Agama Hindu

WEDA

Sastra Hindu

Sastra Hindu kebanyakan ditulis dalam bahasa Sansekerta. Kata “sastra”, berakar dari kata Shastra yang merujuk pada ilmu pengetahuan secara umum yang tidak lekang oleh waktu. Sastra Hindu dibagi atas dua bagian besar yaitu Śruti — yang di dengar (wahyu) dan Smrti — yang di ingat (tradisi, bukan wahyu).

Veda sebagai sastra suci utama bagi umat Hindu, merupakan bagian dari Sruti, karena didasarkan pada penerimaannya melalui wahyu langsung dari Brahman melalui para Maharsi dan ajarannya disebarkan melalui tradisi lisan turun-temurun (pada masa turunnya Veda, manusia belum menemukan tulisan). Sedangkan yang termasuk dalam kategori Smrti adalah Dharmasastra (kitab hukum), Itihasa (sejarah), Sutra, Agama, Darshana (filsafat). Mahakarya Mahabharata dan Ramayana termasuk dalam bagian dari Smrti, dikarenakan kedua epos tersebut masuk dalam kategori Itihasa.

Pengertian Weda

Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.

Weda secara ethimologinya berasal dari kata “Vid” (bahasa sansekerta), yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.

Bahasa Weda

Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.

Pembagian dan Isi Weda

Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.

Srutistu wedo wijneyo dharma, sastram tu wai smerth, te sarrtheswamimamsye tab, hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).

Artinya:

Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)

Weda khilo dharma mulam, smrti sile ca tad widam,     acarasca iwa sadhunam, atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).

Artinya:

Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).

Srutir wedah samakhyato, dharmasastram tu wai smrth, te Sarwatheswam imamsye, tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).

Artinya:

Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.

Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.

Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:

SRUTI

Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda tersebut adalah:

Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.

Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.

Sama Weda Samhita.

Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini.

Yajur Weda Samhita.

Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.

Atharwa Weda Samhita

Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.

Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerahPunjab. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.

Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.

Kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda.

SMERTI

Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.

Kelompok Wedangga:

Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:

1. Siksa (Phonetika)

Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.

2. Wyakarana (Tata Bahasa)

Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.

3.  Chanda (Lagu)

Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.

4. Nirukta

Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.

5.  Jyotisa (Astronomi)

Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.

6.   Kalpa

Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih lanjut, bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.

Kelompok Upaweda:

Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

1. Itihasa

Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata “Iti”, “ha” dan “asa” artinya adalah “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”) maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa

Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.

2. Purana

Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

3. Arthasastra

Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti.Adabeberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra.Adabeberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.

4.   Ayur Weda

Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja.

Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.

5.   Gandharwaweda

Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni.Adabeberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.

Sastra suci Veda sebagai sastra utama bagi umat Hindu, termasuk ke dalam Śruti. Veda merupakan susastra Hindu tertua yang masih ada dan diyakini kebenarannya oleh umat Hindu hingga saat ini. Keberadaan Veda sehingga bisa tetap ada tidak lepas dari ajarannya yang memuat kebenaran dan diturunkan secara turun temurun dari orang tua ke anak cucu, dari guru kepada siswanya dengan cara tradisi oral (sastra lisan). Budaya menurunkan ilmu pengetahuan ini tetap berlangsung dalam waktu yang sangat lama sebelum akhirnya Veda dikodifikasi dan dikompilasi oleh seorang Rsi yang digelari Veda Vyasa (secara harfiah, “dia yang membagi Veda) Beliau diberikan nama tersebut, sebagai penghormatan atas kemampuannya dan memilah sekumpulan besar ilmu pengetahuan dan lagu-lagu pujian (hymne) yang terkandung dalam Veda dan membagi menjadi bagian-bagian agar mudah dipahami dan dipelajari oleh umat manusia.Paraahli setuju bahwa Veda disusun sekitar 1500 – 600 tahun SM.

Sastra Veda terbagi atas empat bagian yang dikenal dengan Catur Veda, Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Veda tertua adalah Rgveda memuat lebih dari 1000 sloka, kidung pemujaan bagi para dewa-dewi sebagai manifestasi dari Brahman, pencipta alam semesta.

Upanisad

Upanisad (Aksara Dewanagari: उपनिषद्, IAST: upaniṣad) termasuk dalam Sruti merupakan bagian dari Veda, disamping sastra-sastra Brahmana. Upanisad memuat ajaran filsafat, meditasi serta konsep ketuhanan.

Upanisad disusun dalam jangka waktu yang panjang, upanisad yang tertua diantaranya Brhadaranyaka Upanisad dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke delapan sebelum masehi. Merujuk pada Ashtadhyayi yang disusun oleh Maharsi Panini, jumlah upanisad yang ada sebanyak 900. Begitu pula Maharsi Patanjali menyatakan jumlah yang sama. Namun saat ini kebanyakan sudah musnah seiring dengan waktu

Catur Yuga

Dalam ajaran agama Hindu, Yuga (Devanagari: युग) adalah suatu siklus perkembangan zaman yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat zaman:

  • Satya Yuga /Krita Yuga,
  • Treta Yuga
  • Dwapara Yuga
  • Kali Yuga

Dalam ajaran Hindu, perubahan dunia berlalu seiring dengan empat zaman, dimana keempat zaman tersebut terus berputar, memakan waktu ribuan tahun, dari masa keemasan menuju masa kehancuran, dan demikian sebaliknya.

Satya Yuga

Disebut juga Sat Yuga, Kṛta Yuga (= Kerta Yuga / Krita Yuga) dalam ajaran agama Hindu, adalah suatu kurun zaman yang disebut sebagai “zaman keemasan”, ketika umat manusia sangat dekat dengan Tuhan dan para Dewa, ketika kebenaran ada dimana-mana, dan kejahatan adalah sesuatu yang tak biasa.

Satya Yuga (Krita Yuga atau Kerta Yuga), merupakan tahap awal dari empat (catur) Yuga. Siklus Yuga merupakan siklus yang berputar seperti roda. Setelah Satya Yuga berakhir, untuk sekian lamanya kembali lagi kepada Satya Yuga. Satya Yuga berlangsung kurang lebih selama 1.700.000 tahun. Setelah masa Satya Yuga berakhir, disusul oleh masa Treta Yuga. Setelah itu masa Dwapara Yuga, lalu diakhiri dengan masa kegelapan, Kali Yuga. Setelah dunia kiamat pada akhir zaman Kali Yuga, Tuhan yang sudah membinasakan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh memulai kembali masa kedamaian, zaman Satya Yuga.

Satya Yuga merupakan zaman keemasan, ketika orang-orang sangat dekat dengan Tuhan. Hampir tidak ada kejahatan. Pelajaran agama, penebusan dosa, dan meditasi (mengheningkan pikiran) merupakan sesuatu yang sangat penting pada zaman ini. Konon rata-rata umur umat manusia bisa mencapai 4.000 tahun ketika hidup di zaman ini. Menurut Natha Shastra, di masa Satya Yuga tidak ada Natyam karena pada masa itu semua orang berbahagia.

Pada masa Satya Yuga, orang-orang tidak perlu menulis kitab, sebab orang-orang dapat berhubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa. Pada masa tersebut, tempat memuja Tuhan tidak diperlukan, sebab orang-orang sudah dapat merasakan di mana-mana ada Tuhan, sehingga pemujaan dapat dilakukan kapanpun dan di manapun.

Treta Yuga

Menurut ajaran agama Hindu, Treta Yuga (Devanagari: त्रेतायुग) adalah jenjang zaman yang kedua dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Satya Yuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Treta Yuga merupakan zaman sebelum Dwapara Yuga. Zaman ini berlangsung selama 1.296.000 tahun.

Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap zaman berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu. Zaman Satya Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, mantap. Pada masa Treta Yuga, lembu Dharma berdiri dengan tiga kaki.

Pada zaman ini, manusia mulai melakukan dosa-dosa. Penjahat mulai bermunculan. Namun semua masih berjalan seimbang. Aktivitas yang berhubungan dengan agama dan kerohanian terjadi dimana-mana dan sangat erat dengan kehidupan manusia . Pada zaman ini muncul berbagai peristiwa. Peristiwa yang paling terkenal adalah munculnya Awatara Wisnu yang kelima, keenam, dan kedelapan, yakni: Wamana Awatara, Parasurama Awatara, dan Rama Awatara.

Dwapara Yuga

adalah jaman ketiga dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Treta Yuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Dwapara Yuga merupakan zaman sebelum Kali Yuga. Zaman ini berlangsung selama 864.000 tahun. Merujuk pada apa yang tertulis di dalam Purana, jaman Dwapara Yuga berakhir di kalaKrishnakembali ke kediaman abadinya di Vaikuntha.

Kali Yuga

Dalam ajaran agama Hindu, Kali Yuga (Devanagari: कली युग) (disebut juga: “zaman kegelapan”) adalah salah satu dari empat jenjang zaman yang merupakan siklus dari Yuga. Jenjang yang lain bernama Dwapara Yuga, Treta Yuga, dan Satya Yuga. Menurut Surya Siddhanta (kitab ilmu astronomis yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu dan Buddha), Kali Yuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian, atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun.

Kebanyakan umat Hindu meyakini sekarang adalah masa Kali Yuga, meskipun ada yang mengatakan sekarang masa Dwapara Yuga. Menurut Sri Yukteswar, semenjak tahun 1699 Masehi, bumi telah memasuki kembali zaman Dwapara Yuga. Namun, dilihat dari situasi dan kondisi, bagi kebanyakan umat Hindu, zaman sekarang cenderung menunjukkan tanda-tanda zaman Kali Yuga. Semenjak tahun 3102 SM sampai sekarang, zaman Kali Yuga baru berjalan selama kurang lebih 5000 tahun.

Kata “Kali” dalam Kali Yuga tidak sama dengan Dewi Kali. Dalam kata Kali Yuga, Kali berarti: perselisihan, permusuhan, persaingan, atau perkelahian. Sedangkan kata “Kali” pada Dewi Kali berarti “waktu”.

Tanda-tanda zaman Kali Yuga

Dalam kitab Wisnu Purana dituturkan:

Pada masa Kali Yuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot….. Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.”

  • Pada zaman Kali Yuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran. Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.
  • Pada zaman Kali Yuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang.
  • Pada zaman Kali Yuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.
  • Pada zaman tersebut, umat manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah.
  • Pada zaman Kali Yuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya akan dicela danKama(nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia.
  • Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera. Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.
  • Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya Kali Tuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kali Yuga sudah mendekat.

Bagawad Gita

Bhagawad Gita (Sansekerta  atau Bhagawad Gītā atau Bhagawad Gîtâ, artinya adalah Nyanyian sang Bagawan (orang suci). Bhagawad Gita adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini sang Kresna adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran falsafinya kepada sang Arjuna yang menjadi pendengarnya.

Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada Bhismaparwa. Adegan ini terjadi pada permulaan Bharatayuddha. Saat itu Arjuna berdiri di atas bukit dan memandang ke bawah, ke tempat seberang di mana berada para Korawa dan sekutu-sekutu mereka. Arjuna harus memerangi mereka semua, tetapi ia dilanda kesedihan dan kebimbangan. Karena meskipun mereka pernah berbuat jahat terhadapnya, mereka tetap saudara-saudari dan sahabat-sahabat yang sudah ia kenal dan dikasihinya. Lalu ia diberi wejangan dan nasehat-nasehat oleh Kresna yang berlaku sebagaisaisArjuna.

Penulis Bhagawad Gita tidaklah dikenal, tetapi yang jelas bukanlah Vyasa yang dikatakan menggubah Mahabharata. Yang bisa dikatakan dari penulis Bhagawad Gita, ialah bahwa ia pasti seorang brahmana dan juga seorang waisnawa, atau pemuja Batara Wisnu. Selain itu ia adalah seorang filsuf yang sangat pandai dan besar daya khayalnya.

Bhagawad Gita yang kekal

Bagaimana pun juga, penulis Bhagawad Gita tidak diketahui secara pasti karena Bhagawad Gita merupakan ajaran agama Hindu yang sangat tua sekali umurnya. Umat Hindu meyakini, Bhagawad Gita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan.

Dalam Bhagawad Gita, Tuhan melalui perantara Sri Kresna bersabda:

Śrī bhagavān uvāca: imam vivasvate yogam proktāvan aham avyayam vivasvān manave prāha manur iksvāke ‘bravit (Bhagavad Gītā, 4.1)

Arti: Sri Bhagawan (Kresna) bersabda: Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yang abadi ini kepada Dewa matahari, Vivasvan. Vivasvan mengajarkan ilmu ini kepada Manu, ayah manusia. Manu mengajarkan ilmu ini kepada Iksvaku.

Pada sloka di atas, Tuhan berkata kepada Arjuna, bahwa ajaran dalam Bhagawad Gita sudah pernah ia jabarkan kepada Vivasvan, Sang Dewa matahari, sebelum ia tuturkan kepada Arjuna pada saat perang Bharatayuddha akan berlangsung. Berarti Bhagawad Gita yang disampaikan kepada Arjuna merupakan ajaran yang dituturkan kembali untuk yang kedua kalinya oleh Tuhan.

Menurut Kresna, Dewa mataharilah yang pertama kali menerima ajaran Bhagawad Gita, lalu ia bersabda pada putranya, Manu. Manu menurunkan ajaran Bhagawad Gita kepada Iksvaku, maharaja di bumi. Pada masa itu ajaran-ajaran Bhagawad Gita disampaikan secara lisan. Bhagawad Gita disusun sebagai sebuah kitab oleh Bhagawan Vyasa setelah umat manusia mengenal tulisan.

Menurut penjelasan yang dijabarkan kitab Bhagawad Gita, bagaimanapun penafsiran seseorang terhadap asal muasal Bhagawad Gita, iatidak akan pernah menemukan kepastian jika masih terikat dengan hal-hal duniawi. Ajaran Bhagawad Gita bersifat apauruseya, artinya melampaui kekuatan manusia.

Masa Penulisan

Bhagawad Gita ini dikatakan mendapat pengaruh dari keenam aliran Hindu atau sad darsana, terutama dari aliran Samkhya, Yoga dan Wedanta.Parapakar berpendapat bahwa syair ini ditulis kurang lebih pada abad ke dua ata ketiga Masehi.

Kitab ini terdiri dari 18 bagian:

  1. Bagian pertama, Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna, setelah menyadari akibat akan peperangan yang akan terjadi, dinilai bertentangan dengan ajaran Dharma. Dalam bab ini, termasuk didalamnya penggambaran situasi dan kondisi yang berlangsung di Padang Kuru, tempat terjadinya perang saudara terbesar dalam sejarah umat manusia.

Pertentangan ajaran Dharma yang terjadi dalam diri Arjuna, antara lain adalah:

  1. Ahimsa
  2. Larangan membunuh guru sebagai dosa besar (mahā pataka)
  3. Ajaran Vairāgya, sebagai sistem pencapaian tujuan moksa.
  4. Kemerosotan moral dan musnahnya tradisi leluhur, sebagai ekses terjadinya peperangan.
  5. Kekacauan dalam sistem varnāśrama-dharma termasuk persepsi timbulnya kekacauan dalam jātidharma dan dharma

Atas pemikiran bahwa, peperangan itu bertentangan dengan Dharma, Arjuna mengharapkan bimbingan kari Krisna untuk keluar dari kebingunggan ini.

  1. Bagian kedua, Samkhya Yoga, menguraikan yoga dan samkhya
  2. Bagian ketiga, Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  3. Bagian keempat, Jñana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  4. Bagian kelima, Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  5. Bagian keenam, Dhyana, menguraikan tentang makna Dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  6. Bagian ketujuh, Jñana Wijñana, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  7. Bagian kedelapan, Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan Kekekalan Tuhan
  8. Bagian kesembilan, Raja Widya Rajaguhya Yoga, Hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  9. Bagian kesepuluh, Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  10. Bagian kesebelas, Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Vibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  11. Bagian keduabelas, Bhakti Yoga, menguraikan mencapai yoga dengan bhakti
  12. Bagian ketigabelas, Ksetra Ksetrajña Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  13. Bagian keempatbelas, Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna – Sattvam, Rajas dan Tamas
  14. Bagian kelimabelas, Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  15. Bagian keenambelas, Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  16. Bagian ketujuhbelas, Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  17. Bagian kedelapanbelas, Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yg menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.

Ramayana

Ramayana dari bahasa Sansekerta (रामायण) Rāmâyaa yang berasal dari kata Rāma dan Ayaa yang berarti “Perjalanan Rama”, adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Cerita epos lainnya adalah Mahabharata.

Ramayana terdapat pula dalam khazanah sastra Jawa dalam bentuk kakawin Ramayana, dan gubahan-gubahannya dalam bahasa Jawa Baru yang tidak semua berdasarkan kakawin ini.

Dalam bahasa Melayu didapati pula Hikayat Seri Rama yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa kuna.

Di India dalam bahasa Sansekerta, Ramayana dibagi menjadi tujuh kitab atau kanda sebagai berikut:

  1. Balakanda
  2. Ayodhyakanda
  3. Aranyakanda
  4. Kiskindhakanda
  5. Sundarakanda
  6. Yuddhakanda
  7. Uttarakanda

Banyak yang berpendapat bahwa kanda pertama dan ketujuh merupakan sisipan baru. Dalam bahasa Jawa Kuna, Uttarakanda didapati pula.

Pengaruh dalam budaya

Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa Hindu. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa danBali. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnyaThailand,Kamboja,Vietnam,Laos, Philipina, dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.

Daftar kitab

Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda. Urutan kitab menunjukkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam Wiracarita Ramayana.

Nama kitab Keterangan
Balakanda Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: Rama, Bharata, Lakshmana dan Satrughna. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri Sita, puteri Prabu Janaka.
Ayodhyakanda Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya Rama ke hutan bersama Dewi Sita dan Lakshmana karena permohonan Dewi Kekayi. Setelah itu, Prabu Dasarata yang sudah tua wafat. Bharata tidak ingin dinobatkan menjadi Raja, kemudian ia menyusul Rama. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.
Aranyakanda Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah Rama, Sita, dan Lakshmana di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan, Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh para rakshasa. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculik Rawana dan pertarungan antara Jatayu dengan Rawana.
Kiskindhakanda Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang Rama dengan Raja kera Sugriwa. Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari Subali, kakaknya. Dalam pertempuran, Subali terbunuh. Sugriwa menjadi Raja di Kiskindha. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur Kerajaan Alengka.
Sundarakanda Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkanIndiadengan Alengka. Hanuman yang menjadi duta Sang Rama pergi ke Alengka dan menghadap Dewi Sita. Disanaia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka.
Yuddhakanda Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang Rama dengan pasukan rakshasa Sang Rawana. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Sementara itu Wibisana diusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Dalam pertempuran, Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. Sang Rama pulang dengan selamat ke Ayodhya bersama Dewi Sita.
Uttarakanda Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi Sita karena Sang Rama mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rama pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.

Ringkasan Cerita

Rama mematahkan busur Dewa Siwa saat sayembara memperebutkan Dewi Sita 

Prabu Dasarata dari Ayodhya

Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala, di sebelah utara Sungai Gangga, ibukotanya Ayodhya. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang Rama. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang Bharata. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama Lakshmana dan Satrugna. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.

Pada suatu hari, Rsi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para rakshasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Rsi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Rsi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para rakshasa yang menggangu upacara para Rsi. Ketika mereka melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sita, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sita, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.

Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.

Rama hidup di hutan

Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai rakshasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada Rawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik Sita, istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, Jatayu berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur.

Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa, Sang Raja Kiskindha. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, Subali. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuan wanara, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.

Rama menggempur Rawana

Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah Brahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.

Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana. Sita kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sita, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.

Kutipan dari Kakawin Ramayana

Kutipan Terjemahan
Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praata, jaya padhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moli Adaseorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya
Sira ta Triwikrama pita, pinaka bapa, Bhaāra Wiṣḥnu mangjanma inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira nimittaning janma Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.
Hana rājya tulya kèndran, kakwèhan sang mahārddhika suçila, ringayodhyā subbhagêng rāt, yeka kadhatwannirang npati Adasebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata
Malawas sirār papangguh, masneha lawan mahādewī, suraseng sanggama rinasan, alinggana cumabanā dinya Sudah lama Sri Baginda menikah, saling mencintai dengan para permaisurinya, kenikmatan rasa pertemuan itu telah dapat dirasakan, bercumbu rayu dan sejenisnya
Mahyun ta sira maputra, mānaka wetnyar waēg rikang wiçaya, malawas tan pānakatah, mahyun ta sirā gawe yajña Timbullah niat Sri Baginda agar berputra, agar berputra karena sudah puas bercinta, namun lama nian beliau tidak berputra, lalu beliau berniat mengadakan ritual
Sakalī kāraa ginawe, āwāhana len pratiṣṭa ānnidhya, Parameçwara hinangēnangēn, umungu ring kuṇḍa bahni maya Semua perlengkapan upacara sudah dikerjakan, alat upacara pengundang serta tempat para Dewa sudah tersedia, Bhatara Çiwa yang dipuja-Pūja, agar berstana pada api suci itu
Çea mahārsī mamūjā, pūrnāhuti dibya pathya gandharasa, yata pinangan kinabehan, denira Dewi maharāja Sisa sesaji yang dihaturkan oleh Sang Maha Pendeta, sesajen yang sempurna, santapan yang nikmat rasa serta baunya, itulah yang disantap oleh beliau, permaisuri Sri Baginda Raja
Ndata tīta kāla lunghā, mānak tā Sang Daçarathā sih, Sang Rāma nak matuha, i sira mahādewī Kauçalya Demikianlah tidak diceritakan lagi selang waktu itu, para permaisuri kesayangan Prabu Dasarata melahirkan putera, Sang Rama putera yang sulung, dari permaisuri Dewi Kosalya
Sang Kekayi makānak, Sang Bharatya kyāti çakti dibya gua, Dewi sirang Sumitrā, Laksmaa Çatrughna putranira Adapun putera Dewi Kekayi, Sang Bharata yang terkenal sakti mandraguna, sedangkan Dewi Sumitra, berputra Sang Lakshmana dan Sang Satrugna
Sang Rāma sira winarahan, ringastra de Sang Wasiṣṭa tar malawas, kalawan nantēnira tiga, prajñeng widya kabeh wihikan Sang Rama diberi pelajaran tentang panah memanah oleh Bagawan Wasista dalam waktu tidak lama, beserta ketiga adik-adiknya, semuanya pintar cekatan tentang ilmu memanah

Mahabarata

Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dariIndia. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawalimadengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha dimedanKurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Pengaruh dalam budaya

Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum Indiaberbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dariKediri.

Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari jaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

Dalam dunia sastera popularIndonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih.

Versi-versi Mahabharata

Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah “Versi Utara” dan “Versi Selatan”. Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

Daftar kitab

Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.

Nama kitab Keterangan
Adiparwa Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
Sabhaparwa Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
Wanaparwa Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunungHimalayauntuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
Wirataparwa Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
Udyogaparwa Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.
Bhismaparwa Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.
Dronaparwa Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur dimedanperang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.
Karnaparwa Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.
Salyaparwa Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur dimedanperang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.
Sauptikaparwa Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.
Striparwa Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka dimedanpertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.
Santiparwa Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya dimedanpertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.
Anusasanaparwa Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.
Aswamedhikaparwa Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
Asramawasikaparwa Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.
Mosalaparwa Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwakotatersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
Mahaprastanikaparwa Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunungHimalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
Swargarohanaparwa Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunungHimalayadan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.

Suntingan teks

Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari Mahabharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivasa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai Mahabharata.[1] 

Ringkasan cerita

Peta “Bharatawarsha” (India Kuno) atau wilayah kekuasaan Maharaja Bharata  

Latar belakang

Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.

Para RajaIndiaKuno

Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.

Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagianHaryana,India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

Prabu Santanu dan keturunannya

Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti dan memiliki tiga orang putera bernama Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madri, dan memiliki putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.

Pandawa dan Korawa

Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Disanamereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.

Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Disanatersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.

Permainan dadu

Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna.Artikel utama: Sabhaparwa 

Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidka menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

Misi Damai Sri Kresna

Sebelum keputusan untuk berperang diumumkan, para Pandawa berusaha mencari sekutu dengan mengirimkansuratpermohonan kepada para Raja di daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para Pandawa jika perang besar akan terjadi. Begitu juga yang dilakukan oleh para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para Raja di daratan India Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.

Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan, maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum meninggalkan istana. Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya. Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.

Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi. Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para sekutu bahwa perang besar akan terjadi.

Persiapan perang

Ilustrasi perang di Kurukshetra dalam kitab Mahābhārata 

Kresna tidak bersedia bertempur secara pribadi. Ia mengajukan pilihan kepada para Pandawa dan Korawa, bahwa salah satu boleh meminta pasukan Kresna yang jumlahnya besar sementara yang lain boleh memanfaatkan tenaganya sebagai seorang ksatria. Mendapat kesempatan itu, Arjuna dan Duryodana pergi ke Dwaraka untuk memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Duryodana jenius di bidang politik, maka ia memilih tentara Kresna. Sedangkan para Pandawa yang diwakili Arjuna, bersemangat untuk meminta tenaga Sri Kresna sebagai seorang penasihat dan memintanya agar bertempur tanpa senjata dimedanlaga. Sri Kresna bersedia mengabulkan permohonan tersebut, dan kedua belah pihak merasa puas.

Pandawa telah mendapatkan tenaga Kresna, sementara Korawa telah mendapatkan tentara Kresna. Persiapan perang dimatangkan. Sekutu kedua belah pihak yang terdiri dari para Raja dan ksatria gagah perkasa dengan diringi pasukan yang jumlahnya sangat besar berdatangan dari berbagai penjuruIndiadan berkumpul di markasnya masing-masing. Pandawa memiliki tujuh divisi sementara Korawa memiliki sebelas divisi. Beberapa kerajaan pada zaman India kuno seperti Kerajaan Dwaraka, Kerajaan Kasi, Kerajaan Kekeya, Magada, Matsya, Chedi, Pandya dan wangsa Yadu dari Mandura bersekutu dengan para Pandawa; sementara sekutu para Korawa terdiri dari Raja Pragjyotisha, Anga, Kekaya, Sindhudesa, Mahishmati, Awanti dari Madhyadesa, Kerajaan Madra, Kerajaan Gandhara, Kerajaan Bahlika, Kamboja, dan masih banyak lagi.

Pihak Pandawa

Melihat tidak ada harapan untuk berdamai, Yudistira, kakak sulung para Pandawa, meminta saudara-saudaranya untuk mengatur pasukan mereka. Pasukan Pandawa dibagi menjadi tujuh divisi. Setiap divisi dipimpin oleh Drupada, Wirata, Drestadyumna, Srikandi, Satyaki, Cekitana dan Bima. Setelah berunding dengan para pemimpin mereka, para Pandawa menunjuk Drestadyumna sebagai panglima perang pasukan Pandawa. Mahabharata menyebutkan bahwa seluruh kerajaan di daratanIndiautara bersekutu dengan Pandawa dan memberikannya pasukan yang jumlahnya besar. Beberapa di antara mereka yakni: Kerajaan Kekeya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, KerajaanMagadha, dan masih banyak lagi.

Peta kerajaan pada zaman India kuno. Seluruh kerajaan menjadi dua kelompok yang memihak Korawa maupun Pandawa. Daratan Kurukshetra terletak di sebelah utara. 

Pihak Korawa

Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak akan tega menyakiti para Pandawa. Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan membiarkan-nya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya. Bisma juga tidak ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah. Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Pasukan dibagi menjadi sebelas divisi. Seratus Korawa dipimpin oleh Duryodana sendiri bersama dengan adiknya — Duhsasana, putera kedua Dretarastra, dan dalam pertempuran Korawa dibantu oleh Rsi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa — Jayadrata, guru Kripa, Kritawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sangkuni, dan masih banyak lagi para ksatria dan Raja gagah perkasa yang memihak Korawa demi Hastinapura maupun Dretarastra.

Pihak netral

Kerajaan Widarbha dan rajanya, Raja Rukmi, selayaknya kakak Kresna, Baladewa, adalah pihak yang netral dalam peperangan tersebut.

Divisi pasukan dan persenjataan

Setiap pihak memiliki jumlah pasukan yang besar. Pasukan tersebut dibagi-bagi ke dalam divisi (akshauhini). Setiap divisi berjumlah 218.700 prajurit yang terdiri dari:

  • 21.870 pasukan berkereta kuda
  • 21.870 pasukan penunggang gajah
  • 65.610 pasukan penunggang kuda
  • 109.350 tentara biasa

Perbandingan jumlah mereka adalah 1:1:3:5. Pasukan pandawa memiliki 7 divisi, total pasukan=1.530.900 orang. Pasukan Korawa memiliki 11 divisi, total pasukan=2.405.700 orang. Total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang=3.936.600 orang. Jumlah pasukan yang terlibat dalam perang sangat banyak sebab divisi pasukan kedua belah pihak merupakan gabungan dari divisi pasukan kerajaan lain di seluruh daratanIndia.

Senjata yang digunakan dalam perang di Kurukshetra merupakan senjata kuno dan primitif, contohnya: panah; tombak; pedang; golok; kapak-perang; gada; dan sebagainya. Paraksatria terkemuka seperti Arjuna, Bisma, Karna, Aswatama, Drona, dan Abimanyu, memilih senjata panah karena sesuai dengan keahlian mereka. Bima dan Duryodana memilih senjata gada untuk bertarung.

Formasi militer

Dalam setiap perang di zaman Mahabharata, formasi militer adalah hal yang penting. Dengan formasi yang baik dan sempurna, maka musuh juga lebih mudah ditaklukkan. Adabeberapa formasi, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Formasi militer tersebut sebagai berikut:

  • Krauncha Vyuha (formasi bangau)
  • Chakra Vyuha (formasi cakram / melingkar)
  • Kurma Vyuha (formasi kura-kura)
  • Makara Vyuha (formasi buaya)
  • Trisula Vyuha (formasi trisula)
  • Sarpa Vyuha (formasi ular)
  • Kamala atau Padma Vyuha (formasi teratai)

Sulit mengindikasi dengan tepat makna dari nama-nama formasi tersebut. Nama formasi mungkin saja mengindikasi bahwa sebuah pasukan memilih suatu bentuk tertentu (seperti elang, bangau, dll) sebagai formasi, atau mungkin saja nama suatu formasi berarti strategi mereka mirip dengan suatu hewan/hal tertentu.

Aturan perang

Dua pemimpin tertinggi dari kedua belah pihak bertemu dan membuat “peraturan tentang perlakuan yang etis”—Dharmayuddha—sebagai aturan perang. Peraturan tersebut sebagai berikut:

  • Pertempuran harus dimulai setelah matahari terbit dan harus segera dihentikan saat matahari terbenam.
  • Pertempuran satu lawan satu; tidak boleh mengeroyok prajurit yang sedang sendirian.
  • Dua ksatria boleh bertempur secara pribadi jika mereka memiliki senjata yang sama atau menaiki kendaraan yang sama (kuda, gajah, atau kereta).
  • Tidak boleh membunuh prajurit yang menyerahkan diri.
  • Seseorang yang menyerahkan diri harus menjadi tawanan perang atau budak.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.
  • Tidak boleh menyerang wanita.
  • Tidak boleh menyerang hewan yang tidak dianggap sebagai ancaman langsung.
  • Peraturan khusus yang dibuat untuk setiap senjata mesti diikuti. Sebagai contoh, dilarang memukul bagian pinggang ke bawah pada saat bertarung menggunakan gada.
  • Bagaimanapun juga, para ksatria tidak boleh berjanji untuk berperang dengan curang.

Kebanyakan peraturan tersebut dilanggar sesekali oleh kedua belah pihak.

Jalannya pertempuran

Para Raja dan Ksatria meniup terompet kerang mereka tanda pertempuran akan segera dimulai 

Pertempuran berlangsung selama 18 hari. Pertempuran berlangsung pada saat matahari muncul dan harus segera diakhiri pada saat matahari terbenam. Kedua belah pihak bertarung di dataran Kurukshetra dan setiap hari terjadi pertempuran yang berlangsung sengit dan mengesankan. Dalam setiap pertarungan yang terjadi dalam 18 hari tersebut, ksatria yang tidak terbunuh dan berhasil mempertahankan nyawanya adalah pemenang karena pertempuran tersebut adalah pertempuran menuju kematian. Siapa yang bertahan hidup dan berhasil memusnahkan lawan-lawannya, dialah pemenangnya.

Beberapa saat sebelum perang

Pada hari pertempuran pertama, begitu juga pada hari-hari berikutnya, pasukan para Korawa berbaris menghadap barat sedangkan pasukan para Pandawa berbaris menghadap timur. Pasukan Korawa membentuk formasi seperti burung elang: pasukan penunggang gajah sebagai tubuhnya; pasukan para Raja dan ksatria di barisan depan sebagai kepalanya; dan pasukan penunggang kuda sebagai sayapnya. Dalam urusan perang, Bisma berkonsultasi dengan panglima Drona, Bahlika dan Kripa.

Pasukan Pandawa diatur oleh Yudistira dan Arjuna agar membentuk “formasi Vajra”. Karena pasukan Pandawa lebih kecil daripada pasukan Korawa, maka strategi berperang dibuat agar memungkinkan pasukan yang kecil untuk menyerang pasukan yang besar. Sesuai strategi Pandawa, pasukan pemanah akan menghujani musuh dengan panah dari belakang pasukan garis depan. Pasukan garis depan menggunakan senjata langsung jarak pendek seperti: gada, pedang, kapak, tombak, dll. Pasukan Korawa terdiri dari sebelas divisi di bawah perintah Bisma. Sepuluh divisi pasukan Korawa membentuk barisan yang sangat hebat, sedangkan divisi kesebelas masih berada di bawah aba-aba langsung dari Bisma, dan sebagian divisi melindunginya dari serangan langsung karena Resi Bisma sangat berguna dan merupakan harapan untuk menang.

Setelah sepakat dengan formasi dan strategi masing-masing, pasukan kedua belah pihak berbaris rapi. Para Raja dan ksatria gagah perkasa tampak siap untuk berperang. Duryodana optimis melihat pasukan Korawa memiliki para ksatria tangguh yang setara dengan Bima dan Arjuna. Namun ada tokoh-tokoh lain yang setara dengan mereka seperti Yuyudana, Wirata, dan Drupada yang ia anggap sebagai batu rintangan dalam mencapai kajayaan dalam pertempuran. Ia juga optimis karena ksatria-ksatria yang sangat ahli di bidang militer, yaitu Bisma, Karna, Kritawarma, Wikarna, Burisrawas, dan Kripa, ada di pihaknya. Selain itu Raja agung seperti Yudhamanyu dan Uttamauja yang sangat perkasa juga turut berpartisipasi dalam pertempuran sebagai penghancur bagi musuh-musuhnya. Bisma, dengan diikuti oleh Para Raja dan ksatria dari kedua belah pihak meniup “sangkala” (terompet kerang) mereka tanda pertempuran akan segera dimulai.

Ketika terompet sudah ditiup dan kedua pasukan sudah berhadap-hadapan, bersiap-siap untuk bertempur, Arjuna menyuruh Kresna, guru spiritual sekaligus kusir keretanya, agar mengemudikan keretanya menuju ke tengah medan pertempuran supaya ia bisa melihat, siapa yang siap bertempur dan siapa yang harus ia hadapi. Tiba-tiba Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan wangsa Bharata, keturunan Kuru, nenek moyangnya. Arjuna juga dilanda kebimbangan akan melanjutkan pertarungan atau tidak. Ia melihat kakek tercintanya, bersama-sama dengan gurunya, paman, saudara sepupu, ipar, mertua, dan teman bermain semasa kecil, semuanya kini berada di Kurukshetra, harus bertarung dengannya dan saling bunuh. Arjuna merasa lemah dan tidak tega untuk melakukannya.

Arjuna hendak menarik diri dari pertempuran setelah melihat para ksatria bangsa Kuru yang telah berkumpul di Kurukshetra, kemudian ia diberi wejangan oleh Kresna 

Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang merupakan ajaran agama, mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama. Kresna, yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna, menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang ksatria, agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawad Gita.

Dalam Bhagawad Gita, Kresna menyuruh Arjuna untuk tidak ragu dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang ksatria yang berada di jalur yang benar. Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban Arjuna adalah membunuh siapa saja yang ingin mengalahkan kebajikan dengan kejahatan. Kemudian Sri Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa ia sesungguhnya sehingga segala keraguan dalam hatinya sirna. Dalam wujud semesta tersebut, ia meyakinkan Arjuna bahwa sebagian besar para ksatria perkasa di kedua belah pihak telah dihancurkan, dan yang bertahan hidup hanya beberapa orang saja, maka tanpa ragu Arjuna harus mau bertempur.

Kresna menunjukkan bentuk semestanya agar segala keraguan di hati Arjuna sirna

Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira melakukan sesuatu yang mengejutkan. Tiba-tiba ia meletakkan senjata, melepaskan baju zirah, turun dari kereta dan berjalan ke arah pasukan Korawa dengan mencakupkan tangan seperti berdoa. Para Pandawa dan para Korawa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, dan mereka berpikir bahwa Yudistira sudah menyerah bahkan sebelum panah sempat melesat. Ternyata Yudistira tidak menyerah. Dengan hati yang suci Yudistira menyembah Bisma dan memohon berkah akan keberhasilan. Bisma, kakek dari para Pandawa dan Korawa, memberkati Yudistira. Setelah itu, Yudistira kembali menaiki keretanya dan pertempuran siap untuk dimulai.

Pembantaian Bisma

Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.

Duel Arjuna dengan Bisma

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Bima yang melihat keadaan tersebut menyongsong Drestadyumna dan menyelamatkan nyawanya. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhimedanlaga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Kemarahan Kresna

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna. Kemudian kereta Arjuna diserbu oleh berbagai panah dan tombak. Dengan kemahirannya yang hebat, Arjuna membentengi keretanya dengan arus panah yang tak terhitung jumlahnya. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bima dan putranya, Gatotkaca, menyerang Duryodana yang berada di barisan belakang. Panah Bima melesat menuju Duryodana yang menukik di atas keretanya. Kusir keretanya segera membawanya menjauhi pertempuran. Tentara Duryodana melihat pemimpinnya menjauhi pertarungan. Bisma melihat hal tersebut lalu menyuruh agar pasukan bersiap siaga dan membentuk kembali formasi, kemudian Duryodana datang kembali dan memimpin tentaranya. Duryodana marah kepada Bisma karena masih segan untuk menyerang para Pandawa. Bisma kemudian sadar dan mengubah perasaannnya kepada para Pandawa.

Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bisma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, “Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna. 

Keberanian Bima

Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Duryodana merasa sedih telah kehilangan saudara-saudaranya.

Pertempuran terus berlanjut

Pada hari kelima, pertempuran terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Setyaki berhadapan dengan Drona dan kesulitan untuk membalas serangannya. Bima pergi meninggalkan Srikandi yang menyerang Bisma. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlanjut dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam merupakan hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna—Irawan—terbunuh oleh para Korawa. Pada hari kesembilan Kresna marah lagi sebab Arjuna masih segan untuk mengalahkan Bhishma, lalu ia bergerak menuju pasukan Korawa. Arjuna sekali lagi menghentikan Kresna.

Kekalahan Bisma

Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan Bisma menyusun suatu strategi. Arjuna berencana untuk menempatkan Srikandi di depan keretanya, dan ia sendiri akan menyerang Bisma dari belakang Srikandi. Bisma yang tidak tega untuk menyerang seorang wanita, tidak bisa menyerang Arjuna karena dihalangi Srikandi. Hal itu dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu menembus baju zirahnya. Ratusan panah di tubuh Bisma menancap sampai menembus badannya. Sang ksatria besar terjatuh dari keretanya, namun badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah yang menancap di tubuh. Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi Rsi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk meletakkan tiga anak panah di bawah kepalanya sebagai bantal. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran pasukan Korawa.


Yudistira mau ditangkap

Dengan kekalahan Rsi Bisma pada hari kesepuluh, Karna kembali kemedanlaga dan melegakan hati Duryodana. Ia mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Membunuh Yudistira dimedanlaga hanya membuat para Pandawa semakin marah, sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi perang. Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira. Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana Duryodana.

Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta — Susharma — bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, mati di tangan Arjuna. Mereka turun kemedanlaga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.

Untuk menghancurkan mereka, Duryodana mencoba memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha. Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja jahat yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki ribuan mammoth, gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya. Bhagadatta merupakan ksatria terkuat di antara seluruh pasukan penunggang gajah di dunia. Bhagadatta mencoba menyerang Arjuna dengan ribuan gajahnya. Pertempuran terjadi dengan sangat sengit. Karena Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, ia kesulitan untuk mematahkan formasi Cakravyhuha. Yudistira melihat hal tersebut dan menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk membantu ayahnya keluar dari perangkap formasi Cakravyuha. Arjuna berhasil keluar namun sebaliknya, Abimanyu terperangkap dan terbunuh. Pada hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susharma gugur di tangan Arjuna.

Akhir peperangan

Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Setelah kematian Abimanyu, Bhagadatta, Susharma dan saudara-saudaranya pada hari ke-12, pertempuran berlangsung dengan ganas selama enam hari berikutnya. Pada akhir hari ke-18, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Kripa dan Kritawarma. Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit. Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunungHimalayasebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali Yudistira, meninggal dalam perjalanan. Akhirnya Yudistira berhasil mencapai puncakHimalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.

Perkiraan kapan terjadinya perang

Parasarjana berusaha mencari tahu pada tahun berapa sebenarnya perang di Kurukshetra terjadi. Mereka menggunakan catatan dalam Mahābhārata, memperhitungkan posisi benda langit, menggunakan sistem kalender, bahkan sampai melakukan analisa radiokarbon. Hasil perhitungan mereka sebagai berikut[4]:

  • Dr. S. Balakrishna menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 2559 SM dengan memperhitungkan gerhana bulan.
  • Prof. I.N. Iyengar memperkirakan perang tersebut terjadi tahun 1478 SM dengan memperhitungkan gerhana dan garis lurus planet Saturnus+Jupiter.
  • Dr. B.N. Achar menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 3067 SM dengan memperhitungkan posisi planet-planet yang dicantumkan dalam Mahabharata.
  • Shri P.V. Holey yakin bahwa perang tersebut terjadi tanggal 13 November tahun 3143 SM dengan memperhitungkan posisi planet dan sistem kalender.
  • Dr. P.V.Vartak mengatakan bahwa perang tersebut terjadi tanggal 16 Oktober tahun 5561 SM dengan memperhitungkan posisi planet.[5]        

Beberapa sarjana memperkirakan usia perang di Kurukshetra tidak setua yang diperkirakan oleh sarjana di atas. John L Brockington memperkirakan perang tersebut sangat mungkin terjadi 900 SM.[6] Pertempuran Sepuluh Raja, pertempuran antara Raja Bharata bernama Sudas dan perserikatan sepuluh suku yang muncul dalam Rgveda, dipercaya sebagai asal mula mitologi perang di Kurukshetra terjadi.[7] Beberapa arkeolog India mencoba mencari tahu kapan sebenarnya perang di Kurukshetra terjadi, seperti penelitian belanga yang ditemukan di Ganges. Penelitian radiokarbon menunjukkan artifak tersebut berasal dari periode 800 – 350 SM[8].

Penerus Wangsa Kuru

Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunungHimalayasebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Disanamereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

FILSAFAT

FILSAFAT NYAYA

TUHAN (ISVARA) DAN APAVARGA

A.  Tuhan (Isvara)

Karena  Nyaya meyakini kebenaran Veda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan Siva. Acuan terhadap adanya konsepsi  Tuhan dapat dilihat di dalam Nyaya Sutra. Nyaya-Vaisesika memberikan penjelasan yang rinci  mengenai Tuhan dan hubungannya dengan pembebasan (apavarga). Menurut pemikir  sistem ini  jiwatman dapat  mencapai pengetahuan sejati tentang realitas dan mempunyai pengetahuan  ini pembebasan  dapat dicapai hanya melalui anugerah Tuhan. Tanpa anugerah Tuhan tidak hanya pengetahuan  sejati kategori tidak juga tujuan tertinggi dapat dicapai oleh individu.

Bagaimanakah konsepsi Tuhan di dalam Nyaya Darsana? Menurut Nyaya, Tuhan adalah penyebab  tertinggi penciptaan, pemeliharaan dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan tetapi  dari atom-atom eternal; ruang, waktu, ether, pikiran (manas) dan jiwa-jiwa. Penciptaan  dunia berarti  penataan entitas-entitas eternal yang  koeksis  dengan Tuhan menjadi dunia motral, dimana roh-roh individu  menikmati dan menderita  menurut merit perbuatan  baik dan perbuatan buruk, dan semua  benda fisik melayani  sebagai  sarana tujuan moral dan spiritual  kehidupan  kita, Tuhan  dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan penyebab materialnya. Ia juga  sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga dalam  eksistensi oleh keinginan Tuhan. Ia juga sebagai pelebur yang  mengijinkan  kekuatan  destruksi  beroperasi ketika tatanan dunia moral menghendakinya. Kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal,  karena dunia ruang dan waktu,  pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya, tetapi  ia dihubungkan  dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang  bersemayam di dalamnya, Ia maha kuasa, walaupun  Ia dipandu di dalam  aktivitas perbuatan buruk. Ia maha  tahu sepanjang  ia mempunyai  pengetahuan  benar tentang semua benda  dan persitiwa. Ia mempunyai kesadaran eternal sebagai kekuatan  kognisi langsung  dan teguh semua  objek. Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan,  bukan esensinya seperti dianut  oleh Vedanta. Ia memiliki  enam kesempurnaan (Sadisvarya) dan  magis, maha agung, megah,  indah  tak terbatas, mempunyai pengetahuan tak terbatas dan kebebasan sempurna dari kemelekatan.

Tuhan sebagai  penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan  merupakan  penyebab  direktif tindakan-tindakan  semua makhluk hidup, tidak ada makhluk  hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu  tindakan-tindakannya dilakukan  oleh dia dibawah direksi  dan arahan Tuhan. Seperti halnya  dengan seorang ayah yang arif dan pemurah  mengarahkan anak-anaknya mengerjakan suatu aktivitas,  menurut hadiah-hadiah, kapasitas  dan pencapaiannya sebelumnya; jadi demikian  juga Tuhan  mengarahkan  semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara  manusia adalah  penyebab instrumental efisien (Prayojaka karta). Jadi  Tuhan adalah  pengatur moral  dunia beserta  semua makhluk  hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan dan penderitaan kita.

Bukti Eksistensi Tuhan

Bagaimana caranya membuktikan  keberadaan  Tuhan?  Nyaya  memberikan  penjelasan yang  mendalam di dalam upaya  membuktikan keberadaan Tuhan. Teori dan pembuktian Tuhan sistem ini sudah mencakup semua argumen di dalam filsafat Barat.  Udayana di dalam bukunya  Kusumanjali  memberikan bukti-bukti Tuhan sebagai berikut:

  1. Karya. Dunia merupakan sebuah efek dan oleh karena itu ia  harus mempunyai penyebab  efisien. Agen intelegen ini adalah  Tuhan, tatanan desain, koordinasi antara fenomena-fenomena  berbeda muncul  dari Tuhan (Karyat), ini merupakan  argumen  kosmologis.
  2. Ayojana. Atom-atom karena secara esensial tidak aktif, tidak dapat membentuk  kombinasi-kombinasi berbeda kecuali Tuhan  memberikan gerakan  kepada mereka, kekuatannya yang tidak nampak (adrsta) membutuhkan  intelegensi  Tuhan. Tanpa Tuhan  ia tidak dapat  memasok gerakan  kepada atom-atom  (ayojanat).
  3. Dhrstya. Dunia diberlanjutkan  melalui keinginan Tuhan. Adrsta  yang tidak intelejen tidak dapat melakukan  hal ini, dunia dihancurkan  oleh keinginan Tuhan (adhrtyadeh).
  4. Padat. Sebuah kata mempunyai suatu makna dan mensignifikansikan  suatu objek.
  5. Pratyayata. Tuhan adalah  pencipta Veda yang bebas dari kesalahan (pratyayata).
  6. Shruteh. Veda mentestimonikan  eksistensi  Tuhan (Shruteh).
  7. Vakya. Kalimat-kalimat Veda berhubungan  dengan ajaran-ajaran  moral dan larangan-larangan yang harus dihindari. Perintah Veda merupakan   perintah Tuhan. Tuhan  merupakan pencipta dan penyebar hukum-hukum moral (Vakyat)
  8. Sankhya Vishesa. Menurut  sistem  filsafat Nyaya waisesika perpaduan  dua atom tidak  disebabkan oleh perpaduan tak terbatas dari masing atom,  tetapi melalui  jumlah kedua atom. Nomor satu secara  langsung diketahui, tetapi nomor-nomor lain penciptaan-penciptaan konseptual. Konsepsi  numerik dihubungkan  dengan pikiran orang yang  mengetahui. Pada saat penciptaan, jiwa-jiwa tidak sadar, atom-atom  dan kekuatan  tak nampak (adrsta) dan ruang, waktu, pikiran, semuanya tidak sadar. Oleh karena  itu konsep  numerik  bergantung kepada kesadaran  Tuhan. Jadi Tuhan  harus eksis (Sankhyawishesa).
  9. Adrsta. Kita memetik buah-buah tindakan-tindakan kita. Perbuatan  baik dan perbuatan buruk muncul dari tindakan-tindakan  kita dan simpanan perbuatan baik dan buruk disebut adrsta.

Tetapi semua bukti pada akhirnya sia-sia. Nalar (reason) seperti diperlihatkan  oleh Kant ketika mengkritik argumen Descartes bagi eksistensi Tuhan, mengarah  kepada  antinomi yang tidak terpecahkan. Vedanti seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, Nimbarka, Vallabha menolak  argumen Nyaya dan jatuh  kedalam Sruti saja bagi eksitensi  Tuhan. Kant di Barat dan Vedantin  di India dipaksa untuk menghancurkan  nalar (reason). Dengan demikian  Nyaya penganut Astika menopang Veda dari aspek penalaran (reasoning).

B.  Apavarga (Pembebasan)

Sistem darsana, termasuk  Nyaya bertujuan untuk mendapatkan  pembebasan (apavarga). Nyaya memberi kita pengetahuan  tentang  realitas  untuk  merealisasikan tujuan tertinggi,  summum bonum. Masing-masing  sistem memberikan  uraian keadaan jiwa. Bagi  Nyayayika ia merupakan keadaan  negasi, total dan absolut  dari semua  penderitaan. Keadaan ini berimflikasi bahwa ia merupakan sebuah keadaan  dimana jiwa dibebaskan dari semua ikatan hubungannya dengan tubuh dan indra-indra. Sepanjang jiwa berhubungan dengan tubuh,  mustahil  bagi jiwa mencapai  keadaan bebas dari penderitaan. Tubuh dengan  indranya  mustahil bisa menghindari  kontak dengan  objek-objek  yang menyenangkan maupun yang menyebabkan  penderitaan, oleh karena  penderitaan tidak  bisa dilepaskan. Dari sini dilihat  bahwa pembebasan,  jiwa harus  dibebaskan dari ikatan tubuh dan indra-indra. Tetapi ketika  mencapai  apawarga, jiwa  berhenti mengalami tidak hanya kenikmatan tetapi juga penderitaan, tidak lagi mengalami hal-hal apapun. Sehingga  di dalam  keadaan apawarga,  jiwatman eksis sebagai  sebuah substan  bebas dari  semua hubungan dengan  tubuh, tidak ada penderitaan, tidak juga ada penikmatan, kebahagiaan dan bahkan tidak juga mempunyi kesadaran.

Pembebasan  (Apavarga) merupakan  negasi penderitaan, tidak dalam artian pengekangan  untuk waktu yang  lebih lama atau pendek. Keadaan ini merupakan pembebasan absolut  dari penderitaan selama-lamanya. Di dalam kitab  suci keadaan  ini dijelaskan sebagai  bebas dari  rasa ketakutan (abhyam) bebas dari  kehancuran dan perubahan (ajaran) bebas dari  kematian (amrtyupadama) dan sebagainya. Dengan demikian dalam  keadaan pembebasan  (apavarga) jiwa kembali pada hakekatnya sejati sebagai  substan  yang tidak berkesadaran  bebas dari  penikmatan karena penikmatan apapun  mempresuposisi kemelekatan.

Apawarga dicapai melalui pengetahuan  benar tentang  jiwatman dan objek-objek pengalaman  lain (Tattwajnana). Ia harus  tahu  jiwatman sebagai  berbeda dari  tubuh, pikiran, indra-indra, dan sebagainya. Untuk  bisa melakukan realisasi jiwatman  pertama-tama  kita  harus  mendengarkan ajaran kitab suci mengenai  jiwatman (srawana). Kemudian ia harus dengan kita membangun  pengetahuan jiwatman melalui sarana  penalaran (manana). Akhirnya, ia  harus bermeditasi pada jiwatman sesuai dengan prinsip-prinsip yoga (nidhidhyasana). Hal ini membantu  dia merealisasikan hakikat sejati jiwatman yang berbeda dari tubuh dan objek-objek  lainnya. Dengan realisasi ini pengetahuan yang salah (nithya jnana) bahwa  aku adalah tubuh dan pikiran dihancurkan dan ia berhenti digerakkan untuk bertindak (prawrti) oleh keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan, ia berhenti  dipengaruhi oleh efek-efek tindakannya  sekarang,  dilakukan dengan dilandasi oleh  keikhlasan, tidak ada dorongan  untuk mendapatkan hasil-hasilnya. Karena  masa lalunya dihancurkan dengan menghasilkan efek-efeknya, individu tidak lagi mengalami kelahiran di dunia ini (janma). Penghilangan  kelahiran  berarti akhir  hubungannya dengan tubuh dan  konskuensinya,  yaitu penderitaan (duhkha); dan inilah  pembebasan (apawarga). Dengan demikian apawarga hanya mungkin dicapai ketika jiwatman tidak lagi bersemayam di dalam tubuh; atau dengan kata lain ketika seseorang telah meninggal dunia.

Filsafat Samkya

PURUSA DAN PRAKRTI

Ajaran Sankya dan Yoga adalah sangat berpengaruh besar pada ajaran agama Hindu  khususnya di Indonesia. Kitab Tattwa Jnana, Wrhaspatitattwa adalah ajaran Sankhya  Yoga dalam Saivapaksa, kedua kitab ini termasuk dalam bahasa  Jawa kuna. Ajaran Sankhya merupakan ajaran yang sudah tua usianya. Buktinya baik kitab Sruti maupun Smerti dan juga Purana menunjukkan  pengaruh ajaran  Sankhya. Menurut tradisi pembangunnya  adalah Rsi Kapila yang menulis  Sankhya Sutra.

Namun karya tulis  mengenai Sankhya  yang sampai kepada kita ialah  Sankhya Karika karya Iswarakrsna. Inilah   karya tulis ajaran Sankhya tertua yang kita kenal. Menurut keterangan orang-orang pandai kata Sankhya  artinya angka; sistim angka ini dipakai untuk menyusun urutan kebenaran tertinggi dari ajaran ini.

Sesuai  tradisi Kapila dianggap anak Brahma, sementara yang lainnya mengatakan ia adalah seorang Awatara Wisnu, yang lain lagi mengidentifikasikan dia sebagai kelahiran Agni. Penjelasan ini kelihatannya bersifat mistik, tetapi yang jelas Kapila  adalah Filosof  yang telah  meletakkan dasar-dasar filsafat Sankhya. Sistem filsafat Sankhya mempertahankan dualisme ontologis Prakrti dan jiwa-jiwa individual (Purusa). Sistem ini percaya dalam evolusi kosmos termasuk materi, kehidupan, dan pikiran di luar Prakrti yang eternal  untuk memungkinkan tercapainya tujuan  akhir jiwa-jiwa individu yang tak terbatas  jumlahnya. Dualisme Prakrti dan Purusa merupakan doktrin fundamental  sistem ini.

Sankhya  mempertahankan suatu pemisahan yang tegas antara Purusa dan Prakrti dan selanjutnya mempertahankan pluralisme Purusa. Sistem ini tidak  membahas  keberadaan Tuhan. Dengan demikian Sankhya adalah sebuah spiritualisme   pluralistik, sebuah  realisme atheistik dan dualisme.

Purusa

Purusa adalah  kesadaran murni, Purusa adalah roh, spirit, subyek yang mengetahui. Ia bukan tubuh, bukan pula indriya-indriya; ia bukan otak bukan pula pikiran (manas); bukan  pula ego (ahamkara), bukan pula intelek (budi), Purusa bukan  sebuah substan yang memiki sifat kesadaran. Kesadaran merupakan  esensinya. Purusa adalah pengetahuan  tertinggi merupakan  fondasi semua pengetahuan, ia saksi diam yang  terbebaskan, ia di luar jangkauan waktu dan ruangan. Ia disebut  nistragunya, udasina, akarta kevala,  madhyasta, saksi, drasta, sadaprakashwarupa, dan jnata.

Sankhya memberikan lima bukti bagi keberadaan  Purusa, sebagai berikut:

  1. Semua objek-objek majemuk eksis demi Purusha. Tubuh indriya-indriya pikiran (manas) dan intelek (budhi) semuanya sarana-sarana untuk merealisasikan tujuan Purusa.
  2. Semua objek dibentuk atas ketiga guna dan oleh karena  secara logika  mempreposisi keberadaan Purusa yang merupakan  saksi dari guna-guna ini dan ia sendiri berada diluar mereka.
  3. Harus ada suatu persatuan sintetik  transedental dari kesadaran murni  untuk mengkoordinasikan  semua pengalaman.
  4. Prakerti yang tak  berkesadaran tidak dapat mengalami produk-produknya.  Jadi harus ada sebuah prinsip-prinsip kesadaran untuk produk baru dari duniawi yaitu Prakerti (yang dinikmati).
  5. Ada orang-orang yang mencoba meraih kebebasan dari penderitaan dunia. Keinginan untuk meraih kebebasan dan emansipasi jiwa mengimplementasikan eksistensi dari seorang yang dapat mencoba dan meraih pembebasan.

Menurut Sankhya roh itu banyak jumlahnya yang masing-masing berhubungan dengan  satu badan. Adanya banyak roh itu berdasarkan atas pertimbangan – pertimbangan, Sankhya memberikan tiga argumen berikut ini untuk membuktikan pluralitas  Purusa, sebagai berikut:

  1. Roh-roh memiliki organ-organ sensori dan motorik, dan mengalami kelahiran serta kematian yang terpisah.
  2. Jika roh itu satu, belenggu pada seseorang harus berarti belenggu dari semua orang dan pembebasan pada seseorang  harus berarti pembebasan semua orang.
  3. Walaupun  roh-roh yang  telah mendapatkan  emansipasi  semuanya  serupa dan berbeda hanya dalam jumlah karena  semuanya berada di luar ketiga guna, namun roh-roh yang terbelenggu  secara relatif juga berbeda  dalam sifat-sifat, karena  dalam beberapa  hal satwam mendominasi, sementara dalam yang lainnya rajas doniman, dan tetap pada yang lainnya  lagi tamas dominan, oleh karena itu mereka berbeda.

Prakrti

Prakrti  artinya “yang mula-mula”, yang mendahului apa yang dibuat, ia berasal  dari kata ‘pra’ (sebelum) dan ‘kr’ (membuat), yang mirip dengan maya dari Vedanta. Ia merupakan satu sumber  dari alam semesta. Ia dibuat pradhana (pokok), karena  semua akibat ditemukan padanya dan ia merupakan sumber dari alam semesta dan semua benda.

Pradhana atau Prakrti adalah kekal meresapi segalanya, tak dapat digerakkan dan  cuma satu adanya, ia tak  memiliki sebab, tetapi merupakan penyebab dari semua akibat. Prakrti hanya bergantung pada aktivitas  dari unsur pokok guna-Nya sendiri (sifat metaphisikanya).

Prakrti  merupakan ketiadaan kecerdasan, ibarat seutas tali dari tiga untaian yang terbentuk  dari tiga guna. Prakrti hanyalah benda mati  yang diperlengkapi dengan kemampuan tertentu yang disebabkan  oleh guna. Prakrti merupakan  dasar dari  semua keberadaan obyektif, semua objek adalah untuk menikmati jiwa atau roh. Prakrti hanya menciptakan  bila ia bergabung dengan  Purusa seperti sebuah kristal  dengan sekuntum bunga. Karya ini dilakukan guna pembebasan setiap roh. Seperti fungsi susu untuk  menghidupkan anak sapi, demikianlah fungsi Prakrti untuk membebaskan sang roh.

Isvarakrishna, seorang filosof  Sankhya memberikan lima bukti eksistensi Prakrti, sebagai berikut: “Efek  ada karena apa yang  tidak ada, tidak dapat dibuat menjadi ada dengan  cara operasi dari sebuah penyebab, karena ada peristiwa kembali ke material, karena  tidak ada produksi dari semuanya, karena  penyebab yang  luar biasa kekuatannya hanya mempengaruhi yang  mampu untuk itu,  dan karena tidak berada dari penyebabnya”. 

Argumen  di atas lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Efek harus ada di dalam penyebab, karena apa saja  yang tidak eksis tidak  akan  pernah dapat dibuat menjadi ada, contohnya: susu tidak akan pernah dapat dibuat / diadakan dari pasir.
  2. Efek harus ada di dalam penyebab, karena setiap efek memiliki penyebab material yang sesuai.
  3. Efek harus ada  di dalam penyebab, karena harus ada suatu hubungan kausal antara berbeda-beda yang eksis.
  4. Efek harus  secara potensial terkandung dalam penyebab,  jika tidak demikian maka setiap  penyebab dapat menimbulkan  efek apa saja.
  5. Efek harus ada di dalam penyebab, karena efek tidak pernah berbeda dari penyebabnya, misalnya secarik kain  mempunyai kualitas  yang sama dengan  benangnya dari mana kain tersebut di buat /ditenun.

Efek-efek  bersifat  pluralistik, sementara Prakrti tunggal adanya, efek-efek tersebut ada dalam penyebabnya, sementara Prakrti tidaklah ada pada penyebab lain, efek bersifat  terbatas, Prakrti tidak terbatas, efek dibangun oleh bagian, Prakrti tidak memiliki bagian,  efek bersifat  dapat dibedakan dan heterogen, sementara Prakrti bersifat tak dapat dibedakan  dan homogen, efek lebih rendah atau bagian  dari Prakrti, sementara Prakrti eksis sendiri dan  independen. Prakrti  adalah matriks seluruh alam semesta  psiko-fisik penyebab pertama dari benda, kehidupan, pikiran, intelek dan ego. Dunia yang tak  berkesadaran tidak dapat menjadi sebuah transformasi dari sebuah prinsip yang berkesadaran, karena spirit tidak dapat ditransformasikan menjadi benda.

Filsafat Vaisesika

Perhatian pokok filsafat Vaisesika  adalah analisanya yang mendalam tentang alam semesta yang terdiri atas kategori-kategori (padartha). Filsafat Vaisesika merupakan realisme pluralistik,  sebuah filsafat  identitas dan perbedaan yang  menekankan bahwa inti realitas  terdiri atas perbedaan atau kebhinekaan. Sebuah kategori  disebut  padartha  dan seluruh alam semesta  ini diturunkan  menjadi enam padharta. Padartha secara literal berarti objek yang  ditandai oleh kata  atau makna kata. Semua objek pengetahuan  atau semua yang riil  berada di bawah padartha. Padartha berarti suatu objek yang  dapat dipikirkan (jeneya)  dan diberi nama  (abhidheya). Ini hanyalah  berupa katalog tentang sesuatu benda yang dapat diketahui, atau  pengungkapan  riil yang beragam tanpa  adanya upaya untuk mensintesakan mereka.

Semua objek yang  ditandai oleh  kata secara lebih luas dibagi menjadi dua klas, yaitu eksistensi (bhava) dan non eksistensi (abhava). Eksistensi termasuk semua entitas positif, seperti benda-benda fisik, pikiran, jiwa-jiwa, dan sebagainya. Non  eksistensi  (abhava)  terdiri atas fakta-fakta negatif, seperti  non eksistensi benda-benda. Terdapat  enam jenis bhava, yaitu:

  1. Substan (dravya)
  2. Sifat (guna)
  3. Kerja (karma)
  4. Universal (samanya)
  5. Kekhususan (visesa) dan
  6. Inheren (samavaya).

Filosof-filosof  Vaisesika belakangan menambahkan satu lagi padartha, yaitu abhava, sehingga menjadi berjumlah tujuh padartha, ketidakadaan atau penyangkalan  keberadaan (abhava).

Ketiga kategori  yang pertama dari benda-benda, sifat dan kegiatan, memiliki keberadaan obyektif yang  nyata, sedangkan  ketiga kategori berikutnya yaitu, keumuman, kekhususan dan keterpaduan  merupakan keberadaan logika yang merupakan hasil dari perbedaan kecerdasan. Rsi Kanada hanya menyebutkan enam kategori sedangkan  yang ketujuh ditambahkan oleh penulis berikutnya.

Tanah, air, udara, ether,  waktu, ruang, jiwa dan pikiran merupakan  sembilan drawiya  atau benda-benda. Empat pertama dan yang terakhir  dianggap berwujud atom-atom  dan empat yang  pertama tadi  bersifat abadi  dan juga tidak  abadi. Tidak abadi  diberbagai persenyawaan dan abadi  pada bentuk atom  terakhir dan setelah itu mereka seharusnya  kembali keasalnya.

Pikiran meruakan substansi  abadi yang tidak meresapi  segala sesuatu seperti halnya roh, dan bersifat atom. Ia dapat  dikenali hanya ketika seseorang berpikir suatu saat. Pada sembilan substansi  tersebut terdapat  tujuh belas  sifat yang terpadau  didalamnya  yaitu: warna (rupa), rasa (rasa), bau (gandha), sentuhan (sprasa), jumlah (sankhya), ukuran (parimani), keterpisahan atau kepribadian (prthaktwam), persekutuan dan tanpa persekutuan  (samyoga-wibhagam), prioritas  dan keturunan  (partwa-aparatwa), pemahaman (buddhayah), kesenangan dan penderitaan (sukha-dukha), keinginan dan kebencian (icchadwesa) dan kehendak (prayatnah). Tujuh lainnya dikatakan termasuk  didalamnya,  yaitu  keenceran, kekentalan, kecakapan, jasa, cacat dan  suara membuatnya menjadi berjumlah dua puluh empat. Enam belas sifat-sifat ini merupakan milik dari substansi  material sedang delapan sifat lainnya yaitu pemahaman, kehendak,  keinginan, kebencian,  kesenangan, penderitaan, jasa dan cacat merupakan milik dari roh.

