Tirtayatra Desa Adat Kelan – Kuta

Om Swastiastu,
Selasa Kliwon, 15 Juli 2014 Semeton dari Desa Adat Kelan – Kuta – Badung – Bali melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan berjumlah sekitar 45 orang dengan menggunakan 1 bus dipimpin oleh Bapak I Wayan Kantun dan sampai di pura pukul 10.00 WIB.
Umat langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk bersembahyang. Di sini umat mengadakan salam perkenalan dengan para Umat Hindu Mondoluku dan para pengurus pura. Pada kesempatan itu Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Kadek Sumanila memperkenalkan para umat dan pengurus pura. Juga disampaikan sejarah berdirinya Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Setelah itu Bapak I Wayan Kantun selaku pimpinan Umat Desa Adat Kelan menyampaikan kesan yang sangat senang bisa maturan di pura ini dan juga sambutan umat disini yang sangat baik. Juga sangat mendukung penerapan konsep budaya Jawa baik itu dari Pelinggih Pura, Keseniannya, Bantennya dan juga partisipasi umat asli jawa yang sangat tinggi pada setiap acara kegiatan di pura ini. Bahkan Umat Muslim juga aktif pada kegiatan kesenian yaitu Seni Karawitan Gong Medang Kamulan Setiyo dan Grup Kuda Lumping Sekar Budoyo.

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Jero Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sejarah pura

Jero Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sejarah pura

Bapak I Wayan Kantun memberikan sambutan

Bapak I Wayan Kantun memberikan sambutan

Umat kemudian menuju ke Beji untuk melaksanakan upacara penglukatan. Upacara dipimpin oleh Mangku Nuryadi dan Jero Sepuh Kadek Sumanila.

Beji

Beji

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Melukat

Melukat

Selanjutnya umat menuju ke Lingga Yoni, Pelinggih Tri Suci Maha Resi dan ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Lingga Yoni dipimpin oleh Mangku Timbul

Persembahyangan di Lingga Yoni dipimpin oleh Mangku Timbul

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Nunas tirta

Nunas tirta

Foto bersama

Foto bersama

Setelah selesai sembahyang umat kembali ke Wantilan Jenggolo untuk makan siang. Setelah itu umat semeton pamit akan melanjutkan tirtayatra ke Malang.

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Iluh

Iluh

Om Shanti Shanti Shanti OM

Tirtayatra Semeton dari Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Rabu Kliwon, 25 Juni 2014 Umat semeton dari Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Umat dipimpin oleh Bapak Made Artaka yang sehari-hari berprofesi sebagai Notaris di Singaraja. Umat berjumlah sekitar 60 orang sampai di pura pada pukul 21.00WIB.

Umat langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat sebentar. Disana kemudian umat mendengarkan tentang sejarah pura yang disampaikan oleh Ketua Rumah Tangga Pura Jro Kadek Sumanila. Kemudian Bapak Made Artaka memberikan sambutan, Beliau menyampaikan  kekagumannya melihat pelinggih yang begitu megah dan model yang lain dari yang lainnnya. Sebagian besar memang mengaku kalau baru sekali datang ke sini. Mereka berjanji akan datang lagi untuk metirtayatra. Kemudian Bapak Sai menyampaikan tentang adanya keinginan dari Umat Hindu disini untuk bisa menunjukkan jati dirinya sebagai Orang Hindu Jawa.

Semeton dari Buleleng

Semeton dari Buleleng

Jro Sepuh Kadek Sumanila menceritakan sejarah pura

Jro Sepuh Kadek Sumanila menceritakan sejarah pura

Bapak Made Artaka memberikan sambutan

Bapak Made Artaka memberikan sambutan

Bapak Sai memberikan sambutan

Bapak Sai memberikan sambutan

Pemberian dana punia

Pemberian dana punia

Setelah itu  umat kemudian melukat di beji. Setelah melukat umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Setelah bersembahyang para semeton melihat-lihat pelinggih yang ada di Mandala Utama.

