Sedekah Bumi Desa Mondoluku

Hari Rabu, 15 Mei 2013 di Balai Desa Mondoluku dilaksanakan sedekah bumi. Acara yang dilaksanakan tiap tahun tersebut diikuti oleh seluruh warga Desa Mondoluku dan juga pihak Pihak Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Hadir pula Camat Wringinanom beserta staf, Dandim, Kapolres, anggota DPRD Gresik dan dari Pura hadir Ketua Rumah Tangga Pura Bpk. Kadek Sumanila, Bpk. Sai dan seluruh Umat Hindu Desa Mondoluku.

Bapak Sai dan Pak Talib menuju ke temapt Sedekah bumi

Bapak Sai dan Pak Talib menuju ke temapt Sedekah bumi

Pak carik menyambut para undangan

Pak carik menyambut para undangan

Warga desa yang ikut sedekah bumi

Warga desa yang ikut sedekah bumi

Pak Talib dan Pak Sai ikut acara sedekah bumi

Pak Talib dan Pak Sai ikut acara sedekah bumi

Para tamu undangan

Para tamu undangan

Gamelan karawitan

Gamelan karawitan

Acara diawali dengan sambutan-sambutan, atara lain Laporan Ketua panitia, sambutan Kades Mondoluku, sambutan Camat Wringinanom, sambutan anggota DPRD Gresik dan terakhir sambutan dari Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Pak Carik selaku ketua panitia menyampaikan laporan

Sekdes/Carik Mondoluku, Bpk. Marjuki selaku ketua panitia menyampaikan laporan

Kades Mondoluku, Bpk. H.Riman menyampaikan sambutan

Kades Mondoluku, Bpk. H.Riman menyampaikan sambutan

Camat Wringinanom, Bpk. Sujarwo menyampaikan sambutannya

Camat Wringinanom, Bpk. Sujarwo menyampaikan sambutannya

Bapak Anggota DPRD GRESIK menyampaikan sambutannya

Bapak Anggota DPRD GRESIK menyampaikan sambutannya

Ketua Rumah Tangga PUra, Bpk. Kadek Sumanila menyampaikan sambutannya

Ketua Rumah Tangga PUra, Bpk. Kadek Sumanila menyampaikan sambutannya

Setelah itu doa bersama, lalu dilanjutkan dengan menikmati makanan/tumpeng yang sudah dibawa dari rumah.

Makan bersama

Makan bersama

Makan bersama

Makan bersama

Makan bersama

Makan bersama

Pukul 14.30WIB acara selesai, warga kembali ke rumah masing-masing, tetapi nanti malam akan ada pegelaran wayang semalam suntuk.

Kembali ke rumah masing-masing

Kembali ke rumah masing-masing

Pemasangan Padmanaba di Mandala Utama

OM SUASTIASTU,

Pada Sabtu, 28 April 2012 Batu Padmanaba datang dari Tulungagung ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Berangkat dari Tulungagung tanggal 27 April 2012 sekitar pukul 21.00WIB dan sampai di pura sekitar jam 5.00 pagi dengan menggunakan 4 truk colt diesel.

Truk-truk yang mengangkut padmanaba dari Tulungagung

Di pura sendiri sudah menunggu para pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku. Bahkan sebagian ada yang  mekemit di pura. Juga hadir adik-adik dari TPKH ITS.

Ibu-ibu sedang memasak

Batu tersebut merupakan batu bulitan utuh seberat 2 sampai 4 ton yang diukir dan akan menjadi Padmanaba Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Ada yang diukir berbentuk naga, ada yang berbentuk singa, ada yang berbentuk meja dan kursi serta ada yang berbentuk seperti tegel. Direncanakan Padmanaba akan selesai dikerjakan dalam 2 bulan bersamaan dengan pengerjaan pelinggih yang lain seperti petirtan, penglurah, bale pawedan dan gedongan. Juga pemindahan wantilan dan pembangunan kamar mandi dan dapur.