Kategori yang  ketiga yaitu: karma atau kegiatan, mengandung limajenis kegiatan  yaitu:  peningkatan,  penurunan,  kontraksi,  perluasan dan pergerakan, kategori  keempat, yaitu: samanya atau keumuman sifat, terdiri dari  dua hal yaitu:

  1. Keumuman yang lebih tinggi  atau lebih rendah, dan
  2. Jenis kelamin  dan species.

Kategori  yang kelimayaitu wisesa atau kekhususan  merupakan milik dari sembilan substansi abadi dari kategori yang pertama, yang kesemuanya memiliki  perbedaan  akhir yang kekal, yang membedakan yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sistem ini disebut Vaisesika.

Kategori ke enam yaitu samawaya atau keterpaduan hanya  satu jenis yaitu keterpaduan  antara substansi dengan sifatnya antara jenis kelamin atau  species  dengan peribadinya  antara sesuatu  obyek dengan pemikiran umum  yang berhubungan dengan yang dipikirkan menadi satu kesatuan yang nyata. Adaempat macam abhawa, dari kategori  ke tujuh yaitu: ketidak beradaan sebelumnya, penghentian keberadaan, ketidak beradaan timbal balik dan ketidak beradaan mutlak.

Pengetahuan  tentang padartha merupakan cara pencapaian kebaikan tertinggi. Kebaikan tertinggi berasal dari  pengetahuan  yang dihasilkan  oleh dharma  khusus dari intisari paradartha dengan memakai persamaan dan perbedaannya. Rsi Kanada tidak secara  terbuka menunjukkan  Tuhan dalam  Sutra-Nya, kepercayaannya adalah  bahwa formasi atau susunan  alam dunia ini merupakan  hasil dari  adrsta yaitu kekuatan yang tak terlihat  dari karma atau kegiatan. Beliau  menelusuri aktivitas atom dan roh mula-mula  terhadap prinsip adrsta.

Para pengikut  Kanada memperkenalkan Tuhan sebagai penyebab efisien dari alam dunia, sedangkan atom-atom merupakan penyebab material dari alam semesta ini. Atom-atom  yang tak dapat  terpikirkan tidak memiliki daya dan kecerdasan untuk menjalankan  alam semesta ini  secara teratur. Yang  pasti aktivitas atom-atom  itu diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan maha tahu dan  maha kuasa. Kesimpulan  dalam kitab suci  mengharuskan  kita untuk  mengakuai adanya Tuhan. Kecerdasan  apakah yang  membuat adrsta  bekerja ? Jawabnya tiada lain adalah kecerdasan  Tuhan, sedangkanlimaunsur merupakan akibat. Semuanya seharusnya didahului  oleh  seseorang itu adalah Tuhan. Seharusnya ada yang menjadi pencipta  kitab Weda.  Karena kandungan Weda terbebas  dari kesalahan maka penciptanya pun terbebas dari tipuan dan haruslah merupakan keberadaan yang maha tahu.

Roh-roh dalam keadaan penghancuran kurang memiliki kecerdasan sehingga mereka tak dapat mengendalikan atom-atom  dan di dalam atom-atom  itu sendiri  tak ada sumber pergerakan. Oleh karena itu seharusnya ada penggerak awal dari atom-atom  tersebut dan penggerak awal tersebut adalah sipencipta atau Tuhan.

Pada sistem Vaisesika, susunan alam dunia di duga dipengaruhi oleh  pengumpulan atom-atom, yang tak terhitung  jumlahnya dan kekal, secara kekal mereka mengumpul, bercerai berai dan hancur kembali oleh  daya dari  adrsta. Sebuah atom  didefinisikan sebagai sesuatu keberadaan, tanpa penyebab dan kekal. Ia lebih kecil dari yang  terkecil,  tak terlihat, tak terbagi,  tak dapat dirubah dan  tak dapat diamati dengan indrya-indrya. Setiap atom  memiliki sebuah wisesa atom inti  kekalnya sendiri. Kombinasi dari atom-atom  ini mula-mula menjadi  berjumlah dua (dwyam, dyad), tiga darinya  kembali  berkombinasi menjadi sebuah partikel yang disebut  trasarenu (Ttriad), yang seperti  sebutir debu pada seberkas sinar matahari yang cukup besarnya untuk dapat diamati.

Ada empat golongan paramanu, yaitu paramanu tanah, air, api dan  udara. Atom-atom tunggal berkombinasi dengan yang lainnya  dan setelah beberapa  waktu bercerai berai lagi.  Kosmonologi  Vaisesika dalam batasan mengenai keberadaan atom abadi berdampingan dengan  roh abadi bersifat dualistik dan tidak secara  positif  memisahkan  hubungan yang pasti antara  roh dan materi. Badan pada waktu pralaya, halus dan  pada waktu penciptaan  menjadi kasar,  waktu, tempat dan keadaan  kelahiran, keluarga dan  kehidupan kesemuanya  dipastikan oleh  adrsta. Roh-roh pribadi sifatnya  abadi, bermacam-macam dan secara kekal  terpisah  satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan badan, indrya dan pikiran;  namun mampu   terhadap pengertian, keinginan, kehendak, kebencian, kesenangan, penderitaan, jasa dan kekurangan. Sifatnya tak terbatas, ada di mana-mana atau maha ada dan terpencar  diseluruh alam semesta. Roh manusia diNew Yorksama banyaknya  dengan diBombay  walaupun hanya  dapat dirasakan dan dimengerti  serta berbuat dimana badan berada. Roh dan pikiran bukanlah obyek pengamatan.

Kesenangan dan penderitaan adalah hasil dari kotak roh , indrya, pikiran dan benda-benda. Dari kesenangan muncul keinginan sesuatu kesan yang sangat kuat dihasilkan  oleh pengalaman  yang tetap dari benda-benda melalui pengaruh pikiran, seorang pencinta  yang matang  yang tidak mendapatkan  kekasihnya melihat yang dicintai pada setiap benda.

Pengetahuan intuitif tentang sang diri,  menghancurkan pengetahuan palsu akibatnya daya tarik, kebencian, kebodohan atau moha dan kesalahan-kesalahan  yang disebabkan oleh kegiatan tidak berlangsung  dan penderitaan yang berhubungan dengan kelahiran juga  lenyap. Untuk dapat lepas dari cengkraman belenggu ini, roh-roh harus menghentikan  kerja. Moksa atau pembebasan  muncul  karena  pengetahuan,  ketika kerja dihentikan   punia dan pap baru  tidak dapat  diakumulasi  dan punia-punia serta pap-pap  lain juga secara  perlahan-lahan hilang atau memudar. Jiwa dipisahkan dari belenggu pikiran dan tubuh menyadari  hakikat murninya. Inilah  pembebasan (moksa) yang merupakan penghilangan  absolut semua jenis penderitaan. Di dalam moksa sifat-sifat jiwa seperti kebahagiaan tidak ada lagi, karena sifat-sifat itu  sifatnya aksidental, jiwa-jiwa tidak berhubungan lagi dengan pikiran (manas) dan tubuh. Moksa adalah keadaan yan tanpa sifat, merupakan hakikat  murni roh individu sebagai substansi  murni bebas dari  semua sifat. Dalam keadaan moksa jiwa individu  tidak merasakan, tidak  memikirkan dan tidak melaksanakan apa-apa

Fisiologi Psikhis Yoga

Kajian ini bersama-sama dengan setiap asana dan latihan lainnya, anda akan menemukan  bahwa hal utama  yang dianjurkan adalah  konsentrasi. Kadang-kadang pernafasan, kadang-kadang bagian fisik tubuh, dan sering merupakan salah satu dari cakra. Pusat-pusat  psikhis  ini merupakan perantara yang  sangat penting untuk meningkatkan konsentrasi dan dengan sendirinya memiliki makna yang dalam. Jika kita ingin mengendurkan pikiran dan mendapatkan manfaat-manfaat fisik yang optimal dari latihan-latihan  yoga kita, maka penting bagi  kita untuk  berkonsentrasi  pada sesuatu. Dengan mengarahkan pikiran pada bagian-bagian  tubuh yang khusus  atau pada nafas, akibat dari latihan yang khusus itu akan  sangat meningkat.

Dalam  hal fisik, cakra dihubungkan dengan urat-urat syaraf yang utama dan kelenjar-kelenjar endokrin dalam tubuh. Ini adalah  pusat-pusat pengantar dan pengatur yang utama  dari susunan organ-organ tubuh manusia,  yang mempunyai  pengaruh  yang luas pada seluruh ‘badan’ seseorang.  Banyak asana mempunyai pengaruh yang sangat  ampuh dan bermanfaat  pada satu kelenjar  atau urat-urat  syarat atau  lebih. Sebagai contoh, sarvangasana  menggunakan  tekanan yang kuat pada kelenjar gondok pada daerah tenggorokan, yang dihubungkan dengan visuddhi cakra. Gondok  tersebut  diberi pijatan  yang baik dan fungsinya banyak meningkat. Namun, jika konsentrasi  ditujukan pada  bagian ini selama pelaksanaan  asana tersebut, maka manfaatnya bahkan  akan lebih besar.

Pada sebagian besar orang, pusat-pusat psikhis ini sedang  terhenti dan tidak aktif. Psikologi modern setuju dengan filsafat yoga, karena psikologi merumuskan bahwa manusia  secara normal tidak  menggunakan lebih dari satu dari kesepuluh kekuatan otak yang mungkin mampu. Dengan konsentrasi pada cakra sambil melakukan asana atau latihan-latihan lainnya,  tenaga dirangsang untuk  mengalir melalui  cakra-cakra tersebut. Ini akan membantu membangkitkan kemampuan   yang sesuai dalam tubuh psikhis  serta mental, membiarkan orang tersebut  mengalami taraf kesadaran yang lebih tinggi, dari apa yang secara normal tidak ia sadari.

Cakra yang utama jumlahnya ada tujuh dan terletak pada bagian urat syaraf tulang belakang, dari  titik yang paling bawah pada  perineum (tulang ekor) sampai ujung kepala. Cakra-cakra itu dihubungkan dan diberi kekuatan melalui suatu  jaringan  saluran jiwa yang disebut nadi, yang berhubungan  pada tingkat yang lebih besar pada syaraf-syaraf  dalam jaringan syaraf. Nadi merupakan saluran (aliran) prana (energi)  di dalam tubuh. Nadi jumlahnya ribuan  tapi ada juga nadi  utama yaitu  Ida, Pingala, dan sumsumna, ketiga  ini untuk memberikan aliran prana kepada ketujuh  cakra diantaranya: 1) Muladhara terletak pada dasar tulang punggung, 2) Swadhisthana terletak sejajar alat kelamin, 3) Manipura terletak  bagian pusar, 4) Anahata sejajar jantung, 5) Wisudha  terletak pada leher,  6) Ajna berada di tengah-tengahyna kedua alis, 7) Sahasra di puncak kepala (otak besar). Ketujuh cakra ini, merupakan psikhis (astral)  hubungan erat  dengan  badan pisik secara fisiologi.

Ketuhanan dalam Upanisad

Kitab upanisad dalam  rentang  waktu yang cukup lama. Tidak ada kepastian tentang jumlah  kitab upanisad yang sesungguhnya. Dari catatan  yang ada: Kitab Rg Veda memiliki 21 sakha, Yajur Veda memiliki 109 Sakha, Sama Veda memiliki 1.000 Sakha dan  Atharva  Veda memiliki 50 Sakha. Berdasarka  jumlah Sakha itu, yaitu 1.180  buah, maka  jumlah Kitab Upanisad  seyogyanya  1.180 buah. Walaupun demikian secara tradisional  telah diakui kepastiannya  bahwa jumlah  kitab upanisad itu adalah sebanyak 108 buah.

Adapun nama-nama Kitab  Upanisad  yang tergolong adalah:

  1. Isa Upanisad
  2. Kena Upanisad
  3. Katha Upanisad
  4. Prasna Upanisad
  5. Mundaka Upanisad
  6. Mandu kya Upanisad
  7. Taitiriya Upanisad
  8. Aitareya Upanisad
  9. Chandogya  Upanisad
  10. Brhad Aranyaka Upanisad
  11. Sweta Swatra Upanisad

Di samping itu  itu ada pula  nama lain yang ditambahkan  ke dalam kategori penting, yaitu:

  1. Kavsitaki  Upanisad
  2. Jabala Upanisad
  3. Mahanarayana Upanisad
  4. Paingala (Pingala) Upanisad

Diantara  11 buah kitab Upanisad di atas, maka Isa Upanisadlah yang merupakan Kitab Upanisad terpenting karena kitab ini  langsung  merupakan bagian  dari  mantra Samhita. 18 mantra dari kitab Isa Upanisad, dan terutama mantra  pertama, dapat dinyatakan sebagai ajaran yang paling essensi dari ajaran (agama) Hindu.

Ciri khas dari kitab-kitab Upanisad adalah dalam bentuk penyajian ajaran  yang disampaikannya, yaitu selalu berbentuk dialog antara seorang murid yang bertanya kepada seorang guru  dalam pendidikan. Demikian pula halnya  di Indonesia, kita warisi pula bentuk penyajian  semacam ini, misalnya  dalam kitab-kitab  tattwa seperti  Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Agastya Parwa dan lain-lain.

Pokok-Pokok Ajaran Upanisad

Ajaran yang tercantum dalam kitab-kitab Upanisad itu merupakan  reaksi dari kaum Ksatriya terhadap kekuasaan para Brahmana, pada jaman Brahmana. Pertentangan para kaum kstariya terhadap kaum agama itu diungkapkan dalam ajaran-ajaran Upanisad. Akan tetapi, kemudian  ketika pengaruh ajaran-ajaran  makin meluas, padahal para ksatriya  lebih banyak berkecimpung  dalam urusan politik, para brahmana  menerima ajaran  Upanisad ini bahkan memonopolinya sebagai ajaran yang  tertinggi yang mereka hasilkan. Hal ini  tidak mengherankan, karena  Upanisad memang  bukan buku filsafat, melainkan kitab keagamaan, yang  diwahyukan  sesuai dengan keadaan orang yang menerimanya, dan lingkungan ketika agama itu diberikan.

Adapun ajaran-ajaran pokok dalam Upanisad antara lain:

a)      Brahman

Kata “Brahman” berasal dari akar kata “brh” berarti yang memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang  meluap. Jadi kata “Brahman”  berarti  suatu pertumbuhan yang tidak henti-hentinya atau dengan kata lain berarti yang memimpin segalanya atau dengan kata lain berarti yang memimpin segalanya atau Tuhan  Yang Maha Esa yang memerintah seluruh alam semesta dan segala isinya.

Pada jaman Brahmana, Brahman telah dianggap sebagai  asal pertama alam semesta. Di dalam  Upanisad ajaran ini dipikirkan secara lebih mendalam lagi, bahwa belum ada kesatuan pendapat  di dalam kitab-kitab Upanisad  tentang Brahman tadi. ada yang mengemukakan bahwa, Brahman sebagai Dewa tertinggi, yang lebih kuasa dari dewata yang lain. Dewa yang menjadi  dewannya para Dewa atau tuhan, dari segala yang dipertaruhkan.Adajuga yang memandang para dewata sebagai penjelmaan Brahman di samping itu  ada pandangan  yang lebih menonjol lagi  bahwa Brahman yang transenden, yang berada  di luar alam semesta dan jauh di atas alam semesta dan di dalam diri manusia.

b)      Atman

Atman berasal dari kata “an” yang artinya bernafas. Jadi atman adalah pusat segala  fungsi jasmani  dan rokhani manusia. Atman sebagai hakekat  dasar dalam  kehidupan manusia dianggap sebagai roh atau jiwa yang menyebabkan manusia itu hidup, mengalami rasa senang dan duka. Tetapi disadari  pula jiwa dan atma itu kekal, tidak pernah mati dan karena  itu  pengalaman suka dan duka bukan merupakan sifatnya.

Berdasarkan  uraian tersebut di atas maka atma merupakan sumber hidup yang menghidupkan semua makhluk dan atma  bersemayam dalam badan (jasmani) makhluk.

Atman atau Atma (IAST: Ātmā, Sansekerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya.

Brahman sebagai matahari dan atma-atma sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Sifat-sifat Atman

Dalam Bhagavad Gita dijabarkan mengenai sifat-sifat Atman, diantaranya adalah:

  • Achedya      : tak terlukai oleh senjata
  • Adahya        : tak terbakar oleh api
  • Akledya       : tak terkeringkan oleh angin
  • Acesyah      : tak terbasahkan oleh air
  • Nitya           : abadi
  • Sarwagatah  : di mana- mana ada
  • Sthanu        : tak berpindah- pindah
  • Acala          : tak bergerak
  • Sanatana     : selalu sama
  • Awyakta      : tak dilahirkan
  • Acintya        : tak terpikirkan
  • Awikara       : tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun   perempuan.

c)       Karma

Pada jaman  Upanisad timbullah  suatu ajaran yang disebut dengan karma. Kata karma berarti  “perbuatan” seperti yang telah kita ketahui tentang ajaran karma bahwa ajaran ini berakar pada  ajaran tentang  rta pada jaman Veda Samhita. ajaran tentang rta dan yadnya yang  memelopori ajaran tentang karma. Sebab ajaran  karma mengemukakan  bahwa baranh  siapa berbuat baik akan mengalami  yang baik tetapi  jika berbuat  jelek maka ia akan mengalami yang jelek.

Semula diajarkan bahwa hukum Karma ini berlaku  bagi perbuatan-perbuatan yang diakukan oleh setiap  orang dalam hidupnya sekarang ini. Apa yang dilakukan dalam hidup sekarang ini  maupun dalam  kehidupan yang kemudian. Ajaran ini mengakibatkan  timbulnya ajaran tentang samsara (kelahiran kembali).

d)      Samsara

Telah juga dikemukakan bahwa pada jaman Brahmana, yang mendahului jaman Upanisad juga diajarkan tentang kelahiran kembali ini. Pada waktu itu kelahiran kembali di pandang masih biasa saja tetapi lama kelamaan timbul persoalan. Apa sebab dalam hidup sekarang ada  perbedaan nasib.Adayang dilahirkan sebagai brahmana, ksatriya dan lain-lain.Adajuga yang dilahirkan sebagai orang kaya, miskin, tinggi, rendah, cakep, jelek, cacat  lain sebagainya, dan pada jaman itu  timbul  ajaran bahwa: karma bukan hanya menguasai hidup yang akan datang, melainkan juga hidup  yang lalu. Jadi lingkaran inilah yang disebut samsara yang disebabkan oleh karmanya sendiri.

e)      Moksa

Jika  orang mati, rohnya yang halus pergi bersama-sama dengan karma wasananya, karena roh itu  terikat akan karma wesana. Mengenai kelahiran kembali ini ada bagian upanisad  yang mengungkapkan  secara mithologis, bahwa orang yang  menaklukkan dunia dengan persembahan korban, dengan  kedermawaan dan kesederhanaan mereka itu. Jika meninggal jiwanya akan pergi ke alam  sorga yang diantar  oleh  karma wesananya, lalu melalui karma masing-masing akan sampai ke alam Candra Loka (Alam sorga).

Supaya orang dapat memperoleh moksa yaitu bebas dari kelahiran kembali, yang  tiada awal dan tiada akhirnya itu, ia harus membinasakan keinginannya atau mengendalikan nafsu-nafsu  yang jahat. Syarat untuk menghapuskan diri sendiri,  yaitu  pengenalan bahwa atman adalah Brahman. Manusia dalam  mencapai  sampai tingkatan  hidup ini memerlukan latihan dan waktu yang lama sekali.

Pada umumnya ada tiga tingkatan, yaitu:

  1. Srawana:  tingkatan  harus belajar mengenai kebenaran yang  diajarkan dalam upanisad dari seorang guru.
  2. Manam:  tingkatan  harus memantulkan pengetahuan yang telah dipelajarinya dengan maksud untuk meyakinkan diri, akan kebenaran ajaran itu.
  3. Dhyana: tingkatan  harus dengan tetap menyandarkan  kepada kebenaran yang telah diyakini dengan budinya supaya ia dapat  mengelami sendiri kesatuan itu.

Dari uraian di atas teranglah bahwa filsafat di dalam Upanisad ditujukan kepada agama, dengan tujuan terakhir ialah kelepasan manusia dari dunia yang fana ini yang disebut dengan moksa.

Konsep Penciptaan

Dalam pustaka suci Agama Hindu, terdapat  banyak ajaran yang mengetengahkan tentang terjadinya penciptaan dunia (Srsti). Konsep  penciptaan itu meliputi Bhuwana agung (Makrokosmos) dan bhuwana alit (mikrokosmos). Bhuwana  agung berarti  alam besar,  jagat  raya termasuk semua gugusan  matahari, bintang, planet, bumi, bulan, yang menjadi isi  alam semesta.  Sedangkan  bhuwana alit berarti dunia  kecil yang  meliputi unsur-unsur  pembentuk  ciptaan Brahman yang memiliki pramana dan manusia merupakan ciptaan  beliau yang  tingkatannya lebih tinggi karena memiliki  Tri Pramana (Sabda, Bayu, Idep).

Sepanjang  sejarah keterbatasan pemikiran manusia, sejauh itu pula proses penciptaan (Srsti)  terhadap Bhuwana  agung dan Bhuwana alit selalu menjadi pembicaraan  dan bahan diskusi bagi  pencari kebenaran rahasia alam  yang maha tinggi. Eksistensi  Bhuwana agung dan Bhuwana alit  merupakan  pengetahuan tentang  rahasia hidup yang sangat rahasia dan utama.  Pengetahuan ini harus dikuasai  sebagai suatu  sarana untuk  mencapai moksa.  Berbagai  pustaka-pustaka  suci Hindu  dapat dijadikan  obor penerang  menuju rahasia keagungan Brahman yang maha tinggi. Namun dalam  penyajian makalah  ini penulis hanya menyajikan  beberapa sumber saja mengenai konsep penciptaan (Srsti).

Konsep Penciptaan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

* Konsep Penciptaan dalam ajaran Ganapati-Tattwa

Dalam  Ganapati Tattwa disebutkan, pada awalnya dilukiskan tidak ada apa-apa. Tidak  ada bumi, tidak ada langit, tidak ada dunia, tidak ada ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Yang ada hanyalah  Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan  Nirguna, Sukha Acintya yaitu berkeadaaan maha bahagia  yang tidak terpikirkan. Kemudian  terjadilah evolusi  Tuhan dalam  keadaan Nirguna menampilkan  diriNya dalam aspek Saguna. Timbullah keinginan beliau untuk  menyaksikan keadaanNya dalam keadaan sekala-niskala. Mulailah beliau mencipta  yang berkeadaan nyata (Paras) dan yang berkeadaan tidak nyata (Para). Tuhan Saguna disebut juga Sanghyang Jagat Karana bersemayam dalam Sunya. Dari sanalah beliau  mencipta berturut-turut, antara lain:  Ongkara Suddha, Suara, Windu, Prana Suci. Dari Windu lahir Panca Dewata (Brahma, Visnu, Rudra, Iswara, Sadasiwa) yang menjadi  sumber ciptaan selanjutnya.

Ganapati Tattwa mengajarkan, hakekat alam semesta diciptakan oleh panca dewata dari unsur yang paling halus  hingga berwujud nyata. Pertama diciptakan Panca Tan Matra yang berkembang  menjadi wujud yang  lebih kongkrit dan bentuk nyata yaitu Panca Maha Bhuta. Setelah alam semesta  tercipta, kemudian tumbuhlah semua jenis tumbuhan dan binatang dan panca dewata berperan sebagai penjaganya.

Proses penciptaan  bhuwana alit tidak jauh berbeda dengan penciptaan bhuwana agung, sama-sama diciptakan  Panca Dewata. Brahma dan Wisnu menciptakan tubuh dengan sarana tanah dan air, Rudra  menciptakan  mata dari teja,  Iswara menciptakan nafas dari kayu dan  Sadasiwa menciptakan suara dari akasa. Setelah itu  terbentuk barulah  atma menjelma dalam kehidupan  manusia.  Dan Panca Dewata pun mulai menempati  bagian-bagian tubuh untuk  menjaganya dan menumbuhkan kesadaran dan menjiwai  bagian-bagian tubuh tersebut. Brahma menempati muladara, Wisnu menempati nabhi (pusar), Rudra menempati hati, Iswara menempati leher dan Sadasiwa menempati  ujung lidah. Dalam proses perkembangan manusia selajutnya, manusia berperan sebagai alat melalui sanggama. Sedangkan yang menjadi benih manusia di sebut Rupa Suksma yang berkeadaan abstrak dan gaib. Rupa suksma ini menjadi sukla yang mempunyai warna seperti manik putih kekuning-kuningan. Sedangkan swanita  keluar dari Pradhana Tattwa. Keduanya kemudian bercampur dalam rahim si ibu. Disanalah  ia terbentuk dan berkembang sehingga mencapai wujud yang sebenarnya.

* Konsep Penciptaan dalam Kitab Upanisad

Kitab Brhad Aranyaka Upanisad  menjelaskan bahwa Bhuwana Agung yang  diciptakan Tuhan adalah pelukisan dari Tuhan  itu sendiri yang dilukiskan dalam wujud personifikasi yang  abstraktif. Penciptaan Bhuwana Agung merupakan gambaran dari tubuh Tuhan dalam personifikasi abstraktif dan bumi yang kita tempati  merupakan  bagian kecil dari tubuh Tuhan.

(Grhad Aranyaka Up. I.1)

(Aum sesungguhnya, fajar  adalah kepala dari kuda  yajna,  matahari  adalah matahari, agni adalah  nafasnya, mulutnya yang terbuka adalah   api  vaisavanara; tahun adalah tubuh dari kuda yadnya,  langit   adalah  punggungnya, antariksa adalah perutnya, bumi sebagai telapak  kakinya …….. dst ).

Kitab  Mundaka Upanisad  masa penciptaan  (Srsti) digambarkan seperti halnya  seekor laba-laba  yang mengeluarkan  sarangnya pada masa penciptaan dan menariknya kembali ke dalam perut pada saat peleburan (Pralaya).

(Mundaka Up. I.1.7)

(Seperti  laba-laba mengeluarkan dan menarik benangnya, seperti tumbuh-tumbuhan bahan obat tumbuh di bumi, seperti rambut yang tumbuh di kepala dan badan orang, demikian alam semesta ini muncul dari Tuhan Yang Maha Esa.

* Konsep Penciptaan dalam Siva Purana

Terkait dengan proses penciptaan, kitab Siva Purana menyatakan bahwa pada awal penciptaan, semesta masih kosong hanya terdapat Brahman (Esensi ilahi) yang bersifat Nirguna  menyebar di mana-mana. Kemudian tidur dilautan  maha luas lalu muncullah sekuntum  teratai dari  pusar beliau dan lahir Brahma dan teratai itu. Setelah  sekian lama bertapa lalu Visnu dan  Brahma mendengar  suara suci “OM” dilantunkan, seiring  munculnya  Siva  dengan lima kepala dan  sepuluh tangan.  Siva menjelaskan bahwa mereka bertiga merupakan satu kesatuan, dimana Brahma sebagai pencipta, Visnu pemelihara dan Siva pelebur.

Brahmapun ditugaskan  untuk mencipta dan oleh Brahma bumi dibagi  menjadi 7 wilayah, yaitu  Jambudvipa, Plaksadvipa, Salmalidvipa, Kusadvipa, Karuneadvipa, Puskaradvipa dan Sakadvipa, yang dikelilingi 7 samudera   yaitu Lavana, Iksu, Sarpi,  Dadhi, Dugdha, Jala dan Rasa. Kemudian  beliau  menciptakan  planet-planet, lapisan bumi, sapta patala,  berbagai neraka,  satuan unit waktu. Kemudian Brahma menciptakan  Swayambhu Manu yaitu manu pertama. Dari Swayambhu  manu inilah kemudian  berkembang sampai pada manvantara yang ketujuh yang diperintah oleh Vaisvasvata  manu yang memiliki sembilan orang putra sebagai pendiri dinasty surya.

* Konsep Penciptaan Menurut Kitab

Tattwa Darsana

Dalam Tattwa Darsana disebutkan bahwa konsep penciptaan diawali dengan hukum  Kemahakuasaan-Nya. Bermula dari kekuatan  Tapa,  maka tercipta dua kekuatan  yang disebut purusha  dan pradana. Persatuan antara  purusa  dan pradana menciptakan  suatu zat yang  sangat halus yang  disebut “Citta” (alam pikiran). Setalah Citta kemudian terciptalah Buddhi (naluri pengenal dan intuisi), Manah (akal dan pikiran) dan Ahangkara (rasa keakuan). Buddhi, Manah dan Ahangkara menjadi kesatuan  alam Citta, kemudian muncullah Dasa Indria (Panca Budhi Indra dan Panca Karmendriya). Setelah  Dasa Indria terciptalah Panca Tan Matra  (limabenih unsur zat alam). Panca Tan Matra  berevolusi  menjadi Parama Anu (atom). Parama Anu berevolusi, terbentuklah Panca Maha Bhuta (limaunsur zat alam). Setelah berwujud  Panca Maha Bhuta kemudian berevolusi  dalam penyempurnaan bentuk menjadi  Brahmanda-brahmanda. Dari terwujudnya Brahmanda yang sedemikian  banyaknya dalam  ruang  jagat raya, maka dikenallah lapisan alam jagat raya, maka dikenallah lapisan alam  jagat raya yang disebut Sapta Loka  (7 lapisan dunia di luar  Brahmanda) dan Sapta Patala (7 lapisan yang membentuk kedalam lapisan kedalaman inti Brahmanda). Demikianlah konsep penciptaan Bhuwana Agung.

Dalam-dalam penciptaan  Bhuwana alit, dijelaskan sari-sari Panca Maha Bhuta menjadi “Sad Rasa” (manis, pahit, asam, asin, pedas dan sepat). Unsur Sad Rasa  bergabung  dengan unsur Citta, Buddhi, Manah,  Ahangkara, Dasendria, Panca Tan Matra, Panca Maha Bhuta, kemudian  membentuk dua  unsur benih  kehidupan yaitu  Sukla dan Swanita. Pertemuan Sukla dan Swanita itu sama halnya dengan pertemuan  purusha dan prakerti, maka timbullah ciptaan  makhluk hidup  yang telah  memiliki kekuatan  Atma sebagai  bagian kecil dari Parama  Atma. Unsur Citta, Buddhi, Manah, Ahangkara, Dasendria membentuk  indria manusia. Panca Tan Matra dan Parama Anu, Panca Maha Bhuta membentuk tubuh manusia. Atma  memberi jiwa pada makhluk, maka terciptalah  manusia yang lengkap memiliki jiwa, pikiran, perasaan dan organ tubuh sempurna.

Tatwa Jnana

Sanghyang Tattwajnāna yang patut diketahui oleh seorang abdi dharma, yang ingin bebas dari kesengsaraan penjelmaan. Tattwajnāna merupakan dasar semua Tattwa.

CETANA, ACETANA

Cetana ialah jnana yaitu: mengetahui, ingat,  ingat akan kesadaran dan menjadi lupa. Acetana  ialah lupa  bingung tak memiliki kesadaran. Cetana dan Acetana  itulah disebut  dengan Śiwatattwa dan Māyātattwa. Māyātattwa  lebih rendah dari Śiwatattwa. Māyātattwa tidak memiliki  cetana,  tidak memiliki jnāna, hanya lupa  tidak memiliki kesadaran, ketiadaan sebagaimana badannya, kosong bebas tiada  yang merintangi. Lupa tak ingat  apapun, demikianlah sifat-sifat  Māyātattwa.  Śiwatattwa mempunyai sifat-sifat  sadar  jernih bercahaya. Śiwatattwa ada tiga   yaitu : Paramaśiwatattwa, Sadāśiwatattwa dan  Ātmikatattwa

  • PARAMAŚIWATATTWA

Sifat-sifat  Bhatāra  paramaśiwatattwa yaitu  tanpa bentuk, tidak bergerak, tidak guncang, tidak pergi, tidak mengalir, tidak ada asal, tidak ada yang dituju, tidak berawal, tidak berakhir, hanya tetap  tak  bergerak tetap tanpa  gerak. Diam dan kekal. Seluruh  alam semesta  ini dipenuhi, diliputi, disangga disusupi seluruh  saptabhuwana ini oleh-Nya. Sapta patala  disusupi sepenuh-penuhnya, tiada ruang  yang terisi  penuh terisi  alam semesta  oleh-Nya. Tidak dapat dikurangi, tidak dapat ditambahi. Tanpa karya, pun juga  tanpa tujuan. Tidak dapat diganggu  oleh perbuatan baik  ataupun buruk. Tak dapat  dikenal keseluruhannya. Dan ia tidak mengenal  masa lalu, masa yang akan datang dan masa kini. Tidak dirintangi oleh waktu, selalu siang tidak sesuatu ilang pada-Nya. Ia kekal abadi.

  • SADĀŚIWATATTWA

Bhatārasiwatattwa bersifat Wyāpāra. Wyāpāra artinya ia dipenuhi oleh  sarwajnā (serba tahu) dan sarwakāryakarthā (serba kerja). Sarwajnā sarwakāryakarthā  ialah ada padmasana sebagai  tempat duduk  bhatāra, yang disebut  Cadusakti,  yaitu jnānaśakti, wibhuśakti,  prabhuśakti, kryaśakti.

  • Jnānaśakti  ada tiga, yaitu  dūrādarśana, dūrāśrawana, dūrātmaka.
  1. Dūrādarśana ialah melihat  yang jauh  dan yang dekat.
  2. Dūrāśrawana ialah mendengar  suara yang jauh  dan yang dekat.
  3. Duratmaka  mengetahui perbuatan  yang jauh  dan yang  dekat.
  • Wibhuśakti ialah tidak ada kekurangan-Nya di seluruh alam semesta ini.
  • Prabhuśakti ialah tidak ada dirintangi  segala yang  dikehendaki-Nya.
  • Kriyaśakti ialah mengadakan seluruh  alam semesta ini lebih-lebih para dewata semuanya, seperti: Brahma, Wisnu, Iswara, Pancarsi, Saptarsi, Dewarsi, Indra, Yama, Waruna, Kubera, Wesrawana, Widyadhara, Gandharwa, Danawa, Daitya, Rāksasa, Bhūtayaksa, Bhūtadengen, Bhūtakala, Bhūtapisaca, demikianlah pula alam ini, Prthiwi (tanah), Āpah (air), Teja (cahaya), Wāyu (udara), Ākasa (ether), bulan,  matahari, planit. Itulah semua karya Bhatāra Sadāśiwattwa di alam  niskala.

Adapun karya  Bhatāra Sadāśiwattwa di alam sekala ialah: Sanghyang Śastra, Āgama, ilmu pengetahuan mantra (waidya), ilmu logika (tarka), ilmu tata bahasa (wyākārana), ilmu hitung (ganita).

Bhātāra  Sadāśiwattwa adalah penguasa alam sekala dan niskala ialah Bhatāra  Adipramana, Bhatāra  Jagatnatha, Bhatāra  Karana, Bhatāra  Parameswara, Bhatāra  Guru, Bhatāra  Mahulun, Bhatāra  Wasawaśitwa. Ia  menciptakan namun ia sendiri tidak diciptakan, ialah yang berkuasa  untuk mengadakan dan meniadakan. Tidak ada yang dapat mengalahkan ialah Bhatāra  Gurunya guru.

  • ĀTMIKATATTWA

Ātmikatattwa adalah Bhatāra  Sadāśiwattwa dengan ciri-cirinya: Utaprota. Uta ialah tak tampak tak ketahuan. Ia mengembang memenuhi mayatattwa. Prota ialah tak  dan tak dapat  dikenal lagi ia memenuhi mayatattwa. Itulah Sadāśiwattwa.

Sifat Mayatattwa itu kotor (mala). Itulah yang dipandang dan dihiasi dan dilekati  oleh kotor (mala). Itulah sebabnya  seperti  hilangnya sakti Bhatara  akhirnya namun tidak demikian, karena  Sadāśiwattwa tidak dapat dikotori  hanya saja  cetananya  yang terlekati  oleh mala, dihiasi dan diselimuti  oleh mayatattwa. Akhirnya cetana itu tidak aktif, tidak lagi sarwajna, tidak lagi sarwakaryakartha, sehingga cetana itu kesadarannya amat kecil.  Maka  disebutlah  Atmikatattwa, Sanghyang Atmawisesa, Bhatara  Dharma yang memenuhi alam semesta ialah jiwanya alam semesta  jiwa semua makhluk.

Anak Māyātattwa adalah Pradhānatattwa sifatnya lupa tak ingat apapun. Bertemunya  ingat-lupa  disebut Pradhāna purusa. Bertemunya pradhāna dengan purusa  melahirkan Cita  dan Guna. Cita adalah wujud kasarnya  purusa. Guna adalah hasil  pradhanatattwa yang diberi  kesadaran  oleh purusa. Guna ada tiga yang disebut dengan Triguna yaitu: Sattwa, Rajah, Tamah. Triguna ini menentukan akan mendapatkan  apa ātmā itu. Satwa, rajah, tamah yang melekat pada alam pikiran (cita) itulah yang menyebabkan ātmā  itu menjelma berulang-ulang.  Sattwa  terang bercahaya besar pada alam pikiran itulah yang menyebabkan ātmā  mencapai kelepasan (kamoksan). Satwa bertemu dengan  rajah menyebabkan ātmā datang di sorga. Bila sattwa bertemu dengan rajah dan tamah ātmā itu menjadi manusia, karena  sattwa, rajah dan tamah tidak sejalan kehendaknya. Pertemuan Triguna dengan citta melahirkan buddhi. Buddhi  itu adalah  bentuk kasarnya triguna yang diberi kesadaran oleh citta. Dari buddhi lahirlah angakāra.

Bhatāra  yang dijunjung  memberi kesadaran pada Sanghyang Ātmā. Sanghyang ātmā  memberi kesadaran  pada citta. Citta memberi kesadaran pada ahangkara. Itulah yang disusupi oleh kriyaśakti Bhātara yang memberi kekuatan. Itulah yang disebut  hidupnya hidup. Kriyaśakti   Bhātara Pramana sebagai  hidupnya ahangkara sebagai hidupnya buddhi. Ahangkāra  yang sifatnya mengaku-aku.

Ada tiga jenis ahangkāra  yaitu:

  1. Ahangkara si waikrta adalah buddhi sattwa
  2. Ahangkara si taijasa adalah buddhi rajah
  3. Ahangkara si bhutadi adalah buddhi tamah.

1.  Ahangkara si waikrta menyebabkan adanya  manah dan 10 indriya yaitu:

  • Panca Budhi Indria:
  1. Caksu Indria: Alat pengeliatan pada mata
  2. Srota Indria: Alat pendengaran pada telinga
  3. Ghrana Indria: Alat penciuman pada Hidung
  4. Jihwa Indria: Alat pengecap atau perasa indria pada lidah
  5. Twak Indria: Alat peraba indria pada Kulit
  • Panca Karma Indria:
  1. Pani Indria: indria pada tangan
  2. Pada Indria: indria pada kaki
  3. Garbha Indria: Indria pada perut
  4. Upastha Indria: Indria pada pada kelamin
  5. Payu Indria: Indria pada alat pelepasan atau dubur

Itulah  pancakarmendriya  dengan pancendriya yang disebut dengan Dasendrya.

2. Ahangkara si bhutadi ialah yang menyebabkan adanya pancatanmatra yaitu: sabdatanmātra, sparsatanāmtra, rupatanmātra, rasatanmātra, gandhatanmātra.

  • Sabdatanmātra artinya suara yang halus,
  • Sparsatanmātra artinya rabaan yang halus
  • Rupatanmātra artinya warna/udara yang halus.
  • Rasatanmātra artinya rasa yang halus.
  • Gandatanmātra artinya  bau yang halus.

Dari panca tanmātra, lahir  Panca mahabhūtha yaitu, Ākasa, wāyu, teja, apah, prthiwi.

  • Akasa yaitu unsur Eteratau Ruang lahir dari sabdatanmātra
  • Wayu yaitu unsur Hawa atau Udara lahir dari sparsatanmātra
  • Teja yaitu unsur Api atau Panas lahir dari rupatanmātra
  • Apah yaitu unsur Air atau yang bersifat Cair lahir dari rasatanmātra.
  • Pertiwi yaitu unsur Tanah / semua yg bersifat keras lahir  dari  gandhatanmātra

Gandha ada tiga jenis yaitu:

  • Surabhi  adalah bau  wangi
  • Asurabhi adalah bau busuk
  • Gandhasadharanah  adalah bau yang  tidak wangi dan bau yang tidak busuk.

Berpadunya panca mahabhūta  dengan guna membentuk Andhabhuwana yaitu:  Saptaloka, bertempat  di puncak  yang tertinggi.

  • Satya loka bertempat  paling di atas,
  • kemudian dibawahnya, Mahāloka,
  • Janaloka,
  • Tapaloka,
  • Swarloka,
  • Bhuwarloka,
  • Bhurloka.

Bhurloka tempat berkumpulnya semua tattwa  yaitu:

  • saptāparwa,
  • saptānawa,
  • saptadwipa,
  • dasabayu,
  • dasendriya.

Disamping alam atas terdapat alam  bawah disebut  saptapatala:

Saptapatala, bertempat di bawah yang disebut dengan Bhuwana Sarira.

  • patala,
  • witala,
  • nitala,
  • mahāloka,
  • sutala,
  • tala-tala,
  • rasatala
  • dibawah saptapatala adalah Balagadarba yaitu  mahaneraka
  • dibawah  mahaneraka terdapat  Sang Kalagnirudra yaitu api yang senantiasa menyala 100.000 yajna jauh menyala  berkobar-kobar.

3.  Ahangkara si Taijasa adalah  buddhi raja,  yaitu sifatnya beristri dua orang  yaitu membantu si waikrta dan si bhutadi. Ahangkāra  itu ada tiga  sifatnya  lahir dari  buddhi menserasikan sattwa, rajah, dan tamah. Yang mensrasikan itu adalah  Sanghyang Pramana  untuk mengaku, merencanakan  perbuatan baik atau buruk.

Perbedaan Pramana dan Wisesa yaitu:

  • Sanghyang Pramana lebih rendah dari pada Sanghyang Wisesa.
  • Sanghyang Pramana aktif dalam perbuatan baik atau buruk.

Namun Sanghyang Wisesa tidak aktif, tidak berkata tanpa tujuan, tidak mengetahui akan baik dan buruk. Hanya tetap diam  tenang, tak bergerak, tidak terguncang, tidak berjalan, tidak mengalir.

Atma itu berada di Turyapada, Jarapada, Suptapada.

  • Atma berada di Turyapada disebut  Pramana Wisesa
  • Atma berada di Jarapada disebut Pramana
  • Atma berada si Suptapada disebut Wisesa.

Yang menyebabkan  Ahangkāra itu  disebut  Pramana ialah sebagai  sarana untuk mengaku  untuk menentukan sehingga atam itu mengalami sengsara  atau  Ātma itu menjelma berkali-kali.  Ahangkāra  itu ada tiga macamnya yaitu:  tempatnya pada buddhi: ada buddhi sattwa,  buddhi rajah, buddhi  tamah. Itulah yang  mengikuti apa yang diingini oleh  Yoninya sebagai penjelmaannya. Yoni  itulah yang menyebabkan kemoksan, sorga, demikian pula penjelmaan yang  berulang-ulang.

Budhi Sattwa

  • Bila ada  buddhi  sattwa sangat menekankan kepada hakekat kebijaksanaan, mengamati baik-baik sastra, melaksanakan kesamyagjanan, maka kelahirannya Sanghyang Tripurusa  Kelahiran sattwa.
  • Bila buddhi sattwa sangat menekankan  pada hakekat  brata, tapa,  yoga samadhi, maka pancarsi kelahiran sattwa yang demikian .
  • Bila buddhi  sattwa menekankan  pada hakekat  puja, arcana, japa, mantra dan puji-pujian terhadap  bhatara, maka saptarsi kelahiran sattwa yang demikian.
  • Bila buddhi satwa  tidak mengindahkan  baik dan buruk, namun  kasih – sayang pada  segala makhluk; dewarsi kelahiran  sattwa yang demikian.
  • Apabila buddhi  sattwa sangat  menekankan pada  hakekat dharma, kirti, yasa, kebijakan maka kelahiran dewa sattwa yang  demikan.
  • Apabila buddhi  sattwa, sangat menekankan  pada hakekat keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak memperdulikan bahaya, sangat rela ikhlas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam  berperilaku, hanya  tenang pikirannya, pikirannya semata-mata  jernih,  bila akan melaksanakan  ketetapan  hatinya, keberaniannya, widhyadhara  kelahiran sattwa yang demikian.
  • Apabila buddhi  sattwa, sangat menekankan pada hakekat  keindahan, ia senang mendengarkan  bunyi-bunyian yang menyebabkan  senangnya telinga, cinta pada tari-tarian, kidung, cinta  bercengkrama,  setiap yang  indah menawan  didatanginya, ia senang memandang bunga yang  harum. Gandharwa  kelahiran sattwa yang demikian.

Adapun  yang dijadikan dasar oleh para  arif bijaksana  untuk mencapai  kemoksan oleh  para rsi, dewarsi, saptarsi,  terutama oleh sanghyang Tripurusa ialah, buddhi  sattwa yang  kenista, madhyama, uttama.

Budhi Rajah

  • Adabuddhi rajah, diberi kata-kata yang tak layak, menjadi marahlah ia, maka tak mampu  menahan, tidak keluar dalam penampilannya, karena sesungguhnya ada orang lain. Maka itu ia diam saja menahan  dirinya. Karena sesak hatinya maka mengalir  keluar dalam wujud  tangis. Jika demikian kelahirannya  Denawa rajah yang demikian.
  • Adabuddhi rajah, diberi kata yang tak baik menjadi  marah,  tetapi ia tidak tinggal diam, seketika ia  menjauh dan berkata, katanya: “paling hebatlah padaku, ia  kira aku orang penakut, hanya karena enggan untuk  bertengkar karena aku sayang akan kebaikanku”.  Itulah  kelahiran Daitya rajah yang demikian.
  • Adabuddhi rajah diberi kata-kata yang tidak baik, menjadi marah gemetar  badannya, seketika ia  menyerang, lancang. Kata-katanya:  lancang tangan, lancang kaki, menjerit, meraung, berkata seenaknya saja, Raksasa kelahiran  rajah yang demikian.

Dewa keris pencabut nyawa  adalah Raksasa. Daitya menjadi dewanya  keris yang menjadi senjata seorang petani. Danawa adalah dewanya keris yang menjadi senjata seorang pendeta.

Buddhi Tamah

1. Tidak resah pada apa yang dimakan, ia merasa kenyang dengan secabik sayur, sekepal nasi, seteguk air, seteguk tuak, puaslah hatinya. Itulah kelahiran Bhutayaksa tamah yang demikian.

Bhutayaksa  tempat tinggalnya di desa sebagai dewanya logam, tinggal pada lingga pratima, arca pujaan.

2. Bila ada buddhi tamah, memilih apa yang di makan, bukan  emas yang diinginkannya yaitu  yang paling  tidak ditolaknya, apa saja yang   gemerlapan tidak diingininya. Tidak masuk dihatinya, namun bila ia  menemukan makanan, sejuklah hatinya. Kelahiran  Bhuta dengen tamah yang demikian.

Bhuta dengen tempat tinggalnya  di wanglu, sebagai dewanya kayu  banaspati (beringin).

3.      Bila buddhi tamah, sama saja apa yang dimakan, tidak memilih  apa yang diingininya, semua  daging yang dipandang orang haram dimakannya saja, asalkan membuat kenyang, katanya, kelahiran bhutakala tamah yang demikian.
Bhutakala tamah  tempat tinggal  di kuburan, perbatasan  pemakaman, simpang empat.

4.      Bila  ada buddhi tamah, mau saja ia makan  yang tidak enak yang  menyebabkan ia  kemudian gelisah resah, ke barat ke timur, tidak mengenal  letih, kemudian sadarlah ia  tertipu  barang  orang, yang menyebabkan ia menjadi manggul dan lesu  namun masih tergila-gila. Dipasang juga telinganya, bila  mendengar ada makanan kelahiran  Bhutapisaca tamah yang demikian.

Bhutapisaca tamah  tempat tinggalnya di angkasa, berjalan-jalan, tidak bergerak (sasabawuh).

  • Bertemunya  Bhutayaksa dengan dewarsi, saptarsi, pancarsi, tripurusa  terang bercahaya  buddhi itu, itulah  atma mencapai Kamoksaan.
  • Adapun bhuta dengan  hanya daitya bertemu dengan daitya, wedyadhara, dewata, terang bercahaya  besar buddhi itu, itulah yang menyebabkan atma mencapai sorga.
  • Bhutakala bertemu dengan raksasa, gandharwa, terang bercahaya buddhi itu, itulah  yang menyebabkan lahirnya  sebagai manusia.
  • Bhutapisaca bertemu dengan raksasa, terang bercahaya buddhi itu, itulah  menyebabkan atma itu  jatuh ke Neraka.
  • Bhutapisaca, terang  bercahaya besar buddhi itu, maka atma  menjelma sebagai Binatang.
  • Tripurusa ialah Bhatara Brahma, Wisnu, Iswara, bila ia kurang hati-hati, kurang  yoga, pancarsi  jadinya.
  • Pancarsi  kurang yoga Saptrsi jadinya
  • Saptarsi  kurang yoga Dewarsi jadinya
  • Dewarsi kurang yoga Dewata jadinya
  • Dewata  kurang yoga Widyadhara jadinya
  • Widyadhara kurang yoga Gandharwa jadinya
  • Gandharwa kurang yoga Danawa jadinya
  • Danawa kurang yoga Daitya jadinya
  • Daitya kurang yoga Raksasa jadinya
  • Raksasa kurang  yoga  Bhutadengan jadinya
  • Bhutadengan kurang yoga bhutakala jadinya
  • Bhutaka kurang yoga Bhutapisaca jadinya
  • Bhutapisaca kurang yoga Manusia jadinya
  • Manusia kurang yoga  menjadi binatang

Binatang ada lima:

  1. Pasu (binatang) yang lahir di desa.
  2. Mrga ialah binatang yang lahir di hutan
  3. Paksi ialah  segala  yang terbang
  4. Mina ialah yang  lahir di air
  5. Pipilika ialah nama binatang yang berjalan-jalan  dengan dadanya.

Apabila dengan baik dapat  memahami  Sanghyang  Tattwajnāna, oleh masyarakat yaitu dari kesadarannya untuk melaksanakan Prayogasandhi, dengan  penerangan Samyagjnāna, dengan berdasarkan brata,  tapa, yoga, Samadhi, itulah obat dari atma yang sengsara. Ātmā bagaimanakah yang menanggung  sengsara? Tempat  Sanghyang  ātmā di Turyapada, telah lebih dulu dikatakan Bhatara jungjungan disebut wyāpi wyapaka. Ia berada di alam niskala kriyasaktinya  Bhatāra  merasuki ahangkāra. Ahangkāra  merasuki wāyu. Wayu  meresap pada  nadi. Nadi itu  merasuki tubuh dengan halus. Tubuh itulah  yang menanggung  pancagati (limakesengsaraan) itu. Ketika  ātmā memberi kesadaran  pada pradhānatattwa maka pada saat itulah Sanghyang  ātmā yang  terbagi dua yaitu  ada yang wyāpāra  dan yang tidak wyāpāra.

  • Wyāpāra adalah ketika  atma pada saat memberikan kesadaran pada pradhanatattwa.
  • Tidak Wyāpāra adalah  Bhatāra junjungan berhenti diam tidak lagi menyuruh memberi kesadaran.

Ātma tetap  tinggal diam tak begerak dan tak terguncang, ialah yang disebut  Ātmāwisesa dan ia  pulalah yang  disebut Bhatāra Dharma. Ketika ātmā itu aktif memberi kesadaran di sebut dengan Pramāna. Ātmā yang disebut  Sanghyang pramāna  dan Sanghyang Ātmā Wisesa hanya tetap  akan di Turyapada, Begitu juga Ātmā yang berada di Jāgrapada ia juga tunggal sifatnya hanya saja perbedaan  halus dan kasar. Ātmā yang berada di Jāgrapada sebab cetana sifatnya. Cetana adalah wujud kasar Ātmā yang berada di Turyapada yang  disebut citta yang dilekati  oleh Triguna. Citta   ialah  tutur  Wyapara  kesadaran  yang kacau yang tahu baik dan buruk. Tutur adalah  ketika  tetap  diam tak bergerak.  Ātmā yang  berada di Jagrapada berkeadaan sama pada tutur wyapara dan tanpa  waypara.

  • Ātmā yang diberi nama Ahangkara si Waikrtha, ialah  dibuat oleh bhatara untuk membuat  pancatanmatra dan pancamahabhuta. Adapun  manah (pikiran)  itu diwujudkan lagi menjadi tattwa lawölawö (kelopak bunga). Ātmā lawölawö adalah atma pari wara. Ātmā Pariwara  adalah pancatmā yaitu, ātmā, parātmā,  nirātmā, antarātmā dan suksmātmā. Itulah  yang disebut dengan inti wujud kasarnya ātmā  ialah yang sesungguhnya  mengalami baik dan buruk  perbuatannya, tidak habis-habisnya.
  • Ātmā disebut  Ahangkara si waikrta adalah buddhi sattwa, ialah  yang menanggung  sengsara.
  • Ātmā yang dinamai  Ahangkara  si tejasa, ia adalah buddhi rajah, ialah yang menyakiti.
  • Ātmā yang disebut si bhutadi  ialah buddhi  tamah, ia sebagai kesengsaraan orang yang ditempati oleh bhatāra  Siwa memiliki atma wisesa.

Walaupun ātmā orang ātmā wisesa ia  harus melaksanakan  tapa, brata,  samādhi. Pada waktu samādhi Bhatāra Siwa akan menyatakan dirinya. Pada  binatang  tidak ada ātmā  wisesa itu, ia lebih  banyak digerakkan  oleh wāyu, idep dan sabda. Sabda, wāyu dan idep itu meresapi  seluruh  tubuh manusia yang dibei kesadaran  oleh ātmā dalam kadar yang  berbeda-beda yang menyebabkan perbedaan itu ialah  Subhāsubha Karma. Ātmā yang berada  dijāgrapada dan tūriapada adalah ātmā yang luput dari  subhāsubha karma karena kesuciannya. Sedangkan  ātmā yang berada di suptapada adalah ātmā sengsara karena  terus menerus lahir menjadi dewata, manusia dan binatang. Ia selalu  diombang-ambing oleh pikiran yang berangan-angan. Adapun  turyapada dan  tūryāntapada  itu sukar  dijangkau oleh pikiran  manusia  yang begitu  halusnya. Untuk menentukan sesuatu  itu dapat  dipergunakan Tri Pramāna,  yaitu  Praktiyasa, Anumāna dan āgama pramāna. Turyāntapada  hanya dapat dibayangkan dengan āgama, pramāna. Ātma-ātmā itulah yang lahir  menjadi manusia, tinggal dalam  badan manusia meresap dalam sadrasa, yang membangun  tubuh manusia.

Adapun  Sadrasa (enam rasa) itu adalah:

  1. Amla (asam),
  2. Kesaya (sepet),
  3. Tikta ( pahit ),
  4. Katuka (pedas ),
  5. Lawana (asin),
  6. Madhura (manis).

Namun tubuh  itu dasarnya dibangun dari Panca Mahābhuta yaitu:

  1. tanah dijadikan kulit,
  2. air dijadikan  darah,
  3. teja dijadikan daging,
  4. angin dijadikan tulang,
  5. udara dijadikan sumsum.

Dan pancatanmatra  yaitu:

  1. sabda tanmatra menjadi telinga.
  2. Sparsatanmatra menjadi kulit,
  3. rupatanmatra menjadi mala,
  4. rasatanmatra menjadi lidah,
  5. gandhatanmatra  menjadi hidup.

Sebenarnya tubuh  itu juga merupakan  tiruan alam besar karena bagian-bagian tubuh itu bagaikan  bagian-bagian alam  besar. Demikianlah  bagian-bagian  tubuh itu  dapat dibandingkan dengan sapta bhuwana, sapta pātāla, sapta parwata, sapta arnawa, sapta dwipa.

  • Sapta Buwana ialah:
  1. bhur loka adalah perut,
  2. bhuwarloka adalah ati,
  3. swarloka adalah dada,
  4. tapaloka adalah kepala,
  5. janarloka adalah lidah,
  6. mahaloka adalah hidung dan
  7. satyaloka adalah mata.
  • Sapta Pātāla ialah:
  1. petala adalah dubur,
  2. wantala adalah  paha,
  3. nitala adalah lutut,
  4. mahatala  adalah betis,
  5. sutala adalah pergelangan kaki,
  6. tala-tala adalah …..,
  7. pasatala adalah telapaknya  yang dibawah.
  • Sapta Parwata  ialah
  1. buah pelir  adalah gunung Mālyawān,
  2. pelir adalah  gunung Nisada,
  3. limpa adalah  gunung Gandhamādana,
  4. paru-paru adalah gunung  Malayamahidhara,
  5. empedu adalah gunung Trisrengga,
  6. hati adalah gunung Windhya,
  7. jantung adalah gunung Mahāmeru.
  • Sapta Arnawa, ialah:
  1. air kemih  adalah  lautan tuak,
  2. darah adalah lautan gula tebu,
  3. keringat adalah lautan garam,
  4. lemak adalah  lautan minyak,
  5. air liur adalah lautan madu,
  6. sumsum adalah  lautan susu,
  7. otak adalah lautan santan.
  • Sapta  Dwipa,  ialah:
  1. tulang adalah pulau jambu,
  2. otot adala pulau kusa,
  3. daging adalah pulau sangka,
  4. kulit adalah pulau samali,
  5. bulu adalah pulau  gomedha,
  6. sendawa adalah  pulau puskara dan
  7. gigi adalah pulau  kraunca.

Bila dalam  alam  besar terdapat banyak sungai, maka dalam badan terdapat semacam  sungai yang disebut nādi. Nādi  yang utama  terdapat sepuluh nādi yaitu:

  1. Ida adalah nādi disebelah kanan, tempat  makananan lewat terus  masuk meresap sampai kesekat rongga dada.
  2. Pinggala adalah  nādi disebalah kiri, tempat  air lewat terus masuk meresap ke dalam kandung kemih.
  3. Sumsumna adalah nadi ditengah, tempat angin memencar ke tiga  jurusan.
  4. Gandhari,  ialah cabang  nadi, tempat angin lewat melaju sampai  ke kepala, kemata, ke hidung, ke telinga, ke ubun-ubun.
  5. Asti, adalah cabang nadi,  tempat angin lewat  menuju semua  persendian, terus masuk meresap   sampai ke dalam kulit, bulu badan.
  6. Jihwā adalah  cabang nadi, tempat  angin lewat  ke jantung.
  7. Pusā adalah  cabang nadi tempat angin  lewat menuju paru-paru.
  8. Alambusā ialah cabang nadi tempat angin  lewat menuju  sampai ke limpa.
  9. Sangkhini adalah cabang nadi, tempat  angin lewat menuju sampai ke buah pelir dan  batang pelir.
  10. Kuhūh adalah cabang nadi …..?

Tenaga gerak  tubuh itu di sebut wāyu. Jumlahnya  sepuluh disebut  Daśawayu yaitu:

  1. Prana  berada di dalam jantung hingga di dada  batasnya yang menjadi sumber gerak semua wayu, sebagai  jiwanya. Gunanya ialah sebagai nafas.
  2. Apāna ialah  wāyu  yang ada di dalam kandung kemih, mengedarkan  sari-sari  makanan yang dimakan dan diminum,  yang menjadi sperma dan ova. Ampasnya menjadi berak dan air kencing. Sari-sari  yang dibaui menjadi dahak dan ingus.
  3. Udana ialah wayu yang  berada di ubun-ubun, menggerakkan mata dan mulut tujuannya.
  4. Wyāna ialah wayu  yang berada  pada semua persendian, menggerakkan  badan dan  mengamati  umur tua dan kematian.
  5. Samana ialah wayu yang berada dalam hati, mengedarkan  apa-apa yang  dimakan dan diminum, menjadi darah, daging, empedu.
  6. Wāyu Nāga,  menyebabkan ?
  7. Wāyu Kūrma, menyebabkan gemetar, keriputnya badan.
  8. Wāyu Dewadatta,  menyebabkan  menguap.
  9. Wāyu Krekara,  menyebabkan orang bersin.
  10. Wāyu Dhananjaya sebagai suara tujuannya.

Semuanya itu dihidupi oleh Sanghyang Ātmā yang membagi-bagi dirinya dalam menghidupi bagian-bagian tubuh itu. Akibat dari  pembagian itu, maka ātmā membagi  dirinya menjadi Pancātma yaitu:

  1. Ātma  adalah idep (pikiran ) yang berada dalam  hati. Gunanya  untuk berpikir.
  2. Parātma ialah pikiran yang berada pada mata. Gunanya  untuk melihat.
  3. Antarātma ialah pikiran yang berada di ubun-ubun. Gunanya  sebagai  antara jaga dan tertidur.
  4. Suksmātma ialah  pikiran yang berada  pada telinga. Guanya untuk mendengar.
  5. Nirātma ialah pikiran yang berada dalam kulit. Gunanya untuk  merasakan  rasa panas dan dingin.

Dunia ini dialami oleh ātmā  melalui Dasendriya dan manah.

Dasendriya yaitu:

  1. Srotendriya pada telinga menyebabkan ātmā mendengar kata-kata yang baik dan buruk.
  2. Twagindriya pada kulit yang  menyebabkan ātmā merasakan panas dan dingin, merasakan apa yang dipakai apakah lembut.
  3. Caksuwindriya pada mata, yang menyebabkan ātmā melihat  rupa dan warna.
  4. Jihwendriya pada lidah yang  menyebabkan  ātmā mengecap  sadrasa (enam rasa).
  5. Ghranendriya pada hidung  yang menyebabkan  ātmā dapat membau,  bau busuk dan bau wangi.
  6. Wagendriya pada mulut  yang menyebabkan ātmā dapat memastikan yang ada  atau yang tidak ada.
  7. Panindriya pad atangan, yang menyebabkan ātmā dapat memegang.
  8. Padendriya pada kaki yang menyebabkan ātmā dapat berjalan.
  9. Paywindriya pada dubur, yang menyebabkan  ātmā dapat kentut dan buang air besar.
  10. Upastendriya pada alat kelamin  perempuan dan laki yang menyebabkan ātmā dapat  melakukan persetubuhan.

Demikianlah dasendriya  dalam badan  jasmani, ditambah buddhi, manah  dan ahangkara.

Buddhi adalah sarana atma  berpikir

Manah adalah sarana atma membayangkan  wujudnya.

Ahangkara  adalah sarana  atma mengaku  bermilik dan sebagai sarana atma  mempersiapkan  tinakan yang  baik atau buruk. Buddhi, manah, Ahangkara dan dasendriya disebut Trayodasakārana ( tiga  belas penyebab) ditambah triguna yaitu sattwa, rajah, dan tamah.

Lalu para Dewa dan para Rsi  juga menempati bagian-bagian-bagian tubuh kita sepeti:

  • Bhatāra Brahmā menempati hati
  • Bhatāra Wisnu menempati  empedu
  • Bhatāra Iswara pada jantung

Tempat Panca Rési

  • Sang Kusika  pada  kulit
  • Sang Garga pada darah dan daging
  • Sang Maitri pada lemak, otot.
  • Sang Kurusya pada tulang, sumsum
  • Sang Werttanjaya pada otot, daging.

Tempat Dewaresi

  • Sanghyang Maheswara pada buah pelir
  • Sanghyang Sadasiwa pada kandung kemih
  • Sanghyang Paramasiwa pada dada.

Tempat Saptaresi

  • Aditya  pada mata kanan
  • Soma  pada mata kiri
  • Anggara pada telinga kanan
  • Budha pada telinga kiri
  • Wrehaspati pada hidung kanan
  • Sukra pada  hidung kiri
  • Saniscara pada mulut.

Tempat Dewata Yaitu:

  • Hyang Indra  pada dada
  • Hyang Yama  pada tangan kanan
  • Hyang Waruna  pada punggung
  • Hyang Kubera pada tangan kiri
  • Hyang Waisrawana  pada pinggang.

Tempat Widhyadara yaitu:

  • Citrasena sebagai keberanian
  • Citranggada sebagai keperwiraan
  • Citraratha sebagai keteguhan  hati
  • Gandharwa adalah sebagai ketenangan, kepuasan, keindahan, kegirangan, kelangenan, itulah tempatnya  sattwa.

Tempat  Rajah yaitu:

  • Danawa sebagai kekerasan, kecepatan, panas yang keras.
  • Daitya sebagai kemarahan, kebencian, kesedihan.
  • Raksasa sebagai  kebingungan, penipuan , iri,  kelancangan, kekuasaan.

Tempatnya Tamah yaitu:

  • Bhūtayaksa sebagai lapar, kelelahan dan haus.
  • Bhūtadengen sebagai  keletihan,  kelesuan, sakit.
  • Bhūtakala sebagai kenyang, amat kenyang, mabuk.
  • Bhūtapisacab sebagai lemah, enggan, kotor, kantuk,  tidur, bodoh.

Tempat “Pada” yaitu:

  • Jāgrapada menyebabkan ātmā bangun dari tidur pada diri manusia.
  • Suptapada menyebabkan ātmā tidur.
  • Swapnapada  menyebabkan  ātmā dapat mimpi, mengigau pada diri manusia.

Badan Sanghyang ātmā adalah  Pradhānatattwa yang disebut ambék. Ambék  dan  tubuh  itu disebut anggrapadhana. Dari  ambéklah  timbulnya suka  duka, baik dan buruk. Ambéklah yang  menikmati  obyek kenikmatan  itu melalui  dasendriya. Maka harus ditarik dari obyek  kenikmatannya., kembalikan  kedalam  ambék, ambék kedalam  pramanā, pramāna  ke dharamawisesa, dharmawisesa  kedalam antawisesa, antawisesa ke dalam anatawisesa.

Cara mengembalikan  itu  oalah dengan Prayoga Sandhi yang dapat dilaksanakan dengan tuntunan Samyagjnāna. Samyagjnāna hanya akan diperoleh melalui  tapa, yoga,  dan samādhi.