Penglukatan di Beji

Penglukatan di Beji

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah itu umat kemudian pamit karena akan melanjutkan tirtayatra ke Pura Gunung Salak.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Klub Litienkung (senam Teraphy) Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Hari Jumat Kliwon, 20 Juni 2014 umat dari Klub Litienkung Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Klub Litienkung adalah klub khusus senam terapi untuk kaum lansia. Tetapi umat yang metirtayatra ke sini bukan hanya para lansia saja tetapi juga banyak anak muda. Umat dipimpin oleh Pak Jro Winaya dan disponsori oleh Yamaha Surya.

Umat sampai dipura pada pukul 23.00WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk menyiapkan diri dan juga mendengarkan penjelasan mengenai sejarah pura dari Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jro Sepuh Kadek Sumanila.

Setelah itu umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan dan dilanjutkan dengan persembahyangan bersama di Mandala Utama.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Gedong LIngga

Persembahyangan di Gedong LIngga

Jero Mangku Supardi memimpin persembahyangan

Jero Mangku Supardi memimpin persembahyangan

Setelah itu umat kemudian beristirahat sampai pagi. Kemudian umat pamit untuk melanjutkan perjalanan tirtayatra.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra WHDI Kabupaten Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Senin Umanis 16 Juni 2014 Semeton dari WHDI Kabupaten Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Mereka sampai di pura pada pukul 02.00 pagi berjumlah 60 orang menggunakan 1 buah bus. Karena Mereka tiba dipura masih tengah malam, mereka langsung ke Wantilan untuk beristirahat dan beramah tamah dengan para pengurus dan umat pura. Sebagian umat ada yang bersembahyang dan ada yang melukat di Beji. Pada Kesempatan itu Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jro Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Pagi hari umat kemudian bersembahyang di Mandala Utama. Setelah itu umat kembali ke Wantilan untuk sarapan pagi.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Bunda lagi bersih-bersih

Bunda lagi bersih-bersih

Sarapan bersama

Sarapan bersama

Beli suvenir

Beli suvenir

Setelah itu para semeton pamit mau melanjutkan perjalanan.

Semeton pamitan

Semeton pamitan

Mangku Nuryadi

Mangku Nuryadi

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Paguyuban Pemangku Besi Mejajar Kubutambahan

Om Swastiastu,
Pada Minggu, 15 Juni 2014 Umat Semeton dari Paguyuban Pemangku “Besi Mejajar” Desa Kubutambahan Buleleng Bali di pimpin Jro Wayah Ratmada melaksanakan tirtayatra di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan berjumlah sekitar 200 umat menggunakan 4 buah bus sampai dipura pada pukul 21.00WIB.
Untuk menyambut kedatangan para semeton, umat dan pengurus mulai pagi sudah berdatangan mempersiapkan segala sesuatunya agar kegiatan berjalan lancar. Disamping itu juga kita kedatangan umat sekeluarga dari Desa Sawan dipimpin Pak Putu Suriyanta yang bersembahyang di pura. Juga kita kedatangan Pembimas Hindu Jawa Timur, Bapak Ida Made Windya.

Semeton Desa Sawan bersembahyang di Mnadala Utama

Semeton Desa Sawan bersembahyang di Mandala Utama

Melukat di Beji

Melukat di Beji

Bunda juga ikut melukat

Bunda juga ikut melukat

Bapak Made Suartana sedang membuat bumbu

Bapak Made Suartana sedang membuat bumbu

Bapak Ida Made Windya (tengah) sedang berbincang dengan Bapak Jro Kadek dan Pak Anom

Bapak Ida Made Windya (tengah) sedang berbincang dengan Bapak Jro Kadek dan Pak Anom

Bapak Made Windya ikut membuat lawar bersama Bapak Komang Adi dan Bapak Made Kelapa

Bapak Made Windya ikut membuat lawar bersama Bapak Komang Adi dan Bapak Made Kelapa

Untuk menyambut semeton tersebut maka para Paguyuban Pemangku Dharma Kriya Shanti juga datang ke pura. Mereka tiba pada pukul 19.30WIB.

