Tirtayatra Semeton Umat Hindu Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Jumat Umanis Semeton Umat Hindu dari Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton sampai di pura pada pukul 17.30 sore dengan menggunakan bus berjumlah 30 orang. Juga hadir Kapolsek Kedamean, Bapak AKP I Made Jatinegara yang mengawal dan memberitahu jalan menuju ke pura. Umat kemudian langsung menuju ke Wantilan untuk beristirahat. Pada kesempatan itu, Ketua Rumah Tangga Pura, Jro Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah pura dan juga memperkenalkan umat dan pengurus pura yang ngayah disini.

Kemudian Bapak Nengah selaku perwakilan semeton menyampaikan bahwa di Buleleng pura ini cukup terkenal. Dan banyak semeton disana yang ingin metirtayatra ke pura ini. Bahkan dalam rombongan tirtayatra ini, ada sebagian umat yang sudah pernah metirtayatra ke pura ini. Rata-rata yang pernah metirtayatra ke pura ini, sangat senang dan kagum dengan suasana dan keadaan pura ini sehingga banyak yang ingin datang lagi ke pura tercinta ini.

Selanjutnya Bapak Jero Mangku Ketut Sumbawa menyampaikan kesannya. Beliau sangat antusias dengan konsep yang diterapkan di pura ini. Ini menunjukkan bahwa Hindu itu sangat fleksibel mengikuti adat istiadat setempat dan tidak berusaha untuk menghancurkan atau meniadakan keberadaan adat setempat.

Kemudian Kapolsek Kedamean Bapak AKP I Made Jatinegara yang menyatakan kesiapannya untuk mengawal perjalanan para semeton yang ingin metirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini. Beliau juga turut mepunia pasir dan paving yang digunakan untuk jalan menuju ke Beji.

Kemudian Mangku Supardi selaku umat Medang Kamulan menyampaikan bahwa kehadiran semeton dari Bali ini membuat umat di sini merasa tidak sendirian. Hal itu membuat kepercayaan diri dan kebanggaan diri sebagai Hindu semakin tinggi. Kita tidak merasa minder lagi mengaku diri sebagai seorang Hindu. Apalagi sebenarnya Hindu dan Budaya Jawa sangat erat hubungannya.

Selanjutnya Mangku Santoso menyampaikan bahwa kedatangan para semeton dari Bali ini adalah karena mereka sebenarnya untuk mengingat para leluhur mereka yang memang berasal dari Jawa. Mereka yang ingat kepada leluhur akan selalu dilindungi, akan diberikan apa yang diminta dan akan dijaga apa yang telah dimikili. Mangu Santoso sendiri ngayah di dua pura yaitu di Pura Kerta Bhumi di Dusun Bongso Wetan dan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Selanjutnya Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 maka umat kemudian menikmati makan malam.

Selanjutnya umat menuju ke Beji untuk melukat. Kemudian umat melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Setelah persembahyangan umat kemudian mekemit di pura dan paginya semeton kembali melanjutkan tirtayatra.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Keluarga Besar Universitas Pendidikan Ganesha

Om Swastiastu
Jumat Kliwon 29 Agustus 2014 Keluarga Besar Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa) Singaraja melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan menggunakan 1 bus dipimpin oleh Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA. Tiba di pura sekitar pukul 22.24 WIB. Rombongan langsung menuju ke Wantilan Jonggolo untuk beristirahat sebentar sembari mempersiapkan diri untuk melaksanakan persembahyangan. Pada kesempatan tersebut Umat semeton juga mendengarkan alunan gamelan jawa yang dibawakan oleh para penabuh yang sedang berlatih.

Semeton Undiksa

Semeton Undiksa

Latihan gamelan

Latihan gamelan

Kemudian umat mendengarkan pemaparan tentang sejarah pura dan juga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan kedepannya dari Ketua Rumah Tangga Pura, Bapak Jero Sepuh Kadek Sumanila. Juga disampaikan akan adanya rencana sarasehan tentang Umat Hindu di Gresik dan Khususnya di Medang Kamulan yang akan dilaksanakan pada Bulan Oktober 2014 di Singaraja.