Yang dimaksud  dengan prayogasandhi  ialah

  1. āsana,
  2. prānayama,
  3. praktyāhara,
  4. dhārana,
  5. dhyāna,
  6. tarka dan
  7. samādhi.

Bila Sang  Yogiswara telah menemukan samādhi itu, ia  dikatakan telah memiliki ka-astaiśwaryan.

Astaiśwaryan itu meliputi:

  1. alima,
  2. laghima,
  3. mahima,
  4. prapti,
  5. prakāmya,
  6. isitwa,
  7. wasitwa,  dan
  8. yatrakāmawasayitwa.

Bila endapan  sattwa sudah  tidak ada lagi, maka saat itulah Sang Yogiswara berpisah dengan panca mahabhuta dan kembali  menyatu dengan Bhatāra Paramaśiwa.

Siwa Tatwa

“Memahami Siwa Tattwa Di Bali” ini menggunakan beberapa sumber Lontar seperti: Bhuwana Kosa, Wrhaspati  Tattwa, Ganapati Tattwa. Lontar-lontar  tersebut adalah sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Adapun ikhtisar masing-masing Lontar tersebut adalah:

A.  Bhuwana Kosa

Bhuwana Kosa adalah nama salah satu lontar yang tergolong jenis tattwa atau tutur yang di pandang sebagai Lontar  tertua dan  sumber lontar-lontar tattwa yang bercorak Śiwaistik lainnya, seperti: Wrhaspatitattwa, Tattwajñāna, Maha jñāna, Ganapatitattwa dan sebagainya.

Dari segi  isi secara garis besar Bhuwana Kosa dapat dibagi  menjadi dua bagian yaitu:

  1. Bagian pertama  adalah bagian Brahmarahasyam, yaitu: bagian yang berisi percakapan antara Srimuni Bhargawa dengan Bhatāra Śiwa  tentang Śiwa yang  bersifat sangat rahasia.
  2. Sedangkan bagian   kedua adalah:  bagian Jñānarahasyam yang berisi percakapan antara  Bhatāra  Śiwa dengan Bhatāri Umā dan Sang Kumara tentang pengetahuan untuk memahami Śiwa yang bersifat sangat rahasia.

Adapun ajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut: Tuhan dalam Bhuwana Kosa disebut Bhatāra Śiwa, yaitu: Beliau Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas dan sebagainya. Ia yang tak terbatas digambarkan secara  terbatas, karena  itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda, seperti: Brahma, Wisnu, Iswara/Rudra, sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dalam Lontar Bhuwana Kosa ini Bhatāra  Śiwa dijelaskan  juga bersifat  immanent dan transcendent. Immanent  artinya: Ia meresapi segalanya, hadir pada segala  termasuk meresap pada pikiran dan  indriya (sira wyapaka),  dan Transcendent  artinya: Ia meliputi segalanya, tetapi Ia berada di luar batas pikiran dan  indriya. Meskipun Ia Immanent  dan Transcendent  pada semua makhluk, tetapi Ia tidak dapat dilihat dengan kasat mata,  karena Ia bersifat sangat  rahasia, abstrak. Karena kerahasiaannya Ia  digambarkan  bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan. Dan Ia ada dimana-mana, pada semua yang ada ini. Ia tidak tampak,  tetapi Ia ada. Sungguh sangat rahasia  adanya. Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala isinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaanNya juga. Semua ciptaanNya  itu merupakan wujud mayanya yang bersifat tidak kekal, karena dapat mengalami kehancuran dan pada saat mengalami kehancuran semua ciptaanNya itu akan kembali kepadaNya, karena Ia adalah asal dan tujuan.

B.  Wrhaspatitattwa

Wrhaspatitattwa dijelaskan terdiri atas 74 pasal dan menggunakan bahasa Sanskerta  dan bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sanskertanya disusun dalam bentuk sloka dan bahasa Jawa Kunanya disusun dalam bentuk bebas (gancaran) yang  dimaksud sebagai terjemahan /penjelasan Sanskertanya.

Wrhaspatitattwa  berisikan  dialog antara seorang guru spiritual  yaitu Sanghyang  Iswara  dengan seorang sisia (murid) spiritual yaitu Bhagawan Wrhaspati. Sanghyang Iswara berstana di pucak Gunung Kailasa yaitu sebuah  puncak gunungHimalaya  yang dianggap suci. Sedangkan Bhagawan  Wrhaspati adalah orang suci  yang merupakan guru dunia (guru loka) yang berkedudukan di sorga.

Secara garis besar ajaran-ajaran yang dijelaskan di dalam dialog itu adalah: Kenyataan tertinggi itu ada dua yang disebut dengan Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur  kesadaran dan Acetana adalah unsur  ketidaksadaran. Kedua unsur ini bersifat halus dan menjadi sumber segala  yang ada. Cetana itu ada tiga jenisnya yaitu: Parama  Śiwa Tattwa, Sada Śiwa Tattwa, dan Śiwatma Tattwa, yang juga disebut dengan Cetana Telu (tiga tingkatan kesadaran). Yang ketiganya  itu tidak  lain adalah:Sanghyang Widhi sendiri yang telah  berbeda  tingkat kesadarannya.

  1. Paramaśiwa memiliki tingkat  kesadaran  tertinggi,
  2. Sadaśiwa  memiliki tingkat kesadaran menengah, dan
  3. Śiwatma memiliki tingkat  kesadaran yang terendah.

Tinggi-rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung pada kuat tidaknya pengaruh māyā. Paramaśiwa bebas dari pengaruh māyā sedang-sedang saja, sedangkan Śiwatma mendapat pengaruh  Māyā yang paling kuat.

  • Sanghyang Widhi  Paramaśiwa adalah kesadaran  tertinggi yang sama sekali tidak terjamah oleh  belenggu  mayā, karena itu Ia disebut “Nirguna Brahman”.  Dan  Ia merupakan perwujudan sepi, suci murni, kekal abadi, dan tanpa aktivitas.
  • Kemudian  Paramaśiwa kesadarannya  mulai tersentuh oleh māyā. Dan pada saat seperti itu, Ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna dan swabhawa yang merupakan  hukum kemahakuasaan Sanghyang Widhi Sadaśiwa. Yang memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimbulkan dengan bunga teratai yang merupakan SthanaNya. Pada tingkatan  Paramaśiwa ini digambarkan  sebagai perwujudan  mantra disimbulkan dengan aksara AUM (OM) dengan: Iswara (I) sebagai  kepala, Tatpurusa sebagai muka (TA), Aghora (A) sebagai hati, Bamadewa (BA) sebagai alat-alat  rahasia, Sadyojata (SA) sebagai badan. Dengan Sakti, guna dan swabhawanya, Ia aktif dengan segala  ciptaan-ciptaanNya, karena itu, Ia disebut “Saguna Brahman”.
  • Pada tingkatan  Śiwatma Tattwa, sakti, guna dan swabhawaNya sudah berkurang karena sudah  dipengaruhi oleh māyā. Karena itu  Śiwatma Tattwa disebut juga Māyā Sira Tattwa. Berdasarkan  tingkat pengaruh māyā terhadap  Śiwatma Tattwa,  Śiwatma Tattwa tersebut dibedakan atas  delapan tingkatan yang disebut “Astawidyasana”. Dapat dijelaskan juga disini bilamana pengaruh māyā sudah demikian besarnya terhadap  Śiwatma menyebabkan  kesadaran  aslinya hilang dan sifatnya  menjadi “Awidya”. Dan apabila kesadarannya terpecah-pecah dan menjiwai semua makhluk  hidup  termasuk didalamnya adalah manusia, maka Ia  disebut Atma dan Jiwatman.

Meskipun Ātma merupakan bagian dari Sanghyang Widhi (ŚIWĀ), namun karena adanya belenggu Awidya yang ditimbulkan oleh pengaruh  Māyā (Prdhāna Tattwa), maka Ia tidak lagi menyadari asalnya. Hal ini menyebabkan Ātma ada dalam lingkungan Sorga-Neraka-Samsara secara berulang-ulang.  Ātma akan dapat bersatu kembali kepada asalnya, apabila semua selaras dengan ajaran Catur Iswarya, Panca Yama Brata, Panca Niyama Brata dan Astasiddhi. Dan  apabila dalam segala karmanya  bertentangan dengan ajaran-ajaran tersebut tadi, maka Ātma akan tetap berada dalam lingkaran Samsara dan Reinkarnasi.

Bentruk  atau wujud  Reinkarnasi Ātma sangat banyak tergantung karma wasananya Ātma pada saat  penjelmaannya terdahulu. Salah satu bentuk Reinkarnasi  itu adalah sebagai “Sthawara Janggama” yang disebutkan sebagai  penjelmaan yang paling jelek. Bentuk reinkarnasi seperti itu adalah suatu  penderitaan luar biasa  yang harus dihadiri. Untuk mengakhiri lingkaran samsara ini, Wrhaspati tattwa mengajarkan agar setiap orang menyadari  hakekat ketuhanan dalam dirinya, yang dalam hal ini dapat dilakukan dengan:

  1. Mempelajari  segala tattwa (Jñanābhyudreka)
  2. Tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu (indriyayogamarga).
  3. Tidak terikat pada  pahala-pahala  perbuatan baik atau buruk (Trsnādosaksaya).

Dan lain dari pada yang tersebut itu, Wrhaspati Tattwa juga mengajukan jalan lain untuk mencapai Sanghyang  Wisesa yaitu dengan selalu memusatkan  pikiran pada  Dia (yoga) melalui enam tahapannya yang disebut Sadangga Yoga, yaitu Yoga yang didasari dan dibangun oleh Dasa sila (sepuluh prilaku yang baik).

C.  Ganapati Tattwa

Ganapati Tatwa menggunakan bahasa Jawa Kuno yang juga diselingi dengan bahasa Sansekerta. Penyampaian ajaran Ganapati ini menggunakan dialog atau percakapan sebagaimana ditemukan dalam Bhuwana Kosa, Wrhaspati Tattwa, Sanghyang Mahajñanā, dan sebagainya. Tokoh yang ditampilkan  dalam Ganapati Tattwa adalah: Bhatara  Śiwa sebagai  Mahaguru yang memberikan pelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rohani yang  bersifat abstrak dan rahasia. Sedangkan Bhatara Gana  yang disebut pula  Sanghyang Ganapati atau Sanghyang Ganadipa berperan sebagai penanya yang ingin mengetahui  ajaran tentang kebenaran  terutama menyangkut sumber ciptaan yang ada serta proses kembalinya kepada sumber asalnya. Adapun isi dialognya adalah sebagai berikut:

Pada awal mulanya dilukiskan tidak ada apa-apa yaitu:  tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada sunia,  tidak ada  ilmu pengetahuan dan sebagainya. Yang ada hanyalah  Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan Nirguna, Sukha, Acintya yaitu berkeadaan  Maha bahagia  yang tidak terpikirkan. Kemudian terjadilah  evolusi dari  Sanghyang Sukha Acintya dan muncullah Sanghyang  Jñanā Wisesa yaitu  pengetahuan yang mulia. Ia berbadankan alam semesta, tetapi tidak ternoda, tidak terpengaruhi oleh apapun, tak terjangkau karena Ia berkeadaan Wisesa, Maha Kuasa. Ia juga disebut Sanghyang Jagat Karana,  karena  memiliki ilmu pengetahuan yang maha kuasa dan sebagai penyebab dunia atau alam semesta dengan segala isinya.DisinilahIamenampilkan  diriNya dalam aspek Saguna. Kemudian timbul keinginan beliau untuk  menyaksikan keadaanNya sendiri yang berkeadaan Sekala-Niskala, itulah sebabnya beliau menciptakan yang berkeadaan nyata (paras) dan yang berkeadaan tidak nyata (para) dan sunia sebagai bayanganNya sendiri. Sanghyang Jagat Karana bersemayam dalam sunia. Dari sanalah Beliau mengadakan ciptaan-ciptaanNya dan selanjutnya  secara berturut-turut, seperti: Ongkara Suddha, Suara, Windu Prana Suci yang didalamnya  terdapat  Nada Prana Jñanā Suddha. Dari Windu lahir Panca Dewata atau Panca  Dewa Atma yaitu Brahma, Wisnu, Rudra, Iswara dan Sanghyang Sada Siwa, yang akan menjadi sumber ciptaan selanjutnya.

Dari kelima Dewa tersebut, maka Brahma, Wisnu, dan Siwalah yang dipandang  sebagai badan  perwujudan  Tuhan itu sendiri. Sedangkan  Tuhan Yang Maha Esa (Śiwa) yang tidak terpikirkan  dan Acintya dilukiskan berada dalam batin atau  hati yang suci yang disebut: “Gūhyalaya”. Dan juga Ganapati Tattwa mengajarkan tentang hakekat  alam semesta, dimana diciptakan oleh Panca Dewata dari unsur yang  paling  halus sampai dengan tingkat  yang mempunyai wujud  nyata. Yang  pertama-tama diciptakan adalah Panca Tanmatra, yaitu:

  1. Dari Brahma lahir gandha tan matra
  2. Dari Wisnu lahir rasa tanmatra
  3. Dari Rudra lahir rupa tanmatra
  4. Dari Iswara lahir sparsa tanmatra
  5. Dari Sadāśiwa lahir sabda tanmatra

Kemudian  kelima tanmatra itu berkembang ke dalam wujud yang sedikit lebih  konkrit, seperti:

  1. Sabda tanmatra  menjadi Akasa, berwarna  bersih dan bening
  2. Sparsa tanmatra menjadi Bayu, yang berwarna putih
  3. Rupa tanmatra menjadi  Teja, berwarna  putih, merah dan hitam
  4. Rasa tanmatra  menjadi Apah, berwarna hitam
  5. Gandha tanmatra menjadi Pertiwi, berwarna kuning

Pada tahap perkembangan selanjutnya barulah  sampai pada tingkatan yang mempunyai bentuk nyata, seperti:

  1. Pertiwi  lahir bumi atau tanah
  2. Teja lahir matahari, bulan dan bintang
  3. Apah lahir air
  4. Bayu lahir angin
  5. Akasa lahir suara

Dan setelah  alam semesta  itu tercipta, kemudian tumbuhlah semua jenis tumbuh-tumbuhan dan semua jenis binatang. Dan Panca Dewata berperan  sebagai penjaganya, seperti:

  1. Brahma  bertempat di  selatan menjaga bumi
  2. Wisnu bertempat di utara menjaga air
  3. Rudra bertempat di barat menjaga matahari, bulan dan bintang
  4. Iswara bertempat di timur  menjaga udara
  5. Sadāśiwa bertempat  ditengah menjaga ether

Demikianlah  proses penciptaan  bhuwana agung (alam semesta) oleh Panca Dewata.

Proses  penciptaan bhuwana alit tidak jauh  berbeda dengan  penciptaan  bhuwana agung, dan yang  sama-sama  diciptakan  oleh Panca Dewata, seperti:

  1. Brahma dan Wisnu menciptakan tubuh dengan sarana tanah dan air.
  2. Rudra menciptakan  mata dari teja
  3. Iswara  menciptakan  nafas dari bayu
  4. Sadāśiwa menciptakan suara dari akasa

Setelah itu barulah  terbentuk  Ātma menjelma dalam kehidupan  manusia. Dan Panca Dewata pun mulai menempati  bagian-bagian  tubuh untuk menjaganya dan menumbuhkan kesadaran dan menjiwai bagian-bagian  tubuh tersebut, seperti:

  1. Brahma  menempati muladara
  2. Wisnu menempati nabhi (pusar)
  3. Rudra menempati hati
  4. Iswara menempati leher
  5. Sadāśiwa menempati ujung lidah

Dalam proses perkembangan manusia selanjutnya, manusia berperan sebagai alat melalui  sanggama. Sedangkan  yang menjadi benih manusia disebut “Rupa Suksma” yang berkeadaan abstrak dan gaib. Rupa suksma ini menjadi  sukla yang mempunyai warna  seperti manik putih kekuning-kuningan, sedangkan swanita keluar  dari Pradhana Tattwa. Keduanya kemudian  bercampur dalam rahim si ibu. Disanalah  ia terbentuk dan berkembang sehingga  mencapai wujud yang sebenarnya. Tahap-tahap  perkembangannya dilukiskan sebagai berikut:

  • Umur satu bulan rupanya seperti buih
  • Umur tiga bulan berwujud gumpalan darah
  • Umur empat bulan menjadi  Śiwa lingga, berlubang dibagian tengahnya berisi ongkara  dan suksma rupa
  • Umur limabulan menjadi Maya Reka
  • Umur enam bulan  menjadi seperti air
  • Umur bulan ketujuh menjadi seperti  ulat dalam kepompong yang disebut gading
  • Pada umur kedelapan  menjadi anak gading yang disertai  dengan nafas yang keluar dari ongkara, juga tulang, kuku dan rambut
  • Umur sepuluh bulan di jabang bayi keluar  dari perut ibu

Yang menghidupi  dari janin sampai menjelang kematian berbeda-beda namanya sesuai dengan tingkat  perkembangannya, namun sesungguhnya  hakekatnya adalah sama.   Ketika masih dalam rahim dijiwai oleh Suksma Rupa. Dan setelah  sepuluh bulan  dijiwai oleh sunia. Setelah  lahir dijiwai oleh Nirwana. Setelah bisa  menyebut nama ibu-ayah dihidupi  oleh jiwa. Dan setelah dewasa dihidupi oleh Ātma.

Pada saat  kematian terjadi pengembalian secara berjenjang, seperti: Ātma kembali kepada jiwa; jiwa kembali pada Nirwana; Nirwana kembali pada sunia, sunia lenyap menjadi  suksma terus kembali pada Sanghyang Ngamutmenge, dan Sanghyang  Ngamutmenge kembali kepada niskala, yang merupakan tujuan tertinggi.

Tujuan dari kelahiran adalah untuk bersatunya kembali  Ātma kepada sumbernya, tidak  terlahirkan kembali. Untuk itu Ganapati Tattwa memperkenalkan  enam jenis  yoga yang disebut dengan Sad Angga Yoga. Seorang Yogi dalam melaksanakan  pemujaan  melalui yoganya, ia mewujudkan  Swalingga (Ātma lingga) dalam  dirinya, di samping  para lingga yang  ada diluar dirinya. Dan  tubuhnya sendiri dipandang sebagai kahyangan Dewata, sebagai Sadhana untuk mencapai kelepasan. Pada saat Ātma meninggalkan tubuh, jalan terbaik adalah melalui sela-sela pikiran, sehingga Ātma mencapai tujuan  tertinggi.

Ada dua  kemungkinan yang akan dicapai dalam kelepasan yaitu:

  1. Mungkin akan mencapai Sadhudhranti yang  akan mengantarkan  pada kemoksaan, apabila  petunjuk-petunjuk yang telah diberikan  dilaksanakan  dengan teguh. Disini  Ātma tidak akan  terlahirkan kembali.
  2. Mungkin akan mencapai  wyudhbhranti, yang akan mengantarkan pada kelahiran kembali, bila semua petunjuk  tidak dilaksanakan dengan teguh.

Kelepasan dan kemoksan adalah ajaran kerohanian yang sangat tinggi dan bersifat sangat abstrak. Karena itu ia harus  dipahami melalui pengamalan terhadap Sanghyang Bheda Jñāna dengan baik,  adanya keyakinan terhadap ajaran  tersebut, mampu mengendalikan  indrya, patuh dan bhakti  kepada guru, teguh dan tekun melaksanaka  ajaran dharma, serta berlak suci lahir-batin sebagai landasan hidupnya. Itulah yang akan mengantarkan  seseorang pada pencapaian  kelepasan atau kemoksan.

TUHAN DALAM SIWA TATTWA

A.  Pandangan Umum

Sanghyang Widhi Wasa adalah Tuhan dalam agama Hindu  di Indonesia. Nama ini berarti Yang menakdirkan, Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasaBaliditerjemahkan dengan Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Titah. Nama ini adalah nama yang amat umum yang  gambarannya lebih lanjut  tidak disebut-sebut dalam sastra-sastra  lontar.  Bhatara Siwalah panggilannya dalam sastra-sastra lontar, yang  gambarannya selalu kita jumpai  baik dalam sastra-sastra agama, seperti pada lontar-lontar yang disebutkan pada Lontar  Bhuwana Kosa, Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa dan lain sebagainya, maupun dalam saat, puja, upakara, arca-arca dan tempat-tempat pemujaan. Dengan demikian umat Hindu di Indonesia yang  telah memeluk agama Hindu secara turun-temurun memuja Sanghyang Widhi sebagai Bhatara Śiwa.

Dalam sastra-sastra agama Hindu di Indonesia ajaran-ajaran seperti yang tersebut di atas sering disebut ajaran Śaivasiddhanta. Nama ini mengingatkan kita kepada nama ŚaivasiddhantadiIndiaselatan, namun bila diamati, terdapat perbedaan-perbedaan antara ajaran Śaivasiddhanta Indonesiadengan ajaran Śaivasiddhanta  India Selatan. Dalam ajaran Śaivasiddhanta diIndonesiatanpa jalinan Upanisad (terutama Śvetaśvatara Upanisad dan  Upanisad-upanisad  Minor), ajaran Sankhya, Yoga, Vedanta atau ajaran-ajaran  yang berasal dari kitab-kitab Tantra yang pada akhirnya  semua ajaran itu mengalir dari Weda. Maka  Weda-lah sumber pertama  ajaran agama Hindu itu dan walaupun wujudnya  dan pelaksanaan hidup beragama Hindu berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain, hakekatnya, jiwa dan semangatnya adalah sama.

Ajaran ketuhanan dalam Weda adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun  Ia meliputi segala, mempunyai banyak nama. Ia yang Esa berada pada semua yang ada, semua yang ada berada pada Yang Esa. Kutipan-kutipan  Weda  dibawah ini menyatakan  hal itu:

Indram mitram varuna agnim ahur atho divyah sasuparno garutman, ekam  sad vipra  bahudha vedantyagnim yamam  matarisvanam ahuh

(Rg Veda I.164.46)

Artinya:

Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan Dia yang  bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok. Satu itu (Tuhan) Sang bijaksana menyebut dengan banyak nama  seperti Agni, Yama, Matarisvan. 

Dalam Siwatattwa yaitu dalam lontar Jnanasiddhanta kita dapat uraian tentang Tuhan yang senada dengan isi mantra  veda tersebut di atas. Uraian itu adalah sebagai  berikut:

Sa eko bhagavan sarvah

Siva karana karanam,

aneko viditah sarwah

catur vidhasya karanam

Ek twanckatwa swalaksana Bhattara, Ekatwa ngaranya,

kahidep  makalaksana ng siwatattwa. Ndan tunggal,

tan rwatiga kehidepanira. Mengekalaksana Siwa karana

juga, tan pa prabheda.

Aneka  ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha.

Caturdha ngaranya laksananiran  sthula suksma parasunya.

Artinya:

Sifat Bhatara adalah eka dan aneka. Eka (Esa) artinya Ia dibayangkan bersifat Siwatattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai  Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan.

Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat caturdha artinya adalah Sthula suksma  para sunya.

Uraian-uraian seperti ini juga akan kita jumpai pula dalam lontar-lontar lainnya.

B.  Tuhan Sumber Segala

Agama Hindu mengajarkan bahwa semua yang ada ini berasal dari  Tuhan, berada dalam Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Hal ini dinyatakan dalam sastra-sastra  agama Hindu, baik yang berbahasa Sanskerta, maupun yang berbahasa Jawa Kuna atau bahasaBali. Tuhan adalah sumber hidup, sumber tenaga,  dari Dialah asal segala  yang ada ini dan kepadaNya pula segala yang ada ini kembali. Karena itu  Ia disebut Sangkan Paraning Dumadi, asal dan kembalinya semua makhluk. Taittiriya Upanisad menerangkan hal  ini sebagai berikut:

Yato va imani bhutani  jayante,

yena  jatani jivanti

yat prayanty abhisam visanti,

tad vijinasasva tad brahmeti.

                                                                        (Taittiriya Upanisad III.1)

Artinya:

Dari mana  semua ini lahir, dengan apa yang lahir ini hidup, kemana mereka masuk  setelah kembali, ketahuilah, bahwa itu adalah Brahman.

Dalam Siwatattwa, Brahman  adalah Bhatara Siwa. Dialah  yang mencipta, memelihara dan mengembalikan semua yang ada kepada dirinya sendiri, asal semua yang ada ini.

Brahmasrjayate lokam,    

visnuve palakasthitam,

rudratve samharasceva,

trimurtih nama evaca

Lwir  Bhattara Siwa magawe jagat, Brahma rupa siran

pangraksa  jagat, Wisnu rupa siran pangraksa jagat, Rudra

rupa sira mralayaken rat, nahan tawak nira, bheda nama.

                                                                            (Bhuwana Kosa III.76)

Artinya:

Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam menciptakan dunia ini ialah:

  • Brahma wujudnya waktu menciptakan dunia ini,
  • Wisnu wujudnya waktu memelihara dunia ini,
  • Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,

Demikianlah tiga wujudNya (Trimurti) hanya beda nama.

Dalam  uraian ini Bhatara Siwa adalah sebagai Trimurti. Dalam buku-buku Purana Trimurti itu adalah Brahma, Wisnu, dan Siwa, sedangkan dalam kutipan di atas adalah Brahma, Wisnu, dan Rudra. Dalam puja Trimurti itu adalah Brahma, Wisnu dan Iswara.

Bhatara Siwa sebagai Brahma, Wisnu, dan Iswara dalam aksara dilambangkan sebagai “am, um, mam”. Kesatuan ketiga-ketiganya  adalam “Om”.  Bhatara Siwa sebagai Trimurti dalam lontar-lontar  kebanyakan disebut sebagai “ Brahma, Wisnu, dan  Iswara yang dilambangkan dengan warna: putih, Merah dan Hitam. Aktivitas Bhatara Siwa waktu menciptakan dunia disebut: utpatti, waktu menjaga dan merawatnya disebut sthiti, dan waktu mengembalikan kepada asalnya disebut pralina.

C.  Siwa bersifat immanen dan transenden

Bhatara Siwa bersifat immanen dan juga transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, sedangkan  transenden artinya mengatasi pikiran dan indriya  manusia. Kutipan  dibawah ini meyatakan  hal itu:

Sivas  sarvagata suksmah

bhutanam antariksavat,

acintya maha grhyante,

na indriyam parigrhyante                 

Bhattara Siwa swa wyapaka, sira suksma tar kneng angen-

angen, kadyangga ning akasa, tan kagrhita de ning

manah mwang indriya

                                                                     (Bhuwana Kosa II.16)

Artinya:

Bhatara Siwa meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan,

Ia seperti angkasa, tak terjangkau oleh pikiran  dan indriya.

Kutipan ini menyatakan bahwa Bhatara Siwa meresapi segala,  berada dimana-mana, meliputi segala. Dengan demikian  Ia pun hadir pula dalam pikiran dan Indriya, namun pikiran dan indriya  tidak mampu menggapaiIa.ini berarti  Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Demikianlah aspek imanen dan transenden  Bhatara Siwa.

Manifestasi Tuhan sebagai Dewa-Dewi

Tuhan Yang Maha Esa adalah hakikat kebenaran, realitas absolut, seru para Rsi, Beliau itu bukan  ini dan bukan itu. Beliau itu sifatnya Sat-Chit-Ananda (penuh berlimpahan dengan eksistensi suci kesadaran karunia) yang merupakan intisari dan makna dari seluruh  penciptaan jagat raya dan segala isinya yang sebenarnya terbungkus oleh kesadaran dan kebahagiaan  Ilahi yang serba gaib dan misterius.

Kembali kewujud dewa-dewi, maka semua ide dan makna yang ada di balik penampilan sebenarnya  adalah sebuah fenomena  alam yang sistimatik  yang sesungguhnya  utusan Tuhan itu sendiri. Beliau dikenal dengan nama Para Brahman,  kata para berarti dari zaman awal, tak bermula, dan Brahman adalah kata lain dari Tuhan Maha Pencipta, kemudian oleh manusia dimuliakan  dengan berbagai  macam sebutan  yang dikaitkan  dengan berbagai jenis  simbol  untuk mempermudah menghayatinya dengan  berbagai macam cara yang antara lain melalui budaya.

Dengan dasar kebudayaan timbul dan berkembang dari benih yang ada sejak jaman dulu kala, yang terbukti dari peninggalan-peninggalan baik berupa lingga-lingga, arca-arca, dan candi. Berdasarkan temuan-temuan tersebut bahwa agama berkembang pada saat  itu adalah agama Hindu dan Budha, didasari oleh  adanya bukti dalam bentuk relief maupun lukisan/tulisan pada arca-arca, lingga, dan candi yang menggambarkan dewa Brahma, Wisnu, Siwa, Saraswati, Durga dan Ganesa. Di mana temuan-temuan atau peninggalan ini ada di Jawa,Balidan Sumatera. Peninggalan yang ditemukan oleh ahli budayawan yang  menonjolkan bentuk arca Brahma, Wisnu, Siwa, Saraswati, Durga, dan Ganesa  mengandung makna yang amat tinggi.

1.  Brahma

Menurut ajaran agama Hindu, Brahma (Brahmā ) adalah Dewa pencipta. Dalam filsafat Advaita, ia dipandang sebagai salah satu manifestasi dari Brahman (sebutan Tuhan dalam konsep Hinduisme) yang bergelar sebagai Dewa pencipta. Dewa Brahma sering disebut-sebut dalam kitab-kitab Upanishad dan Bhagavad Gītā.

Dewa Brahma dalam Bhagawad Gita

Dalam kitab suci Bhagavad Gītā, Dewa Brahma muncul dalam bab 8 sloka ke-17 dan ke-18; bab 14 sloka ke-3 dan ke-4; bab 15 sloka ke-16 dan ke-17. Dalam ayat-ayat tersebut, Dewa Brahma disebut-sebut sebagai Dewa pencipta, yang menciptakan alam semesta atas berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Bhagavad Gītā juga disebutkan, siang hari bagi Brahma sama dengan satu Kalpa, dan Brahma hidup selama seratus tahun Kalpa, setelah itu beliau wafat dan dikembalikan lagi ke asalnya, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Brahma, Dewa pencipta

Dewa Brahma adalah salah satu di antara Trimurti (Brahma, Wisnu, Çiwa). Dewa Brahma juga bergelar sebagai Dewa pengetahuan dan kebijaksanaan. Beberapa orang bijaksana memberinya gelar sebagai Dewa api. Dewa Brahma saktinya Dewi Saraswati, yang menurunkan segala ilmu pengetahuan ke dunia.

Menurut mitologi Hindu, Dewa Brahma lahir dengan sendirinya (tanpa Ibu) dari dalam bunga teratai yang tumbuh di dalam Dewa Wisnu pada saat penciptaan alam semesta. Legenda lain mengatakan bahwa Dewa Brahma lahir dari air. DisanaBrahman menaburkan benih yang menjadi telur emas. Dari telur emas tersebut, lahirlah Dewa Brahma Sang pencipta. Material telur emas yang lainnya menjadi Brahmanda, atau telur alam semesta.

Menurut cerita kuno, pada saat penciptaan alam semesta, Brahma menciptakan sepuluh Prajapati, yang konon merupakan ayah-ayah (kakek moyang) manusia pertama. Menurut Manusmrti, sepuluh Prajapati tersebut adalah: Marichi, Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Vasishtha, Prachetas atau Daksha, Bhrigu, dan Narada. Beliau juga konon menciptakan tujuh pujangga besar yang disebut Sapta Rsi untuk menolongnya menciptakan alam semesta.

Menurut kisah di balik penulisan Ramayana, Dewa Brahma memberkati Rsi Walmiki untuk menulis kisah Ramayana yang menceritakan riwayat Ramachandra yang pada masa itu sedang memerintah di Ayodhya.

Ciri-ciri Dewa Brahma

Dewa Brahma

 Dewa Brahma memiliki ciri-ciri sesuai dengan karakter yang dimilikinya.Adaciri-ciri umum yang dimiliki Dewa Brahma, yakni:

  • bermuka empat yang memandang ke empat penjuru mata angin (catur muka), yang mana pada masing-masing wajah mengumandangkan salah satu dari empat Veda.
  • bertangan empat, masing-masing membawa:
  1. teratai, kadangkala sendok (Brahma terkenal sebagai Dewanya yajña)
  2. Weda / kitab suci
  3. kendi / teko / tempat air
  4. genitri
  • menunggangi angsa atau duduk di atas teratai

Dewa ini adalah  asal-usul, benih dari seluruh ciptaan-ciptaan ini, sifatnya tak terbatas ditinjau dari sudut ruang waktu, nama, asal-usul dan bentuk yang datang dariNya. Beliaulah  ciptaan pertama dari Hyang Maha Esa, dan membawa serta dengannya sifat ahankara. Secara  teologis beliau sering  dianggap sebagai  pencipta yang tidak diciptakan  (Svayambhu), manusia  yang terlahir sendiri. Beliaulah  leluhur utama  kita dengan segala kebajikan dan kebejatan morlanya, tetapi  juga adalah  yang serba maha dan disebut juga  sebagai ayah-bunda kita (Pitamaha). Beliaulah  Widhi, beliau juga Lokesa, pemimpin alam semesta, beliau juga disebut Dhatr, yang mengayomi. Beliau  juga disebut Viswakarma, sang arsitek agung dari jagat-raya ini.

Menurut  mitologi Hindu, Brahma lahir dari pusar Maha Wisnu, itulah sebabnya beliau juga disebut Nabhija ( yang lahir  dari pusar), Kanja ( yang lahir dari air) dan sebagainya. Sebenarnya nama asli beliau adalah Narayana, namun kemudian nama tersebut diambil alih oleh Sri Vishnu. Sang Brahma dan shaktinya Dewi Saraswati dapat dikisahkan secara singkat sebagai  berikut:

  • Brahma lahir (menetes) dari sebuah indung telur yang berwarna emas di lautan sorgawi  yang tak bertepi. Shaktinya Vac (baca wach) atau Saraswati terlahir  darinya. Gabungan dari  keduanya ini  menghasilkan semua bentuk makhluk-makhluk di alam semesta ini.
  • Brahma menghadirkan  berbagai Veda dan Dewi Saraswati mengadirkan arti, makna dan semangat Veda-veda ini. Semua ilmu pengetahuan, ajaran-ajaran suci, literatur, seni budaya dunia mengalir keluar dari  gabungan pasangan dewa-dewi ini. Saraswati adalah dewinya peradaban, seni-budaya manusia.
  • Konon di suatu waktu yang amat silam,  Brahma bereinkarnasi sebagai seekor babi hutan  jantan yang menyelamatkan  bumi yang terendam ini, dan menciptakan dunia baru beserta  para resi dan para prajapati, namun kemudian peranan ini diambil alih oleh Vishnu dalam legenda-legenda berikutnya.
  • Demikian juga  dengan berbagai reinkarnasi lain seperti kura-kura dan ikan pernah juga dijalani oleh Dewa Brahma, namun di zaman-zaman berikutnya peranan tersebut  digantikan  oleh Sang Vishnu.
  • Dari pikiran Sang Brahma lahirlah resi-resi suci Sanatana Dharma yang amat  terkenal, yaitu  Marici, Atri, Angiras, dan lain-lain juga Manu, manusia pertama yang  adalah cucu sang Brahma.
  • Sang Brahma mudah sekali merasa puas dengan  pemujaan  yang dihaturkan  oleh pemujanya, walaupun mereka berasal dari kaum asuras, legenda penuh dengan karunianya bagi siapa saja.
  • Beliau dikenal sebagai penemu seni-teater, musik, seni-seni, seni-sulap, dan lain-lain
  • Beliau juga  pernah berfungsi sebagai pendeta yang menikahkan Dewa Shiwa dengan Parwati.

Dewa Brahma amat dipuja di zaman-zaman yang telah silam, namun pemujaan di Kali-Yuga ini umumnya telah beralih ke Dewi, Shiwa, Ganeshya danKrishna(Vishnu). Beliau digambarkan berkepala empat, setiap  kepala ini mengarah  ke satu mata angin, yang bermakna empat Veda, empat tugas dan catur warna. Umumnya berjenggot dan mata terpejam di dalam meditasi. Beliau juga bertangan empat, masing-masing dengan bentuk  pose yang berlainan, dan menggenggam Aksamala (tasbih),  Kurca (kwas yang terbuat dari rumput kusa), Sruk (Sendok sayur), Sruva (sendok), Kamandalu (kendi air) dan Pustaka (kitab suci). Tasbih menyimbolkan  sang waktu, tempat air bermakna air sorgawi, dari air ini timbullah seluruh  penciptaan. Rumput kusa adalah  seimbol seni lukis, sendok adalah instrumen untuk  pengorbanan demi kelestarian  sesama makhluk. Kitab menandakan  ilmu pengetahuan  duniawi  dan akhirat. Beliau  adalah  pemberi ilmu pengetahuan, seni-budaya, sains dan kebijaksanaan. Bentuk mudra Sang Brahma disebut Abhaya (melindungi) dan varada (memperbaiki). Beliau sering digambarkan dalam posisi duduk dan berdiri, tunggangan beliau adalah seekor angsa bernama Hamsa. Kadang-kadang  berwahana  yang ditarik 7 ekor angsa yang menyiratkan  7 loka. Masih ada beberapa candi diIndiayang memuja beliau sebagai  Viswakarma (sang arsitek  jagat-raya ini).  Lihat arcanya yang menkjubkan di Candi Prambanan. Setiap candi  Shiwa atau Vishnu  menyediakan sudut  utara atau dinding  utara untuk arca sang  Brahma, dan arcanya ini harus dipuja setiap hari, karena beliau adalah inti  dewata yang terpenting (Pariwara Dewata), yang bertugas utama Yang Maha Esa). Di Manawadharmasastra 10 terdapat sloka berikut ini:

“dari benih tercipta telur alam-semesta yang maha suci terang-benderang laksana jutaan sinar. Dari telur ini Ia menciptakan  dirinya sendiri ke rupa  Sang Brahma, sang  pencipta asal-muasal (ayah-ibu) jagat raya ini”

Dalam  hubungannya sebagai  kesatuan kelompok  dinamakan “Tri Murti”, yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan kelompok dewa yang mempunyai  manifestasi antara lain Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai pemralina.

Brahma di India digambarkan bervariasi yang memiliki satu, tiga atau  empat kepala  duduk / berdiri di atas teratai, tangan empat dan  wahana angsa  dengan muka berjanggut. Berdasarkan  peninggalan  seni pahat yang ada diIndonesiabahwa Brahma berkepala empat, berjanggut/tanpa janggut, berkumis/tanpa kumis bertangan empat  dengan atribut  yang dipegang yaitu: aksamuka, cemara, kuncup teratai dan kendi dengan sikap tangan abhayamudra atau dhynamudra dan kepala dihiasi dengan jatamakuta.

Pada jamanBalimodern  terjadi suatu pembauran konsep seperti arca Brahma berkepala empat  masing-masing kepala mengarah sesuai dengan mata angin  seperti Caturkaya dengan badan empat, masing-masing  badan juga diarahkan keempat penjuru mata angin. Karena orientasi arahnya sama maka  arca-arca ini sama-sama sebagai Dewa Lokapala dengan atributnya cakra dan  sangka sehingga diberi nama   Brahma sesuai dengan Caturkaya.

Siklus Dewa Brahma

Brahma hidup selama seratus tahun Kalpa. Satu tahun Kalpa sama dengan 3.110.400.000.000 tahun. Setelah seratus tahun Kalpa, maka Dewa Çiwa sebagai Dewa pelebur mengambil perannya untuk melebur alam semesta beserta isinya untuk dikembalikan ke asalnya. Setelah itu, Brahma sebagai pencipta tutup usia, dan alam semesta bisa diciptakan kembali oleh kehendak Tuhan.

2.  Vishnu (Wisnu)

Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai “shtiti” (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman.

Dalam filsafat HinduWaisnawa,Iadipandang sebagai roh suci dan Dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Advaita Vedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman.

Penjelasan tradisional menyatakan bahwa kata “Viṣṇu” berasal dari Bahasa Sansekerta, akar katanya “viś”, (yang berarti “menempati”, “memasuki”, juga berarti “mengisi” — menurut Rigveda), dan mendapat akhiran “nu”. Kata Wisnu kira-kira diartikan: “”Sesuatu yang menempati segalanya””. Pengamat Veda, Yaska, dalam kitab Nirukta, mendefinisikan Wisnu sebagai “vishnu vishateh”; “sesuatu yang memasuki segalanya”, dan “yad vishito bhavati tad vishnurbhavati”; “yang mana sesuatu yang tidak terikat dari belenggu itu adalah Wisnu”.

Adi Sankara dalam pendapatnya tentang Vishnu Sahasranama, mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya: “”yang hadir dimana pun”” (“sebagaimana Ia menempati segalanya, “vevesti”, maka Ia disebut Visnu”). Adi Sankara menyatakan: “kekuatan dari Yang Maha Kuasa telah memasuki seluruh alam semesta. Akar kata Viś berarti ‘masuk ke dalam.'”

Mengenai akhiran –“nu”, Manfred Mayrhofer berpendapat bahwa bunyinya mirip dengan kata “jiṣṇu” — “”kejayaan””. Mayrhofer juga berpendapat kata tersebut merujuk pada sebuah kata Indo-Iranian “*višnu”, dan kini telah digantikan dengan kata “rašnu” dalam kepercayaan Zoroaster di Iran.

Akar kata “viś” juga dihubungkan dengan “viśva” — “segala”. Pendapat berbeda-beda mengenai penggalan suku kata “Wisnu” misalnya: vi-ṣṇu — “memotong punggung”, vi-ṣ-ṇu —“memandang ke segala penjuru” dan viṣ-ṇu — “aktif”. Penggalan suku kata dan arti yang berbeda-beda terjadi karena kata Wisnu dianggap tidak memiliki suku kata yang konsisten.

Dewa ini disebut Sang Pemelihara jagat-raya dan seluruh isinya. Beliau adalah dewa kedua di dalam konsep Trimurti yang bersifatkan  Satvaguna,  yang amat bertanggung jawab  dengan kelestarian alam-semesta ini. Kata Vishnu itu berarti: “Yang telah memasuki  atau mengisi semuanya. Sifat  beliau dengan  demikian adalah  teramat gaib, namun beliau hadir  dimana saja. (Baca Bhagavar-gita). Beliaulah inti jiwa yang bergerak dari dalam raga manusia, para dewa dan berbagai  makhluk lainnya.

Nama lain  beliau adalah Narayana, yang dapat berarti:

  • Yang telah merubah air sorgawi sebagai tempatnya bersemayam.
  • Yang adalah  tujuan semua manusia
  • Yang telah menciptakan  hati nurani manusia.
  • Tujuan terakhir  umat manusia.

Konon untuk (a) tersebut di atas,  ada kisah yang menarik seperti berikut, setelah hancurnya  salah satu yoga dimasa yang silam, maka sebelum  terjadi proses penciptaan  jagat-raya yang baru, Hyang  Narayana ini jatuh tertidur  diperaduannya yang berupa ular  berkepala tujuh yang bernama Sesa atau Ananta. Ular ini senantiasa terapung disamudra  Ksirasamudra (lautan susu). Salah satu  kaki Hyang Narayana  berada di pangkuan istrinya, Laksmi yang memijatnya dengan lembut. Di dalam mimpinya  beliau membayangkan  lahirnya dunia baru, dan dari pusarnya  lahirlah sebuah  bunga teratai  dengan Hyang Brahma yang sedang duduk  untuk menciptakan  jajaran  jagat-raya dan segala  isinya. Samudra di sini menyiratkan air kehidupan  sorgawi, atau sifat-sifat  Prakriti (Maya). Air yang disebut  Ksirasamudra  ini juga  terkenal dengan Amrita (nektar keabadian) yang berarti Karunia  Yang Maha Esa. Jadi dapat disiratkan  bahwasanya Sang Narayana senantiasa terapung di samudra karunia yang tanpa batas.

Ular sesa sering  digambarkan berkepala seribu dan menunjang dunia ini dengan  raganya. Kata Ananta berarti tidak ada habis-habisnya atau tak terbatas, yang berarti  sang waktu kosmos ini  tidak ada ujung dan tidak  ada pangkalnya, namun menunjang seluruh ciptaan dari masa ke masa.

Kata Sesa juga berarti, yang tersisa pada saat terakhir, atau sisa dari pralaya (kiamat), dan  didaur-ulang untuk penciptaan dunia yang baru, dari satu pralaya ke pralaya berikutnya. Ular  kobra ini  juga menyiratkan kamaatau nafsu yang bekepanjangan  yang selalu mengikat erat  manusia dengan  mohanya sampai  tercapai moksha. Masa tidur  atau istirahatnya berarti masa inkubasi  untuk mencipta yang baru. Jadi  mengapa manusia  selalu harus takut pada kematian, padahal  itu hanyalah  fenomena pembaruan, yang logis, alami dan beralasan  rasionil. Dari yang sudah terpolusi  ke arah suci dan bersih.

Hyang Vishnu digambarkan sebagai Nilameghasyama, yang artinya berbadan biru atau ungu,  ibarat warna antariksa yang dilihat  dari bumi. Beliau disimbolkan  dengan satu wajah  dan empat  lengan tangan yang masing-masing memegang  Sankha (kerang laut sebagai alat tiup) cakra, gada, dan bunga padma (teratai). Beliau  mengenakan  kalungan bunga Kaustubha, yang tergantung cantik  pada ikal rambutnya  yang disebut Srivatsa. Di dada kirinya  Beliau juga  mengenakan  kalungan  bunga warna-warni penuh wewengian  yang disebut Waijayanti. Keempat tangan berarti  empat mata angin, di mana  hadir kekuatan  beliau. Sankha bermakna maha panca bhuta, cakra  berarti  pikiran kosmis, gada berarti  budhi (intelek) kosmis, dan bunga teratai, lambang  kesucian yang  berasal dari kekotoran. Ikal rambut  Srivasta menyiratkan  berbagai objek-objek kenikmatan duniawi, mutiara Kaustubha adalah simbol  penikmat  Srivasta. jadi yang menikmati dan dinikmati adalah  perhiasan bagiNya semata, demikian arti kedua  hal ini. Kalungan bunga Waijayanti berarti elemen lembut yang hadir di alam-semesta ini (bhuta-tanmatras). Kadang-kadang ada dua buah senjata, yaitu  Nandaka (pedang kebijaksanaan) dan Sarnga (anak panah) yang menyiratkan  indriyas  kosmis.

Pada  hakekatnya kitab-kitab Weda kuno, Wisnu diidentikkan dengan Dewa Matahari yang berarti “Menembus dan  aktif bekerja” sesuai dengan  sifat matahari yang  memancarkan  dan menembus  atmosfer kesegala penjuru.

Dewa  Wisnu yang dikaitkan tiga posisi  yaitu pagi, siang dan sore hari.Adapula yang memanifestasikan  dengan Dewa Surya, Wahyu/Indra,  dan Agni. Wisnu juga dianggap sebagai Dewa Air dengan atribut yang dibawa berupa padma dan sangka  yang menunjukkan  Dewa Wisnu sebagai  Dewa Air dengan benda tersebut berisi air, dengan  kata lain  yaitu Narayana yang berarti “tidur diatas air”,  yang  ada dalam kitab-kitab  agama Hindu Narayanalah yang menciptakan Air.

Dalam Rigvida Dewa Wisnu  dimanifestasikan sebagai Dewa Kesuburan  yang terkait dengan Dewa pemelihara yang melangsungkan  kehidupan di alam ini beserta isinya. Awatara Wisnu disebutkan  berbagai  macam-macam sebutan, ada yang menyebutkan sepuluh awatara, tujuh, enam belas, duapuluh dua,  dua puluh empat dan bahkan  ada yang menyebutkan tigapuluh sembilan awatara. Wisnu digambarkan  berkepala satu,  bertangan dua, empat, atau  delapan dengan  pegangan pedang, gada, panah, teratai,  sangka, busur, cakra dan perisai. Dalam wujud  lain Wisnu juga digambarkan  berkepala empat dengan jumlah tangan ada dua belas, enam belas,  dan dua puluh dengan atribut  musala, pasa, angkusa, mudgara, sula, chauri, hala, parasu dan patra.

Dalam kitab  Bhismaparwa, Wisnu bertangan empat dengan senjata cakra,  mengenakan mahkota dan kelat bahu, begitu pula  pada sumber lain Wisnu diidentikkan dengan berkepala seribu dengan tangan  dua ribu, dengan wujud kroda bersenjatakan cakra, sudarsana, gada mandaki,  twek nandaha, dan nancajanya serta  memutar tiga buah cakra  yang dinamakan Calakenda Tarenggabahu.

Dewa Wisnu dalam susastra Hindu

Susastra Hindu banyak menyebut-nyebut nama Wisnu di antara Dewa-Dewi lainnya. Dalam kitab Veda, Dewa Wisnu muncul sebanyak 93 kali. Ia sering muncul bersama dengan Indra, yang membantunya membunuh Vritra, dan bersamanya ia meminum Soma. Hubungannya yang dekat dengan Indra membuatnya disebut sebagai saudara.

Dalam Veda, Wisnu muncul tidak sebagai salah satu dari delapan Aditya, namun sebagai pemimpin mereka. Karena mampu melangkah di tiga alam, maka Wisnu dikenal sebagai “Tri-wikrama” atau “Uru-krama” untuk langkahnya yang lebar. Langkah pertamanya di bumi, langkah keduanya di langit, dan langkah ketiganya di dunia yang tidak bisa dilihat oleh manusia, yaitu di surga.

Dalam kitab Purana, Dewa Wisnu sering muncul dan menjelma sebagai seorang Awatara, seperti misalnya Rama dan Kresna, yang muncul dalam Itihāsa. Dalam penitisannya tersebut, Wisnu berperan sebagai manusia unggul.

Dalam Bhagawad Gita, Dewa Wisnu menjabarkan ajaran agama dengan mengambil sosok sebagai Sri Kresna, kusir kereta Arjuna, menjelang perang di Kurukshetra berlangsung. Pada saat itu pula Sri Kresna menampakkan wujud semestanya kepada Arjuna kemudian ia menampakkan wujud rohaninya sebagai Wisnu.

Wujud Dewa Wisnu

Dalam Purana, dan selayaknya penggambaran umum, Dewa Wisnu dilukiskan sebagai Dewa yang berkulit hitam-kebiruan atau biru gelap; berlengan enam, masing-masing memegang: gada, lotus, sangkala, dan chakra. Yang paling identik dengan Dewa Wisnu adalah senjata chakra dan kulitnya yang berwarna biru gelap. Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu disebutkan memiliki wujud yang berbeda-beda atau memiliki aspek-aspek tertentu.

Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu memiliki enam sifat ketuhanan:

  • Jñāna: mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam semesta
  • Aishvarya: maha kuasa, tak ada yang dapat mengaturnya
  • Shakti: memiliki kekuatan untuk membuat yang tak mungkin menjadi mungkin
  • Bala: maha kuat, mampu menopang segalanya tanpa merasa lelah
  • Virya: kekuatan rohani sebagai roh suci dalam semua makhluk
  • Tèjas: memberi cahaya spiritualnya kepada semua makhluk

Beberapa sarjana Waisnawa meyakini bahwa masih banyak kekuatan Wisnu yang lain dan jumlahnya tak terhitung, namun yang paling penting untuk diketahui hanyalah enam.

Penggambaran

Dalam Purana, Wisnu disebutkan bersifat gaib dan berada dimana-mana. Untuk memudahkan penghayatan terhadapnya, maka simbol-simbol dan atribut tertentu dipilih sesuai dengan karakternya, dan diwujudkan dalam bentuk lukisan, pahatan, dan arca. Dewa Wisnu digambarkan sebagai berikut:

  • Seorang pria yang berlengan empat. Berlengan empat melambangkan segala kekuasaanya dan segala kekuatannya untuk mengisi seluruh alam semesta.
  • Kulitnya berwarna biru gelap, atau seperti warna langit. Warna biru melambangkan kekuatan yang tiada batas, seperti warna biru pada langit abadi atau lautan abadi tanpa batas.
  • Di dadanya terdapat simbol kaki Rsi Bhrigu.
  • Juga terdapat simbol “srivatsa” di dadanya, simbol Dewi Lakshmi, pasangannya.
  • Pada lehernya, terdapat permata “Kaustubha” dan kalung dari rangkaian bunga
  • Memakai mahkota, melambangkan kuasa seorang pemimpin
  • Memakai sepasang giwang, melambangkan dua hal yang selalu bertentangan dalam penciptaan, seperti: kebijakan dan kebodohan, kesedihan dan kebahagiaan, kenikmatan dan kesakitan.
  • Beristirahat dengan ranjang Ananta Shesa, ular suci.

Wisnu sering dilukiskan memegang empat benda yang selalu melekat dengannya, yakni:

  • Terompet kulit kerang atau “Shankhya”, bernama “Panchajanya”, dipegang oleh tangan kiri atas, simbol kreativitas. Panchajanya melambangkanlimaelemen penyusun alam semesta dalam agama Hindu, yakni: air, tanah, api, udara, dan aether.
  • Chakram, senjata berputar dengan gerigi tajam, bernama “Sudarshana”, dipegang oleh tangan kanan atas, melambangkan pikiran. Sudarshana berarti pandangan yang baik.
  • Gada yang bernama Kaumodaki, dipegang oleh tangan kiri bawah, melambangkan keberadaan individual.
  • Bunga lotus atau Padma, simbol kebebasan. Padma melambangkan kekuatan yang memunculkan alam semesta.

Tiga wujud

Dalam ajaran filsafat Waisnawa (terutama di India), Wisnu disebutkan memiliki tiga aspek atau perwujudan lain. Ketiga wujud tersebut yaitu: “Kāraodakaśāyi Vishnu” atau “Mahā Vishnu”; “Garbhodakaśāyī Vishnu”; dan “Kirodakasāyī Vishnu”. Menurut Bhagavad Gītā, ketiga aspek tersebut disebut “Puruṣa Avatāra”, yaitu penjelmaan Wisnu yang mempengaruhi penciptaan dan peleburan alam material. Kāraṇodakaśāyi Vishnu (Mahā Vishnu) dinyatakan sebagai Wisnu yang berbaring dalam “lautan penyebab” dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta (galaksi?) yang jumlahnya tak dapat dihitung; Garbhodakaśāyī Vishnu dinyatakan sebagai Wisnu yang masuk ke dalam setiap alam semesta dan menciptakan aneka rupa; Kṣirodakasāyī Vishnu (Roh utama) dinyatakan sebagai Wisnu masuk ke dalam setiap makhluk dan ke dalam setiap atom.

Lima wujud

Dalam ajaran di asrama Waisnawa di India, Wisnu diasumsikan memiliki lima wujud, yaitu:

  • Para. Para merupakan wujud tertinggi dari Dewa Wisnu yang hanya bisa ditemui di Sri Waikunta, juga disebut Moksha, bersama dengan pasangannya — Dewi Lakshmi, Bhuma Dewi dan Nila Di sana Ia dikelilingi oleh roh-roh suci dan jiwa yang bebas.
  • Vyuha. Dalam wujud Vyuha, Dewa Wisnu terbagi menjadi empat wujud yang mengatur empat fungsi semesta yang berbeda, serta mengontrol segala aktivitas makhluk hidup.
  • Vibhava. Dalam wujud Vibhava, Wisnu diasumsikan memiliki penjelmaan yang berbeda-beda, atau lebih dikenal dengan sebutan Awatara, yang mana bertugas untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan di muka bumi.
  • Antaryami. Antaryami atau “Sukma Vasudeva” adalah wujud Dewa Wisnu yang berada pada setiap hati makhluk hidup.
  • Arcavatara. Arcavatara merupakan manifestasi Wisnu dalam imajinasi, yang digunakan oleh seseorang agar lebih mudah memujanya sebab pikirannya tidak mampu mencapai wujud Para, Vyuha, Vibhava, dan Antaryami dari Wisnu.

Hubungan dengan Dewa lain

Dewa Wisnu memiliki hubungan dengan Dewi Lakshmi, Dewi kemakmuran yang merupakan istrinya. Selain dengan Indra, Wisnu juga memiliki hubungan dekat dengan Brahmā dan Siwa sebagai konsep Trimurti. Kendaraan Dewa Wisnu adalah Garuda, Dewa burung. Dalam penggambaran umum, Dewa Wisnu sering dilukiskan duduk di atas bahu burung Garuda tersebut.

Tradisi dan pemujaan

Dalam tradisi Dvaita Waisnawa, Wisnu merupakan Makhluk yang Maha Kuasa. Dalam filsafat Advaita Vedanta, Wisnu dipandang sebagai salah satu dari manifestasi Brahman. Dalam segala tradisi Sanatana Dharma, Wisnu dipuja secara langsung maupun tidak langsung, yaitu memuja awatara-nya.

Aliran Waisnawa memuja Wisnu secara khusus. Dalam sekte Waisnawa di India, Wisnu dipuja sebagai roh yang utama dan dibedakan dengan Dewa-Dewi lainnya, yang disejajarkan seperti malaikat. Waisnawa menganut monotheisme terhadap Wisnu, atau Wisnu merupakan sesuatu yang tertinggi, tidak setara dengan Dewa.

Dalam tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu memanifestasikan dirinya menjadi Awatara, dan diIndia, masing-masing awatara tersebut dipuja secara khusus.

Tidak diketahui kapan sebenarnya pemujaan terhadap Wisnu dimulai. Dalam Veda dan informasi tentang agama Hindu lainnya, Wisnu diasosiasikan dengan Indra. Shukavak N. Dasa, seorang sarjana Waisnawa, berkomentar bahwa pemujaan dan lagu pujia-pujian dalam Veda ditujukan bukan untuk Dewa-Dewi tertentu, melainkan untuk Sri Wisnu — Yang Maha Kuasa — yang merupakan jiwa tertinggi dari para Dewa. [1]

Di Bali, Dewa Wisnu dipuja di sebuah pura khusus untuk beliau, bernama Pura Puseh, yakni pura yang harus ada di setiap desa dan kecamatan. Disanaia dipuja sebagai salah satu manifestasi Sang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan memelihara alam semesta.

Menurut konsep Nawa Dewata dalam Agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu menempati arah utara dalam mata angin. Warnanya hitam, aksara sucinya “U” (ung).

AWATARA

Awatara atau Avatar  avatāra, baca: awatara dalam manifestasi-nya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.

Kresna sebagai perantara Tuhan Yang Maha Esa dalam Bhagawad Gita  bersabda:

Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthā-panarthāya sambavāmi yuge yuge” (Bhagavad Gītā, 4.7-8)

Arti: manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna) untuk menyelamatkan orang-orang saleh dan membinasakan orang jahat dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman.

Dasa Awatara, Sepuluh Awatara Dewa Wisnu

Agama Hindu mengenal adanya Dasa Awatara yang sangat terkenal di antara Awatara-Awatara lainnya. Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.

Sepuluh Awatara dari zaman ke zaman

  1. Matsya Awatara, sang ikan, muncul saat Satya Yuga
  2. Kurma Awatara, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga
  3. Waraha Awatara, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga
  4. Narasimha Awatara, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga
  5. Wamana Awatara, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga
  6. Parasurama Awatara, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga
  7. Rama Awatara, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga
  8. Kresna Awatara, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga
  9. Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga
  10. Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga

Jenis-jenis Awatara

Menurut kitab-kitab purana, tak terhitung banyaknya Awatara yang pernah turun ke dunia ini. Awatara-awatara tersebut tidak selamanya merupakan “inkarnasi langsung” atau “penjelmaan langsung” dari Sang Hyang Wisnu. Beberapa Awatara diyakini memiliki “jiwa yang terberkati” atau mendapat “kekuatan Tuhan” sebagai makhluk yang terpilih.

Purusha Awatara: Awatara pertama Sang Hyang Wisnu yang mempengaruhi penciptaan alam semesta. Awatara tersebut yakni:

  • Vasudeva
  • Sankarshan
  • Pradyumna
  • Aniruddha

Menurut Bhagavad Gītā:

  • Kāranodakaśāyi Vishnu (Mahā Vishnu): Wisnu yang berbaring dalam lautan penyebab dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta (galaksi?) yang jumlahnya tak dapat dihitung;
  • Garbhodakaśāyī Vishnu: Wisnu masuk ke dalam setiap alam semesta dan menciptakan aneka rupa;
  • Ksirodakasāyī Vishnu (Roh utama): Wisnu masuk ke dalam setiap makhluk dan ke dalam setiap atom.

Guna Awatara: Awatara-Awatara yang mengatur tiga macam aspek dalam diri makhluk hidup. Awatara-Awatara tersebut yakni:

  1. Brahmā, pengatur nafsu dan keinginan (Rajas)
  2. Wisnu, pengatur sifat-sifat kebaikan (Sattwam)
  3. Çiwa, pengatur sifat kemalasan (Tamas)

Lila Awatara: Awatara yang sering ditampilkan dalam kitab-kitab Purana, seperti Dasa Awatara dan Awatara lainnya. Awatara tersebut turun secara teratur ke dunia, dari zaman ke zaman untuk menjalankan misi menegakkan Dharma dan menunjukkan jalan Bhakti dan Moksha.

Manwantara Awatara: Awatara yang diyakini sebagai pencipta para leluhur dari umat manusia di muka bumi. (lihat: Manu).

Shaktyawesa Awatara: ada dua jenis :

  1. makhluk yang merupakan penjelmaan Wisnu secara langsung; dan
  2. makhluk diberkati yang mendapatkan kekuatan dari Wisnu.

Jenis tersebut memiliki jumlah yang besar, dan merupakan Awatara yang istimewa. Awatara jenis ini, misalnya saja Narada Muni atau Sang Buddha. Awatara jenis tersebut kadang-kadang dikenal dengan sebutan Saktyamsavatar, Saktyaveshavatar atau Avesha avatar. Awatara lain yang termasuk jenis kedua, misalnyaParashurama, yang mana Dewa Wisnu tidak secara langsung menjelma.

Dalam jenis yang kedua tersebut, menurut Srivaishnavism, ada dua macam lagi, yakni:

  1. Wisnu memasuki jiwa makhluk yang terpilih tersebut seperti Parashurama;
  2. Wisnu tidak memasuki jiwa secara langsung, namun memberikan kekuatan suci (misalnya Vyasa, penyusun Veda).

Awatara jenis kedua tersebut tidak dipuja sebagaimana mestinya Awatara yang lain. Hanya Awatara yang merupakan penjelmaan langsung yang kini sering dipuja, seperti Narasimha, Rama, dan Sri Krishna. Menurut aliran Waisnawa,Krishnamerupakan Awatara yang tertinggi di antara Awatara yang lain.

Namun, pengikut Sri Haitanya (termasuk ISKCON), Nimbarka, Vallabhacharya memiliki filsafat berbeda dengan pengikut aliran Waisnawa,seperti Ramanuja dan Madhva dan menganggap bahwa Krishna merupakan kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa, dan bukan seorang Awatara belaka. Dalam beberapa filsafat Hinduisme, tidak ada perbedaan dalam memuja Sang Hyang Wisnu ataupun Awataranya karena semua pemujaan tersebut akan menuju kepada-Nya.

Awatara-Awatara dalam Purana

Balarama (Baladewa), kakak Sri Kresna, berdiri di dekat sungai Yamuna. Bersenjata pembajak sawah sebagai lambang pertanian

Dalam kitab-kitab Purana, dikenal adanya 25 Awatara termasuk sepuluh Awatara yang terkenal. Awatara-Awatara tersebut merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Awatara-Awatara tersebut yakni:

  1. Catursana (empat putra Brahmana)
  2. Narada (sang orang bijak yang senang mengembara)
  3. Waraha (sang babi hutan)
  4. Matsya (sang ikan)
  5. Yadnya
  6. Nara-Narayana (si kembar)
  7. Kapila (sang pujangga)
  8. Dattatreya
  9. Hayagriwa (sang kuda)
  10. Hangsa (sang angsa)
  11. Presnigarba
  12. Resaba (ayah Raja Bharata)
  13. Pertu
  14. Narasimha (sang manusia-singa)
  15. Kurma (sang kura-kura)
  16. Dhanwantari (ayah dari Ayurweda)
  17. Mohini (wanita cantik)
  18. Wamana (orang cebol)
  19. Parasurama (sang ksatria)
  20. Ramacandra (Raja Ayodhya)
  21. Byasa (penulis Weda)
  22. Balarama (kakak Kresna)
  23. Kresna (sang gembala)
  24. Buddha (Siddharta Gautama)
  25. Kalki (sang penghancur)

Makna dan filsafat

Beberapa orang meyakini bahwa filsafat Dasa Awatara menunjukkan perkembangan kehidupan dan peradaban manusia di muka bumi. Setiap Awatara merupakan lambang dari setiap perkembangan zaman yang terjadi.

  1. Matsya Awatara merupakan lambang bahwa kehidupan pertama terjadi di air.
  2. Kurma Awatara menunjukkan perkembangan selanjutnya, yakni munculnya hewan amphibi.
  3. Waraha Awatara melambangkan kehidupan selanjutnya terjadi di darat.
  4. Narasimha Awatara melambangkan dimulainya evolusi mamalia.
  5. Wamana Awatara melambangkan perkembangan makhluk yang disebut manusia namun belum sempurna.
  6. Parashurama Awatara, pertapa bersenjata kapak, melambangkan perkembangan manusia di tingkat yang sempurna.
  7. Rama Awatara melambangkan peradaban manusia untuk memulai pemerintahan.
  8. Krishna Awatara, yang mahir dalam enam puluh empat bidang pengetahuan dan kesenian melambangkan kecakapan manusia di bidang kebudayaan dan memajukan peradaban. Balarama Awatara, Kakak Kresna yang bersenjata alat pembajak sawah, melambangkan peradaban dalam bidang pertanian.
  9. Buddha Awatara, yang mendapatkan pencerahan, melambangkan kemajuan sosial manusia.

Awatara yang turun ke dunia juga memiliki makna-makna menurut zamannya: masa para Raja meraih kejayaan dengan pemerintahan Rama Awatara pada masa Treta Yuga, dan keadilan sosial dan Dharma dilindungi oleh Sri Kresna pada masa Dwapara Yuga. Makna dari turunnya para Awatara selama masa Satya Yuga menuju Kali Yuga juga menunjukkan evolusi makhluk hidup dan perkembangan peradaban manusia.