Anak-anak Medang Kamulan sedang bersembahyang

Anak-anak Medang Kamulan sedang bersembahyang

Ketua Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti, Jro Mangku Ketut Sumertha (tengah)

Ketua Paguyuban Pinandita Dharma Kriya Shanti, Jro Mangku Ketut Sumertha (tengah)

Pukul 21.00WIB rombongan pemangku dari Kubutambahan sampai di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Mereka langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat dan melaksanakan acara pertemuan dengan para semeton dari pura. Pada kesempatan tersebut Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jro Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah pura, baik mulai pembangunan sampai upacara ngenteg linggih, juga disampaikan tantangan dan kesulitan yang dihadapi umat dan para pengurus di pura ini. Kemudian sambutan dari Bapak Ida Made Windya yang menyampaikan bahwa kehidupan Umat Hindu di Jawa Timur itu banyak tantangannya baik dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu Beliau sudah membuat program untuk memberdayakan Umat Hindu di Jawa Timur sehingga kesejahteraan meningkat dan juga ada rasa bangga menjadi Umat Hindu. Demikian juga konsep jawa di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini akan diterapkan diseluruh Jatim.

Semeton dari Paguyuban Pemangku “Besi Mejajar” Desa Kubutambahan Buleleng Bali

Semeton dari Paguyuban Pemangku “Besi Mejajar” Desa Kubutambahan Buleleng Bali

Ketua Rumah Tangga Pura Jro Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura

Ketua Rumah Tangga Pura Jro Kadek Sumanila menyampaikan tentang sejarah pura

Pembimas Hindu Jatim Bapak Ida Made Windya menjelaskan tentang Umat di Jatim

Pembimas Hindu Jatim Bapak Ida Made Windya menjelaskan tentang Umat di Jatim

Kemudian para semeton dan umat menikmati makan malam.

Menikmati makan malam

Menikmati makan malam

Ibu-Ibu Medang Kamulan sedang menikmati makan malam

Ibu-Ibu Medang Kamulan sedang menikmati makan malam

Setelah itu dilanjutkan dengan persembahyangan di Mandala Utama dan dilanjutkan dengan melukat di Beji.
Setelah itu umat beristirahat dan paginya sembahyang bersama. Setelah itu para semeton pamit kembali ke Bali.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Melukat di Beji

Melukat di Beji

Jro Kadek kerauhan

Jro Kadek kerauhan

Sembahyang pagi di Mandala Utama

Sembahyang pagi di Mandala Utama

Menikmati Sarapan

Menikmati Sarapan

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Upacara Melaspas, Ngenteg Linggih dan Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan

Om Swastiastu,

Purnama Kawulu, 14 Pebruari 2014 di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dilaksanakan Upacara Melaspas, Ngenteg Linggih dan Piodalan yang pertama kalinya. Upacara tersebut merupakan dari kegiatan upacara yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu Nancep Karya  pada tanggal 28 Januari 2014, Larung Sesaji dan Penyucian Pusaka Medang Kamulan Nusatara Sejati di Pantai Ngliyep Malang Selatan pada tanggal 31 Januari 2014 dan Nunas Tirta ke Pura di Bali, Jawa dan Lombok pada tanggal 01 Pebruari sampai tanggal 05 Pebruari 2014. Di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan semua upacara tersebut menggunakan Banten Medang Kamulan yang merupakan perpaduan sebagian besar Banten Tengger, Sesajen Desa Mondoluku dan Banten Bali.  Kita disini ingin mengedepankan Budaya Jawa karena kita tinggal di Jawa sehingga Umat Hindu yang asli Jawa bisa berperan aktif dalam semua kegiatan upacara di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Untuk Upacara Melaspas, Ngenteg Linggih dan Piodalan dipuput oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger dan, Ida Pandita Mpu Agni Satya Wadi Winatha Daksa dari Griya Gauri Sangkara Br. Sasih Batu Bulan – Gianyar. Karena kita ingin menonjolkan Budaya Jawa maka semua sesuatunya dibuat bernuansa Jawa. Disamping pelinggih Pura yang bernuansa Jawa, Banten Jawa, Kesenian Jawa juga kita tampilkan. Bahkan para Pengurus Pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku juga berpakaian adat Jawa.

