Melasti

Om Swastiastu,

Hari Minggu, 15 Maret 2015 Umat Hindu di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan melaksanakan melasti ke Petirtaan Suci Jolotundo. Melasti ini merupakan salah satu dari rangkaian Hari Suci Nyepi Saka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015. Pura Penataran Luhur Medang Kamulan sudah 3x melaksanakan melasti dan selalu di Petirtaan Suci Jolotundo. Petirtaan Suci Jolotundo adalah tempat pemandian yang dibuat pada masa Prabu Airlangga.  Petirtaan Suci Jolotundo terletak di desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, tepatnya terletak di lereng Gunung Bekal, yaitu salah satu puncak Gunung Penanggungan. Petirtan Suci Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit.

Petirtaan Suci Jolotundo

Petirtaan Suci Jolotundo

Pada melasti tahun ini selain Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, juga ada pura lain yang juga melasti kesana. Pura-pura tersebut antara lain: Pura Penataran Agung Margo Wening – Krembung – Sidoarjo, Pura Tirta Waluh Surapati – Bangil, Pura Dharma Suci – Pasuruan dan Pura Jagat Sahasra Pasopati – Watu Kosek. Melasti ini juga terasa istimewa karena dipuput oleh 2 Pandita yaitu: Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan.

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dari Pasraman Kediri Keniten – Krembung Sidoarjo dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan

Pukul 06.00WIB Umat sudah berdatangan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bahkan ada yang datang ke pura sehari sebalumnya dan mekemit di pura. Seperti Bapak I Nengah Wijana sekeluarga dari Singaraja Bali, Bapak Made Supartana dan Bapak Ketut Mudit dari Bali. Juga dari Mahasiswa-Mahasiswi TPKH ITS diketuai Adik Nyoman Muskoni dan yang paling spesial adalah Mahasiswa-Mahasiswi dari IAIN Sunan Ampel jurusan Sosiologi yang diketuai Mas Zulfi Ikhsan. Mereka ini datang ke pura karena ingin mengetahui dan mendalami tentang budaya agama lain karena disekolah mereka hanya diajari tentang budaya agama mereka sendiri. Mereka juga tidak mempunyai maksud untuk menilai ataupun membanding-bandingkan antara agama mereka dengan agama di sini. Mereka hanya ingin mengetahui makna-makna atas simbul-simbul dan tata cara yang dipakai pada rangkaian upacara Hari Suci Nyepi ini. Mereka juga sangat antusias membantu para umat mempersiapkan segala sesuatunya seperti menata banten, memasang wastra bahkan ikut memasak di dapur. Mereka tidak canggung bahkan ikut membaur saling bersenda gurau bersama umat disini. Dan mereka juga mentaati peraturan yang berlaku di pura ini seperti tidak boleh masuk pura dalam keadaan cuntaka (berhalangan) juga memakai sentang (selendang ) pada waktu masuk pura. Dan pada waktu berangkat melasti, mereka ikut membawa Jempana dan sejata Dewata Nawa Sanga. Umat dari pura lain tentu saja terheran-heran karena melihat ada orang mengenakan jilbab kok ikut melasti dan mau memakai selendang, memakai baju sembahyang dan membawa banten dan sarana nyepi.

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Adik-adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel membantu memasak

Mempersiapkan Jempana

Mempersiapkan Jempana

Memasang wastra dan hiasan pretima

Memasang wastra dan hiasan pretima

Diskusi

Diskusi

Makan Malam

Makan Malam

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Pukul 08.00WIB Umat berangkat melasti. Rombongan kemudian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama langsung menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo dan rombongan yang kedua singgah dulu ke Pura Penataran Agung Margo Wening untuk matur piuning. Setelah itu Umat dari kedua pura kemudian menuju ke Petirtaan Suci Jolotundo.

Sembahyang bersama

Sembahyang bersama

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Ratu Bhagawan Agra Sagening memimpin persembahyangan

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Adik Mahasiswi IAIN Sunan Ampel

Foto dulu sebelum berangkat

Foto dulu sebelum berangkat

Persiapan berangkat

Persiapan berangkat

Jempana dinaikkan ke truk

Jempana dinaikkan ke truk

Matur piuning di Pura Margo Wening

Matur piuning di Pura Margo Wening

Sesampai di Petirtaan Suci Jolotundo, Jempana dan Senjata Dewata Nawa Sanga kemudian ditaruh di tempat yang telah disiapkan di tepi kolam bersebelahan dengan Jempana dari pura-pura yang lain. Setelah itu seluruh umat dipimpin Pandita melaksanakan upacara melasti.

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Perjalanan menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Menuju ke Jolotundo

Eksis dulu

Eksis dulu

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Sampai di gerbang Masuk Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Prosesi melasti di Petirtaan Suci Jolotundo

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten  dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Ida Romo Pandita Eko Dwija Putra Keniten dan Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening muput upacara

Bapak Made Jati Negara

Bapak Made Jati Negara

Mahasiswa TPKH ITS

Mahasiswa TPKH ITS

Bapak Hadi dkk

Bapak Hadi dkk

Ibu Dewi dkk

Ibu Dewi dkk

Bunda dan Mangku Timbul

Bunda dan Mangku Timbul

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Dharma Wacana. Dharma Wacana kali ini disampaikan oleh Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama dengan Tema: Hari Suci Nyepi 1937 Guna Pembenahan Perilaku Menjadi Lebih Baik dan Benar. Tema itu digunakan karena pada zaman ini terjadi fenomena yaitu banyaknya koruptor, begal dan kemerosotan mental yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Padahal kita sudah mempunyai pedoman atau dasar yang bisa untuk mencegah perilaku tersebut. Dasar itu adalah Tat Twam Asi yang secara garis besar mempunyai makna Janganlah memberi sesuatu kepada orang lain jika kita tidak menyukainya. Juga kita tidak boleh melupakan sejarah masa lalu yang bisa kita pakai sebagai pegangan dalam menjalani hidup di masa depan. Sejarah masa lalu baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan semua itu bisa kita jadikan teladan. Demikian juga dengan sejarah cerita  Aji Saka.

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Bapak Letkol TNI Ir. Gede Wikrama

Dikisahkan bahwa Aji Saka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Aji Saka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Aji Saka.

Lalu, Aji Saka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, tetapi ia jadi suka makan daging manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Aji Saka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Aji Saka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Aji Saka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Aji Saka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Aji Saka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :

Aji Saka Purwawisesa:   Aji = Ajar / Ajaran,  Saka = Pusat Inti/ Pilar Utama/ Inti Utama (“Matahari”),  Purwa = Purba/ Masa lalu yang sangat lama/ Jaman dahulu sekali …atau boleh jadi maksudnya adalah “Leluhur” (?) dan Wisesa = Kuasa/ Penguasa/ Kekuasaan/ Yang berkuasa. Maka, “Aji Saka Purwawisesa” itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut:

  •  Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu
  •  Ajaran utama (para) penguasa masa lalu
  •  Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa
  •  atau boleh jadi artinya “Ajaran Matahari” (Sunda)

Majati : Ma = Ibu,  Jati = Sejati,  Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari ‘yang’ Sejati) . Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” .

Dora dan Sembada :  Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta,  Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat. Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Aji Saka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).