Awatara-awatara dalam daftar di atas merupakan inkarnasi Wisnu, yang mana dalam suatu filsafat merupakan lambang dari takaran dari nilai-nilai kemasyarakatan. Istri Dewa Wisnu bernama Laksmi, Dewi kemakmuran. Kemakmuran dihasilkan oleh masyarakat, dan diusahakan agar terus berjalan seimbang. Hal tersebut dilambangkan dengan Dewi Laksmi yang berada di kaki Dewa Wisnu. Dewi Laksmi sangat setia terhadapnya.

Filsafat Catur Yuga yang merupakan masa-masa yang menjadi latar belakang turunnya suatu Awatara dideskripsikan sebagai berikut:

  • Satya Yuga dilambangkan dengan seseorang membawa sebuah kendi (kamandalu)
  • Treta Yuga dilambangkan dengan seseorang yang membawa sapi dan sauh
  • Dwapara Yuga dilambangkan dengan seseorang membawa busur panah dan kapak
  • Kali Yuga dilambangkan dengan seseorang yang sangat jelek, telanjang, dan melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Jika deskripsi di atas diamati dengan seksama, maka masing-masing zaman memiliki makna tersendiri yang mewakili perkembangan peradaban masyarakat manusia. Pada masa pertama, Satya Yuga, ada peradaban mengenai tembikar, bahasa, ritual (yajña), dan sebagainya. Pada masa yang kedua, Treta Yuga, manusia memiliki kebudayaan bertani, bercocok tanam dan beternak. Pada masa yang ketiga, manusia memiliki peradaban untuk membuat senjata karena bidang pertanian dan kemakmuran perlu dijaga. Yuga yang terakhir merupakan puncak dari kekacauan, dan akhir dari peradaban manusia.

Evolution of Human Being

Walaupun dalam arti dan banyak cerita yang kita lihat , bahwa Awatara dan maknanya seperti di atas , tapi kita coba untuk menguraikannya dengan pandangan  kaca mata filosofi seperti dibawah ini.

Matsya  = Awatara Ikan adalah lambang atau  personifikasi asal mula setetes benih yang bersemayam di dalam rahim seorang ibu yang hanya dapat bergerak untuk berproses menjadi janin di dalam kandungan. Serta inilah yang akan menjadi asal mula seorang bayi yang akan di lahirkan dan penentu perjalanan hidup selanjutnya.

Kurma = Awatara Kura–kura adalah gambaran kelanjutan sebuah janin  yang telah sempurna dan menjadi seorang bayi dan dengan selamat dilahirkan ke dunia setelah proses kehidupan dalam perut seorang ibu selama sembilan bulan sepuluh hari, Bayi akan menunjukan watak dan karakternya sebagai bayi yang cerdas atau tidak, sebagai bukti karma wasana (tabungan masa lalu) yang di bawanya. Maka dalam kegiatan sehari-hari Bayi pun akan  beraktifitas / merangkak seperti Kurma.

Varaha = Awatara Babi hutan adalah  yang melambangkan kehidupan seorang anak, dengan tingkah lakunya yang sulit di kendalikan, dan selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa memperdulikan orang lain (ego yang memimpin diri). Masa Brahmacari, disinilah tahap kenapa dalam agama Hindu diciptakan catur ashrama, Brahmacari akan menggebleng sang anak kearah yang di inginkan orang tua, dan kini kita lihat berapa banyak putra–putri yang tidak dapat di kendalikan oleh orang tuanya.
Narasimha = Awatara Kepala Singa dan badan Manusia dimana Rasa ego yang mengendalikan diri perlahan-lahan mendapatkan pengertian dan pengetahuan tentang ahklak dan rasa kasih, disini Ego mulai  di kendalikan, tapi sifat keakuan tetap memimpin (Masa Brahmacari) perhatian orang tua dengan yang berkesinambungan akan merubah seorang anak, sekalipun sebelumnya dia berwatak sekeras Singa, dan disini pengetahuan agama dan cinta kasih bekerja. Sehingga walaupun berjiwa keras tetap berjiwa rohani.

Vamana = Awatara Manusia Cebol adalah gambaran bahwa persentasi pengaruh kemanusiaan mulai terlihat lebih menonjol dalam wujud dan prilaku, walaupun masih terlihat  kecil. (Masa Brahmacari) seorang anak yang dibentuk dari masa kecilnya dengan ajaran agama yang baik dan terarah, akan terlihat dari masa kecilnya, serta karakter kellahian akan terlihat dalam segala prilakunya dan akan membawa nama baik bagi orang tua, bangsa, agama dan berguna bagi lingkungannya dan Negara.

Parasurama = Awatara Manusia / Petani , adalah personifikasi sang diri yang telah mencapai bentuk manusia sempurna, dengan  50 % watak manusia yang berprilaku spiritual dan 50 %, manusia normal. Pada tingkatan ini  seseorang lebih mengandalkan kekuatan Spiritualnya sebagai suatu kesaktian untuk mempengaruhi orang lain, dan selalu merasa paling benar. (Masa Grhasta) ini adalah gambaran bahwa orang tidak akan menjadi suci karena atributnya tapi pengetahuan agama dan pengamalannya yang dapat menjadikannya sebagai orang spiritual yang sejati.

Rama = Awatara Manusia yang berkarakter Dewata, dimana awatara ini selalu berprilaku sebagai Pahlawan kebenaran pemberi solusi yang berlatar belakang Dharma walaupun kadang kala harus mengorbankan dirinya. (Ramayana)  (Masa Grahasta) (Spiritual dalam Prilaku karena bimbingan Guru suci yang benar).
Krishna = Awatara Manusia yang berkarakter Ilahi. Adalah seorang  yang selalu berjalan dengan rahasia ke-Ilahian yang tersembunyi  serta memberikan jalan untuk menegakkan Dharma, yang juga dapat terkena Asuba karma sehingga membawa sumpah untuk lahir kembali sebagai Kalki Awatara, yang akan membrantas Adharma tanpa kompromi dalam kehidupan sekarang. Lihat Maha barata (Masa Wanaprahasta) Hukum karma memagang peranan penting dalam hidup manusia sekalipun Dia awatara kalau sudah mengambil wujud makluk hidup, maka tidak akan ada yang luput dari hukum kematian  (Menyemai angin menuai badai)
Budha = Awatara Manusia menuju ke Illahian, adalah seorang manusia yang hanya menjalankan kehidupan dengan menegakkan Dharma dan mencari penerangan Illahi dengan meninggalkan semua kesenangan duniawi, ini adalah fase penentu apakah kita akan dilahirkan kembali sebagai Kalki (wujud nyata) atau Moksha. Dalam menegakkan Dharma secara langsung atau melalui ajaran kita (Masa Sanyasi) Pendakian Spiritual harus di mulai.
Kalki = Awatara Manusia sebagai Pembrantas Adharma sebagai wujud kelahiran yang ditentukan oleh Dendam dan amarah atas penghianatan terhadap Dharma dan Keadilan. Ini adalah gambaran manusia yang terlahirkan karena wasana karma yang dibawanya ketika lahir. Dalam akhir kehidupan kita hanya ada dua pilihan Moksha atau Punarbawa sebagai awal pengikisan asuba karma atau penambahannya. Tiada kekuatan yang dapat menentukan itu  kecuali kita sendiri (We are what We think).

Orang-orang yang diyakini sebagai Awatara

Selain awatara-awatara yang disebutkan dalam kitab-kitab Purana dan Veda, beberapa di antara  orangIndiadan Hindu dianggap sebagai awatara oleh umat yang meyakininya. Mereka adalah orang-orang dengan kekuatan jasmani dan rohani yang luar biasa jika dibandingkan dengan manusia normal dan diyakini sebagai penitisan Tuhan atau manifestasinya. Mereka adalah:

  • Hans Ji Maharaj (1900–1966)
  • Jagadguru Kripaluji Maharaj (1922-sekarang) diyakini sebagai Awatara dari Sri Krishna dan Sri Caitanya Mahaprabu oleh pengikutnya.
  • Mahavatar Babaji Meher Baba (1894-1969) yang menyatakan bahwa beliau adalah awatara terakhir pada zaman Kali Yuga atau Awatara Penunggang Kuda Putih.
  • Bunda Meera (1960-sekarang) diyakini sebagai Awatara dari Adipara-Shakti
  • Narayani Amma  (1976-sekarang) diyakini sebagai Awatara Narayani sejati
  • Sathya Sai Baba (1926?-1929?-sekarang) dianggap dan dipercaya sebagai awatara dari Siwa, Shakti, dan Krishna. Kebangkitannya diprediksi oleh Sai Sirdhi, yang berkata “Akan lahir seorang anak dengan nama ‘Narayana’ (kebenaran); selain itu diprediksi oleh Sang Buddha (Siddharta Gautama); Paus John XXIII; dan Nostradamus.
  • Shirdi Sai Baba (1838-1918) beberapa pengikutnya meyakini bahwa Beliau adalah awatara dari Datthatreya dan Siwa.
  • Sri Ramakrishna (1836–1886) dan Sri Sarada Devi (1853–1920). Ramakrishna pernah berkata kepada Swami Vivekananda: “Beliau yang disebut Rama danKrishna sedang berada disini, di tubuh ini, Ramakrishna”. Sarada Devi, istri Ramakrishna, diyakini sebagai penjelmaan (Awatara) Dewi Kali.

Beberapa umat Hindu dengan kacamata universal juga meyakini bahwa beberapa tokoh-tokoh/nabi-nabi agama lain adalah awatara (inkarnasi Tuhan). Tokoh-tokoh tersebut yakni:

  • Adi Da (1939-sekarang) bergelar “Avatar Adi Da Samraj”.
  • Bahá’u’lláh (1817–1892) dipercaya sebagai Kalki Awatara.
  • Gautama Buddha (563-483SM-543SM) penyebar ajaran Buddha yang diyakini sebagai Awatara Wisnu kesembilan dari Dasa Awatara
  • Jesus (4 SM-36) kini dikenal sebagai pemuka agama Kristen.
  • Mahavira (599 SM-527 SM) penyebar ajaran Jainisme.
  • Samael Aun Weor (1917-1977) dianggap sebagai Kalki Awatara sejati dan Buddha Maitreya.
  • Zoroaster (Zarathustra) nabi agama Zoroastrianisme.

Maha Avatāra

1. MATSYA (Sang Ikan)

Dalam ajaran Agama Hindu, Matsya Awatara; matsya, berarti ikan, dalam dasa Awatara, adalah Awatara Wisnu yang pertama, yang muncul pada masa Satya Yuga, pada masa pemerintahan Maharaja Manu, putera Vivasvan Sang Dewa matahari, yang diyakini sebagai ayah umat manusia masa kini. Matsya Awatara turun ke dunia untuk memberitahu raja Manu mengenai bencana air bah yang akan melanda bumi. Beliau memerintahkan raja Manu untuk segera membuat perahu besar.

Oleh beberapa orang, karena temanya sama, kisah ini disamakan dengan kisah Nabi Nuh, yang konon membuat bahtera besar untuk melindungi umatnya dari bencana air bah yang melanda bumi. Kisah dengan tema yang sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah dari Vietnamdan dari Yunani.

Kisah Matsya Awatara
Pada suatu hari, saat raja Manu mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil menghampiri tangannya dan raja tahu ikan itu meminta perlindungan. Akhirnya beliau memelihara ikan tersebut. Beliau menyiapkan kolam kecil sebagai tempat tinggal ikan tersebut.

Namun lambat laun ikan tersebut bertambah besar, hampir memenuhi seluruh kolam. Akhirnya beliau memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai akhirnya beliau sadar bahwa ikan yang ia pelihara bukanlah ikan biasa.

Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Beliau menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi bencana air bah yang sangat hebat. Beliau berpesan agar raja Manu membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan berbagai makhluk hidup yang setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan). Akhirnya amanat tersebut dipatuhi. Raja Manu beserta pengikutnya selamat dari bencana.

Kisah Matsya Awatara selengkapnya terdapat dalam kitab Matsyapurana.

2. KURMA (Sang kura-kura)

Dalam agama Hindu, Kurma adalah penjelmaan kedua dewa Wisnu. Seperti Matsya, awatara Wisnu yang muncul pada masa Satya yuga. Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura dan duduk di dasar lautan susu setelah banjir besar. Sebuah gunung ditempatkan di punggungnya. Di bawah gunung tersebut konon terdapat harta karun dan tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para Dewa dan Asura berlomba-lomba mendapatkannya. Para Dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.

Dikisahkan pada zaman Satya Yuga, para Dewa, asura, dan rakshasa bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, “Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksira, sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!”.
Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nārāyana, berangkatlah para Dewa, asura, dan rakshasa pergi ke laut Ksira (Ksirārnawa). Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya. Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) raksasa bernama Akupa yang konon katanya sebagai penjelmaan Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan para asura dan rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak asura dan rakshasa kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura dan rakshasa. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.

Timbulnya Racun

Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sansekerta: “Nila”: biru, “Kantha”: tenggorokan).

Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:

  • Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur
  • Apsara, kaum bidadari kahyangan
  • Kaustubha, permata yang paling berharga di dunia
  • Ucaisrawa, kuda para Dewa
  • Kalpawriksha, pohon yang dapat mengabulkan keinginan
  • Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi
  • Airawata, kendaraan Dewa Indra
  • Lakshmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran

Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura dan rakshasa tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para asura dan rakshasa ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura dan rakshasa dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.

Perebutan Tirta Amerta

Melihat tirta amerta berada di tangan para asura dan rakshasa, Dewa Wisnu memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik tersebut menghampiri para asura dan rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu. Karena tidak sadar terhadap tipu daya, mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini. Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal itu, para asura dan rakshasa menjadi marah. Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan asura dan rakshasa. Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Dewa Wisnu memunculkan senjata chakra yang mampu menyambar-nyambar para asura dan rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Dewa.

Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Dewa Wisnu, dan disanamereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang rakshasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Hal tersebut diketahui oleh Dewa Aditya dan Chandra, yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu kemudian mengeluarkan senjata chakranya dan memenggal leher sang rakshasa, tepat ketika tirta amerta sudah mencapai tenggorokannya. Badan sang rakshasa mati, namun kepalanya masih hidup karena tirta amerta sudah menyentuh tenggorokannya. Sang rakshasa marah kepada Dewa Aditya dan Chandra, dan bersumpah akan memakan mereka pada pertengahan bulan.

3. Waraha (Sang babi hutan)

Dalam ajaran Agama Hindu Waraha Awatara; Varaha Avatāra adalah Awatara ketiga dari Dewa Wisnu yang berwujud babihutan. Awatara ini muncul pada masa Satya Yuga, dimana pada waktu itu ada seorang raksasa bernama Hiranyaksha, adik raksasa Hiranyakashipu, yang hendak menenggelamkan Pertiwi (planet bumi) ke dalam lautan kosmik, suatu tempat antah berantah di ruang angkasa. Melihat dunia belum waktunya kiamat, Dewa Wisnu menjelma menjadi babihutan yang memiliki dua taring panjang mencuat. Pertempuran antara raksasa Hiranyaksha dan Dewa Wisnu berlangsung sengit. Konon pertarungan ini terjadi ribuan tahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya, Dewa Wisnu yang menang.
Setelah beliau memenangkan pertarungan, beliau mengangkat Bumi seperti bola dengan dua taring nya yang panjang muncuat, dari lautan Kosmik, dan meletakkan Bumi kembali pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.
Waraha Awatara dilukiskan sebagai Babi hutan yang membawa planet Bumi dengan kedua taringnya dan meletakkan nya diatas Hidung, didepan mata. Kadang dilukiskan sebagai manusia berkepala Babi hutan, dengan dua taring menyangga bola dunia, bertangan empat, masing – masing membawa Cakra, trompet dari kulit kerang, teratai, dan Gada.

Nama Lain
* Bhuvaraghan
* Varaghan
* Varha
* YagnaVaraha
* SreeVaraham
* AdhiVaraha

Setelah beliau memenangkan pertarungan, beliau mengangkat Bumi seperti bola dengan dua taring nya yang panjang muncuat, dari lautan Kosmik, dan meletakkan Bumi kembali pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.

Waraha Awatara dilukiskan sebagai Babi hutan yang membawa planet Bumi dengan kedua taringnya dan meletakkan nya diatas Hidung, didepan mata. Kadang dilukiskan sebagai manusia berkepala Babi hutan, dengan dua taring menyangga bola dunia, bertangan empat, masing – masing membawa Cakra, trompet dari kulit kerang, teratai, dan Gada.

Nama Lain
* Bhuvaraghan, Varaghan, Varha, YagnaVaraha, SreeVaraham, AdhiVaraha

4. Narasimha (Sang manusia-singa)

Dalam ajaran Agama Hindu, Narasimha Awatara; disebut juga Narasingh, Narasinga) (di Bali biasa disebut Narasinga) adalah Awatara Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, kukunya tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasimha merupakan simbol Dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya. Pada menjelang akhir masa Satya Yuga, ada seorang bangsa Asura yang bernama Hiranyakashipu, kakak Hiranyaksa. Semenjak adiknya dibunuh oleh Waraha (Awatara Wisnu), ia membenci Dewa Wisnu dan menjadikannya busuh bebuyutan.

Narasimha membunuh Hiranyakashipu

Hiranyakashipu memohon kepada Brahma, agar memberinya kehidupan abadi, tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun Dewa, tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya. Namun, kesaktian itu justru membuatnya sangat angkuh dan terjerumus ke dalam kegelapan. Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan istri Hiranyakashipu yang tak berdosa, Lilawati (Leelavathi). Akhirnya anaknya yang diberi nama Prahlada lahir dan dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasan ayahnya.

Hiranyakashipu memohon kepada Brahma, agar memberinya kehidupan abadi, tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun Dewa, tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya. Namun, kesaktian itu justru membuatnya sangat angkuh dan terjerumus ke dalam kegelapan. Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan istri Hiranyakashipu yang tak berdosa, Lilawati (Leelavathi). Akhirnya anaknya yang diberi nama Prahlada lahir dan dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasan ayahnya.

Mengetahui para Dewa melindungi istrinya, Hiranyakashipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya (Prahlada), kini menjadi pemuja Dewa Wisnu. Ia pun membenci puteranya. Namun, setiap kali ia membunuh puteranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan ajaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu. Prahlada menjawab, “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul”.Mendengar jawaban itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan. Pada saat itulah Dewa Wisnu sebagai Narasimha muncul menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya. Pada waktu itu juga ia hendak membunuh Hiranyakashipu. Namun, atas anugerah dari Dewa Brahma, Hiranyakashipu tidak bisa mati. Agar berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, ia memilih wujud sebagai manusia berkepala singa untuk membunuh Hiranyakashipu. Ia juga memilih waktu dan tempat yang tepat. Berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku. Narasimha berhasil merobek-robek perut Hiranyakashipu. Akhirnya Hiranyakashipu berhasil dibunuh oleh Narasimha, karena ia dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau Dewa. Ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tapi senja hari. Ia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah. Ia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tapi di pangkuan Narasimha. Ia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.

5. Wamana (Sang orang cebol)

Dalam ajaran Agama Hindu Wamana Awatara ( Vamana) adalah Awatara Wisnu yang kelima, turun pada masa Treta Yuga, sebagai putera Aditi, seorang Brahmana. Beliau (Batara Wisnu) turun ke dunia guna menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada rajaBali (Mahabali), seorang Asura, cucu dari Prahlada. RajaBali telah merebut surga dari kekuasaan Dewa Indra, karena itu Wisnu turun tangan dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja Bali. Wamana awatara dilukiskan sebagai Brahmana dengan raga anak kecil yang membawa payung. Wamana Awatara merupakan penjelmaan pertama Dewa Wisnu yang mengambil bentuk manusia lengkap, meskipun berwujud Brahmana mungil. Wamana kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan Upendra.

Kisah Wamana Awatara

Kisah Wamana Awatara dimuat dalam kitab Bhagawata Purana. Menurut cerita dalam kitab, Wamana sebagai Brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada saat itu Raja Bali mengundang seluruh Brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah dinasehati oleh Guru Sukracharya agar tidak memberikan hadiah apapun kepada Brahmana yang aneh dan lain daripada biasanya. Pada waktu pemberian hadiah, seorang Brahmana kecil muncul di antara Brahmana-Brahmana yang sudah tua-tua. Brahmana tersebut juga akan diberi hadiah olehBali.
Brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah kakinya. RajaBali pun takabur dan melupakan nasihat Guru Sukracharya. Ia menyuruh Brahmana kecil itu melangkah.
Pada waktu itu juga, Brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus. Pada langkah yang pertama, ia menginjak surga. Pada langkah yang kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, ia menginjak kepala Raja Bali. Tamatlah riwayatBali.

Tradisi dan pemujaan

Kisana Awamana Awatara dan Raja Bali diperingati setiap tahun pada perayaan Onam di Kerala (India. Disana juga terdapa kuil yang khusus yang memuja Beliau (Awamana). Selain disana, beberapa kuil Wamana tersebut di India. salah satunya di Kanchipuram, dekat kuil Kamakshi.

Kisah Wamana Awatara
Kisah Wamana Awatara dimuat dalam kitab Bhagawata Purana. Menurut cerita dalam kitab, Wamana sebagai Brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada saat itu Raja Bali mengundang seluruh Brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah dinasehati oleh Guru Sukracharya agar tidak memberikan hadiah apapun kepada Brahmana yang aneh dan lain daripada biasanya. Pada waktu pemberian hadiah, seorang Brahmana kecil muncul di antara Brahmana-Brahmana yang sudah tua-tua. Brahmana tersebut juga akan diberi hadiah oleh Bali.
Brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah kakinya. Raja Bali pun takabur dan melupakan nasihat Guru Sukracharya. Ia menyuruh Brahmana kecil itu melangkah.
Pada waktu itu juga, Brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus. Pada langkah yang pertama, ia menginjak surga. Pada langkah yang kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, ia menginjak kepala Raja Bali. Tamatlah riwayat Bali.

Tradisi dan pemujaan
Kisana Awamana Awatara dan Raja Bali diperingati setiap tahun pada perayaan Onam di Kerala (India. Disana juga terdapa kuil yang khusus yang memuja Beliau (Awamana). Selain disana, beberapa kuil Wamana tersebut di India. salah satunya di Kanchipuram, dekat kuil Kamakshi.

6. Parasurama (Sang Brāhmana-Kshatriya)

Dalam ajaran Agama Hindu, Parasurama atau Ramaparasu; Parashurama Bhargava (Parashu berarti kapak; Parashurama = Rama bersenjata kapak) disebut juga Parashurama Bhargawa, adalah Awatara Wisnu yang keenam yang turun pada masa Treta Yuga. Ia merupakan salah satu Chiranjiwin atau makhluk abadi. Saat kelahirannya, Wisnu menjelma sebagai seorang Brahmana kesatria, putera Jamadagni. Pada masa tersebut ada banyak sekali ksatria yang gemar berperang dan menjadi ancaman di muka bumi. Maka dari itu, beliau berusaha untuk menumpas ksatria-ksatria tersebut dan meminimalisir jumlahnya. Meskipun demikian, tidak semua ksatria ditumpas olehnya. Ksatria-ksatria yang mampu bertahan hidup bersembunyi dan melanjutkan keturunannya.

Parasurama dilukiskan sebagai Brahmana ksatria yang berwajah sangar dan menyeramkan. Rambutnya kusut terurai sampai menyentuh tanah. Senjata beliau adalah kapak. Beliau adalah seorang ksatria hebat yang paling ditakuti bangsa ksatria. Banyak para ksatria yang gemetar dan ketakutan bila berhadapan dengannya.

Meski peran Wisnu sebagai Parasurama pada masa Treta Yuga telah berakhir, namun Parasurama tetap hidup dan muncul pada inkarnasi Wisnu yang berikutnya, yakni pada kehidupan Rama, masa Treta Yuga (sebagai Brahmana yang marah karena Rama mematahkan busur Siwa), dan pada kehidupan Kresna, masa Dwapara Yuga (sebagai guru Karna yang mengajarinya cara menggunakan panah sakti Brahmāstra namun mengutuknya begitu menyadari Karna ternyata seorang keturunan Ksatria).
Beliau diyakini masih hidup sampai saat ini dan sedang bertapa di atas gunung atau dalam hutan belantara yang lebat.

Nama Lain
Parashurama memiliki nama lain, yaitu:
* Bhrigupati
* Bhargawa (Bhargava)
* Rama Bhargawa

7. Rama (Sang pangeran)

Dalam ajaran Agama Hindu,Rama ; Rāma atau Ramachandra; Rāmachandra) adalah seorang raja legendaris yang terkenal dariIndiayang konon hidup pada zaman Treta Yuga, keturunan Dinasti Surya atau Suryawangsa. Ia berasal dari Kerajaan Kosala yang beribukota Ayodhya. Menurut pandangan Hindu, ia merupakan awatara Dewa Wisnu yang ketujuh yang turun ke bumi pada zaman Treta Yuga. Sosok dan kisah kepahlawanannya yang terkenal dituturkan dalam sebuah sastra Hindu Kuno yang disebut Ramayana, tersebar dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara. Terlahir sebagai putera sulung dari pasangan Raja Dasarata dengan Kosalya, ia dipandang sebagai Maryada Purushottama, yang artinya “Manusia Sempurna”. Setelah dewasa, Rama memenangkan sayembara dan beristerikan Dewi Sita, inkarnasi dari Dewi Laksmi. Rama memiliki anak kembar, yaitu Kusa dan Lawa.

Asal-usul nama “Rama”

Rama dalam kitab Rigveda dan Atharvaveda adalah kata sifat yang berarti “gelap, hitam”, atau kata benda yang berarti “kegelapan”, bentuk feminim dari kata sifat tersebut adalah rāmī. Dua Rama muncul dalam pustaka Weda, dengan nama keluarga Mārgaveya dan Aupatasvini; Rama yang lain muncul dengan nama keluarga Jāmadagnya yang dianggap sebagai penulis himne Rigveda.

Menurut Monier-Williams, tiga Rama dihormati pasca masa Weda, yaitu:

  1. Rāma-chandra (“Rama-rembulan”), putera Dasarata, keturunan
    Raghu dari Dinasti Surya.
  2. Parashu-rāma (“Rama besenjata kapak”), awatara Wisnu yang keenam, kadangkala dianggap sebagai Jāmadagnya, atau sebagai Bhārgava Rāma (keturunan Bhrigu), seorang “Chiranjiwi” atau makhluk abadi.
  3. Bala-rāma (“Rama yang kuat”), juga isebut Halāyudha (bersenjata bajak saat bertempur), kakak sekaligus teman dekat Kresna, awatara Wisnu yang kedelapan.

Dalam Wisnu sahasranama, Rama adalah nama lain Wisnu yang ke-394. Dalam interpretasi dari komentar Adi Sankara, yang diterjemahkan oleh Swami Tapasyananda dari Misi Ramakrishna, Rama memiliki dua pengertian: 1) Brahman yang maha kuasa yang menganugerahkan para yogi; 2) Ia (Wisnu) yang meninggalkan kahyangan untuk menitis kepada Rama, putera Dasarata.

Sumber literatur

Sumber utama mengenai kehidupan dan perjalanan Rama adalah wiracarita Ramayana yang disusun Resi Walmiki. Namun, sastra lain dalam bahasa Sansekerta juga merefleksikan riwayat dalam Ramayana. Sebagai contoh, Wisnupurana juga menceritakan Rama sebagai awatara Wisnu yang ketujuh dan dalam Bayupurana, seorang Rama disebut di antara tujuh Resi dari Manwantara ke-8. Dan juga kisah Rama disebut dalam wiracarita lainnya, yaitu Mahabharata. Versi lain yang penting dan lebih pendek adalah Ādhyātma Ramayana.

8. Krisna (Sang pengembala)

Dalam ajaran Agama Hindu Kresna atau Krisna ( dilafalkan kṛṣṇa menurut IAST; dilafalkan ‘kɹ̩ʂ.nə dalam Bahasa Sansekerta) adalah salah satu Dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu karena dianggap merupakan aspek dari Brahman.Ia disebut pula Narayana yaitu sebutan yang merujuk pada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha.Ia biasa nya di gambarkan sebagai sosok pengembala muda yang mamainkan seruling atau pangran muda yang memberikan tuntunan filosofis (seperti dalam Bhagawad Gita).Dalam ajaran Agama Hindu umumnya.Krisna dipuja sebagai Awatara Wisnu yang di anggap Dewa yang paling hebat dalam perguruan Waisnawa. Dalam tradisi Gaudiya Waisnawa, Kresna dipuja sebagai sumber dari segala awatara (termasuk Wisnu).

Menurut Mahabharata, Kresna berasal dari Kerajaan Surasena, namun kemudian ia mendirikan kerajaan sendiri yang diberi nama Dwaraka. Dalam cerita Mahabharata, ia dikenal sebagai tokoh raja yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Dalam ajaran agama Hindu, ia dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang kedelapan. Dalam Bhagawad Gita, beliau adalah perantara kepribadian Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) yang menjabarkan ajaran kebenaran mutlak (dharma) kepada Arjuna. Beliau mampu menampakkan secercah kemahakuasaan Tuhan yang hanya disaksikan oleh tiga orang pada waktu perang keluarga Bharata akan berlangsung. Ketiga orang tersebut adalah Arjuna, Sanjaya putra Widura, dan Vyasa. Namun Sanjaya dan Vyasa tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha.

Asal-usul Nama “Krishna”

Dalam bahasa Sansekerta, kata Krishna berarti “hitam” atau “gelap”, dan kata ini umum digunakan untuk menunjukkan pada orang yang berkulit gelap. Dalam Brahma Samhita dijabarkan bahwa Krishnamemiliki warna kulit gelap bersemu biru langit.Dan umumnya divisualkan berkulit gelap atau biru pekat. Sebagai Contoh, di Kuil Jaganatha, di Puri, Orissa, India (nama Jaganatha, adalah nama yang ditujukan bagi Krishna sebagai penguasa jagat raya) di gambarkan memiliki kulit gelap berdampingan dengan saudaranya Baladewa dan Subadra yang berkulit cerah.

NAMA LAIN

Kresna sebagai Awatara sekaligus orang bijaksana memiliki banyak sekali nama panggilan sesuai dengan kepribadian atau keahliannya. Nama panggilan tersebut digunakan untuk memuji, mengungkapkan rasa hormat, dan menunjukkan rasa persahabatan atau kekeluargaan. Nama panggilan Kresna di bawah ini merupakan nama-nama dari kitab Mahabarata dan Bhagawad Gita versi aslinya (versiIndia). Nama panggilan Kresna adalah:

  1. Achyuta (Acyuta, yang tak pernah gagal)
  2. Arisudana (penghancur musuh)
  3. Bhagavān (Bhagawan, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa)
  4. Gopāla (Pengembala sapi)
  5. Govinda (Gowinda, yang memberi kebahagiaan pada indria-indria)
  6. Hrishikesa (Hri-sikesa, penguasa indria)
  7. Janardana (juru selamat umat manusia)
  8. Kesava (Kesawa, yang berambut indah)
  9. Kesinishūdana (Kesi-nisudana, pembunuh raksasa Kesi)
  10. Mādhava (Madawa, suami Dewi Laksmi)
  11. Madhusūdana (Madu-sudana, penakluk raksasa Madhu)
  12. Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)
  13. Mahāyogi (Maha-yogi, rohaniawan besar)
  14. Purushottama (Purusa-utama, manusia utama, yang berkepri-badian paling baik)
  15. Varshneya (Warsneya, keturunan wangsa Wresni)
  16. Vāsudeva (Wasudewa, putera Basudewa)
  17. Vishnu (Wisnu, penitisan Batara Wisnu)
  18. Yādava (Yadawa, keturunan dinasti Yadu)
  19. Yogesvara (Yoga-iswara, penguasa segala kekuatan batin)

Kehidupan Sang Kresna

Ikthisar kehidupan Sri Kresna di bawah ini diambil dari Mahābhārata, Hariwangsa, Bhagawata Purana, dan Wisnu Purana. Lokasi dimana Kresna diceritakan adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana,Delhi, danGujarat. Kutipan pada permulaan dan akhir cerita merupakan teologi yang tergantung pada sudut pandang cerita.

Penitisan

Kutipan di bawah ini menjelaskan alasan mengapa Wisnu menjelma. Dalam sebuah kalimat dalam Bhagawatapurana:

Dewa Brahma memberitahu para Dewa: Sebelum kami menyampaikan permohonan kepada Beliau, Beliau sudah sadar terhadap kesengsaraan di muka bumi. Maka dari itu, selama Beliau turun ke bumi demi menuntaskan kewajiban dengan memakai kekuatan-Nya sendiri sebagai sang waktu, wahai kalian para Dewa semuanya akan mendapat bagian untuk menjelma sebagai para putera dan cucu dari keluarga wangsa Yadu

Kitab Mahabharata, bagian Adiwansawatarana) memberikan alasan yang serupa, meskipun dengan perbedaan yang kecil dalam bagian-bagiannya.

Kelahiran

Kepercayaan tradisional yang berdasarkan data-data dalam sastra dan perhitungan astronomi menyatakan bahwa Sri Krishna lahir pada tanggal 19 juli tahun 3228 SM.

Kresna berasal dari keluarga bangsawan diMathura, dan merupakan putera kedelapan yang lahir dari puteri Dewaki, dan suaminya Basudewa.Mathura adalah ibukota dari wangsa yang memiliki hubungan dekat seperti Wresni, Andaka, dan Bhoja. Mereka biasanya dikenali sebagai Yadawa karena nenek moyang mereka adalah Yadu, dan kadang-kadang dikenal sebagai Surasena setelah adanya leluhur terkemuka yang lain. Basudewa dan Dewaki termasuk ke dalam wangsa tersebut. Raja Kamsa, kakak Dewaki, mewarisi tahta setelah menjebloskan ayahnya ke penjara, yaitu Raja Ugrasena. Karena takut terhadap ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan salah satu putera Dewaki, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara dan berencana akan membunuh semua putera Dewaki yang baru lahir. Setelah enam putera pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putera ketujuhnya, lahirlah Kresna. Karena hidupnya terancam bahaya maka ia diselundupkan keluar dan dirawat oleh orangtua tiri bernama Yasoda dan Nanda di Gokul, Mahavana. Dua anaknya yang lain juga selamat yaitu, Balarama (putera ketujuh Dewaki, dipindahkan ke janin Rohini, istri pertama Basudewa) dan Subadra (putera dari Basudewa dan Rohini yang lahir setelah Balarama dan Kresna).

Tempat yang dipercaya oleh para pemujanya untuk memperingati hari kelahiran Kresna kini dikenal sebagai Krishnajanmabhoomi, dimana sebuah kuil didirikan untuk memberi penghormatan kepadanya.

Kehidupan di Kemudian Hari

Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka selama 36 tahun. Kemudian pada suatu perayaan, pertempuran meletus di antara para Yadawa yang saling memusnahkan satu sama lain. Lalu kakak Kresna – Balarama – melepaskan raga dengan cara melakukan Yoga. Kresna berhenti menjadi raja kemudian pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon melakukan meditasi. Seorang pemburu yang keliru melihat sebagian kaki Kresna seperti rusa kemudian menembakkan panahnya dan menyebabkan Kresna mencapai keabadian. Menurut Mahabharata, kematian Kresna disebabkan oleh kutukan Gandari. Kemarahannya setelah menyaksikan kematian putera-puteranya menyebabkannya mengucapkan kutukan, karena Kresna tidak mampu menghentikan peperangan. Setelah mendengar kutukan tersebut, Kresna tersenyum dan menerima itu semua, dan menjelaskan bahwa kewajibannya adalah bertempur di pihak yang benar, bukan mencegah peperangan.

Menurut referensi dari Bhagawatapurana dan Bhagawad Gita, ditafsirkan bahwa Kresna wafat sekitar tahun 3100 SM.[6] Ini berdasarkan deskripsi bahwa Kresna meninggalkan Dwarka 36 tahun setelah peperangan dalam Mahabharata terjadi. Matsyapurana mengatakan bahwa Kresna berusia 89 tahun saat perang berkecamuk. Setelah itu Pandawa memerintah selama 36 tahun, dan pemerintahan mereka terjadi saat permulaan Kali Yuga. Selanjutnya dikatakan bahwa Kali Yuga dimulai saat Duryodana dijatuhkan ke tanah oleh Bima berarti tahun 2007 sama dengan tahun 5108 (atau semacam itu) semenjak Kali Yuga

9. Buddha (Sang pemuka agama)

Budha

Siddhartha Gautama    
Dalam ajaran Agama Hindu Buddha sebagai Awatara Dewa Wisnu adalah Sebuah konsep salam agama hindu yang dimaksudkan untuk menghormati sang buddha. Siddhartha Gautama, pendiri agama Buddha. Buddha Awatara atau sang Buddha merupakan seorang tokoh penting yang muncul dalam kitab Purana (Susastra Hindu) sebagai Awatara kesembilan dari Dasa Awatara Dewa Wisnu.

Dalam Bhagavata Purana, beliau disebut sebagai Awatara kedua puluh empat dari dua puluh lima Awatara Wisnu. Kata Buddha berarti “Dia yang mendapat pencerahan”. Buddha Awatara terlahir sebagai putera mahkota Raja Suddhodana di sebuah kerajaan Hindu bernamaKapilawastu di India Utara (sekarang merupakan wilayah kerajaan Nepal) dengan nama Siddharta Gautama yang berarti “Dia yang mencapai segala hasratnya”.

Pangeran Siddharta Gautama

Pangeran Siddharta Gautama lahir sekitar abad ketujuh sebelum Masehi (± tahun 623 SM) (2400 tahun yang lalu). Siddharta bukanlah anak biasa. Dalam usia yang sangat muda, Siddharta ahli dalam segala bidang pengetahuan, bahkan melampaui anak-anak yang sebaya dengannya. Selain itu ia rajin bermeditasi, sangat gagah dan tampan, dan selalu menjadi pemenang dalam setiap perlombaan. Pada usia muda ia dinikahkan dengan puteri Yasodhara. Ia kemudian memiliki seorang putera yang diberi nama Rahula.

Ayahnya, Raja Suddhodana, sangat menginginkan dia menjadi Maharaja Dunia, namun pikirannya dibayang-bayangi oleh ramalan petapa Kondanna yang mengatakan bahwa anaknya akan menjadi Buddha karena melihat empat hal: orang sakit, orang tua, orang mati, dan orang peminta-minta. Keempat hal tersebut selalu berusaha ditutupi olah ayahnya. Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang bersifat sakit, tua, mati, dan peminta-minta dilihat oleh Siddharta.

Namun Siddharta memang sudah ditakdirkan untuk menjadi Buddha. Ramalan pertapa Kondanna menjadi kenyataan. Keinginan Siddharta untuk menjadi Buddha terlintas ketika ia melihat empat hal tersebut, orang tua, orang sakit, orang mati, dan peminta-minta. Keempat hal tersebut pula yang membuka pikirannya untuk mencari obat penawarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pertapa dan berkeliling mencari pertapa-pertapa terkenal dan mengikuti ajarannya, namun semuanya tidak membuat Siddharta puas. Akhirnya ia menemukan pencerahan ketika bertapa di bawah pohon Bodhi di Bodh Gayapada malam Purnama Siddhi bulan Waisak.

Sidharta ingin menjadi Buddha karena melihat empat hal: orang sakit, orang tua, orang mati dan orang peminta-minta

Pemutaran Roda Dharma           
Ajaran Sang Buddha pertama kali diterima olehlima orang bhiksu: Kondanna, Bhaddiya, Mahanama, Assaji, dan Vappa. Hari pemutaran roda Dharma yang pertama tersebut diperingati oleh umat Buddha sebagai hari suci Asadha. Setelah saat itu, makin lama makin banyak orang yang menjadi pengikut Beliau. Inti ajarannya terangkum dalam tiga baris syair yang diajarkan-Nya:

“Jangan berbuat kejahatan, perbanyak perbuatan baik. Sucikan hati dan pikiran, inilah ajaran para Buddha”.

Ajaran Siddharta Gautama atau Sang Buddha terkenal sebagai ajaran agama Buddha. Ajaran ini pula yang menjadi ajaran terpenting agama Buddha di seluruh dunia. Sang Buddha Parinirwana dalam usia delapan puluh tahun, pada bulan Waisaka purnamasidhi. Pada masa sekarang, hari kelahiran Beliau, hari Beliau mendapat pencerahan, dan hari Beliau Parinirvana, diperingati sebagai hari suci Waisak.

Buddha menurut umat Hindu    
Dalam tradisi Hindu, Sang Buddha tidak memiliki posisi istimewa dalam Veda. Menurut kepercayaan umat Hindu, pada masa Kali Yuga, orang-orang mulai melupakan ajaran agama dan tindakan mereka melenceng atau tidak sesuai dengan Veda. Maka dari itu, Sang Buddha muncul untuk menyempurnakan kembali tindakan yang melenceng dari Veda dan menolak untuk menerapkan pengorbanan hewan.

Pada mulanya agama Buddha dianggap sebagai sebuah sekte oleh umat Hindu ketika ajarannya disebarkan di daratan India. Oleh umat Hindu, Siddharta sendiri dihormati dan diyakini sebagai salah satu penjelmaan (Awatara) Tuhan. Siddharta menolak diterapkannya lembaga kasta dan upacara-upacara dalam Veda, dan juga terdapat beberapa filsafat tersendiri yang berbeda dengan filsafat Hindu, sehingga sekte yang didirikan Siddharta Gautama menjadi agama tersendiri.

Beberapa tokoh Hindu menganggap Buddha merupakan seorang tokoh yang memperbarui ajaran Veda. Dalam beberapa filsafat Hinduisme, Rama dan Krishna yang merupakan Awatara juga dipuja sebagai Dewa, namun Sang Buddha yang juga merupakan Awatara tidak dipuja dalam Hindu selayaknya Awatara yang lain.
Namun ajaran Siddhartha Gautama tidak menekankan keberadaan “Tuhan sang Pencipta” [1] dan konsekuenskinya, agama Buddha termasuk bagian dari salah satu mazhab nāstika (heterodoks, harafiah “Itu tidak ada”) menurut mazhab-mazhab agama Dharma lainnya, seperti Dvaita. Namun beberapa mazhab lainnya, seperti Advaita, sangat mirip dengan ajaran Buddhisme, baik bentuk maupun filsafatnya.

10. Kalki (sang Penghancur)

Dalam ajaran Agama Hindu, Kalki (juga disalin sebagai Kalkin dan Kalaki) adalah awatara kesepuluh dan Maha Avatāra (inkarnasi) terakhir Dewa Wisnu Sang pemelihara, yang akan datang pada akhir zaman Kali Yuga ini (zaman kegelapan dan kehancuran). Kata Kalki seringkali merupakan suatu kiasan dari “keabadian” atau “masa”.

Asal mula nama tersebut barangkali berasal dari kata “Kalka” yang bermakna “kotor”, “busuk”, atau “jahat” dan oleh karena itu Kalki berarti “Penghancur kejahatan”, “Penghancur kekacauan”, “Penghancur kegelapan”, atau “Sang Pembasmi Kebodohan”. Dalam bahasa Hindi, kalki avatar berarti “inkarnasi hari esok”.

Berbagai tradisi memiliki berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan, bagaimana, di mana, dan mengapa Kalki Awatara muncul. Penggambaran yang umum mengenai Kalki Awatara yaitu beliau adalah Awatara yang mengendarai kuda putih (beberapa sumber mengatakan nama kudanya “Devadatta” (anugerah Dewa) dan dilukiskan sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali, kemudian menegakkan kembali Dharma dan memulai zaman yang baru.

Salah satu sumber yang pertama kali menyebutkan istilah Kalki adalah Wisnu Purana, yang diduga muncul setelah masa Kerajaan Gupta sekitar abad ke-7 sebelum Masehi. Wisnu adalah Dewa pemelihara dan pelindung, salah satu bagian Trimurti, dan merupakan penengah yang mempertimbangkan penciptaan dan kehancuran sesuatu. Kalki juga muncul di salah satu dari 18 kitab Purana yang utama, Agni Purana. Kitab purana yang memuat khusus tentang Kalki adalah Kalki Purana. Di sana dibahas kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Kalki muncul.

Apa yang akan Kalki lakukan?
Berbagai tradisi memiliki berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan, bagaimana, di mana, dan mengapa Kalki Awatara muncul. Penggambaran yang umum mengenai Kalki Awatara yaitu beliau adalah Awatara yang mengendarai kuda putih (beberapa sumber mengatakan nama kudanya “Devadatta” (anugerah Dewa) dan dilukiskan sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali, kemudian menegakkan kembali Dharma dan memulai zaman yang baru.

Ramalan tentang Kalki
Salah satu sumber yang pertama kali menyebutkan istilah Kalki adalah Wisnu Purana, yang diduga muncul setelah masa Kerajaan Gupta sekitar abad ke-7 sebelum Masehi. Wisnu adalah Dewa pemelihara dan pelindung, salah satu bagian Trimurti, dan merupakan penengah yang mempertimbangkan penciptaan dan kehancuran sesuatu. Kalki juga muncul di salah satu dari 18 kitab Purana yang utama, Agni Purana. Kitab purana yang memuat khusus tentang Kalki adalah Kalki Purana. Disana dibahas kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Kalki muncul.

3.  Shiwa

Ganesha, Siwa, Parwati

Siwa  (Śiva), atau kadangkala ditulis Shiva, menurut ejaan bahasa Inggris, adalah salah satu Dewa Utama, Trimurti dalam agama Hindu yang berjumlah tiga. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu..

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa (Çiwa / Shiva) adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur, melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga segala ciptaan Tuhan tersebut harus dikembalikan kepada asalnya (Tuhan).

Dalam keyakinan umat Hindu (khususnya Hindu India), Dewa Çiwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni:

  • bertangan empat, masing-masing membawa: trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
  • bermata tiga (tri netra)
  • pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit)
  • ikat pinggang dari kulit harimau
  • hiasan di leher dari ular kobra
  • kendaraannya lembu nandini

Orang bijaksana memberinya gelar Dewa angin dan Dewa cinta kasih. Beliau tampak sebagai Dewa yang memancarkan kasih sayang kepada makhluk hidup. Sebaliknya bagi orang yang hidupnya penuh dosa, Beliau tampak sebagai Dewa yang menyeramkan, matanya melotot dan memegang banyak senjata, seolah-olah hendak membinasakan apapun yang ada di hadapannya.

Dewa Siwa memiliki sakti Dewi Uma dan Durgha. Dewi Uma merupakan Dewi yang tampak sangat cantik dan lemah lembut sedangkan Dewi Durgha merupakan Dewi kematian yang tampak menyeramkan, mata melotot dan tangannya penuh senjata.

Di Bali, beliau dipuja di Pura Dalem, sebagai Dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta.

Dalam pengider Dewata Nawa Sanga, Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Beliau bersenjata padma dan mengendarai lembu nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Dipuja di Pura Besakih.

Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru.

Putera Dewa Siwa

Menurut cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa memiliki putera-putera yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja. Beberapa putera Dewa Siwa tersebut yakni:

  1. Dewa Kumara (Kartikeya)
  2. Dewa Kala
  3. Dewa Ganesa

Shiwa adalah  dewa ketiga  di dalam Trimurti atau trinitas, beliau bertanggung jawab dalam melebur kembali dunia  ini, bersifatkan Tamas, beliau ditugaskan  Tuhan Yang Maha Esa untuk menghancurkan  semua ciptaan yang sudah habis masa kerjanya, untuk didaur ulang kembali, sesuai karma masing-masing ke bentuk baru. Sabda para resi, Shiwa ini sebenarnya  adalah Brahma  dan Vishnu itu menjadi  satu. Shiwa berasal dari  Puranas dan Rudra  dari Veda dan agamas.Ada  pendapat lain, bahwa Shiwa berasal dari ajaran  non Aryan dan usianya  lebih tua dari  Rudra, karena  banyak lingga-yoni yang ditemukan  di peradaban Mohanjo-Daro.

Pemujaan kepada Shiwa penuh dengan  mantram dan ritual-ritual  serta  gaib dan misterius, disimbolkan  sebagai Lingga, beliau  selalu diwujudkan  sebagai pria  atletis  yang amat tampan  menawan berkulit kebiru-biruan  dan harum ibarat  kamfer. Tangan dan  kakinya  dibedaki dengan  abu suci. Beliau bermata tiga,  dan mata ketiganya  yang jarang sekali  terbuka ini  terletak ditengah-tengah  kedua alis-matanya, berlengan empat, masing-masing memegang Trisula, Damaru, (gendang kecil), sedang dua tangan yang  lainnya bermudra  abhaya (memberikan  perlindungan) dan Varada (memberikan  berkah). Dari  gelungan rambutnya yang ibarat mahkota, terpancar dan mengalirlah sungai Gangga. bulan sabit adalah penghias rambutnya, dan berkilau  memakai sarung pendek yang terbuat dari kulit harimau, kadang-kadang dari kulit gajah. Berbagai ular, khususnya ular kobra (lambang sperma) adalah kalungan yang menghiasi leher dan lengannya, diantaranya yang disebut  Yajnopavita (benang suci). Beliau juga memakai kalungan yang terdiri dari tengkorak kepala.

Dewa Shiwa beristrikan Parwati (Uma), dengan dua orang putranya yaitu Ganeshya dan Kumara (Skanda dan Subramaniyam). Keduanya  ini dilengkapi dengan berbagai tunggangan, seperti Nandini (sapi) milik dewa Shiwa sebenarnya, kemudian ada Bhrngi Resi dengan  tiga kaki  dan tiga tangan, ada juga tikus  sang Ganeshya dan burung merak milik Kumara, di samping para kawula Dewa Shiwa dalam bentuk jin, setan, hantu, dedemit dan berbagai makhluk-makhluk yang aneh yang  senantiasa mendampingi dewa Shiwa kemanapun  beliau pergi.

Tempat tinggal sang dewa berada di puncakHimalaya, namun beliau juga gemar sekali  berkelana ke berbagai  kuburan dan tempat-tempat  pembakaran mayat, melakukan inspeksi sesuai dengan pekerjaan beliau, namun beliau malahan dianggap sebagai menyeramkan.

Di bawah ini ada beberapa kisah-kisah dalam keluarga Shiwa.

  • Konon pada suatu waktu, Parwati, istri sang  dewa ini bercanda dan memejamkan kedua matanya, dan akibatnya seluruh dunia menjadi gelap gulita. Terpaksa Dewa Shiwa menerangi dunia ini dengan mata ketiganya.Adajuga  suatu  peristiwa di mana mata ketiga ini terpaksa dipergunakan untuk membakar hangus dewaKama, yang mengganggu  semedi sang dewa.
  • Suatu saat  sungai Gangga sangat membanggakan dirinya yang mengalir dari  kepala Dewa Shiwa, mengetahui hal  tersebut langsung  saja sungai ini dibendung oleh Dewa Shiwa, dan hanya  diperkenankan mengalir kembali setelah mendapatkan puja permohonan dari Sang Bhagirata dan sungai gangga itu sendiri.
  • Sewaktu samudra susu, Sivamudra diaduk, timbul dan muncullah  berbagai objek (unsur) diantaranya bulan sabit yang langsung disabet oleh Dewa Shiwa dan dijadikan  pengias kepalanya. Sewaktu yang keluar  adalah racun ganas Halahala, iapun meminumnya  tanpa banyak pikir, demi menyelamatkan umat manusia. Parwati yang khawatir  racun tersebut  akan membunuh dewa Shiwa, langsung mencekik leher sang dewa dan berhasil menahan  racum tersebut dilehernya, hingga kini leher tersebut berwarna biru (Nilakanta).
  • Pararesi Darukawana gusar sekali sewaktu mereka sadar  betapa tertariknya para istri mereka kepada Dewa Shiwa yang tampan ini. Mereka lalu berusaha untuk membunuhnya melalui sebuah agni hotra, dari agni hotra ini muncullah seekor harimau, seekor kijang dan sebuah besi panas membara. Dewa Shiwa membunuh sang harimau dan memakai kulitnya sebagai sarung, sang kijang menjadi peliharaannya, dan besi panas diubah menjadi salah satu senjata saktinya.
  • Masih banyak kisah-kisah  lainnya seperti penghancuran yagna Sang Daksa, memotong salah satu kepala Dewa Brahma karena berbicara tidak senonoh, Shiwa juga senantiasa menegur Dewa Vishnu, Yama dan dewa-dewi lainnya dengan caranya tersendiri.

Kembali ke personifikasi Shiwa,

  •  ketiga mata Dewa Shiwa menyimbolkan  surya, rembulan dan api, tiga sumber cahaya, kehidupan dan panas. Mata ketiga adalah simbol ilmu pengetahuan dan sentuhan pribadi Tuhan Yang Maha Esa.
  • Surya dan chandra  adalah kedua matanya, langit adalah gelungan rambutnya, itulah sebabnya beliau juga disebut Vyomakesha (yang berhiaskan langit dirambutnya).
  • Harimau adalah simbol nafsu  yang tak terkendali, namun Dewa Shiwa mampu membunuhnya demikian juga dengan  para pemuja-pemujanya yang penuh bakti senantiasa mengikuti perintahnya., kalungan tengkorak dan abu suci menyiratkan kematian, dari tanah kembali ke tanah.
  • Shiwa adalah  dewanya  yoga dan para yogi. Beliau sering  terlihat dalam posisi semedi yang tenang dan damai, dengan sungai Gangga disampingnya sebagai simbol  jnana. Bulan sabit juga  bermakna siklus dari sang waktu yang berada di bawah kendalinya.
  • Berbagai ular yang mematikan dan beracun adalah simbol-simbol kematian berbagai makhluk yang sudah pasti kodratnya. Ular-ular  ini juga menandakan berbagai energi yang  hadir, seperti energi seksual dan kundalini dan berbagai energi lainnya, di samping itu ular kobra adalah simbol sperma pria dalam konsep Tantra-yoga (lingga-yoni). Semenjak masa teramat silam para resi sudah mampu melihat bentuk  sperma pria yang mirip kepala kobra, dan berbagai lukisan Tantrik kuno ditambah skripsi-skripsi  dan konsep lingga-yoni memperkuat teor ikehidupan Hindu Dharma. Semua itu  sudah difahami jauh sebelum dunia barat menemukan alat-alat kaca pembesar medis.
  •  Dengan kata lain  Dewa Shiwa juga adalah  dewa yang menguasai  waktu dan energi vital di alam kosmis  dan di dalam raga manusia dan berbagai makhluk, dan menjadi tujuan setiap Yogi untuk mencapainya. Tahap pencapaian ini disebut Thuriya.
  • Dalam bentuk arca, beliau sering  diwujudkan  bertangan dua, namun ada juga yang bertangan 32 dengan berbagai senjata dan hiasan seperti Trisula, Cakra, Parasu (kampak perang), Damaru (gendang kecil), Aksamala (tasbih), Mrga (kijang), Pasa (cambuk), Danda (tongkat komando), Pinaka atau Ajagawa (panah), Khatvanga (alat magis), Pasupata (tombak), Padma (teratai), Kapala (tempurung tengkorak kepala), Darpana (cermin), Khadga (pedang) dan lain  sebagainya.
  • Trisula bisa berarti tiga gunas, bisa juga berarti Trinitas, dengan demikian Shiwa adalah simbol dari penguasaan ketiga unsur dewa-dewa tersebut.
  • Konon pada suatu waktu nan silam, dewa Shiwa  sedang menari tarian Tandavanrtya, sambil memainkan damarunya, dan muncullah nada seperti: a, i, un, r, lr, k dan lainnya yang berjumlah 14 basis suara yang dewasa  ini disebut juga  sebagai Mahesvarasutra, yang merupakan basis alfabet  dan tata suara serta tata-bahasa di India, yang kemudian  berdampak ke Timur-tengah, Asia secara keseluruhan dan ke Eropah. Damaru dengan  demikian adalah simbol tatanan bahasa, seni, tari, musik, budaya dan lain sebagainya, dengan Shiwa sebagai maha gurunya, itulah sebebnya beliau disebut sebagai Batara Guru.
  •  Tasbih Aksamala bermakna bahwasanya beliau adalah guru dari ilmu spiritual, sedangkan Khatvanga menandakan  bahwasanya beliau adalah  guru dari berbagai ilmu yang bernuansa magis. Kepala, tempurung tengkorak kepala, menandakan kedashyatannya sebagai dewa  penghancur. Sedangkan cermin Darpana adalah refleksi  dari  bentuk kosmisnya. Di India arca Shiva tidak dipuja sebagai Mula-Murti, namun sebagai Utsawamurti, berarti secara besar-besaran pada festival tertenu saja, selain itu  harus tenang dan shanti.
  • Shiwa-Lingga, adalah simbol dari Sang Mahadewa yang serba hadir dan tahu, selamanya suci bersih. Lingga berarti sama dengan Shiwa,  yaitu tempat peristirahatan semua makhluk. Shiwa-lingga itu dianggap sebagai wujud simbol Tuhan itu sendiri  dari sudut  pandangan Tantrik. Shiwalingga telah hadir  semenjak masa silam di berbagai peradaban batu, sebagai  pemujaan megalith. Semua suku aborigin  di dunia ini memuja Shiwa-lingga dengan nama dan versinya  masing-masing,  dan bentuknya berundak.  bentuknya selalu phallus (menonjol panjang, kemaluan  pria) dan vagina (yoni, kemaluan wanita), lingkaran simbol pemujaan kuno kepada Sang Pencipta alam dalam wujud ayah dan ibu. Lingga-yoni sudah hadir mengesankan di peradaban kuno  Hindhu di lembah  Harrapa dan Mohanjo-daro.

Adaarca Shiwalingga yang disebut Cala (dapat dipindah-pindah) dan acala (yang tidak dapat berpindah tempat). Yang pertama dapat dipindah dan dipuja baik di rumah maupun di mana saja, sedangkan acala seharusnya di kuil dan di mandir, terbuat  dari batu dan terdiri dari  tiga bagian. Bagian bawah yang berbentuk segi empat yang disebut Brahma-bhaga (melambangkan Brahma sebagai sang pencipta), bagian tengah yang berbentuk oktagonal disebut Vishnu-bhaga dan kedua bagian ini kemudian digabung menjadi satu di dalam bentuk pedestal. Bagian atas disebut  Rudra-bhaga, juga disebut sebagai pujabhaga karena bagian ini diperuntukkan sebagai pemujaan.Adatiga garis melintang di tengah lingga ini yang  disebut Brahmasutra, atau “mata ketiga”.

Tanpa Brahmasutra maka Linggayoni ini tidak dapat dipuja. Ternyata saudara-saudara kita  kaum Muslimin, konon oleh salah seorang Nabinya  yang besar yaitu Nabi Ibrahim sekaligus nabinya kaum Nasrani dan Yahudi (judaisme), telah dibuatkan simbol lingga-yoni terbesar di  dunia yaitu  yang disebut Ka’bah dan mesjid Haram yang mengelilingi sebagai yoninya. Kaum Hindu sangat respek  terhadap monumen suci  yang satu ini, Guru Nanak bahkan  telah mengunjunginya secara khusus. Dari sudut  pandang para resi aliran Shiwais, saudara-saudara kita  kaum muslimin  adalah: pengikut “ajaran Shiwa” dan konon menurut Nabi Besar Mohammad S.a.w., mesjid yang satu ini  haram dibangun di tempat lain selain yang sudah ada di Mekah tersebut. Juga simbol bulan sabit, trisula, dan lain-lainnya diperkirakan berasal dari ajaran Shiwa yang pernah menyebar ke Timur-Tengah (pemujaan sapi), dari masa ke masa, baik melalui sungai  Saraswati maupun melaluiAfghanistandan seterusnya semenjak  ribuan tahun yang lalu.

Siwa merupakan agen langsung dalam atas kelahiran, kehidupan, dan  kematian yang sering disebut dengan Mahesamurti, juga sebagai mahakuasa dengan sebutan Ekadasa Rudra, dengan sebelas  tokoh Dewa  dengan nama-nama yang bervariasi  pada naskah-naskah India. Dalam Amsumbhedagama disebutkan antara lain Mahadewa, Siwa, Sangkara, Nilalohita, Isana, Vijaya, Bhima, Dewa-dewa, Bhavodbhava, Rudra dan Kapalisa,  sedangkan dalam Visvakarmasilpa dan Rupamandana  disebutkan  sebagai Aja, Ekapada, Ahirbudhya,  Virupaksha,  Revata, Hara, Bahurupa, Tryambaka, Suresvara, Jayanta dan Aparajita. Pada Ekadasa Rudra disebutkan dengan sebutan Siwa, Sada Siwa, Prama Siwa, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sankara, Wisnu, dan Sambhu. Ekadasa Rudra tersebut merupakan penjaga prajuru mata angin, di Bali dikenal dengan sebutan “Dikpalaka”.

Sedangkan  naskah di Indonesia disebutkan dengan Caturbhuja (bertangan empat), dan Trinayana (bermata tiga), ia juga disebutkan Triwikrama atau Krurabhairawa dengan tubuh besar, berkepalalima, muka menakutkan, rambut kusut, mata seperti matahari/bulan, lubang  hidung lebar, dan taring tajam. Tapi pada wujud kenyataan di Indonesa  belum pernah dijumpai Siwa berkepala lima, umumnya berkepala satu dengan mahkota dihiasi ardhacandra kapala, mata tiga di dahi, uvapita ular naga, bertangan empat membawa cemara, aksamala, kamandalu, dan trisula dalam sikap duduk / berdiri (padmasana/sukhasana).

Pada Bali modern ini, seniman/pematung melukiskan Siwa membawa sabit dengan mitos/alasan suatu ketika Siwa menguji Dewi Uma dimana Siwa pura-pura sakit, pada saat itu pulalah istrinya Dewi Uma disuruh mencari obat yaitu air susu lembu. Karena perintah dari suaminya yaitu Siwa, sehingga dewi Uma  turun kedunia  untuk mendapat si pengembala  lembu, dan Dewi Uma  bertemu dengan si pengembala lembu, yang tak lain  adalah Siwa menjelma  menjadi pengembala, ia minta syarat bahwa Dewi Uma harus bersedia melayani  nafsu birahinya jika ingin mendapatkan air susu lembu. Demi kesembuhan Siwa  Dewi Uma sanggup meladeninya. Di ketahui oleh Siwa berbuat curang, maka Dewi Uma dikutuk  menjadi Dewi Durga. Mitos inilah sebagai  landasan atau model oleh seniman/pemahat, sehingga muncul Siwa membawa sabit yang diasosiasikan  dengan pengembala lembu, dengan atribut  kalasa/cepupu yaitu sejenis  tempat air dengan dihiasi sedemikian rupa  sehingga kelihatan bersayap.

4.  Saraswati

Dewi Saraswati

Sarasvatī adalah salah satu dari tiga dewi dalam agama Hindu, dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Lakhsmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar kata sr yang berarti mengalir. Dalam Regweda V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, Susoma dan yang lainnya.

Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Rgweda dan juga dalam sastraPuranaIaadalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Saraswati juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan.

Dalam Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — shakti — dari Brahman. Sebagaimana pada jaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Seni.Parapenganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.

Saraswati adalah shakti  Sang Hyang Brahma, semenjak zaman permulaan beliau sudah dianggap bundanya alam semesta dan segala penciptaan ini, karena beliaulah yang mendapatkan  tugas khusus dari dari Sang Pencipta Brahma untuk mencipta dan merancang  semua ciptaan ini. Arti  kata Saraswati adalah “yang mengalir”; di Rig-Veda, beliau digambarkan sebagai sebuah sungai  yang senantiasa mengalir, beliau memberkahi kesuburan setiap kandungan wanita dan juga kesucian  bagi semua pemuja-pemujanya.Adabeberapa  sebutan lainnya  untuk beliau  ini seperti: Sarada (pemberi arti), Vagiswari (guru tutur-bahasa), Brahmi (istri sang Brahma), Mahavidua (ilmu yang  maha tinggi), dan lain sebagainya. Beliau  adalah personifikasi dari semua bentuk ilmu…… seni,  budaya, literatur, sains, dan berbagai keterampilan  seperti seni ukir, pahat, patung dan lain-laian nya. Setiap seniman diIndiaberwarna brahmana karena berada di bawah naungan Saraswati! Beliau  berkulit putih karena dasar ilmu pengetahuan, beliau adalah  putih, suci dan bersih. Kebodohan atau  kekurang-pengetahuan (avidya) berwarna hitam karena diliputi oleh kegelapan. Beliau dilambangkan duduk di atas bunga teratai, dengan berwahanakan  seekor angsa dengan  keempat tangannya, masing-masing beliau  memegang Vina (suling), Akshamala (tasbih), Pustaka (kitab buku). Tangan yang satunya bermain Vina dan  bermudra  memberkahi. Sering juga  beliau dilukiskan dengan Pasa (kwas), Ankusa (alat penyuntik, bunga Padma (teratai), Trisula, Sankha (alat tiup yang terbuat dari  lokan raksasa), cakra, kecapi, dan sebagainya. Kadang-kadang beliau  berwajah limadan bertangan delapan, juga bermata tiga, berleher biru; dalam aspek ini beliau disebut  sebagai Mahasaraswati yang penuh dengan unsur inti Durga (Parwati). Tunggangan beliau, sang angsa bernama Hamsa,  seperti tunggangan Dewa Brahma. Sering sekali seekor burung merak menjadi wahana beliau selain angsa tersebut.

Saraswati dan Simbol-simbolnya

  • Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, — adalah perlambang dari ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri
  • Berpakaian dengan dominasi warna putih, sopan — menunjukan akan pengetahuan suci membawa pada kesahajaan ,
  • Duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci dari Dewi Saraswati, yang mana semua itu merupakan simbol dari Kebenaran Sejati, dalam pengarcaan sering juga terdapat merak. Saraswati tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi merupakan lambang dari Kebijaksanaan Tertinggi.
  • Dewi Saraswati digambarkan dengan dominasi warna putih yang melambangkan Kemurnian dari Pengetahuan Suci.
  • Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing masing lengan, menggenggam:
  1. Lontar (buku), adalah Weda, yang melambangkan universal, abadi, dan pengetahuan sejati.
  2. Ganitri (Mala, Tasbih, Rosario) melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
  3. Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
  4. Damaru (kendang kecil).
  • Angsa merupakan simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Viveka dan Vairagya yang sempurna, memiliki kemampuan mensarikan susu dari lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk.
  • Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.
  • Selain angsa, juga sering terdapat merak dalam penggambaran Dewi Saraswati, yang mana adalah simbol dari kesombongan, kebanggaan semu, (merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya yang indah namun bukan keindahan yang abadi).