Pelinggih di Mandala Utama

Pelinggih di Mandala Utama

Banten Jawa Tengger

Banten Jawa Tengger

Banten Jawa Tengger

Banten Jawa Tengger

Bapak Anom dengan pakaian Jawa

Bapak Anom dengan pakaian Jawa

Pada hari Kamis 13 Pebruari 2014 banten-banten yang didatangkan langsung dari Tengger berikut sratinya sampai di pura dan disambut umat baik Umat Medang Kamulan maupun Umat dari pura lain yang ingin belajar membuat banten Tengger tersebut. Banten tersebut belum ditata dan dipura semuanya menata banten tersebut. Ada juga umat yang memasang wastra, penjor dan juga Senjata Dewata Nawa Sanga di Pelinggih-Pelinggih pura. Ada pula yang memasang tenda dan memasak.

Pandita Duku Eko Warnoto menjelaskan cara membuat dan menata banten

Pandita Duku Eko Warnoto menjelaskan cara membuat dan menata banten

Mangku Putu Agus sedang memasang wastra

Mangku Putu Agus sedang memasang wastra

Mangku Ketut Sedana mengajari cara membuat pengetisan

Mangku Ketut Sedana mengajari cara membuat pengetisan

Pecaruan

Pecaruan

Kerauhan

Kerauhan

Kemudian malamnya Umat kemudian melaksanakan Upacara mekala Hias dan Nedunang Ida Bhatara dan dilanjutkan dengan Persembahyangan bersama. Tepat waktu nunas tirta dan Bija, hujan turun deras tapi sebentar dan di Kediri/Blitar Gunung Lawu meletus mengakibatkan hujan batu, pasir dan abu. Abunya sampai di pura pada pagi hari sehingga mengakibatkan semuanya berwarna putih tertutup abu. Untung sebelum upacara dimulai hujan abu sudah berhenti.

Penyucian Gong

Penyucian Gong

Mecaru di Jaba Pura

Mecaru di Jaba Pura

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Nedunang Ida Bhatara

Kesenian Tengger yang mengiringi Upacara

Kesenian Tengger yang mengiringi Upacara

Pretima dan Daksina Linggih ditempatkan di Bale Peselang

Pretima dan Daksina Linggih ditempatkan di Bale Peselang

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Jumat pagi-pagi sekali umat semua mempersiapkan segala sesuatu agar nanti upacara berjalan dengan lancar. Bahkan ada yang pulang ke rumahnya untuk mencari bahan yang belum ada.

Hujan Abu yang menututpi pepohonan dan bangunan

Hujan Abu yang menutupi pepohonan dan bangunan

Bapak Made Suartana berbincang dengan Pandita Dukun Hasta Brata

Bapak Made Suartana berbincang dengan Pandita Dukun Hasta Brata

Bapak Wayan memasang dupa disetiap pelinggih

Bapak Wayan memasang dupa disetiap pelinggih

Ida Pandita Mpu Agni Satya Wadi Winatha Daksa dari Griya Gauri Sangkara Br. Sasih Batu Bulan – Gianyar menjelaskan tentang makna banten

Ida Pandita Mpu Agni Satya Wadi Winatha Daksa menjelaskan tentang makna banten

Bapak Niti Saiman dan Bapak Tomo yang menjaga kotak punia

Bapak Niti Saiman dan Bapak Tomo yang menjaga kotak punia

Kapolsek Wringinanom yang ikut membantu pengamanan

Kapolsek Wringinanom yang ikut membantu pengamanan

Pada pukul 08.30WIB dilaksanakan Upacara Melaspas. Bangunan/Pelinggih yang dipelaspas antara lain: Pelinggih Tri Rsi Maha Suci, Bale Kulkul, Bale Gong, Candi Betar Mandala Madya dan Mandala Nista, Arca Hyang Semar, Wantilan Jenggolo, Pasraman Pemangku dan Beji.