Medang Kamulan : Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).  Kamulan = Kemuliaan. “Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Tanah Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).

Maka cerita Aji Saka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas Tanah Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.

Juru Masak:  Juru = Ahli , ‘pemimpin’, namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).  Masak = Matang, Tua. Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa).

Telunjuk:  Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”. “Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Aji Saka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Tanah Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

Rakyat Medang Kamulan :
Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Tanah Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

Ikat Kepala
Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

Dewata Cengkar :  Dewa = Cahaya (*bukan Sinar/ bukan Matahari),  Ta = Gerak Hidup,  Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir). Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Tanah Jawa atau representasi dari Nusantara.

Buaya Putih
Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat Tanah Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan”. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah  terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara  yang dibawa dari Majati oleh Aji Saka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu/ dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Aji Saka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

– Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke Tanah Jawa hingga ‘Aji Saka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (di duga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

– “Medang Kamulan” atau Tanah Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

– Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘Semar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

– Di jaman Mataram Kuno, Tanah Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

– Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI ” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

– Tanah Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), di duga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

– Aji Saka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

– Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

– Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

– HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Aji Saka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJI SAKA PURWAWISESA. (Sumber

 

Selanjutnya persembahyangan bersama.

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Berfoto bersama Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening

Nunas prasadam

Nunas prasadam

 

Kemudian umat kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Kembali ke Pura Medang Kamulan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Bhakti Sosial Pengobatan Gratis

Om Swastastu,

Minggu Pagi, 08 Maret 2015 di Wantilan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan tiba-tiba penuh ramai dengan Umat Hindu dari berbagai daerah sekitar Gresik bahkan ada juga Umat Muslim yang datang ke pura. Mereka itu datang dalam rangka mengikuti program bhakti sosial pengobatan gratis yang dilaksanakan oleh Panitia Dharma Shanti Nyepi Saka 1937 Tahun 2015 tingkat Jawa Timur. Program pengobatan gratis tersebut dilaksanakan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan di Desa Mondoluku Kec. Wringinanom Gresik dan diikuti oleh Umat Hindu dan juga Umat Muslim Dari Desa Mondoluku dan sekitarnya. Jumlah yang mengikuti pengobatan gratis tersebut adalah sebanyak 300 orang. Bukan itu saja, setelah selesai mendapatkan pengobatan, para umat juga mendapatkan paket sembako.

Sehari sebelumnya para pengurus Rumah Tangga Pura selaku tuan rumah bersama beberapa panitia sudah melaksanakan persiapan-persiapan agar pelaksanaan bhakti sosial berjalan lancar. Ada yang memasang terop, menghias panggung dan mempersiapkan makanan.

Bunda berfoto bersama teman-teman

Bunda berfoto bersama teman-teman

Di Depan Lingga Yoni

Di Depan Lingga Yoni

Jero Sepuh bersama Kapolsek Wringinanom Bapak Ahmad Zaid

Jero Sepuh bersama Kapolsek Wringinanom Bapak Achmad Said

Menghias Panggung

Menghias Panggung

Pada hari H pagi-pagi mobil yang membawa paket sembako dan obat-obatan sudah sampai di pura. Kemudian mulai berdatangan umat, panitia, petugas kesehatan dan juga warga desa yang mau berobat. Untuk paket sembako ini disumbangkan oleh Yayasan Sai Satya Studi. Hadir pula Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE berserta istri Beliau Ibu Ni Kadek Rohita, Wakil Bupati Gresik Bapak Mohammad Qosim, Camat Wringiananom Bapak Satrio Wibowo, Kapolsek Wringinanom Bapak Achmad Said, Danramil Wringinanom, Anggota DPRD Gresik Bapak Wongso Negoro dan Bapak Syaiful Fuad, Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno dan PJ Kepala Desa Mondoluku Bapak Marzuki. Ketua Panitia Nyepi Bapak Nyoman Anom juga hadir.

Para Tamu Undangan yang sudah hadir

Para Tamu Undangan yang sudah hadir

Para Tamu Undangan

Para Tamu Undangan

Bersama umat dan warga

Bersama umat dan warga

Sambil menunggu acara protokoler, maka langsung dilaksanakan pengobatan. Para umat dan warga yang mau berobat sudah duduk dikursi yang telah disediakan menunggu giliran dipangggil. Umat yang dipanggil kemudian didata nama dan keluhan penyakitnya selanjutnya diperiksa oleh tim dokter dan diberi obat. Semua berjalan dengan tertib dan lancar karena semua pihak yang terlibat saling bekerjasama .

Pengobatan gratis

Pengobatan gratis

Umat yang sudah berobat mengambil obat yang sudah disiapkan

Umat yang sudah berobat mengambil obat yang sudah disiapkan

Acara pengobatan gratis kemudian dihentikan sejenak karena disela dengan acara protokoler dan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Umum Panitia Dharma Shanti Nyepi Tingkat Jawa Timur Saka 1937 Tahun 2015 Bapak I Nyoman Anom. Bapak Nyoman Anom menyampaikan bahwa program pengobatan gratis ini adalah merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian-rangkain kegiatan dalam rangka Dharma Shanti Nyepi. Rangkaian kegiatan tersebut adalah Program Penghijauan di Pura Juanda pada Tanggal 1 Maret 2015, Pengobatan Gratis di Desa Mondoluku pada 8 Maret 2015, Melasti ke Pantai Aru pada 15 Maret 2015, Mecaru dan Pawai Ogoh-Ogoh di Tugu Pahlawan pada 20 Maret 2015, Brata Penyepian pada 21 Maret 2015 dan Dharma Shanti di Gedung Petrokimia Gresik pada April 2015. Bapak Nyoman Anom meminta kepada semua Umat di seluruh Jawa Timur agar ikut menyukseskan rangakaian acara tersebut.

Pembawa acara

Pembawa acara

Ketua Panitia Dharma Shanti Nyepi Jawa Timur Bapak Nyoman Anom

Ketua Panitia Dharma Shanti Nyepi Jawa Timur Bapak Nyoman Anom

Kemudian sambutan dari Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. Beliau adalah sebagai Pembina Umat Hindu di Jawa Timur. Beliau menyampaikan agar pada Hari Suci Nyepi tersebut kita melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh sehingga apa yang kita inginkan bisa dikabulan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Catur Brata Penyepian tersebut meliputi Amati Gni: tidak menyalakan api dan kemarahan (nafsu), Amati Karya: tidak bekerja, Amati Lelungayan: Tidak bepergian dan Amati Lelanguan: tidak bersenang-senang. Juga ada Upawasa: berpuasa dan Monobrata: tidak berbicara. Semua Sabda, bayu dan Idep kita ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE.

Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE.

Selanjutnya adalah acara pembagian sembako secara simbolis kepada perwakilan umat dan warga.

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi menyerahkan bantuan

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi menyerahkan bantuan

Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. menyerahkan bantuan

Komandan Kobangdikal Marinir Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE. menyerahkan bantuan

Ibu Ni Kadek Rohita menyerahkan bantuan

Ibu Ni Kadek Rohita Ary Atmaja menyerahkan bantuan

Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno menyerahkan bantuan

Ketua PHDI Gresik Bapak Kusno menyerahkan bantuan

Ketua Panitia Dharma Shanti Jatim Bapak Nyoman Anom menyerahkan bantuan

Ketua Panitia Dharma Shanti Jatim Bapak Nyoman Anom menyerahkan bantuan

Berfoto bersama

Berfoto bersama

Acara selanjutnya adalah sambutan dari Wakil Bupati Gresik Bapak Muhammad Qosim, Msi. Pada sambutannya Beliau menyampaikan bahwa acara bhakti sosial ini yang melibatkan semua warga baik Hindu maupun Muslim merupakan contoh adanya kerukunan antar Umat beragama. Beliau sangat mengapresiasi bawa di Desa Mondoluku ini Umat Hindu dan Umat Muslim bisa bersatu, hidup rukun dan saling tolong-menolong tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan dengan persatuan itu apa yang kita kerjakan semua bisa terlaksana dan sukses. Seperti di Pemerintahan Gresik ini antara DPRD (Legislatif) dan Pemerintah (Eksekutif) bersatu maka semua pembangunan bisa berjalan dengan sukses. Demikian juga menurun ke Masyarakat tidak ada gejolak yang berarti yang bisa mengancam kehidupan bermasyarakat di Gresik ini. Dengan persatuan ini maka APBD Kabupaten Gresik selama Pemerintahan Bapak Sambari-Qosim bisa melonjak mencapai hampir 1.000%. Juga adanya pembangunan-pembangunan proyek berskala Internasinal seperti Pembangunan Stadion Bukit Lengis yang hampir selesai, Proyek Bendung Gerak Sembayat, Pembangunan Candi masuk ke Kota Gresik yang sangat megah, Rumah sakit Ibnu Sina dan banyak lagi yang lainnya. Semua itu karena semua bersatu baik di pemerintahan maupun di Masyarakat.

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi

Wakil Bupati Gresik Bapak H. Mohammad Qosim Msi

Bapak Qosim berdialog dengan warga

Bapak Qosim berdialog dengan warga

Pembacaan doa

Pembacaan doa

Bapak H. Mohammad Qosim Msi berfoto bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bapak H. Mohammad Qosim Msi berfoto bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Berfoto bersama

Berfoto bersama

Setelah acara protokoler maka acara pengobatan gratis dan pembagian paket sembako dilanjutkan lagi.

Setelah itu acara selesai ada umat yang pulang, ada juga umat yang melaksanakan persembahyangan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Foto bersama di depan pura

Foto bersama di depan pura

Foto bersama tokoh Desa Mondoluku

Foto bersama tokoh Desa Mondoluku

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila berfoto bersama Bapak Arif

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila berfoto bersama Bapak Arif

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE melihat para Mahasiswa mengajar anak-anak Agama Hindu

Bapak Laksda TNI I Nyoman Gede Nurija Ary Atmaja, SE melihat para Mahasiswa mengajar anak-anak Agama Hindu

Persembahyangan di Rsi

Persembahyangan di Rsi

Maturan ring Ken Dedes

Maturan ring Ken Dedes

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Hujan lebat mengiringi persembahyangan

Hujan lebat mengiringi persembahyangan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kunjungan Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI

Om Swastiastu,
Pada Sabtu, 28 Pebruari 2015 Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya melaksanakan kunjungan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Ikut mendampingi Beliau, Pembimas Hindu Jatim Bapak Ida Bagus Made Windya, S.Ag, dan Bapak Anom. Beliau tiba di pura pukul 10.15 WIB dan disambut oleh Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila beserta pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku. Rombongan langsung melihat-lihat pelinggih di pura. Pada waktu Jero Sepuh menjelaskan tentang adanya Pelinggih Gedong Lingga Kamulan yang merupakan tempat para leluhur tanah jawa dari Kerajaan Mataram Kuno sampai Kerajaan Majapahit dari Raja sampai rakyatnya yang mencapai jutaan distanakan pada pelinggih tersebut. Bapak Prof. I Ketut Widnya juga menyampaikan bahwa konsepnya itu sama dengan Krisna yang mana alam semesta yang luas ini ada dalam mulut Beliau.

Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya mendengarkan penjelasan Pura dari Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama RI, Bapak Prof. I Ketut Widnya mendengarkan penjelasan Pura dari Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya rombongan menuju ke Wantilan Jenggolo. Pada kesempatan tersebut Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan tentang adanya konsep Jawa yang diterapkan di Pura ini, baik Pelinggihnya, Bantennya maupun Keseniannya. Juga disampaikan bahwa akan dibuat lagi pelinggih untuk Gajah Mada, Nyi Roro Kidul dan Bhagawan Wiswakarma (Wenadi) yang merupakan perancang / arsitek pura. Jero Sepuh juga menginginkan adanya perluasan tanah pura sehingga bisa dipakai untuk keperluan di masa depan. Juga adanya rencana pembangunan pasraman untuk para umat yang sudah sepuh/tua, yang mana banyak dari mereka tidak mempunyai tempat berlindung karena anak-anaknya sudah berpindah kepercayaan, sehingga mereka tidak terurus sampai meninggal. Dengan adanya pasraman tersebut mereka bisa tenang menjalani hari tuanya.

Di Wantilan Jenggolo

Di Wantilan Jenggolo

Menikmati minum teh

Menikmati minum teh

Bapak- Bapak dari Sai Satya ikut hadir

Bapak- Bapak dari Sai Satya ikut hadir

Jero Sepuh LMK kadek Sumanila menjelaskan konsep pura kedepannya

Jero Sepuh LMK kadek Sumanila menjelaskan konsep pura kedepannya

Bapak Prof. I Ketut Widnya menyampaikan bahwa Beliau sangat suka dengan suasana pura ini, juga umat yang saling mendukung satu sama lain, meski kecil tetapi kalau bersatu bisa menjadi kuat. Suasana ini terus dipelihara dan kalau bisa terus ditingkatkan. Bapak Prof. I Ketut Widnya juga sangat mendukung adanya tempat untuk memuja leluhur ini, bahkan Beliau menyampaikan bahwa pemujaan Leluhur sebenarnya sudah terjadi sebelum Hindu masuk ke Nusantara ini. Dan sebenarnya para Leluhur tersebut masih berkuasa meski secara niskala. Dan dengan adanya pelinggih untuk menstanakan Beliau maka kita semua akan mendapatkan kesejahteraan. Terhadap adanya rencana perluasan tanah Beliau sangat mendukung sekali. Beliau bahkan menginginkan adanya suatu yayasan yang khusus mengurus masalah ini. Hal ini karena dalam beberapa tahun ini banyak orang yang ingin datang ke pura untuk bersembahyang dan menenangkan diri setelah selama seminggu bekerja keras. Mereka ingin mencari kepuasan spiritual sehingga nantinya akan banyak orang yang datang ke pura. Makanya nanti dalam beberapa tahun kedepan bisa jadi tempat pura ini tidak akan bisa menampung banyaknya umat. Oleh karena itu perluasan area pura penting untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, Beliau menyampaikan agar bisa mengajukan permintaan bantuan lewat Pembimas Jawa Timur. Juga untuk pembuatan pelinggih yang belum ada agar segera mengajukan permintaan bantuan.

Bapak Prof. I Ketut Widnya  memberikan sambutannya

Bapak Prof. I Ketut Widnya memberikan sambutannya

Selanjutnya semeton menuju ke Beji Sumber Kahuripan Sendang Kamulyan untuk melaksanakan penglukatan. Setelah itu matur piuning ke Lingga Yoni dan Pelinggih Resi.