Makna kitab yang dipegang oleh Dewi Saraswati ini adalah bentuk ilmu sain secara sekular; Vina melambangkan seni budaya dan suara AUM,  tasbih di tangan kanan bermakna: ilmu pengatahuan  spiritual itu lebih  berarti dari berbagai  ilmu sains yang sekular (ditangan kiri). Bagaimanapun  juga kitab-kitab dan ajaran  berbagai ilmu pengetahuan sangatlah penting,  namun  tanpa penghayatan dan bakti, maka semua ajaran ini akan mubazir dan bermakna sia-sia.

Warna merah dan cantik jelita  adalah simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menyesatkan (avidya), sedangkan angsa dapat menyaring air dan memisahkan  kekotoran dengan paruhnya (simbol vidya). Walupun  sesungguhnya vidya atau Paravidya (iluminasi spiritual) dapat mengarahkan  kita ke moksha, namun avidya yang juga adalah simbol  ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu. Seperti yang  diutarakan  oleh Isavasya-Upanishad, “kita  melampui kelaparan dan dahaga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti  dan wahana (alat, perangkat  penyampaian pesan-pesannya). Kalau disimak dengan  nurani yang  sadar  maka semua fenomena dewa-dewi ini dan berbagai fenomena mereka adalah ajaran adi-luhung yang amat menakjubkan  dan indah sekali, sekaligus menggambarkan betapa luas aspek Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala karya-karyaNya.

Saraswati dikatakan  putri Brahma, ia dianggap kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dalam sruti dan stava Saraswati digambarkan  membawa pustaka  dan hurup pada masing-masing kedua tangan  kirinya, sangka dan bendera pada kedua tangan kanannya, serta pakaian/hiasan yang bergemelapan,  begitu pula Saraswati digambarkan membawa teratai, rudraksa, vina, seruling, kamandalu, sudanda, ansuka dengan wahana angsa/merak. Pada jaman Indonesia Hindu, baik Jawa maupun di Bali jarang dijumpai arca Saraswati, sedangkan  pada jaman modern ini, jumlah arca Saraswati relatif banyak yang diwujudkan sebagai wanita cantik dengan  bentuk tubuh yang gemulai, bertangan empat, dua yang  didepan memainkan gitar, sedangkan dua dibelakang masing-masing memegang pustaka dan aksamala, Wahananya angsa/merak, lebih unik  lagi dimana  angsa/merak diletakkan di bawah kanan/kiri Saraswati  dan pada lapiknya dihiasi daun-dauan teratai beserta bunganya.

Hari Raya Saraswati

Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, dirayakan oleh umat Hindu di Bali, yang jatuh pada: Saniscara (Sabtu), Umanis (Legi), Watugunung. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari, sebagai penghormatan kepada Ibu Ilmu Pengetahuan dan Seni.

5. Durga

Durga adalah  dewa yang paling di puja di India dan berbagai pelosok dunia pada saat ini, beliau  terkenal dengan nama-nama Dewi, Dewi Ma, Dewi Mata, Durga Ma dan lain sebagainya. Seluruh Purana dan Dewi Bhavatham didedikasikan kepadanya, demikian juga halnya dengan karya shahstra suci  yang disebut Dewi Mahatmyam. Dewi Durga disebut juga sebagai  Dewi Durga  Saptasati atau Candi, dan hadir secara penuh  hormat di dalam karya suci yang disebut Markandeya Purana, kitab ini dianggap sangat sakral dan setiap sloka dianggap sebagai sebuah mantram, setiap mantram ini mampu menghasilkan  pengharapan, hasrat dan  permohonan kita.

Durga juga  bisa berarti “sulit untuk didekati”, karena beliau adalah personifikasi berbagai kesaktian dan gabungan kekuatan para dewa-dewi, namun sebagai bunda jagat-raya beliau adalah  ibu yang penuh kasih sayang yang tidak terhingga. India dan Indoesia penuh  dengan berbagai  candi demi pemujaan  yang pernah jaya-raya (di Indonesia), namun pada saat ini konsep  yang terkembang  di Indonesia adalah konsep salah-kaprah, Dewi Durga  dianggap dewinya  setan dedemit, semua ini adalah propaganda agama lain  yang pernah mengalahkan  kerajaan-kerajaan Hindu di masa oknum-oknum lalu, dengan menjelek-jelekkan peranan Dewi Durga yang sesungguhnya, padahal candi Prambanan dan Candi Sewu terang-terang didedikasikan kepada kebesaran Sang Pertiwi, Maheswari ini. Demikian juga konsep Ratu Kidul, laut selatan, adalah personifikasi Dewi Sri (berbaju hijau dan ungu, lambang Vishnu) yang sengaja diselewengkan oleh oknum-oknum agama lain dimasa lalu,  ternyata kaum Hindu sendiri banyak terkecoh dan termakan oleh isu-isu itu.

Batari Durga adalah penakluk para asura dan sekaligus bunda utama jagat-raya ini, beliau  adalah insti-sari Gayatri itu sendiri. Dengan  hilangnya pemujaan kepada Durga di Indonesia, maka  pemujaan kepada Ganeshya pun sirna,  dan perihal ini merupakan kehilangan  besar bagi Hindu  Jawa yang  pada saat artikel ini berada dalam posisi kebimbangan, mau memuja  secara Hindu Bali atau Hindu Jawa, mau berorientasi  ke India, rasanya  peninggalan leluhur  demikian agung tetapi  tidak  berjejak. Sebenarnya Hindu Jawa mungkin harus kembali ke filosofi agung Bhagavat-Gita, melalui pemujaan Vishnu, Shiwa, Durga dan Ganeshya, disertai Buddha, dengan demikian  kembali ke ajaran leluhur  yaitu gabungan Vaisnawa-Shiva-Buddha, ke Yang Maha Tunggal, Yang Maha Esa, yang sudah tersirat oleh  Pancasila, yang dicetuskan oleh Bung Karno dianggap titisan Raja Brajawijaya oleh Hindu-Jawa, dianggap titisan Prabu Siliwangi oleh penganut beliau di Jawa Barat dan dianggap wali kesebelas untuk Hindu dan Islam oleh pengamat alairan kepercayaan.

Hindu Jawa seharusnya menuntut kembali hak-hak pemujaan dan pemeliharaan atas warisan candi-candi kita di Jawa, demikian juga dengan golongan Hindu lainnya yang terbesar di berbagai  kepulauan di Indonesia, walaupun kita minoritas namun tanpa peninggalan agama, candi dan tata budaya nenek moyang  kita, maka Indonesia bukan apa-apa, jadi hak  pengelolaan candi-candi harus kita  lestarikan, KTP (Kartu Tanda Penduduk) harus bersifat universal seperti bangsa-bangsa  lain yang beradab, yaitu  tidak mencantumkan golongan-agama, dengan demikian  sesuai dengan piagam hak-hak azasi manusia yang sudah diratifikasi oleh pemerintah kita.

Kembali ke Dewi Durga, ada konsep lain mengenai  sang Dewi yang mulia ini, yaitau konsep Dewi Yoganindra (Meditasi-tidur) adalah yang terutama. Tidur diibaratkan dengan masa istirahatnya  Sri Vishnu  diantara dua mas apenciptaan, semacam  revitalisasi (recharger) jiwa-raga kita sehari-hari  setelah letih bekerja. Itulah  sebabnya sehari-hari dewi ini  mendapatkan tugas untuk melestarikan  kehidupan kita secara sempurna dari masa tidur ke masa sadar. Kemudian mempersiapkan pralaya  (kiamat) dan membangunnya kembali. Beliau diwujudkan  dalam gambaran yang misterius namun memancarkan simbol-simbol  kebijaksanaan, ilmu-pengetahuan dan memori (daya-ingat). Beliau berwajah cantik  mempesona, pada saat  yang sama  terkesan “ganas”. Hanya  beliau yang sanggup menguasai  kedua sifat ini, beliau bersenjatakan busur, panah, pedang, cakra dan trisula.

Kemudian ada aspek Dewi Durga lainnya yang disebut Mahisasuramardini; konon  suatu saat kekejaman  asura yang bernama Mahisasura sampai ke puncaknya, maka Sang Trimurti (Brahma-Vishnu-Shiwa) pun  bereaksi keras. Dari kemarahan mereka lahirlah sang dewi ini, disusul oleh kemarahan semua dewi-dewi lainnya. Berbagai kesaktian dari dewa-dewa utama membentuk organ-organ utama dewi ini, berbagai kesaktian dewa-dewi minor  dan madya membentuk organ-organ  tubuh lainnya, jadi seluruh  buana agung bereaksi membentuk yang satu ini. Dilengkapi dengan berbagai senjata dan keskatian para  dewa-dewi ini, maka sambil duduk di atas seekor singa  yang galak, beliau sanggup mengalahkan  Mahisasura. Biasanya kisah dewi ini dilanjuti dengan  berbagai mantram-mantram suci yang indah dan puitis, (Seluruh upacara-upacara untuk dewi ini masih diselenggarakan diIndiasampai kini dan dapat  diakses di web-site …..www.india.com….. atau melalui  satelit digital (decorder dan parabola) yang diarahkan keIndia, khususnya kea rah  chanel-chanel TV di India Selatan seperti Tamil-Nadu, Kerela dan sebagainya. Film-Film Hindhu dharma  bahkan sudah  ditayangkan secara  regular di Bali TV, melalui digital decorder, yang bisa diterima lewat frekuensi; tranfordr: 6 H, center frekuensi RF:3926 MHz, L-Band: 1224 MHz, Symbol Rate: 4.208 MSPS, FEC =3/^/)

Pada suatu saat yang lainnya,  para dewa dikuasasi oleh dua Asura yang bernama Sumbha dan Nisumbha. Para dewa yang kalah  dan ketakutan berhamburan  keHimalaya  memohon  bantuan sang dewi lagi, beliau dipuja dengan doa-doa yang disebut “Aparajitastotra”, puji-puji mulia bagi  dewi yang agung ini, penakluk yang tak terkalahkan. Beliau, kemudian mengabulkan permohonan  para dewa ini, dan muncul  dari raga Sang Parwati dalam wujud  Kausiki Durga, kemudian  berubah menjadi Kali. Ternyata kecantikan  sang dewi mempesona kedua asura tersebut dan mereka berdua meminangnya  untuk dijadikan istri mereka masing-masing. Beliau setuju asal suaminya  harus berupa asura  yang paling sakti digjaya diantara para asura, akibatnya banyak kepala asura yang  menggelinding  karena saling bunuh untuk mendapatkan sang dewi. Sang Kali kemudian  memenggal kepala asura yang bernama Canda dan Munda,  beliau kemudian disebut  juga sebagai  Camunda. Kali kemudian  menjilat darah  asura Raktabija sehingga habis total, dengan lidahnya yang panjang dan akhirnya saru per satu asuras ini dapat ditumpas termasuk Nisumbha dan Sumbha.

Kemenangan ini  dirayakan para dewa-dewi dengan puji-puji yang disebut Narayanistuti, puja khusus bagi bunda suci nan mulia ini. Beliaulah bentuk fisik alam-semesta ini, beliaulah  kesaktian penuh misteri Sang Vishnu (Vaisnawi-Shakti), penghancur apa saja yang bersifat asurik. Dengan memuja Batarai Durga dalam wujud yang  sebenarnya sebagaimanifestasi Tuhan Yang Maha Esa, maka pemuja  tersebut akan mendapatkan emansipasi spiritual. Selain hal tersebut  berbagai ilmu pengetahuan sains dan spiritual  juga hadir dari sang dewi ini, beliau juga adalah daya intelek (budhi) dalam diri manusia beserta unsur-unsur  kebajikan. Beliau senantiasa  melindungi anak-anaknya secara sama  rata tanpa henti-hentinya. Demikianlah berbagai aspek dan wujud Sang  Dewi dalam bentuk, Kali Sapta-markas, kalau sedang berbahagia beliau memberi tak terhingga, kalau arah beliau menumpas sampai tuntas. Beliau dipercaya  sebagai unsur  kebenaran sejati yang hadir tersirat  di dalam berbagai  karya-karya shahstra suci.

Adajuga  wujud-wujud lainnya  dari Dewi Durga ini yang sesuai dengan daerah dan latar  belakang pemujaannya seperti Vibdhawasini (asal daerah Vindhyas), kemudian Raktadanta (yang bergigi merah), Sataksi (yang bermata seratus), Sakambhari (pemeliharan tumbuh-tumbuhan dan sayur-mayur), Durgama (pembasmi asura Bhima, bukan Bimanya Pandawa), juga disebut Bhramari atau Bramaramba (berbentuk lebah).

Sang dewi memiliki tiga aspek utama, yaitu  Mahakali, Mahalaksmi dan Mahasaraswati, namun jangan samakan berbagai aspek ini dengan yang ada  di dalam Purana seperti Parwati, Laksmi dan Saraswati, karena sesungguhnya beliau adalah manifestasi  dari Maheswari yang maha  sakti, berdasarkan  tiga bentuk gunas (tamas, rajas dan satvas). Aspek  pertama adalah Mahakali, dengan sepuluh kepala dan sepuluh kaki, berkulit biru tua, ibarat  mutiara Bilamani; beliau  dihiasi dengan berbagai ornament dan bersenjatakan berbagai senjata seperti pedang, cakra, gada, anak panah, busur,  pentungan, cambuk (cemeti), tempurung kepala manusia (asura dan kerang peniup. Dalam aspek Tamasiknya beliau adalah Yoganidra yang  sanggup membuat Batara Vishnu tertidur, dan itu dapat berlaku juga di dalam diri kita. Kemudian datanglah Sang Brahma yang memohon agar Sang Vishnu dibangunakan dari tidurnya agar dapat mengalahkan asura-asura yang bernama Madhu dan Kaitabha.

Beliau juga  adalah aspek Prakriti yang dikenal dengan nama Sang Maya, kesaktian dan kekuatan ilusif sang Vishnu. Tanpa kehendak beliau maka unsur-unsur  Tamasik seseorang tidak akan hilang dan Sang Atman dalam diri kita akan terjaga dari ilusinya, inilah intisari  pemujaan Sang Dewi Durga, berdasarkan legenda mengenai  peperangan antara Dewa Brahma versus  Madhu dan Kitabha. Pada hakikatnya  tanpa kesadaran duniawi, tanpa dunia ini, tanpa Sang Maya atau Dewi Durga ini, kita tidak mungkin  sampai ke Tujuan Agung, yaitu Tuhan Yang Maha Gaib yang  tak mungkin mampu dijabarkan dan diwujudkan  oleh siapapun juga termasuk para dewa ataupun malaikat. Dunia inilah jalan untuk mencapai  tujuan ini, bukan sebaliknya!

Aspek kedua  beliau adalah Mahalaksmi yang berunsur Rajasik dan sang dewi digambarkan berwarna merah seperti koral, bertangan delapan belas, masing-masing memegang tasbih, kampak perangm anak-panah, halilintar, bunga teratai, busur, pot (guci) air, cemeti, gada, pedang, tameng, kerang peniup, genta, cangkir arak,  trisula, dan Sudarsana cakra, serta dua senjata  lainnya. Lahir dari berbagai  kekuatan  para dewa maka  ia berwarna  merah (lambang  kemarahan para dewa), warna darah, warna peperangan. beliau  inilah yang menewaskan asura Mahisasura, asura yang  berbentuk kerbau jantan. Berarti arca yang ada di Prambanan kemungkinan adalah wujud ini, karena digambarkan menginjak lembu jantan (sapi jantan) yang menyiratjan hukum rimba yang  kadangkala memang  bisa benar. Asura ini sedemikian saktinya sehingga bahkan para dewa tidak sanggup mengalahkannya, karena pada saat tersebut para dewa tidak menggalang persatuan,  maka sewaktu  mereka berhasil mempersatukan diri mereka  maka lahirlah Sang Dewi ini yang juga disebut sebagai Mahisasumardini ini (penakluk Mahisa). Tersirat  bahwasanya, untuk melawan berbagai rintangan dan unsur-unsur iblis di dalam diri kita, maka terlebih dulu seluruh  indriyas kita harus  disatukan dulu, baru melangkah maju. Ini juga berlaku untuk melawan unsur-unsur lainnya, yaitu periksa dulu, apakah seluruh persiapan dan sarana sudah tergalang penuh baru melawan adharma.

Aspek ketiga adalah Dewi Mahasaraswati, yang berunsur  Satvik, beliau bersinar ibarat rembulan  dimusim gugur, bertangan delapan, masing-masing memegang genta, trisula, bajak, lakon atau  kerang tiup, cakra, anak panah  dan busur, dan sebagainya. Karena tercipta dari raganya Sang Parwati beliau juga disebut  dengan nama Kausiki Durga. Beliau  menyiratkan raga  yang sempurna, kecantikan  tiadatara,  kekuatan kerja,  disiplin dan ketrampilan  berorganisasi. Beliau  adalah penghalau dan penumpas berbagaijenis asuras seperti yang  disebut-sebut di atas yaitu, Dhumralocana, Canda, Mundu, Raktabija, Nisumbha dan Sumbha. Semua ini adalah bentuk-bentuk  ego yang  ada di dalam diri manusia.

Berbagai aspek Durga di Puranas dan Agamas adalah: Sailaputri, Kusmanda, Katyayani, Kesemankari, Harasidhih, Vanadurga, Vindhyvasini, Jayadurga, dan lain sebagainya.

Kata Kali berasal  dari kata  Kala, sang waktu. beliau adalah  inti kekuatan  yang terkandung  di dalam sang waktu ini, yang dapat menghancurkan  apa saja yang tidak abadi termasuk  seluruh jajaran dewa-dewi di suatu saat yang tepat. Jadi dewa-dewi tidak bersifat abadi, beliau-beliau adalah  petugas-petugas  Yang Maha Esa senantiasa akan abadi.

Kali biasanya digambarkan  dengan  latar belakang  perkuburan ataumedanperang penuh mayat dan darah, dengan dewa Shiwa, sang suami sendiri  yang “mati” terinjak olehnya. Beliau dilukiskan tidak berbusana namun  bagian pinggangnya dilingkari oleh  jajaran tangan-tangan, sambil  mengenakan kalungan  tempurung tengkorak kepala yang berjumlah 50 buah, dengan rambut yang  kocar-kacir, bermata tiga dan brtangan empat. Salah satu  tangan memegang  kepala seorang  asura  yang baru ditebasnya, dan tangan yang lainnya  memegang pedang perangnya. Kedua tangannya  bermudra dalam bentuk Abhaya dan Varada, wajahnya merah dan lidahnya menjulur keluar panjang sekali. Gambaran ini  menyiratkan kehancuran unsur-unsur  asura, baik secara universal (buana agung) maupun secara buana alit di dalam raga kita.

Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seluruh jagat-raya  dan isinya, lalu beliau memasuki setiap ciptaan Beliau (baca Taittiriyopanishad dan Upanishad lainnya), jadi alam semesta dan  isinya bersifat suci; sewaktu alam dan isinya di rusak atau dinodai, maka kesucian yang hadir itu akan “sirna”, itulah  yang tersirat dala makna Sang Kali,  yang telanjang bulat tanpa busana, nama lain beliau adalah  Digambara (terbungkus oleh antariksa), yang tak terukur batas-batasnya. Beliau  berwarna gelap  dan pekat karena harus melahap kekotoran tanpa henti-hentinya, (tamas  produk kita semua). Warna gelap  juga bermakna  waktu, ruang hampa (antarisa) dan hukum karma,  itulah sebabnya  beliau digambarkan berwarna biru pekat, Kalungan tangan-tangan yang  melingkari pinggang beliau adalah  berbagai bentuk  bakti yang dipersembahkan kepada beliau dan berbagai  pahala-pahalanya, yang akan diingat dan dibalas olehnya sesuai  sang waktu yang tepat. Tangan-tangan ini juga  bermakna  energi kinetik yang sangat potensial,  yang dapat bermanifestasi  setiap saat. Rambut yang kocar-kacir  menandakan  kebebasan  sang waktu yang terurai tanpa batas. Kemudian kelima puluh  tengkorak yang  menjadi kalungan  leher beliau, melambangkan lima puluh  alfabet  Sansekerta, serta bentuk-bentuk swara (sabda), secara umumnya  berlaku di masyarakat  Hindhu Dharma dan hadir di alam semesta ini. Pada saat pralaya  beliau akan menerima  semua ini sebagai persembahan dalam bentuk kalungan bunga (suatu bentuk kehormatan yang besar sekali,  atas jasa-jasa sang waktu ini). Walaupun  sang “pelumat” ini berwujud  sangat menyeramkan dan  menakutkan, namun kalau diperhatikan maka mudra-mudranya  adalah simbol kasih saying seorang ibu sejati yang seakan-akan bersabda “jangan takut dan jangan khawatir, aku  adalah ibumu yang  tersayang”. Melalui Varada Mudra, setiap  bakta yang tulus memujanya dan akan diberkahi oleh  beliau pada saat yang tepat. Kata bunda atau ibu dalam bahasa dIndiaselatan disebut “mariaman”. Beliau dipuja sebagai Mariaman yang suci dan mulai. Di Timur Tengah  kata ini disingkat  oleh orang-orangJudeadan Kristiani menjadi Miriam, dan oleh orang-orang Arab menjadi Mariam. Kata “ma” dalam Fatimah, jelas berasal dari  pengaruh Mariaman yang sudah diadaptasi ke bahasa setempat dan juga berarti  ibu atau bunda. Di India dan di dunia Barat kata atau nada mah, ma adalah panggilan  untuk ibu, yang kemudian  di dunia barat menjadi mother (baca mather), kemudian mama dan mami, dan lain sebagainya. Di Indonesia  menjadi mak. Kata bapak  berarti ayah yang mulia, ditujukan khusus untuk  panggilan ke dewa-dewa utama seperti  Ganeshya dan Trimurti, contoh: Bapa Ganapati dan Ganapati Bapa.

Konon setelah  mengalahkan  mengalahkan berbagai  asuras, sang dewipun menari-nari secara menakutkan, karena kegirangan. Seisi jagat-raya ketakutan menyaksikan fenomena ini. Sang Shiwa kemudian  secara pribadi memohonnya  untuk berhenti menari karena  dunia sudah tidak mampu lagi menyaksikannya, namun  tidak diacuhkan oleh Kali, lalu Shiwa menyamar menjadi salah satu mayat yang terhampar dilokasi tari tersebut  agar terinjak oleh Sang Kali (lambang toleransi seorang suami kepada  istri yang lupa daratan). Pada saat terinjak  itulah barulah sang dewi sadar  akan kebablasannya  (over-acting, mabuk kepayang), dan beliaupun menjulurkan lidahnya  karena malu (adat atau reaksi wanita-wanita setempat, kalau malu, maka akan  menjulurkan lidahnya).

Shiwa Mahadewa  adalah wujud manifestasi  dari Sang Brahman, Yang Maha Absolut yang  jauh dari segala wujud, atribut dan bentuk aktifitas, ini disimbolkan  sebagai sawa (mayat), Kali adalah energinya  yang menari-nari, yang bekerja secara aktif. Inilah makna lukisan yang  menyeramkan dari Sri Kali yang menginjak Dewa Shiwa, suaminya sendiri dari mana  ia berasal.  Seorang suami di dalam Hindhu Dharma sewaktu menikah akan  diperingatkan oleh sang pendeta  bahwa istrinya  bisa bersikap  sangat aneh dan  destruktif pada saat-saat tertentu, demikian juga dengan sang suami,  kalau kedua pasangan  pengantin mau menerima  fenomena ini,  maka pernikahan  (vivah) yang berarti kemenangan  sanga dharma akan dilangsungkan dengan melingkari  Sang Agni tiga kali,  kalau tidak setuju maka vivah tersebut  tidak akan  dilanjutkan, saksinya semua tamu yang  hadir. Dan semenjak  itu tidak ada dan tidak dikenal perceraian karena apa yang sudah  disatukan oleh Hyang Maha Esa (Swami dan Shaktinya) tidak boleh  diceraikan atau dipisahkan baik oleh  ego, ahankara dan gunas yang  menyertai  pernikahan tersebut. Upacara ini  ternyata hadir secara  mirip di kalangan saudara-saudara kita umat Katholik. Tidak mengherankan  karena Yesus Kristus adalah figure  yogi agung yang kita akui keberadaannya beserta seluruh  aktifitas  avatara  dan yagnanya yang bermakna simbolis, yaitu salib (Swastika). Titik diantara dua palang  kayu adalah titik mata  ketiga, pusat  meditasi kita  yaitu di mana Shiwa akan hadir  dalam bentuk taraf meditasi yang paling tinggi yang disebut tahap  Thuriya (tahap sang Shiwa) yang tidak mudah dijabarkan, dan  tahap itu baru mampu dicapai seseorang dengan pengorbanan diri  seperti yang  diperlihatkan oleh Kristus  yang  penuh dengan  disiplin dan pengorbanan tanpa pamrih. Sayang  saudara-saudara kita ini sebagian besar sudah lupa  akan faham ini, walaupun  mereka juga memiliki Mariam (Maria, sang ibu dan Roh Kudus (Atman) dan Kristus, Sang Pembimbing domba-domba bodoh yang tersesat.

Kembali ke visualisasi lukisan Kali dan Shiwa, maka kekuatan Kali pada akhirnya akan menciptakan penciptaan baru, itulah sebabnya beliau di puja dalam wujud Maharatri, yang senantiasa  mendorong Shiwa untuk menciptakan  jagat-raya yang agung ini setelah mengahncurkan yang lama. Shiwaratri adalah wujud pemujaannya yang sarat sekali  secara simbolis, namun sayang sebagian besar umat Hindhu Dharma lebih senang  tidak tidur semalaman dan bersuka-ria,  tanpa mau mengintrospeksi dirinya dengan kisah hikayat suci  sarat makna ini. Sang Kali adalah alat dari Tuhan Yang Maha Esa, yang sulit dijabarkan secara terperinci, karena demikian  gaibnya  cara dan  mekanisme Sang Maya (Kekuatan Ilahi) ini. Sri Krishna mengisyaratkan  dalam bahasa misterius dalam Bhgavat-Gita, bahwasanya Beliaulah  sesungguhnya Sang Kala  yang  melebur semua ciptaan ini.

Dari segi mitos  kelahiran Durga sebagai tokoh penting, yaitu kristalisasi dari semua dewa, yang menempati posisi sentral yang  dikelilingi empat bangunan yang  ditujukan pada Sangkara, Brahma, Surya, Wisnu. Mitosnya di mana Brahma hadir di hadapan Siwa dan Wisnu yang  menyampaikan para dewa diganggu  oleh Mahesasura, mendengar  laporan seperti itu, Siwa dan Wisnu marah, sehingga mengeluarkan cahaya panas dari mukanya, di samping itu  pula dewa-dewa lainpun ikut marah dan memancarkan  cahaya panas, dan akhirnya cahaya tersebut  menjadi satu yang menyerupai gunung yang bergemerlapan dan akhirnya berubah menjadi dewi cantik dengan sebutan Dewi Durga. Dialah yang ditugaskan untuk menghancurkan Mahesasura, dan akhirnya  berhasil  sehingga Durga diberi sebutan Durga Mahesasura. Durga ini digambarkan dengan kepala tiga, mata membelalak, taring  mencuat keluar  hidung, dan badan berbulu serta kasap. Korawasrama menggambarkan Durga bertubuh besar, tampilan  mengerikan, dengan nafas busuk, rambut lengket, bibir tebal, taring tajam dengan suara bergaung seperti harimau. Sedangkan Durga pada jamanHindu, digambarkan dewi yang cantik dan lemah lembut. Dimana Durga yang mengerikan sangat cocok  dengan jaman pada Bali  modern saat ini, dimana Durga muncul  di Jawa Timur berupa raksasi, sehingga Durga yang ada pada saat sekarang ini bisa di jumpai pada Pura-pura Dalem yang ada di Bali.

6. Ganeshya (Ganapati)

 

Dewa Ganesha

Dewa Ganesha

Ganesa (Sansekerta गणेश ganea dengarkan) adalah dewa ilmu pengetahuan. Dalam pewayangan disebut Batara Gana, merupakan salah satu putra Batara Guru (Siwa). Gana diwujudkan berkepala gajah dan berbadan manusia. Dalam pewayangan ia tinggal di kahyangan istananya disebut Glugu Tinatar.

Oleh orang-orang bijaksana, Ganesha diberi gelar Dewa pengetahuan, Dewa pelindung, Dewa penolak sesuatu yang buruk, Dewa keselamatan, dan lain sebagainya. Dalam ukiran-ukiran di candi, patung-patung dan lukisan, Beliau sering dilukiskan:

  • berkepala gajah
  • bertangan empat
  • berbadan gemuk
  • menunggangi tikus

Bermuka gajah melambangkan Dewa Ganesha sebagai perintang segala kesulitan, bagaikan gajah merintangi musuhnya dengan gading yang tajam dan belalai yang panjang. Bertangan empat melambangkan filsafat “empat jalan menuju kebahagiaan”. Berbadan gemuk sebagai lambang orang berbadan besar yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Dewa Ganesha menunggangi tikus sebab tikus melambangkan keragu-raguan dalam menghadapi suatu hal, maka dari itu Ganesha berusaha merintangi segala kesulitannya.

Ganesa juga dikenal  dengan nama Vinayaka, dewa yang paling terkenal secara universal dan dipuja di mana saja di dunia ini, popular sekali di dunia barat, karena merupakan  lambang ilmu-pengetahuan duniawi, spiritual dan sains, dan sekaligus menggambarkan manusia dengan segala peri-kemanusiaan, peri-kebinatangan dan peri kedewaannya secara utuh. Lambangnya hadir di agama Budha dalam bentuk Swastika merah, sebagai salib dalam  kepercayaan Nasrani,  dan dibalik oleh  kaum Zionis (menjadi lambang istri  Ganeshya yang bersifat iblis). Jangan sekali-sekali  memuja lambang  swastika  berwarna hitam secara terbalik, iblis cepat sekali datang menyesatkan anda.

Tidak ada suatu upacara apapun juga di dalam Hindhu Dharma yang dapat dimulai tanpa  memuja Dewa Ganeshya dulu, karena para dewa-dewi pernah melakukan kesalahan dalam menjaga kelestarian  jagat-raya ini, maka mandate sepenuhnya dari Yang Maha Esa diwakilkan seluruhnya kepada Ganeshya, termasuk orang-tuanya  harus tunduk kepada sabda Tuhan ini. Beliau juga adalah Vigneswara (penetralisir)  dan Vighnaraja (pengusir bala atau bencana). Namun bentuknya yang aneh sering  mengundang tanda tanya.

Sesungguhnya  berbagai mantram-mantram menyiratkan Ganeshya pada awal mulanya telah  hadir di Rig-Veda (2.33.1) dan (10.112.9), sebagai  konsep paling dini, yang kemudian lambat laun berkembang menjadi Ganeshya  masa kini. Ganapati-Brahmanaspati (konsep Rig-Veda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadi Gajavadana-Ganeshya-Vighneswara. Di Rig-Veda  beliau  juga disebut  sebagai Brhaspati dan Vasaspati (wujud cahaya). Beliau sering  dilukiskan berwarna merah keemas-emasan dan  kampak perang kecil adalah  senjatanya yang paling ampuh, tanpa  karunia dan persetujuan  beliau semua ritus-ritus agama  menjadi sia-sia, beliau tidak menerima caru dalam bentuk daging atau makanan berjiwa, namun selalu dalam bentuk manis-manisan saja, seperti buah dan berbagai sesajen  buatan tangan sendiri. Beliau  selalu didampingi para gana (grup penyanyi dan penari),  beliau juga hadir sebagai penuntun para dewa selain manusia, dan senantiasa  menuntun kita  semua ibarat bundanya Durga dan Parwati ke arah kebajikan. Selain Subramaniyam, kakaknya yang amat terkenal  kesaktiannya, beliau juga  bersaudarakan para Marut (Marut-gana) yang pada saat ini kurang popular.

Mitologi tentang Dewa Ganesa Kenapa Beliau berkepala gajah

Dalam kitab Siwa Purana dikisahkan, suatu ketika Dewi Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki dan diberi nama Ganesa. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan Ganesa dengan baik.

Alkisah Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, namun Beliau tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Ganesa melarangnya karena ia melaksanakan perintah Dewi Parwati. Dewa Siwa menjelaskan bahwa ia suami dewi Parwati dan rumah yang dijaga ganesa adalah rumahnya juga. Namun Ganesa tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun.

Akhirnya Dewa Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesa. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesa.

Ketika dewi Parwati selesai mandi, ia mendapati putranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.

Atas saran Dewa Brahma, Beliau mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa.

Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa keselamatan. Menyelamatkan seseorang sebelum ia memulai pekerjaanya, dengan memuja-muja Beliau

Adabeberapa versi  kelahiran dewa Ganeshya ini:

  • Suatu saat, para dewa dalam keadaan yang sulit memutuskan bahwasanya mereka membutuhkan seorang pemimpin baru guna mengakhiri  berbagai rintangan, kemunduran Dewa Shiwa berinkarnasi melalui Dewi Parwati dan lahir sebagai Ganeshya.
  •  Suatu waktu secara iseng, karena marah kepada suaminya Dewi Uma membuat  sebuah boneka kecil berkepala gajah (ada yang mengisahkan  berkepala seorang pemuda tampan, ada beberapa  versi dari kisah ini  sendiri) dan  melemparkannya ke sungai Gangga, dan kemudian lahirlah dewa berkepala gajah yang disebut juga Dvaimatura (yang beribu dua).
  • Konon suatu hari, Dewi Parwati  membuat sebuah boneka kecil dari selendangnya, dan memberikan nafas kehidupan kepada boneka ini. Setelah menjelma menjadi seorang pemuda  kecil yang tampan,  putra ini mendapatkan tugas  menjaga pintu rumah  Parwati dan menghadang siapapun  yang masuk,  karena beliau ingin menyendiri  memuja Yang Maha Kuasa. Konon Dewa Shiwa yang serba tahu kembali ke rumahnya,  dan ternyata  sang putra tidak mengenalinya karena memang tidak diberi tahu oleh ibunya, maka beliaupun dihadang masuk  oleh  dewa kecil ini, yang  mengaku putra Parwati. Dalam kemarahannya maka Shiwa sebagai Rudra langsung menebas  kepala anak ini, dan langsung saja kepala tersebut  dimakan habis oleh  para gunasnya dewa Shiwa. Dewi Parwati sedih sekali akan perihal ini, dan minta anak  tersebut dihidupkan kembali. Shiwa yang  menyesal minta maaf kepada putranya dan mencarikan kepala baru  yang sesuai dengan kodrat dan misinya berbentuk kepala  gajah. Gajah  yang sedang mengobrak-abrik  sebuah desa ini dipenggal kepalanya untuk diletakkan  di atas kepala Ganeshya, yang kemudian mendapatkan  sebuatan Ganapati, bentuk Rudra yang keras. Ganeshya  sendiri adalah bentuk lembut Sang Parwati.
  • Ganeshya  lahir dari unsur  ether  dewa Shiwa, karena teramat tampan, ia kemudian  menyebabkan dewi Parwati mengutuknya menjadi buruk rupa.
  • Ganeshya adalah Sri Krishna dalam bentuk manusia, sewaktu Sani, seorang dewa planet memandang ke arah Sri Kreshna ini, tiba-tiba kepala Sri Krishna terbang ke Goloka tempat kediaman Sri Krishna (Kreshna), raga tanpa  kepala tersebut kemudian diganti dengan kepala gajah.

Konon ada 36 kisah lebih mengenai kelahiran Ganeshya ini, di dalam salah satu kisah  tersebut, Ganeshya kehilangan ujung gadingnya yang patah melawan  Parasurama, kemudian gading patah  tersebut dipergunakan untuk menulis Mahabrata  yang didiktekan kepada Resi Vyasa. gading patah juga menjadi simbol  tidak ada ilmu-pengetahuan manusiawi yang abadi, yang abadi hanyalah ilmu-pengetahuan sejati akan Tuhan Yang Maha Esa (simbolnya gading utuh). Jadi arca Ganeshya memang  gadingnya patah satu.

Adajuga kisah  bagaimana ia mengalahkan kakaknya Skanda, dengan mengelilingi kedua orang  tuanya, dengan demikian mendapatkan hadiah berupa dua orang putrid Riddi (Ridhi, dharma) dan Siddhi (kesesatan, adharma) sebagai istri-istrinya. Tentu saja kisah ini sarat simbol,  karena Skanda Kakak Sri Ganeshya sebenarnya adalah seorang  panglima perang, namun sangat emosional  dan kurang suka berpikir panjang, sebalinya  Ganseha sangat cerdas. Dalam kontes yang  dimaksudkan untuk menguji kedua anak-anak mereka Shiva dan Parwati ingin menguji kecerdasan mereka, dalam  perlombaan  ini  barang siapa  mampu mengelilingi  bumi sebanyak tiga kali lebih cepat  dari yang lainnya, maka akan  memenangkan perlombaan ini. Sewaktu  Skanda  terbang melesat  memutari bumi, Ganeshya dengan  santai saja memutari ayah-ibunya karena teringat sebuah  sabda suci di dalam sebuah karya shashsta, bahwa  barang siapa   memutari ayah-ibunya penuh  hormat tiga  kali akan  berpahala  sama dengan memutari bumi sebanyak tiga kali, dengan demikian menanglah  Ganeshya dalam perlombaan ini. Ganeshya dengan demikian juga bermakna kecerdasan dan bakti  yang penuh dengan kesadaran.

Bentuk Ganeshya  yang umum adalah  kemerah-merahan, berbadan manusia yang gemuk  pendek dengan  berkepalakan  gajah yang berkuping lebar sekali. Bertangan empat dengan salah satu   gadingnya patah, bisa kiri bisa kanan. Keempat  tangan masing-masing  menggenggam  Pasa dan  Ankusa (kerang-kerang suci),  berperut buncit  (simbol kekotoran manusia yang ditampungnya setiap hari),  mengenakan ikat pinggang  berbentuk ular, juga mengenakan tali suci (yajnopavita). Duduk di atas singgasana  emas dalam bentuk Padmasana, kadang-kadang duduk di atas  bunga Padma.  Kadangkala salah satu kakinya menjulur ke bawah, busananya  senantiasa anggun  walaupun bagian  atas tidak mengenakan jubah  seperti lazimnya  dewa-dewa pria lainnya dan bermahkota gemerlapan. Beliau duduk  dengan memadang ke satu arah, dapat ke kanan maupun ke kiri  dan  gemar menyantap  berbagai manisan dan buah-buahan, beliau  adalah simbol  vegetarian sejati. Sesajen favorit  beliau  diIndiaadalah  semacam onde-onde yang disebut Modaka. Seekor tikus kecil (lambang pencuri) senantiasa menjadi tunggangannya. Kalau anda ingin berhenti merokok, berjudi, bertajen, ingin menjadi vegetarian atau ingin melepaskan diri dari suatu dosa tertentu, maka  duduklah dengan  tulus di depan  sebuah arca Ganeshya, dapat dilakukan dirumah, dengan meletakkan  sesajen buah atau manisan sedikit secara sederhana, disertai dupa dan bunga sedikit,  lalu diletakkan di atas rokok sisa terakhir, atau uang judi atau secara simbolis kebiasaan buruk anda, dan mohon  kepada beliau agar  semua yang berasal dariNya dikembalikan kepadaNya sesuai dengan kehendakNya. Bacalah mantra “OM NAMO GANESHYA NAMAH HA”, tiga kali, minumlah  tirta suci yang telah anda  siapkan sebelumnya, makanlah sesajen yang telah anda persiapkan sedikit, kemudian bagikan sisanya kepada yang lain-lainnya. Berpuasalah  hari itu, atau pada hari-hari  selanjutnya seperti Purnama dan Tilem, maka seandainya anda tulus, permintaan akan langsung terpenuhi saat itu juga. Bagi  yang ragu-ragu dan ingin mencoba-coba sebaiknya tidak melakukan sembahyang ini, khusus untuk yang ingin berobat saja. Selanjutnya kalau terpenuhi dan terhapus kebiasaan buruknya, teruskan  dengan yoga meditasi seperti  yang tertera di Bab VI, Bhagawat-Gita. Silahkan mencoba, semoga sukses.

Kembali ke Gansehya yang bermata sipit (lambang meditasi  yang berkesinambungan), dengan  mata ketiga  terposisi di tengah-tengah kedua matanya dalam bentuk horizontal. Kepalanya bisa bertembah sampai menjadi lima pada waktu-waktu tertentu, sebuah  bentuk Rudra yang menyeramkan  karena berkalungkan tngkorak-tengkorak, simbol kematian adharma, pada saat tersebut dengan sepuluh tangnnya  mak ajumlah  senjatanya  bisa menjadi total  sepuluh buah atau lebih.Paraistri  sering dilukiskan duduk dipangkuannya di kiri dan sebelah kanan. Sedikit penjelasan tambahan untuk simbol-simbol ini: Kata Gana berarti kategori, sebuah wujud kategori yang maha utama dan tinggi, yang dikhususkan  untuk Hyang Maha Esa itu sendiri. Gaja berarti gajah, gajanana atau Gajamukha berarti wajah gajah, adalah sebuatn-sebutan lain beliau. Gaja juga mengandung arti khusus sekali, yaitu tujuan akhir kehidupan alam-semesta, baik anda sadari  ataupun tidak. Jadi arti  lain dari gaja adalah: “DARI DIA ! UNTUK DIA! DAN KEMBALI KE DIA!”.

Beliau adalah tuntunan kita ke Kesadaran yang Tertinggi, dan berupa simbol dari buana alit dan buana agung (Suksmanda dan Brahmananda), dua  dalam satu, atau satu  adalah kedua-duanya. Kepala beliau  melambangkan makro-kosmos dengan kata lain dari makro kosmos ke mikro kosmos  dan sebaliknya adalah siklus kehidupan ini. Raga beliau adalah  simbol dunia, mikro kosmis ini  yang serba gemerlapan ditandai demi pemuasan berbagai nafsu. Kedua unsur  tersebut adalah  lambang duniawi dan spiritual, satu dalam dua dan  sebaliknya. Ganeshya  dengan ini menyiratkan  dengan pasti inti sari Tat-Twam Asi, kata para Resi Upanishad!.

Beliau juga disebut  sebagai Vighneswara, Vighnaraja (dewa penghalau berbagai rintangan), namun beliau juga  dapat merintangi jalan spiritual kita dengan mengirimkan istrinya adharma untuk menjegal  berbagai yagna dan upaya yang kurang tulus dan penuh pamrih duniawi dan  materi, jadi berhati-hatilah  dalam memujanya, jangan sampai salah. Di Indonesia kini, mulai  lagi pemujaan kepada beliau ini, berbagai pura di Jawa-Bali mulai mengembalikan  arca beliau ke Padmasari dan berbagai pura sakral. Syukurlah kalau eling begitu.

Beliau adalah  juga simbol Vidya dan avidya (gading sempurna dan gading patah), sekali lagi istri-sitrinya adalah simbol dharma dan adharma, jadi beliau  juga memiliki ilmu hitam dan putih. Unsur hitamnya di kenal dengan  nama Saktiganapati atau Ucchistaganapati, namun yang lebih dikenal di India adalah unsur  putihnya yang disebut Nrttaganapati, di unsur  ini beliau disimbolkan sedang menari-nari, yang menyiratkan  juga bahwa beliau adalah penguasa musik dan seni tari,  berkat karunia dewa Brahma yang senang kepadanya.

Adabentuknya yang bersifat brahmacari dan di sebut Varasiddhi Vinayaka. Bentuknya yang  feminin disebut Ganesani, Vinayaki, Sarpakarni, Lambhamekhala, dan berbagai sebutan lainnya. Ingat, semua dewa (unsur cahaya) berasaskan unsur Lingga-yoni, setengah pria dan setengah wanita, setengah keras dan setengah wanita.

Ganeshya  dipuja dalam berbagai wujud seperti lukisan, linggas, salagramas, yantras dan Kalasas (guci-guci air suci). Salagram adalah benda yang teramat langka. Swastika adalah simbol  beliau, swastika yang lengkap dan ampuh adalah  yang bertitik empat ditengah-tengah setiap lekukan, ditambah  dua garis masing-masing di kiri-kanan swastika yang melambangkan dharma dan adharma secara seimbang. Di Bali dilambangkan dengan kotak-kotak hitam-putih. Banyak  pemeluk Hindhu di Bali dan Jawa, juga saudara-saudara  umat lainnya yang tidak sadar bahwasanya penjor adalah  simbol lambang  belalai gajah, diBalimalahan maknanya sudah lain sekali. Belalai Ganeshya menandakan bahwa di lokasi tersebut ada upacara. Di India, masih  berlaku di beberapa  tempat dan upacara penjor-penjor yang terbuat dari  kain warna-warni ataupun hiasan janur beserta kelapa bermakna  seperti ini. Penjor merah berarti ada upacara  pernikahan atau yang  berhubungan dengan kejayaan dan ekonomi-sosial. Penjor putih melambangkan duka-cita kematian, penjor kuning melambangkan simbol upacara sakral, demikian juga dengan makna payung. Di Indonesia  tradisi  ini masih hidup, namun penjor untuk  duka cita  telah menjadi bendera serta berwarna kuning   bagi  yang non-Hindhu, makna kuning  saat ini kurang jelas, mungkin  hanya  mengikuti  adat yang sudah ada semenjak dulu saja, namun kurang  menguasai makna sesungguhnya.

Kuil bagi Ganeshya bertebaran di seluruhIndonesiadanIndiapada zaman dahulu bersatu dengan pemujaan  Shakti Durga dan Shiwa. Demikianlah sejarah dan peninggalan  candi-candi  di Indonesia  danIndiamembuktikannya. Melihat bentuknya yang setengah manusia, setengah hewan  namun adalah dewa yang tertinggi, maka beliau  adalah simbol dari  tiga unsur  tersebut (vidya-avidya-kesadaran akan Yang Maha Esa), suatu bentuk  yang amat bermakna. Dari hewan ke manusia baru ke tahap dewa, sebuah bentuk evolusi yang sempurna. Beliau juga sering digambarkan  menggenggam  daun-daun  ranting  tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat pengobatan. Inilah faktor  yang menyebabkan  seluruh jajaran  dewa-dewi termasuk orang-tuanya  menghornmati dewa  atau unsur  ilmu-pengetahuan tertinggi ini, karena dizaman Kali ini yang dibutuhkan adalah kesadaran total  akan  hakikat kehidupan ini,  dan kemana kita akan berevolusi  sesudah ini, seluruh alam semesta  menanti eksplorasi manusia, para dewa akan menuntun, karena sudah  menjadi tugas mereka. Namun di Bali, insanBalihanya sibuk saling berperang dengan sesama saudara, dan banyak  perihan nonsense menjadi ajang pertarungannya  di samping avidya seperti judi,  mecaru, melupakan puasa dan tapa-brata. Kalau Ganeshya  tidak dikembalikan  dengan segera, mungkin saja pulau  dewata akan berupa  menjadi pulau asura, tanda-tanda  sudah jelas  ke arahsana. Pariwisata harus dikembalikan lagi, namun  pariwisata spiritual  yang merakyat dan bukan dengan menjual asset-aset religius kita  kepada turis dengan mengorbankan adat-budaya dan kesakralan pemujaan kita.  Terkutuklah  manusia Bali, kalau para dewata marah, dan anak-anak  kita berpaling  ke agama lain yang lebih praktis sepintas lalu. Penuh dengan karunia Bali dan Jawa ini seandainya  pemujaan ke Hyang Maha Esa, Hyang Widhi Wasa diarahkan  secara tepat sesuai dengan kaidah Veda, Bhagavat Gita dan Upanishad yang semuanya adalah Ganeshya itu sendiri.

Kalau Ganeshya-Ganapati terkenal secara universal, bahkan terpuja dan dipuja oleh Kaum Hindhu, Buddhis dan Jains, dan sekarang oleh manusia Barat, maka kakak beliau terkenal di India Selatan, Malaysia, Singapura, Sumatera Utara dan Jakarta. Beliau yang bernama Subramaniyam atau Skanda ini adalah  salah satu dewa tertuam dan sudah dipuja  jauh sebelum ada  faham akan  Ganeshya. Beliau  bahkan sudah dilukiskan di uang-uang logam kira-kira abad 1 s/d abad 5 A.D.,  di India Utara, basis permulaan wangsa  Dravidian yang berkulit hitam sebelum mereka hijrah ke India Selatan. Tanggal enam setiap bulan  kalender Syaka India, adalah hari pemujaan kepada dewa ini sampai sekarang. Shaktinya disebut  Valliama. Burung merak adalah tunggangannya, kuil-kuil  baginya dibangun  di atas bukit  termasuk di Malaysia. Beliau juga  disebut dewa ular dan pepohonan  (tumbuh-tumbuhan). Upacara  beliau yang  paling shakti adalah upacara Thaipussam yang terkenal  dan menjadi ajang promosi pariwisata di Malaysia dan Singapura. Di zaman  orde baru  upacara ini dilarang diselenggarakan  oleh pemerintahan Soeharto, sekarang telah semarak kembali di Jakarta,  Tanggerang dan Sumatera Utara, khususnya di Meda, Binjai dan Pematang Siantar dimana banyak  berdomisili kaum Hindhu turunan Tamil. Upacara ini  unik karena mereka-mereka yang  merasa hidup dan kaulnya berhasil,  mengorbankan diri mereka denganmenghujamkan jarum-jarum panjang keseluruh tubuh mereka dalam keadaan kesurupan. Guru penulis telah melakukan  upacara ini  secara kecil  pada tahun 1988 kepada penulis, namun  karena mantram  yang diberikan sangat  ampuh maka kami  tidak kesurupan, namun jug atidak  merasakan sakit sewaktu lidah kami ditusuk dengan  tombak kecil dewa ini. Setelah dicabut, tidak setetes darahpun  yang mengalir keluar, seandainya  ada darah maka upacara ini dianggap tidak berhasil. Umumnya  seberat apapun, tidak pernah  ada setetes darahpun yang mengalir keluar. Inilah kehebatan dan kesakralan  dharma yang tidak dimiliki oleh aliran-aliran lainnya, mereka lebih sibuk  berblack magic dari pada berdharma. Ternyata upacara  ini diikuti oleh kaum Katholik di Eropah dan Filipina dalam bentuk memanggul salib dan di paku di salib  tersebut  sebagai peleburan dosa. Namun masih ada tanda paku  di tangan dan kaki, pada upacara Tahipussam ini, tidak  terlihat tanda-tanda bekas dihujam jarum-jarum panjang ini, ataupun bekas terpotong golok  tajam yang sengaja dinaiki sewaktu trans.

Wujud lain  beliau adalah  sebagai Skanda yang terkenal, lalu Sanmatura (beribu enam orang), ada kisahnya yang tersendiri, kemudian beliau juga dikenal dengan sebutan sakral  seperti Kartikeya, Brahma-sasta, Gangeya (putra Gangga) dan Swaminatha (pewaris ayahnya). Beliau selalu dilukiskan sebagai bocah cilik mirip rishna di masa anak-anaknya, dan teramat piawai dalam menumpas para asuras. Sering juga  dilukiskan berkepala enam, simbol indriyas yang seandainya  mampu  dikendalikan oleh otak yang  sadar akan  membentuk seseorang  menjadi superman, sama seperti seluruh indriyas masuk ke dalam  trans total dan hanya sang jiwa yang berperan di bawah bimbingan Sang Atman,  inilah maksud  pembersihan upacara Thaipussam ini. Biasanya para bhakta  yang telah  menjalani upacara sakral  ini akan berubah total cara hidupnya.

Sesuai dengan  ajaran  Yoga meditasi yang sakral, maka terdapat  enam titik pusat  energi di dalam raga  yang disebut juga energikesadaran, energi listrik atau motor, yang dikenal dengan  nama cakras. Dimulai  oleh cakra Muladhara, yang terletak di antara anus dan  kemaluan laki-laki, kemudian  Svadhistana (dibawah  organ seks), Manipura (pusar), Anahata (jantung), Visuddaha (tenggorokan), Ajna (diantara kedua alis mata) dan Sahasrara (di atas kepala). Sewaktu seseorang berhasil menaikkan energi raganya dari cakra  yang paling bawah  sampai ke yang paling atas maka ia akan berhasil mendapatkan Shiwa-shakti.

Untuk  manusia awam yang  sehari-harinya  tidak melakukan kegiatan yoga plus meditasi, maka kekuatan raganya  hanya terpusat pada tiga cakra yang berada di posisi terbawah sesuai  dengan aktifitasnya sehari-hari. Bagi seorang yogi,  maka seluruh sistim cakra-cakranya akan  berfungsi secara sempurna, Dewa Subramaniyam adalah pengejawantahan dar tahap  kesadaran  spiritual ini. Mantram shakti beliau  tertulis di setiap lukisan beliau, dan harus  diturunkan oleh  seorang guru suci  yang handal  demi bangkitnya Kundalini, bukan seperti yang dijual dalam  seminar yoga yang komersil. Banyak guru  yoga di Bali dan di Jakarta, kami perhatikan  sakit berat  dan gemuk-gemuk karena yoga meditasinya salah kaprah padahal promosi mereka  termasuk kegiatan  mengajar  mereka tinggi sekali. Bagaimana mungkin nama-nama  beken ini yang  sering muncul di TV bisa menuntun umat  ke meditasi, kalau mereka sendiri sakit berat dan tidak memiliki mantram  dewa Subhramaniyam yang satu-satunya  telah ditunjuk  jadi gurunya  Raja Yoga? (Ada yang teramat unik  antara kisah dan simbol dewa yang satu ini dengan  legenda Nabi Daud dan Goliath (David and the Goliath)  yang ada di dalam  agama dan kepercayaannya wangsa Yahudi, yaitu baik  Dewa Subramaniyam  maupun Daud  berperawakan kecil  namun mampu  mengalahkan asura atau  iblis yang berbadan raksasa dengan ketapel mereka. Kedua-duanya  memiliki Yantra atau simbol  bintang dengan  enam sudut  berbentuk piramid yang dijadikan  lambang bintang David di Israel, dan lambing  Dewa Skanda (Dewa Peperangan)  di India. Bedanya di Israel, bagian kosong di dalam bintang Daud ini dibiarkankosong, namun di India, sampai kini berisikan enam huruf mantram  Skanda atau Subhramaniyam yang sakti sekali, yang harus diturunkan  oleh seorang guru  suci kepada  muridnya  untuk membangkitkan  Kundalini dan perang melawan  dharma. Karena  wangsa Israel  telah menghapus  mantramnya, maka mereka akan berperang terus sesama wangsa dan saudara-saudara mereka di Timur-Tengah ataupun di mana saja, akibat penghapusan  mantram  tersebut. Pemuda-pemudi Israel  sekarang banyak  yang kembali ke India untuk mempelajari fenomena ini, namun Yesus Kristus  yang sadar akan hal tersebut kembali mempelajari Dharma di India selama belasan tahun dan kembali untuk menyadarkan wangsanya  malahan disalib, karena  dianggap  ingin menyesatkan  wangsa ini. Sebenarnya menurut para resi-resi suci kita, maka Tuhannya wangsa Israel  yang mreka sebuat Jehovah  adalah personifikasi  dewa Brahma  yang gemar marah-marah dan mengutuk  kian kemari dengan berbagai  bencana-bencana  yang diturunkannya. Seluruh kitab  perjanjian lamanya wangsa Israel  adalah replika  dari Vedanta dan puranas nenek moyang  kita. Kata  Sabda (Omkara) menjadi Sabbath bagi  mereka, hari jumaat (Jumah) nya orang Hindhu yang merupakanhari Sang Narayana  tidur beristirahat setelah mengayomi  alam raya  menjadi hari  suci mereka. Dahulunya  hari Jumaat ini  adalah hari  libur resmi kaum Hindu, pada hari tersebut,  semua orang mati-geni dan tidak keluar rumah seharian,  memakan makanan dingin yang  telah dibuat sehari sebelumnya, dan boleh  memakan hasil laut  namun tidak daging lainnya. Hari Minggu tidak  dikenal sebelum dipopulerkan  oleh umat Nasrani dari Eropah. Ternyata  anda mungkin  merasa heran pada saat ini, apakah benar  sejarah dan fakta ini, Menurut  hikayat-hikayat  di dalam  Smritis (legenda kuno) seperti Mahabrata dan sebelumnya  Ramayana, maka pengaruh raja-raja  di zaman-zaman tersebut telah  sampai ke Timur-Tengah melalui dua jalur. Jalur pertama  capat  lebih efisien  yaitu melalui  sungai Saraswati  yang dilalui oleh  kapal-kapal besar  dan jalur lambat  yang memakan ratusan atau seribu tahun lebih  yaitu jalan darat dari India ke Timur-Tengah  melalui perkembangan wangsa-wangsa seperti Afganistan, Turkesnistan, dan sebagainya yang dahulunya adalah  kelanjutan  dari negara Bharata  itu sendiri.  Peninggalan Hindu  bahkan masih  bisa  ditemui dinegara-negara  Eropah Timur, Mesir dan sebagainya. Raja-raja Mesir adalah  anak cucu Rama, oleh karena itu  disebut Ramses, sampai di Thailand  di sebut Raja Rama sampai sekarang ini, sedemikian luasnya pengaruh  dan penyebaran wangsa Bharata ini sehingga mendirikan India baru di Indonesia, bukan  sebagai  jajahan tetapi sebagai sister-country. Dalam perjalanan ke Indonesia  (disebut Jambu atau Jawa Dwipa) melalui sungai Sawaswati ini, maka  kapal-kapal besar  ini menurunkan  orang-orang Candala  (kafir, terkutuk, buangan, pemakan anjing, yang tidak disentuh) dengan  keluarga mereka di teluk  Arab ini. Orang-orang buangan ini  kemudian dibekali dengan  buku-buku suci, onta berpunuk satu,  keledai, anjing, itik, ayam,  benih-benih gandung dan  benih-benih lainnya , juga dibekali buku-buku  suci dan alat-alat upacara  agar merubah diri mereka. Sebagian dari mereka  menjadi nenek moyang  wangsa Arab  yang di zaman itu  dikenal kurang beradab (Zahiliyah)m sebagian berbaur dengan wangsa gunung-gunung  di Israel. Yesus Kritus  adalah sepertiga  turunan campuran ini, karena  bundanya Maria adalah  setengah penduduk  lokal dan setengah  orang buangan ini, ayah Yesus  adalah wangsa Israel,  demikian yang kami  dapati dalam pustaka-pustaka  yang kami pelajari. Tiga  orang Majus yang menanti kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai kecil dari resi  yang berhasil  mencapai Jazirah Timur-Tengah setelah menjalani  dan mengikuti bintang Andromeda yang menandakan  sang Avatara  akan turun jauh  dari India, jadi segala persiapan  spiritual   telah dipersiapkan. Hebatnya lagi, bukan  saja seluruh  kisah kelahiran Yesus mirip dengan kelahiran Krishna, namun jumlah jajaran nabi-nabinya Israel  dan Arab (kecuali Nabi Muhammad S.a.w.) dari Manu sampai ke Abraham ada dan hadir dengan nama-nama  lain di dalam legenda-legenda  kuno kami, jauh sebelum bangsa-bangsa India demikian juga, adat-budaya, budaya dan makanan beserta  gen mereka. Yang  membedakan mereka  adalah mereka  gemar berprang  kemungkinan karena topografi  yang ganas dan  juga mereka adalah  pemakan daging, sedangkan wangsa India adalah penganut  ahimsa).

Manusia  hanya berlengan-tangan dua, namun kemampuan intelektual dan intelegensia dan otak manusia mampu menemukan berbagai ilmu dan alat-alat canggih yang sekilas nampaknya  mempermudah  pekerjaan kita,  di samping  juga menjauhkan diri dari kehidupan alami dan  menimbulkan dampak stress yang lebih berat. Dewa Subhramaniyam dengan kedua belas tangannya  secara simbolis  mewakili kekuatan  dan kapasitas manusia ini. Gabungan antara enam kepala (cakras) dan dua belas tangan  (kekuatan intelegensia) melambangkan manusia sempurna secara lahir dan batin (spiritual), yang bukan  saja hadir sebagai seorang super-yogi namun sebagai seorang pekerja atau pemikir dan penemu ulung.

Dewa ini beristri dua, yakni  Valli dan Devasena. Istri yang  pertama adalah putri  seorang kepala suku sederhana yang berlatar  belakang kehidupan  agrikultur dan seni pahat kayu. Istri kedua adalah putri Dewa Indra, rajanya  para dewa, keduanya  menyimbolkan persamaan derajat,  dan sang dewa mencintai  kedua-duanya secara sama rata. Maksud sebenarnya adalah  sebuah hasil pemikiran  yang  menakjubkan  yang sudah ada semenjak zaman dahulu yaitu, seandainya agrikultur  dan industri digabung dengan kehidupan indra (sepiritual ke Yang Maha Kuasa), digabung  dengan pertahanan negara, maka akan  dihasilkan suatu masyarakat yang beradab dan sejahtera secara lahir dan batin, secara ekonomi, sosial dan tata negara, gemah ripah  lohjinawi. Prinsip  ini ternyata sudah sangat dihayati oleh nenek-moyang kita di Nusantara ini.

Sang dewa memiliki senjata  berbentuk tombak yang ujungnya mirip mata pena, merupakan penghancur  berbagai musuh-musuhnya. Senjata ini  menyiratkan  ilmu-pengetahuan dan kedigjayaan dalam menumpas  unsur-unsur adharma, dalam diri kita sendiri. Burung merak adalah wahananya, dengan seekor ular yang selalu hadir  diantara kedua kaki sang merak yang telah mengalahkan di ular (simbol dari sang waktu). Dengan mengendarai merak ini, sang dewa  ingin menyiratkan  bahwasanya ia  berada di luar jangkauan sang waktu,  beliau berada jauh dari dua fenomena alam yang saling beroposisi (dwandas), yaitu: dingin-panas, kaya-miskin, besar-kecil dan sebagainya.

Seandainya  ular menyiratkan  nafsu, mak amerak menyiratkan  kehidupan selibat (brahmacari). Demikianlah dewa yang disebut  juga Skanda ini menyiratkan  dua faktor tersebut. Merak juga  melambngkan penciptaan, dan bulunya menjadi penghias  mahkota Sri Maha Vishnu, Narayana dan Krisna,  karena  dianggap sangat sakral dan simbolis mewakili unsur cahaya yang dilapisi warna-warni lainnya, jadi bukanlah  seperti Ganeshya, maka Skanda adalah wakil langsung Sang  Pencipta (Shiwa) itu sendiri. Inilah  versi  Shiwaistis yang diterima oleh pengikut Vaisvanawas dan lainnya di India secara lapang dada.

Ganesa merupakan  putra Siwa dengan Dewi Uma, dimana di India dalam suatu upacara  tampa diawali dengan pemujaan Ganesa, upacara  tersebut dianggap  tidak sah. Di Indonesia  Ganesa menempati tempat-tempat yang angker  seperti pertemuan dua buah sungai, perempatan jalan, tebing-tebing yang curam, goa-goa dan di tempat angker lainnya. Di samping  itu Ganesa juga ada pada candi-candi  yang menempati ruang  belakang seperti  yang terdapat pada candi Prambanan, candi Gebang, Candi Sambisari, candi Singosari, candi Jawi dan lainnya.

Dalam mitos  kitab Korawasrama Ganesa sebagai pelebur  dosa (peruwat) yang memiliki dua lontar Linggaptanala, sedangkanpada  dalam Gana Stava Ganesa ditampilkan sebagai  pengusir bala (rintangan) dengan ciri  bermuka gajah, badan gemuk/cebol, memakai  jatamakuta, nagovapita, memegang  danta, pasa dan angkuda dengan  perut besar, jumlah tangan empat  membawa danta, aksamala, parasu, mangkok yang berisi air (ganesa India), Indonesia kosong (tanpa air).

Pada Bali modern bentuk Ganesa banyak variasinya, ada yang duduk, berdiri, tangan dua / empat, dengan atribut dana, parasu, cepupu, cemara, pustaka, dan aksamala. Dalam mitos lain, ada  Ganesa menginjak  tunas kelapa, dan ada pula Ganesa didampingi seorang bocah

7. Surya

Batara Surya ini adalah Dewa yang menjadi tumpuan mahluk hidup di alam dunia ini terutama tumbuhan dan hewan, Batara Surya terkenal sangat sakti mandraguna dan menjadi salah satu Dewa andalan di kahyangan. Batara Surya terkenal senang memberikan pusaka-pusaka atau ajian-ajian yang dimilikinya terhadap orang-orang yang dipilihnya.

Dewa ini terkenal mempunyai banyak anak dari berbagai wanita (diantaranya dari Dewi Kunti yang melahirkan Adipati Karna dalam kisah Mahabharata).

Batara Surya kena batunya ketika Anoman menyalahkan Batara Surya atas kejadian yang menimpa Ibunya Dewi Anjani dan neneknya yang dikutuk menjadi tugu oleh suaminya sendiri. Anoman merasa Batara Surya harus bertanggung jawab sehingga Anoman dengan ajiannya mengumpulkan awan dari seluruh dunia untuk menutupi alam dunia sehingga sinar sang surya tidak bisa mencapai bumi. Untungnya kejadian ini dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga Anoman dengan sukarela menyingkirkan kembali awan-awannya sehingga alam dunia terkena sinar mentari kembali.

8. Indra

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Indra adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai Dewa cuaca dan Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Indra  adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai Dewa cuaca dan raja kahyangan.

Oleh orang-orang bijaksana, Dewa Indra diberi gelar Dewa petir, Dewa hujan, Dewa perang, raja surga, pemimpin para Dewa, dan banyak lagi sebutan untuk Dewa Indra sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Beliau adalah Dewa yang memimpin delapan Wasu.

Dewa Indra juga terkenal dalam kitab-kitab Purana dan Itihasa. Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan pemimpin para Dewa. Dewa Indra juga disebut Dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai Dewa yang menaklukkan tiga benteng musuh (Tri Puramtaka). Beliau memiliki senjata yang disebut Bajra. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Sachi.

Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Beliau menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.

Kadangkala Dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam Mitologi Yunani. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.