Batu padma diturunkan dari truk

Batu-batu yang dibuat menjadi berbagai macam perabotan

Sesampai di Mandala Utama batu-batu padmanaba langsung diangkat ke pondasi padma dengan menggunakan derek. Karena beratnya yang luar biasa, maka sangat susah untuk menyusunnya sesuai dengan keinginan. Dengan semangat yang luar biasa para umat bahu membahu membantu pengangkatan dan pemasangan padmanaba tersebut. Bahkan Kades Mondoluku, Bapak H. Riman, ketua adat desa dan juga perangkat desa lain juga hadir untuk membantu pemasangan padmanaba tersebut. Rencananya tinggi padmanaba tersebut total akan mencapai 9 meter.

Padma yang dinaikkan dengan diderek

Mangku Nur ikut membantu

Pak Carik (baju kuning) dan adik-adik ITS ikut juga membantu

Bahkan Pak Kades dan Bapak Ketua Adat juga ikut membantu

Pak Gawa sedang ngudiang to?

Jam 11 siang Umat beristirahat dan makan siang.

Makan siang bersama

Sekitar jam 12 siang datang tamu para Pinandita dari Pura Agung Jagat Karana. Mereka langsung diajak melihat-lihat padmanaba. Mereka terkagum-kagum melihat padma yang terbuat dari batu kali yang sangat besar dan utuh. Apalagi ini merupakan padma yang pertama dan satu-satunya yang dibuat menggunakan batu kali dan menggunakan bahan dan tenaga dari Tulungagung. Biasanya untuk pembuatan padma selalu mendatangkan bahan dari Bali.

Pinandita melihat-lihat padmanaba

Bahkan ada juga yang naik ke truk

Bata merah press ini sumbangan dari AA Ketut Arimbawa

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Melasti Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ke Petirtan Suci Jolotundo

OMSUATIASTU,

Sabtu Kliwon Krulut, 17 Maret 2012 Umat Hindu Pura Penataran Luhur Medang Kamulan mengadakan prosesi melasti dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934 yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2012 Masehi. Sebelumnya kegiatan persiapan melasti sudah diadakan jauh hari sebelumnya seperti para pengurus rumah tangga pura yang memohon petunjuk kepada Pinandita Ketut Sedhana di Pura Jagat Karana Surabaya tanggal 5 Maret 2012, Pengambilan Pajenengan yang terdiri dari tiga buah keris bertahtakan batu permata berwarna merah, putih dan hitam oleh Bapak Kadek Sumanila dan  Bapak Mangku Komang Budiasa di Yayasan Padma Siwa Buana Denpasar pada tanggal 7 Maret 2012, rapat PHDI Kabupaten Gresik tanggal 11 Maret 2012, serta pada tanggal 16 Maret 2012 untuk pembuatan banten melasti, penentuan waktu dan personil, pemasangan tenda dan nedunang Ida Bhatara oleh Pinandita Ketut Sedhana. Malamnya sebagian umat mekemit di pura.

Pinandita Ketut Sedhana memberikan petunjuk kepada Bapak Kadek Sumanila dalam rangka persiapan melasti dan nyepi

Rapat PHDI Gresik untuk membahas teknis pelaksanaan melasti dan nyepi

Rapat dan persiapan terakhir sebelum pelaksanaan melasti

Pagi-pagi para umat sudah berdatangan ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan bahkan Bu Dayu jam 3 pagi sudah ke pura memasak bersama ibu-ibu. Jam 7 Bapak Kadek Sumanila bersama Ayahanda dan Ibunda datang, kemudian diikuti umat yang lain. Kemudian kami sarapan pagi.

