembako.

Sehari sebelumnya para pengurus Rumah Tangga Pura selaku tuan rumah bersama beberapa panitia sudah melaksanakan persiapan-persiapan agar pelaksanaan bhakti sosial berjalan lancar. Ada yang memasang terop, menghias panggung dan mempersiapkan makanan.

Bunda berfoto bersama teman-teman

Bunda berfoto bersama teman-teman

Di Depan Lingga Yoni

Di Depan Lingga Yoni

Jero Sepuh bersama Kapolsek Wringinanom Bapak Ahmad Zaid

Jero Sepuh bersama Kapolsek Wringinanom Bapak Achmad Said

Menghias Panggung

Menghias Panggung

Pada hari H pagi-pagi mobil yang membawa paket sembako dan obat-obatan sudah sampai di pura. Kemudian mulai berdatangan umat, panitia, petugas kesehatan dan juga warga desa yang mau berobat. Untuk paket sembako ini disumbangkan oleh Yayasan Sai Satya Studi. Hadir pula Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE berserta istri Beliau Ibu Ni Kadek Rohita, Wakil Bupati Gresik Bapak Mohammad Qosim, Camat Wringiananom Bapak Satrio Wibowo, Kapolsek Wringinanom Bapak Achmad Said, Danramil Wringinanom, Anggota DPRD Gresik Bapak Wongso Negoro dan Bapak Syaiful Fuad, Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno dan PJ Kepala Desa Mondoluku Bapak Marzuki. Ketua Panitia Nyepi Bapak Nyoman Anom juga hadir.

Para Tamu Undangan yang sudah hadir

Para Tamu Undangan yang sudah hadir

Para Tamu Undangan

Para Tamu Undangan

Bersama umat dan warga

Bersama umat dan warga

Sambil menunggu acara protokoler, maka langsung dilaksanakan pengobatan. Para umat dan warga yang mau berobat sudah duduk dikursi yang telah disediakan menunggu giliran dipangggil. Umat yang dipanggil kemudian didata nama dan keluhan penyakitnya selanjutnya diperiksa oleh tim dokter dan diberi obat. Semua berjalan dengan tertib dan lancar karena semua pihak yang terlibat saling bekerjasama .

Pengobatan gratis

Pengobatan gratis

Umat yang sudah berobat mengambil obat yang sudah disiapkan

Umat yang sudah berobat mengambil obat yang sudah disiapkan

Acara pengobatan gratis kemudian dihentikan sejenak karena disela dengan acara protokoler dan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Umum Panitia Dharma Shanti Nyepi Tingkat Jawa Timur Saka 1937 Tahun 2015 Bapak I Nyoman Anom. Bapak Nyoman Anom menyampaikan bahwa program pengobatan gratis ini adalah merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian-rangkain kegiatan dalam rangka Dharma Shanti Nyepi. Rangkaian kegiatan tersebut adalah Program Penghijauan di Pura Juanda pada Tanggal 1 Maret 2015, Pengobatan Gratis di Desa Mondoluku pada 8 Maret 2015, Melasti ke Pantai Aru pada 15 Maret 2015, Mecaru dan Pawai Ogoh-Ogoh di Tugu Pahlawan pada 20 Maret 2015, Brata Penyepian pada 21 Maret 2015 dan Dharma Shanti di Gedung Petrokimia Gresik pada April 2015. Bapak Nyoman Anom meminta kepada semua Umat di seluruh Jawa Timur agar ikut menyukseskan rangakaian acara tersebut.

Pembawa acara

Pembawa acara

Ketua Panitia Dharma Shanti Nyepi Jawa Timur Bapak Nyoman Anom

Ketua Panitia Dharma Shanti Nyepi Jawa Timur Bapak Nyoman Anom

Kemudian sambutan dari Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. Beliau adalah sebagai Pembina Umat Hindu di Jawa Timur. Beliau menyampaikan agar pada Hari Suci Nyepi tersebut kita melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh sehingga apa yang kita inginkan bisa dikabulan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Brata Penyepian tersebut meliputi Amati Gni: tidak menyalakan api dan kemarahan (nafsu), Amati Karya: tidak bekerja, Amati Lelungayan: Tidak bepergian dan Amati Lelanguan: tidak bersenang-senang. Juga ada Upawasa: berpuasa dan Monobrata: tidak berbicara. Semua Sabda, bayu dan Idep kita ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE.

Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE.