Nama lain Dewa Indra

Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan berbagai pengalamannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:

  • Sakra (yang berkuasa)
  • Svargapati (raja surga)
  • Divapati (raja para Dewa)
  • Meghavahana (yang mengendarai awan)
  • Vasava (pemimpin para Wasu)

9. Kartikeya

Kārtikeya (disebut juga Murugan dan Kumara) adalah Dewa Hindu yang terkenal di kalangan orang Tamil di negara bagian Tamil Nadu di India, dan Sri Lanka. Dia juga dikenal dengan berbagai nama, seperti misalnya Murugan, Kumara, Shanmukha, Skanda dan Subramanian. Dia merupakan Dewa perang dan pelindung negeri Tamil.

Murugan digambarkan sebagai Dewa berparas muda, mengendarai burung merak dan bersenjata busur-panah. Mitologi Hindu mengatakan bahwa ia adalah putera dari Dewa Agni karena disebut Agnibhuh. Satapatha Brahmana menyatakan ia sebagai putra dari Rudra dan ia merupakan wujud kesembilan dari Agni. Beberapa legenda menyebutkan bahwa ia adalah putra Dewa Siwa.

Kartikeya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Ganesha dan Dewi Parwati.

10. Yama

Batara Yama adalah nama dewa penjaga neraka dalam agama Hindu dan Buddha. Namanya sudah disebut dalam kitab Weda.

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Yama merupakan manifestasi dari Brahman yang bergelar sebagai Dewa akhirat, Hakim Agung yang mengadili roh orang mati, untuk mempertimbangkan apakah suatu roh layak mendapat surga atau sebaliknya, mendapat neraka.

Dewa Yama dilukiskan sebagai seorang tua yang berkuasa di singasana neraka, memiliki dua wajah yang tidak terlihat sekaligus. Wajah yang sangar dan menyeramkan terlihat oleh roh orang-orang yang hidupnya penuh dengan perbuatan salah, sedangkan wajah yang lembut dan berwibawa terlihat oleh roh-roh yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik

Parwati

Pertiwi (bahasa Sansekerta: pṛthvī, atau juga pṛthivī) adalah Dewi dalam agama Hindu dan juga “Ibu Bumi” (atau dalam bahasa Indonesia “Ibu Pertiwi”). Sebagai pthivī matā “Ibu Pertiwi” merupakan lawan daripada ‘ ‘dyaus pita “Bapak Angkasa”. Dalam Rgveda, Bumi dan Langit seringkali disapa sebagai pasangan, mungkin hal ini menekankan gagasan akan dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain.

Pertiwi juga disebut Dhra, Dharti, Dhrthri, yang artinya kurang lebih “yang memegang semuanya”. Sebagai Prthvi Devi, ia adalah salah satu dari dua sakti Batara Wisnu. Sakti lainnya adalah Laksmi.

Prthvi adalah bentuk lain Laksmi. Nama lain untuknya adalah Bhumi atau Bhudevi atau Bhuma Devi.

11. Dewi Laksmi

Dalam agama Hindu, Laksmi (Lakshmi, Laxmi) adalah dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan.

Dalam kitab-kitab Purana, Dewi Laksmi adalah Ibu dari alam semesta, sakti dari Dewa Wisnu. Dewi Laksmi memiliki ikatan yang sangat erat dengan Dewa Wisnu. Dalam beberapa inkarnasi Wisnu (Awatara) Dewi Laksmi ikut serta menjelma sebagai Sita (ketika Wisnu menjelma sebagai Rama), Rukmini (ketika Wisnu menjelma sebagai Kresna), dan Alamelu (ketika Wisnu menjelma sebagai Wenkateswara).

Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Beliau juga disebut “Widya”, yang berarti pengetahuan, karena Beliau juga Dewi pengetahuan keagamaan. Beliau juga dihubungkan dengan setiap kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan, anak-anak, kekayaan, dan kesehatan yang menjadikannya Dewi yang sangat terkenal di kalangan umat Hindu.

12. Dewi Kali

Kālī adalah sakti (istri) Dewa Siwa. Kali biasanya digambarkan sebagai seorang wanita berkulit hitam dan berwajah mengerikan; berlumuran darah dan berkalungkan tengkorak serta ular. Dewi Kali merupakan lambang kematian. Wajahnya mengerikan simbol bahwa kematian ditakuti manusia. Lidahnya menjulur keluar sebagai simbol bahwa tiada hari tanpa kematian, kematian selalu lapar, setiap orang akan ditelan maut. Bersama Siwa, Dewi Kali bertugas melebur segala makhluk yang sudah tak layak hidup di dunia.

Maha Guru – Maha Rsi

Resi adalah orang yang atas usahanya melakukan tapa brata yoga samadhi, memiliki kesucian, terpilih oleh Tuhan, dapat menghubungkan diri dengan Tuhan, sehingga dengan kuasa- Nya dapat melihat hal yang sudah lampau, sekarang, dan yang akan datang, serta dapat menerima wahyu (Sruti). Istilah Resi sebenarnya tidak sama artinya dengan Pendeta, namun kadang- kadang diartikan sama, seperti terdapat di beberapa daerah. Untuk membedakan pengertian Resi sebagai Pendeta dan Resi sebagai Nabi, maka dipakailah istilah Maha Resi untuk menyatakan Resi sebagai Nabi.

Swayambhu Bharadwaja Wrhaspati Krtyaya Sandhyaya
Agastya Wasistha Tridhatu Gotama Wajrasrawa
Grtsamada Kanwa Trinawindhu Aryadatta Dharma
Wiswamitra Narayana Usana Somayana Parasara
Warmadewa Prajapati Tryaguna Rutsa Byasa
Atri Hiranyagarbha Dhananjaya Sakri

Maha Resi Byasa beserta murid- muridnya terkenal karena karyanya membukukan (kodifikasi) kitab- kitab Weda, sehingga terhimpunlah kitab Catur Weda

1. Rsi Patanjali

Patanjali filsuf, sastrawan Sansekerta. Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali, dan merupakan ajaran yang sangat populer di kalangan umat Hindu. Ajaran yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman /Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran.

Kitab Yogasutra, yang terbagi atas empat bagian dan secara keseluruhan mengandung 194 sutra. Bagian pertama disebut: Samadhipada, sedangkan bagian kedua disebut: Sadhanapada, bagian ketiga disebut: Vibhutipada, dan yang terakhir disebut: Kailvalyapada

2. Rsi Byasa

Byasa ( Vyāsa) (dalam pewayangan disebut Resi Abyasa) adalah figur penting dalam agama Hindu. Beliau juga bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda. Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu Mahabharata. Sebagian riwayat hidupnya diceritakan dalam Mahabharata. Dalam Mahabharata, dapat diketahui bahwa orangtua Resi Byasa adalah Bagawan Parasara dan Dewi Satyawati (alias Durgandini atau Gandhawati).

Kelahiran

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Weda Wyasa

Umat Hindu memandang Krishna Dwaipayana sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian (Catur Weda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti “membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Telah diperdebatkan apakah Wyasa adalah nama seseorang ataukah kelas para sarjana yang membagi Weda. Wisnupurana memiliki teori menarik mengenai Wyasa. Menurut pandangan Hindu, alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Catur Yuga (empat Yuga). Dwapara Yuga adalah Yuga yang ketiga. Purana (Buku 3, Ch 3) berkata:

Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa.

Tokoh Mahabharata

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam Mahabharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yajña (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena ia takut melihat wajah Wyasa yang sangat hebat, maka ia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata bahwa anak Ambika akan terlahir buta. Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, ia menjadi takut namun tidak mau menutup mata sehingga wajahnya menjadi pucat. Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi. Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak mau menghadap Byasa, namun mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.

Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging tersebut dipotong menjadi seratus bagian. Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Wyasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga ia tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri. Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa. Tak lama kemudian Arjuna beserta para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan senjata sakti. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.

Penulis Mahabharata

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan Mahabharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun, Mahabharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

3. Rsi Kapila

Maharsi Kapila adalah pendiri ajaran Samkhya, salah satu ajaran dalam filsafat Hindu. Namun hingga saat ini, tidak ada satupun tulisan dari buah karya beliau yang berkaitan dengan ajaran Samkhya. Beliau dikenal mengajarkan proses pembebasan yang disebut Bakti Yoga.

4. Rsi Naradha

Narada atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, khususnya Bhagawatapurana. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai vina, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna. Dalam tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan nama Hari dan Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai Narad Bhakti Sutra.

Putra Dewa Brahma

Menurut legenda, Narada dipandang sebagai Manasputra, merujuk kepada kelahirannya ‘dari pikiran Dewa Brahma’, atau makhluk hidup pertama seperti yang digambarkan dalam alam semesta menurut Purana. Ia dihormati sebagai Triloka sanchaari, atau pengembara sejati yang mengarungi tiga dunia yaitu Swargaloka (surga), Mrityuloka (bumi) dan Patalloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk menemukan sesuatu mengenai kehidupan dan kemakmuran orang. Ia orang pertama yang melakukan Natya Yoga. Ia juga dikenal sebagai Kalahapriya.

Narada Muni memiliki posisi penting yang istimewa di antara tradisi Waisnawa. Dalam kitab-kitab Purana, ia termasuk salah satu dari dua belas Mahajana, atau ‘pemuja besar’ Dewa Wisnu. Karena ia adalah gandharva dalam kehidupan dahulu sebelum ia menjadi Resi, ia berada dalam kategori Dewaresi.

Pencerahan

Bhagawata Purana menceritakan pencerahan spiritual yang dialami Narada: Dalam kehidupannya yang dulu, Narada adalah gandharva (sejenis malaikat) yang dikutuk agar lahir di planet bumi karena melanggar sesuatu. Maka ia kemudian lahir sebagai putera seorang pelayan yang khusus melayani pendeta suci (brahmin). Para pendeta yang berkenan dengan pelayanan Narada dan ibunya, memberkahinya dengan mengizinkannya memakan sisa makanan mereka (prasad) yang sebelumnya dipersembahkan kepada dewa mereka, yaitu Wisnu.

Perlahan-lahan Narada menerima berkah dan berkah lagi dari para pendeta tersebut, dan mendengarkan mereka memperbincangkan banyak topik mengenai spiritual. Lalu pada suatu hari, ibunya meninggal karena digigit ular, dan karena menganggap itu adalah perbuatan Dewa (Wisnu), ia memutuskan untuk pergi ke hutan demi mencari pencerahan agar memahami ‘Kebenaran yang paling mutlak’.

Ketika di dalam hutan, Narada menemukan tempat yang tenang, dan setelah melepaskan dahaga dari sungai terdekat, ia duduk di bawah pohon dan bermeditasi (yoga), berkonsentrasi kepada wujud paramatma Wisnu di dalam hatinya, seperti yang pernah diajarkan oleh para pendeta yang pernah dilayaninya. Setelah beberapa lama, Narada melihat sebuah penampakan, dimana Narayana (Wisnu) muncul di depannya, tersenyum, dan berkata bahwa ‘meskipun ia memiliki anugerah untuk melihat wujud tersebut pada saat itu juga, Narada tidak akan dapat melihat wujudnya (Wisnu) lagi sampai ia mati’. Narayana kemudian menjelaskan bahwa kesempatan yang diberikan agar Narada dapat melihat wujudnya disebabkan oleh keindahan dan rasa cintanya, dan akan menjadi sumber inspirasi dan membakar keinginannya yang terlelap untuk bersama sang dewa lagi. Setelah memberi tahu Narada dengan cara tersebut, Wisnu kemudian menghilang dari pandangannya. Narada bangun dari meditasinya dengan terharu sekaligus kecewa.

Selama sisa hidupnya Narada memusatkan rasa baktinya, bermeditasi, dan menyembah Wisnu. Setelah kematiannya, Wisnu menganugerahinya dengan wujud spiritual “Narada”, yang kemudian dikenal banyak orang. Dalam beberapa susastra Hindu, Narada dianggap sebagai penjelmaan (awatara) dewa, dan berkuasa untuk melakukan tugas-tugas yang ajaib atas nama Wisnu.

Narada dalam budaya Jawa

Batara Narada ialah batara pengadil dan penyampai berita ke Pandawa. Batara Narada tadinya bernama Kanekaputra. Saat ia itu ia masih berupa Dewa yang bagus rupanya. Untuk mengejar kesaktiannya, maka Kanekaputra bersemadi di tengah samudera dengan tidak bergerak-gerak. Oleh Batara Guru hal ini dianggapnya sebagai usaha Kanekaputra untuk menguasai Suryalaya. Maka diperintahkannya semua dewa untuk menyerang Kanekaputra dengan segala macam senjata agar gagallah semadinya. Namun Kanekaputra tetap pada semadinya, dan tetap tidak bergerak. Akhirnya Batara Guru sendiri pergi ke hadapan Kanekaputra, dan terjadilah bantah-membantah antara keduanya. Dalam hal ini, Batara Guru keluar sebagai pihak yang kalah-bantah. Maka untuk seterusnya Batara Guru memanggil Kanekaputra dengan kakang, kanda, karena merasa lebih muda.

Suatu ketika amat murkalah Batara Guru, hingga dikutuknya Kanekaputra sehingga berwuju seperti sekarang, kemudian ia dipanggil dengan Narada.

YOGA

 Istilah Yoga

http://www.tejasurya.com/

Kata ’yoga’, ‘yogi’ begitu popular di masyarakat. Apa sesungguhnya makna kata tersebut? Kata ‘yoga’ digunakan dengan berbagai pengertian. Istilah ‘yoga’ ( bahasa Sansekerta) berasal dari akar kata ‘yuj’ berarti ‘menghubungkan’. Dalam konteks ini, ia dimaknai sebagai persatuan spirit individu (jivatman) dengan Spirit Universal (Paramatman).

Pengertian ini dipahami dalam konteks sistem filsafat Vedanta. Sementara Bhagavad-gita mendefinisikan ‘yoga’ sebagai suatu keadaan yang bebas dari penderitaan dan kesedihan

Untuk memperoleh pemahaman tentang bagaimana yoga bisa berkembang seperti yang ada saat ini, maka kita perlu melihat sejenak latar belakang sejarah yang mendasarinya. Yoga merupakan suatu teknik yang telah berkembang sejak ribuan tahun, yang awalnya dikenal dengan praktek “Tantra”. Tantra, pertama kali diperkenalkan di India, 7000 tahun yang lalu oleh seorang yogi besar Sadashiva. Yoga didesain sebagai suatu pengetahuan menyeluruh tentang kehidupan, melingkupi setiap aspek pengembangan pribadi dan sosial. Istilah Tantra mengandung makna “sesuatu yang membebaskan dari kekasaran (ketidakpedulian)”, dan oleh karenanya, latihan-latihannya didasarkan pada suatu cara yang sistematis dan ilmiah, untuk membawa setiap individu dari tingkat ketidakpedulian (ignorance) menuju tingkat pencerahan spiritual (spiritual illumination). Latihan Tantra tidak terbatas pada Meditasi dan Yoga saja, namun meluas hingga mencakup bidang kesenian, musik, sastra, obat-obatan, tari-tarian, kesadaran lingkungan-singkatnya pendekatan hidup yang bersifat holistik.

Sejalan dengan perkembangan zaman, banyak bermunculan cabang-cabang dan bagian-bagian dari Tantra. Cara sederhana untuk melukiskan hal ini terlihat pada diagram. Di dalamnya mungkin terlihat bagaimana menggolongan Tantra terjadi, dan seberapa dekat jenis yoga yang kita miliki saat ini dapat ditelusuri kembali ke asalnya sesuai dengan ajaran Sadashiva. Pembagian Tantra kedalam wilayah khusus yang berbeda tersebut, telah mengakibatkan hilangnya efektifitas dan keharmonisam dari keseluruhan filsafat kehidupan yang lengkap. Hal ini sama halnya dengan cerita lima orang buta yang diminta oleh seorang raja untuk menggambarkan bentuk seekor gajah. Orang pertama, memegang ekor gajah dan berkata bahwa gajah adalah binatang yang panjang dan bulat. Orang berikutnya, memegang telinga gajah dan berkata bahwa gajah adalah seekor binatang yang besar, gendut dan bulat. Demikian seterusnya, masing-masing orang menggambarkan gajah tersebut dengan cara yang berbeda. Meskipun masing-masing dari mereka menggambarkan satu bagian secara benar, namun tidak dalam bentuk gambaran gajah secara utuh.

Hal yang sama terdapat pula pada Tantra. Kelompok-kelompok yang berbeda mungkin memusatkan diri pada bagian tertentu saja, namun pemahaman secara utuh menjadi hilang.Tantra merupakan pengetahuan sepanjang masa dan relevansinya dengan dunia saat ini tidak kurang dibanding masa lalu. Di bidang ilmiah, kesehatan, dan psikologi, para ilmuwan modern mulai memahami dan membuktikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Tantra. Penelitian mereka tentang pikiran manusia telah membuka keseluruhan wawasan baru psikologi. Banyak dokter dan ahli kesehatan telah menyadari bahwa latihan dan postur-postur kesehatan Yoga yang terdapat dalam Tantra telah melampui pengetahuan obat-obatan ortodoks. Dewasa ini, dengan segala kesulitan dan kekacauannya, Tantra merupakan suatu jawaban yang ilmiah atas masalah-masalah yang menimpa umat manusia tersebut. Selanjutnya, Tantra mengajarkan bahwa seseorang harus memandang secara obyektif terhadap seluruh kehidupan dan hidup secara positif, selalu melakukan tindakan-tindakan yang dapat membantu perkembangan evolusi, kemajuan menuju kesadaran tertinggi serta memberikan pedoman untuk membedakan antara hal-hal yang membawa kebesaran dengan hal-hal yang membawa kegelapan. Tantra merupakan pengetahuan yang dapat diterapkan setiap zaman bagi semua orang di segenap penjuru dunia, sebab ajarannya sangat universal siapa saja dapat mempelajari dari berbagai kepercayaan apapun

Astanga Yoga

Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi  delapan cabang  atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga. Yoga mengedepankan  kontrol atas aktivitas-aktivitas  tubuh, indra, dan  pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan  dikendalikan  agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi. Kemelekatan pada objek-objek duniawi membuyarkan  perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini, Yoga  memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan  tubuh dan pikiran.

Delapan tangga  tersebut  disebut Astangga Yoga, yaitu:  (1) Yama, (2) Niyama, (3) Asana,  (4) Pranayama,  (5) Prathyahara, (6) Dharana,  (7) Dhyana,  dan  (8) Samadhi. Dua yang pertama, yaitu Yama  dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum menginjak  tahapan berikutnya.

  1. Yama, artinya  pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya),  pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki  hak orang lain (aprigraha).
  2. Niyama, artinya pembudayaan diri  dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).
  3. Asana secara  harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang  nyaman ini tubuh tetap  dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai  sikap tubuh ini, membawa sejumlah  besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi  dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi  efek pada  setiap aspek  dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon,  melenturkan persendian,  memijat organ-organ  dalam dan menenangkan serta  mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan  mengontrol kelenjar, kelenjar  akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat  kita selalu  berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional  akan menyebabkan  depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan  yang disebabkan  oleh pikiran. Kita telah  kehilangan  kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi  yang jelas. Postur-postur  dalam yoga akan  menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan  dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam  selama asanas akan menenangkan dan memberikan  energi yang banyak pada pikiran.
  4. Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut  prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju  lapisan intuisi terhalus, maka ia harus  membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan  denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas  ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.
  5. Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan  indra-indra  dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai  kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi  keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan  agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.
  6. Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus  ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti  nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan  oleh fluktuasi-fluktuasinya.
  7. Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu  pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah  kontemplasi  teguh tanpa  adanya istirahat.
  8. Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan  tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran  benar-benar  diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana  tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi  di sini mereka menjadi satu. Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi  mental yang merupakan tujuannya.

Meditasi Tejasurya

Perlindungan

Sebagai manusia yang selalu ingin hidup lebih baik dan dapat menjalaninya dengan ketenangan amatlah sulit. Karena faktor penghalangnya lebih banyak dijumpai, hingga menimbulkan perasaan takut apakah takut kehilangan, takut gagal, takut didahului dan banyak lagi perasaan takut lainnya. Segala rasa takut akan hilang hanya dengan memohon Teja Surya untuk melindungi anda, keluarga ataupun sesuatu benda yang bersifat nyata. Namun secara spiritual akan dikhususkan untuk perlindungan diri dari seluruh energi negatif  yang bersifat halus / gaib.

Teja Surya yang telah terasa mengalir ditubuh anda (di-Shaktifat) akan memancarkan sinar terang, keluar melalui pori-pori kulit dan menerangi seluruh lapisan Aura anda. Aura anda dijadikan tameng perlindungan dengan sinar jauh lebih terang dan lebih padat. Sinar ini sangat menyilaukan bagi makhluk halus yang ingin mengganggu atau menyakiti anda. Makhluk halus yang bersifat negatif akan enggan bahkan takut dengan sinar Matahari yang Putih terang. Hawa yang dipancarkan Teja Surya akan selalu berbanding terbalik dengan hawa yang mendatangi. Ini berarti bila hawa yang datang berhawa dingin maka Teja Surya menyerap hawa tersebut dan menetralkan, selanjutnya Teja Surya memancarkan hawa panas hingga yang mengganggu kepanasan atau sebaliknya. Kekuatan daya pancar yang dikeluarkan Teja Surya tergantung dari seberapa    besar yang mengalir kedalam tubuh anda. Biasanya dalam banyak hal, energi negatif yang bersifat halus datang mendekati tubuh, sehingga tubuh mulai merasakan hawa dingin / panas yang sangat berbeda misalnya disaat melakukan Meditasi. Hawa yang datang membuat perasaan menjadi gelisah diikuti berdirinya bulu kuduk. Disaat inilah Teja Surya melindungi tubuh anda, yang dapat dirasakan dengan adanya aliran energi yang dating dari atas tubuh anda sehingga segala pikiran ataupun perasaan akan terasa menjadi lebih tenang dan kuat .

Energi Kasih

Teja Surya menyinari seluruh lapisan tubuh anda dari yang kasar sampai yang halus. Teja Surya akan membersihkan energi negatif secara bertahap dan alamiah dimulai dari tempat yang paling halus sampai akhirnya yang bersifat kasar yaitu tubuh Fisik. Pembersihan dilakukan terutama pada pikiran yang berpusat di otak.

Energi positif yang telah ada terus ditumbuh-kembangkan kekuatannya sedang energi negatif semakin dikikis dan dikeluarkan melalui Cakra Soma dan Cakra Bindu. Bila tubuh anda sudah mulai bersih, secara alami dan bertahap kesadaran diri mulai tumbuh yang dapat dirasakan dengan adanya perubahan – perubahan pada diri sendiri .

Energi Teja Surya sebenarnya energi halus yang penuh kasih seperti halnya Tuhan dengan penuh kasih memelihara segala hasil Ciptaan-Nya. Energi kasih Teja Surya yang mengalir keseluruh lapisan tubuh anda menyebarkan, menanamkan dan lebih menyuburkan sifat-sifat kasih yang telah anda miliki. Lambat laun benih-benih kasih akan tumbuh dengan subur didalam tubuh anda, hingga suatu saat dan tanpa anda menyadarinya bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan sama adanya. Perasaan kasih akan lebih ditumbuhkan baik terhadap keluarga, teman dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Anda akan lebih dituntun untuk menyadari terlebih dahulu, kemudian dapat mengasihinya misalnya pada tumbuh-tumbuhan, hewan yang ada dilingkungan anda ataupun terhadap makhluk halus / gaib lainnya (wong samar* ).Menyadari kelebihan / kekurangan diri sendiri, baik didalam sifat, kelakuan, perkataan, emosi dan cara berpikir.Menyadari bahwa tubuh fisik kita ini tidak dapat bergerak atau hidup kalau tidak adanya Atman. Meningkatnya kesadaran tentang alam semesta, lebih menyadari hubungan manusia dengan makhluk lainnya yang sama-sama ciptaan Tuhan.


* Wong Samar adalah ciptaan Tuhan yang hanya memiliki tubuh halus saja dengan tingkat kesadaran dibawah manusia, namun mereka sama seperti kita, memiliki sifat, emosi dan nafsu yang bersifat positif-negatif. Itu berarti merekapun dapat berkembang biak, memiliki keluarga, tatanan kehidupan bermasyarakat dan lainnya yang hampir mirip seperti kita.

Penyucian Diri

Penyucian ini lebih dimaksudkan untuk hal-hal yang bersifat spiritual yaitu penyucian tubuh halus, pikiran serta bathin. Sebelum Teja Surya menyucikan tubuh halus anda, alangkah baiknya anda lakukan penyucian tubuh fisik dengan cara mandi, berpakaian bersih dan lainnya yang dapat dilakukan secara kenyataan. Karena penyucian tubuh fisik merupakan faktor pendukung yang sangat dibutuhkan . Setelah anda membersihkan tubuh fisik niatkan Teja Surya membersihkan tubuh anda yang lebih halus, terutama pada tubuh etheris. Pada tubuh Etheris ini tempat melekatnya segala kekotoran yang bersifat halus. Misalnya di Bali dikenal istilah Sebel /Cuntaka. Umumnya ini terjadi pada wanita yang datang bulan atau pada seseorang yang  telah meninggal dunia. Keluarganya dan orang yang menjenguknya disebut mengalami sebel / Cuntaka. Untuk membersihkan atau menyucikan diri dari rasa sebel/ cuntaka, di Bali umumnya dibuatlah upacara pembersihan ritual kecil dengan adanya Prayasita. Sebelumnya tubuh fisik kita bersihkan dengan mandi dan mencuci rambut (keramas). Hal seperti ini dapat pula dibersihkan dengan Teja Surya melalui Meditasi Pembersihan Pertiwi Akasa, saat pembersihan niatkan bahwa Teja Surya membersihkan segala Sebel / Cuntaka yang ada pada tubuh anda sehingga anda menjadi bersih Suci baik tubuh, pikiran dan bathin.

Manfaat Meditasi

Energi Teja Surya adalah energi Tuhan yang begitu besarnya tidak dapat diukur dengan peralatan apapun.

Energi Teja Surya yang bersifat sangat halus mengalir pada tubuh kita melalui zat-zat / unsur yang halus, cakra-cakra nadi-nadi atau melalui lapisan tubuh yang lebih halus. Teja Surya mengalir sesuai kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh kita serta hanya dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang positif. Manfaat tersebut adalah:

    • Lebih mendalami mantra suci Om.
    • Mengenali jalur sinar ke-Tuhan-an
    • Meningkatkan Kesadaran.
    • Menumbuhkan Rasa Kasih.
    • Untuk Perlindungan.
    • Penyucian diri.
    • Meningkatkan Energi.
    • Kesehatan dan Penyembuhan.
    • Membangkitkan Kundalini.
    • Sebagai penuntun Sembahyang di Tempat Suci

Tentang Meditasi

Meditasi Teja Surya adalah salah satu jalan menyatukan diri dengan Atman atau alam semesta, guna lebih mengenal kesadaran dan jati diri. Teja Surya menyinari diri kita dari tempatnya yang sangat tersembunyi yaitu didalam hati. Untuk mengetahuinya perlu kita merenungi dan menyadari diri sendiri dengan hanya mengingat didaerah dada. Dari sinilah awal untuk mengenal dan menyadari keberadaan dari sang pemberi hidup (Atman). Bila kita sampai mendekati kesadaran Atman, Atman pulalah yang akan menuntun kita mencapai kesadaran yang lebih agung yaitu Brahman.

Brahman dan Atman adalah hubungan yang tak terpisahkan, seperti Matahari dengan sinarnya. Brahman itu satu, satu untuk semua, semua dipusatkan untuk yang satu, satu itu berdiri kokoh berbentuk tiang, tiang itu adalah Atman, Atman itu jalan/tujuan yang memiliki ujung dan pangkal, pangkal itu mulai/lahir untuk hidup, ujung itu tujuan akhir yang utama adalah Moksah, menunggal dengan segala unsur yang dimiliki Brahman melalui Atman. Atman yang merupakan percikan-percikan energi suci yang keluar dari Brahman berpencar memberi hidup pada setiap makhluk dengan memecah dirinya dalam dua sifat yaitu bersifat bebas (Atmanam) dan terikat ( Bhuta-Atman).

Bebas

dalam artian tidak terpengaruh oleh unsur-unsur duniawi, berdiri sendiri berkeadaan murni, berpribadi tinggi, berada dimana-mana, tak dilahirkan, tak terpikirkan dan masih banyak lagi ke-Agungan yang lainnya. Atmanam sesungguhnya bisa berwujud dan tidak berwujud atau yang sejati, Atmanam yang berwujud adalah yang tidak sejati dan yang tidak sejati nampak sebagai Sinar Suci yang memancarkan sinarnya ke-alam Bhur, Bhuah dan Svah. Atmanam memberi energi kehidupan pada setiap makhluk melalui energi Prana/Jiwa. Prana/Jiwa yang berada jauh diatas langit, berwujud Matahari memberi energi kehidupan melalui sinarnya yang putih cemerlang. Sinar terang ini memeroses, merangsang, menghidupkan, mengembangkan dan memusnahkan segala yang ada dialam jagat raya ini.

Terikat 

itu berarti Atman dapat menetap disetiap makhluk yang dihidupi-Nya. Sesungguhnya Atman yang telah terikat oleh kenikmatan duniawi bukanlah Atman yang sejati, ini adalah Atman yang lain yang disebut Bhuta-Atman. Bhuta Atman lahir karena adanya kekuatan Positif (Sang Ayah) dan negatif (Sang Ibu) ketika beliau mengadakan penciptaan dengan menyatukan kekuatan Lingga dengan Yoni sehingga muncullah Bhuta-Atman. Bhuta-Atman ini terbentuk dari berbagai macam sifat, dari segala unsur yang ada dan juga unsur rue-bhineda. Dengan adanya kekuatan Bhuta-Atman terkumpul pula berbagai macam Zat sehingga membentuk suatu benda/ tubuh manusia khususnya. Zat–zat tersebut secara garis besarnya terdiri dari lima Unsur yang disebut Panca Maha Bhuta. Agar Atman yang berupa Bhuta ini dapat menetap dalam tubuh maka diikatlah Beliau oleh Satwam, Rajas dan Tamas.

Dari uraian diatas mungkin dalam hati akan timbul pertanyaan, Atman yang mana sebaiknya sebagai obyek bermeditasi?. Jawabannya adalah tergantung dari pengetahuan, keyakinan dan keperluan yang ada pada diri kita. Disini penulis jelaskan sedikit tentang hubungan antara Brahman, Atman dan Bhuta-Atman. Brahman dengan Atman sesungguhnya adalah tunggal, Beliau adalah Sinar Suci yang bersinar diatas sana dalam wujud Matahari. Bila saat bermeditasi dan sampai pada tahapan tertentu untuk menggugah serta menggetarkan Beliau ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah dengan hanya merasakan dan menyadari diri sendiri, itu berarti tanpa perwujudan apapun dari-Nya. Cara yang lainnya dengan berkonsentrasi atau diikuti mantra suci OM yang digemakan, maka Beliau akan muncul berwujud sinar ke-Emasan dan ketika Mantra Suci OM telah meluluhkan segala yang buruk yang ada pada Sang Diri, maka si meditator akan menunggal dengan-Nya dan ketika kesadarannya mencapai puncaknya yang tertinggi, ketika keduniawian tidak berpengaruh banyak kepadanya, dan ketika sinar kuning emas menembus Siwo-dwaranya kemudian menerangi seluruh tubuh dan membawa tubuh Sukmanya lepas dari tubuh fisiknya, disaat inilah orang akan tahu wujud OM bahkan tahu yang tertinggi dari Atman/Brahman sekaligus si meditator tersebut mengetahui jalan kemoksahan. Hal ini sangatlah sulit untuk dicapai, berbagai macam pengetahuan tentang Beliau adalah faktor pendukungnya, ber-yadnya, Pemujaan, Yoga dan tapa-brata adalah sadhananya, berbagai macam sidhi adalah penghalangnya, Meditasi adalah pembuka jalan dan Semadhi adalah salah satu jalan yang utama. Uraian kalimat diatas penulis rasa sangat sederhana namun dibalik kesederhanaannya ada sesuatu yang amat sulit yaitu mempraktekkannya.

Sekarang bagaimana dengan Atman dan Bhuta-Atman. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Atman itu adalah Sinar Suci dalam wujud Matahari. Secara spiritual bahwa Atman yang berada diluar yang tak pernah tidur itu memberi energi Prana ke setiap makhluk hidup melalui Antahkarana ( tali penghubung jiwa) dapat berwujud sinar dan gas. Antahkarana yang berwujud sinar putih terang mengalir melalui ubun-ubun (siwo-dwara) dan pengendalinya adalah Cakra Sahasrara. Antahkarana yang berwujud sinar terang ini memberi energi Prana yang bersifat halus dan suci. Sinar suci yang mengalir kedalam tubuh tersebut membentuk lapisan-lapisan tubuh yang disebut Maya Kosa ( sinar tubuh/ Aura). Sinar tubuh ini adalah tempat suci bagi Bhuta-Atman yang tak lain adalah manifestasi Atman itu sendiri yang melaksanakan tugas lanjutanNya yaitu untuk menjaga, menggerakkan dan mengendalikan tubuh. Bhuta-Atman menjaga tubuh yang berwujud sinar dengan empat macam bentuk sinar yaitu sinar yang membentuk tubuh kembar seperti tubuh fisik yang ditempatinya. Beliau diberi nama Sang Anggapati, Beliau keluar-masuk melalui mata dan menetap didalam hati/lever berwarna kemerahan, dengan aksaranya adalah Ang. Tubuh yang kedua, adalah tubuh yang berukuran lebih tinggi-besar dengan wajah yang berbeda diberi nama Sang Prajapati yang bersinar gelap bertempat di empedu, Beliau keluar masuk melalui telinga dengan aksaranya adalah Ung. Yang ketiga, adalah tubuh yang berwujud Harimau putih dan dapat keluar masuk melalui mulut yang diberi nama Sang Banaspati dengan aksaranya adalah Mang. Tubuh keempat adalah berwujud Singa dengan muka merah api dengan bulu keemasan yang lebat, jalan keluar masuknya melalui hidung, Beliau diberi nama Sang Banaspati Raja dengan aksaranya adalah Ong. Selain sinar tersebut Atman juga memanifestasikan Diri sebagai pusat Sinar yang berupa Cakra-cakra didalam tubuh. Bermeditasi pada Cakra atau perwujudan yang dapat dibayangkan adalah suatu meditasi yang ditujukan pada diri sendiri guna mengenal Atman melalui Bhuta-atman atau mengenal jati diri sendiri. Setelah mengenal jati diri tentu kesadaranpun semakin tumbuh, dengan tumbuhnya kesadaran, secara alami pula Bhuta akan berubah menjadi Atman itu berarti anda akan mengetahui yang sejati tinggi.

Kemudian Antahkarana yang berwujud Gas/udara mengalir melalui seluruh lubang pada tubuh. Aliran udara yang utama berupa pernafasan yang keluar masuk lewat hidung. Nafas udara ini terbagi dalam lima nafas yakni Prana, Apana, Samana, Udana dan Wyana. Kelima nafas ini memiliki sifat, warna, tugas dan fungsi yang berbeda-beda. Prana udara mengalir disetiap tubuh agar tubuh tersebut dapat bergerak dengan adanya kekuatan dari Dasa Bayu. Kekuatan Dasa Bayu ini akan dapat dikeluarkan dan digunakan melalui latihan tenaga dalam. Sumber dari tenaga dalam adalah unsur halus dari zat padat yang bisa berupa hawa, getaran/frekwensi, arus dan sebagainya yang kesemuanya bisa dideteksi dan berada dibawah pengendalian Bhuta-Atman. Bhuta-Atman ini dapat dikendalikan melalui pikiran dan pikiran akan menghubungkannya melalui bawah sadar dan bawah sadar berhubungan dengan intuisi, intuisi /kata hati adalah suaranya Atman melalui Bhuta-Atman. Dengan uraian singkat ini berarti Bhuta-Atman adalah tunggal dengan Atman. Bermeditasi pada Bhuta-Atman yang terletak dialamnya intuisi dan intuisi itu sesungguhnya Hati anda yang paling dalam yang berada didalam Anahata atau Jantung. Bermeditasi ini sama artinya menjelajahi alam spiritual secara bertahap yang nantinya akan memberikan pengetahuan yang tinggi tentang adanya Atman. Bermeditasi Bhuta-Atman adalah bermeditasi pada diri sendiri, dengan cara menyadari dan mengendalikan segala sifat buruk yang ada pada diri sendiri. Setelah mengetahui, menyadari dan mampu mengendalikan kekuatan yang bersifat Bhuta yang berada pada diri sendiri, itu berarti anda telah menyucikan segala Bhuta dan meleburnya menjadi Atmanam. Namun ada hal lain dimana Bhuta-Atman akan terus berwujud Bhuta bagi orang yang segala tindak-tanduknya sehari-hari tidak berdasarkan ajaran Agama. Bagi orang yang menginginkan Bhuta menjadi Atman, maka Bhuta yang berada didalam dirinya harus dikendalikan dari hal-hal yang negatif menjadi kearah positif, karena Bhuta tersebut akan berusaha dengan keras mempengaruhinya mungkin dengan cara memberi pertimbangan yang keliru namun bagi pikiran akan dinilai lebih masuk akal sehingga kita menjadi goyah, atau mengganggunya dengan membuat kejadian yang aneh-aneh atau cara lainnya dengan tujuan menghalanginya. Disinilah dibutuhkan tekad yang kuat, tetap teguh, penuh keyakinan untuk mencapai-Nya.

Meditasi “Teja Surya” lebih bertujuan untuk mendapatkan Ketenangan bathin, Kesadaran diri, Kesehatan dan menambah Intelektual. Disamping itu bermeditasi pada Teja Surya akan mampu meningkatkan Tali Spiritual anda dan bahkan mencapai kebebasan spirit secara spiritual. Atau bagi yang melaksanakan Meditasi ini secara tekun, niscaya hasil awalnya dapat diketahui dengan merasakan perubahan–perubahan pada kehidupan sehari-harinya dari hal-hal negatif menuju kearah positif terutama pada sikap, cara berpikir, rasa keakuan ( ego ) dan hal lainnya.

TEMPAT MEDITASI

Dalam melakukan meditasi pilihlah tempat yang suci seperti di Pura, Merajan, atau Pelinggih-pelinggih yang suci. Bila hal ini tidak memungkinkan sediakan kamar suci (sebuah ruangan khusus di rumah anda), yang sebelumnya disucikan terlebih dahulu sesuai kepercayaan dan keyakinan atau tempat-tempat yang suasananya tenang dan memungkinkan untuk melakukan meditasi. Pada kamar suci tersebut buatlah tempat Pemujaan (Pelangkiran, Patung/Pratima) serta pasanglah gambar /symbol-simbol suci misalnya: Gambar Dewa / Dewi, Gambar Guru ( Orang Suci ), Simbol Omkara, tulisan dari mantra-mantra suci. Secara Rohani ini akan sangat membantu untuk menyucikan ruangan dan pikiran anda dari hal – hal yang bersifat negatif.

Sediakanlah tempat duduk dengan kursi atau di atas lantai yang diberi alas cukup tebal (± 5cm ) misalnya dengan menggunakan bantalan tempat duduk. Hal ini untuk menghindari pengaruh daya gravitasi bumi terhadap tubuh fisik.

WAKTU MEDITASI

Waktu untuk melakukan meditasi yang baik yaitu saat dimana suasana terasa tenang dan memungkinkan untuk melatih dalam Pemusatan pikiran. Seperti sebelum fajar antara pukul 03.00 – 06.00 pagi, dimana pada waktu itu udara mulai terasa segar, suasana lingkungan yang tenang, dan di samping itu energi prana yang bersifat kasar semakin menipis sedangkan energi prana yang bersifat halus masih stabil.

Jika anda tidak terbiasa bangun pagi, anda dapat bermeditasi pada waktu Sore hari, antara pukul 20.00 – 22.00, dimana pada saat itu paling tidak suasana akan terasa lebih tenang mungkin akibat ketegangan pikiran dari pengaruh rutinitas pekerjaan atau hal lainnya. Waktu diatas bukanlah suatu keharusan, andapun dapat tentukan sendiri waktu yang baik untuk melaksanakan meditasi dengan mempertimbangan kondisi sendiri dan lingkungan disekitar anda.

SIKAP ( ASANA )

Pada Meditasi Teja Surya, sikap duduk merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan terutama keadaan tulang pungung supaya tegak lurus. Ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama bangkitnya api kundalini yang tidak disadari. Karena kebangkitan Ibu Kundalini Sakti, prosesnya melalui Nadi Susumna yang merupakan nadi utama yang terletak di tulang punggung. Bila anda belum terbiasa dengan menegakkan tulang punggung dapat dilatih dengan bersandar pada dinding.

Setelah menguasai keadaan ini selanjutnya kendalikan Panca Indra anda terutama pada mata fisik, dengan memejamkan mata ( jangan sampai tertidur ), atau dengan memandang ujung hidung dalam keadaan mata setengah terbuka. Letakkan kedua tangan diatas kaki, telapak tangan menghadap keatas, satukan ibu jari dengan jari telunjuk sehingga membentuk lingkaran. Ini dimaksudkan untuk mengekang emosi ( ego) yang berasal dari Cakra Swadhistana dan Wisudha, dan melepaskan Tri Guna ( Satwam, Rajas dan Tamas ) melalui ketiga jari yang terbuka.

Pada gambar 1 dan 2 ada sedikit perbedaan yang terlihat. Bila bermeditasi yang sekiranya tidak memerlukan waktu yang cukup lama atau kesadaran anda dalam keadaan terjaga penuh / seperempat kesadaran anda mencapai visualisasi, maka cukup anda gunakan seperti gambar 1. Sedangkan bila bermeditasi lebih dari dua jam atau mungkin anda ingin mencapai kesadaran tahap tetha bahkan ingin sampai semadi sebaiknya gunakan cara seperti gambar 2, karena cara ini membuat keutuhan posisi jari telunjuk untuk tetap menyentuh ibu jari saat kesadaran melupakan tubuh fisik anda. Disaat seperti ini biasanya gerakan tubuh tidak lagi dapat dikontrol disebabkan pikiran berada pada titik konsentrasi yang sangat tinggi pada obyek yang dimeditasikan sehingga pengontrolan tubuh oleh pikiran mendekati titik terendah. Atau dengan kata lain tubuh bergerak tanpa adanya kesadaran pikiran.

Pengaturan Nafas ( Pranayama )

Setelah anda menentukan tempat bermeditasi, dan mengambil sikap yang baik seperti yang telah diuraikan diatas, stabilkan dan tenangkan pikiran anda dari hal-hal negatif, seperti berbagai masalah yang telah anda alami, rasa marah, benci, ataupun kesedihan, jangan biarkan mengganggu usaha meditasi yang akan anda latih. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan tekhnik pernafasan atau Pranayama.

Tekhnik ini dilakukan dengan cara menghirup nafas dari hidung dengan dalam-dalam kemudian menyimpannya dan mengeluarkan secara berirama. Bagi pemula dapat melatih tekhnik pernapasan mulai dari tahapan yang paling ringan dan secara bertahap kemudian ditingkatkan. Bila anda ingin lebih mengenal teknik pernapasan yang lebih baik anda dapat membaca buku–buku tentang tekhnik pernapasan (Pranayama). Tekhnik pernafasan merupakan dasar disiplin yang paling utama untuk menuju ketingkatan yang lebih tinggi.

Pemusatan Pikiran ( Dharana )

Apabila anda sudah cukup tenang, sebelumnya ingatlah berdo’a pada Tuhan / Sesuhunan dan memohon perlindungan-Nya, serta mohon bimbingan dari Guru spiritual anda ( Guru Suci ). Selanjutnya visualisasikan Teja Surya sebagai manifestasi kekuatan Tuhan berbentuk bulatan putih terang dan kalau bisa sampai pancaran sinarnya.

Untuk dapat memvisualisasikan Teja Surya anda melatihnya dengan cara seperti dibawah ini:

Memandang Sinar Matahari Pagi

Pandanglah Matahari dipagi hari antara pukul 06.00 – 07.00

(jangan melewati batas waktu ini, cukup bahaya). Pandanglah Matahari beberapa menit dengan mata terbuka ( sesuai dengan kemampuan). Sambil menatapnya niatkan dalam hati untuk merekamnya. Setelah dirasa cukup lama sekarang pejamkan mata anda sambil mengingat dan membayangkan Matahari yang telah anda pandang tadi. Pada saat memejamkan mata, pusatkan perhatian pada titik pertemuan di ke-dua alis mata ( Ajna ), maka bayangan matahari yang terlihat, mungkin akan berbeda warnanya. Bila anda sudah melihat perbedaan warna ini bukalah mata anda dan ulangi cara diatas beberapa kali semampu anda, sampai bulatan matahari itu terlihat jelas disaat anda memejamkan mata. Bila bayangan Matahari terlihat cukup jelas saat memejamkan mata niatkan dalam hati / pikiran anda untuk tetap merekamnya. Lakukan latihan ini secara teratur setiap hari, sampai Sinar / Matahari bisa anda bayangkan secara permanen.

Aura

Setiap mahluk hidup atau benda-benda tertentu akan mempunyai aura / sinar yang memancar keluar dari tubuh  atau benda yang mempunyai pengaruh baik ke dalam tubuh/benda itu sendiri dan keluar. Secara khusus disini hanya dibahas tentang aura tubuh kita. Tubuh fisik yang terlihat  dengan kasat mata juga mempunyai sinar yang nampak diluar tubuh fisik yang disebut aura

Ada beberapa aura yang penting di tubuh kita diantaranya:

a.   Aura luar

Aura ini jauh di luar tubuh fisik + 2 meter.  Aura luar ini bentuknya mirip sangkar ayam atau telur ayam yang terbalik, dengan sinar sangat tipis. Aura ini adalah pintu gerbang sekaligus tameng bagi tubuh fisik kita. Secara umum aura ini lebih banyak bersifat kepribadian yang lebih halus. Misalnya seseorang yang mempunyai pengaruh besar dalam pergaulannya sehari-hari atau para pejabat yang berpengaruh besar, memiliki aura luar yang baik.

b.  Aura Kesehatan.

Kesehatan seseorang sangat ditentukan oleh aura kesehatan yang dimilikinya. Aura ini berada di dalam aura luar.Warna sinar aura ini bercampur baur karena tergantung kesehatan tiap-tiap Organ / Cakra didalam tubuh, semuanya mengeluarkan warna sinar yang berbeda-beda melalui pori-pori dan bercampur didaerah aura kesehatan. Bila ada suatu gangguan / penyakit maka aura inilah yang terlebih dahulu mengalami gangguan atau penyakit kemudian baru mengenai tubuh fisik

c.   Aura Dalam.

Ini merupakan aura yang sangat penting untuk diketahui dalam teknik penyembuhan. Seperti namanya aura ini  terletak paling dalam dari aura lainnya (diluar tubuh fisik). Bila diamati  secara waskita akan terlihat warna-warni diluar tubuh kita namun aura ini mudah dikenali  karena bentuk sinarnya mengikuti postur tubuh kita dengan ketebalan sinar yang paling terang sekitar 1 – 3 Cm, dan pancaran sinarnya yang dirasakan saat penelusuran pada kebanyakan orang antara 20 – 50 Cm. Dalam ketebalan inipun terdapat lapisan lapisan lagi. Apabila Aura Dalam yang sehat maka warna yang terlihat lebih terang dan bersih. Sekarang telah ada peralatan teknologi modern dimana semua aura dapat difoto (dengan foto kirlian ) untuk dapat mengetahui warna dan bentuk aura yang nantinya dapat dijadikan acuan untuk menilai kondisi kesehatan, sifat seseorang atau tingkat spiritualnya. Pengetahuan aura, penulis akan bahas pada buku khusus (mengenai aura).

Energi

Tubuh kita terdiri dari dua aliran Energi yaitu Energi Kasar dan Energi halus. Energi Kasar sifatnya lebih mendekati kearah yang lebih nyata. Energi Kasar identik dengan Tenaga Dalam yang dapat dipergunakan untuk melindungi diri dari ancaman–ancaman secara kenyataan. Energi ini biasanya tersimpan didaerah cakra Manipura tepatnya dua jari dibawah Cakra Manipura. Disini terdapat penyimpanan dan pengolahan Energi yang sangat elastis, sering disebut Tan Tien (ini bukan cakra). Energi alam semesta ditarik masuk melalui cakra Manipura atau cakra Tangan /telapak kaki selanjutnya disimpan pada Tan Tien. Tan Tien menampung, menyimpan serta mengolah /memperoses energi tersebut hingga tiba saatnya dikeluarkan dan dipergunakan untuk keperluan tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan tekhnik latihan tenaga dalam secara khusus. Sedangkan Energi yang sifatnya halus bekerja tidak nyata atau gaib.

Keberadaan Energi Teja Surya agak sulit untuk dirasakan, untuk merasakannya hanya berdasarkan keyakinan dan kepercayaan yang tebal dan latihan yang tekun. Latihan paling penting adalah menyesuaikan Energi tubuh kita dengan energi Teja Surya dengan cara mengontrol Energi yang lebih Kasar. Mengontrol dalam artian mengurangi pengaruh energi kasar terutama yang kearah negatif. Aliran Energi Teja Surya dapat diumpamakan seperti frekwensi gelombang Radio atau peralatan Komunikasi lainnya.

Misalnya: untuk dapat mendengarkan suara penyiar atau musik pada salah satu stasiun pemancar Radio kita harus menyetel/menala pesawat radio kita sesuai dengan gelombang pemancar tersebut. Bila penalaannya tidak tepat maka pada pesawat radio tidak akan menangkap suara dari pemancar. Namun yang tertangkap hanya gelombang yang bertaburan dialam bebas sehingga hanya terdengar suara mendesis. Tubuh kitapun mengeluarkan gelombang, ini dapat dibuktikan pada pesawat radio yang sedang ada suara pinyiar / musiknya di gelombang AM yaitu dengan cara mendekatkan tangan pada daerah antena radio maka volume suara radio bisa berubah menjadi lebih keras atau sebaliknya. Ini menunjukan bahwa tubuh anda memiliki gelombang pancar.

Bentuk gelombang tubuh kita mirip seperti gelombang Air disaat menjatuhkan batu kecil ke air tenang, maka air membentuk gelombang lingkaran, dari awalnya kecil terus membesar sampai menghilang. Seberapa banyak bentuk gelombang dapat dihitung sampai batasan menghilang, itu menunjukan jumlah getaran atau Frekwensi. Gelombang serta frekwensi yang ada pada tubuh kita sangat bervariasi tergantung berbagai faktor. Faktor yang paling mempengaruhi adalah pikiran yang sedang aktif bekerja secara berubah-ubah sesuai dengan apa yang sedang anda pikirkan. Bila memikirkan hanya satu obyek tertentu ini menyebabkan gelombang pikiran melemah dan semakin terfokus sedangkan frekwensi bisa tetap atau ikut berubah tergantung seberapa kuat daya pancar/ focus pikiran anda. Semakin jauh daya pancarnya maka frekwensi semakin tinggi. Demikian juga semakin tinggi frekwensinya semakin kuat, jauh dan halus sifatnya.

Cakra

Seputar Cakra

CAKRA berarti perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda / cakram. Berputarnya roda energi menimbulkan Pusaran energi, pusaran energi yang terbentuk akan di alirkan ke alat-alat organ dalam pada tubuh fisik kita melalui nadi yang sangat halus (meridian). Aliran energi ini bertanggung jawab atas kerja dan fungsi organ dalam didalam tubuh fisik. Cakra-cakra ini letaknya pada tubuh etheris dan bersesuaian dengan organ dalam pada tubuh fisik.

Diamati secara kewaskitaan pada Tubuh Etheris kita, terdapat cekungan seperti sebuah terompet dimana didalam intinya terdapat bulatan sinar menyerupai Matahari/Bulan kecil yang memancarkan sinar dengan jumlah berkas sinar yang berbeda-beda. Bulatan sinar inilah yang dikenal dengan Cakra. Dalam inti cakra terdapat jalinan simpul yang menyerupai anyaman. Anyaman/Inti cakra ini berhubungan erat dengan cakra-cakra lainnya, melalui nadi-nadi atau jalur meridian (tempat mengalirnya Prana ). Dari beberapa cakra ada cakra-cakra yang akar simpulnya berhubungan langsung dengan nadi utama (Sushumna Nadi ) yang terletak di rongga tulang punggung tubuh fisik.

FUNGSI CAKRA

Sebagai pengaktifan panca indra sehingga menjadi pewaskitaan. Seperti telah djelaskan diatas, cakra merupakan pusat aliran energi baik yang keluar ataupun masuk ke dalam tubuh. Pengetahuan tentang cakra penting sekali untuk diketahui terutama dalam melakukan tekhnik penyembuhan, kebangkitan Kundalini atau meditasi. Secara garis besarnya fungsi cakra tersebut adalah:

    • Menarik, memberi, memeroses, dan mengalirkan Energi keseluruh tubuh untuk memenuhi keperluan organ-organ tubuh dalam aktivitas dan kreativitas.
    • Mengendalikan dan bertanggung jawab terhadap energi yang dibutuhkan oleh seluruh tubuh.
    • Untuk keperluan kesadaran Psikis dalam mendalami spiritual.
    • Sebagai alat penyembuhan suatu penyakit.
    • Sebagai penyaluran tenaga dalam atau tenaga prana.
    • Sebagai alat pendeteksi.

Cakra disebut aktif apabila cakra tersebut berputar dengan kecepatan rata-rata dari kesemua cakra yang ada. Tegasnya cakra tersebut berputar secara seimbang antara cakra yang satu dengan yang lainnya. Jika ada salah satu cakra yang perputarannya lebih cepat atau lebih pelan ini bisa menimbulkan kelainan pada organ tubuh yang berhubungan dengan cakra tersebut.

Dari titik awal (0 derajat) cakra berputar kearah kanan sekitar 180 derajat kemudian langsung balik ke arah kiri sekitar 320 derajat. Titik akhir perputaran kekiri adalah titik awal perputaran yang kedua yaitu kearah kanan, begitu sampai pada sekitar 180 derajat kekanan berbalik lagi ke arah kiri sekitar 320 derajat dan seterusnya. Sehingga jika terus diamati dengan adanya titik 1, 2, 3 dan seterusnya maka cakra dikatakan berputar ke arah kiri atau aktif karena cakra tersebut lebih banyak menyerap atau menarik energi    ( berputar kearah kiri).

Jaringan Antar Cakra

Hubungan kerja antar cakra lainnya juga sangat berpengaruh terutama cakra Muladhara, Solar-plexus, Anahata, dan Ajna. Khusus cakra Ajna bertugas lebih berat yaitu menyeimbangkan, mengatur dan mengendalikan seluruh cakra dibawahnya atau sebagai pemimpin cakra-cakra.

Jaringan antara Cakra Utama, Cakra Madya dan Cakra Alit semuanya saling berhubungan dengan membentuk suatu jaringan tertentu. Setiap Cakra Utama bisa memiliki lebih dari satu cakra Alit yang mengitari cakra Utama. Letak dari sub cakra utama bisa berada dekat ataupun jauh dari cakra utama. Misalnya Cakra Tangan merupakan perwakilan dari cakra-cakra Utama yang berada pada telapak tangan dan jari tangan. Demikian juga antar cakra-cakra utama, saling berhubungan erat dan saling memberi pengaruh secara psikis.

Cakra Muladhara yang merupakan pondasi utama bersinergi dengan cakra lainnya dengan adanya hubungan nadi-nadi. Kesadaran pada Cakra Muladhara dinaikkan dan dipompa oleh cakra Meng-mein dengan tujuan menunjang proses asimilasi pada cakra Manipura dan proses pembersihan darah dan udara baik pada Ginjal, paru-paru dan jantung.

Khususnya hasil pemerosesan yang berupa zat-zat halus akan dialirkan ke seluruh cakra-cakra Utama terlebih dahulu dimana pengaturannya melalui cakra solar-plexus. Untuk mendukung kerja Solar-plexus maka diperlukan   Prana udara dan peran ini dilakukan oleh cakra limpa yaitu menarik Prana udara yang bersifat vital dari pernafasan kemudian diuraikan menjadi prana berwarna dan disebarkan keseluruh cakra sesuai dengan tingkat frekwensi warna cakra yang sudah ada.

BENTUK, WARNA DAN UKURAN CAKRA

Cakra bila dipandang secara pewaskitaan hanya berupa bulatan sinar yang memancar dari tempatnya yang berbentuk sebuah cekungan atau terowongan. Bulatan sinar tersebut ada yang memancar terang dan redup. Sedangkan bentuknya lebih mirip seperti piringan atau lempengan kaset VCD. Dari lubang intinya terdapat akar/anyaman yang fungsinya sebagai jalur penghubung antar cakra-cakra yang disebut Nadi. Khusus pada cakra Wisudha pada intinya terdapat sinar lain yang bergerak-gerak seperti sebuah bandul bergerak bolak balik dan ekor cahayanya kelihatan seperti bintang kukus / comet.

Pada orang yang Cakranya aktif maka Cakra yang terlihat baik sinar dan warnanya menjadi jauh lebih terang serta bentuk dan ukurannya lebih jelas. Sebaliknya bila memandang Cakra orang yang sedang mengalami sakit, Cakra tersebut lebih banyak dibungkus oleh tempatnya dan kelihatan sinarnya sangat redup sehingga sisi diluarnya kelihatan agak gelap dengan bersinar timbul tenggelam, lagi bersinar lagi tidak seperti lampu disco flip-flop yang sangat pelan. Cakra yang bekerja aktif akan mengeluarkan perbedaan warna yang sangat jelas. Pancaran Sinar yang terlihat membiaskan warna berkilauan keperak-perakan seperti warna pada sayap kupu-kupu atau kerang mutiara. Semua warna yang terlihat sangat indah sulit untuk dilukiskan dengan warna yang ada. Warna pada tiap Cakra sangat sulit untuk dibedakan kecuali yang sangat jelas dibedakan yaitu pada Cakra Muladhara dengan warna luar mirip batu permata merah delima dengan titik tengahnya seperti warna lahar dari gunung berapi dengan gerakan cukup teratur, Cakra Wisudha dengan warna biru mirip sayap kupu-kupu yang ada warna biru mudanya (Peacok blue), dan khusus pada Cakra Ajna warna sinarnya tergantung tingkat spiritual seseorang. Namun yang jelas bila Cakra ini aktif dan digunakan untuk pewaskitaan, warna sinar yang memancar kelihatan putih terang seperti Matahari disiang hari atau mirip nyala sinar hasil dari mesin Las listrik yang putih keunguan / kebiruan yang sangat menyilaukan. Berbeda halnya bila Cakra Ajna diaktifkan untuk keperluan lain misalnya untuk kreativitas, marah atau sedang konsentrasi full (hipnotis) maka sinar yang kelihatan seperti sinar Laser kemerahan atau senjata api yang memakai titik sinar sebagai titik focusnya. Sedangkan kalau tidak memancar keluar akan kelihatan seperti nyala api Dupa.

Pembagian Cakra

Cakra yang semakin aktif akan memiliki bentuk semakin jelas dan ukurannyapun semakin bertambah. Menurut ukuran cakra dapat dibedakan menjadi tiga ukuran yaitu:

Cakra Utama

Pada kebanyakan orang cakra ini biasanya sebesar mangkok atau lebih besar sedikit dari kepingan kaset VCD. Kalau ukuran Cakranya lebih kecil dari ini biasanya orang tersebut mengalami gangguan dibagian organ tersebut atau orangnya sakit. Dan bila cakra ini membesar, inipun ada dua kemungkinan yaitu orang tersebut memiliki tingkat spiritual yang sudah maju atau orang tersebut mempunyai keahlian secara khusus tanpa pengetahuan spiritual. Memiliki cakra yang cukup besar dan tidak seimbang dengan cakra utama lainnya, ini malahan bisa menimbulkan suatu penyakit tertentu terutama bagi orang yang cakra utamanya membesar secara tidak sengaja.

Menurutt Kitab Tantra dan Kundalini Yoga di dalam lapisan tubuh terdapat 365 Cakra didalam tubuh termasuk tujuh buah Cakra Utama dan 7 cakra diluar tubuh (tidak termasuk cakra Sahasrara). Tujuh cakra utama tersebut adalah:Cakra Mahkota ( Sahasrara )

Cakra Ajna (Adnya)

  1. Cakra Wisudha (tenggorok)
  2. Cakra Anahata (Jantung)
  3. Cakra Manipura (Pusar)
  4. Cakra Svadhistana (Sex)
  5. Cakra Muladhara (Dasar)

Disamping Cakra yang diuraikan seperti diatas ada pula cakra – cakra yang diuraikan secara berbeda-beda seperti  menurut  Kitab Charaka dan Susruta terdapat sembilan buah cakra Utama dengan memakai nama, ada yang sama dan tidak. Namun secara garis besarnya baik letak dan fungsinya hampir sama. Tambahan Cakra tersebut adalah Cakra  Lalana yang terletak di daerah pangkal lidah dengan 12 lembar daun dan Cakra Soma yang letaknya didaerah otak besar (Dahi). Sedangkan menurut Lontar  yang ada di Bali Cakra-cakra yang telah ada lebih dikembangkan dan ada beberapa penggantian nama dengan nama lain.

Cakra Madya

Cakra madya adalah cakra dengan ukuran sedang yaitu dengan jari-jari sekitar 2-3 cm dan pusaran energinya 5–10 cm. Cakra ini jarang diaktifkan karena dalam meningkatkan spiritual pengaruhnya sangat kecil, cakra ini hanya digunakan dalam membantu penyembuhan. Ada beberapa Cakra Madya yang cukup penting diantaranya Cakra telapak Tangan, Cakra Meng-mein, Cakra Limpa, Cakra Plexus-solar Plexus, Cakra Soma dan Cakra Bindu (Belakang kepala).

Cakra Alit

Cakra ini ukurannya sangatlah kecil bervariasi dari sebesar kelereng sampai sebesar mulut botol. Cakra ini bertebaran diberbagai tempat didaerah tubuh seperti nyala bintang-bintang yang menghiasi tubuh. Cakra ini biasanya banyak digunakan dalam penyembuhan pijat refleksi dan akupuntur dimana hasil yang dirasakan lebih cepat. Hal ini disebabkan cakra Alit lebih berhubungan langsung dengan titik-titik meridian/nadi.

Cakra Dasar – Muladhara Cakra 

Cakra ini letaknya di ujung bawah Tulang Punggung/ekor dengan warna kemerah-merahan dengan 4 berkas sinar / daun. Bagian tengahnya terdapat warna sinar orange, semakin kedalam terdapat sedikit bulatan sinar kuning. Disinilah bersetananya Dewa Brahma dengan saktinya serta bersemayamnya kekuatan Suci Ibu Kundalini yang berwujud Ular Emas melilit Lingga Swayambu Siwa dengan tiga setengah lilitan utama.

Cakra Muladhara dipengaruhi dari unsur-unsur zat padat ( Pertiwi ), dimana unsur ini berhubungan erat dengan kebugaran tubuh fisik, hal-hal material, perkembangbiakan, kreativitas. Pengetahuan tentang cakra ini sangatlah penting mengingat Cakra Muladhara merupakan pondasi yang perlu dikokohkan sebelum menuju ketingkatan spiritual yang lebih tinggi. Bila pondasi yang rapuh menyebabkan anda terhalang ditengah jalan. Salah satu faktor yang cukup penting yakni memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama dijaman ini yaitu unsur materialnya

Orang yang cakra Muladharanya aktif dan berkembang cendrung membuat orang tersebut lebih sehat dan kuat karena cakra ini bersifat padat penuh energi, yang mempengaruhi keinginan untuk selalu tetap hidup, teguh pendirian serta mempengaruhi keadaan suhu tubuh. Cakra ini merupakan dasar kekuatan tubuh fisik sekaligus melindungi tubuh fisik dari berbagai energi yang bersifat negatif. Pada tubuh kita cakra ini lebih banyak mempengaruhi sistem:

  • Kerangka tulang-tulang
  • Urat-urat
  • Daging dan otot.
  • Kwalitas darah

Bila cakra Muladhara mengalami gangguan (kurang aktif) menyebabkan orang tersebut menjadi agak pemalas, lemah, kadang-kadang menyebabkan keputusasaan. Demikian juga penyakit yang ditimbulkan pada tubuh fisik dapat berupa:

  • Penyakit Reumatik
  • Penyakit Tulang Punggung
  • Pembengkaan pada otot ( Asam Urat )
  • Kanker dan Demam.
  • Kondisi tubuh yang lemah
  • Kurang bersemangat.

Secara emosional Cakra Muladhara dapat mempengaruhi rasa marah dan rasa jengkel atau yang berhubungan dengan emosional lebih bersifat nyata.

Bermeditasi pada Cakra Muladhara serta dapat memahami kesadaran psikisnya, maka orang tersebut dapat terbebas dari berbagai penyakit, penuh kenikmatan duniawi, dan apabila mencapai pada Siddhi yaitu memungkinkan memiliki kekuatan melayang dari tanah secara nyata atau hanya tubuh halus keluar melalui Nadi Sushumna (tulang pungung) menuju ke ubun-ubun. Selain itu daya penciuman yang semakin tajam

Cakra Sex – Swadhistana Cakra

Cakra Swadhistana letaknya bersesuaian dengan daerah kemaluan memancarkan 6 berkas sinar / helai daun berwarna oranye (jingga) mandalanya berbentuk bulan sabit sebagai lambang air . Di cakra ini berstanalah Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Laksmi / Sri . Sesuai sifat air cakra ini mempengaruhi nafsu dan emosi dengan tingkatan yang lebih rendah dari cakra Wisudha seperti tingkah laku yang kasar, hilangnya akal sehat rasa kurang peduli, kurang percaya pada diri sendiri , kecemburuan, keserakahan.

Cakra Swadhistana bekerja mengendalikan organ-organ tubuh didaerah organ sexual seperti:

  • Kemaluan
  • Uretra
  • Kandung kencing
  • Indung telur, sperma
  • Kandung kemih

Cakra Swadhistana yang sedang mengalami gangguan menyebabkan berbagai jenis penyakit misalnya:

  • Impotensi
  • Berbagai penyakit sexsual
  • Haid tidak teratur
  • Kemandulan
  • Hilangnya daya ingat (Pikun)

Bila bermeditasi pada cakra Swadhistana serta memahami kesadarannya niscaya akan mempunyai sikap pengontrolan diri yang tinggi, daya ingat semakin baik

Cakra Perut – Manipura Cakra 

Cakra Manipura disebut pula cakra pusat pemrosesan prana (lihat Gambar 10). Akar-akar cakra ini menyebar hampir keseluruh cakra utama. Cakra Manipura yang letaknya bersesuaian dengan cekungan dipusar tubuh fisik. Bila kita makan, makanan ini diproses didaerah perut. Hasil pemerosesan yang bersifat energi halus disebar luaskan melalui nadi-nadi yang berpusat di Cakra Manipura. Proses pembakaran diperut yang bersifat lebih kasar digunakan untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh fisik .