Bapak Kadek Sumanila beserta Bapak dan Ibu serta Pemangku

Bu Dayu mempersiapkan banten

Bapak Kadek Sumanila unjuk kebolehan memasak

Mempersiapkan mobil untuk tempat jempana

Grup Karawitan Diah Laras Kamulan

Persembahyangan bersama sebelum berangkat melasti

Jam 09.30WIB, rombongan melasti berangkat menuju Pura Penataran Agung Margo Wening, Krembung – Sidoarjo karena akan melasti bersama-sama ke Petirtan Suci Jolotundo. Sedangkan rombongan karawitan “Laras Diah Kemulan” langsung berangkat ke Petirtan Suci Jolotundo.

Umat ditirta sebelum berangkat

Jempana dikeluarkan dari pura

Jempana di naikkan ke mobil

Jempana

Mangku Komang Budiasa menjaga jempana dan menjaga agar dupa terus menyala selama dalam perjalanan

Disana sudah ditunggu oleh Mahasiswa Hindu ITS Surabayayang bergabung dengan para Bhakta Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan juga Bhakta Pura Penataran Agung Margo Wening. Keikutsertaan para mahasiswa tersebut sangat berarti bagi kami karena kami sangat kekurangan personil untuk membawa banten dan jempana, apalagi para bhakta dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan juga banyak yang sudah sepuh sehingga tidak kuat membawa banten dan jempana. Apalagi kami akan melakukan napak tilas dari pertigaan jalan yang menuju ke Jolotundo, yang mana jalannya jauh sekitar 2km dan jalan yang sangat menanjak curam, sehingga kehadiran para mahasiswa bisa dibilang merupakan mujijat yang diturunkan oleh Para Dewa dan Para Leluhur yang disuruh untuk membantu kami.

Jempana dibawa ke Pura Penataran Agung Margo Wening Sidoarjo

Mahasiswi ITS membantu membawakan Pretima

Para penari mengiringi pretima masuk pura

Sekaha beleganjur Pura Penataran Agung Margo Wening

Di Pura Penataran Agung Margo Wening kami makan siang yang disediakan oleh pihak pura, kemudian kami melaksanakan sembahyang bersama.

Makan Siang

Persembahyangan bersama

Sekitar jam 1 siang kami berangkat bersama-sama menuju Petirtan Suci Jolotundo.

Menuju ke Jolotundo

Petirtan Suci Jolotundo merupakan tempat petirtan Prabu Airlangga. Disana terdapat dua tempat pemandian yang dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Dibawahnya terdapat kolam ikan dengan ikan koi yang besar-besar dan banyak. Oleh karena itu kita dilarang mandi menggunakan sabun, shampo ataupun benda-benda yang dapat mencemari air suci tersebut. Menurut orang-orang disana, dulu terdapat candi dan batu-batu prasasti, tetapi sekarang candinya sudak tidak berbentuk lagi. Ditempat lain disekitar petirtan terdapat petilasan Patih Narotama. Patih Narotama adalah patih Prabu Airlangga.

Petirtan Suci Jolotundo

"Ponco Waliko", terdapat di Petilasan Patih Narotama

Dipertigaan Jolotundo kami dari Umat Hindu Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan Mahasiswa ITS turun dari kendaraan, sedangkan yang dari Pura Penataran Agung Margo Wening turun di Petilasan Narotama. Setelah terengah-engah dan terpegal-pegal, akhirnya kami sampai juga di Petirtan Suci Jolotundo. Disana ternyata juga terdapat Bhakta dari pura lain, yaitu Pura Watu Kosek dan  pura dari Bangil yang ikut melasti disana. Jadinya suasananya ramai sekali. Apalagi dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan membawa karawitan jawa dan Pura Penataran Agung Margo Wening membawa baleganjur / gong bali. Selama para Pemangku ngaturang piuning, gamelan tiada hentinya berbunyi bersahut-sahutan.

Perjalanan menuju Petirtan Suci Jolotundo

Pasukan pembawa jempana

Tinggal beberapa ratus meter lagi

Akhirnya sampai juga di Petirtan Suci Jolotundo

Jempana di tempatkan di petirtan

Jempana dan pretima berjejer di Petirtan Suci Jolotundo

Pajenengan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan

Selanjutnya sambutan dari Ketua PHDI Kab. Sidoarjo, yang menyampaikan arti dan makna dari melasti tersebut. Melasti yang merupakan rangkaian dari Hari Raya Nyepi yang bermakna membersihkan dan membuang segala macam kotoran baik yang skala maupun niskala sehingga kita bisa lebih khusuk dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian pada hari Nyepi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning Sembah dilanjutkan nunas tirta dan bija. Kemudian dilanjutkan dengan mecaru. Setelah itu kemudian pembersihan pretima-pretima dengan dicelupkan di kolam Petirtan Suci Jolotundo.

Pak Sai mekidung jawa

Persembahyangan bersama

Nunas tirta dan bija

Mecaru

Penyucian pretima

Sekitar pukul 5 sore rangkaian upacara di Petirtan Suci Jolotundo selesai, para bhakta kembali ke pura masing-masing. Rombongan bahkta dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan Pura Penataran Luhur Margo Wening kembali ke Pura Penataran Agung Margo Wening. Di Pura Penataran Agung Margo Wening kami istirahat  dan makan malam selanjutnya sembahyang bersama. Setelah itu para Bhakta Pura Penataran Luhur Medang Kamulan kembali ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan di Desa Mondoluku. Setelah sembahyang bersama, sebagian umat kembali ke rumah masing-masing sedangkan yang lainnya mekemit di pura.

Pretima dibawa ke pura

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Rapat Koordinasi Panitia Renovasi Pura Penataran Luhur Medang Kamulan

OmSwastiatu,

Hari Selasa, 14 Pebruari 2012 di Rumah Bapak Wongsonegoro, Bongso Wetan dilaksanakan rapat koordinasi Panitia Renovasi Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Hadir dalam rapat tersebut seluruh panitia renovasi dan Ketua Harian Rumah Tangga Pura, Bapak I Gusti Putu Raka.

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Dalam rapat tersebut, Ketua Panitia Renovasi Pura, Bapak Kadek Sumanila menyampaikan beberapa hal antara lain, bahwa proposal sampai saat ini sudah jadi sebanyak 50 bendel dan dibagikan kepada pengurus untuk dapat mulai diberikan kepada para bhakta yang ingin menyumbang, pembangunan tembok penyengker, bakti social dan sebagainya. Juga ada tugas kepada Bapak Mangku Komang Budiasa agar segera membuat gambar untuk dapur, kamar mandi dan gudang. Kamar mandi dipisah dengan dapur.

Juga dalam rapat juga disinggung untuk melasti menyesuaikan dengan Pura Penataran Agung Margo Wening yang diusahakan pada hari Sabtu supaya tidak berbenturan dengan melasti di Pura Surabaya. Untuk kendaraan supaya diatur oleh Bapak Made Subakta, persiapan konsumsi untuk umat yang ikut melasti, Juga pada malam harinya umat mekemit di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan secara bergiliran, dalam melasti ikut melibatkan pihak ITS, UPN dan  WK.

Melasti dilaksanakan di Pemadian Jolotundo, umat berjalan dari pertigaan jalan masuk ke Jolotundo sampai ke Tempat Pemandian Jolotundo dan akan diiringi oleh gong dan tarian jawa dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bapak Mangku Pardi akan membantu dalam acara ritual dalam cara ritual jawa. Sedangkan Bapak Mangku Komang Budiasa akan membantu dalam ritual secara bali.

Acara kemudian dilanjutkan dengan rapat rumah tangga pura. Dalam acara tersebut Ketua Harian Rumah Tangga Pura, Bapak I Gusti Putu Raka memaparkan jumlah saldo pada akhir Januari 2012.  Juga diminta kesediaannya bagi yang belum terdaftar sebagai pengempon pura agar segera mendaftar.