Kramaning sembah di Beji

Kramaning sembah di Beji

Bapak Prof. I Ketut Widnya melukat

Bapak Prof. I Ketut Widnya melukat

Bapak Anom melukat

Bapak Anom melukat

Bapak Ida Bagus Made Windya melukat

Bapak Ida Bagus Made Windya melukat

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Matur Piuning di Rsi

Matur Piuning di Rsi

Seteleh itu Umat menuju ke Mandala Utama melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Matur ring Gedong Lingga Kamulan

Matur ring Gedong Lingga Kamulan

Bapak Anom, Bapak Prof. I Ketut Widnya, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak IDa Bagus Made Windya S.Ag

Bapak Anom, Bapak Prof. I Ketut Widnya, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak IDa Bagus Made Windya S.Ag

Setelah persembahyangan, Umat kemudian menuju ke Wantilan untuk makan siang.

Makan siang

Makan siang

Makan siang

Makan siang

Foto bersama

Foto bersama

Berpamitan

Berpamitan

Pukul 12.30 WIB Bapak Dirjen dan rombongan kembali ke Surabaya.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Rsi Yadnya ke Bali

Om Swastiastu, Setelah selesainya seluruh rangkaian upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, maka para pengurus Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan melaksanakan Rsi Yadnya dan matur suksma kepada para Pandita yang telah muput upacara piodalan tersebut. Para Pandita tersebut semangat dan ikhlas untuk datang dan memuput piodalan meskipun dengan penyambutan dan penjamuan yang sangat sederhana. Dan bahkan Beliau-Beliau tidak mau menerima amplop dari panitia karena Beliau berkomitmen untuk ngayah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Leluhur. Bahkan ada Pandita yang sudah menyiapkan perlengkapan masak dan makanan dari Bali karena mengira disana tidak ada jamuan makan. Hal ini membuat para pengurus rumah tangga pura begitu terharu dan bahagia dengan keikhlasan mereka, karena Beliau-Beliau ini telah memberikan teladan bagi kita semua bahwa tidak semua hal bisa dibeli. Bahwa ada juga orang yang dengan tulus ikhlas datang ke pura ngayah tanpa harus menyiapkan protokoler dan jamuan yang serba wah. Hal ini yang membuat para pengurus rumah tangga pura berangkat ke Bali untuk menyambangi mereka dan mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Pada Kamis 19 Pebruari 2015 pukul 09.00Wib rombongan pengurus rumah tangga pura yang terdiri dari Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila, Ibu Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, Bapak Sai, Bapak Made WK dan Mas Udin berangkat dari Gresik menuju ke Bali. Perjalanan lancar dan sekitar pukul 17.30 WITA rombongan sampai di Cekik – Jembrana. Disana sudah menunggu Ayahanda Bapak Jero Sepuh, Bapak Made Supartana dan Bapak Ketut Mudit. Kami beristirahat sebentar di kantor TNBB untuk mandi dan ganti pakaian. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju ke Jembrana. Disana kami menemui Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi dari Pasraman Agung Giri Taman Griya Batur Bhujangga Waisnawa – Jembrana – Bali. Kami sampai disana pukul 21.15WITA. Tidak susah mencari alamat Beliau karena semua yang kami tanyai mengenal Beliau dengan baik. Kami langsung disambut Ida Rsi dan Istri. Disana Jero Sepuh menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya karena Beliau berkenan untuk muput upacara Piodalan. Jero Sepuh juga minta maaf atas semua yang kurang berkenan, baik tempat, jamuan dan juga bocornya tempat muput sehingga Beliau muput dalam keadaan basah kuyup. Kedepannya Jero Sepuh berencana akan membuat tempat yang lebih bagus lagi.

Di Griya Ida Rsi

Di Griya Ida Rsi

Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna menyampaikan bahwa Beliau sangat senang bisa muput upacara piodalan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bahkan Beliau merasa tidak ada yang kurang pada pelaksanaan upacara tersebut. Beliau juga sangat mendukung konsep jawa yang diterapkan pada piodalan tersebut. Dan Beliau merasakan adanya anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui hujan dan petir pada piodalan tersebut. Pada piodalan selanjutnya Beliau berjanji akan datang lagi bersama beberapa Pandita untuk ngayah dan muput.

menemui Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna

Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna

menemui Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna menandatangani piagam

menemui Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna menandatangani piagam

Selanjutnya Kami di jamu makan malam. Setelah itu Kami bersembahyang di Merajan Beliau.

Makan malam

Makan malam

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani bersamaIda Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani bersama Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi

Persembahyangan di Mrajan Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna

Persembahyangan di Mrajan Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna

Mohon doa restu

Mohon doa restu

Pukul 24.00WITA Kami berpamitan menuju Badung. Bapaknya Jero Sepuh dan Pak Ketut Mudit pulang ke Singaraja sedangkan Bapak Made Supartana ikut kami. Kami langsung menuju ke Hotel Anika di Tuban – Badung untuk beristirahat. Hotel tersebut adalah hotel milik dari Ibu Anika. Beliau adalah istri dari Bapak Putu Ivan. Beliaulah yang sangat mendukung Kami dan juga Pura. Dan Beliau juga sering ngayah di pura. Sehingga Beliau menganggap Kami sebagai saudara. Makanya Kami diajak menginap di hotel milik Beliau. Dan semuanya tidak bayar, baik hotelnya dan juga makannya. Paginya Tanggal 20 Pebruari 2015 pukul 07.00WITA kita sarapan pagi.

Bapak Sai dan Pak Made Supartana di Hotel Anika

Bapak Sai dan Pak Made Supartana di Hotel Anika

Sarapan pagi

Sarapan pagi

Setelah sarapan kita melanjutkan perjalanan Desa Kapal – Badung. Disana Kami menuju ke Griya Bapak Anak Agung Bagus Sudarma, Ajinya Anak Agung Gede Agung Rahma Putra (Gung De). Gung De yang waktu piodalan ikut ngayah dengan menampilkan Tari Siwa Tandava dan Tari Topeng. Disana Kami bertemu dengan Bapak Agung Sekeluarga. Pada kesempatan tersebut Bapak Agung memberikan tiga buah pretima yang digunakan pada waktu upacara di pura.

Di Depan rumah Bapak AA Baus Sudarma

Di Depan rumah Bapak AA Bagus Sudarma

Bersama Bapak AA Baus Sudarma

Bersama Bapak AA Bagus Sudarma

Bapak AA Baus Sudarma menyerahkan pretima

Bapak AA Bagus Sudarma menyerahkan pretima

Selanjutnya dengan diantar Mangku Komang Wirahadi, Kami menuju ke Tabanan. Disana Kami menemui Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan. Disana kami langsung disambut Ida Bhagawan dan Istri Beliau. Cukup lama Kami disana apalagi sambutan Beliau yang penuh kekeluargaan dan hangat seperti tidak ada jarak. Pada kesempatan tersebut Jero Sepuh menyampaikan terima kasih karena Beliau telah berkenan ikut muput Upacara Piodalan tersebut. Juga Jero Sepuh minta maaf karena banyak kekurangan yang dilakukan pada upacara tersebut. Hal ini karena Kami kekurangan tenaga umat yang ngayah dan kadang-kadang satu orang mengambil banyak tugas. Padahal itu sudah dibantu oleh Umat dari Bali. Kedepannya Kami akan berusaha memperbaiki kekurangannya sehingga bisa lebih baik lagi.

Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak Sai

Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening, Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan Bapak Sai

Jero Sepuh  Istri  Nyoman Sriyani bersama Ida Ratu Istri Bhagawan Agra Sagening

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani bersama Ida Ratu Istri Bhagawan Agra Sagening

Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening menyampaikan bahwa Beliau tidak merasa ada yang kurang pada Piodalan tersebut. Kalaupun ada satu dua yang tertinggal itu bisa dimaklumi. Dan Beliau memang ingin tulus ngayah di pura ini. Bahkan Beliau merasa ada sesuatu yang luar biasa pada piodalan ini yang tidak pernah Beliau rasakan pada Piodalan di tempat lain. Beliau juga merasakan bahwa Ida Bhatara sangat merestui Piodalan ini, apalagi pada waktu Tari Medang Kamulan ditampilkan Beliau melihat seperti adanya banyak para Leluhur yang ikut menyaksikan tarian tersebut sehingga tanpa sadar Beliau dan Para Pandita yang lain menaburkan bunga ke penari tersebut. Apalagi hujan, angin dan guntur ikut juga mengiringi tarian tersebut. Beliau berjanji, pada Piodalan selanjutnya Beliau akan selalu datang untuk ngayah.

Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening menandatangani piagam

Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening menandatangani piagam

Foto Bersama

Foto Bersama

Dari Tabanan Kami menuju ke Karangasem. Disana Kami menemui Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma dari Griya Anyar – Amlapura. Kami sampai disana 16.15 WITA. Beliau sekeluarga menyambut Kami dengan hangat sehingga rasa lelah menempuh perjalanan Tabanan – Karangasem langsung hilang. Ida Pandita juga menyanyikan kidung Medang Kamulan yang Beliau buat sendiri. Beliau mengatakan bahwa Beliau sangat senang mekidung sejak dari kecil. Dan meskipun sekarang sudah jadi Pandita, Beliau tidak berhenti untuk mekidung. Beliau juga menyampaikan bahwa Beliau sangat senang bisa muput upacara piodalan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Beliau berusaha akan selalu ngayah setiap odalan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Apalagi Beliau merasakan Prebawa Ida Bhatara becik pisan.

Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma bersama Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Bersama keluarga Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma

Bersama keluarga Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma

Berfoto bersama

Berfoto bersama

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyampaikan bahwa atas nama pengurus rumah tangga pura menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kesediaannya muput piodalan. Beliau juga mohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi pada upacara piodalan tersebut. Juga Beliau mita maaf karena baru hari ini bisa datang matur ring Ida Pandita. Selanjutnya Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani juga menyampaikan permohonan maaf atas jamuan dan penerimaan yang mungkin kurang berkenan di hati Ida Pandita.

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Bapak Made Supartana menyampaikan bahwa meski Beliau baru kali ini ngayah di pura tetapi hatinya sudah menjadi bagian dari pura. Beliau juga akan selalu datang ngayah ke pura ini. Dan pada upacara melasti pada Tanggal 15 Maret 2015 nanti Beliau bersama keluarga akan datang ngayah. Dan apabila tahun depan Ida Pandita bisa datang muput pada piodalan pura, Beliau akan ikut mengiringi Ida Pandita.

Bapak Made Supartana

Bapak Made Supartana

Bapak Sai menyampaikan bahwa Umat Hindu di Jawa sangat ingin didatangi oleh Umat Hindu dari Bali untuk dapat meningkatkan kekuatan spiritualnya. Dan Bapak Sai mengharapkan semoga kedatangan Umat dari Bali bisa membuat kesadaran dan kesolidan Umat Hindu di Jawa bisa terus meningkat. Dan sebenarnya kedatangan Umat dari Bali juga untuk melihat keadaan saudaranya di Jawa yang saat ini masih tertinggal dalam segala hal. Oleh karena itu Umat Jawa sangat senang apabila kedatangan Umat Hindu dari Bali.

Bapak Sai

Bapak Sai

Pada kesempatan tersebut Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma dan Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila bersembahyang di Meraja Beliau. Rantasan dari Pura dilinggihkan di Merajan Beliau.

Rantasan dilinggihkan di Merajan

Rantasan dilinggihkan di Merajan

Makan Sore

Makan Sore

Kami kemudian kembali ke Hotel Anika. Tetapi sebelumnya Kami menuju ke rumah Bapak Made Supartana di Badung. Disana kami melepas lelah dan bertemu dengan keluarga Beliau. Beliau sekeluarga sangat senang dengan kedatangan kami. Setelah beristirahat, Kami langsung menuju dan beristirahat di Hotel Anika.

Bapak Made Supartana sekeluarga

Bapak Made Supartana sekeluarga

Sarapan di Hotel Anika

Sarapan di Hotel Anika

Pagi hari Tanggal 21 Pebruari 2015 kami menuju ke Rumah Bapak Putu Ivan. Dari sana Kami bersama Bapak Putu Ivan, Bapak Mangku Komang Wirahadi dan Ibu berangkat ke Pulau Nusa Ceningan. Kami berangkat dari Pantai Sanur naik kapal Boat menuju ke Pulau Nusa Lembongan. Dari Pulau Nusa Lembongan kami naik sepeda motor menuju ke Pulau Nusa Ceningan.

Ibu Anika bersama Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Ibu Anika bersama Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani

Di Pantai Sanur

Di Pantai Sanur

Di Speed Boat

Di Speed Boat

Di Pulau Nusa Lembongan

Di Pulau Nusa Lembongan

Naik Motor ke Pulau Nusa Ceningan

Naik Motor ke Pulau Nusa Ceningan

Pulau Nusa Ceningan terletak di Kecamatan Nusa Penida – Klungkung. Disana di berdiri pura yang bernama Pura Wayah Dalem Majapahit. Pura tersebut bertujuan untuk melinggihkan para leluhur dari Majapahit yang tiba di Pulau ini dan juga di seluruh Bali. Rencananya pada Bulan November 2015 dilaksanakan Upacara Ngenteg Linggih dan Piodalan. Dan pada Upacara tersebut akan diundang Ida Bhatara dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan untuk hadir dan menyaksikan upacara tersebut. Oleh karena itu Kami pengurus Pura Penataran Luhur Medang Kamulan sangat diharapkan kedatangannya untuk ngayah. Sesampai di Pulau Nusa Ceningan kami langsung disambut oleh Jero Mangku Ketut Darma dan juga para pengurus pura. Disana kami langsung diajak melihat-lihat pelinggih pura yang masih dalam renovasi.