Cakra Manipura terdiri dari 10 berkas sinar / helai daun berwarna kehijauan bagian tepinya semakin ketengah warna kekuningan dan intinya kemerahan. Dewa yang berstana adalah Dewa Wisnu dengan saktinya, bersifat Api dimana hawa panasnya selalu menuju keatas Cakra Manipura lebih banyak mempengaruhi sistem pencernaan tubuh fisik dengan mengendalikan usus-usus didalam perut . Bila cakra pusar mengalami gangguan menyebabkan beberapa jenis penyakit seperti:

  • Busung lapar
  • Petumbuhan yang lambat ( kekurangan zat gizi ) untuk pertumbuhan
  • Mencret / diare / sembelit
  • Usus buntu , peradangan usus
  • Penyakit kolik
  • aringan robek ( Hernia )

Bermedita  si pada cakra ini dan dapat memahaminya, menyebabkan kita mengerti tentang berbagai pengaruh astral, menguasai tenaga dalam dan menguasai sifat dari unsur api /panas / cahaya. Dengan unsur api/cahaya (teja) segala emosional bersifat ketidakpuasan kesedihan, kejengkelan, kemarahan juga berbagai penyakit dapat dihancurkan yang pada akhirnya membawa kita pada kebahagiaan yang sempurna disamping dapat mengerti jalan menuju kematian

Cakra Jantung – Anahata Cakra

Cakra Anahata ini ada dua buah terletak didaerah depan dan belakang dada berdekatan dengan organ jantung pada tubuh kita. Cakra ini memiliki 12 berkas sinar / helai daun  dengan warna tidak selalu sama pada setiap orang. Warna cakra ini lebih dominan dipengaruhi oleh sifat-sifat dasar seseorang juga pengaruh tingkat pengetahuan dan spiritualnya. Cakra Anahata berhubungan erat dengan Cakra Sahasrara, karena cakra ini merupakan tempat terakhirnya jalur antahkarana.

Diamati secara waskita sifat-sifat seseorang bersesuaian dengan tingkat frekwensi warna seperti pada tabel berikut.

Warna Cakra Anahata Penafisiran Sifat
Merah muda /pink Cinta kasih
Hijau Pelindung, penyejuk
Biru Tertutup
Kuning / Putih Kesucian
Keemasan Luhur/ keagungan
Ungu Spiritual
Merah menyala Semangat / emosional

Cakra ini merupakan cakra yang amat penting seperti halnya jantung pada tubuh fisik. Dimana cakra Anahata merupakan pusat pemerosesan prana, dari cakra- cakra dibawahnya untuk dibawa ke-cakra cakra yang lebih tinggi dan sebaliknya . Cakra Sahasrara memberi ide selanjutnya cakra Soma memikirkan dan diputuskan oleh cakra Ajna. Setelah memperoleh hasil dari keputusan apakah itu baik (benar) / jelek (salah) diteruskan ke-cakra Anahata. Cakra Anahata menimbang dengan tingkatan emosi yang lebih halus diteruskan atau tidak. Bila hasil keputusan cakra Ajna diteruskan ketingkat cakra bawah oleh cakra Anahata maka terjadilah gerak tubuh fisik sesuai keputusan cakra Ajna Cakra Anahata dengan dua cakra yaitu didepan  (daerah dada) dan belakang tubuh. Cakra Anahata depan lebih banyak bertugas menjaga keseimbangan kerja dari jantung tubuh fisik dan kelenjar tyumus . Cakra Anahata  belakang mengontrol dan memberi energi pada paru – paru , juga jantung fisik dan kelenjar tyumus. Kelainan kerja cakra Anahata lebih banyak bersifat emosi yang lebih halus seperti: kesombongan , munafik , tamak, iri hati, sifat- sifat egoisme, merasa bersalah (menyesal) dan berbagai harapan . Penyakit yang ditimbulkan secara nyata adalah :

  • Berbagai Penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi / rendah
  • stress
  • Pertahanan tubuh yang lemas

Dicakra Anahata berstana Dewa Rudra / Iswara dengan saktinya yang bersifat seperti udara . Manfaat bermeditasi pada cakra Anahata serta menguasai rahasianya juga gema (suara) bathin yang tepat niscaya orang ini mampu mengontrol sifat- sifat dari udara, mendengar suara hati, menyadari atau merasakan dengan bathin keadaan orang lain apakah dia sedih/ senang, baik/buruk juga merasakan kehadiran mahluk yang bersifat halus (gaib). Perasaan kasih sayang semakin tumbuh, kepercayaan terhadap Tuhan semakin mantap dan dapat mengatasi masalah dengan tenang.

Cakra Tenggorokan – Wisudha Cakra

Cakra ini letaknya didaerah tenggorokan depan pada tubuh fisik. Cakra ini mempunyai 16 berkas sinar / helai daun dengan warna dominan biru muda pada luarnya dan  diintinya terdapat warna lembayung bening. Unsur -unsur yang terdapat adalah Akasa (ether). Pada cakra ini berstanalah Hyang Sada Siwa dengan saktinya . Sesuai dengan letaknya cakra ini mengontrol kerja organ-organ tubuh didaerah tenggorokan seperti:

    • batang tenggorokan
    • kelenjar gondok, parathyroid
    • pita suara

Bila cakra ini mengalami gangguan menyebabkan beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan tenggorokan misalnya

  • sakit gondok
  • batuk pilek
  • suara serak
  • asma.

Cakra tenggorokan merupakan pengontrolan tingkat emosi yang lebih tinggi . Cakra ini berhubungan erat dengan cakra Swadhistana. Dengan adanya hubungan ini gangguan cakra Wisudha bisa juga menyebabkan kemandulan. Apabila cakra ini aktif dan simpul-simpulnya terbuka maka kita menjadi waskita  pendengaran yaitu mendengar suara-suara yang bersifat halus .

Cakra Ajna 

Bila mereka yang sudah lama menekuni hal-hal spiritual tentu mengenal kegunaan cakra ini. Karena keaktifan cakra Ajna sangat dibutuhkan yaitu pewaskitaan penglihatan / tembus pandang. Dengan melihat secara tembus pandang, baik kemasa lalu, masa kini dan mendatang.

Dengan pewaskitaan ini kita dapat melihat mahluk-mahluk halus, energi halus, cakra-cakra beserta warna-warnanya, melihat aura (sinar tubuh) dan lainnya. Keaktifan cakra ini memungkinkan kita memvisualisasikan sesuatu lebih jelas juga dapat menghipnotis. Letak cakra Ajna diantara kedua alis dengan 2 dua berkas sinar / lembar helai daun dengan warna berbeda. Sebelah daun berwarna keunguan dan sebelah kuning keputihan ditengahnya terdapat lingkaran dengan warna putih cemerlang (sinar matahari). Dewa yang berstana adalah Hyang Paramasiwa.

Cakra Ajna dikenal  juga sebagai Mata ketiga . Pada tubuh kita cakra ini mengontrol seluruh cakra-cakra di bawahnya, kelenjar-kelenjar dan mempengaruhi organ-organ tubuh yang vital.

Gangguan fungsi cakra ini dapat menyebabkan berbagai penyakit diantaranya:

    • sakit mata
    • sakit kepala
    • kanker dan kelenjar endoktrin.

Bermeditasi pada cakra Ajna, kita dapat membayangkan bentuk Matahari dengan warna putih terang. Bila sampai mendapatkan siddhi niscaya mata bathin anda akan terbuka.

Cakra Mahkota – Sahasrara Cakra

Cakra ini berada diluar tubuh diatas kepala kira-kira sejengkal tangan dengan akarnya pada ubun-ubun. Dengan seribu berkas sinar / helai daun berwarna warni kemilauan, semua warna yang terlihat sangat mengagumkan tidak ada kelihatan warna dominan kecuali beberapa lembar helai daun ditengahnya itupun tergantung tingkat spiritual seseorang. Semakin tinggi spiritual seseorang warna ini menjadi kuning keemasan biasanya warna daun ini sesuai dengan warna cakra Anahata. Pada inti cakra ini terdapat tangkai seperti bunga teratai. Tangkai ini terhubung dengan puncak kepala yang sering disebut Antahkarana atau tali spiritual. Hal ini sangat penting guna mengetahui tingkat kerohanian seseorang.

Jalur Antahkarana merupakan jalur turunnya energi yang maha suci dari Tuhan. Diamati secara waskita energi yang bisa memasuki Antahkarana hanya energi yang maha suci (roh-roh yang amat suci). Dari sini dapat diartikan bahwa jika roh yang kurang suci atau energi yang bersifat negatif kemungkinannya sangatlah kecil untuk dapat masuk melalui Antahkarana . Hal ini dapat ditanyakan  pada orang yang sering kesurupan. Apabila orang yang kesurupan merasakan ada aliran energi datangnya dari puncak kepala (ubun-ubun) tidak diragukan lagi bahwa energi itu amat halus dan suci (di Bali kerauhan oleh sesuhunan pada tingkatan yang amat suci / Dewa /Betara, yang melinggih dikahyangan). Jika aliran energi dirasakan datangnya dibawah kepala (sebatas leher sampai diatas perut) perlu waspada atau ditahan / tanyakan pada hati nurani , kadang-kadang roh leluhur datang dari belakang tubuh. Sedangkan aliran energi yang datangnya dari bawah keatas (kaki terus keatas) ini biasanya sejenis kala (bebutaan) yang mengganggu atau membuat sakit.

Bila Cakra Sahasrara sudah berkembang akan menuntun orangnya lebih mendalami hal-hal yang bersifat kerohanian dan selalu ingin mengetahui ajaran –ajaran kesucian yang berhubungan dengan ke-Tuhan-an. Sifat-sifat dengan kesadaran Somia / Buddies yang lebih tinggi, segala tindak tanduknya didasarkan atas ajaran suci agama (Weda). Kebangkitan Kundalini yang mencapai cakra ini akan menuntun seseorang dapat menilai dirinya sendiri dan menilai orang lain dengan bijaksana tahu kebenaran yang sesungguhnya . Bertemunya Kundalini sakti dengan Siwa pada cakra ini memungkinkan seseorang mencapai moksa (bebas keduniawian dalam arti luas). Di Bali seseorang yang ingin mempelajari aksara suci yang tingkatannya lebih tinggi (membaca lontar-lontar suci dan cara penerapannya). Atau menjadi Balian (dukun / penyembuh) minimal seseorang tersebut pernah mendengar Genta bersuara tujuh (Patikelaning Genta Pinarah Pitu) didalam tubuhnya sendiri. Ini dapat dikaitkan dengan kebangkitan Kundalini yang melewati cakra-cakra dari bawah sampai atas. Karena setiap cakra yang dilewati mengeluarkan nada (bunyi) yang berbeda-beda. Gangguan yang terjadi pada cakra ini menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan tidak yakinnya dengan  adanya Tuhan

Kundalini

Setiap orang memiliki Energi ini yang tersembunyi dalam tubuh kita. Energi Kundalini merupakan energi sangat besar seperti energi Nuklir yang berada dalam tubuh. Dapat dibayangkan betapa besarnya energi yang ada dalam tubuh kita, bila energi ini mampu kita bangkitkan. Untuk membangkitkan energi Kundalini perlu pengetahuan yang cukup terutama mengenai Cakra Utama.

Selain pengetahuan tersebut sangat dibutuhkan pula seorang penuntun/ pembimbing yang benar-benar mengetahui tentang kebangkitan Kundalini atau seorang Guru spiritual. Dalam ajaran Yoga, energi Kundalini disimbulkan sebagai Ular Sakti dalam keadaan tidur dengan kepala menghadap ke bawah yang melilit pada Lingga Swayambu Siwa dengan tiga setengah lilitan utama. Kundalini adalah Ibu yang melindungi kita, Ibu alam semesta sering disebut sebagai Ibu Durga ( Hyang Nini Bagawati), Ibu Gayatri dan Ibu Saraswati. Untuk membangunkan Energi Sakti ini ada berbagai macam cara dan dengan latihan tertentu. Latihan dan cara membangkitkan Energi sakti atau Kundalini serta cara mengatasinya akan penulis bahas pada Buku Ibu Kundalini Sakti secara khusus. Disini penulis hanya memaparkan secara singkat kebangkitan Kundalini Sakti.

Teja Surya membangkitkan Kundalini Sakti dengan cara membersihkan terlebih dahulu seluruh cakra-cakra Utama dan ketiga Nadi Utama. Proses yang dilakukan Teja Surya secara bertahap dan pelan-pelan sehingga tidak membahayakan bagi tubuh fisik. Teja Surya membersihkan dan membuka saluran-saluran yang akan dilewati oleh energi Kundalini, mulai dari kepala sampai keujung kaki, sehingga memudahkan proses kebangkitan Kundalini Sakti. Sistem pembersihan Teja Surya merupakan kebalikan dari pembersihan kebangkitan Kundalini Sakti. Kebangkitan Energi Kundalini Sakti membawa dua pengaruh yaitu pengaruh positif dan negatif. Bila kebangkitan Kundalini menuju kearah negatif ini akan berakibat kurang baik, ada beberapa hal yang dipengaruhi yaitu bisa menyakiti tubuh fisik, ini bisa bersifat benar-benar nyata atau akan merubah sifat, emosi, tingkah laku dan lainnya kearah negatif. Untuk menjaga hal–hal yang tidak diinginkan ini maka Teja Surya memberi jalan terlebih dahulu. Kebangkitan dan pembersihan Kundalini Sakti bermula dari Cakra Muladhara (tempat bersemayamnya Kundalini) menuju Cakra Sahasrara (Berstananya Sanghyang Siwa / Sanghyang Tunggal / Sanghyang Guru) melalui Nadi Susumna yang terletak di Tulang Punggung. Begitu Kundalini bangkit dari Cakra Muladhara secara langsung akan membersihkan Cakra Muladhara terlebih dahulu. Setelah Cakra Muladhara bersih, Kundalini menuju naik membersihkan Cakra Swadhistana, setelah Cakra ini bersih Kundalini naik membersihkan Cakra Manipura dan seterusnya sampai pada Cakra Sahasrara. Tujuan Utama kebangkitan Kundalini adalah untuk membersihkan Karma negatif yang melekat pada tubuh kita. Bila energi Kundalini telah mencapai Cakra Sahasrara ini adalah sesuatu yang sangat diharapkan karena Penyatuan Kundalini (Hyang Nini Bagawati) dengan Sanghyang Siwa merupakan berkah dari Maha Agung hingga kita mencapai kesadaran yang Agung ( kesadaran Somia/Budhis).

Lapisan Tubuh

Secara spiritual Manusia mempunyai tubuh yang dibedakan menjadi dua bagian yakni tubuh fisik dan tubuh Halus. Kedua tubuh ini selalu bersatu dimana tubuh fisik merupakan wadah atau tempat bagi tubuh halus yang berlapis lapis. Tubuh halus yang membuat tubuh fisik dapat hidup adalah Tubuh Atman (Roh Suci).

Atman merupakan bagian kecil Para Maha Atman (Paratman) yang tiada lain adalah Brahman (Tuhan / Ida Sanghyang Widhi Wasa). Atman bila menempati benda mati maka benda tersebut menjadi hidup. Manusia, Hewan dan Tumbuhan dapat hidup karena adanya Atman. Supaya tubuh fisik tetap dapat hidup, Atman memberikan kekuatan hidup dengan Prana (Jiwa) pada setiap mahkluk yang ditempati-NyaAtman mengalir ke tubuh manusia melalui Tri Antahkarana yaitu:

  1. Siwa-karana, antahkarana ini terletak di ubun-ubun tepatnya pada inti Cakra Sahasrara. Energi Atman yang mengalir ke antahkarana ini berupa Sinar Putih cemerlang. Energi Atman yang berupa sinar ini adalah mengendalikan pusat kesadaran, kebijaksanaan melalui pikiran. Disamping itu juga memberi warna pada cakra- cakra dan membentuk Sinar tubuh (Aura).
  2. Prana-karana, antahkarana ini mengalirkan energi Atman yang berupa Jiwa atau Prana Udara (nafas). Dengan aliran nafas melalui ke dua lubang hidung maka tubuh dapat bergerak (disebut dengan dasa bayu) atau hidup (Jiwa). Prana-antahkarana membuka jalurnya pada kedua lubang hidung dan mulut diatur dan dikendalikan oleh Cakra Wisudha dan menempatkan energinya pada paru-paru dan jantung sehingga dapat bekerja sebagai mana mestinya. Bila Jantung berhenti bekerja atau berhentinya jalan udara pernafasan akan menyebabkan kematian.
  3. Pertiwi-karana, ini merupakan antahkarana yang memasukan unsur-unsur Panca Maha Bhuta. Jalan masuknya melalui sembilan lubang yaitu: lubang mulut, dua lubang hidung, dua lubang telinga, lubang/ pori-pori kulit (dianggap satu lubang), lubang pusar, lubang kemaluan, dan lubang pantat. Ini semua adalah jalan masuk dan keluar dari berbagai jenis energi.

Sesungguhnya Atman memberi hidup pada manusia dengan membagi diriNya menjadi dua bagian yaitu Atmanam dan Bhuta-atman. Atman yang memberi kekuatan hidup yang bersifat Vital melalui Napas udara, yang dibagi menjadi lima yaitu Prana, Apana, Samana, Udana dan Wyana. Semua unsur kekuatan ini tidak dipengaruhi oleh Tali Karma. Atman tidak terikat dengan unsur keduniawian, berdiri sendiri, tidak menetap memiliki kesadaran sendiri, tegasnya beliau itu Bebas, Murni, Abadi dan hanya sebagai pengendali dan penggerak tubuh melalui pikiran. Bhutatman yang berada dalam tubuh dipengaruhi oleh Hukum Karma, memiliki keterikatan duniawi, memiliki sifat baik dan buruk (hukum dua litas), menetap dan membentuk lapisan tubuh. Bhutatman selalu menetap pada tubuh karena Bhutatman diikat oleh Tri Guna, yaitu Satwam, Rajas dan Tamas. Dengan demikian Bhutatman mengalami berbagai perubahan (evolusi). Perubahan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor pikiran apakah ke-arah positif/kemajuan/penyadaran diri sehingga nantinya mencapai ke-Moksah-an yaitu bersatu dengan Atman ( Brahman ). Namun kalau terus terikat dengan unsur duniawi maka menjadikannya ke-arah negatif/Samsara.

Lapisan Tubuh Fisik

Tubuh fisik kita dapat dilihat, dirasakan, dapat bergerak atau yang bersifat nyata. Tubuh fisik memerlukan makanan (Anna) untuk menumbuhkan organ tubuh melalui zat makanan yang lebih kasar sedang sari makanan yang bersifat halus membentuk tubuh penyangga yang membatasi antara tubuh fisik/ kasar dengan yang halus yaitu kembaran tubuh fisik yang sering disebut Etheris. Tubuh fisik dalam pewayangan dapat diumpamakan sebagai Nakula dan Etherisnya sebagai Sahadewa beliau ini adalah kembar. Tubuh fisik dibentuk oleh lima unsur / elemen yang sering disebut Panca Maha Bhuta yaitu:

  1. Pertiwi ( bumi). Unsur ini mempengaruhi semua unsur padat yang ada pada tubuh fisik misalnya; kulit, daging, tulang-tulang, bulu dan lainnya.
  2. Apah (air/minyak). Pada tubuh fisik unsur ini dapat berupa keringat, enzim, darah, hormon, air kencing atau yang berupa zat cair dalam tubuh.
  3. Teja (Api/panas/sinar). Pada tubuh fisik unsur ini berupa peralatan tubuh yang serba bersinar  /  mengkilap seperti mata, aura, urat syaraf dan lainnya.
  4. Bayu/Vayu (udara/angin). Pada tubuh fisik yang menempati rongga / lubang seperti lubang hidung, telinga, rongga mulut, dada, pembuluh darah, tenggorokan dan lainnya. Secara khusus Bayu / Vayu ini akan diulas pada buku lainnya.
  5. Akasa ( ether/gas). Ini berupa hawa yang dikeluarkan oleh tubuh fisik seperti hawa panas/dingin yang tidak dapat dilihat. Selanjutnya Akasa ini membentuk tubuh dari Ether/gas yang disebut Tubuh etheris

Lapisan Tubuh Etheris

Tubuh Etheris masih dalam lingkup Anna-Maya Kosa dan ini memiliki ciri – ciri yang sama persis seperti  pada tubuh fisik (kembaran halus tubuh fisik) namun berupa sinar yang memancar keluar dari tubuh fisik. Sinar ini membungkus tubuh fisik dengan ukuran bentuknya lebih besar sehingga bentuk pinggiran sinarnya saja yang nampak diluar tubuh fisik. Pada kebanyakan orang Tubuh Etheris ini mengembang dengan sinar paling terang antara 1 – 3 Cm. Tubuh ini bila dilihat secara kewaskitaan akan nampak seperti bayangan yang menyerupai  tubuh fisik namun berupa sinar / asap putih pada kebanyakan orang dan pada orang yang spiritualnya telah meningkat akan nampak semakin bening (gas) dan mulai adanya tambahan warna tertentu misalnya warna kekuningan mirip seperti minyak kelapa buatan pabrik yang kuning bening keemasan, warna biru langit yang sangat tipis, warna kehijauan dan warna lainnya. Warna yang tampak kadang-kadang tidak bersifat permanen hanya menunjukan tingkatan / ajaran spiritual yang sedang ditekuninya. Warna yang kelihatan paling dekat dengan tubuh fisik identik dengan warna Aura Dalam. Tubuh Etheris memiliki kesadaran sendiri namun masih dibawah pengawasan pikiran. Gelombang pikiran yang mulai melemah misalnya disaat kita tidur maka tubuh etheris mulai memisahkan diri tetapi tidak pernah pergi jauh masih disekitar tubuh fisik karena masih dalam ikatan anna maya Kosa. Disaat ini lapisan Tubuh Astral kita mulai dapat terhubung dengan pikiran bawah sadar (kelenjar Pineal bergetar) apakah nantinya Tubuh Astral mau keluar tubuh fisik (melihat keadaan luar) atau melihat keadaan didalam tubuh yang dapat dirasakan dengan adanya mimpi yang kita alami.

Tubuh Etheris akan tetap mengitari tubuh orang yang telah meningal dunia sampai beberapa hari, misalnya di Bali  diatas kuburannya ditaruh Payung ini bertujuan untuk memberi perlindungan kepadanya dari panas matahari dan hujan, baju dan perlengkapannya serta diberi sodaan setiap hari sebelum orang tersebut disucikan (Upacara Pengabenan). Bila orang yang di waktu meninggalnya secara tidak wajar (belum waktunya meninggal), biasanya tubuh etheris ini akan menampakan dirinya yang sering disebut roh gentayangan dengan berbagai macam bentuk. Biasanya roh  ini hanya mencari keluarganya sendiri untuk cepat disucikan atau mengganggu orang yang telah mencelakainya

Lapisan Tubuh Energi

Prana-Maya Kosa

Tubuh Energi/dalam pewayangan sama dengan Bimasena tubuhnya penuh kekuatan. Tubuh ini merupakan pintu keluar masuknya  energi tubuh dari pasar energi di alam semesta yang disebut Prana Jiwa yaitu Udara (Bayu), Api/Sinar (Teja/Pitta) dan Air /Cairan(Apah/Kapha). Pasar energi menyediakan bermacam-macam energi, semuanya bercampur di alam bebas, apakah energi positif – negatif, energi arus lemah – kuat, energi halus – kasar, energi suci – kotor, energi vital (Prana) – tidak vital  dan energi lainnya yang memiliki hukum dua-litas energi. Kemajemukan energi pada pasar energi memiliki sifat, gelombang, frekwensi dan keseimbangan yang berbeda-beda.

Lapisan Tubuh Energi kita miliki kemampuan dan kesadaran sendiri untuk memilah–milah energi yang bercampur baur tersebut untuk dimanfaatkan bagi lapisan tubuh lainnya. Kesadaran Tubuh Energi pada umumnya banyak dipengaruhi oleh faktor Pikiran, Emosi, sifat serta keperluan masing-masing lapisan tubuh terutama tubuh fisik. Tubuh Energi mirip seperti antena pada pesawat radio atau peralatan komunikasi lainnya yang tugasnya menerima segala gelombang dan frekwensi yang berada di luar tubuh. Namun Tubuh Energi jauh lebih pintar untuk menerima energi karena adanya pengontolan pikiran baik secara sadar ataupun tidak. Bila ada energi yang dianggap berguna bagi bagian tubuh lainnya, sebelum menerimanya maka Tubuh Energi akan memeroses, menyaring dan menyesuaikan energi tersebut terhadap tubuh lainnya.

Mengenal dan merasakan Tubuh Energi sama artinya kita mengetahui secara pasti kesehatan, keadaan, kemampuan serta pengaruh energi tubuh kita, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain . Pengetahuan ini sangatlah penting karena nanti dapat dipergunakan untuk keperluan lain misalnya untuk praktek Penyembuhan, menguatkan tubuh fisik, merasakan aliran energi apakah bersifat positif atau negatif, dan akan lebih merasakan perbedaan antara energi halus (belum tentu positif) dan kasar (belum tentu negatif), energi berpenyakit, energi kiriman, energi Prana (Atman / Roh Suci) dan bahkan merasakan kehadiran Energi Yang Maha Agung ( Brahman). Disamping itu dengan menguasai aliran energi dapat pula dimanfaatkan untuk melatih membangkitkan tenaga dalam yang tersimpan didalam tubuh kita. Tenaga dalam ini dapat diidentikkan sebagai tenaga kasar yang lebih dapat dirasakan.

Lapisan Tubuh Mental – Astral

Mano-maya Kosa

Tubuh Astral ini sangat berguna bagi orang yang menekuni ajaran tertentu yang memerlukan Konsentrasi Pikiran. Tubuh ini dapat diumpamakan seperti Arjuna dalam pewayangan yang selalu memanah dengan tepat pada sasarannya, itu semua berdasarkan konsentrasi pikiran. Dalam melatih Yoga, Meditasi atau ajaran lainnya yang memerlukan konsentrasi pikiran atau yang menginginkan dirinya dapat keluar dari tubuh fisik, bisa pergi kemanapun sesuai tujuan dan keperluannya. Tubuh astral bisa menyerupai berbagai macam bentuk (tergantung visual) yang dapat keluar dari tubuh fisik melalui banyak jalan diantaranya:

  1. Melalui Nadi Sushumna ( tulang punggung/urung gading), tubuh ini akan keluar berbentuk awan putih yang masuk melalui ujung bawah tulang punggung (tulang ekor) terus keatas dan keluar tubuh fisik lewat Ubun-ubun. Tubuh Astral yang keluar dari Ubun-ubun bertujuan lebih Utama / Suci yaitu menjelajahi alam Astral di alam Bhur, Bhuwah dan Svah, misalnya mencari dan menemui Atman / Roh diri sendiri, yang nantinya dapat diminta petunjuknya atau bahkan disemayamkan di Cakra Anahata.
  2. Melalui salah satu atau tujuh lubang tubuh, ini merupakan keluarnya Tubuh Astral yang dipergunakan untuk tujuan tertentu misalnya mengenal alam bawah. Tubuh Astral yang keluar ini dapat berupa apa saja sesuai jalan keluar yang dilaluinya atau kita yang memvisualkan. Sebelum melepaskan tubuh ini (membagi raga) hendaknya segala kemampuan pengontrolan diri baik pikiran, emosi serta mental juga kesadaran diri hendaknya cukup baik dalam artian yang positif. Bila kurang waspada bisa merugikan diri sendiri atau orang lain. Karena semua unsur yang ada, baik positif ataupun negatif pada diri kita akan ikut terbawa keluar bersama tubuh astral.
  3. Keluar melalui Cakra Utama. Biasanya tubuh ini lebih banyak dikeluarkan lewat Cakra Ajna dan Cakra Lalana (melalui mulut) yang dapat berupa bulatan Sinar atau api dengan berbagai macam Warna tergantung tingkat ketinggian ilmu seseorang. Bila sinar / api berwarna kemerahan yang keluar ini mengandung energi yang sifatnya lebih banyak kearah kreatif bahkan banyak negatifnya. Warna Putih kebiruan, Putih kemerahan atau Putih kehijauan ini menunjukan tingkatan yang lebih tinggi dimana energi positif-negatif sangat seimbang dan yang menentukan itu semua adalah orangnya sendiri. Sinar / api yang keluar berwarna putih atau putih terang inilah energi yang lebih banyak unsur positifnya, dan biasanya keluar lewat Cakra Ajna. Semua sinar yang keluar ini pada umumnya melayang diudara bebas dengan ketingian dan tujuan tertentu serta sinar ini tidak nampak oleh mata fisik.

Tubuh Astral ini berhubungan erat dengan aura terutama aura luar. Semua keinginan, sifat, emosi dan nafsu membentuk warna tertentu pada aura luar, dengan warna yang dapat berubah-ubah sesuai keadaan tubuh saat itu. Disaat seperti inilah bila orang yang bisa melihat aura, dapat menilai keadaan seseorang.

Lapisan Tubuh Budhi

Jnana-maya Kosa

Tubuh Somia adalah tempatnya bagi kesadaran dan kebijaksanaan tertinggi bagi tubuh kita inipun sesuai sifat dari Yudistira/Darmawangsa yang selalu menjalankan ajaran Dharma. Kesadaran tentang diri sendiri yang dijadikan pedoman untuk menuju kesadaran Agung (Somia/Buddhi). Tubuh Somia ini tempatnya kebahagiaan yang abadi, keinginan dan kehidupan duniawi tidak banyak berpengaruh. Segala kesadaran yang kita miliki berdasarkan atas Atman dan Brahman. Setelah mencapai kesadaran ini secara otomatis kebijaksanaan akan meningkat mendekati titik tengah (keseimbangan). Dalam menentukan kebijaksanaan tidak dipengaruhi unsur luar sehingga dapat membedakan secara jelas antara benar dan salah, baik dan buruk atau yang lainnya . Bagian tubuh ini akan lebih diulas pada buku lain.

Lapisan Tubuh Atman

Ananda-Maya Kosa

Tubuh Atman ini adalah singgasana emas bagi Atman / Roh Suci. Tubuh ini bisa berupa tempat kosong bagi orang yang belum mengerti tentang fungsi adanya Atman / Rohnya sendiri. Bagi orang yang tahu maka Atman / Rohnya akan ditemui dan diajaknya pulang ke tubuhnya yang nantinya dapat diminta petunjuknya untuk kebaikan diri sendiri. Tubuh ini merupakan tujuan Utama setiap orang yang menjalani spiritual (ajaran Agama). Inilah lapisan terakhir dari tubuh kita yang menentukan segalanya bagi kita terutama mengenal hidup dan menentukan hari kematian kita. Tubuh Atman kita bersikap sangat pasif terhadap apa yang kita pikirkan, kita perbuat dan yang kita kerjakan. Tubuh ini tidak terpengaruh dengan urusan duniawi karena tingkat kesadarannya Sunia dan Tunggal, mutlak atau Esa. Tujuan utamanya hanya memberi kekuatan Hidup ( Prana) pada tubuh fisik kita.

Sloka

Puja Mantra Trisandya 

Marilah kita memuja Tuhan, Ida Hyang Widhi Waça

Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.

Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.

Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.

Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:

Tangan kanan:

Om suddha mam svaha Om bersihkanlah hamba

Tangan kiri:

Om ati suddha mam svaha Om lebih bersihkanlah hamba

Mantram Trisandhya

1 Om bhur bhuvah svahtat savitur varenyambhargo devasya dhimahidhiyo yo nah pracodayat Om adalah bhur bhuvah svah
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
2 Om Narayana evedwam sarvamyad bhutam yac ca bhavyamniskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo asti kascit.
Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
3 Om tvam siwah tvam mahadevahIswarah paramesvarahbrahma visnusca rudrascapurusah parikirtitah Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
4 Om papo’ham papakarmahampapatma papasambhavahtrahi mam pundarikaksasabahyabhyantarah sucih Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
5 Om ksamasva mam mahadevasarvaprani hitankaramam moca sarva papebhyahpalayasva sada siva Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
6 Om ksantavyah kayiko dosahksantavyo. vaciko mamaksantavyo manaso dosahtat pramadat ksamasva mam Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om Santih, Santih, Santih Om. Om. damai. damai, damai, Om.

Panca Sembah

Persiapan sembahyang

Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.

Demikian pula persiapan sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:

  1. Asuci laksana

Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati

  1. Pakaian

Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat atau longgar, warna yang menyolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta setempat, supaya tidak menarik perhatian orang.

  1. Bunga dan kawangen

Bunga dan kawangen adalah lambang kesucian, supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen dapat diganti dengan bunga.

  1. Dupa

Apinya dupa adalah simbul Sang Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sang Hyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya dupa ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman kita di sekitar kita. Selesai persembahyangan sebaiknya dupa dipadamkan dan dibuang.

  1. Tempat Duduk

Tempat duduk hendaknya diusahakan tempat duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak mengganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar mempergunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya.

  1. Sikap duduk

Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik untuk pria ialah sikap padmasana yaitu sikap duduk bersila dan badan tegak lurus. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.

  1. Sikap tangan

Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah cakup ing kara kalih yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari.

Bunga (puspa

Bunga dan kawangen adalah lambang kesucian. Sebagai sarana sembahyang, kita memerlukan yang terbaik, yaitu bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen dapat diganti dengan bunga.

Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa bunga tersebut adalah yang seperti berikut:

Agastyaparwa Artinya:
nihan ikang kembang tan yogya pujakena ring bhatara:
kembang uleren, kembang ruru tan inunduh, kembang laywan-laywan ngara- nya alewas sekar-kembang munggah ring sema, nahan ta lwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika.
Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa diguncang, bunga yang berisi semut, bunga yang layu yaitu yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang baik-baik.

 

Kewangen.

Kewangen adalah nama salah satu sarana sembabyang, Kewangen dibuat dari daun pisang atau janur yang berbentuk kojong. Di dalamnya diisi perlengkapan berupa daun-daunan, hiasan dari rangkaian janur yang disebut sampian kewangen, bunga, uang kepeng dan porosan yang disebut silih asih. Adapun yang dimaksud dengan porosan silih asih adalah dua potong daun sirih yang diisi kapur dan pinang, diatur sedemikian rupa sehingga bila digulung akan tampak bolak-balik, yaitu yang satu potong tampak bagian perutnya dan satu bagian lagi tampak bagian punggungnya

Dalam persembahyangan kewangen dipakai menyembah Ista Dewata. Yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bakti pemujanya. Karena kewangen itu simbul Tuhan maka cara pemakaiannya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan penyembahnya. Hal ini dimaksudkan agar antara yang menyembah dengan yang disembah berhadap-hadapan. Yang merupakan muka kewangen ialah bagian letak uang kepengnya. Bila uang kepeng sulit didapat diganti dengan uang logam.

Urut-urutan Sembahyang

Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti di bawah ini:

  1. Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong)
Mantram: artinya:
Om atma tattvatma suddha mam svaha. Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.
  1. Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya
Mantram: Artinya:
Om Aditisyaparamjyoti,
rakta teja namo’stute,
sveta pankaja madhyastha,
bhaskaraya namo’stute
Om, sinar surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah,
hormat padaMu,
Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih,
Hormat padaMu pembuat sinar.
Sarana bunga
  1. Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan

Ista Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai-bagai wujud-Nya seperti Brahma, Visnu, Isvara, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja ialah Dewi Saraswati dengan Saraswati Stawa. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan stawa-stawa yang lain pula.
Pada persembahyangan umum seperti pada persembahyangan hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa yang berada dimana-mana. Stawanya sebagai berikut:

Mantra Artinya:
Om nama deva adhisthannaya,
sarva vyapi vai sivaya,
padmasana ekapratisthaya,
ardhanaresvaryai namo namah
Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang inggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada dimana-mana, kepada Dewa yang yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Adhanaresvari, hamba menghormat
Sarana kawangen
  1. Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah
Mantra Artinya:
Om anugraha manohara,
devadattanugrahaka,
arcanam sarvapujanam
namah sarvanugrahaka.
Deva devi mahasiddhi,
yajnanga nirmalatmaka,
laksmi siddhisca dirghayuh,
nirvighna sukha vrddhisca
Om, Engkau yang menarik hati, pemberi anugerah,
anugerah pemberian dewa, pujaan semua pujaan,
hormat pada-Mu pemberi semua anugerah.
Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci,
kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegem- biraan dan kemajuan
Sarana bunga
  1. Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong)
Mantram: artinya:
Om deva suksma paramacintyaya nama svaha Om, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang

 TIRTA

Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu. Pada umumnya tirtha itu diperoleh melalui dua cara, yaitu:

  1. Dengan cara memohon di hadapan palinggih Ida Bhatara melalui upacara tertentu. Tirtha yang diperoleh dengan cara ini pada umumnya disebut orang tirtha wangsuh pada atau banyun cokor
  2. Dengan cara membuat (ngareka) yang dilakukan dengan mengucapkan puja-mantra tertentu, oleh beliau yang memiliki wewenang untuk itu. Tirtha yang diperoleh dengan cara ini antara lain adalah: tirtha panglukatan, tirtha prayascita, tirtha durmanggala dan sebagainya, dan juga tirtha-tirtha untuk pamuput upacara yadnya, seperti tirtha pangentas, tirtha panembak dan sebagainya.

Adapun tirtha yang digunakan setelah selesai sembahyang adalah tirtha wangsuh pada Ida Bhatara. Tirtha ini dipercikan di kepala, diminum dan dipakai mencuci muka. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan hati orang menjadi bersih dan suci, yaitu bebas dari segala kekotoran, noda dan dosa, kecemaran dan sejenisnya. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkal ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir bathin.

WIJA atau BIJA

Mawija atau mabija dilakukan setelah usai mathirta, yang merupakan rangkaian terakhir dan suatu upacara persembahyangan. Wija atau bija adalah biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadangkala juga dicampur kunyit (Curcuma Domestica VAL) sehingga berwarna kuning, maka disebutlah bija kuning. Bila dapat supaya diusahakan beras galih yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata).

Wija atau bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija mengandung makna menumbuh- kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Benih itu akan bisa tumbuh dan berkembang apabila ladangnya bersih dan suci, maka itu mewija dilakukan setelah mathirta.

Dalam diri manusia terdapat sifat kedewataan dan sifat keraksasaan yang disebut Daivi-sampat dan Asuri-sampat. Menumbuh- kembangkan benih ke-Siwa-an berarti menumbuhkembangkan sifat kedewataan tersebut agar dapat mengatasi sifat keraksasaan. Kedua sifat itu bersemayam dalam pikiran dan lubuk hati manusia. Untuk tumbuh dan berkembangnya sifat kedewataan atau benih ke-Siwa-an itu dalam pikiran dari hati manusia maka tempat memuja itu yang terpenting di dua tempat, yaitu: pada pikiran dari hati itu sendiri, masing-masing dengan cara menempelkan di tengah-tengah kedua kening dan dengan menelannya. Patut pula diingat bahwa wija di samping sebagai lambang Kumara, juga sebagai sarana persembahan.

Agaknya perlu juga dikemukakan di sini bahwa wija/bija tidak sama dengan bhasma. Kadangkala antara wija/bija dan bhasma itu pengertiannya rancu. Wija tersebut dari beras sedangkan bhasma terbuat dari serbuk cendana yang sangat halus. Serbuk ini diperoleh dengan menggosok-gosokkan kayu cendana yang dibubuhi air di atas sebuah periuk atau dulang dari tanah liat. Kemudian hasil gosokan (asaban) itu diendapkan. Inilah bahan bhasma. Kata bhasma sendiri secara harfiah berarti abu atau serbuk. Kata “bhas” dalam kata bhasma tidak sama dengan kata baas dalam bahasa Bali yang berarti beras. Karena kata Bhasma adalah kata dalam bahasa Sansekerta. Pemakaiannyapun berbeda. Kalau wija umumnya dipakai oleh orang yang masih berstatus walaka, sedangkan bhasma hanya dipakai oleh Sulinggih yang berstatus sebagai anak lingsir. Kata wija berdekatan artinya dengan kata Walaka dan Kumara yang berarti biji benih atau putera.

Bhasma dalam hal ini adalah lambang Sunya atau Siwa. Dengan pemakaian bhasma itu Sulinggih bersangkutan menjadikan dirinya Siwa (Siwa Bhasma), disamping sebagai sarana untuk menyucikan dirinya (Bhasma sesa).

ANEKA GEGURITAN

KIDUNG DEWA YADNYA

  1. Kawitan Warga Sari – Pendahuluan sembahyang
    1. Purwakaning angripta rumning wana ukir.
      Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
      Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.
    2. Sukania harja winangun winarne sari.
      Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
      Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng
  2. Pangayat – Menghaturkan sajen
    Kidung Warga Sari
    1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
      Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
      Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
      Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
    2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
      Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
      Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
      Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
    3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
      Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
      Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
      Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
  1. Pamuspan – Sembahyang
    Merdu – Komala
    1. Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
      Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
      Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
      Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.
    2. Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
      Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
      Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
      Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.
    3. Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
      Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
      lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
      Ring angambeki yoga kiteng sakala.
    4. Katemun ta mareka sitan katemu.
      Kahidepta mareka si tankahidep.
      Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
      Paramartha Siwatwa nira warana.
  2. Nunas tirtha – Mohon tirtha
    1. Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
      Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
      Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
      Sami pada lebur. Malane ring gumi.

KIDUNG MANUSA YADNYA (PERKAWINAN)

  1. Kawitan Tantri – Pendahuluan.
    1. Wuwusan Bhupati. Ring Patali nagantun.
      Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para ratu.
      Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.
    2. Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
      Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari.
      Sri dhara patra sang katong.
    3. Wetning raja wibawa, mas manik penuh.
      Makinda yutan ring bahudanda. Sri Narendra, Sri Singapati,
      Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
      Bratang penacasyan.
      Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.
    4. Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
      Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit. Katinen de Sri Narendra.
      Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.
  2. Demung Sawit (bawak, dawa)
    1. Tuhu atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala.
      Dala kusuma patra nglung,
      Eswarya raja laksmi.
      Sang kulahamenuhi rajya.
      Kwening bala diwarga.
      Mukya sira.
      Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.
    2. Nityasa angulih- ulih amrih sutrepting nagara,
      lan sang paradimantriya.
      Tuhu widagda ngelus bhumi.
      Susandi tinut rasaning aji,
      Kutara manawa.
      Mwang sastra sarodrsti.
      Matangyan tan hanang baya kewuh.
    3. Pirang warsa Sri Nrapati Swaryadala.
      Tusta ngering sana.
      Kaladiwara hayu.
      Sri narapati.
      Lagya gugulingan ring taman.
      Ring yaca ngurddha angunggul.
      Yayamireng tawang.
      Tinum pyata tinukir.
      Kamala kinanda-kada.
      Langu inipacareng santun.
    4. Mangamyat kalangenikang nagara.
      Tisoba awiyar.
      Indra bhuwana nurun,
      Kweh tang pakwana titip.
      Pada kabhi nawa.
      Dening sarwendah linuhung.
      Liwar sukanikang wong.
      Anamtami kapti.
      Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.

KIDUNG PITRA YADNYA

  1. Nedunang layon pacang nyiramang
    Menurunkan Jenazah untuk dimandikan
    Cewana – Girisa
    1. Ata sedengira mantuk sang suralaga ringayun.
      Tucapa aji wiratan. Karyasa nagisi weka.
      Pinahajongira laywan sang putra mala piniwa.
      Pada litu hajenganwam. Lwir kandarpa pina telu.
    2. Lalu laranira nasa sambat putranira pejah.
      Lakibi sira sumengkem ring putra luru kinusa.
      Ginamelira ginanti kang laywan lagi ginugah.
      Inutusira masabda kapwa ajara bibi aji.
  2. Nyiramang layon – Memandikan Jenazah.
    Bala – ugu.
    1. Bala ugu dina melah, manuju tanggal sasih.
      Pan Brayut panamaya. Asisig adyus akramas.
      Sinalinan wastra petak. Mamusti madayang batis.
      Sampun puput maprayoga, tan swe ngemasin-mati.
    2. Ikang layon ginosongan, ne istri tuhu satya, de pamayun matingkah.
      Eteh eteh sang paratra. Toya hening pabresihan.
      Misi ganda burat-wangi. Lengise pudak sategal.
      Sumar ganda mrbuk arum.
    3. Pusuh menuhe uttama. Malem sampun macawisan.
      Tekening edon intaran. Bebek wangi lengis kapur.
      Monmon mirah windusara. Waja meka panca datu.
      Don tuwung sampun masembar. Sikapa kalawan taluh.
    4. Buku-buku panyosalasan. Pagamelane salaka.
      Kawangene panyelawean. Gegalenge satak-seket.
      Sampun puput pabersihan. Winiletang dening kasa.
      Tikeh halus wijil jawa. Lante maulat panyalin.
  3. Mamarga ka setra – Pergi ke Kuburan
    Indra – wangsa
    1. Mamwit narendratmaja ring tapowana.
      Manganjali ryagraning indra parwata.
      Tan wis mrti sangka nikang hayun teka.
      Swabhawa sang sajana rakwa mangkana.
    2. Mangkat dateng toliha rum wulat nira.
      Sinambaying camara sangkaring geger.
      Panawanging mrak panangisnikungalas.
      Erang tininggal masaput-saput hima.
    3. Lunghang lengit lampahira ngawe tana.
      Lawan Sang Erawana bajranaryama.
      Tan warnanen decanikang katungkulan.
      Apan leyep muksa sahinganing mulat.
  4. Ngeseng Sawa – Memperabukan Jenazah.
    1. Sang atapa sakti bhakti, astiti purwa sangkara.
      Yan mati maurip malih. Wisesa sireng bhuwana.
      Putih timur abang wetan. Rahina tatas apadang.
      Titisning jaya kamantyan. Mapageh ta samadinira.
    2. Nghulun angadeg ring natar. Kamajaya cintanya.
      Sang atunggu parawean. Mawungu pakarab-karab.
      Ilangani dasa-mala, amrtang gangga asuci.
      Pamunggal rwaning wandira. Pinaka len prehanira.
    3. Yan sampun sira araup. Isinikang kundi manik.
      Anut marga kita mulih. Yan sira teka ring umah.
      Tutugaken samadinta. Sapangruwat sariranta.
      Isenikang pangasepan. Kunda kumutug samiddanya.
    4. Wewangen dadi tembaga. Rurube kang dadi emas.
      Arenge kang dadi wesi, Awune kang dadi selaka.
      Kukuse kang dadi mega. Yeh iku manadi ujan.
      Tumiba ring Mrecapada. Yeh iku dadi amretta.
  5. Rikala ngayut – Buang abu ke laut.
    1. Ring wetan hana telaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sarira.
      Sakwehing malapataka. kalebura ring tanane.
    2. Ring kidul hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    3. Ring kulon hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    4. Ring lor hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    5. Ring madya hana talaga. Rikata hulun adyusa.
      Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
      Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
      Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.
    6. Sampun ta sira abresih, anambut raja bhusana.
      Binurating sarwa sari. Mrebuk arum gandaning wang.
      Matur sira ring Hyang Guru. Sinung wara nugraha sira.
      Keasunganing mandi swara. Paripurna tur nyewana

Sloka Ketuhanan

SLOKA-SLOKA YANG MENYATAKAN BRAHMAN (TUHAN) MERESAPI SEGALA CIPTAANNYA YANG BERSIFAT TRANSENDENT (NIRGUNA BRAHMAN) DAN IMANEN (SAGUNA BRAHMAN)

I.   Sloka-sloka yang menyatakan Brahman (Tuhan) meresapi segala ciptaannya yang bersifat Transendent  (Nirguna Brahman)

- Tri Sandya bait 2

Om Nārāyana evedam sarvam

yad bhūtam yac ca bhavyam

niskalanko nirānjano nirvikalpo

nirākhyātah çuddho deva eko

nārāyano na dvityo’sti kascit

Artinya:

Om Narayana adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah Dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada duanya.

-   Bhagawad gita XI.40

Namah puras tas atha prstha taste

mamostu te sarvata eva sarva

ananta vi rya mitavikramastvam

sarvam samapnosi sarvah.

Artinya:

Hormat  pada-Mu pada semua sisi, O Tuhan, Engkau adalah semua yang ada, tak  terbatas dalam kekuatan, tak terbatas dalam keperkasaan, engkau memenuhi segala. Karena itu Engkaulah segala itu.

-   Svetasvatara Up.VI.11

Eko devas sarva-bhutesu Gudas

sarva  vyapi sarva bhutantar

atma karmadhyaksas sarva

Bhuta dhivasas saksi ceta

Kevalo  irgunasca

Artinya:

Tuhan yang tunggal berada pada semua makhluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua makhluk, hakim semua perbuatan, yang berada pada semua makhluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari  kualitas apapun.

-   Bhuwanakosa II.16

Bhatara Siwa sira eyapaka, sira suksma tar

Kneng  angen-angen, kadyangganing akasa

Tan kagrhita de ning manah mwang indriya

Artinya:

Bhatara Siwa, meresapi  segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa tak terjangkau oleh pikiran dan indriya.

-   Mundaka Upanisad II.2

Divyo hy amurtah purusah sa

Bahyabyantaro hy ajah

Aprana hy amanah subhro aksarat

Paratah  parah

Artinya:

Tanpa bentuk  dan bersifat  Ilahi-lah makhluk ini, dia ada di luar dan di dalam, tiada dilahirkan, tanpa nafas dan tanpa pikiran, murni dan lebih tinggi dari yang kekal yang tertinggi.

-   Taittiriya Upanisad 2.1.1

Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta

Satyam  jnanam anantam Brahma Veda

Nihitam guhayah parame vyman so’ snute

Kaman vipascita iti

Artinya:

Ia yang  mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang  bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi  segala keinginannya dalam kesatuan  dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui..

-   Bhagawad Gita  IX.4

Maya tatam idam sarvam  jagad awyakmurtina

Matsthani sarwabhutani na cha’ha, tesw awasthitah

Artinya:

Aku berada dimana-mana dalam alam semesta ini dengan bentuk-Ku yang tak  terwujud, semua makhluk  berada di dalam Aku, tetapi Aku tidak menetap di dalam mereka.

-   Bhagawad Gita VIII.15

Bahir antas ca bhutanam Acharam charam eva cha

Sukshmatvat tad avijneyam durastham cha ntike cha tat.

Artinya:

Ada diluar dan di dalam semua insani. Tiada bergerak tetapi bergerak  senantiasa terlalu amat halus untuk diketahui jauh  nian, namun juga dekat sekali.

II. Sloka-sloka yang menyatakan Brahman (Tuhan) meresap dalam segala ciptaannya yang bersifat imanen (Saguna Brahman)

*   Svetasvatara Upanisad II.17

Yo devo’gnau yo’psu, yo visvam bhuvanamavisesa,

Yo asadhisu yp vanaspatisu, tasmai devaya namo namah

Artinya:

Sujud pada Tuhan yang berada pada api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu..

*   Bhuwanakosa III.76

Lwir Bhatara Siwa magawe jagat,

Brahma rupa siram pasrti jagat,

Wisnu rupa sira pangraksang jagat

Rudra Rupa nira mralayaken rat

Nahan tawaknica, bheda nama

Artinya:

Adapun Tuhan membuat dunia, berwujud Brahma menciptakan dunia, berwujud  Wisnu  Beliau memelihara dunia, berwujud Rudra Beliau  memusnahkan dunia, demikianlah tiga perwujudan Beliau (yang Tunggal) berbeda nama.

*   Wrhaspati Tattwa 11 – 12

Swayaparah  siwah suryah caitta tattwah sadasiwah,

Sapadah saguna wyapi arupatwat pracaryate

Utpadako na sahakah tattsyanugraha  parah,

Wirocanakaro nityah  sarwajnah sarwakrdbibhuh

Artinya:

Sadasiwa adalah Cetana (Tuhan) yang telah aktif (sawyaparah) telah berfungsi dan berkhasiat, (misalnya) suka menampuni  (siwah), memberi sinar penerangan (suryah), dapat menjadi  sekecil-kecilnya (wyapi), tiada berwujud (Arupa), dan menjadi obyek pujaan dari segala makhluk. Sebagai pencipta, pelebur (dan) memberkati. Karunia (Pemelihara) pada dunia raya, memberi sinar-cahaya (sebagai  wokosana, serba tahu, maha kaya, ada dimana-mana (dan) kekal abadi.

*   Yajur Veda 32.1

Tad  eva agnis tad adityas

tad  vajur tad u candramah

tad  eva sukran tad Brahma

ta apah tad prajapatih

Artinya:

Agni  adalah itu, Aditya adalah itu, Vayu adalah itu, Candramas adalah itu, Sinar adalah itu, Air juga adalah dia dan prajapati  adalah dia.

*   Bhagawad Gita XV.15

Sakvasyo cha ham hrdi samnivisshta

mattah  smritir jnanam apohanam cha

vedais cha sarvair aham eva vedyo

vedantakrid  vedavis eva cha ham.

Artinya:

Aku  bersemayam dalam hati semua makhluk dari Aku timbulnya  ingatan  dan pengetahuan, demikianlah juga halnya ingatan dan  pengetahuan itu. Aku adalah Dia, yang sebenarnya harus dikenal oleh keempat weda-weda. Akulah yang sebenarnya pengarang  wedanta (weda-weda ) dan Aku juga yang mengetahui weda.

Upacara dan Upakara

Etika Upacara

Etika

Etika adalah pengetahuan tentang kesusilaan. Kesusilaan terbentuk kaidah yang berisi larangan larangan atau suruhan-suruhan untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian dalam etika kita akan dapati ajaran tentang perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik itulah supaya dilaksanakan dan perbuatan yang buruk dihindari.

Tiap-tiap perbuatan itu berdasarkan atas kehendak atau budhi. Jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak, oleh karena manusia dihadapkan kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk maka ia harus mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Namun bebaskah manusia sebebas-bebasnya memilih menurut kehendaknya ? Dalam hubungan ini manusia mempunyai kebebasan yang terbatas juga. Yang membatasinya itu adalah norma-norma yang berlaku.

Pada mulanya norma berarti penyiku, suatu perkakas yang dipergunakan oleh tukang kayu untuk mengetahui apakah suatu sudut memang benar-benar siku-siku. Bahkan pembuat perabot rumah tidak akan secara untung-untungan menggergaji sebilah papan, sebelum itu menggambarkan sebuah sudut siku-siku pada papan tersebut. Dengan demikian norma berarti sebuah ukuran yang kemudian dalam hubungan dengan etika berarti pedoman, ukuran atau haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup dan alam.

Etika dalam agama Hindu norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikianlah pola-pola kepercayaan, paham-paham filsafat agama Hindu mempunyai kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu. Kepercayaan agama Hindu berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa yang berada di mana-mana, yang mengetahui segala sesuatu, Ia adalah saksi yang menjadi saksi segala perbuatan manusia. Karena itu manusia tidak dapat menyembunyikan segala perbuatannya terhadap Tuhan baik perbuatan itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.

Di dalam kitab suci Manawadharmasastra agar hidup ini didasarkan atas dharma, ini berarti kita harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar sehingga kita mendapatkan kerahayuan. Hanya dengan melaksanakan dharma orang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Manu Smerti IV, 70 menyebutkan:

Adharmiko naro yo hi

yasya capyam rtam uhanam,

hingsaratas ca yo nityam

nehasau sukhamedate

artinya:

Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah berbahagia di dunia ini.

Agar tidak dikuasai oleh kecendrungan-kecendrungan sifat seperti disebutkan sloka di atas, kita harus berusaha mengendalikan diri dari guncangan-guncangan hati dari hal-hal yang tidak baik. Karena guncangan-guncangan itu semula ada dalam angan yang dikemas dalam bentuk keinginan. Setiap keinginan menuntut kepuasan pada obyeknya dan indriya merupakan salah satu alat untuk memenuhi keinginan itu. Bahkan tidak jarang orang mendapat celaka karena terlalu memenuhi keinginan indriyanya. Karena itu orang harus dapat mengendalikan indriyanya kearah yang positif, tentu hal seperti ini harus diikuti pula dengan beretika yang baik, yang etis dan tepat baik ditempat-tempat umum apalagi di daerah atau lokasi yang dianggap suci, misalnya dilokasi pura dengan harapan agar kita selalu mendapat kerahayuan. Di dalam kitab Sarasamuccaya 71 menyatakan demikian:

Nyang pajara waneh, indriya ikang sinanggah

suarga naraka, kramanya, yan kawasa

kahrtanya, ya ika saksat swarga ngaranya, yapwan

tan kawasa kahrtanya saksat naraka ika.

artinya:

Inilah yang patut saya ajarakan lagi, indryalah yang dianggap sorga dan neraka. Bila orang sanggup mengendalikannya, itu semata-mata sorga namanya, tetapi bila tidak sanggup mengendalikannya benar-benar nerakalah dia.

Upacara

Upacara, kata upacara berakar dari dua suku kata, yaitu upa dan cara. Upa artinya dekat atau mendekat. Dan cara berakar dari urat kata Car yang memiliki arti harmonis, seimbang, selaras. Upacara memiliki arti atau makna. Dengan keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan dalam diri, kita mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebelum kita ingin mendekatkan diri kepadaNya, hendaknya terlebih dahulu kita dapat menciptakan keseimbangan dan keselarasan serta keharmonisan dalam diri kita, agar dapat terwujudnya keharmonisan dalam diri kita, agar dapat terwujudnya keharmonisan dengan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena kesempurnaan seseorang di dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya, bukanlah dinilai dari seringnya dia sembahyang atau mempersembahkan upacara atau upakara yang megah dan meriah saja, melainkan ketaquaan (baktinya) seseorang di dalam beragama di nilai sejauh mana mereka dapat merubah sikap, mental dan prilakunya sehari-hari menuju kebajikan-kebajikan sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran agamanya. Dan dapat secara nyata diaktualisasikan dan divisualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu semua ini tidak terlepas dari sikap dan mental melalui, etika, etiket, etik dan moral yang tinggi dengan ketulusan dan keikhlasan.

Karena seberapapun besarnya suatu upacara atau pun upakara yang dipersembahkan, tanpa dilandasi dengan hati yang suci serta ketulus ikhlasan, dan tanpa dibarengi dengan pemahaman akan makna dan tujuan dari yajna yang kita laksanakan sudah tentu tidak akan mendapatkan pahala sesuai yang kita harapkan, hanya akan memuaskan kesenangan panca indriya saja. Yang justru akan dapat menjerumuskan kita ke lembah kesengsaraan.

Kita dilahirkan sebagai manusia yang merupakan makhluk yang paling sempurna diantara tumbuh-tumbuhan dan hewan, sudah sepantasnya kita selalu berbuat baik yang di dalam ajaran agama Hindu telah dicantumkan dalam kita suci Sarasamuccaya yang bunyinya sebagai berikut:

Sebagai manusia sudah merupakan satu pahala, dan karena itu merupakan satu kesempatan bagi manusia untuk dapat memperbaiki dirinya dengan melebur atau mengalahkan perbuatan yang tidak baik dengan perbuatan yang baik selalu. Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik; demikian keistimewaan menjadi manusia itu. (Sarasamuccaya, sloka 4).

Dari kutipan sloka di atas adalah merupakan suatu pijakan bagi kita bahwa setiap tindakan kita selalu berbuat yang baik, berkata yang baik dan berpikir yang baik dan benar, itulah sebabnya suatu kode etik, moral sebagai insan yang beretika patut dijaga baik ditengah-tengah keluarga, masyarakat (Desa Pakraman dalam suatu pertemuan) maupun terhadap bangsa dan negara. Dengan memperhatikan judul makalah ini yaitu Etika Pada Upacara Piodalan di Pura Puseh maka penulis perlu mengemukakan tentang masalah etika, karena di samping terhadap sesama juga yang tidak kalah penting beretika di dalam memuja dan memuji kebesaran dari Hyang Widhi, baik melalui lantunan kidung suci maupun dalam bentuk persembahyangan atau melalui upacara sembahyang. Sudah barang tentu sebelum upacara dimaksud (upacara sembahyang) dimulai biasanya di dahului dengan pertemuan-pertemuan khusus oleh Desa Pekraman yang merumuskan tentang masalah piodalan di Pura Puseh melalui rapat Desa Adat untuk membahas upakara yadnya yang akan digelar, agar lebih tertib da lancar, dan ini bisanya dilakukan beberapa hari sebelum acara puncak dimulai.

Beberapa Ajaran Etika Dalam Kitab Suci Hindu

1. Weda

Segala yang ada ini tunduk pada rta. Demikian pula halnya dengan manusia, dengan mengikuti rta orang akan hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia. Weda mengajarkan bahwa orang harus bakti kepada Tuhan. Di samping bukti kepada Tuhan orang harus memperhatikan orang lain, saling kasih mengasihi satu sama lain, sehingga hidup damai, hidup dalam suasana persahabatan. Kutipan berikut mencerminkan hal ini:

Mitrasya ma caksusa sarwani butani samiksantam

Mitrasya ham caksusa parwani butanisamikse

Mitrasya caksusa samiksamahe

(Ayur Veda, 26.2).

Terjemahan:

Semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat.

Semoga saya memandang semua makhluk dengan pandangan mata seorang sahabat.

Semoga kami pandang memandang dengan pandangan mata seorang sahabat.

Dengan hidup bersahabat berarti orang harus kasih sayang kepada orang lain; hormat kepada orang tua, menjauhi kebencian mendambakan kesatuan dan persatuan.

2.   Etika Dalam Manusmerti

Manusmerti adalah salah satu kitab Dharmasastra yang terbaik. Di dalam kitab ini banyak terdapat ajaran etika, kitab ini mengajarkan agar hidup ini didasarkan atas dharma. Ini berarti kita harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar, sehingga kita mendapatkan kerahayuan. Hanya dengan melaksanakan dharma orang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan diakhirat, Manusmerti menyebutkan:

Adharmiko naro yo hi

yasya capyanrtam uhanam,

hingsaratas ca yo nityam

nehasan sukhamedate

Terjemahannya:

Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah bahagia di dunia ini.

Salah satu dharma kita yang amat mulai ialah hormat kepada ibu dan bapak. Demikian pula kepada ibu dan bapak guru di sekolah. Ibu dan bapaklah yang menyebabkan kita ada yang merawat dan membiayai hidup kita sejak kecil. Tiada kasih yang dapat menyamai kasih ibu. Lalu apakah yang kita pakai membalas jasa ibu ? hanya baktilah pesembahan kita kepada mereka. Dengan kita bakti mempersenang mereka dan ia akan memperbaiki kita.

3. Etika Dalam Mahabharata

Mahabharata adalah salah satu kitab Itihasa. Itihasa yang lain adalah Ramayana. Mahabratha mengajarkan supaya orang menaruh kasih sayang, rasa bersahabat, rasa simpati dan beritikad baik terhadap semua makhluk. Ini semuanya akan mengantarkan orang kepada kedamaian dan dengan kedamaian orang akan dapat mewujudkan kejesahteraan hidup, kebahagiaan, hidup sehat lahir bathin. Kutipan berikut menunjukkan hal ini.

Yadenyesam hitam masyat atmanah, karma purusam

Srapatrapeta wa yena tat kuryat katamcana

(Mahabharata)

Terjemahan:

Perbuatan yang tidak mengantarkan orang kepada kerahayuan, atau membawa malu kepada kita, jangnlah itu dilakukan kepada siapapun.

Sarwe bhawantu sukhimah

sarwe santu nirmayah

sarwe bhadrani pasyantu

ma kascid duh khabag bhawed

(Mahabharata)

Terjemahan:

Semoga semua bahagia

semoga semua sehat dan jujur

semoga semua menjumpai kebahagiaan

semoga tidak ada yang sengsara.

Dari beberapa kutipan sloka di atas, bila diperhatikan dan dimaknai dengan hati-hati, maka tujuannya sangat jelas bahwa hidup ini tidak terlepas dari karma dan bakti kita kepada Hyang Widhi juga terhadap orang tua maupun terhadap sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Butha Yajna 

Memberikan persembahan atau yajna ditujukan  kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan  pencipta alam semesta beserta segenap isinya, melainkan juga untuk semua ciptaanNya termasuk  kehadapan makhluk bawahan dan bhuta kala.  Yajna yang ditujukan kehadapanpara bhuta ini disebut dengan bhuta yajna. Makhluk bawahan dan juga  para bhuta kala merupakan ciptaan Tuhan, semua yang ada di dunia ini merupakan  ciptaanNya. Terhadap ciptaanNya  itu umat Hindu wajib memberikan persembahan yang tulus ikhlas  sesuai dengan kemampuannya.

Melalui sarana upakara atau sajen umat Hindu ingin menghormati  dan memberikan persembahan suci terhadap bhuta kala. dengan beryajna  berarti pula memberikan penghormatan, selain itu  melalui yajna ingin meberikan pengorbanan serta penyupatan terhadap  makhluk hidup. Pelaksanaan  bhuta yajna berkaitan  dengan pelaksanaan  yajna yang lainnya dalam panca yajna. Pelaksanaan bhuta yajna memiliki tingkatan, dari yang  paling kecil, tingkatan menengah sampai dengan tingkatan yang paling besar atau dalam istilah  bahasa Bali disebut  dengan  tingkatan alit, tingkatan madya dan tingkatan  utama. Namun dalam  pelaksanaannya disesuaikan  dengan jenis yajna yang dilaksanakan, dan biasanya  dilaksanakan dalam waktu sehari-hari atau nitya karma maupun dalam waktu-waktu tertentu atau naimitika karma.

Pada dasarnya bahwa pelaksanaan bhuta yajna memiliki sifat  kebersamaan  dengan jenis pengorbanan  atau yajna yang lainnya baik Dewa yajna, Rsi yajna, Pitra yajna, Manusa yajna, Bhuta yajna, maupun  yajna yang lainnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Apalagi yang pelaksanaannya  khusus untuk jenis-jenis bhuta yajna itu sendiri juga mempunyai rangkaian dengan yajna yang satu dengan yang lainnya.