Jero Sepuh Kadek Sumanila

Jero Sepuh Kadek Sumanila

Kemudian Ketua Rombongan dari Undiksa Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan kagum dan senang bisa metirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Beliau juga akan siap membantu untuk kesinambungan pura ini. Dan Beliau juga menyanggupi untuk menjadi tuan rumah acara sarasehan tersebut.

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA

Selanjutnya umat menikmati makan malam.

Makan malam

Makan malam

Kemudian umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan untuk penglukatan

Persembahyangan untuk penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu umat menuju ke Lingga Yoni untuk matur piuning. setelah itu Umat kemudian menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Jero Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan pelinggih pura

Jero Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan pelinggih pura

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutan

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutan

Bu Nyoman Resmi (baju Kuning) kerauhan

Bu Nyoman Resmi (baju Kuning) kerauhan

Jero Kadek Sumanila nampani yang kerauhan

Jero Kadek Sumanila nampani yang kerauhan

Setelah selesai sembahyang Rombongan Keluarga Besar Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa) Singaraja kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Sekedar catatan:
Kalau kita perhatikan pada foto-foto diatas, ada beberapa yang ada bulatan putihnya. Bulatan putih tersebut disebut dengan ORBS. ORBS berasal dari kata orbit atau pusat titik orbit yang berbentuk bulatan cahaya yang tertangkap oleh kamera foto (minimal dengan kamera digital resolusi 4 megapixel). Oleh sejumlah pemerhati mahluk ghaib ORBS dikatakan sebagai mahluk yang hadir dari dunia lain. Sebagian lagi mengatakan ORBS adalah cahaya pendamping yang terpancar dari kekuatan energy dalam diri manusia yang cukup besar dan positif. ORBS muncul dengan beberapa warna. Permukaannya bergambar seperti guratan tulisan dan ada juga yang berbentuk mirip wajah. Untuk mengetahuiakan keberadaan ORBS bisa dilakukan dengan pendekatan secara ilmu fisika atau bisa juga dengan pendekatan secara fenomena spiritual (spirit ORBS). Semakin banyak energy positif yang memancar dari satu tempat semakin banyak ORBS yang muncul disekitar tempat tersebut (contoh : kantor, kamar, ruang tamu, halaman rumah, bukit, pantai, pepohonan, di studio, Masjid, Gereja, Pura dan tempat-tempat peribadatan lainnya). Begitu juga dengan Orbs yang ada disekitar kita sangat bergantung dengan energy yang kita pancarkan. Semakin kuat energy (bahagia) kita memancar maka semakin banyak Orbs bertabur dengan bentuk yang tegas dan jelas bulatannya muncul di sekitar kita.
Lantas bagaimana dengan ORBS yang berbentuk bulatan cahaya?. Hampir sebagian besar praktisi supranatural dan spiritual mengatakan bahwa bulatan cahaya yang kerap tertangkap kamera adalah energyspirit dan eksistensi jiwa yang mempunyai keterikatan dengan tempat atau seseorang. Namun ada sebagian juga yang mengatakan bahwa ORBS sebagai salah satu tanda akan kehadiran malaikat atau bisa juga ‘kehadiran’ leluhur yang memiliki keterikatan batin yang kuat dengan seseorang yang dikelilingi Orbs dan sudah barang tentu seseorang ini tengah memancarkan energy positif bagi yang lainnya. Ada juga energy yang memancar dari lingkungan/tempat sekitar atau segala sesuatu yang berada dekat dengan obyek ORBS. Jika energy yang memancar kuat maka akan tampak bulatan cahaya yang besar dan tegas bentuknya serta bertabur bulatan cahaya kecil-kecil disekelilingnya. Umumnya sebagian besar orang takut untuk menterjemahkan ada apa dengan foto/gambar yang baru saja diabadikan dimana terdapat sebentuk lingkaran cahaya/ ORBS yang melekat di obyek atau disekitar obyek foto. Sebagian besar orang yang awam tentang ORBS berasumsi bahwa bulatan yang begitu banyak pada hasil foto tersebut hanyalah efek dari kamera miliknya yang kotor atau berdebu. Namun jika si pemilik kamera mau mengamati dengan seksama tentu ada sesuatu yang menarik yang dapat dipelajari, diteliti, diamati dari kamera foto miliknya yang berkaitan dengan unsur yang memberi spirit energy pada obyek foto atau lokasi foto. Bahkan bisa jadi, sang fotografer memiliki kaitan erat dengan kehadiran Orbs itu sendiri.

Makna Orbs dari berbagai pendapat spiritualis :
• Orbs adalah Energi Spirit
• Orbs adalah mahluk spiritual yang dinamis dengan kecepatan cahaya
• Orbs adalah Mahluk yang hidup (Roh)
• Orbs adalah ‘Cahaya’ Malaikat
• Orbs adalah ‘Cahaya’Kehidupan
• Orbs adalah Roh ‘Leluhur’/ Pendamping
• Orbs adalah Mahluk Ghaib
• Orbs adalah sinyal akan kehadiran Malaikat
• Orbs adalah energi spirit jiwa yang eksis dan selalu berada pada setiapmanusia/mahluk yang berenergi baik/positif
• Orbs adalah mahluk ghaib yang eksis
• Orbs adalah pancaran aura positif
• Orbs adalah teman jiwa
• Orbs adalah cahaya saksi/ cahaya pendamping

Seperti apa warna dan bentuk ORBS ?
Warna Orbs yang telah di susun oleh sejumlah pemerhati Orbs :
Pink : keterbukaan
Merah : kegelisahan
Merah pekat : kemarahan, penurunan nilai psikologis
Merah terang : energinya tinggi
Peach : kemampuan untuk menyamankan
Oranye : penyembuhan
Emas : energi mengalir bebas, toleransi
Kuning : hati-hati
Kuning hijau : pertumbuhan fisik
Hijau : penyembuhan, kesuburan
Hijau toska : hiburan, netralitas
Biru : ketenangan
Biru tua : perisai, rasa malu, naluri selamat
Ungu muda : damai bersama Tuhan
Ungu : menyimpan informasi
Violet : mencari spiritual
Putih : intensitas tinggi, perlindungan, melindungi
Perak : daya telekinetik
Coklat : koneksi ke bumi

Seperti apa bentuk ORBS ?

• Orbs berbentuk bulat/lingkaran
• Orbs akan berbentuk pipih jika ketika kamera itu di jepret ternyata ia sedang mengarah pada seseorang yang di tuju atau menarik perhatian Orbs karena seseorang itu mempunyai energy yang positif
• Orbs berbentuk cahaya yang memiliki warna (redup atau terang)
• Orbs bergerak dinamis dengan kecepatan cahaya sehingga dengan kecepatan cahaya blitz pula Orbs dapat dimunculkan pada obyek foto
• Orbs memiliki corak atau gambar di permukaannya.

Bagaimana cara berdialog dengan Orbs :
a. Sungguh-sungguh dan tulus ingin berkomunikasi
b. Meyakini kalau mereka memang ada disekitar kita
c. Sapa dengan lemah lembut dan beri salam
d. Hadirkan rasa cinta kasih untuk membangkitkan spirit energy
e. Yakinkan diri bahwa kita selalu berdampingan dengan mereka (Orbs)
f. Tenang dan jangan gaduh untuk bisa ‘merasakan’ kehadiran mereka
g. Selalu berusaha menyatu dan mencintai alam semesta maka anda akan peka dengan kehadiran mereka.

Sumber

Piodalan ke-7 Pura Kerta Buana Bongso Kulon & Ruwatan

Om Swastiastu,

Purnama Sasih Karo Minggu Legi 10 Agustus 2014 di Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon – Menganti – Gresik dilaksanakan upacara Ruwatan dan Piodalan yang ke-7.

Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon

Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon

Banten Jawa

Banten Jawa

Dalang Ki Narno Sabdo dan Pak Sai

Dalang Ki Narno Sabdo dan Pak Sai

Upacara Ruwatan dilaksanakan pada pagi harinya dipimpin oleh Dalang Ki Narno Sabdo tersebut berasal dari Tengger dan merupakan dalang Hindu asli. Upacara Ruwatan dimulai pada pukul 09.00WIB diikuti oleh 31 Umat semeton dari Daerah Gresik dan sekitarnya. Upacara Ruwatan dimulai dengan pergelaran wayang kulit yang mengisahkan tentang Bhatara Kala yang ingin mendapat pengakuan anak dari Bhatara Guru. Bhatara Guru akhirnya mengakui Bhatara Kala sebagai anaknya dan memberikan ijin untuk memakan anak manusia yang merupakan Golongan Sukerto. Adapun anak-anak yang termasuk golongan sukerto adalah :Ontang-Anting (anak tunggal lelaki), Unting-Unting (anak tunggal perempuan), Anggono (anak tunggal karena saudara-saudaranya meninggal), Uger-Uger Lawang (anak dua lelaku semua), Kembang Sepasang (dua anak perempuan semua), Kedhini-Kedhono ( yaitu anak dua perempuan lelaki), Kembar (dua anak lahir bersamaan, lelaki semua atau perempuan semua), Dhampit (dua anak lahir bersamaan, lelaki perempuan), Ghondang Kasih, (bila anak kembar berlainan warna kulitnya), Cukil-Dulit (anak tiga lelaki semua), Gotong Mayit (anak tiga perempuan semua), Sendang Kapit Pancuran (anak tiga yang tengah perempuan), Pancuran Kapit Sendang (anak tiga yang ditengah lelaki), Sarimpi (anak empat perempuan semua), Sarambah (anak empat lelaki semua), dan masih banyak lagi jenis-jenisnya.

Peserta Ruwatan

Peserta Ruwatan

Pak Sai sekeluarga Nyaur Utang

Pak Sai sekeluarga Nyaur Utang

Pagelaran Wayang Ruwatan

Pagelaran Wayang Ruwatan

Sekitar pukul 13.00WIB pagelaran wayang ruwatan selesai, kemudian para peserta ruwatan dipanggil satu persatu untuk diruwat.

Prosesi Ruwatan

Prosesi Ruwatan

Bapak Sumiono juga ikut diruwat

Bapak Sumiono juga ikut diruwat

Setelah itu peserta ruwatan dilukat pakai air kembang yang telah disucikan.

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Upacara ruwatan selesai dan kemudian dilanjutkan dengan pembejian.

Persiapan Pembejian

Persiapan Pembejian

Pembejian

Pembejian

Pembejian

Pembejian

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Ngelinggihang Ida Bhatara

Ngelinggihang Ida Bhatara

Kemudian dilanjutkan dengan puncak upacara Piodalan ke-7 Pura Kerta Bhuana. Upacara dipimpin oleh Ida Pandita Dukun Hasto Broto dan Ida Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger. Sedangkan pendharma wacana adalah Dalang Ki Narno Sabdo dari Tengger.

Upacara Piodalan

Upacara Piodalan

Pembacaan Palawakya

Pembacaan Palawakya

Sambutan Ketua Panitia Piodalan

Sambutan Ketua Panitia Piodalan

Sambutan Ketua PHDI Gresik, Bapak Kusno

Sambutan Ketua PHDI Gresik, Bapak Kusno

Dharma Wacana oleh Ki Narno Sabdo

Dharma Wacana oleh Ki Narno Sabdo

Pandita Dukun Hasto Broto dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara piodalan

Pandita Dukun Hasto Broto dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara piodalan

Setelah upacara piodalan selesai kemudian dilanjutkan dengan pagelaran kesenian dan wayang kulit semalam suntuk.

Pagelaran kesenian

Pagelaran kesenian

Umat menikmati makanan yang disiapkan panitia

Umat menikmati makanan yang disiapkan panitia

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Tirtayatra Keluarga Besar PD Bank Buleleng 45 Singaraja

Om Swastiastu,

Pada Rabu Kliwon 30 Juli 2014 Keluarga Besar PD Bank Buleleng 45 Singaraja melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Tirtayatra dipimpin oleh Bapak Putu Sadiarta dan Bapak Budi sebagai Dewan Pengawas. Umat sampai di pura pada pukul 23.30 WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk mengaso dan mempersiapkan diri melaksanakan persembahyangan. Pada kesempatan tersebut, Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Jero Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah pura dan juga hal-hal yang akan dilaksanakan selanjutnya. Juga dijelaskan tentang pelinggih-pelinggih yang terdapat dipura. Selanjutnya Bapak Putu Sadiarta menyampaikan sambutannya. Beliau menyatakan kekagumannya kepada Pura yang begitu indah dengan nuansa jawa. Beliau juga mendukung adat jawa diterapkan di pura ini, baik pelinggihnya, bantennya maupun keseniannya karena pura ini berada di Jawa maka seyogyanya kita mengutamakan budaya dan adat jawa.

Semeton Bank Buleleng 45

Semeton Bank Buleleng 45

Pemangku Medang Kamulan

Pemangku Medang Kamulan

Jro Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sambutan

Jro Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sambutan

Bapak Putu Sadiarta menyampaikan sambutan

Bapak Putu Sadiarta menyampaikan sambutan

Selanjutnya umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Melukat

Melukat

Antri Melukat

Antri Melukat

Setelah itu umat bersembahyang ke Lingga Yoni, matur piuning di Tri Suci Maha Rsi dan akhirnya persembahyangan di Mandala Utama. Setelah persembahyangan umat ada yang melanjutkan bersemedi dan ada yang beristirahat.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Pagi hari umat kemudian bersembahyang di Mandala Utama. Selesai sembahyang kemudian menuju ke Wantilan untuk sarapan. Setelah itu Semeton Umat berpamitan untuk melanjutkan tirtayatra.

Sarapan

Sarapan

Sarapan

Sarapan

Foto bersama

Foto bersama

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Melaspas Pelinggih Brawangsa dan Piodalan di Rumah Jro Sepuh Kadek Sumanila

Om Swastiastu,

Pada Rabu Kajeng Kliwon 30 Juli 2014 dilaksanakan upacara Melaspas Pelinggih Brawangsa dan sekaligus piodalan di Rumah Jro Sepuh Kadek Sumanila di Perumnnas Driyorejo Gresik . Upacara dimulai pukul 08.00WIB dipuput oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger. Banten yang digunakan adalah banten Jawa Tengger.

Jro Sepuh, Bunda, Ibu, Bapak dan Pandita Dukun Eko Warnoto

Jro Sepuh, Bunda, Ibu, Bapak dan Pandita Dukun Eko Warnoto

Bpk Made S, Pandita Dukun Hasta Brata, Bapak, Pak Agus, Jro Sepuh, Made WK

Bpk Made S, Pandita Dukun Hasta Brata, Bapak, Pak Agus, Jro Sepuh, Made WK

Bunda dan kakak

Bunda dan kakak

Devi

Devi

Dik Gaya

Dik Gaya

Luh

Luh

Pelinggih Brawangsa dibuat karena atas dasar permintaan dari seorang teman yang mengaku didatangi lewat mimpi agar dibuatkan sebuah pelinggih Brawangsa. Karena teman tersebut tidak bisa membuatkan dirumahnya, maka teman tersebut meminta tolong kepada Jro Sepuh Kadek Sumanila agar dibuatkan di rumah Jro Sepuh. Jro Sepuh menyanggupi dan pada tanggal 30 Juli 2014 Pelinggih tersebut dipelaspas sekaligus juga bersamaan dengan upacara piodalan. Pada upacara tersebut Jro Sepuh tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan teman terdekat saja.

Pelinggih Brawangsa

Pelinggih Brawangsa

Sebelum mulai upacara, para umat semeton menikmati sarapan pagi dulu.

Para Semeton

Para Semeton

Sarapan

Sarapan

Pukul 10.00 WIB upacara Melaspas Pelinggih Brawangsa dimulai. Upacara berlangsung khidmat diikuti oleh seluruh semeton yang hadir. Tempat Pelinggih Brawangsa tersebut ada di lantai 2 rumah Jro Sepuh. Upacara dipimpin oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto.

Melaspas Pelinggih Brawangsa

Melaspas Pelinggih Brawangsa

Semeton Umat

Semeton Umat

Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara

Nuktuk

Nuktuk

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Setelah selesai upacara melaspas, kemudian dilanjutkan dengan piodalan dilantai 3. Sebagian besar umat tidak bisa sembahyang dilantai 3 karena tempat terbatas. Upacara piodalan juga dipimpin oleh Pandita Dukun Hasta Brata dan Pandita Dukun Eko Warnoto.

Upacara Piodalan

Upacara Piodalan

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Kramaning Sembah

Kramaning Sembah

Kirtanam

Kirtanam

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Nunas tirta dan bija

Mohon restu

Mohon restu

 

Bunda

Bunda

Upacara selesai sekitar pukul 15.00WIB.

Ngobrol-ngobrol

Ngobrol-ngobrol

Ngopi dulu

Ngopi dulu

Minum jus sirsak

Minum jus sirsak

Om Shanti Shanti Shanti Om.

 

 

Tirtayatra Desa Adat Kelan – Kuta

Om Swastiastu,
Selasa Kliwon, 15 Juli 2014 Semeton dari Desa Adat Kelan – Kuta – Badung – Bali melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan berjumlah sekitar 45 orang dengan menggunakan 1 bus dipimpin oleh Bapak I Wayan Kantun dan sampai di pura pukul 10.00 WIB.
Umat langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk bersembahyang. Di sini umat mengadakan salam perkenalan dengan para Umat Hindu Mondoluku dan para pengurus pura. Pada kesempatan itu Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Jero Sepuh Kadek Sumanila memperkenalkan para umat dan pengurus pura. Juga disampaikan sejarah berdirinya Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Setelah itu Bapak I Wayan Kantun selaku pimpinan Umat Desa Adat Kelan menyampaikan kesan yang sangat senang bisa maturan di pura ini dan juga sambutan umat disini yang sangat baik. Juga sangat mendukung penerapan konsep budaya Jawa baik itu dari Pelinggih Pura, Keseniannya, Bantennya dan juga partisipasi umat asli jawa yang sangat tinggi pada setiap acara kegiatan di pura ini. Bahkan Umat Muslim juga aktif pada kegiatan kesenian yaitu Seni Karawitan Gong Medang Kamulan Setiyo dan Grup Kuda Lumping Sekar Budoyo.

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Umat Desa Adat Kelan Kuta

Jero Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sejarah pura

Jero Sepuh Kadek Sumanila menyampaikan sejarah pura

Bapak I Wayan Kantun memberikan sambutan

Bapak I Wayan Kantun memberikan sambutan

Umat kemudian menuju ke Beji untuk melaksanakan upacara penglukatan. Upacara dipimpin oleh Mangku Nuryadi dan Jero Sepuh Kadek Sumanila.

Beji

Beji

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Melukat

Melukat

Selanjutnya umat menuju ke Lingga Yoni, Pelinggih Tri Suci Maha Resi dan ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Lingga Yoni dipimpin oleh Mangku Timbul

Persembahyangan di Lingga Yoni dipimpin oleh Mangku Timbul

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Nunas tirta

Nunas tirta

Foto bersama

Foto bersama

Setelah selesai sembahyang umat kembali ke Wantilan Jenggolo untuk makan siang. Setelah itu umat semeton pamit akan melanjutkan tirtayatra ke Malang.

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Iluh

Iluh

Om Shanti Shanti Shanti OM

Tirtayatra Semeton dari Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Rabu Kliwon, 25 Juni 2014 Umat semeton dari Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Umat dipimpin oleh Bapak Made Artaka yang sehari-hari berprofesi sebagai Notaris di Singaraja. Umat berjumlah sekitar 60 orang sampai di pura pada pukul 21.00WIB.

Umat langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat sebentar. Disana kemudian umat mendengarkan tentang sejarah pura yang disampaikan oleh Ketua Rumah Tangga Pura Jro Kadek Sumanila. Kemudian Bapak Made Artaka memberikan sambutan, Beliau menyampaikan  kekagumannya melihat pelinggih yang begitu megah dan model yang lain dari yang lainnnya. Sebagian besar memang mengaku kalau baru sekali datang ke sini. Mereka berjanji akan datang lagi untuk metirtayatra. Kemudian Bapak Sai menyampaikan tentang adanya keinginan dari Umat Hindu disini untuk bisa menunjukkan jati dirinya sebagai Orang Hindu Jawa.

Semeton dari Buleleng

Semeton dari Buleleng

Jro Sepuh Kadek Sumanila menceritakan sejarah pura

Jro Sepuh Kadek Sumanila menceritakan sejarah pura

Bapak Made Artaka memberikan sambutan

Bapak Made Artaka memberikan sambutan

Bapak Sai memberikan sambutan

Bapak Sai memberikan sambutan

Pemberian dana punia

Pemberian dana punia

Setelah itu  umat kemudian melukat di beji. Setelah melukat umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Setelah bersembahyang para semeton melihat-lihat pelinggih yang ada di Mandala Utama.

Penglukatan di Beji

Penglukatan di Beji

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah itu umat kemudian pamit karena akan melanjutkan tirtayatra ke Pura Gunung Salak.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.