Jero Mangku Ketut Darma (kiri) bersama Bapak Putu Ivan (kanan)

Jero Mangku Ketut Darma (kiri) bersama Bapak Putu Ivan (kanan)

Menikmati ketupat cetok

Menikmati ketupat cetok

Mangku Ketut Darma memberikan seragam Pura Wayah Dalem Majapahit kepada Jero Sepuh

Ada banyak sekali pelinggih di pura tersebut. Bahkan di Mandala Utama pura pelinggihnya sangat berdempetan sehingga seperti sesak. Juga disana ada tempat persembahyangan untuk Umat Budha. Jero Mangku Ketut Darma juga menyampaikan bahwa ada batu berbentuk mahkota ditiap pelinggih tersebut. Batu tersebut selalu kembali ke pelinggihnya setiap dibuang. Makanya batu tersebut tidak pernah diutak-atik lagi. Selanjutnya Kami semua melaksanakan persembahyangan di Pura tersebut.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Kuil Budha

Persembahyangan di Kuil Budha

Wantilan Pura

Wantilan Pura

Pelinggih Ratu Ayu

Pelinggih Ratu Lingsir

Mandala Utama Pura Wayah Dalem Majapahit

Mandala Utama Pura Wayah Dalem Majapahit

Batu Mahkota

Batu Mahkota

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Kembali ke Pantai Sanur

Kembali ke Pantai Sanur

Pukul 13.00WITA Kami kembali ke Bali. Kami menuju ke Pasar Seni Sukawati Gianyar untuk berbelanja alat-alat upacara. Selanjutnya Kami menuju ke Bangli menemui Bapak Riyang. Bapak Riyang adalah merupakan bagian humas dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan untuk daerah Bali. Beliau sangat mendukung dan bersedia membantu untuk menginformasikan pura ini kepada seluruh umat di Bali. Kami sampai dirumah Beliau pada pukul 16.48WITA. Disana kami beristirahat melepas lelah sambil ngobrol bersama Bapak Riyang. Pada malam harinya kami diajak bersembahyang dan melukat di Pura Tirtha Sudamala. Di pura tersebut terdapat tirta penglukatan berbentuk pancuran sebanyak 9 pancuran. Disana kami melukat dan kami merasakan airnya yang sangat sejuk dan segar sehingga rasa lelah menjadi hilang.

Di rumah Bapak Riyang (Kiri)

Di rumah Bapak Riyang

Sembahyang di Pura Tirtha Sudamala

Sembahyang di Pura Tirtha Sudamala

Melukat

Melukat

Makan malam

Makan malam

Dari Bangli Kami menuju ke Kubutambahan Buleleng ke Rumah Bapak Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila. Kami menginap disana. Paginya kami bersembahyang di Merajan Beliau. Pada kesempatan itu juga Bapak Jero Sepuh matur piuning dan nunas tirta di Merajan karena pada Tanggal 25 Pebruari 2015 Jero Sepuh akan melaksanakan piodalan di Rumah Beliau. Hujan lebat turun mengiringi persembayangan Jero Sepuh sekeluarga. Tidak berapa lama datang rombongan keluarga Bapak Ketut Mudit untuk nunas minyak obat kepada Bapak Jero Sepuh. Jero Sepuh kemudian mengajak rombongan menuju ke kamar suci dan melaksanakan persembahyangan dan pengobatan disana.

Persembahyangan di Merajan Jero Sepuh

Persembahyangan di Merajan Jero Sepuh

Persembahyangan di Merajan Jero Sepuh

Persembahyangan di Merajan Jero Sepuh

Bapak Ketut Mudit dan keluarga nunas minyak kepada Jero Sepuh

Bapak Ketut Mudit dan keluarga nunas minyak kepada Jero Sepuh

Foto bersama

Foto bersama

Akhirnya semua acara telah selesai dengan lancar, sukses, tanpa halangan. Semua menyenangkan baik sambutan dan suasana yang penuh kekeluargaan. Kami meninggalkan Bali dan menuju ke Jawa dengan hati senang dan bahagia. Semua atas restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa dan Leluhur. Tidak salah kami ngayah di pura, semua kemudahan dan kebahagian diberikan kepada kami. Bahkan kejutan menyenangkan selalu kami dapatkan. Tidak ada rasa susah selama di Bali. Suksma kami ucapkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa, Para Leluhur. Juga para semeton yang telah menerima dan menjamu kami dengan sepenuh hati. Semoga kita semua selalu dibawah lindunganNya. Dan juga kami semua selalu mendapatkan kejayaan dan kemulyaan hidup. Suksma.

Singgah dulu di Desa Pedawa

Singgah dulu di Desa Pedawa

Mandi air panas di Banyuwedang

Mandi air panas di Banyuwedang

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Tirtayatra Ibu-Ibu Ubud Gianyar

Om Swastiastu,

Pada Sabtu, 14 Pebruari 2015 Semeton Ibu-ibu dari Ubud – Gianyar melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton sampai di pura pada Pukul 15.00WIB dipimpin oleh Ibu Nyoman Yasi. Rombongan disambut oleh para pengurus Rumah Tangga Pura dan Umat Hindu Mondoluku.

Setelah beristirahat sebentar di Wantilan, semeton dan umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan. Setelah itu menuju ke Lingga Yoni dan Rsi. Kemudian umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan.

Semeton dari Ubud

Semeton dari Ubud

Persembahyangan di Ken Dedes

Persembahyangan di Ken Dedes

Pada kesempatan tersebut Ibu Nyoman Yasi menyampaikan bahwa para semeton ini baru bisa datang ke pura ini karena baru hari ini bisa dapat kesempatan. Sebelumnya para semeton masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ibu Nyoman Yasi juga mengungkapkan bahwa Beliau sangat kagum dengan pura ini dan juga konsep jawanya. Beliau juga berjanji akan datang lagi untuk ngayah ke pura ini.

Ibu Nyoman Yasi

Ibu Nyoman Yasi

Selanjutnya Bapak Sai memberikan sambutannya. Bapak Sai menyampaikan bahwa kedatangan para semeton dari Bali ke Tanah Jawa ini sangat memberikan semangat bagi umat di Jawa untuk lebih bangga menjadi umat Hindu. Dukungan para semeton dari Bali ini mampu menghilangkan rasa rendah diri sebagai Umat Hindu. Demikian juga hal ini membuat hubungan antara Umat Hindu dari Bali dan Jawa menjadi semakin erat dan menyatu.

Selanjutnya para Umat dan Semeton menuju ke Wantilan untuk menikmati makan malam. Pada kesempatan tersebut, Ibu Nyoman Yasi menyerahkan bantuan punia yang diterima oleh Bapak Sai.

Makan malam

Makan malam

Ibu Nyoman Yasi menyerahkan punia diterima Bapak Sai

Ibu Nyoman Yasi menyerahkan punia diterima Bapak Sai

Foto bersama

Foto bersama

Setelah itu para semeton melanjutkan tirtayatra ke Pura Agung Jagat Karana.

Berpamitan

Berpamitan

Om Shanti Shanti Shanti Om

Melebar Daksina

Setelah selesainya upacara Piodalan maka pada Hari Rabu, 4 Pebruari 2015 dilaksanakan Upacara Nyineb dilanjutkan dengan Melebar Daksina. Upacara tersebut dilaksanakan pada Pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto.

Sebelumnya pada pukul 14.30 WIB di halaman Wantilan Jenggolo dilaksanakan Seni Budaya Jaranan dan reog dari Grup Seni Reog Kariyo Budoyo Desa Ngadiwono Kec. Tosari Tengger – Pasuruan. Setelah itu dilanjutkan dengan pagelaran wayang semalam suntuk dengan Dalang Ki Narno Sabdo, S.Pd, M.Pd. H dari Desa Mororejo – Tosari – Tengger – Pasuruan.

Pada acara Nyineb dan Melebar Daksina ini tidak banyak umat yang ngayah dan banyak umat terutama yang dari Bali pulang kembali. Seperti Keluarga Bapak Nengah Wijana dan Keluarga Bapak Made Supartana. Mereka pamit pulang setelah ngayah disini mulai hari Sabtu, 31 Januri 2015.

Keluarga Bapak Made Supartana nunas minyak Medang Kamulan

Keluarga Bapak Made Supartana nunas minyak Medang Kamulan

Keluarga Bapak Made Supartana sebelum pamit ke Bali

Keluarga Bapak Made Supartana sebelum pamit ke Bali

Pukul 13.50WIB dilaksanakan Selamatan Panggung Terop yang akan dipakai untuk pagelaran wayang. Panggung tersebut ditempatkan di jalan di depan pura. Hal ini dilakukan karena pagelaran wayang tersebut ditonton oleh Warga Desa Mondoluku. Tahun lalu pagelaran wayang dilaksanakan di ladang sebelah Selatan pura tetapi banyak warga yang protes karena becek.

Selamatan Panggung

Selamatan Panggung

Musik Ketipung mengiringi upacara

Musik Ketipung mengiringi upacara

Pukul 14.45WIB pagelaran kesenian jaranan dan reog dimulai. Pada acara tersebut ditampilkan atraksi yang menegangkan dan mendebarkan. Para pemain kesurupan dan bertingkah aneh seperti makan lampu neon, makan daun beracun, minum air kotor bahkan makan ayam hidup-hidup. Banyak warga yang menonton bergidik menyaksikan atraksi tersebut. Acara tersebut selesai pada sekitar pukul 18.00WIB.

Pencak Silat

Pencak Silat

Pencak Silat

Pencak Silat

Duel

Duel

Bantengan

Bantengan

Penyanyi dan Sinden

Penyanyi dan Sinden

Penabuh Gamelan dan Musik

Penabuh Gamelan dan Musik

Jaran Pegon

Jaran Pegon

Reog

Reog Pakem

Warok

Warok

Jatilan

Jatilan

Ayune

Ayune

Topeng

Topeng

Topeng Kelono Sewandono

Topeng Kelono Sewandono

Reog

Reog

Jaranan

Jaranan

Pawang

Pawang Mahluk Lain

Kesurupan

Kesurupan

Makan Lampu Neon

Makan Lampu Neon

Makan Lampu Neon

Makan Lampu Neon

Makan Daun Bedor /Beracun

Makan Daun Bedor /Beracun

Makan Ayam Hidup

Makan Ayam Hidup

bermain air

bermain air

Gak Mau Pulang

Gak Mau Pulang

Penonton Membludak

Penonton Membludak

Penonton Heran

Penonton Heran

Penonton ikut kesurupan

Penonton ikut kerauhan

Mas Singgih (kanan) dan konco-konco

Mas Singgih (kanan) dan konco-konco

Pukul 20.30WIB dilaksanakan upacara nyineb dan melebar daksina. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto. Pada upacara tersebut ditampilkan juga Tari Odisri “Siva Tandava” oleh Gung Partha dan Gung De. Juga Tari Topeng yang dimainkan oleh Gung De. Pada waktu tarian tersebut hujan turun dengan deras disertai petir menggelegar.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Melukat di Beji

Melukat di Beji

Jero Sepuh Istri memimpin kirtanam di Lingga Yoni

Jero Sepuh Istri memimpin kirtanam di Lingga Yoni

Dik Gaya

Dik Gaya

Mencium Lingga

Mencium Lingga

Musik Ketipung

Musik Ketipung

Upacara Melebar

Upacara Melebar

Upacara Melebar

Upacara Melebar

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Menyucikan pelinggih

Menyucikan pelinggih

Tari Siwa Tandava

Tari Siwa Tandava

 

Tari Siwa Tandava

Tari Siwa Tandava

Tari Siwa Tandava

Tari Siwa Tandava

Tari Topeng

Tari Topeng

Tari Topeng

Tari Topeng

Tari Siva

Tari Siva

Bersamaan dengan upacara tersebut pagelaran wayang juga dimainkan. Pagelaran wayang tersebut dilaksanakan semalam suntuk, diselingi dengan nyanyian para sinden yang cantik-cantik. Penonton pun betah menonton wayang meski hujan tidak mau berhenti.

Wayang Kulit

Wayang Kulit

Sinden

Sinden

Dengan selesainya pergelaran wayang tersebut, selesailah rangkaian Upacara Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semua umat ikut merasa bahagia karena semua rangkaian upacara berjalan dengan lancar dan aman. Tidak ada keluhan ataupun kekurangan yang kelihatan pada upacara tersebut. Semua berkat ketulusan dan keikhlasan umat yang ngayah yang dengan gembira melaksanakan tugasnya masing-masing. Semeton dari Bali, dari Tengger, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto bahkan ada yang dari Blitar dan Kediri, mereka semangat datang ngayah dan mekemit beberapa hari sebelum hari Piodalan. Hal ini membuat pengurus pura dan Umat Mondoluku merasa begitu senang dan bahagia dengan keikhlasan mereka. Bahkan Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila dan keluarga hampir sebulan tinggal di pura sehingga rumahnya dibiarkan kosong. Semua dilakukan karena bakti kepada Brahman, Para Dewa dan Para Leluhur.

Ibu-Ibu Medang Kamulan

Ibu-Ibu Medang Kamulan

Mbak Kartika dan Mbak Tutik

Mbak Kartika dan Mbak Tutik

Semoga pada Piodalan selanjutnya bisa lebih baik lagi. Om Shanti Shanti Shanti Om.

Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan

Om Swastiastu,

Pada Purnama Kawulu Selasa Pon Wuku Merakih, 03 Pebruari 2015 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan upacara piodalan. Upacara ini merupakan puncak dari rangkaian upacara yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu Jero Sepuh Lanang Isteri Matur Piuning pada Selasa 13 Januari 2015, Nancep Karya pada Rabu 21 Januari 2015, Nunas Wastra Hyang Semar ke Gunung Arjuno pada 21 Januari 2015, Nunas Tirta Pakulih dan Ngaturang Piuning ke-23 Pura wilayah Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Gresik, Mojokerto pada Minggu 25 Januari 2015, Larung Sesaji Dan Penyucian Panji Medang Kamulan Nusantara Sejati Ke Pantai Ngliyep – Malang Selatan pada Kamis 29 Januari 2015 dan Pembejian pada Senin 02 Pebruari 2015.

Pada Piodalan kali ini banyak umat yang ngayah seperti Keluarga Bapak Nengah Wijana dari Singaraja, Keluarga Bapak Made Supartana dari Singaraja, Semeton Umat dari Tengger dan Umat-umat lainnya dari Wilayah Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto , Blitar dan Tulungagung. Juga banyak umat yang mepunia bahan makanan, air minum dan dana. Juga Bapak Suhanadi mepunia terop. Sedangkan dari Angkatan Laut meminjamkan tenda.

Untuk Piodalan tahun 2015 ini  dipuput oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger, Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi dari Pasraman Agung Giri Taman Griya Batur Bhujangga Waisnawa – Jembrana – Bali, Ida Ratu Bhagawan Agra Sagening dari Griya Busung Megelung – Kediri Tabanan serta Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dharma dari Karangasem.

Upacara dimulai pada pukul 14.40WIB dengan Upacara Rakatawang ngaturang selamatan di pintu Mandala Nista. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Hasta Brata.

Upacara Rakatawang

Upacara Rakatawang

Musik Ketipung mengiringi upacara

Musik Ketipung mengiringi upacara

Selanjutnya umat menuju ke Mandala Utama untuk upacara Piodalan. Selama upacara, hujan turun dengan lebat disertai angin dan petir mengelegar.

Upacara Piodalan

Upacara Piodalan

Pandita Muput Upacara Piodalan

Pandita Muput Upacara Piodalan

Ngayab ring Pelinggih

Ngayab ring Pelinggih

Mecaru

Mecaru

Umat dari Lombok dan Bali

Umat dari Lombok dan Bali

Umat dari Bali, Jawa dan Lombok berbaur menjadi satu

Umat dari Bali, Jawa dan Lombok berbaur menjadi satu

Setelah itu dilanjutkan dengan pengukuhan Jero Sepuh dan penyepuhan Pemangku Medang Kamulan.

Jero Sepuh dan para Pemangku diupacarai oleh Ida Pandita

Jero Sepuh dan para Pemangku diupacarai oleh Ida Pandita

Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi meniup terompet sangkakala

Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Phalguna dan Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi meniup terompet sangkakala

Nunas tirta

Nunas tirta

Nunas Tirta ditengah hujan deras

Nunas Tirta ditengah hujan deras

Selanjutnya adalah Dharma Wacana oleh Pinandita Dr. Drs. I Nyoman Murba Widana M.Ag. Beliau menyampaikan bahwa sebagai Umat Hindu kita wajib datang untuk bersembahyang dan ngayah pada setiap upacara/rereinan di pura termasuk pada piodalan kali ini. Karena dengan datang saja kita sudah diberkati oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa apalagi bisa ngayah. Meskipun kita sering mendapatkan sesuatu yang tidak berkenan atau halangan untuk maturan kita semestinya tidak menjadikan kita malas untuk datang ke pura. Karena biasanya yang kelihatan tidak bagus dimata kita ternyata mempunyai sesuatu yang luar biasa. Pada piodalan kali ini hujan turun denga deras disertai petir mengelegar dan angin ribut. Tetapi kita tidak boleh merasa susah atau marah pada Tuhan. Karena hujan turun merupakan berkah bagi semua umat manusia. Dengan adanya hujan para petani bisa bercocok tanam, suhu juga tidak begitu panas, sumber air juga mengeluarkan airnya. Juga hujan merupakan wujud bahwa bakti kita diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pembacaan Sloka Bhagawad Gita

Pembacaan Sloka Bhagawad Gita

Dharma Wacana oleh Pinandita Dr. Drs. I Nyoman Murba Widana M.Ag

Dharma Wacana oleh Pinandita Dr. Drs. I Nyoman Murba Widana M.Ag

Selanjutnya di pentaskan Tarian Medang Kamulan yang ditarikan oleh Ibu Jero Sepuh Istri Nyoman Sriyani, Ibu Mangku Istri Sri Ngatiin dan Ibu Ketut Arsha Putra.

Tarian Sakral Medang Kamulan “Tarian Athiti Dharma Tri Murti”

Tarian Sakral Medang Kamulan “Tarian Athiti Dharma Tri Murti”

Tarian Sakral Medang Kamulan “Tarian Athiti Dharma Tri Murti”

Tarian Sakral Medang Kamulan “Tarian Athiti Dharma Tri Murti”

Selanjutnya dilaksanakan persembahyangan bersama. Pada saat itu salah seorang umat kerauhan. Beliau mengatakan bahwa Ida Bhatara Siwa rawuh di Pura ini dan mengatakan bahwa apa yang sudah dilakukan Jero Sepuh sudah benar dan kita semua harus tegar menghadapi berbagai cobaan yang kita alami dalam usaha untuk menegakkan Dharma. Juga diberitahu bahwa kesejahteraan dan kemakmuran akan didapatkan oleh seluruh umat di Jawa ini.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

IMG_5771_resize

Ibu-Ibu dari Bongso Kulon mekidung

Ibu-Ibu dari Bongso Kulon mekidung

Selesai persembahyangan maka umat beristirahat di Wantilan Jenggolo.

Setelah itu kemudian di pentaskan tari-tarian di Mandala Madya. Pada Tarian tersebut dipentaskan Tarian Bali, Tarian Jawa dan Tarian India.

Pembacaan palawakya oleh Puput Setyowati dan Yolanda Kusuma Wandanti

Pembacaan palawakya oleh Puput Setyowati dan Yolanda Kusuma Wandanti

Kapolsek Kedamean, Bapak AKP Made Jati Negara berfoto bersama penari

Kapolsek Kedamean, Bapak AKP Made Jati Negara berfoto bersama penari

Tari Remo oleh Fauzi

Tari Remo oleh Fauzi

Tari Panyembrama oleh Bu Sandat, Bu Reza, Bu Sriniti dan Ni Komang Semerti

Tari Panyembrama oleh Bu Sandat, Bu Reza, Bu Sriniti dan Ni Komang Semerti

Tari Lenggang Suroboyo oleh Fransiska

Tari Lenggang Suroboyo oleh Fransiska

Tari Cendrawasih oleh Ni Made Natallina Kusumayani dan Luh Gede Devi Priyanti

Tari Cendrawasih oleh Ni Made Natallina Kusumayani dan Luh Gede Devi Priyanti

Tari Suramadu oleh Natasya

Tari Suramadu oleh Natasya

Tiba-tiba ada umat yang kerauhan. Beliau dimasuki oleh Ratu KenDedes. Ratu KenDedes merasa sangat senang dengan tarian tersebut dan Beliau ingin masuk ke tubuh penari jawa untuk ikut menari tetapi tidak bisa. Ternyata para penari tersebut sudah dipagari oleh Bapak Naim. Acara pentas tari tetap dilanjutkan.

Kerauhan Ratu Ken Dedes

Kerauhan Ratu Ken Dedes

Bapak Naim sedang memagari para penari

Bapak Naim sedang memagari para penari

Tari Topeng Keras oleh Kadek Tegeh S.Sn

Tari Topeng Keras oleh Kadek Tegeh S.Sn

Tari Odisri "Siva Tandava" (Pancer Langit Bali) oleh Gung Partha

Tari Odisri “Siva Tandava” (Pancer Langit Bali) oleh Gung Partha

Tari Jejer Jaran Dawhuk oleh Lintang

Tari Jejer Jaran Dawhuk oleh Lintang

Tari Topeng Tua Oleh Bapak I Nengah Wijana

Tari Topeng Tua Oleh Bapak I Nengah Wijana

Tari Topeng Sabrang oleh Fauzi

Tari Topeng Sabrang oleh Fauzi

Tari Margapati oleh Ketut Suarta

Tari Margapati oleh Ketut Suarta

Tari Topeng Jago oleh Dewa Adi

Tari Topeng Jago oleh Dewa Adi

Penabuh Gamelan Bali

Penabuh Gamelan Bali

Setelah upacara selesai umat kemudian beristirahat.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.