Bapak Putu Suartana mengusulkan agar dalam laporan bulanan dicantumkan nomor rekening supaya umat yang mau membayar tidak harus bertemu dulu dengan bendahara tetapi bisa mentransfer lewat bank. Bapak Mangku Komang Budiasa mengusulkan agar dibuat semacam kartu daftar supaya bisa mengetahui apakah iurannya sudah lewat bulan atau belum.

Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam yang dijamu oleh Bapak Wongso Negoro. Setelah itu acara selesai.

OM Shanti Shanti ShantiOm

Rapat Panitia Renovasi Pura

Hari Rabu Umanis 18 Januari 2012 di rumah Bapak Wongso Negoro, Bongso Wetan dilaksanakan rapat panitia renovasi Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Panitia Renovasi, Bapak Kadek Sumanila dan dihadiri oleh seluruh anggota panitia renovasi. Rapat dimulai pukul 19.00 WIB berlangsung dalam suasana santai tapi serius.

Adapun agenda rapat adalah untuk membahas kelanjutan renovasi yang meliputi pembangunan mandala utama pura lengkap dengan isinya antara lain: padmasana, penglurah, petirtan, gedongan, bale pawedan dan bale panyimpenan. Juga pembangunan wantilan, pagar pura, pelinggih penunggun karang dan Dapur/Kamar Mandi.

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Rapat Panitia Renovasi

Ibu Tutik sedang membacakan hasil-hasil rapat

Rapat dimulai oleh Bapak Kadek Sumanila yang menjabarkan rencana kegiatan kedepannya antara lain bahwa target mlaspas alit mandala utama akan dilaksanakan pada purnama ketiga, pensterilan mandala utama, pembebasan tanah belakang pura, pembuatan surat pinjam pakai untuk tanah milik Pak Giman, Pembelian sebuah sepeda motor untuk transportasi, pengurusan sertifikat tanah pura dan penanggungjawab masing-masing sektor kerja.

Juga disampaikan bahwa padma yang dibuat di Tulungagung, setelah nyepi akan digeser/dibawa ke Surabaya. Bangunan-bangunan pura akan dibuat dengan corak jawa.

Kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghasilkan kesepakatan:

  1. Penanggungjawab seluruh kegiatan dilakukan oleh Bapak Kadek Sumanila
  2. Pembuatan proposal oleh Bapak Made WK. Proposal diharapkan selesai dalam waktu satu minggu.
  3. Pembuatan denah pura oleh Bapak Putu Suartana
  4. Pengurusan sertifikat oleh Bapak Satiman.
  5. Pembangunan penunggun karang oleh Bapak Putu Suartana
  6. Pembangunan pondasi dilakukan bersama-sama
  7. Wantilan oleh Bapak Wongso Negoro
  8. Dapur dan Kamar mandi oleh Bapak I Gusti Putu Raka dan Bapak Kadek Sumanila
  9. Pembuatan pagar oleh Bapak Satiman, Bapak Gawayasa, Bapak Made Subakta dan Bapak Sai
  10. Penglurah, Petirtan dan Gedongan oleh Bapak AA Ketut Arimbawa dan Yayasan Padma Siwa Buana
  11. Pawedan oleh Bapak Prof Ketut Buda
  12. Gedong Penyimpenan, Pesantian oleh Bapak Kadek Sumanila
  13. Kober oleh Bapak Wayan.

Demikian dan setelah itu dilaksanakan jamuan makan malam oleh Bapak Wongso Negoro. Setelah itu acara selesai.

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Persembahyangan Tumpek Landep Dan Tirta Yatra Bali Post Grup Dan Kerja Bhakti Mahasiswa Hindu ITS

OM SUASTIASTU

Sabtu Kliwon Landep tanggal 3 Desember 2011 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan persembahyangan dalam rangka Hari Tumpek Landep. Hadir dalam acara tersebut pengurus rumah tangga pura yaitu Bapak Kadek Sumanila dan Ibu, Bapak Putu Raka dan Ibu, Bapak Gawayasa, Bapak Sai, Bapak Putu Suartana, Bapak Wayan Sumitra, Ibu Dayu serta seluruh Umat Hindu Mondoluku. Juga kami kedatangan tamu dari Bali Post Group yaitu Bapak Nyoman Sudapet (Surabaya TV, selaku pimpinan rombongan), Bapak Kadek Dwipayana dan Bapak Bambang (Bali Post), Bapak Made Sudiksa dan Bapak Nyoman Denny (Surabaya TV) dan Bapak Hadi (Bisnis Surabaya).  Kami juga kedatangan tamu dari Mahasiswa Hindu ITS yang dipimpin oleh Bapak Prof Nyoman Sutantra dan Bapak Prof Ketut Buda. Mahasiswa ini akan melaksanakan kerja bhakti meratakan urugan tanah yang akan digunakan sebagai mandala utama pura. Juga ada umat lain yang merupakan sekaha gamelan dan juga sinden. Kami juga kedatangan rombongan aparat Desa Mondoluku yang dipimpin oleh Kades Mondoluku Bapak H. Riman.

Bapak Wayan Sumitra, Bapak Sai, Bapak Prof Ketut Buda, Bapak IGusti Putu Raka

Para Umat Sedharma dan Perangkat Desa Mondoluku

Acara dimulai dengan persembahyangan bersama. Bapak Mangku Supardi selaku pemimpin persembahyangan melakukan rangkaian upacara yaitu pertama ngaturang piuning di pelinggih Surya Majapahit dan Lingga Yoni.

Para Pemangku sedang ngaturang piuning

Setelah itu dilanjutkan dengan penyucian tiga buah keris di Mandala Pura. Penyucian keris dalam rangka Hari Raya Tumpek Landep.

Mangku Supardi melakukan penyucian keris pura dalam rangka tumpek landep

Kemudian baru persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning Sembah dilanjutkan dengan nunas tirta dan bija.

Para Pemangku yang memimpin persembahyangan

Umat Sedharma sedang melaksanakan persembahyangan

Ibu-Ibu sedang mekidung

Nunas Tirta dan Bija

Setelah selesai persembahyangan, umat kemudian berkumpul di wantilan pura untuk melaksanakan acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan dan dharma tula yang dipandu oleh Bapak Gawayasa. Sambutan pertama disampaikan oleh Bapak Kadek Sumanila selaku ketua rumah tangga pura. Bapak Kadek menjelaskan tentang sejarah pura, pelinggih Lingga Yoni dan Surya Majapahit, juga memperkenalkan para pengurus rumah tangga pura. Bapak Kadek juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kades Mondoluku dan semua aparat desa yang sangat mendukung keberadaan pura disini. Juga karena beliau menjamin keamanan pura dan juga tidak menganaktirikan keberadaan Umat Hindu di Mondoluku meskipun umatnya sangat sedikit.

Bapak Nyoman Gawayasa memandu acara

Bapak Kadek Sumanila memberikan sambutan

Sambutan selanjutnya dari Bapak Nyoman Sudapet selaku wakil dari Bali Post Grup. Beliau menyampaikan tentang keberadaan media TV Lokal yaitu Surabaya TV yang mempunyai acara untuk menyampaikan acara tentang budaya-budaya lokal  yang ada di daerah Surabaya dan sekitarnya. Demikian juga pihak Surabaya TV akan selalu menyiarkan kegiatan-kegiatan upacara yang dilakukan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan sehingga masyarakat bisa mengetahui dan mempunyai keinginan untuk bersembahyang di pura tersebut. Bahkan lewat Media Bali Post dan Bali TV  juga akan ikut menyiarkan sehingga orang Bali Juga bisa mengetahuinya. Bapak Sudapet juga terkesan dengan kerukunan antara Umat Hindu dengan Umat Muslim yang ada di Desa Mondoluku. Terbukti Umat Muslim ikut menjadi sekaha gamelan pura. Jarang sekali didaerah lain melakukan hal yang sama tersebut. Bapak Sudapet juga menawarkan agar para sekaha gamelan bisa tampil di Surabaya TV karena Surabaya TV punya acara yang bernama Campursari.

Bapak Nyoman Sudapet memberikan sambutan

Kemudian sambutan dari Bapak Prof Nyoman Sutantra selaku wakil dari ITS menyampaikan bahwa Mondoluku itu adalah Miniatur Nusantara. Cuma di Mondoluku semboyan Bhinneka Tunggal Ika dilaksanakan dengan benar. Didaerah lain semboyan itu cuma sekedar semboyan. Sebagaimana Mpu Tantular yang menelurkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa karena melihat bagaimana rukunnya masyarakat di Kerajaan Majapahit meskipun mereka mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Kerukunan dan keharmonisan dalam keberagaman menciptakan keindahan. Hal itu terlihat dalam filosofi gamelan jawa yang kita lihat ini. Didalam gamelan jawa ada berbagai macam gamelan yang apabila dipukul atau dilagukan dengan harmonis akan tercipta musik yang enak didengar. Kerukunan akat tercipta apabila masyarakat itu bisa bersatu dan tidak saling menyakiti satu dengan yang lain. Bapak Prof Nyoman juga mengucapkan terima kasih kepada Aparat Desa Mondoluku yang telah menjaga Umat Hindu di Mondoluku.

Bapak Prof Nyoman Sutantra memberikan sambutan

Sambutan terakhir dari Bapak H. Riman selaku Kepala Desa Mondoluku, menyampaikan bahwa beliau sangat senang dengan kedatangan Umat Hindu dari tempat lain untuk membantu Umat Hindu Mondoluku. Apalagi kemudian kedatangan mereka juga untuk membantu mengangkat perekonomian seluruh warga Desa Mondoluku. Bapak Kades juga menyampaikan bahwa akan selalu melindungi semua warga meskipun berbeda keyakinan. Meski berbeda suku dan agama tetapi mereka tetap Mondoluku. Makanya meski Umat Hindu di sini masih sedikit beliau tidak akan membeda-bedakan.

Kepala Desa Mondoluku Bapak H. Riman memberikan sambutan

Acara kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Setelah itu rombongan dari Aparat Desa Mondoluku mohon diri.

sedang menikmati makan siang

Bapak Kadek Sumanila sedang diwawancarai wartawan Surabaya TV

Bapak I Gusti Putu Raka, Bapak Kadek Sumanila, Bapak I Nyoman Gawayasa dan Bapak H. Riman

Pada kesempatan itu Bapak Ketut Sukarta menyumbangkan pohon dadap, pohon jepun dan pohon sandat kepada pura yang langsung ditanam dibelakang pura oleh para mahasiswa ITS.

Mahasiswa sedang menanam pohon bunga sumbangan dari Bapak Ketut Sukarta

Selanjutnya dilaksanakan acara dharma tula di wantilan pura. Tetapi karena hujan deras disertai angin kencang, dharma tula tidak dapat berjalan dengan efektif. Dalam dharma tula Bapak Prof Nyoman Sutantra menyampaikan agar kita semua bisa jujur baik kepada diri sendiri, orang tua dan juga orang lain. Salah seorang mahasiswa bertanya apakah kita boleh berbohong demi kebaikan. Bapak Prof menjawab boleh, asal dilakukan kepada musuh. Tetapi yang penting kita harus bijaksana dalam menghadapi suatu persoalan agar bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

Bapak Prof Nyoman Sutantra dalam acara dharma tula

Hujan lebat menyebabkan wantilan kebanjiran

Setelah dharma tula dan hujan pun berhenti turun, para mahasiswa melakukan kerja bhakti meratakan urukan tanah yang akan dibuat mandala utama pura.

Para Mahasiswa kerja bhakti meratakan urugan

Bapak Kadek Sumanila memberikan penjelasan renovasi pura kepada Bapak Nyoman Sudapet

Sementara Bapak Nyoman Sudapet menyerahkan sumbangan yang diterima oleh Bapak Kadek Sumanila sebagai wakil pura.

Selajutnya acara selesai

Bu Putu, Bu Dayu, Bu Kadek

Foto Bersama

Bapak I Gusti Putu Raka, Bapak Prof Nyoman Sutantra, Bapak Kadek Sumanila, Bapak Prof Ketut Buda

Berikut video dari Surabaya TV

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Persembahyangan Pagerwesi Di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan

OM SUASTIASTU

Hari Rabu Kliwon Shinta tanggal 23 Nopember 2011 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan diadakan persembahyangan bersama dalam rangka Hari Raya Pagerwesi. Persembahyangan dimulai pukul 19.00 WIB dan dilaksanakan di wantilan pura karena waktu itu hujan lebat sehingga tidak dapat melaksanakan persembahyangan di Mandala Utama.

Persembahyangan dipimpin oleh Mangku Supardi dan diikuti oleh para pengurus rumah tangga pura yaitu Bapak I Gusti Putu Raka, Bapak I Nyoman Gawayasa, Bapak Sai, Bapak Putu Suartana  juga Ibu Dayu dan juga semua Umat Hindu Desa Mondoluku. Juga ikut Bapak Wayan Sumitra dari Gresik Kota.  Adapun rangkaian upacara dimulai dengan Tri Sandhya trus Panca sembah dan dilanjutkan nunas tirta dan bija.

Para Pemangku yang memimpin persembahyangan

Persembahyangan

Persembahyangan

Setelah itu dilanjutkan dengan Dharma Wacana yang disampaikan oleh Bapak Gawayasa dan Bapak Sai. Bapak Gawa menjelaskan bahwa Hari Raya Pagerwesi adalah merupakan rangkaian dari Hari Raya Saraswati yang bermakna bahwa kita harus memagari diri dengan kebijakan setelah mencari ilmu pengetahuan. Kita juga harus bersatu sehingga menjadi lebih kuat karena setiap saat selalu mandapat godaan dan cobaan yang semakin besar. Karena itu Bapak Gawa meminta agar Umat disini selalu sembahyang di sini setiap sore dan juga semakin sering berlatih mekidung. Bapak Gawa juga berkeinginan agar setiap persembahyangan ada seorang pendharma wacara yang bisa menjelaskan makna hari raya tersebut.

Pak Gawayasa sedang memberikan sambutan

Bapak Sai dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa rangkaian Saraswati selalu ditutup dengan Pagerwesi. Saraswati merupakan ilmu pengetahuan baik itu ilmu agama maupun ilmu keduniawian. Tapi saat ini ilmu agama cuma mendapat porsi 20% di sekolah-sekloah sisanya Ilmu Keduniawian (material). Seperti umat yang ada di Mondoluku, hampir tidak mendapatkan ilmu agama sehingga tidak tahu apa saja hari raya Hindu apalagi makna hari raya tersebut dan pelaksanaanya. Karena itu akan menjadi tugas dari parisadha dan juga orang luar yang mengerti Agama Hindu untuk menyampaikan tentang Agama Hindu disini. Pak Sai juga meminta agar Umat Hindu disini bersatu dan tidak mudah terprovokasi baik dari dalam maupun dari dalam. Karena kalau bersatu maka kita akan menjadi kuat dan mempunyai nilai. Tetapi kalau bercerai-berai kita akan hancur dan tidak mempunyai nilai lagi. Pak Sai juga meminta agar para pemangku harus bisa tabah dan bisa ngemong uamt disini.

Pak Sai memberikan sambutan

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam.

Makan Malam

Setelah itu para umat pulang kerumah masing-masing.

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.