Ibu-ibu mekidung

Ibu-ibu mekidung

Jro Mangku Paria dan Jro Mangku Ketut Sedana sedang mekekawin

Jro Mangku Paria dan Jro Mangku Ketut Sedana sedang mekekawin

Para Pandita yang memimpin upacara dibantu Mangku Nengah Mariasa

Para Pandita yang memimpin upacara dibantu Mangku Nengah Mariasa

Gamelan Tengger

Gamelan Tengger

Karawitan Jawa

Karawitan Jawa

Gamelan Bali

Gamelan Bali

Mecaru

Mecaru

Melaspas Pelinggih Tri Suci Maha Rsi

Melaspas Pelinggih Tri Suci Maha Rsi

Melaspas Bale Kulkul

Melaspas Bale Kulkul

Melaspas Beji

Melaspas Beji

Menanam Pedagingan

Menanam Pedagingan

Ngayabang

Ngayabang

Selanjutnya dilaksanakan Upacara Pembejian dilanjutkan dengan Upacara Mapag Ida Bhatara Rawuh, Murwa Daksina dan Ngelinggihang Ida Bhatara Ring Sowang-Sowang. Kemudian dilanjutkan dengan Upacara Ngenteg Linggih.

Menuju Pembejian

Menuju Pembejian

Menuju Pembejian

Menuju Pembejian

Mangku Komang Budiasa

Mangku Komang Budiasa

Pretima dan daksina linggih diletakkan di beji

Pretima dan daksina linggih diletakkan di beji

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Penyucian Senjata Dewata Nawa Sanga

Penyucian Senjata Dewata Nawa Sanga

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Tari Murwa Daksina

Tari Murwa Daksina

Murwa daksina

Murwa daksina

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Kerauhan

Ngelinggihang Ida Bhatara Ring Soang-soang

Ngelinggihang Ida Bhatara Ring Soang-soang

Tarian Sakral Medang Kamulan

Tarian Sakral Medang Kamulan

Selanjutnya Upacara Piodalan dan persembahyangan bersama. Pada waktu upacara tersebut, hujan turun dengan lebatnya diikuti petir mengelegar saling bersahutan.

Tirta dari 21 Pura Bali, Jawa dan Lombok

Tirta dari 21 Pura Bali, Jawa dan Lombok

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Umat dari Tengger dan Keluarga Bapak AA Ketut Arimbawa

Umat dari Tengger dan Keluarga Bapak AA Ketut Arimbawa

dari Himpunan Kepercayaan Lumajang dan Tulungagung yang rela melawan hujan Abu Gunung Kelud untuk bisa ke pura

dari Himpunan Kepercayaan Lumajang dan Tulungagung yang rela melawan hujan Abu Gunung Kelud untuk bisa ke pura

Bapak Prof Sutantra dan Mahasiswa Hindu ITS melaksanakan persembahyangan

Bapak Prof Sutantra dan Mahasiswa Hindu ITS melaksanakan persembahyangan

Anak-anak Medang Kamulan

Anak-anak Medang Kamulan

Kegiatan Bazar

Kegiatan Bazar

Bapak AA Ketut Arimbawa memborong kaos dan suvenir Medang Kamulan

Bapak AA Ketut Arimbawa memborong kaos dan suvenir Medang Kamulan

Bapak AA Ketut Arimbawa menyerahkan punia yg diterima Bapak Kadek Sumanila

Bapak AA Ketut Arimbawa menyerahkan punia yg diterima Bapak Kadek Sumanila

Bu Kadek Sumanila dan Bu Putu Raka

Bu Kadek Sumanila dan Bu Putu Raka

Banyak yang berjualan di sepanjang jalan ke pura

Banyak yang berjualan di sepanjang jalan ke pura

Pada malam pukul 20.00WIB di Bale Gong Mandala Madya diadakan tari-tarian Jawa dan di sebelah selatan pura di pentaskan wayang kulit jawa semalam suntuk.

Pembawa Acara

Pembawa Acara

Tari Remo oleh Jelita

Tari Remo oleh Jelita

Tari Jaranan

Tari Jaranan

Palawakya

Palawakya

Tari Gandrung

Tari Gandrung

Band

Band

Tari Petruk

Tari Petruk

Penonton membludak

Penonton membludak

Bapak Kusno dan keluarga besar Bongso Wetan

Bapak Kusno dan keluarga besar Bongso Wetan

Pagelaran Wayang Kulit

Pagelaran Wayang Kulit

Sinden

Sinden

Pada Hari Sabtu siang dilaksanakan pagelaran Tari Reog dari Desa Laban dan sorenya dilanjutkan dengan Tari Reog dari Tengger.

Kesenian Reog Singo Murti Desa Laban

Kesenian Reog Singo Murti Desa Laban

Bapak Hadi Sudarmono menaiki reog

Bapak Hadi Sudarmono menaiki reog

Bapak Hadi Sudarmono menaiki reog

Bapak Hadi Sudarmono menaiki reog

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Malam harinya Tari Reog dihentikan sejenak karena ada Upacara Nyineb dan Melebar Daksina.

Pecaruan di Beji

Pecaruan di Beji

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Duku Eko Warnoto memimpin Upacara Nyineb dan Melebar Daksina

Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Duku Eko Warnoto memimpin Upacara Nyineb dan Melebar Daksina

Nyineb

Nyineb

Tari Sakral Medang Kamulan

Tari Sakral Medang Kamulan

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Melebar daksina

Setelah itu Tari Reog dilanjutkan sampai pukul 23.30 WIB.

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Kesenian Reog Siswo Budoyo Tengger

Demikian kegiatan Upacara Melaspas, Ngenteg Linggih dan Melaspas dilaksanakan dengan lancar, aman. Semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan dan berkahir dengan kebahagiaan. Akhirnya terbayar sudah semua kerja keras dari semua umat termasuk Umat dari Tengger dan juga atas restu dari tetua, Para Leluhur, Para Dewa dan Brahman dalam upaya menyukseskan upacara tersebut. Termasuk juga kerja keras dari tukang-tukang Trowulan pimpinan Bapak Tarji yang bekerja siang malam agar semua pelinggih bisa selesai tepat waktu sehingga bisa dipelaspas dan bisa dipakai sembahyang.

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

IMG_2016_resize

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

 

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto bersama

Foto berdua

Foto berdua

Foto bersama grup reog tengger

Foto bersama grup reog tengger

Om Shanti Shanti Shanti Om

Nunas Tirta dan Ngatur Piuning

Om Swastiastu,

Sehubungan dengan kegiatan upacara Melaspas, Ngenteg Linggih dan Piodalan Pura Penataran Luhur Medang Kamulan maka pada tanggal 31 Januari s/d 2 Pebruari 2014 dilaksanakan nunas tirta dan ngaturang piuning. Nunas tirta dilaksanakan untuk di Bali di semua pura Sad Kahyangan termasuk Pura Penegil Dharma dan  Pura Candi Narmada dilakukan oleh Bapak Jero Mangku Komang Budiasa, Bapak AA Ketut Arimbawa dan Semeton dari PT. SBI Denpasar. Untuk nunas tirta di Jawa di kerjakan oleh Bapak Ir. Ketut Sukarta dan Karyawan Bank Sinar Dana yaitu di Bromo, Penanggungan,  Dieng, Semeru  dan Lawu. Sedangkan nunas tirta di Gunung Rinjani Lombok dilaksanakan oleh Ibu Kadek Sumanila. Untuk Matur Piuning ke Pura Margo Wening, Pura Segara Kenjeran dan Pura Agung Jagat Karana.

Bapak Ketut Sukarta dan Ibu yang akan nunas tirta ke Bromo

Bapak Ketut Sukarta dan Ibu yang akan nunas tirta ke Bromo

Ibu Kadek Sumanila yang akan nunas tirta ke Gunung Rinjani

Ibu Kadek Sumanila yang akan nunas tirta ke Gunung Rinjani

Tirta yang sampai di pura selanjutnya diletakkan di tempat yang telah disediakan dan akan ditaruh di Petirtan Tri Utama Suci Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Penyambutan tirta dari Jawa Tengah

Penyambutan tirta dari Jawa Tengah

Tirta ditaruh ditempat yang disediakan

Tirta ditaruh ditempat yang disediakan

Penyambutan tirta dari Bali

Penyambutan tirta dari Bali

Jro Mangku KOmang Budiasa membawa tirta dari Bali

Jro Mangku KOmang Budiasa membawa tirta dari Bali

Tirta diarak mengelilingi Mandala Utama

Tirta diarak mengelilingi Mandala Utama

Bapak Kadek Sumanila membawa tirta

Bapak Kadek Sumanila membawa tirta

Tirta ditaruh ditempat yang disediakan

Tirta ditaruh ditempat yang disediakan

Gamelan Jawa oleh Pemuda Bongso Kulon menyambut kedatangan tirta

Gamelan Jawa oleh Pemuda Bongso Kulon menyambut kedatangan tirta

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Jro Mangku Drs I Nengah Mariasa MHum memimpin persembahyangan

Jro Mangku Drs I Nengah Mariasa MHum memimpin persembahyangan

Tirta yang datang tidak bersamaan karena tempat yang dituju lain-lain dan berjauhan. Karena itu Umat yang di pura selalu siaga di pura dan menyiapkan segala sesuatunya. Disela-sela persiapan tersebut umat mendapatkan pencerahan dari Ida Pedanda Gede Keniten dari Griya Cumpung – Timpag – TabananIda Pedanda Gede Keniten. Beliau menyampaikan agar kita tidak ragu-ragu lagi mengenai banten yang akan kita gunakan pada upacara ini. Apalagi yang muput adalah Pandita Dukun Tengger dan Bantennya merupakan Banten Tengger. Dan sesungguhnya kalau kita teliti antara Bbanten Bali dan Banten Tengger mempunyai dasar yang sama hanya karena di Bali dihias sedemikian rupa sehingga kelihatan seperti lain. Kita semua juga sebenarnya berasal dari Jawa yang pergi ke Bali untuk mempertahankan Agama supaya tetap bisa ajeg karena kalau kita tetap tinggal di Jawa hal itu akan sulit dilakukan. Disamping itu dengan menggunakan banten Jawa/Tengger maka umat disini akan tidak merasa disisihkan dan bisa ikut berperan membuat banten karena mereka sudah terbiasa mengerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Ida Pedanda Gede Keniten sendiri merupakan keturunan Dang Hyang Dwijendra. Beliau juga menyampaikan bahwa sudah saatnya kita bangkit kembali sehingga kejayaan bangsa ini bisa tercapai.

Ida Pedanda Gede Keniten  memberikan pencerahan kepada umat

Ida Pedanda Gede Keniten memberikan pencerahan kepada umat

Semua umat mendengarkan pencerahan dari . Ida Pedanda Gede Keniten dengan seksama. Dan semua setuju bahwa kita di Jawa ini sudah seharusnya mengedepankan adat dan budaya Jawa. Jadi nantinya yang dari Bali akan menuntun dari belakang. Apalagi rencananya ada banyak umat dari pura lain yang akan mengikuti langkah Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semoga kejayaan kembali bersama kita.

Umat mendengarkan penjelasan Ida Pedanda

Umat mendengarkan penjelasan Ida Pedanda

Umat mendengarkan penjelasan Ida Pedanda

Umat mendengarkan penjelasan Ida Pedanda

Devi

Devi

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.