Apabila kita  memperhatikan hakikat dari pelaksanaan bhuta yajna atau pecaruan (caru) yaitu untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan diantara semua kekuatan alam di dunia ini. Dengan pelaksanaan bhuta yajna ini diupayakan  adanya kestabilan dan keharmonisan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak diharapkan adanya gangguan ataupun godaan yang mengganggu kehidupan di alam  semesta ini. Dengan tumbuhnya  suasana nyaman dan tentram, tentunya tujuan hidup manusia menjadi terwujud yakni mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang kekal dan abadi, yang di dalam ajaran agama Hindu disebut Moksartham  jagadhita ya ca iti dharma.

Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atau Hyang Widhi. Diantara ciptaan Tuhan maka manusia merupakan  ciptaanNya yang paling sempurna, karena manusia dapat berbuat, berkata-kata dan memiliki pikiran atau dengan  kata lain manusia memiliki unsur Tri Pramana yakni  bayu, sabda dan idep. Dengan  kesempurnaannya inilah  manusia wajib  menghormati dan menghargai semua ciptaan Tuhan, sebagai mana ada yang ditegaskan dalam kitab suci Chandogya Upanisad, 3.14.1, ada menegaskan dalam  slokanya yang  berbunyi “Sarwa idam khalu Brahman”, yang maksudnya  yaitu segala yang ada ini tidak lain  berasal dari pada Brahman.

Dari kutipan  sloka di atas bahwa makna  yang terkandung  didalamnya  adalah di mana Tuhan atau  Hyang Widhi itu maha kuasa dan maha pencipta, Tuhan dapat  menciptakan  segala-galanya  yang ada di dunia ini. Ciptaan itu seperti  manusia, binatang atau hewan, tumbuh-tumbuhan, bumi, bulan, matahari, bintang, benda-benda yang  besar, benda-benda yang kecil  yang nampak  dan yang tidak  tampak oleh mata, benda halus, termasuk juga kekuatan alam yang  dapat  menguntungkan kehidupan  manusia ini,  makhluk-makhluk lainnya  yang dapat menganggu kehidupan manusia di dunia ini, seperti  para bhuta kala, jin, setan serta yang lainnya. Terhadap kesemuanya itu manusia wajib menghormatinya dan memberikan persembahan. Jadi manusia  wajib pula melaksanakan upacara keagamaan yang ditujukan  kehadapan makhluk bawahan atau dengan para butha kala. Kewajiban umat Hindu untuk melaksanakan atau melakukan  persembahan (yajna) yang jumlahnya ada lima macam yajna, dan ada ditegaskan dalam kitab suci Manawadharmasastra, IV,21, yang bunyinya sebagai berikut:

                  “Rsi yajnam dewa yajnam,

                  bhuta yajnam ca sarwada,

                  nryajnam pitra yajnam ca,

                  yatha sakti na hapayet”

      yang artinya:

Hendaknya  jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi yajna, dewa yajna, bhuta yajna, manusa yajna, dan pitra yajna

Menyimak  makna sloka  di atas, tentu kewajiban umat untuk beryajna tertuju pada seluruh aspek kehidupan di dunia ini, juga halnya  melaksanakan upacara bhuta yajna merupakan usaha yang  mulia dan terhormat. Melalui  pelaksanaan  bhuta yajna terselip makna untuk menyelamatkan dan memperhatikan kekuatan alam semesta termasuk  para bhuta kala walaupun dalam tingkat kedudukannya memang lebih rendah dari manusia. Para bhuta dan kala perlu diberikan persembahan demi untuk keselamatan bersama.

Jangankan para bhuta dan kala  itu dikatakan suka  menganggu kehidupan ini, yang dikatakan memiliki suatu sifat pengganggu, pemarah, pengacau dan yang lainnya, maka manusia pun  kalau kita sadari juga  sama memiliki sifat-sifat seperti bhuta dan kala. Menangnya manusia memiliki kelebihan akal dan pikiran, namun akal dan pikirannya terkadang sering kacau balau,  sering bingung, sering marah, sering mengamuk, dan sebagainya, Semua sifat itu tiada lain  sebenarnya juga merupakan sifat dari bhuta kala.

Di dalam  kitab Ramayana ada ditegaskan “ragadi musuh maparo rehati tonggawannya tan madoh ring awak”, yang maksudnya bahwa musuh itu  tidak jauh  tempatnya yaitu  di dalam hati atau di dalam diri manusia itu sendiri. Di samping itu  juga ditegaskan dalam pelajaran agama yaitu  mengenai Sad Ripu, bahwa  pada diri manusia  terdapat  enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yang antara lain: kama artinya  sifat penuh nafsu indrya, loba artinya sifat loba dan serakah,  krodha artinya  sifat kejam dan pemarah,  madha adalah  sifat mabuk-mabukan dan kegila-gilaan, moha adalah sifat bingung dan angkuh sedangkan matsarya adalah sifat dengki dan iri hati.

Musuh yang ada di dalam diri manusia disebut dengan sad ripu, musuh dalam diri itu memang sangat ganas dan kejam sekali dan dapat menjerumuskan diri sendiri. Dalam diri manusia  juga memiliki sifat yang dapat menggelapkan jalan hidup kita yang dikenal dengan sapta timira dan banyak lagi yang  lainnya. Untuk itu bagaimana  manusia itu dapat mengendalikannya, agar tidak sampai merusak dirinya sendiri. Salah satu usaha manusia untuk mengupayakannya adalah  dengan melaksanakan upacara  bhuta yajna. Upacara bhuta yajna ini memiliki makna  spiritual yang merupakan usaha untuk menghormati, menyelamatkan, dan meningkatkan derajat kehidupan  para bhuta kala itu sendiri.

Lebih lanjut  mengenai pengertian bhuta yajna dapat dilihat  di dalam kitab suci Manawadharmasastra, bab III sloka 70 yang berbunyi sebagai berikut:

                  “Adhyapanam  brahma yajnah,

                  pitr yajnastu tarpanam,

                  homo daiwo  balibhaurto

                  nr yajno tithi pujanam”.

yang artinya:

Mengajar dan belajar adalah  yajna bagi Brahman, menghaturkan tarpana  dan air suci adalah yajna untuk leluhur, menghaturkan minyak dan susu adalah yajna untuk para Dewa, mempersembahkan  Bali adalah yajna  untuk para  bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah yajna untuk manusia.

Dari kutipan sloka  di atas terdapat makna  pelaksanaan bhuta yajna yakni dengan mempersembahkan Bali adalah yajna untuk  bhuta.  Dari sloka  di atas terdapat  makna Bali, sesungguhnya  adalah pelaksanaan untuk para bhuta. Jadi Bali merupakan  nama yajna  untuk dipersembahkan  kehadapan para  bhuta kala.

Kemudian  kalau kita perhatikan kitab Agastya Parwa ada  pula menegaskan  tentang makna  upacara bhuta yajna yang menyebutnya  dengan istilah  walikrama, yang antara lain ada dinyatakan:

“Tawur muang  kapujan ing tuwuh pamungwan kunda wulan makadi walikrama, ekadasadewata mandala ya bhuta yajna ngaranya…”.

Dalam kutipan  tersebut mengandung  arti: Bhuta  yajna adalah  tawur (caru) dan selamatan kepada segala tumbuh-tumbuhan  persembahan dalam periuk bulan, seperti Balikrama dan persembahan   di atas  altar / lapangan kepada sebelas  dewata  atau ekadasa dewata itu dinamakan bhuta yajna. Apa yang  dinyatakan dalam kutipan di atas  itu merupakan wujud  pelaksanaan dari pada upacara  bhuta yajna yaitu dengan  mempersembahkan tawur atau caru sebagai upacara selamatan kepada para bhuta, sebagimana yang ditegaskan  di atas dinamakan Balikrama atau Bhuta yajna. Juga kalau kita perhatikan kitab suci Sarasamusccaya ada pula mengatakan  tentang bhuta yajna, yang bunyinya:

 “Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, asubhesu sama vistam subheve va va karayet” (Sarasamuccaya, 2).

yang artinya:

Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun yang buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah  gunanya atau phalanya menjadi manusia.

Dengan  memperhatikan sloka-sloka tersebut di atas bahwa manusia juga termasuk bhuta, namun manusia mempunyai kesempatan yang mulia untuk berbuat kebaikan dan berbuat sesuatu yang dapat  menyelamatkan bhuta atau makhluk-makhluk yang lainnya dengan pelaksanaan upacara  bhuta yajna. Tetapi kalau manusia itu  tidak mempergunakan kesempatannya yang baik itu untuk  beramal kebaikan atau  selalu berbuat  buruk, maka  tidak jauh berbeda bahwa  manusia  memiliki juga sifat-sifat bhuta  dan  kala atau ketamakan, yang dikenal dengan istilah asubhakarma. Oleh karena itu  lenyapkanlah  sifat  tamak atau asubhakarma itu menuju sifat subhakarma atau kebajikan yang berlandaskan dharma.

Dari uraian-uraian di atas upacara bhuta yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada sekalian makhluk-mahluk  bawahan, baik  yang kelihatan  maupun makhluk yang tidak kelihatan untuk memelihara  kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. Bhuta yajna merupakan  cinta kasih  terhadap sesama  makhluk hidup, baik yang nampak maupun  tidak nampak, sebagai sesama makhluk  yang erat  dengan kehidupan manusia. Upacara bhuta yajna  sebagai upacara  korban suci untuk makhluk-makhluk halus dengan harapan agar tidak mengganggu keselamatan dunia.  Atau dengan kata lain  bahwa upacara  bhuta yajna  adalah suatu  korban suci  yang bertujuan untuk  membersihkan  tempat (alam beserta isinya) dan memelihara  serta memberi “penyupatan” kepada para bhuta kala dan makhluk-makhluk yang dianggap  lebih rendah  dari manusia, seperti  peri, jin, setan, binatang dan sebagainya.

Upacara Bhuta Yajna

Bhuta yajna adalah yajna yang ditujukan kepada bhuta kala yang menganggu  ketentraman kehidupan manusia. Bagi masyarakat  Hindu, bhuta kala ini diyakini sebagai kekuatan-kekuatan yang bersifat  negatif yang sering  menimbulkan gangguan serta  bencana, tetapi dengan bhuta yajna maka kekuatan-kekuatan tersebut akan dapat menolong  dan melindungi kehidupan manusia.

Bhuta yajna  pada umumnya dapat dibagi menjadi  tiga tingkatan, yaitu upacara bhuta yajna dalam tingkatan kecil seperti segehan dan yang setingkat, upacara bhuta yajna dalam tingkatan sedang (madya) yang disebut “CARU”, dan  upacara bhuta yajna alam  tingkatan yang besar (utama).

Tujuan  Upacara Bhuta Yajna

Melaksanakan  upacara bhuta yajna  mengandung nilai spiritual. Adapun tujuan umat Hindu memberikan persembahan terhadap para  bhuta  dan kala serta kekuatan alam melalui upacara bhuta yajna adalah:

1.  Untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.

2.  Sebagai wujud rasa terima kasih kehadapan Hyang Widhi, para dewa, leluhur, dan unsur kekuatan  alam yang   secara filosofis  menggunakan  tumbuh-tumbuhan serta  binatang / hewan dalam upacara  bhuta yajna  yang bertujuan untuk pembebasan  dan peningkatan terhadap  jiwanya.

3.  Untuk mengusir roh-roh jahat dan kekuatan alam yang menganggu kehidupan manusia.

4.  Memberikan kesenangan dan kenyamanan terhadap  roh-roh  para buta dan kala, agar tidak menganggu atau setidak-tidaknya memberikan jalan yang benar dan kelancaran  pelaksanaan upacara tersebut.

5.  Untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, agar beliau memberikan kekuatan  serta mengatur ciptaanNya, sehingga tidak menimbulkan bencana atau malapetaka .

6. Untuk  pembersihan alam semesta, bhuta kala dan makhluk, agar terhindar dari pengaruh atau sifat buruk yang mengganggu manusia dan sebaliknya agar kekuatan alam itu dapat  melindunginya.

Demikianlah beberapa pengharapan  yang berkaitan dengan  pelaksanaan upacara bhuta yajna, yang merupakan  swadharma umat Hindu sebagai usaha penyelamatan  dan penyucian  demi terciptanya keharmonisan dan juga untuk tegaknya kebenaran dan dharma. Dan dalam penulisan makalah yang sederhana ini, penulis membatasi tulisannya hanya berkisar pada masalah pecaruan pada upacara Piodalan di Pura Puseh (sesuai dengan judulnya).

Sumber Ajaran

Bhuta yajna, korban kepada Bhutakala, adalah bersumber dari ajaran keagamaan Tantrayana. Tantrayana  termasuk Sekta Sakta atau Saktiisme, dari mazab Siva (Siva Paksa). Disebut Saktiisme, karena yang  dijadikan obyek persembahannya adalah Sakti. Sakti dilukiskan  sebagai Dewi, sumber kekuatan atau tenaga. Sakti adalah simbol  dari bala atau kekuatan (Sakti is the symbol of bala or strength) (Das Gupta, 1955: 100). Dalam sisi lain Sakti juga disamakan dengan energi atau kala (This sakti or energi is also regarded as “Kala” or time). (Das Gupta, ibid).

Dengan demikian Saktiisme sama dengan Kalaisme. Sekte  keagamaan “Kalaisme” disebut juga “Kalamukha” atau “Kalikas” dan disebut juga “Kapalikas”. Sekte ini  sejenis dengan aliran “Bhairawa” atau Tantrayana kiri. Pengikut dari  sekte ini di India kebanyakan dari suku  Dravida, penduduk asli India, dari pendekatan Anthropologi budaya, kepercayaan sejenis ini disebut Dynamisme.

Oleh karena pengikut sekte ini  kebanyakan penduduk asli India, maka jadi juga disebut “Sudra kapalikas” . Pengikut  ini tidak percaya  kepada sistem “kasta”. Dan pengikut ini  selalu melaksanakan “Panca Ma” sebagai bagian  dari pelaksanaan ritual mereka. Panca Ma itu adalah: Makan daging (Mamsa), Makan Ikan (Matsya), minum-minuman keras (Mada), Mudra (melakukan gerak tangan). Mytuna (mengadakan  hubungan cinta yang berlebih-lebihan). Ajaran  ini hanya bersifat  pemuasan nafsu dan dikucilkan  dari Veda. Aliran ini memuja Devi sebagai  Ibu,  baik Bhairavi, Ibu Durga maupun Kali. Mereka dalah “Super matrial power”.

Ibu Durga atau Bhairavi inilah yang  melahirkan para Bhuta-bhuti dengan kekuatan Yoga-Nya. Perihal penciptaan ini banyak diuraikan dalam berbagai lontar yang bersifat Tantrayana di Bali.

Tapi dalam Dharma Sastra, para golongan  Bhutakala ini, yang termasuk golongan Sadya adalah diciptakan oleh Brahman. Golongan Sadya itu terdiri dari makhluk astral yang  tingkatannya lebih  rendah dari Dewa-dewa. Mereka mempunyai sifat bermacam-macam. Menurut  Manava Dharma Sastra III.196, golongan Sadya ini terdiri dari berbagai jenis  Daitya, Danava, Raksasa, Yaksa, Gandharva, Naga, Saparna dan Kinnara

Mawinten

Mawinten adalah salah satu  upacara dalam manusa yadnya. Mawinten berasal  dari kata “winten” (inten), adalah nama permata berwarna putih  yang mempunyai sifat mulia, dapat memancarkan sinar  berkilauan  yang menyenangkan hati para peminat serta pemiliknya.

Mawinten  adalah upacara untuk  penyucian diri secara lahir dan batin. Secara lahir bertujuan untuk mensucikan  diri dari  mala atau  kotoran yang berada dalam dirinya  sedangkan  secara batin  adalah bertujuan untuk memohon  penyucian diri dari Sang Hyang Widhi  Wasa, agar diberikan wara nugraha dalam mempelajari ilmu  pengetahuan  yang bersifat suci seperti kesusilaan, keagamaan dan selanjutnya dapat mengamalkan ajaran-ajaran  tersebut baik untuk diri maupun untuk orang lain.

Sebelum melaksanakan upacara  mawinten, yang  bersangkutan sebelumnya  melaksanakan  upacara “pangidep hati”, yang bertujuan agar dalam belajar  selanjutnya mendapatkan tuntunan kearah yang lebih terang. Mengenai batas  umur pelaksanaan  upacara pengidep hati ini diberikan waktu  dapat dimulai dari umur 5 tahun atau setelah tanggal gigi pertama.

Keyakinan  umat Hindu terhadap  ajaran gamanya, khususnya terhadap sradha samsara yaitu menjelma atau lahir kembali, bertujuan untuk menebus dosa yang masih tersisa akibat karma pala pada   kehidupannya yang telah silam. Menjelma kembali, adalah suatu kesempatan untuk  memperbaiki kesalahan-kesalahan, sehingga akhirnya dapat mencapai kesempurnaaan hidup sesuai dengan tujuan agama Hindu, yang tersebut dalam  Weda yaitu “Mokshartam Jagad Hita Ya Ca Iti Dharmah”,  yang maksudnya  untuk mencapai kesejahteraan  lahir dan batin. Secara lahir, dilaksanakannya upacara “pangidep hati” untuk  pengendalian diri atas tuntunan indriya dan pikiran. Secara batin, pawintenan itu dilaksanakan dengan upacara. Upacara adalah rangkaian  kegiatan  manusia  untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memohon kerahayuan.

Semua  upacara-upacara tersebut, ditujukan  kehadapa Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya, karena Hyang Widhi Wasa diyakini sebagai penyelamat dalam kehidupannya, sesuai dengan  ucap tuntunan pustaka suci Reg Veda VI, sloka 47.11. yang  dinyatakan sebagai berikut:

Tra tāram indram avitāram indram,

Have have suhavam sūram indram,

Hva yāmi sakram puru hūtam indaram,

Svasti no maghabā dhātvindrah

Artinya:

Tuhan sebagai penolong, Tuhan sebagai penyelamat, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dipuja dengan gembira dalam setiap pemujaan,  Tuhan Maha Sakti selalu dipuja, kami memohon semoga Tuhan Yang Maha Pemurah melimpahkan  rahmat kepada kami.

Upacara  mawinten, merupakan suatu proses dalam mewujudkan suatu tujuan  yang ingin dicapai untuk mensucikan diri secara  lahir dan batin itu, maka usaha untuk pengendalian  diri patut lebih ditingkatkan melalui berbagai upaya dan cara, seperti petunjuk yang telah diajarkan dan termuat dalam  pustaka suci silakrama berbunyi sebagai berikut:

Adbir gātrani çudhyanti,

Manah satyena çudhyati,

Widya tapobhyām bhrtātma,

Buddhi jnanena  çudhayati,

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akan dibersihkan dengan kebijaksanaan.

Semua rangkaian pelaksanaan upacara-upacara tersebut, dilengkapi dengan banten dan diantarkan oleh pemimpin upacara dengan  doa, puja dan mantra, yang dimohonkan kehadapan Hyang Widhi Wasa dengan segala  manifestasinya. Demikian pula yang mawinten, melaksanakan segala rangkaian  upacara tersebut dengan gerak, ucapan dan perbuatannya secara lahir dan batin pula.

Tujuan

Dalam upaya mengungkapkan tujuan dari pada upacara mawinten, maka terlebih dahulu ada  baiknya  dikemukakan tentang  tuntunan pustaka suci  sarasamuccaya mengenai “Tujuan hidup”, yang disebutkan dalam sloka 1.4 yaitu:

Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya, mmittaning mang kana, wenang ya  tumulung awaknya sangkeng sang sara, makasā dhanang subha karma, hanganing  kottamaning dadi wwang ika.

Artinya:

Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu ia dapat menolong dirinya  dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik, demikian keistimewaan menjadi manusia itu.

Selanjutnya  juga sloka 6.80 yang berbunyi sebagai berikut:

Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya,

Maprawrtti ta ya ring subha   subha karma,

matangnyan ikang manah  juga prihen kahrtanya sakarang.

Artinya:

Sebab pikiran itu namanya  sumbernya  indriya, ialah yang menggerakkan perbuatan baik buruk itu, karena itu pikirkanlah yang patut segera diusahakan pengendaliannya.

Dengan mengutip  kedua sloka pustaka suci tersebut di atas tadi, maka menjadi jelaslah tujuan dari pada upacara mawinten  yang dilaksanakan oleh umat Hindu sesuai dengan jenis-jenis dari pawintenan itu, yang pada dasarnya adalah untuk:

  1. Memohon kesucian  lahir dan batin melalui pengendalian  diri terhadap  hawa nafsu  yang disebabkan oleh pikiran.
  2. Memohon wara nugraha di dalam mempelajari  ilmu pengetahuan  suci.
  3. Mendidik secara  lahir dan batin, agar kehidupan manusia  makin menjadi  sempurna.
  4. Meningkatkan status manusia dari satu tingkat ke tingkat  yang lebih tinggi, secara lahir dan batin.
  5. Menjadikan manusia itu lebih  sempurna, sehingga dapat berhubungan dengan  Tuhan dan manifestasinya.
  6. Mendapatkan perlindungan secara spiritual  sehingga  luput dari segala  gangguan.
  7. Meningkatkan budi daya manusia sehingga  lebih mulia.

Demikianlah  tujuan yang ingin dicapai  melalui upacara pawintenan. Masyarakat di Bali menyadari  sepenuhnya arti penting dan tujuan mulai upacara mawinten itu, sehingga setiap umat berusaha  untuk melaksanakanya  sesuai dengan keperluan hidupnya.

Landasan Sastra

Adapun beberapa  lontar yang memuat tentang  upacara mawinten ataupun yang ada hubungannya antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Lontar Pangidep  hati; isinya tentang makna  upacara  pangidep hati  sebagai langkah awal sebelum mawinten.
  2. Tutur Pemangku; isinya tentang Dharma Pawintenan.
  3. Lontar Pawintenan; isinya  tentang tata cara pawintenan yang  paling kecil dengan  upacara dan upakaranya.
  4. Lontar  Janme  Prakerti; isinya ada mengutarakan  tentang tingkatan-tingkatan upacara dan  upakaranya.
  5. Lontar  Aji Bratta; isinya  tentang pelaksanaan  pemujaan dalam upacara pawintenan serta upakara-upakaranya.
  6. Lontar  Saraswati Astawa; isinya  tentang saat yang  baik untuk  mengadakan  pemujaan  terhadap Sri Aji Saraswati sebagai Dewa ilmu pengetahuan.
  7. Lontar Sundari Gama; isinya antara lain tentang kesuksman   hari odalan Sanghyang Aji Saraswati dengan upacara dan  brata-bratanya.
  8. Lontar  odalan Saraswati; isinya antara lain tentang penggunaan mantra.

Mengacu pada pustaka-pustaka  rontal tersebut di atas, maka jenis-jenis  mawinten itu ada beberapa macam antara lain adalah:

  1. Mawinten Saraswati
  2. Mawinten Pemangku
  3. Mawinten Dalang
  4. Mawinten Tukang
  5. Mawinten Balian
  6. Mawinten Sadeg
  7. Mawinten Maha Wisesa

Jenis  Mawinten banyak ragam, nama, serta variasinya, namun  dalam pelaksanaannya upacaranya hampir sama, karena semuanya  itu mempunyai tujuan umum yang sama, hanya saja tujuan  khususnya disesuaikan dengan nama dan jenisnya.

Pawintenan saraswati,  tujuan khususnya  adalah untuk  mensucikan diri secara lahir dan batin dalam mempelajari pengetahuan untuk peningkatan  berilmu.

Pawintenan Pemangku, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugas kepemangkuan  yaitu sebagai  pendeta pura yang nantinya memimpin pelaksanaan upacara.

Pawintenan  Dalang,  tujuan khususnya  adalah mensucikan diri secara  lahir dan batin dalam tugasnya sebagai  dalang, yang nantinya dapat menjadi lebih mampu untuk memainkan  peranan tokoh-tokoh pewayangan dalam suatu acara pentas, dimana diperlukan.

Pawintenan Tukang, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugas selanjutnya sebagai tukang, sesuai dengan profesinya yang akan ditekuni  dalam kehidupannya untuk memimpin  suatu pekerjaan.

Pawintenan Balian, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugasnya sebagai balian.

Pawintenan  Maha Wisesa, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara  lahir dan batin terhadap fungsionaris pengurus desa adat (Bendesa Adat)

Pawintenan Sadeg,  tujuan khususnya untuk mensucikan diri secara lahir dan batin  terhadap tugas selanjutnya sebagai  sadeg, agar dalam pengabdiannya sebagai penyambung  penyampaian pawisik atau bisikan yan diterima dari Hyang Widhi, diberikan kekuatan lahir  batin serta  tidak mengada-ada.

Adapun  jenis upacara  pawintenan itu dapat dibedakan atas :

1.     Pawintenan Nista:

Pawintenan ini dilaksanakan  di suatu pura yang sedang melaksanakan upacara piodalan dengan sarana upakara mempergunakan  “Pabangkit”.

2.     Pawintenan Madya (menengah)

Pawintenan ini  dilaksanakan di pura yang sedang menyelenggarakan upacara piodalan dengan sarana upakara mempergunakan “Pedudusan alit”.

3.     Pawintenan Utama

Pawintenan ini  dilaksanakan di pura yang sedang menyelenggarakan upacara  piodalan dengan sarana  upakara mempergunakan “Pedudusan Agung”.

Jalannya Upacara

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai  melalui upacara pawintenan ini, yaitu membersihkan dan penyucian diri secara  lahir dan batin, maka secara umum jalannya upacara  pawintenan untuk semua jenis adalah sama yaitu sebagai  berikut:

Upacara diawasi dengan melaksanakan pembersihan lahir  seperti, menyapu, menyingkirkan alat-alat yang  tidak perlu, misalnya ada sisa-sisa upacara yang masih tertinggal dan membenarkan   letak-letak sarana yang ada pada tempat-tempat suci  dilingkungan pura, tempat pelaksanaan  upacara  Mawinten  itu.

Setelah selesai upacara pembersihan dan penyucian diri,  dilanjutkan  dengan menstanakan Hyang Widhi Wasa, misalnya kalau  upacara pawintenan dilaksanakan di Pura Puseh, maka manifestasi Hyang Widhi  Wasa sebagai Dewa Brahma distanakan   di palinggih meru tumpang tuju (7). Kalau di pura  Desa manifestasi  Hyang Widhi  Wasa sebagai Dewa Wisnu distanakan pada palinggih  gedong dan kalau di laksanakan di Pura Dalem, maka manifestasi  Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Siwa distanakan di palinggih Gedong.

Selesai menstanakan, barulah dilanjutkan dengan mempersembahkan  upakara-upakaranya, mulai dari  sanggah Tutuan ke hadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Siwa Raditya, dengan tujuan memohon agar beliau  menjadi saksi dalam penyelenggaraan upacara, sehingga upacara  berjalan dengan tertib, lancar dan benar, sesuai dengan mantram  pemujaan yang berbunyi sebagai berikut:

           Om Aditya sya paramjoti.

            Raktu teja namostute,

            Sueta pangkaja madyasthe,

            Bhāskarāya namo namah,

            Om hrang hring sah parama siwādityāya

            Namo namah swaha.

Artinya:

Ya Tuhan selaku Hyang Surya yang bersinar merah sinarmu yang kupuja, serta putih bersih laksana  tunjung di tengah-tengahnya, Surya maha suci, ya Tuhan selaku Siwa Raditya, awal, tengah dan akhir  sembahku adalah untukmu.

Berikutnya  dilanjutkan dengan persiapan pelaksanaan upacara pawintenan, yang diawali dari “malukat”  yaitu  pembersihan  diri dari yang akan di winten dengan sarana air kelapa muda. Kalau tingkat  upacaranya kecil,  mempergunakan  salah satu dari  lima jenis kelapa yaitu (kelapa bulan, suda mala, gading, surya dan  mulung). Kalau tingkatan  madia mempergunakan  sebanyak 3 jenis, dan kalau tingkatan utama mempergunakan 5 jenis air kelapa tersebut.

Selesai melukat, dilanjutkan dengan  upacara “mabyakala”. Upacara ini bertujuan untuk memberikan pengorbanan suci kepada para  bhuta kala, agar tidak menganggu jalannya upacara.

Selesai mabyakala, dilanjutkan dengan upacara  “maprayascita”, yang dipergunakan sebagai penyucian. Kesucian yang diperoleh adalah dengan  memohon  kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para Dewa, khususnya Dewa Nawa Sanga, yang mana hal tersebut dilukiskan dengan “lis sanjata”.

Selesai  meprayas citta, dilanjutkan dengan upacara “mesakapan”, yaitu perkawinan dengan profesinya yang akan ditekuni dan agar dilaksanakan secara lahir dan batin.

Selesai masakapan, dilanjutkan  dengan upacara “Padudusan”. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri yang telah dibersihkan melalui malukat,  mabyakala, mprayascitta dan masakapan.

Selesai upacara “padudusan”, dilanjutkan dengan upacara “merajah”, yang  bertujuan untuk mencapai  tingkatan yang  disebut dalam bahasa Inggris “lotus”, artinya bunga teratai atau sunyata. Alat-alat yang digunakan untuk merajah adalah berupa  sirih dan madu, yang dirajahkan pada:

  • diantara  kedua kening dengan aksara suci Yang.
  • di dada  dengan aksara suci Dang
  • di kedua bahu dengan aksara suci Bang
  • di tunggir dengan aksara Sanga
  • di telapak tangan dengan aksara Tang
  • di tengah lidah dengan aksara suci Ing
  • di ujung lidah dengan aksara  Ong.

Selesai merajah, pendeta menulisi pinang dengan aksara suci Ang, Ung, Mang dan pada lekesan sirih dengan aksara Ya, Ra, La, Wa dan setelah itu dimantrai, lalu diberikan kepada yang diwinten untuk dimakan, yang mengandung  simbol bahwa  ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam jiwanya.

Selanjutnya  setelah  rangkaian upacara  merajah itu selesai, dilaksanakan  upacara “mesesolahan”. Tujuan upacara  mesesolahan adalah untuk memancing sifat-sifat  Tri Guna, agar bangkit dan mudah dibersihkan serta disucikan  noda-noda dan kotoran-kotoran yang masih ada dalam diri orang yang diwinten itu.

Setelah selesai upacara mesolahan, dilanjutkan dengan  upacara “mejaya-jaya”, yaitu bertujuan menyatakan rasa syukur kehadapan  Hyang Widhi, karena telah dapat dilaksanakan  dengan baik.

Setelah selesai mejaya-jaya dilanjutkan dengan  memasang “selimpet”, setelah itu dilanjutkan dengan memasang “Suro Wastu” di kepala, ini  merupakan  simbolis anugraha dari Hyang Widhi Wasa, telah mensucikan yang di winten itu secara lahir dan batin.

Upacara selanjutnya adalah sembahyang. Persembahyangan dalam upacara mawinten ini, mempergunakan sarana  “kwangen” dengan sesari uang kepeng 11 buah, yang ditunjukkan kepada 9 Dewa sebagai wujud Dewi Saraswati yang menguasai  9 penjuru mata angin (Nawa Dewata).

Setelah upacara persembahyangan berakhir dilanjutkan dengan upacara “matirtha”, yang bertujuan untuk memohon  air suci / tirtha  kehadapan  Hyang Widhi Wasa.

Setelah acara matirtha  dan mabija itu selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara “natab”, memakai sarana upakara  yang bernama “sesayut”, yang  bermaksud  untuk mengembalikan para bhuta yang ada menganggu ke tempat asalnya  semula, agar yang diwinten itu tetap bersih dan suci.

Rangkaian  upacara selanjutnya adalah “Mapedamel”,  yaitu dengan memohon sarana upacara berupa “Dodol madu parka”, untuk dimakan.

Setelah semua rangkaian upacara itu selesai, maka untuk menenangkan dan menghayati semua makna dan tujuan dari pelaksanaan  tersebut, maka dilanjutkan dengan pelaksanaan  upacara “brata”, yaitu tidak makan, minum dan tidur dari matahari  terbit  hingga terbenam. Ini bermakna  untuk mengendalikan diri terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan, agar  mengarah pada hal-hal yang bersifat suci.

Selesai melaksanakan upacara brata pawintenan, diakhiri dengan upacara “penyambutan”. Upacara ini merupakan rangkaian terakhir  dari pelaksanaan upacara mawinten. Tujuan dari  upacara penyambutan ini untuk memisahkan statusnya menjadi  orang suci serta kemudian berwenang  melaksanakan “sasana kepemangkuan”, yaitu  menjadi perantara antara umat dengan Hyang Widhi  atau manifestasinya, melaksanakan  rangkaian  upacara di suatu pura atau tempat suci, melalui permohonannya.

Caru

Caru adalah  nama jenis upakara, banten / sesajen yang digunakan  dalam  upacara  bhuta yadnya. Caru adalah tingkatan yang tertinggi dari banten saiban,  jotan/yadnya sesa dan segehan. Kata caru  berarti enak, manis, menarik, yang terkandung dari kata  harmonis, serasi dan seimbang. Bhuta adalah kata  Sansekerta yang berasal dari akar kata “Bhu” artinya menjadi, ada, makhluk / wujud. Selanjutnya  dari kata “Bhu” lalu menjadi  “Bhuwana”/Bhumi yang artinya alam / jagat. Secara filosofis, bhuta adalah sesuatu kekuatan negatif yang timbul dari adanya ketidakharmonisan antara unsur  panca maha bhuta. Sedangkan secara paedagogis  (pendidikan), bhuta yadnya bermakna mendidik para  umat Hindu untuk tetap cinta terhadap alam.

Pelaksanaan yadnya merupakan simbolis dari cetusan rasa terima kasih manusia  kehadapan Hyang Widhi  Wasa, karena  segala  yang ada di bumi ini muncul dari yadnya Hyang Widhi Wasa. Banten caru juga  sudah lazim disebut dengan kata tawur artinya  bayar kembali. Sarana tawar adalah terdiri atas apa yang disukai/dicintai, agar  dapat terwujud secara harmonis / seimbang.

Asal Caru

Banten caru atau tuwur  dalam upacara bhuta yadnya ditunjukkan kehadapan  Bhatara  Durga dan Bhatara Kala (Siwa). Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa dikenal sebagai pusat / sumber  kekuatan  dewa-dewa. Perpaduan antara Bhatara Durgha dengan Bhatara kala dalam  kehidupan ini dapat diibaratkan  sebagai alam semesta dengan  kekuatan-kekuatan  alam  dalam bhuana agung dan bhuana  alit. Oleh sebab itu, maka hanya Bhatara Kala sajalah yang bisa mengatur kekuatan-kekuatan beliau sendiri agar sakitnya (Bhatara  Durga) itu tidak membahayakan  manusia, sehingga manusia  menjadi  tergoda pikirannya  untuk  berbuat  lebih banyak meminta  dan memakai  dan sedikit memberikan  kepada alam sehingga timbullah ketidakharmonisan, maka patutlah  melakukan  upacara yadnya (kurban suci) yang  diwujudkan dengan banten caru (tawur). Pada waktu Bhatara Durgha menciptakan bhuta kala bertempat diperempatan  jalan (Catus Pata). Dalam banten caru yang  memegang peranan penting adalah simbol dan warna, sebab dalam segala jenis dan kurban caru diusahakan  memenuhi lima warna sesuai dengan warna  pengider-ideran bhuwana.

Tujuan

Penyelenggara upacara mecaru dalam  bhuta yadnya ditujukan kehadapan para bhuta kala. Secara  etimologi bhuta kala berarti  kekuatan negatif yang timbul  dari alam  sebagai akibat  terjadinya hubungan yang tidak harmonis antara  bhuwana alit dan bhuwana agung.

Pengaruh positif dan negatif  akibat hubungan  bhuwana alit dan bhuwana agung  itu mempengaruhi  perasaan manusia. Bila hubungan  harmonis  pengaruhnya  positif dilukiskan  dengan sifat-sifat   dewa, sedangkan  tidak hamonis  pengaruh negatif dilukiskan dengan sifat-sifat  bhuta kala. Dalam tuntunan pustaka suci  rontal  kala tattwa dapat diaci (diupacarai) dan bersifat negatif (bhuta kala).

Adapun  tujuan dari mecaru itu  adalah untuk memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa, agar manusia dalam  kehidupannya dianugrahi ketenangan baik  dalam bhuwana alit dan bhuwana agung. Caru yang sebagai sarana itu  setelah selesai dipersembahkan diberikan kepada bhuta kala sebagai  “labaan” yaitu upah  untuk dinikmati sehingga cepat-cepat meninggalkan  tempat yang telah diganggu dan kembali  ke asal.

Banten caru itu dikuburkan dalam arti tidak  ada diambil “disurud”  dengan menanam / membuang sehingga semuanya  dikembalikan kepada alam semesta.

Sarana Upakara Caru

Upacara disebut  sesajen, banten  ataupun yadnya, yaitu berupa persembahan yang akan dikurbankan, bahannya yang masak dan mentah. Upakara-upakara  juga difungsikan  sebagai alat-alat  penyucian yang melengkapi upakara-upakara pokok seperti pembersihan, penyucian prayascita, byakala.

Sarana-sarana upakara caru dapat dibagi menjadi 3 jenis:

  1. Mataya adalah berasal dari sesuatu  yang tumbuh  yaitu batang, daun, bunga, buah-buahan yang digunakan dalam banten caru.
  2. Mantiga adalah sesuatu yang lahir  2 kali yaitu telur, ayam, itik.
  3. Maharya adalah yang lahir sekali saja langsung menjadi binatang  berkepala empat seperti: babi, anjing, kambing dan kerbau.

Waktu Pelaksanaan Upacara Macaru

Masyarakat umat Hindu, adalah  masyarakat yang berpandangan kosmis, oleh sebab itu  penentuan dewasa, yaitu hari  yang baik dan buruk secara umum dapat dimaklumi pelaksanaan  upacara yang  ditujukan kepada para bhuta kala selalu  berpedoman  pada saat tengah  hari (tengai tepet) atau sandikala. Ketentuan ini  disebutkan  pada pustaka  rontal “kala purana” dan pustaka  rontal “Rogha Sanghara Bumi”.

Mantram Caru Ayam  Putih di Timur

Om indah ta kita Sang Bhuta Petak, Bhuta Janggitan aran sira, ring purwa desanira, Umanis Pancawaranira, Dewa Iswara Dewatanya, iki tadah  sajinira penek putih  iwak ayam  petak winangun urip katekeng saruntutannya. Manawi  wenten kirang luput,  den agung sinampura sang adruwe cari, sira ta nugraha dirghayusa mwang dirghaayu sang adruwe caru. Om Sang Namah swaha.

Ngaben

Berbicara  mengenai pelaksanaan dari upacara Pitra Yadnya,  sesungguhnya memiliki nilai-nilai yang luhur serta memiliki makna yang  amat luas, khususnya dalam rangka memproses pengembalian Panca Maha Bhuta kepada  kesucian dan  kemurniannya semula, agar terlepas dari  pengaruh Mayanya Sang Hyang Widhi, karena sudah  pernah bersemayam  kedalam tubuh makhluk manusia. Oleh karena itu  kekuatan Panca Maha Bhutanya perlu diproses pengembaliannya melalui pelaksanaan  upacara Pitra Yadnya, agar kembali  kesumbernya yakni kehadapan  Sang Hyang Prakerthi sebagai kekuatan ACENTANA dari kemahakuasaan  Sang Hyang Widhi.  Pitra Yadnya  merupakan  persembahan suci  kepada leluhur.

Pelaksanaan  upacara Pitra Yadnya  telah dilaksanakan  oleh umat Hindu dari sejak dahulu kala hingga sekarang, dan menjadi pedoman  keyakinan  dan kepercayaan  sebagai salah satu  pengalaman  ajaran Agama Hindu khususnya di Bali. Jenis-jenis  pelaksanaan Pitra Yadnya secara garis besar dapat dibagi dua yaitu:

  • a.      Pemeliharaan  ketika ia masih hidup
  • b.      Penyelenggaraan upacara setelah kematian

Pemeliharaan  orang tua ketika masih  hidup, berupa memelihara kesehatan menjamin ketenangan batinnya dan selalu memuaskannya. Memuaskan batin orang tua dapat ditempuh dengan  bermacam-macam cara. Namun cara yang terpenting  adalah selalu  mengindahkan  nasehatnya  dan mohon restu  untuk segala  tindakan yang  akan diambil. Inilah  beberapa  hal yang  dapat menentramkan hati orang  tua itu. Inilah pelaksanaan pitra yadnya, ketika  ia masih  hidup. Pelaksanaan upacara  setelah  kematian adalah  yang dimaksud  penyelenggaraan jenazah (sawa)nya, dan penyelenggaraan penyucian  rohnya untuk  dapat kembali kepada asalnya.

Adapun  perincian  upacara kematian adalah:

  • Membersihkan sawanya (mersihin)
  • Mendem atau  ngurug sementara   karena suatu hal belum bisa diaben
  • Ngaben / atiwa-atiwa
  • Mroras / memukur

Upacara tersebut  di atas disebut dengan sawa wadana, yang artinya  penyelenggaraan  upacara terhadap sawanya yang pokok. Sedangkan, upacara mroras adalah upacara penyucian rohnya atau atma wedana.

Adanya nilai etika yang terkandung kedalam pelaksanaan dari suatu upacara adalah merupakan  manifestasnya dari nilai tattwanya, sehingga umat Hindu bisa memiliki prilaku yang berbudhi luhur,  sebagai dasar berkarma selama hidup didunia, untuk mencapai “subhakarma”. Di samping ajaran etika adalah berfungsi untuk membentuk umatnya, bagi umat yang buta aksara atau memiliki gangguan mental, walaupun mereka tidak bisa mengucapkan “Mantra” atau mengucapkan sloka-sloka dalam “Weda”.

1.  Pengertian Ngaben Sawa Wedana

§ Ngaben

Menurut  Renward  Branstetter  dalam bukunya akar kata dan kata dalam bahasa-bahasa Indonesia terjemahan Sjaukat  Djajaningrat tahun 1957,  kata Ngaben adalah Bahasa Bali yang berasal dari kata “Api”. Kata Api ini  mendapat  prefik  sengau “ng” dan suffic “an” sehingga  kemudian  menjadi “Ngapian” kata Ngapian lalu menjadi sandhi Ngapen. Huruf P B W adalah  satu warga sehingga “P”  berubah menjadi “b”. Dengan demikian kata  Ngapen menjadi “Ngaben” yang artinya menuju api. Api dalam lambang  Agama Hindu yaitu lambang  Brahma. Jadi kata Ngaben artinya perjalanan menuju  alamnya Brahma. Memperhatikan  kata Ngaben sebagaimana disebutkan di atas adalah tepat sekali karena fungsi  Ngaben adalah  melepaskan  atma dari ikatan  stula sarira (Panca Maha Bhuta). Sesungguhnya manusia lahir dibentuk oleh tiga kekuatan Sang Hyang Widhi yaitu dari kekuatan  Prakerthinya (Acentana) dari Sang Hyang Widhi menciptakan adanya  kekuatan Panca Maha bhuta dan kekuatan Panca Maha Bhuta menciptakan adanya “Stula Sarira” antara lain:

  1. Kekuatan pertiwi menciptakan  adanya kulit
  2. Kekuatan teja menciptakan  adanya darah daging
  3. Kekuatan akasa menciptakan  adanya urat-urat
  4. Kekuatan bayu  menciptakan  adanya tulang-belulang
  5. Kekuatan apah  menciptakan  adanya sumsum

Setelah stula sarira terbentuk dan agar bisa stula sarira hidup dan berkembang sebagaimana mestinya maka didukung oleh kekuatan Purusanya (Cetana) Sang Hyang Widhi, yang bersifat kekuatan “jiwa” sebagai  kekuatan penyebab dan membentuk suatu badan yang  disebut “Anta Karana Sarira”. Demikian juga agar  kehidupan  Anta Karana Sarira bisa berkesinambungan untuk memberikan kehidupan  terhadap stula sarira, maka Sang Hyang  Widhi dengan sebutan “Paramatma”,  bermanifestasi melalui  kekuatan  PrajapatiNya, menjadi kekuatan “Atma”, sehingga dapat  bersemayam ke dalam setiap makhluk hidup di alam semesta dan membentuk suatu badan yang disebut badan Atma atau “Suksma Sarira”. Dengan demikian hanya manusia  sajalah yang  mewakili tiga unsur badan, sehingga memiliki “Tri Pramana” yaitu Sabda, Bayu dan Idep.

§ Sawa Wedana

Atma dibelenggu oleh dua lapisan sarira yang disebut stula sarira dan suksma sarira, karena itu upacara penyucian  inipun ada dua tingkatan. Tingkatan  pertama adalah melepaskan atama dari ikatan stula sarira disebut Sawa Wedana. Sawa Wedana artinya  orang yang telah mati (sawa). Dengan kata lain  mengupacarai  jenazah orang yang baru meninggal, sering juga dalam  masyarakat disebut Ngaben dadakan.

§ Ngaben Sawa Wedana

Yang dimaksud  dengan pelaksanaan upacara pengabenan Sawa Wedana adalah  upacara pengabenan yang dilaksanakan  disertai dengan adanya  jenazah. Dengan  kata lain orang yang secara langsung  diaben setelah meninggal tanpa ditanam  terlebih dahulu ke setra.

2. Pelaksanaan Ngaben Sawa Wedana

  • Jenazah saat dirumah, dibersihkan sesuai dengan upacara  mependem, selanjutnya jenazah diusung ke kuburan. Setelah tiba dikuburan,  jenazah mengelilingi  tempat pembakaran yang telah disediakan.
  • Jenazah  diletakkan di atas petulangan atau tempat pembakaran, lebih awal pembungkus kain dan tikar dibuka. Kemudian dilanjutkan  upacara  metirta, pertama di perciki tirta:
  • Penembak
  • Pengelukatan
  • Pengentas
  • Kawitan
  • Kahyangan Tiga
  • Di atas dada jenazah  diletakkan bekal roh seperti:
  • Canang tujuh tanding
  • Beras catur warna, masing-masing satu ceper warna: putih, merah, kuning dan hitam.
  • Setelah selesai upacara seperti  di atas  lalu jenazah  dibakar dengan  api upacara.
  • Setelah  jenazah  menjadi arang, lalu dituangkan air tawar  yang disebut  penyeeb.
  • Arang dikumpulkan lagi di taruh di atas  senden, lalu disiram dengan air kumkuman, kemudian dimasukkan kedalam kelapa gading yang berwujud Puspa Ati. Abu yang  lain diwujudkan manusia  simbolis, kemudian  dipasang kwangen. Pemasangan  kwangen dikelompokkan yaitu:

1)   Kelompok garis lurus dari:

  •  Dahi
  • Kerongkongan
  • Hulu ati
  • Puser
  • antara Puser dengan kemaluan
  • antara kemaluan dengan pantat

2)   Kelompok  Panca Budindria

  • Mata
  • Hidung
  • Mulut
  • Lidah
  • Telinga

3)   Kelompok Panca Karmendria

  • Perut
  • Kemaluan
  • Pantat
  • Tangan
  • Kaki

Kelengkapannya disertai banten upacara pesaksi ke  Mraja Pati, pengulun setra, bubur pirata, nasi angkep,  banten arepan, ketupat panjang, diuskamaligi, puspa, rantasan untuk  rerek kayan. Pemangku  atau pendeta memimpin  upacara persembahan dari sanak keluarga almarhum. Persembahan itu ditujukan kepada  Hyang Surya, Mraja Pati, Kahyangan Tiga, dan Sesuhunan (Kawitan). Setelah tiba, diawali dengan upacara daksina, pras penganyutan dan wangi-wangian, barulah abu dibuang ke sungai. Dengan demikian  selesailah sudah tahapan upacara Sawa Wedana itu.

3. Maksud dan tujuan

§ Maksud

Secara garis besarnya, ngaben itu dimaksudkan  adalah  untuk memproses kembalinya Panca Maha Bhuta pada badan untuk menyatu dengan Panca Maha Bhuta di alam besar ini dan mengantarkan  Atma kealam  Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan duniawi itu. Hal ini  diwujudkan  dengan upacara  “Ngentas Sawa” dengan tirta pengentas. Tirta  pengentas  artinya memutuskan   kecintaan di dunia. Dengan memutuskan  kecintaan atma dengan dunianya,  ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni  alam pitra. Dalam perjalanan atma itu perlu  bekal atau “beya” yang merupakan  oleh-oleh bagi saudara empatnya  yang  sudah  menunggu dalam  wujud sebagai kala, yaitu: Dora Kala, Mahakala,  Jogor Manik, Suratma. Dengan bekal atau beya itu diharapkan atma dapat kembali dengan selamat.

§ Tujuan

Tujuan upacara Ngaben adalah agar ragha sarira tepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu  Panca Mahabhuta di alam ini dan bagi atma dengan selamat  dapat pergi ke alam Pitara. Oleh karenanya, Ngaben sesungguhnya tidak  bisa ditunda-tunda, mestinya  begitu meninggal segera  harus diaben.  Selain itu untuk mendapatkan keselamatan, ketenangan dan juga mendapatkan sorga bagi sang pitra.

Potong Gigi 

SEJARAH TERJADINYA POTONG GIGI

Penggalian fosil-fosil  manusia purba yang  diketemukan di Gilimanuk yang diperkirakan berumur sekitar 2000 tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya  sisitim penguburan mayat yang  terlipat dan  pada gigi-gigi mereka menunjukkan tanda-tanda yang telah diasah.  Dengan demikian  maka dapatlah ditarik  suatu kesimpulan bahwa  upacara potong gigi sudah dikenal di pulau Bali ini sejak 2000 tahun yang lalu.

Menurut G.A Wilken seorang sarjana barat yang terkenal, menyebutkan bahwa  pada bangsa-bangsa pra sejarah  di daerah kepulauan  Polinesia, Asia Tengah dan Asia Tenggara terdapat suatu  kepercayaan pentingnya  memotong bagian-bagian  tertentu dari  tubuh  seperti rambut,  gigi, menusuk (melobangi) telinga, tatuage (mencacah kulit) dan sebagai upacara berkorban  kepada nenek moyang.  Penyiksaan diri  dalam batas-batas tertentu dianggap  sebagai korban  dalam agama, antara lain adalah tapa dan  brata.

Demikian pula  upacara-upacara  yang sudah merupakan adat agama Hindu di pulau Bali antara lain ialah: upacara potong rambut pada wkatu  umur tiga bulan dianggap sebagai upacara penyucian, melenyapkan mala (kekotoran) dari rambut  yang dibawa sejak  lahir, disertai dengan upacara “metusuk kuping” yaitu melobangi daun telinga. Di samping itu  upacara 3 bulan  ini adalah  upacara  perubahan status dimana si bayi mengambil nama (diberi nama secara resmi), berkenalan dengan  alam sekitarnya, mempermaklumkan ke Bale Agung dan permakluman kepada Kepala Desa Adat sebagai warga desa yang baru.

Jadi potong rambut  dan melobangi daun telinga ini dimana menurut G.A. Wilken dianggap sebagai korban  kepada roh nenek moyang bagi orang  primitif kini mempunyai  arti perubahan  status dan penyucian  dalam agama Hindu di Bali. Demikian pulalah halnya upacara potong gigi yang akan kita bicarakan  sekarang lebih bersifat  adat agama,  karena ditunjuk  dan ditunjang  oleh mithology-mithology keagamaan sehingga upacara ini menjadi bernilai sakral atau suci.

Dibawah ini kita akan  bahas satu persatu aspek-aspek potong gigi ini dengan  memakai latar belakang  petikan cerita-cerita yang telah disebutkan tadi.

Mulai umur berapa orang baru  boleh melaksanakan  upacara potong           gigi ?

Untuk  memberikan jawaban kepada pertanyaan  ini, dalam lontar Tutur Sanghyang Yama ada disebutkan sebagai berikut:

….. mwah yan amandesi wwang durung ang raja, pada tan kawenang, amalat rare ngaranya,  tunggal alanya ring wwang angrabyaning wwang durung angraja, tan sukrama kna ring jagat megawe  sanggar negaranira Çri Aji.

Terjemahan  bebasnya:

…. lagi  jika memotong gigi orang yang  belum kotor kain, sama sekali tidak dibenarkan, memperkosa  bayi (anak-anak) namanya, sama buruknya dengan orang yang mengawini  orang yang belum kotor kain (belum dewasa) tidak patut hal  itu dilakukan didunia akan mengakibatkan  rusaknya negara sang raja.

Jadi dengan demikian  seseorang baru boleh melaksanakan upacara Mepandes setelah mereka naik  dewasa dalam arti  sudah pernah  kotor kain.

Tujuan Upacara Potong Gigi (Mepandes)

Berdasarkan lontar-lontar dan mythology-mithology  dapatlah ditarik  suatu kesimpulan  yaitu:

  1. Upacara  potong gigi adalah upacara penyucian bagi orang yang sudah menginjak dewasa, agar menjadi manusia yang baik.
  2. Swadharma atau kewajiban dari orang tua yang merasa bertanggung jawab mendidik dan menuntun  putra-putrinya menganggap secara spiritual dan ritual perlu memotong  gigi (mandesin) putra-putrinya agar sifat-sifat  Bhuta Kala  Pisaca itu dapat ditinggalkan sehingga putra-putrinya menjadi manusia yang  baik atau suputra. Orang tua yang belum melaksanakan  upacara potong gigi untuk  putra-putrinya menganggap  dirinya masih belum selesai (berhutang) terhadap salah satu kewajibannya sebagai orang tua.
  3. Gigi  tajam ataupun taring selalu dihubungkan dengan sifat-sifat Bhuta Kala Pisaca yang seing dihubungkan  dengan  sadripu (6 musuh utama dari kebaikan) yaitu: kama (keinginan), kroda (kemarahan), lobha (tamak), moha ( kebingungan karena gejolak hawa nafsu),  mada (kemabukan) dan matsarya (iri hati).
  4. Kalau sudah melaksanakan potong gigi (kelak setelah meninggal) agar bisa bertemu dengan orang tuanya, mungkin yang dimaksud dengan orang tuanya disini adalah penciptanya yaitu Ida Sang Hyang Widhi yang memang menjadi “sangkan paran”  yaitu asal mula dan tujuan akhir dari manusia yaitu mencari Ida Sang Hyang Widhi.

Upacara  Gigi Setelah Meninggal (Mati)

Dari isi Lontar Castra Proktah sebagai berikut:

“Iki linggih Castra Proktah  ngaran, mwah yan hana wwang durung  apandes,  ketekan pejah, aywa amandesing wong pejah tan kawenang, angludi wangke  ngaranya, yan amandesing sawa, yang mangkana kramanya, papa dahat, apan tan kawenang  ikang wwung mati wehing sopakaraning wwang maurip, tunggal adanya sang maweh lawan sang wineh, tinemah de Bhatara Yama dipati”

Artinya:

Inlah ucapan Castra Proktah, namanya, bila  seseorang yang belum potong gigi lalu meninggal dunia, tidak dibolehkan, “angludi wangke” namanya. Bila demikian  halnya amatlah  papanya (sengsaranya), karena  tidak patut orang yang telah meninggal diupacarai dengan  upacara  orang hidup. Sama dosanya antara  yang mengupacarai dan orang yang diberi upacara, dikutuk oleh Sanghyang  Yamadipati.

Jadi menurut Lontar ini orang yang sudah meninggal walaupun belum potong gigi, sangat dilarang mengupacarai  potong gigi disebut  ngeludin wangke katanya  dan dikutuk  kalau melanggarnya. Namun walupun demikian  ada lontar yang  menyebutkan sedemikian,  kita menjumpai pula tradisi-tradisi  yang hidup di masyarakat dengan peralatan-peralatan yang  dipergunakan untuk upacara potong gigi untuk  orang yang telah meninggal. Walaupun  tidak dalam bentuk tertulis namun bisa juga diterima oleh akal, dan sering dilakukan  jaman dahulu.  Mengenai peralatan  yang digunakan dan orang yang bertindak  sebagai sangging (orang yang bertugas memotong gigi dengan kikir) adalah sebagai berikut:

    1. Yang bertindak sebagai sangging harus orang tuanya sendiri tidak boleh orang  lain.
    2. Sebagai  tumpuan tempat berdirinya sangging waktu menatah gigi itu dipergunakan padi, berdiri sambil menginjak padi.
    3. Tangan  sangging itu digelangi dengan uang  kepeng (satakan).
    4. Sebagai pengganti kikir (alat memotong gigi dipergunakan) angapan yaitu alat yang biasa untuk memotong padi oleh para petani di Bali. Di beberapa daerah ada juga  yang menggunakan  bunga tunjung (teratai) sebagai pengganti kikir. Dalam hal ini sudah tentu  bunga teratai ini hanya sebagai simbul saja untuk memotong gigi.
    5. Penggunaan lesung (alat  penumbuk padi), sebagai peralatan upakara.

Kini  kembali kita membicarakan mengenai upacara potong gigi  menurut Lontar Proktah  yang melarang  keras memotong gigi orang mati.  Tetapi  sebaiknya tradisi di beberapa  tempat menganjurkan dengan alasan membayar  hutang kewajiban  orang tua kepada anaknya meskipun  dengan peralatan yang  khusus pula. Orang mati itu  diperlakukan seperti orang tidur karena  itu alat-alat  upacaranya disesuaikan  dengan arti mimpi. Di pulau Bali memang dikenal ada upacara menghidupkan secara spiritual  dan simbolik orang yang sudah meninggal dengan membuatkan badan darurat dari banten (puspa sarira). Contohnya banten  yang diletakkan disebelah kanan mayat  pada waktu masih disimpan di Bale Gede atau semanggen.

Demikian pula waktu Nyekah almarhum disetarakan berbadan kayu cendana dan daun beringin.

Akhirnya dapat disimpulkan  tujuan dari  upacara potong gigi itu sebagai    berikut:

  1. Upacara potong gigi adalah upacara penyucian secara ritual, agar menjadi manusia yang baik  dapat mengendalikan  hawa nafsu  dibawah tuntunan Sanghyang Semara Ratih, serta pada akhir hayatnya bisa bertemu dan menghadap kepada penciptanya.
  2. Upacara potong gigi juga bertujuan memenuhi hutang kewajiban orang tua membimbing putra-putrinya lahir bathin. Sebelum  putra-putrinya diupacarai  potong gigi, orang tua masih merasa berhutang  kewajiban. Sebab itu diusahakan terlaksana pada waktu masih jejaka.

UPACARA POTONG GIGI (MAPANDES)

1.  Uraian Upacara

Upacara ini dapat dijadikan satu dengan upacara  meningkat dewasa dan mapetik dan penambahan upakaranya tidak begitu banyak.  Upacara ini bertujuan  untuk mengurangi Sad Ripu dari seseorang, dan sebagai simbulnya akan dipotong 6 buah gigi atas (4 buah  gigi dan 2 buah taring).

Yang dimaksud  dengan Sad Ripu adalah enam sifat manusia yang dianggap kurang baik,  bahkan sering  dianggap sebagai musuh dalam diri sendiri. Keenam  sifat tersebut, ditimbulkan oleh budi rajas dan budi  tamas.

Sebenarnya kita manusia memiliki 3 budhi yaitu: budhi rajas, budhi tamas, dan budhi satwam. Sedangkan  pada binatang  hanya  memiliki 2 budhi yaitu: budhi  rajas dan budhi tamas. Oleh karena itu  segala pengaruh-pengaruh  yang ditimbulkan  oleh budhi  rajas dan budhi tamas, kiranya dianggap sebagai sifat-sifat  kebinatangannya, yang tidak selayaknya menguasai kita sebagai manusia. Ini bukanya  berarti bahwa budhi  rajas dan budhi tamas beserta pengaruh-pengaruhnya  itu tidak perlu, tetapi hendaknya  ada keseimbangan antara budhi rajas, tamas dan budhi satwam sebagai penuntunnya. Adapun  yang dimaksud  sad ripu adalah: kama (keinginan), kroda (kemarahan), lobha (tamak), moha ( kebingungan karena gejolak hawa nafsu),  mada (kemabukan) dan matsarya (iri hati).

Demikianlah  upacara Potong Gigi itu bukanlah  semata-mata mencari keindahan/kecantikan belaka,  melainkan mempunyai tujuan yang mulia.

2. Susunan Upakara

  1. Upakara yang paling kecil: banten pabiakalaan, prayascita, panglukatan dan tataban  seadanya.
  2. Upakara yang lebih besar:  bantennya sama seperti  upakara yang  paling kecil, tetapi tatabannya  memakai pulagembal.

Catatan:

Di samping upakara-upakara tersebut, terdapat pula upakara / perlengkapan lainnya yaitu:

  1. Membuat / menyediakan sebuah balai-balai (dipan) untuk tempat upacara  potong gigi. Pada tempat tersebut diisi perlengkapan seperti bantal, kasur, seprai (permadani) dan tikar yang berisi gambaran  Samara Ratih.
  2. Bale  Gading: bale gading ini dibuat dari bambu gading (yang lain) dihiasi dengan bunga-bunga yang berwarna putih dan kuning serta didalamnya diisi beras, ajuman daksina kadang-kadang dapat dilengkapi dengan suci canang  burat wangi, canang  dan raka-raka, kekiping, pisang mas, nyahnyah gula kelapa. Bale gading ini adalah sebagai tempat  (palinggih) dari Sanghyang Semara Ratih.
  3. Tegteg: yang dimaksud dengan tegteg, adalah sejenis  jejahitan  yang berisi jajan  dan sampian tegteg. Biasanya dipakai daun rontal.
  4. Kelapa gading yang dikasturi, airnya dibuang dan ditulisi “Ardhanareswari” (gambar Semara Ratih). Kelapa Gading itu akan  dipakai tempat ludah, dan singgang gigi yang sudah dipakai. Setelah upacara,  kelapa gading itu dipendam dibelakang Sanggah Kemulan.
  5. Untuk  singgang gigi (pedangal), adalah tiga potong dapdap dan tiga potong  tebu malem/tebu ratu. Panjang  pedangal  ini kira-kira 1 cm atau 1 ½  cm.
  6. “Pengilap” yaitu sebuah  cincin  bermata mirah.
  7. Untuk pengurip-urip adalah empu kunir (inan kunyit) yang dikupas sampai bersih dan kapur.
  8. Sebuah bokor yang berisi kikir, cermin dan pahat, biasanya  “pengilap” yang disebut di atas ditaruh pada bokor ini,  demikian pula “pangurip-uripnya”.
  9. Sebuah tempat sirih, lengkap dengan sirih lekesan, tembakau, pinang dan gambir (didalam  lekesan itu sudah berisi kapur).
  10. Beberapa potong kain (yang agak baik) dipakai  untuk menutupi badan pada waktu  upacara dan disebut “Rurub”.
  11. Banten “tatingkeb” yang akan diinjak  waktu turun nanti (dapat diganti dengan segehan agung).

3.  Tata Upacara

Seperti  biasa dilakukan upacara mabiyakala dan maprayascita  lalu bersembahyang kehadapan Bhatara Surya dan Sanghyang  Semara Ratih, kemudian naik  ketempat upacara potong gigi (kebalai yang disebut didepan) serta duduk menghadap  kehulu, (Keluanan). Pimpinan upacara mengambil  cincin yang akan dipakai  untuk Ngerajah  pada beberapa tempat yaitu:

  • Pada dahi (antara kedua kening)
  • Pada taring  sebelah kanan
  • Pada taring sebelah kiri
  • Pada gigi atas
  • Pada lidah bawah
  • Pada dada
  • Pada nabi puser
  • Pada paha kanan dan kiri

Setelah itu   barulah diperciki “Tirta Pesangihan” selanjutnya upacara dipimpin oleh “Sangging” yaitu pelaksanaan  memotong gigi itu (nyangihin). Setelah  orang bersangkutan tidur serta  memakai rurub, maka Sangging mengambil kikir  lalu dipujai. Orang yang  akan diupacarai diberi  pedanggal tebu, disebalah kanan (kalau orang laki-laki), sedang  kalau perempuan dipasang disebelah kiri terlebih dahulu). Setelah kikir  dipuja,  lalu dimulailah  pelaksanaan potong gigi dengan disertai puja, kemudian  pedanggal diganti, orang yang bersangkutan disuruh  meludah,  pedanggal diganti dan demikian seterusnya sampai  dianggap cukup (ludah dan pedanggal dibuang kedalam kelapa gading). Bila dianggap sudah cukup rata, lalu  diberi pengurip-urip (kunir) kemudian  berkumur dengan  air cendana, selanjutnya makan sirih  (ludahnya ditelan tiga kali) dan sisanya  dibuang kedalam  kelapa gading. Selanjutnya natab banten peras, dan waktu turun menginjakkan kakinya  pada tatingkeb  (segehan agung) tiga kali. Sore harinya, setelah pemujaan sajen, dilakukan muspa  kehadapan Surya Candra, kemudian  dilanjutkan  dengan mejaya-jaya dan natab.

4. Beberapa Mantra:

  • Mantra kikir:

Om, Sang Perigi Manik, aja sira  geger lunga antinen, kakang nira Sri Kanaka teka kekeh pageh, tan katekaning  lara wigena teka awet-awet-awet.

  • Mantra waktu  pemotongan gigi yang pertama:

Om  lung ayu, teka ayu. (diucapkan  tiga kali).

  • Mantra  Pengurip-urip:

Om  uripang-uripang bayu,  sabda idep, teka urip, Ang Ah.

  • Mantra Lekesan:

Om suruh  mara,  jambe mara timiba pwa sira ring lidah, Sanghyang Bumi Ratih ngaranira,  tumiba pwa sira ring ati, Kunci pepet aranira, ketemu-ketemu dalaha, samangkana lawan tembe, netu pwa sira ring wewadonan  Sang Hyang Sumarasa aran nira, wastu kedep mantraku.

http://www.tejasurya.com/Veda_Weda_/Sastra_Hindu.html

5 Komentar (+add yours?)

  1. alitcybermedia
    Agu 22, 2014 @ 14:28:06

    bagus nggih pembahasannya. lengkap sekali.

    Balas

  2. kontol
    Mei 20, 2014 @ 16:50:41

    kon tol

    Balas

  3. Putra
    Nov 06, 2013 @ 00:21:56

    lengkap sekali.

    Balas

  4. my website
    Mei 26, 2013 @ 06:27:22

    Howdy! I’m at work surfing around your blog from my new iphone! Just wanted to say I love reading your blog and look forward to all your posts! Carry on the superb work!

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: