Hari Suci Nyepi

Om Swastiastu,

Pada 09 Maret 2015 merupakan Hari Suci Nyepi yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Seluruh Indonesia. Umat Hindu di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan juga melaksanakan kegiatan Upacara Hari Suci Nyepi tersebut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada pelaksanaan rangkaian kegiatan upacara tersebut, Umat berbondong-bondong datang ngayah ke pura. Umat yang datang dari berbagai daerah seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Singaraja, Denpasar dan Gianyar. Mereka datang sendiri ngayah karena panggilan dari Leluhur. Pada Nyepi Tahun 2016 ini Bapak I Gusti Putu Raka ditunjuk sebagai ketua panitia.

Pada Minggu 28 Pebruari 2016 dilaksanakan upacara melasti. Upacara dilaksanakan di Petirtan Suci Jolotundo. Tidak seperti tahun lalu, kali ini kita melaksanakan upacara Melasti tidak bersama dengan pura lain. Kita mendahului melasti karena agar banyak umat yang bisa ikut melasti bersama kita. Karena pada Hari Minggu, 06 Maret 2016 seluruh pura-pura di Surabaya, Gresik, Lamongan, Mojokerto dan Sidoarjo akan melaksanakan melasti di Pantai Aru, sehingga kalau kita barengan harinya, umat nantinya akan bingung untuk melasti. Pada Hari Sabtu, 27 Pebruari 2016 umat sudah datang ke pura untuk mempersiapkan sarana dan prasarana upakara. Umat juga melaksanakan persembahyangan memohon agar kegiatan upacara melasti besok berlangsung dengan lancar.

Umat berkumpul di Wantilan persiapan melasti

Umat berkumpul di Wantilan persiapan melasti

Penglukatan di Beji

Penglukatan di Beji

Matur Piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit dan HYang Semar

Matur Piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit dan HYang Semar

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Ida Pandita Buda Mpu Salahin Prama Daksa  dan Ida Pandita Putra Nirmala

Ida Pandita Buda Mpu Salahin Prama Daksa dan Ida Pandita Putra Nirmala

Pada Minggu 28 Pebruari 2016 pukul 06.00 WIB umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan. Setelah persembahyangan, banten, pretima-pretima, jempana, senjata Dewata Nawa Sanga dan peralatan untuk melasti dibawa keluar Mandala Utama dan dimasukkan kedalam mobil yang telah disiapkan. Pukul 09.00WIB umat berangkat menuju ke Petirtan Jolotundo. Banyak umat yang ikut mengiringi dan sebagian besar membawa kendaraan pribadi.

Persiapan melasti

Persiapan melasti

Jempana dimasukkan mobil

Jempana dimasukkan mobil

Senjata Dewata Nawa Sanga yang akan dibawa melasti

Senjata Dewata Nawa Sanga yang akan dibawa melasti

Umat yang ikut melasti

Umat yang ikut melasti

Pukul 09.21WIB umat sampai dipertigaan Jolotundo. Dari sana umat berjalan kaki menuju ke petirtan suci yang jaraknya sekitar 800 meter dengan jalan yang menanjak sehingga banyak umat yang ngos-ngosan apalagi yang membawa jempana. Sesampai di pintu gapuro, umat disambut Tari Remo. Selanjutnya peralatan melasti ditaruh didepan petirtan yang telah disiapkan. Pada upacara kali ini tetap menggunakan banten Medang Kamulan, dan yang memuput adalah Ida Pandita Buda Mpu Salahin Prama Daksa dari Griya Tanggahan Bangli dan Ida Pandita Putra Nirmala dari Pasraman Wilwatikta Singosari Malang. Juga hadir Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana tetapi Beliau tidak muput karena sedang melaksanakan suatu upacara yang tidak boleh memimpin segala kegiatan upacara. Hadir juga semeton dari Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhung dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto. Juga semeton Umat Hindu dari Gondang.

Berjalan menuju ke Petirtan Suci Jolotundo

Berjalan menuju ke Petirtan Suci Jolotundo

Para Pemangku

Para Pemangku

Pembawa Jempana

Pembawa Jempana

Para Pemuda Medang Kamulan

Para Pemuda Medang Kamulan

Musik Ketipung dari Tengger

Musik Ketipung dari Tengger

Tari Remo

Tari Remo

Di Petirtan Suci Jolotundo

Di Petirtan Suci Jolotundo

Umat yang hadir

Umat yang hadir

UMat dari Gondang

UMat dari Gondang

Semeton dari Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhung dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto

Semeton dari Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhung dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto

Upacara kali ini juga diliput oleh Surabaya TV. Pada kesempatan tersebut kru tv mewawancarai Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila, Bapak Ir. I Gusti Putu Raka, MMT dan Bapak Prof.  Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD. Bapak Jero Sepuh menyampaikan tentang sejarah Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Mulai dari awal berdiri sampai saat ini. Juga disampaikan tentang konsep budaya jawa yang diterapkan di pura ini. Bapak Ir. I Gusti Putu Raka, MMT menyampaikan alasan dipilihnya Petirtan Suci Jolotundo ini dipakai untuk upacara melasti. Menurut Beliau karena petirtan ini sesungguhnya milik kita juga sehingga kalau tidak dipakai akan bisa diambil oleh orang lain. Apalagi tempatnya yang sangat sejuk yang memberikan kita rasa nyaman dan tenang dalam melaksakanan persembahyangan. Bapak Prof.  Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD menyampaikan tentang makna melasti dan nyepi. Juga sejarah kenapa ada Hari Suci Nyepi itu. Dampak adanya nyepi secara ilmiah juga ada karena bisa mengurangi emisi dan pemakaian bahan bakar. Makanya Nyepi ini sebenarnya sangat bisa diterapkan di seluruh dunia.

Wawancara dengan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Wawancara dengan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Wawancara dengan Bapak Ir. I Gusti Putu Raka Artama, MMT

Wawancara dengan Bapak Ir. I Gusti Putu Raka Artama, MMT

Wawancara dengan Bapak Prof.  Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD

Wawancara dengan Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD

Selama pandita muput ditampilkan Tari Sang Hyang Sembah oleh semeton dari Grup kesenian Sanggar Pancer Langit dari Desa Kapal Badung yang dipimpin A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn. Grup ini sudah merupakan bagian dari Keluarga Besar Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan selalu tampil mengiringi setiap upacara yang dilaksanakan oleh pura ini.

Ida Pandita Buda Mpu Salahin Prama Daksa dan Ida Pandita Putra Nirmala

Ida Pandita Buda Mpu Salahin Prama Daksa dan Ida Pandita Putra Nirmala

Mecaru

Mecaru

Tari Sang HYang Sembah

Tari Sang HYang Sembah

Grup kesenian Sanggar Pancer Langit

Grup kesenian Sanggar Pancer Langit

Setelah itu dilaksanakan persembahyangan bersama. Setelah persembahyangan, Bapak Ir. I Gusti Putu Raka, MMT selaku ketua panitia menyampaikan terima kasih kepada umat yang sangat antusias ngayah sehingga kegiatan upacara melasti ini bisa berjalan dengan sangat baik. Juga kepada semeton yang bisa ikut ngiringi pelaksanaan upacara melasti ini. Juga dihimbau setelah selesai upacara melasti ini umat yang berangkat pulang agar bisa menjaga diri agar semua selamat sampai di rumah.

Bapak Ir. I Gusti Putu Raka Arthama, MMT

Bapak Ir. I Gusti Putu Raka Arthama, MMT

Setelah itu sambutan dari Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA. Beliau adalah ketua Forum Studi Majapahit. Pada kesempatan tersebut Beliau menyampaikan agar sekarang kita harus sering-sering untuk bersembahyang karena kita ini sudah memasuki jaman Kaliyuga. Jaman yang semua serba terbalik, yang baik dianggap jelek dan yang jelek dianggap buruk. Hal ini tentu akan menggoda kita untuk ikut-ikutan melakukan hal yang buruk. Dengan sering kita bersembahyang dan mempelajari ajaran agama kita, semoga kita selalu dituntun untuk tetap dijalan kebenaran. Saat ini setelah 500 tahun, ajaran kebenaran tersebut akan ditegakkan kembali. Leluhur sudah mulai mengayomi kita lagi. Hal ini dibuktikan dengan kita sudah melinggihkan Leluhur di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Dan banyak semeton yang dari mana-mana termasuk dari Bali dipanggil Leluhur untuk tangkil di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini.

Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA

Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA

Selanjutnya umat nunas tirta dan bija. Setelah itu semua sarana upacara disucikan dengan dicelupkan di kolam pertirtan suci. Setelah itu upacara melasti selesai dan umat kembali ke pura dan sebagian kembali ke rumah masing-masing.

Pada Hari Selasa 08 Maret 2016 dilaksanakan Upacara Mecaru. Upacara dilaksanakan di pertigaan Desa Mondoluku dan dipimpin oleh Pinandita DR. I Nengah Mariasa, M.Hum. Upacara berjalan dengan khidmat dan dihadiri oleh pengurus Rumah Tangga Pura dan Umat Hindu Mondoluku.

Mejeng dulu (Pemangkunya itu kok ikut mejeng?)

Mejeng dulu (Pemangkunya itu kok ikut mejeng?)

Upacara Pecaruan

Upacara Pecaruan

Upacara Pecaruan

Upacara Pecaruan

Pada Hari Rabu 09 Maret 2016 merupakan puncak Hari Suci Nyepi. Umat banyak yang melaksanakan Catur Brata Penyepian di pura. Pada hari tersebut umat tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang. Semua pikiran tertuju kepada Ida Sang Hyang Widdhi Wasa.

Pada Hari Kamis 10 Maret 2016 umat melaksanakan Ngembak Gni. Pagi-pagi umat sudah di Mandala Utama melaksanakan persembahyangan bersama. Setelah itu umat berbuka puasa menikmati sajian nasi kuning lengkap. Setelah itu umat saling bersalam-salaman dan bermaaf-maaafan. Saling melupakan kesalahan yang lalu dan mulai hidup baru yang lebih baik. Dan semoga semua mendapatkan kedamaian di hati di dunia dan damai selamanya. Hidup tentram kerta raharja. Merdeka!.

Persembahyangan Ngembak Gni

Persembahyangan Ngembak Gni

Saling bermaaf-maafan

Saling bermaaf-maafan

Dapat Angpao (Penulis kok gak dapat ya?)

Dapat Angpao (Penulis kok gak dapat ya?)

Berdo'a dulu sebelum makan

Berdo’a dulu sebelum makan

Ayo makaaan.....!

Ayo makaaan…..!

Setelah itu bersih-bersih

Setelah itu bersih-bersih

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

Upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan 2016

Om Swastiastu,

Pada Purnama Kawulu Minggu Pon 24 Agustus 2016 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan Upacara Piodalan. Upacara Piodalan tahun ini adalah Piodalan yang ketiga kalinya dan dipuput oleh 8 Pandita yaitu Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger, Pandita Dukun Puja Pramana dari Tengger, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna dari Griya Batur Bujangga Waisnawa – Tegalcangkring Jembrana, Ida Rsi Bujangga Suryayana dari Griya Candra Kusuma – Munggu Mengwi Badung, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening dari Griya Agung Segening – Munggu Mengwi Badung, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma dari Griya Anyar – Amlapura Karangasem, Ida Rsi Nabe Bujangga Sangging Prabhangkara Dwijasana dari Griya Kawan Ganggawati – Bangli dan Ida Rsi Bhagawan Darma Cadhu Siddhi dari Griya Suka Yadnya – Karangsari Nusa Penida Klungkung. Umat yang ngayahpun dari berbagai daerah Jawa Timur dan Bali seperti Bapak Made Supartana sekeluarga dari Singaraja, Bapak I Nengah Wijana sekeluarga dari Singaraja, Ibu Agung sekeluarga dari Gianyar, Keluarga Besar Forum Study Majapahit yang diketuai Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA dan keluarga, Bapak Ibu Umat dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon, Grup Seni Reyog Jaranan Campursari “Karyo Budoyo” pimpinan Bapak Warsim dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon, Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhung dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto, Semeton dari Banjar Hindu Kota Gresik, Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti yang diketuai oleh Jero Mangku Ketut Sumertha, Grup kesenian Sanggar Pancer Langit dari Desa Kapal Badung yang dipimpin A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn, Umat Hindu dari Bongso Kulon, Bongso Wetan, Laban,Beton, Mondoluku, Surabaya dan Sidaorjo. Juga Mas Arif dari Majalah Hitam Putih sekeluarga dan Mahasiswa Islam dari IAIN Sunan Ampel dan Unesa yang diketuai oleh Mas Zulfi Ikhsan. Juga warga Desa Mondoluku yang ikut membantu ngayah di pura ini.

Membuat Asahan

Membuat Asahan

Masang Wastra Hyang Semar

Masang Wastra Hyang Semar

Memasang Penjor

Memasang Penjor

Membuat Banten

Membuat Banten

Memasak

Memasak

Semeton Muslim lagi sholat di Wantilan

Semeton Muslim lagi sholat di Wantilan

Seperti piodalan sebelumnya, sebelum acara puncak piodalan pada tanggal 24 Januari 2016, selalu didahului oleh rangkaian upacara-upacara yaitu Jero Sepuh Medang Kamulan Matur Piuning pada Senin Pon 04 Januari 2016. Upacara yang di,mulai pada pukul 21.00WIB tersebut dilaksanakan di Mandala Utama pura dan dihadiri oleh umat dan pengurus pura.

Pada Minggu Wage 10 Januari 2016 dilaksanakan upacara Nancep Karya. Upacara dimulai pada pukul 14.00WIB dilaksanakan di Mandala Utama pura dan puput oleh Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi dari Pura Giri Arjuno. Hadir pada upacara tersebut Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD , Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti yang diketuai oleh Jero Mangku Ketut Sumertha dan Juga Umat Hindu dari berbagai daerah dan pengurus rumah tangga pura.

Nancep Karya

Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Pada Minggu Legi 17 Januari 2016 dilaksanakn Nunas Tirta Pekuluh ke Pura-Pura di Wilayah Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan dan Mojokerto. Acara dimulai pukul 09.00WIB diawali dengan kedatangan Tirta dari Pura Panca Sono Giri-Dukuh Kupang dan Tirta dari Pura Tirta Empul-Karang Pilang yang dibawa oleh Jero Mangku Jatmiko. Kemudian Tirta dari Pura Candi Cemara Agung–Tandes yang dibawa oleh Jero Mangku I Gusti Ketut Adnyana, Tirta dari Pura Agung Jagat Karana–Surabaya yang dibawa oleh Jero Mangku Putu Agus, Jero Mangku I Ketut Sedana dan Jero Mangku I Made Paria. Selanjutnya Tirta dari Pura Tungga Jati–Bulak Banteng yang dibawa oleh Jero Mangku Istri Nyoman Citra, Tirta dari Pura Segara Kenjeran yang dibawa oleh Jero Mangku Wayan Wardana, Tirta dari Pura Tirta Wening – Tambaksari Surabaya dibawa oleh Jero Mangku Wayan Sujana, Tirta dari Pura Tirta Gangga – Kertajaya Gg. 10 Gubeng Surabaya dibawa oleh Jero Mangku Wayan Juwet, Tirta dari Pura Kerta Bhumi –Bongso Wetan yang dibawa oleh Jero Mangku Saptono, Bapak Kusno dan Bapak Satiman. Selanjutnya Tirta dari Pura Nirwan Jati–Sekelor, Tirta dari Pura Penataran Agung Margo Wening–Krembung dan Tirta dari Pura Jala Siddhi Amertha–Kenjeran yang dibawa ole Jero Mangku Ketut Sumertha. Setelah itu menyusul Tirta dari 7 pura dari Mojokerto, Tirta dari Pura Kertha Buana–Bongso Kulon, Tirta dari Pura Jagad Dumadi–Laban, Tirta dari Pura Jagat Giri Natha–Beton dan Tirta dari Pura Suweta Maha Suci–Lamongan.

Tirta Pura Jagat Karana, Pura Tunggal Jati, Pura Segara Kenjeran, Pura Tirta Wening dan Pura Tirta Gangga

Tirta Pura Jagat Karana, Pura Tunggal Jati, Pura Segara Kenjeran, Pura Tirta Wening dan Pura Tirta Gangga

Tirta Pura Kertha Bhumi

Tirta Pura Kertha Bhumi

Tirta Pura Nirwan Jati, Pura Margo Wening dan Pura Jala Siddhi Amertha

Tirta Pura Nirwan Jati, Pura Margo Wening dan Pura Jala Siddhi Amertha

Pukul 18.00WIB dilaksanakan upacara Matur Piuning ring Hyang Semar. Berbeda dengan tahun kemarin dimana kita Matur Piuning dan Nunas Wastra Hyang Semar di Gunung Arjuno, maka pada kali ini kita cukup Matur Piuning ring Hyang Semar di pura saja.

Pada Kamis Kliwon 21 Januari 2016 dilaksanakan upacara Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati ke Pantai Ngliyep di Malang Selatan. Upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana dari Tengger dan dihadiri oleh umat dari Gresik dan Surabaya. Juga umat dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger, Ibu Agung sekeluarga dan Adik-adik Mahasiwa/Mahasiswi dari IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Unesa Surabaya. Pukul 03.00WIB umat berkumpul dan bersembahyang di Mandala Utama pura. Setelah itu umat mempersiapkan semua peralatan dan banten yang akan digunakan untuk upacara nanti. Pukul 04.00WIB Umat berangkat menuju ke Pantai Ngliyep. Umat menggunakan 10 mobil berjalan beriringan dengan dikawal voorijder dari Angkatan Laut.

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Persiapan sarana persembahyangan

Persiapan sarana persembahyangan

Pukul 09.40 Umat sampai di Pantai Ngliyep. Kemudian umat beristirahat sebentar sembari menunggu pemuput upacara yang berangkat dari Tengger. Pukul 11.30 Umat menuju ke Gunung Kombang di Pantai Ngliyep tempat pelaksanaan upacara. Sembari menunggu upacara dimulai, beberapa semeton menyampaikan kesan mengikuti upacara ini. Sebagian merasa senang karena tempatnya yang bagus apalagi banyak yang baru pertama ke sini. Tahun depan mereka berencana akan ikut upacara ini lagi. Juga mereka menyampaikan bahwa rangkaian upacara piodalan yang dilaksanakan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini begitu unik tidak sama dengan pura yang lain. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri sehingga membuat mereka ingin selalu bisa ngayah di pura ini. Untuk sarana dan prasarana pada upacara di Pantai Ngliyep ini dibantu oleh Marinir yang bertugas di sini.

Masuk Gunung Kombang

Masuk Gunung Kombang

Persiapan Upacara Larung Sesaji

Persiapan Upacara Larung Sesaji

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Mas Zulfi Ikhsan memberikan testimoni

Mas Zulfi Ikhsan memberikan testimoni

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD memberikan Dharma Wacana

Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD memberikan Dharma Wacana

Bapak Agung memberikan testimoni

Bapak Agung memberikan testimoni

Pandita Dukun Eko Warnoto memberikan pencerahan

Pandita Dukun Eko Warnoto memberikan pencerahan

Bendera Merah Putih berkibar di Batu Karang

Bendera Merah Putih berkibar di Batu Karang

Pukul 12.00WIB upacara Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati dimulai. Upacara berlangsung khidmat diiringi suara genta dan deburan ombak Pantai Ngliyep. Juga hujan rintik-rintik dan angin yang menambah kekhusukan upacara ini. Upacara diakhiri dengan melarung semua banten ke laut. Semua ikut ngelarung termasuk Mahasiswa/Mahasiswi Sunan Ampel dan UNESA. Setelah upacara umat kembali ke tempat parkir untuk makan siang bersama anggota Marinir. Pukul 15.00WIB umat kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Larung Sesaji dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Persiapan larung sesaji

Persiapan larung sesaji

Banten di larung

Banten di larung

Nunas ajengan

Nunas ajengan

Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati

Tanggal 23 Januari 2016 pukul 13.00WIB umat berkumpul di Wantilan Jenggolo untuk melaksanakan upacara selamatan terop. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Puja Pramana.

Selamatan Terop

Selamatan Terop

Setelah itu umat menuju ke Candi Bentar Mandala Nista untuk mengikuti upacara Rakatawang. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto. Upacara berlangsung khidmat diiringi oleh hujan rintik-rintik dan musik ketipung dari Semeton Tengger.

Upacara Rakatawang

Upacara Rakatawang

Setelah itu umat menuju ke Mandala Utama untuk mengikuti upacara Pembejian. Upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Puja Pramana, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna, Ida Rsi Bujangga Suryayana, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma. Pada upacara tersebut semua pretima dibawa ke para Pandita untuk dimantrai. Setelah itu semua Pretima, Senjata Dewata Nawa Sanga dan Panji Medang Kamulan dibawa ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk disucikan. Setelah upacara penyucian selesai, umat kembali ke Mandala utama untuk Murwa Daksina (mengelilingi Mandala Utama sebanyak 3 kali sambil mengucap kirtanam “Om Namah Siwaya” berulang-ulang) dan Ngelinggihang Ida Bhatara ring Soang-Soang. Upacara diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Persiapan pembejian

Persiapan pembejian

Pretima

Pretima

Pretima dibawa ke Beji

Pretima dibawa ke Beji

Pada Puranam Kawulu Minggu Pon 24 Januari 2016 dilaksanakan puncak Upacara Piodalan. Mulai pagi-pagi umat sudah sibuk mempersiapkan upacara. Upacara dimulai pukul 15.00WIB. upacara dipuput oleh Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Puja Pramana, Ida Bujangga Rsi Hari Anom Palguna, Ida Rsi Bujangga Suryayana, Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Dharma, Ida Rsi Nabe Bujangga Sangging Prabhangkara Dwijasana dan Ida Rsi Bhagawan Darma Cadhu Siddhi. Upacara diawali dengan pecaruan yang dilaksanakan di Mandala Utama oleh para Pemangku. Kemudian para Pandita ngantebang upacara piodalan. Pada kesempatan tersebut, juga dilaksanakan upacara Pawintenan Pemangku kepada Bapak Ketut yang akan menjadi Pemangku di pura ini.

Setelah itu kemudian dilaksanakan Dharma Wacana oleh Pembimas Hindu Kanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur Bapak Ida Bagus Made Windya, S.Ag. Beliau menyampaikan bahwa meski di Desa Mondoluku ini hanya ada 7 KK tetapi pada piodalan kali ini umat yang hadir luar biasa banyaknya . Ini berarti bahwa Ida Bhatara sangat merestui kita semua. Dengan adanya pura menunjukkan bahwa ini merupakan sebuah identitas akan keberadaan Umat Hindu di pura ini. Oleh karena itu kita wajib menjaga kesucian pura ini. Bahkan adanya rencana membangun Panti Wredha di pura ini untuk Umat Hindu yang sudah sepuh wajib didukung dan segera buatkan proposalnya kepada Dirjen Bimas Hindu Kemendag RI di Jakarta. Juga rencana adanya pasraman yang nanti jadi pusat pendidikan Agama Hindu. Kita sebagai Umat Hindu wajib menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama. Dan hal ini sudah diwujudkan dengan Umat yang bahu membahu membatu umat yang sedang mengalami kesusahan akibat bencana seperti adanya Gunung Kelud, Gunung Raung dan Gunung Bromo yang meletus. Umat bahu membahu mengumpulkan bantuan baik berupa punia maupun sembako untuk umat kita yang sedang kesusahan tersebut. Hal ini sesuai dengan adanya pesan dari Sri Kresna yang berbunyi hendakanya kita menyayangi, mengasihi segala makhluk hidup. Persahabatan yang dilandasi dengan kasih sayang.

Setelah itu Dharma Wacana dari Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA. Beliau adalah Ketua Forum Study Majapahit. Beliau juga adalah Anggota Dewan Kehormatan Dewan Persatuan Pasraman Seluruh Indonesia. Sampai hari ini Beliau membina 63 Asraman. Selalu melakukan kunjungan sesempat-sempatnya padahal Beliau mempunyai kesibukan yang luar biasa. Beliau menyampaikan bahwa sebelumnya Beliau sudah beberapa kali ke pura ini, bahkan pada Tanggal 21 Desember 2015 Beliau bersama Teman-teman Forum Study Majapahit dan Umat Hindu yang ada di Gresik dan Surabaya ini telah melaksanakan Upacara Pawintenan Nusantara di pura ini. Pawintenan dilaksanakan untuk menyucikan seluruh Nusantara sesuai dengan petunjuk dari Yang Diatas. Adapun dipilih Tanggal 21 Desember 2015 karena mempunyai makna 21 artinya dari ada diprelina, dan angka 12 bermakna dari nol menjadi ada. Sedangkan 2015 kalau dijumlah menjadi 8. Delapan artinya derap langkah ke depan. Jadi 2-1, 1-2 ini kebangkitan peradaban baru. Semua diprelina kembali ke Medang ke awal. Disini sudah momentumnya menurut Ida. Hal ini karena pada waktu ini Negara kita seperti mengalami masa prelina yang mana ditunjukan oleh para pemimpin kita terang-terangan melakukan dosa baik korupsi dll dan banyak juga yang masuk penjara. Pemimpin yang semestinya menjadi tauladan, sekarang jadi pesakitan di penjara. Hal ini karena kita tidak mengamalkan ajaran Pancasila dengan baim dan benar. Bahkan ada suatu golongan yang menolak Pancasila itu sebagai dasar mereka. Hal ini karena mereka tidak tahu arti dan makna dari Pancasila tersebut.

Setelah itu dilaksanakan Tari Sakral Atithi Dharma Tri Murti yang dibawakan oleh Ibu Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, Ibu Jero Mangku Sri Ngatiin dan Ibu Ni Ketut Nurhoki.

Kemudian dilanjutkan Tari Wali dan Tabuh  yang pembinanya adalah A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn. Officialnya adalah Ngurah Jambe, A.A Mas Sudarningsih, Kadek Elena Kusuma Dewi, I Kadek Permata Nidhi, I Made Yuandika Pramudia, I Putu Gede Bagus Restu Waisnawa, I Komang Jana Artha Suputra . Penabuh : I Made Suardipa, I Putu Agus Widi Adnyana, I Gede Putu Bayu Krisna Permadi, I Made Widnyana, I Made Rai Purnayasa, I Komang Gede Arya Sasmita. Tarian yang ditampilkan adalah Tari Baris yang dibawakan I Gusti Ngurah Agung Giri Putra, Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara, I Kadek Soma Ratmaja, I Gede Wirasantha Ganda Mandana, Ida Bagus Eka Haristha, Ida Bagus Haris Yodhie, Pande Putu Kevin Muliarta, Dewa Dwipayana, I Gede Agus Suparta dan Tari Rejang yang dibawakan oleh Ni Komang Seriati, Putu Fenny Diaristha, Ni Putu Tina Ratna Dewi, Ni Putu Yayang Lorensia Novita, Ida Ayu Sri Purnamadewi, Ni Putu Tina Febri Artaningsih dan Ni Luh Made Maura Agustina.

Setelah itu Tari Majapahit oleh Semeton dari Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhurng dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto.

Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.

Selesai persembahyangan, Umat kemudian menuju ke Wantilan untuk menikmati makan malam dan menonton acara Pentas Seni Budaya.

Pada Senin Wage 25 Januari 2015 pukul 08.00WIB semeton dari BKS LPD Provinsi Bali & LPLPD Provinsi Bali, LPD Sekabupaten Buleleng, BKS LPD Provinsi Bali & LPLPD Provinsi Bali melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton berjumlah sekitar 200 orang di ketuai oleh Bapak Made Nyiri Yasa, S.Sos M.Ma. Semeton kemudian berkumpul di Wantilan untuk mesimakrama.

Pada kesempatan tersebut semeton dan umat mendengarkan Dharma Wacana. Yang pertama dari Pinandita Dr. Drs. I Nyoman Murba Widana M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa saat ini kita hidup di Jaman Kaliyuga. Dan ini tidak singkat semenjak Raja Parikesit dinobatkan dan akan berlangsung selama 420.000 tahun lamanya. Setelah itulah kita akan mengalami Mahapralaya. Adapun ciri-ciri kaliyuga itu adalah Bencana dimana-mana, contohnya Tsunami di Aceh, Gempa di Jepang, Kebakaran di Amerika Serikat. Yang harus kita lakukan adalah dimanapun dan kapanpun kita harus ingat dan melaksanakan kepada sabda Brahma yang berbunyi “ Bila Kamu ingin damai, bila Kamu ingin tenang maka janganlah lupa memuja Para Dewa, janganlah lupa memuja orang suci, janganlah lupa memuja Leluhur-Leluhur kita, kebenaran dan keadilan, kalau ini kita lakukan dengan mantap, tekun kita akan terbebas dari buruknya bencana yang mengerikan itu”. Dan kita wajib bersyukur karena diantara semua makhluk hidup hanya manusia yang bisa membedakan baik dan buruk, karena itu leburlah segala perbuatan buruk itu kedalam perbuatan baik.

Selanjutnya Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA menyampaikan Dharma Wacana. Beliau membagi kepada umat tentang kesaksian Beliau tampil di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini. Beliau baru saja tahu tentang pura ini. Pada saat Beliau nyetir ke Nusa Dua Ida Bhatara tedun di mobil agar Beliau ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan pada Bulan Desember 2015. Beliau bingung letak pura tersebut, tahunya nama Medang di Jawa Barat terus pindah ke Jawa Tengah kemudian pindah ke Jawa Timur yang dibawa oleh Mpu Sendok. Kemudian Beliau mencoba mencari di internet dan akhirnya ketemulah webnya pura ini. Sama seperti semeton ini, Beliau merasa bersyukur bisa hadir dan ngayah di pura ini. Karena di pura ini merupakan awal peradaban yang akan dimulai pada tahun ini. Di pura ini banyak orang-orang yang mempertanyakan kok banyak yang aneh-aneh disini. Salah satu contohnya adalah adanya bendera merah putih di Lingga Yoni dan Kita harus menghormat bendera tersebut. Padahal menghormat bendera cuma ada dalam upacara bendera atau peringatan hari-hari Nasional saja, bukan pada waktu kegiatan upacara Agama Hindu. Terhadap pertanyaan tersebut kita harus bisa mengerti dan memahami bahwa Bendera Merah Putih, Burung Garuda Pancasila dan Semboyan Binneka Tungga Ika itu berasal dari Hindu. Bendera Merah Putih merupakan lambang Bapak dan Ibu kita yang juga merupakan Leluhur kita juga. Maka menghormat kepada Bendera Merah Putih berarti juga menghormat kepada Leluhur kita semua termasuk para pejuang yang telah gugur untuk merebut kemerdekaan Negara kita ini. Tanpa adanya orang tua dan para pejuang tersebut, kita tidak akan ada dan tidak bisa menikmati kemerdekaan kita ini. Oleh karena itu menghormat Bendera Merah Putih juga merupakan bagian dari kita memuja Leluhur kita di pura ini.

Selanjutnya Bapak Made Nyiri Yasa, S.Sos M.Ma menyampaikan sambutannya. Beliau menyampaikan bahwa sekarang Beliau ngayah ngiringang Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga di desa Beliau. Padahal Beliau merasa belum mengerti apa-apa. Tetapi Beliau percaya kalau memang karma wasana, kalau perbuataan terdahulu baik maka sekarang kita menikmatinya. Ketika Beliau pertama kali tangkil (datang) ke pura ini, Beliau merasakan ada sesuatu yang luar biasa yang secara akal sehat tidak bisa Beliau kerjakan dan rasakan tetapi itu bisa Beliau dapatkan. Itulah keyakinan Beliau kepada Leluhur Beliau yang berstana di pura ini. Beliau ngayah Ida Bhatara tujuannya agar nanti bisa memberikan hidup lebih baik dan kebahagiaan kepada anak cucunya dikemudian hari.

Setelah itu semeton melaksanakan persembahyangan, dimulai dari penglukatan di Beji, matur piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar, Rsi, Kanjeng Ratu Kidul dan Ratu Ibu Ken Dedes. Setelah itu semeton melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama. Karena semeton masih ada kegiatan tirtayatra ke pura lain, maka setelah selesai persembahyangan, semeton pamit melanjutkan perjalanan. Sedangkan umat yang lain tetap di pura karena masih banyak kegiatan.

Pukul 13.00 WIB di Wantilan Jenggolo dilaksanakan tari-tarian dari Grup Seni Reyog Jaranan Campursari “Karyo Budoyo” pimpinan Bapak Warsim dari Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan Tengger Brang Kulon. Grup ini setiap Piodalan di pura ini selalu ngayah di pura ini. Acara yang ditampilkan adalah Lagu Campursari, Pencak silat, Bantengan, Jaran Pegon, Reog Pakem, Warok, Jatilan, Topeng Kelono Sewandono, Reog dan Jaranan. Pada tarian tersebut banyak pemainnya yang kesurupan makan kaca, lampu neon dan makan ayam hidup-hidup. Bagi yang masih waras, jangan ditiru ya?

Setelah itu pada pukul 18.00WIB dipentaskan Tari-tarian dari Grup Kesenian Lembaga Purwasura Pelestari Seni Budaya Sastra dan Nusantara Adi Luhurng dari Dusun Rembu Tengah Desa Japanan Kec. Kemlagi – Mojokerto. Tari yang ditampilkan adalah Bantengan. Tarian inipun tidak kalah seram dengan yang pertama.

Setelah itu kemudian ditampilkan Pentas Tari Balih-balihan. Tabuh Selonding yang dibawakan oleh Divisi Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali. Penata Tabuh : I Made Suardipa dan Penabuh : I Putu Agus Widi Adnyana, I Gede Putu Bayu Krisna, I Made Widnyana, I Made Rai Purnayasa, I Komang Gede Arya Sasmita, Ida Bagus Haris Yodhi.

Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali

Tabuh Pancer Babaswaram Pancer Langit Bali

Tari Balih-balihan yang ditampilkan adalah:

  1. Tari kebyar duduk
Tari kebyar duduk

Tari kebyar duduk

Tari ini merupakan ciptaan I Mario dari Tabanan yang menciptakan tarian ini pada tahun 1925. Tari ini disebut Kebyar Duduk oleh karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila). Tari Kebyar Duduk menggambarkan kemahiran seorang pemuda yang menari dengan lincahnya dengan posisi duduk mengikuti irama gamelan.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Penari : Pancer Kumara (I Made Yuandika Pramudia)

  1. Tari baris kembar
Tari baris kembar

Tari baris kembar

Tari Baris Kembar merupakan pengembangan dr Tari Baris Tunggal hanya saja tarian ini ditarikan oleh dua penari. Tari ini mengisahkan pemuda yang gagah berani dengan sifat keprajuritan dan kepahlawanan. Tarian ini penuh dengan irama gerak yang mantap dan tegas wujud sikap seorang prajurit. Tari ini juga mengejawantahkan seorang ksatria muda Bali yang sedang meninjau “daerah kekuasaan” ayahnya yang suatu saat akan dipimpinnya. Gelungan yg dikenakan berwarna putih, menandakan nilai kesucian dan keluhuran sebagai pemimpin.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Penabuh : Pancer Babaswasram, Penari : Pancer Kumara (I Putu Gede Bagus Restu Pratama Waisnawa dan I Komang Jana Artha Suputra). Tari ini mendapatkan Juara 1 Tari Baris kembar dalam HUT Kota Mangupura 2015

  1. Tari jauk manis
Tari Jauk manis

Tari Jauk manis

Tarian ini menceritakan kegagahan dari seorang Pahlawan di hutan,yang dengan keperkasaannya mampu menundukan setiap musuh yang mengganggu kehidupan insan yang penuh kedamaian di dalam hutan Belantara. Dibalik kebringasannya dan kekejamannya terselip pula kelemahlembutannya, terutama kepada mahkluk yang lemah dan taat akan kelestarian hutan.

Pembina Tari : Agung Rahma Putra, Tabuh : Pancer Babaswaram, Penari : Pancer Kumara (I Kadek Permata Nidhi). Tari ini mendapatkan Juara 1 lomba Tri Jauk Manis se-Bali dalam Llomba Tari Bali di Kayumas Kaja

  1. Sang Hyang Sembah
Tari Sang Hyang Sembah

Tari Sang Hyang Sembah

Sembah yang artinya “sujud atau sungkem” yang dilakukan dengan cara – cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata – kata maupun tanpa ucapan (pikiran atau perbuatan). Sembah merupakan simbolisasi dari rasa bhakti dan keyakinan yg dilakukan secara tulus ikhlas yg mengandung arti sebagai kontroling diri atas ego sehingga dikatakan pula sembah/bhakti merupakan pondasi dasar dalam perjalanan spiritual sang jiwa menuju pencerahan diri yg sejati.

Penata Tari : I Gusti Ngurah Agung Giri Putra, Penata Tabuh : Pancer Babaswaram, Penari : Pancer Wiswa Natha Raaga ( Ida Bagus Eka Haristha, Dewa Dwipayana, I Gede Wirasantha Ganda Mandana, A.A Mas Sudarningsih, Putu Fenny Diaristha, Kadek Elena Kusuma Dewi)

  1. Tari Carik Kapal
Tari Carik Kapal

Tari Carik Kapal

Carik jika dipahami secara filosofis bukanlah sekedar tempat para petani untuk bercocok tanam. Di dalam sastra Bali juga dikenal kata carik yang disimbolkan dengan cecek (agni) yang berarti saraswati atau pengetahuan. Memahami carik adalah memahami kosmologi tentang awal peradaban manusia. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika banyak para philsuf mengatakan bahwa pertanian adalah “Mother of Culture”. Sebagaimana di Desa Kapal, terdapat tradisi perang tipat bantal yang lahir dari budaya pertanian masyarakat. Dalam Lontar Aci Rah Pengangon, Tipat dan Bantal adalah simbolisasi purusa dan pradana yang harus selalu bertemu untuk mewujudkan kesejahteraan. Masyarakat Desa Kapal meyakini jika tradisi ini tidak dilaksanakan maka carik atau sawah di Desa Kapal akan mengalami kekeringan dan diserang hama (merana). Berpijak dari pemahaman tentang carik dan perang tipat bantal inilah lahir inspirasi untuk merepresentasikan kembali esensi pemahaan tersebut menjadi sebuah karya tari kontemporer dengan judul Carik Kapal. Selain mengusung lokal jenius sebagai sumber inspirasi karya, dalam karya ini juga menyisipkan beberapa kritik atas kondisi pertanian yang kini telah diterjang oleh arus modernitas dan kapitalisme.

Tari Carik Kapal

Tari Carik Kapal

Penata Tari: Agung Rahma Putra, Penari: Pancer Visva Natha Raaga (I Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara, Pande Putu Kevin Dian Muliarta, Ni Putu Yayang Lorensia Novita, Ida Ayu Sri Purnamadewi, Ni Putu Tina Febri Artaningsih). Official: I Gede Agus Suparta, Ngurah Jambe, I Kadek Soma Ratmaja. Tari ini mendapatkan Juara 1 se-Bali dalam Garda Badung Festival dan juara 1 se-Bali pada Realita Budaya diploma FEB Unud.

Foto bersama

Foto bersama

Pada hari ke-3 Selasa Kliwon 26 Januari 2015 pukul 18.00WIB dilaksanakan upacara Nyineb dan Melebar Daksina. Upacara dimulai dengan pementasan Tari Shiva Tandava yang dipentaskan oleh I Gede Agus Suparta, Kadek Karunia Artha, Rai Yogi Iswara. Pembinanya adalah A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn dan Officialnya adalah Ngurah Jambe.

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Tari Siva Tandava

Setelah itu dipentaskan juga Tari Sesolahan Topeng Joyoboyo yang dibawakan oleh Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila.

Sesolahan Topeng Joyoboyo

Sesolahan Topeng Joyoboyo

Setelah itu dilaksanakan persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana. Setelah persembahyangan, dilaksanakan melebar daksina, semua pretima dibawa ke Bale Piasan Kemulan.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana

Persembahyangan bersama dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Puja Pramana

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Setelah selesai, umat kembali ke Wantilan Jenggolo untuk menikmati hiburan Kesenian Wayang Kulit Jawa dan Campursari yang sebagai dalangnya adalah Ki Suryono B.C dari Trowulan. Sebelum wayang kulit dimulai, semeton dan warga Desa Mondoluku yang menonton dihibur dengan Lagu-Lagu Campursari yang dibawakan oleh penyanyi yang cantik-cantik. Para penonton banyak yang nyawer termasuk dua pemangku andalan kita yaitu Mangku Nur dan Mangku Timbul. Bahkan Bapak Tomo tidak mau turun dari panggung meski disuruh turun. Semua merasa senang bahkan Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Nurhoki ikut menyanyi campursari diiringi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu Medang Kamulan. Suara mereka berdua yang begitu merdu dan indah membuat penonton terkesima.

Gamelan Karawitan

Gamelan Karawitan

Penyanyi Campursari

Penyanyi Campursari

Jero Sepuh Istri bernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri bernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Arshabernyanyi menghibur penonton

Jero Sepuh Istri dan Bu Ketut Arshabernyanyi menghibur penonton

Pemangku ikut nyawer

Pemangku ikut nyawer

Pemangku satunya juga tidak mau kalah

Pemangku satunya juga tidak mau kalah

Bapak Sai menyerahkan gunungan kepada Dalang Ki Suryono sebagai tanda wayang segera di mulai

Bapak Sai menyerahkan gunungan kepada Dalang Ki Suryono sebagai tanda pagelaran wayang segera dimulai

Pementasan Kesenian Wayang Kulit Jawa

Pementasan Kesenian Wayang Kulit Jawa

Selesai sudah rangkaian upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Tahun 2016. Upacara berlangsung lancar dan aman tanpa ada habatan yang berarti. Ini semua karena semuanya ngayah dengan ikhlas. Semua itu menjawab keraguan orang-orang yang tidak percaya kita disini bisa melaksanakan piodalan dengan baik. Semua bertanggungjawab dengan tugas masing-masing. Bahkan ada yang mengerjakan lebih dari satu tugas. Semua saling menutupi kalau ada yang kurang. Semua semangat ngayah baik yang dari Jawa sini maupun yang dari Bali, baik yang Umat Hindu Sendiri maupun dari Muslim. Semua karena satu tujuan yaitu untuk berjanji berbakti dan mengabdi jiwa raga kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Para Leluhur.

Syukuran

Syukuran

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

Tirtayatra SMA LAB UNDIKSA Singaraja dan Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali.

Om Swastiastu,

Pada Jumat 15 Januari 2016 Semeton dari Karyawan dan staff SMA LAB UNDIKSA Singaraja dan Semeton Rombongan Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton dari Karyawan dan staff SMA LAB UNDIKSA Singaraja sampai duluan ke pura dengan menggunakan 2 bus diketuai oleh Bapak I Ketut Gading. Tirtayatra semeton SMA LAB UNDIKSA menjadi spesial karena Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila merupakan alumnus sekolah tersebut, sehingga seperti menjadi ajang reuni bersama guru-guru tersebut. Rombongan langsung menuju wantilan untuk beritirahat setelah perjalanan jauh dan melaksanakan simakrama dengan pengurus rumah tangga pura.

Semeton SMA LAB UNDIKSA Singaraja

Semeton SMA LAB UNDIKSA Singaraja

Selang beberapa lama kemudian, datang rombongan tirtayatra dari semeton Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali. Semeton datang menggunakan 2 buah bus diketuai oleh Bapak I Nyoman Tirtayasa. Bapak I Nyoman Tirtayasa sudah dua kali metirtayatra ke pura ini, sebelumnya Beliau datang bersama semeton Sekaa Shanti Eka Yadnya Swara Desa Ungasan Badung Bali  pada tanggal 23 Agustus 2015. Bapak I Nyoman Tirtayasa sendiri adalah seorang Kelian Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan. Hadir juga bersama rombongan Kelian Dinas Desa Ungasan Bapak I Nyoman Widana. Semeton juga langsung menuju ke Wantilan dan bergabung dengan semeton dari SMA LAB UNDIKSA Singaraja.

Semeton Rombongan Bajar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali

Semeton Rombongan Bajar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali

Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura, pelinggih-pelinggih yang terdapat di pura ini dan urutan-urutan persembahyangan di pura ini, mulai dari penglukatan di Beji, matur piuning di Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi. Kemudian ke Mandala Utama untuk persembahyangan bersama. Setelah persembahyangan dilanjutkan dengan sungkem ke Ratu Ken Dedes dan Kanjeng Ratu Kidul. Karena banyak pelinggih yang harus disembahyangi maka bisa memakan waktu 2 jam lebih. Juga disampaikan adanya rantasan Tuhur Taja Medang Kamulan yang merupakan pengikat antara Leluhur Jawa dengan Leluhur Bali.

Kirtanam dipimpin Jero Sepuh Istri

Kirtanam dipimpin Jero Sepuh Istri

Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Setelah itu Bapak I Ketut Gading memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan terima kasih atas sambutan dari semeton pengurus rumah tangga pura dan umat yang ada disini. Beliau juga sebelumnya merasa bingung makan di mana karena lokasi pura ini yang sangat terpencil dan tidak ada orang yang berjualan. Tetapi ternyata di sini kita disiapin makanan. Ini merupakan suatu surpise tersendiri karena biasanya kalau metirtayatra di Bali biasanya tidak ada yang menyambut apalagi menjamu makanan. Juga Beliau mohon maaf karena merasa mengganggu harus meluangkan waktu untuk menyambut semeton ini. Juga terima kasih karena sudah menyampaikan sejarah pura ini sehingga bisa meningkatkan srada dan bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Leluhur.

Bapak I Ketut Gading

Bapak I Ketut Gading

Kemudian sambutan dari Bapak I Nyoman Tirtayasa. Beliau menyampaikan bahwa Beliau sudah kali kedua metirtayatra ke pura ini dan rencana akan datang lagi untuk ngiring Ida Rsi Bhagawan Mahacarya Segening yang akan ngayah muput upacara Piodalan di pura ini pada tanggal 24 Januari 2015 mendatang. Sebenarnya banyak yang mau metirtayatra ke pura ini tetapi karena ada yang berhalangan maka yang bisa ikut cuma 70 kk. Mudah-mudahan pada kesempatan tirtayatra yang akan datang semua bisa ikut. Karena Beliau merasakan kalau dipura ini terasa damai dan sesampai di rumah terasa kangen dan ingin tangkil lagi ke pura ini.

Kelian Bajar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Bapak I Nyoman Tirtayasa Kelian Bajar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Bapak I Nyoman Tirtayasa

Kelian Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Bapak I Nyoman Tirtayasa

Penyerahan Punia

Penyerahan Punia

Setelah simakrama, umat menuju ke beji untuk melaksanakan penglukatan.

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi untuk matur piuning.

Mepiuning ring Rsi

Mepiuning ring Rsi

Selanjutnya umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Setelah persembahyangan umat kembali menuju ke wantilan untuk beristirahat dan makan malam.

Pagi hari umat melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama , setelah persembahyangan, semeton SMA LAB UNDIKSA Singaraja dan Semeton Banjar Adat Giri Dharma Desa Ungasan Kec. Kuta Selatan – Badung – Bali pamit melanjutkan perjalanan.

Nunas minyak

Nunas minyak

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Semeton pamit

Semeton pamit

Om Shanti Shanti Shanti Om

Upacara Nancep Karya

Om Swastiastu,
Pada Minggu Wage 10 Januari 2016, di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan Upacara Nancep Karya. Upacara tersebut adalah merupakanan rangakaian Upacara Piodalan yang akan dilaksanakan pada Purnama Kawulu, 24 Januari 2016. Pada upacara tersebut dihadiri oleh Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi dari Pura Giri Arjuno, Bapak Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD , Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti yang diketuai oleh Jero Mangku Ketut Sumertha. Juga hadir Umat Hindu dari berbagai daerah dan pengurus rumah tangga pura.
Sebelum dilaksanakan upacara, umat berkumpul di wantilan untuk melaksanakan simakrama dan dharma tula. Pada kesempatan tersebut banyak semeton dari paguyuban pinandita yang mempertanyakan hal-hal unik dan aneh yang diterapkan dipura ini, seperti adanya penghormatan bendera merah putih di Lingga Yoni dan juga menyanyikan lagu Padamu Leluhur. Hal ini karena dipura lain tidak ada tradisi tersebut.

Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti

Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti

Semeton yang hadir

Semeton yang hadir

Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila menyampaikan bahwa pengibaran bendera merah putih di Lingga Yoni dilakukan oleh Jero Dasaran dari Jembrana karena Beliau mendapat pawisik agar mengibarkan bendera merah putih diseluruh Nusantara dan pura ini mendapat yang pertama. Bendera merah putih juga merupakan simbul Bapak dan Ibu kita, para Leluhur yang sudah sepantasnyalah kita menghormati mereka. Bendera merah putih juga merupakan lambang kebangsaan kita, yang mana para pendiri negara ini rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk menjadikan negara kita ini seperti sekarang. Tanpa adanya mereka, kita tidak akan dapat menikmati hidup seperti sekarang ini. Mereka yang telah gugur juga merupakan Leluhur kita juga. Dan ini sesuai dengan konsep dipura ini yang terdapat pemujaan terhadap Leluhur.

Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Selanjutnya Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi menyampaikan bahwa kalau memang waktunya, kita tidak bisa menolak. Apapun itu apalagi yang memberikan adalah para Leluhur. Begitu juga apa yang ada di pura ini tidak boleh kita permasalahkan meskipun kelihatan tidak biasa, karena bisa jadi dikemudian hari akan menjadi sebuah kenyataan. Beliau mencontohkan bahwa Beliau pernah menolak untuk menjadi Rsi karena merasa belum siap. Tetapi kemudian Beliau mendapat musibah jatuh ke jurang dan kepalanya robek. Kondisi sudah sangat buruk. Akhirnya Beliau menyanggupi untuk menjadi Rsi dan seiring berjalannya waktu Beliau dituntun oleh Ida Bhatara dan sekarang sudah resmi menjadi seorang Rsi. Jadi kalau memang kehendak Leluhur kita tidak boleh mempermasalahkan apalagi menolaknya.

Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi dari Pura Giri Arjuno

Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi dari Pura Giri Arjuno

Acara kemudian dihentikan sejenak untuk persembahyangan Tri Sandhya

Tri Sandhya di pimpin Jero Mangku Ketut Sumertha

Tri Sandhya di pimpin Jero Mangku Ketut Sumertha

Selanjutnya Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD menyampaikan bahwa hanya di pura inilah Dharma Agama dan Dharma Negara diterapkan. Sesuai dengan ajaran agama kita bahwa disamping kita menerapkan Dharma Agama yaitu melaksanakan nilai-nilai yang ada dalam Agama Hindu, kita juga diwajibkan melaksanakan Dharma Negara. Salah satunya adalah menghormat kepada Sang Saka Merah Putih sebagai lambang Negara Indonesia. Selama ini kita selalu membedakan antara melaksanakan kegiatan keagamaan dengan kegiatan kebangsaan. Tetapi sebenarnya bisa kita laksanakan beriringan tanpa mengurangi nilai salah satunya. Di pura ini ada Surya Majapahit yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit. Kalau di Bali disebut Dewata Nawa Sanga. Itu sebenarnya juga merupakan lambang dari kebangsaan. Oleh karena itu marilah kita mulai belajar menata kehidupan ber- Dharma Agama dan ber-Dharma Negara kita dengan baik agar selaras sehingga kita bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD

Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc. PhD

Selanjutnya Jero Mangku Ketut Sedana menyampaikan bahwa Beliau setuju dengan apa yang diterapkan di pura ini dan Beliau menambahkan agar lagu Padamu Leluhur agar dibuat lebih bagus agar tidak sama persis dengan Lagu Padamu Negeri baik intonasi maupun penguacapannya. Hal ini agar kita tidak dianggap mengambil hak cipta orang lain. Disamping tidak etis juga melanggar hak cipta. Mungkin pengucapan lagunya diganti atau syairnya.

Jero Mangku Ketut Sedana

Jero Mangku Ketut Sedana

Terhadap semua pendapat dan saran tersebut Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila menyampaikan menerima semua itu agar lebih baik dikemudian hari. Beliau juga menerima apabila ada saran dan pendapat untuk kemajuan pura ini. Tetapi Beliau tidak suka apabila ada orang yang suka menyerang dan menjelekkan pura ini, apalagi dilakukan ditempat lain.
Pukul 13.00WIB umat melaksanakan makan siang.

Makan siang

Makan siang

Setelah itu umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan Upacara Nancep Karya. Selama upacara, hujan turun dengan lebat disertai angin dan kilat menggelegar.

Upacara Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Upacara Nancep Karya

Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi memimpin upacara

Ida Pandita Rsi Akhmad Rakhmadi memimpin upacara

Pukul 15.00WIB Upacara Nancep Karya selesai.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Bappeda Kabupaten Buleleng

Om Swastiastu,
Pada Sabtu Pon, 09 Januari 2016, Semeton dari Bappeda Kabupaten Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton berjumlah sekitar 40 orang diketuai oleh Bapak Gede Darmaja sampai dipura pada pukul 18.30 WIB. Semeton langsung menuju ke wantilan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk persembahyangan. Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura dan juga rencana piodalan yang akan jatuh pada Purnama Kawulu 24 Januari 2015. Semeton yang berkesempatan diajak untuk maturan dan ngayah pada upacara tersebut.

Setelah beristirahat, semeton menuju ke beji untuk melaksanakan penglukatan.

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi untuk matur piuning.

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Mohon restu

Mohon restu

Selanjutnya umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Setelah persembahyangan, semeton dari Bappeda Kabupaten Buleleng pamit melanjutkan perjalanan.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud

 

Om Swastiastu,

Pada Jumat, 08 Januari 2016 Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan berjumlah sekitar 16 orang datang dengan menggunakan mobil minibus. Tirtaytra kali ini merupakan tirtayatra yang kedua karena sebelumnya sudah pernah metirtayatra ke pura ini pada tanggal 20 Desember 2015. Dan pada tirtayatra kali ini juga sekaligus untuk memberikan punia dari proposal renovasi pura yang diberikan sebelumnya. Rombongan sampai di pura pada pukul 19.00WIB dan langsung menuju ke wantilan untuk mesimakrama dengan umat di pura.

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka - Ubud bersama umat Mondoluku

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud bersama umat Mondoluku

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka - Ubud

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka - Ubud

Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud

Penyerahan punia renovasi

Penyerahan punia renovasi

Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila menyampaikan tentang rencana piodalan yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2015. Piodalan akan nyejer selama 3 hari dan akan ditutp dengan pagelaran wayang jawa dari Mojokereto dengan dalan Ki Surono. Wayang jawa dipilih karena sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat sekitar karena selama ini ikut mendukung dan membantu keberadaan pura ini.

Kirtanam dipimpin Jero Sepuh Istri

Kirtanam dipimpin Jero Sepuh Istri

Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Jero Sepuh Medang Kamulan Kadek Sumanila

Setelah simakrama, umat menuju ke beji untuk melaksanakan penglukatan.

Matur piuning

Matur piuning

Matur piuning

Matur piuning

Nunas Anugerah

Nunas Anugerah

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu menuju ke Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi untuk matur piuning.

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Matur Piuning

Mohon restu

Mohon restu

Selanjutnya umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Setelah persembahyangan umat menuju ke wantilan untuk beristirahat dan makan malam.

Pagi hari setelah persembahyangan bersama di Mandala Utama, rombongan Keluarga Besar Bapak I Gusti Nyoman Oka – Ubud pamit melanjutkan perjalanan.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Upacara Pawintenan Nusantara

Om Swastiastu,

Pada Senin Wage, 21 Desember 2015 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan Upacara Pawintenan Nusantara. Upacara Pawintenan Nusantara tersebut diprakrsai oleh Semeton Forum Study Majapahit bertujuan untuk membersihkan Nusantara dari segala yang tidak baik. Hadir dalam upacara tersebut Pandita Dukun Eko Warnoto dan Pandita Dukun Pujo Pramana dari Tengger, Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi dari Pasraman Agung Giri Taman Griya Batur Bhujangga Waisnawa – Jembrana – Bali, Ketua Forum Study Majapahit Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA, Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno, para Jero Dasaran, pengurus rumah tangga pura, Semeton Forum Study Majapahit, Bapak Made Supartana dari Singaraja dan Umat Hindu Se-Kabupaten Gresik. Sebelum Upacara, para umat berkumpul di Wantilan Jenggolo untuk sarapan dan mesima krama.

Sarapan

Sarapan

Umat berkumpul di wantilan

Umat berkumpul di wantilan

Acara mesima krama dimulai dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari Ketua Rumah Tangga Pura, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila. Pertama-tama Beliau memperkenalkan para pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku. Kemudian Beliau menjelaskan tentang sejarah pura, pelinggih-pelinggih yang ada dan konsep Jawa yang diterpakan di pura ini. Juga disampaikan urutan-urutan persembahyangan yang berlaku di pura ini, mulai dari melukat di beji, ke Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar dan di Tri Suci Maha Rsi untuk matur piuning dan kemudian persembahyangan di Mandala Utama.

Jero Sepuh Istri memimpin kirtanam

Jero Sepuh Istri memimpin kirtanam

Sambutan  dari Ketua Rumah Tangga Pura, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Sambutan dari Ketua Rumah Tangga Pura, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya sambutan dari Ketua PHDI Gesik, Bapak Hadi Kusno. Beliau menyampaikan apresiasi dan dukungan atas dilaksanakannya upacara tersebut. Beliau juga menyampaikan agar para Semeton dari Bali harus lebih sering metirtayatra ke Gresik ini sehingga kita yang di Jawa ini tidak merasa sendirian. Beliau sebenarnya tidak merasa siap untuk memimpin Umat di Gresik ini, tetapi karena dukungan teman-teman yang menghendaki Beliau, maka Beliau bersedia ditunjuk untuk menjadi Ketua PHDI Kabupaten Gresik ini. Di Gresik sini ada 5 pura yang umatnya adalah Orang Jawa dan Orang Madura. Oleh karena itu Beliau minta Semeton dari Bali agar bisa membimbing mereka agar mereka lebih mengerti Agamanya dan bangga beragama Hindu.

sambutan dari Ketua PHDI Gesik, Bapak Hadi Kusno

sambutan dari Ketua PHDI Gesik, Bapak Hadi Kusno

Selanjutnya sambutan dari Ketua Forum Study Majapahit Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA. Beliau menyampaikan awal mengetahui pura ini dari internet. Beliau sebelumnya mendapat wahyu untuk tangkil ring Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Setaleh menemukan pura ini, Beliau merasa hatinya seperti sudah menyatu dengan pura ini. Beliau juga menyampaikan bahwa Semeton Forum Study Majapahit ini dibentuk karena adanya wahyu, jadi tidak dibuat-buat. Karena apa yang dilakukan bukanlah kegiatan yang sarat duniawi tetapi kegiatan ini adalah untuk memasrahkan diri kepada Yang Kuasa dan mendengarkan hati nurani. Sampai saat ini Beliau dan kawan-kawan Forum Study Majapahit belum mengetahui apa sebenarnya maksud petunjuk yang jelas yang akan dilaksanakan dari wahy-wahyu yang telah disampaikan kepada Semeton Forum Study Majapahit tersebut. Jadi semeton melaksanakan petunjuk-petunjuk yang akan disampaikan pada waktu selanjutkan sambil jalan. Seperti pawintenan ini maksudnya dan bantennya para semeton tidak begitu mengetahui. Jadi semua diserahkan sesuai petunjuk yang akan disampaikan oleh Ida. Dan Hal ini tidak perlu untuk diperdebatkan. Sebagaimana visi dibentuknya Forum Study Majapahit utamanya adalah untuk belajar belajar belajar dan terus merasa lapar terus merasa bodoh. Sehingga kita memiliki keinginan yang natural dan alamiah untuk belajar. Visi yang lain adalah ikut serta menyingsingkan baju demi tegaknya nusa dan bangsa. Sedikit banyak kita mengetahui bahwa akan segera ada peralihan dalam waktu dekat, begitu kata-kata Beliau. Kami sudah diajarkan agar tidak lagi memiliki rasa benci walaupun berpura-pura benci. Didalam kesetimbangan diri, tidak ada benci dan tidak ada senang lagi. Kita juga memohon kepada Leluhur agar acara kita dapat berlangsung dengan baik. Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada Ida Rsi Nabe dan Ida Rsi Nanak. Yang juga menarik yang semula 5 perintahnya jadi 6 dan akhirnya jadi 3. Memang settingnya demikian untuk selalu menerima apapun adanya.

sambutan dari Ketua Forum Study Majapahit Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA

sambutan dari Ketua Forum Study Majapahit Bapak Ir. Made Suryawan,MM.,CHA

Selanjutnya penyerahan pin sebagai anggota Forum Study Majapahit dan buku Agama.

Bapak Ketut Darmika dan Ibu Ingke Natalia memasangkan Pin FSM kepada Jero Sepuh Lanang Isteri

Bapak Ketut Darmika dan Ibu Ingke Natalia memasangkan Pin FSM kepada Jero Sepuh Lanang Isteri

Bapak Perwira Duta menyerahkan buku agama kepada umat yang diwakili Pandita Dukun Eko Warnoto

Bapak Perwira Duta menyerahkan buku agama kepada umat yang diwakili Pandita Dukun Eko Warnoto

Semeton kerauhan

Semeton kerauhan

Setelah itu dilaksanakan persembahyangan bersama. Diawali dengan penglukatan di Beji.

Semeton kerauhan ring beji

Semeton kerauhan ring beji

Semeton kerauhan ring beji

Semeton kerauhan ring beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Semeton menari diiringi musik ketipung dari Tengger

Semeton menari diiringi musik ketipung dari Tengger

Setelah itu matur piuning ring Lingga Yoni, Surya Majapahit, Hyang Semar dan Rsi

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Persembahyangan ring Lingga Yoni Surya Majapahit, Hyang Semar

Penghormatan Sang Saka Merah Putih diiringi Lagu Indonesia Raya

Penghormatan Sang Saka Merah Putih diiringi Lagu Indonesia Raya

Mohon restu ring Lingga Yoni

Mohon restu ring Lingga Yoni

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem Ring Hyang Semar

Sungkem ring Surya Majapahit

Sungkem ring Surya Majapahit

Matur piuning ring Rsi

Matur piuning ring Rsi

Setelah itu umat menuju ke Mandala utama untuk melaksanakan persembahyangan dan Upacara Pawintenan Nusantara. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Eko Warnoto, Pandita Dukun Pujo Pranoto, Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi. Adapun yang ikut mewinten ada sekitar 50 orang. Upacara berlangsung lancar dan Khidmat meskipun diwanai oleh hujan yang cukup deras.

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Upacara Pawintenan Nusantara

Pandita yang muput upacara Pawintenan Nusantara

Pandita yang muput upacara Pawintenan Nusantara

Pandita yang muput upacara Pawintenan Nusantara

Pandita yang muput upacara Pawintenan Nusantara

Tokoh Umat

Tokoh Umat

Bapak Made Suryawan dan Ibu Ingke Natalia melaksanakan pawintenan

Bapak Made Suryawan dan Ibu Ingke Natalia melaksanakan pawintenan

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila melaksanakan penglukatan

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila melaksanakan penglukatan

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani melaksanakan penglukatan

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani melaksanakan penglukatan

Ibu Agung melaksanakan penglukatan

Ibu Agung melaksanakan penglukatan

Ibu Ketut Arsa melaksanakan penglukatan

Ibu Ketut Arsa melaksanakan penglukatan

Bapak Sai melaksanakan penglukatan

Bapak Sai melaksanakan penglukatan

Upacara selesai pukul 21.00WIB. para umat menuju ke Wantilan untuk makan dan beristirahat.

Perayaan Agni Hotra

Perayaan Agni Hotra

Om Shanti Shanti Shanti Om

Previous Older Entries