Selanjutnya adalah acara pembagian sembako secara simbolis kepada perwakilan umat dan warga.

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi menyerahkan bantuan

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi menyerahkan bantuan

Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. menyerahkan bantuan

Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. menyerahkan bantuan

Ibu Ni Kadek Rohita menyerahkan bantuan

Ibu Ni Kadek Rohita Ary Atmaja menyerahkan bantuan

Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno menyerahkan bantuan

Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno menyerahkan bantuan

Ketua Panitia Dharma Shanti Jatim Bapak Nyoman Anom menyerahkan bantuan

Ketua Panitia Dharma Shanti Jatim Bapak Nyoman Anom menyerahkan bantuan

Berfoto bersama

Berfoto bersama

Acara selanjutnya adalah sambutan dari Wakil Bupati Gresik Bapak Muhammad Qosim, Msi. Pada sambutannya Beliau menyampaikan bahwa acara bhakti sosial ini yang melibatkan semua warga baik Hindu maupun Muslim merupakan contoh adanya kerukunan antar Umat beragama. Beliau sangat mengapresiasi bawa di Desa Mondoluku ini Umat Hindu dan Umat Muslim bisa bersatu, hidup rukun dan saling tolong-menolong tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan dengan persatuan itu apa yang kita kerjakan semua bisa terlaksana dan sukses. Seperti di Pemerintahan Gresik ini antara DPRD (Legislatif) dan Pemerintah (Eksekutif) bersatu maka semua pembangunan bisa berjalan dengan sukses. Demikian juga menurun ke Masyarakat tidak ada gejolak yang berarti yang bisa mengancam kehidupan bermasyarakat di Gresik ini. Dengan persatuan ini maka APBD Kabupaten Gresik selama Pemerintahan Bapak Sambari-Qosim bisa melonjak mencapai hampir 1.000%. Juga adanya pembangunan-pembangunan proyek berskala Internasinal seperti Pembangunan Stadion Bukit Lengis yang hampir selesai, Proyek Bendung Gerak Sembayat, Pembangunan Candi masuk ke Kota Gresik yang sangat megah, Rumah sakit Ibnu Sina dan banyak lagi yang lainnya. Semua itu karena semua bersatu baik di pemerintahan maupun di Masyarakat.

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi

Bapak Qosim berdialog dengan warga

Bapak Qosim berdialog dengan warga

Pembacaan doa

Pembacaan doa

Bapak H. Mohammad Qosim Msi berfoto bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bapak H. Mohammad Qosim Msi berfoto bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Berfoto bersama

Berfoto bersama

Setelah acara protokoler maka acara pengobatan gratis dan pembagian paket sembako dilanjutkan lagi.

Setelah itu acara selesai ada umat yang pulang, ada juga umat yang melaksanakan persembahyangan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Foto bersama di depan pura

Foto bersama di depan pura

Foto bersama tokoh Desa Mondoluku

Foto bersama tokoh Desa Mondoluku

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila berfoto bersama Bapak Arif

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila berfoto bersama Bapak Arif

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE melihat para Mahasiswa mengajar anak-anak Agama Hindu

Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE melihat para Mahasiswa mengajar anak-anak Agama Hindu

Persembahyangan di Rsi

Persembahyangan di Rsi

Maturan ring Ken Dedes

Maturan ring Ken Dedes

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Hujan lebat mengiringi persembahyangan

Hujan lebat mengiringi persembahyangan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kunjungan Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI

Om Swastiastu,
Pada Sabtu, 28 Pebruari 2015 Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya melaksanakan kunjungan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Ikut mendampingi Beliau, Pembimas Hindu Jatim Bapak Ida Bagus Made Windya, S.Ag, dan Bapak Anom. Beliau tiba di pura pukul 10.15 WIB dan disambut oleh Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila beserta pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku. Rombongan langsung melihat-lihat pelinggih di pura. Pada waktu Jero Sepuh menjelaskan tentang adanya Pelinggih Gedong Lingga Kamulan yang merupakan tempat para leluhur tanah jawa dari Kerajaan Mataram Kuno sampai Kerajaan Majapahit dari Raja sampai rakyatnya yang mencapai jutaan distanakan pada pelinggih tersebut. Bapak Prof. I Ketut Widnya juga menyampaikan bahwa konsepnya itu sama dengan Krisna yang mana alam semesta yang luas ini ada dalam mulut Beliau.

Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya mendengarkan penjelasan Pura dari Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya mendengarkan penjelasan Pura dari Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya rombongan menuju ke Wantilan Jenggolo. Pada kesempatan tersebut Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang adanya konsep Jawa yang diterapkan di Pura ini, baik Pelinggihnya, Bantennya maupun Keseniannya. Juga disampaikan bahwa akan dibuat lagi pelinggih untuk Gajah Mada, Nyi Roro Kidul dan Bhagawan Wiswakarma (Wenadi) yang merupakan perancang / arsitek pura. Jero Sepuh juga menginginkan adanya perluasan tanah pura sehingga bisa dipakai untuk keperluan di masa depan. Juga adanya rencana pembangunan pasraman untuk para umat yang sudah sepuh/tua, yang mana banyak dari mereka tidak mempunyai tempat berlindung karena anak-anaknya sudah berpindah kepercayaan, sehingga mereka tidak terurus sampai meninggal. Dengan adanya pasraman tersebut mereka bisa tenang menjalani hari tuanya.

Di Wantilan Jenggolo

Di Wantilan Jenggolo

Menikmati minum teh

Menikmati minum teh

Bapak- Bapak dari Sai Satya ikut hadir

Bapak- Bapak dari Sai Satya ikut hadir

Jero Sepuh LMK kadek Sumanila menjelaskan konsep pura kedepannya

Jero Sepuh LMK kadek Sumanila menjelaskan konsep pura kedepannya

Bapak Prof. I Ketut Widnya menyampaikan bahwa Beliau sangat suka dengan suasana pura ini, juga umat yang saling mendukung satu sama lain, meski kecil tetapi kalau bersatu bisa menjadi kuat. Suasana ini terus dipelihara dan kalau bisa terus ditingkatkan. Bapak Prof. I Ketut Widnya juga sangat mendukung adanya tempat untuk memuja leluhur ini, bahkan Beliau menyampaikan bahwa pemujaan Leluhur sebenarnya sudah terjadi sebelum Hindu masuk ke Nusantara ini. Dan sebenarnya para Leluhur tersebut masih berkuasa meski secara niskala. Dan dengan adanya pelinggih untuk menstanakan Beliau maka kita semua akan mendapatkan kesejahteraan. Terhadap adanya rencana perluasan tanah Beliau sangat mendukung sekali. Beliau bahkan menginginkan adanya suatu yayasan yang khusus mengurus masalah ini. Hal ini karena dalam beberapa tahun ini banyak orang yang ingin datang ke pura untuk bersembahyang dan menenangkan diri setelah selama seminggu bekerja keras. Mereka ingin mencari kepuasan spiritual sehingga nantinya akan banyak orang yang datang ke pura. Makanya nanti dalam beberapa tahun kedepan bisa jadi tempat pura ini tidak akan bisa menampung banyaknya umat. Oleh karena itu perluasan area pura penting untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, Beliau menyampaikan agar bisa mengajukan permintaan bantuan lewat Pembimas Jawa Timur. Juga untuk pembuatan pelinggih yang belum ada agar segera mengajukan permintaan bantuan.

Bapak Prof. I Ketut Widnya  memberikan sambutannya

Bapak Prof. I Ketut Widnya memberikan sambutannya

Selanjutnya semeton menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan. Setelah itu matur piuning ke Lingga Yoni dan Pelinggih Resi.

Kramaning sembah di Beji

Kramaning sembah di Beji

Bapak Prof. I Ketut Widnya melukat

Bapak Prof. I Ketut Widnya melukat

Bapak Anom melukat

Bapak Anom melukat

Bapak Ida Bagus Made Windya melukat

Bapak Ida Bagus Made Windya melukat

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Matur Piuning di Rsi

Matur Piuning di Rsi

Seteleh itu Umat menuju ke Mandala Utama melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Matur ring Gedong Lingga Kamulan

Matur ring Gedong Lingga Kamulan

Bapak Anom, Bapak Prof. I Ketut Widnya, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak IDa Bagus Made Windya S.Ag

Bapak Anom, Bapak Prof. I Ketut Widnya, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak IDa Bagus Made Windya S.Ag

Setelah persembahyangan, Umat kemudian menuju ke Wantilan untuk makan siang.

Makan siang

Makan siang

Makan siang

Makan siang

Foto bersama

Foto bersama

Berpamitan

Berpamitan

Pukul 12.30 WIB Bapak Dirjen dan rombongan kembali ke Surabaya.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Previous Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.