Tirtayatra Semeton Korwil I Banjar Surabaya

Om Suastiastu,
Pada Minggu Legi 23 Nopember 2014 Semeton Umat dari Korwil I Banjar Hindu Surabaya melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton yang berjumlah sekitar 20 orang di ketuai oleh Bapak I Nyoman Mustika yang juga merupakan ketua Rumah Tangga Pura Agung Jagat Karana Surabaya. Bapak I Nyoman Mustika sendiri bukan orang lain bagi Umat dan Pengurus di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Beliau sering ngayah ke pura ini sejak pura belum direnovasi. Beliau juga sering memperkenalkan pura ini dan mengajak umat untuk ngayah di pura ini.

Pukul 09.00 WIB semeton sampai di pura dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo. Di Wantilan semeton disambut oleh Umat Mondoluku dan pengurus rumah tangga pura. Pada kesempatan itu Bapak Nyoman Mustika memperkenalkan para semeton yang ikut metirtayatra yang ternyata adalah para tokoh penting di Pura Agung Jagat Karana. Juga ternyata ada beberapa umat yang belum sama sekali datang ke pura ini. Dan Beliau kaget karana ternyata pura ini begitu megah dan indah. Ada juga umat yang pernah datang ke pura ini tetapi sebelum di renovasi.Bapak Nyoman Mustika juga menceritakan perjuangan Beliau dan teman-temannya dari dulu terhadap pura ini karena pura ini mau diprelina. Rencananya akan lebih banyak lagi yang akan metirtayatra ke pura ini.

Semeton Banjar Surabaya

Semeton Banjar Surabaya

Semeton Banjar Surabaya

Semeton Banjar Surabaya

Bapak Nyoman Mustika

Bapak Nyoman Mustika

Selanjutnya Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila selaku ketua rumah tangga pura menyampaikan bahwa pura ini dibangun sebagai tempat untuk melinggihkan para Leluhur mulai dari zaman Kerajaan Medang sampai Kerajaan Majapahit. Juga sebagai tempat untuk menstanakan Hyang Semar dan juga para Rsi yang telah berjasa menyebarkan ajaran Dharma di seluruh Nusantara ini. Makanya dipura ini mempunyai pelinggih paling banyak. Juga dipura ini menggunakan konsep Jawa dalam bebantenan dan juga pelinggih-pelinggihnya. Jero Sepuh sendiri tidak mengklaim pura yang besar dan megah ini karena jasa Beliau sendiri semata. Semua karena kehendak Para Leluhur, Para Dewa dan Brahman. Kita hanya menjalankannya saja. Pura ini juga menjadi begini karena peran serta semua Umat Hindu, Masyarakat Mondoluku dan Pemerintah yang menyumbangkan pikiran, tenaga dan dana sehingga pura ini bisa terwujud.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu umat menuju ke Lingga Yoni.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Kemudian umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Ken Dedes

Persembahyangan di Ken Dedes

Setelah persembahyangan umat nunas minyak Medang Kamulan . Pada kesempatan itu Bapak Nyoman Mustika menyerahkan punia yang diterima Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila.

Persembahyangan di Panji

Persembahyangan di Panji

Nunas minyak

Nunas minyak

Penyerahan punia

Penyerahan punia

Pukul 13.00WIB umat kembali ke Wantilan untuk makan siang.

Makan siang

Makan siang

Pukul 13.30WIB semeton pamit kembali kerumah.
Om Shanti Shanti Shanti Om.

Tirtayatra Semeton Umat Desa Sangsit

Om Swastiastu,

Sabtu Wage, 01 Nopember 2014 Semeton Umat Hindu dari Desa Sangsit Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Umat yang datang dengan menggunakan bus dikoordinir oleh Jero Mangku Gede Masia. Umat sampai di pura sekitar pukul 03.00 WIB dan langsung menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk persembahyangan. Pukul 05.30 WIB umat menikmati santap pagi.

Semeton Desa Sangsit

Semeton Desa Sangsit

Semeton Desa Sangsit bersama Umat Mondoluku

Semeton Desa Sangsit bersama Umat Mondoluku

Menikmati Sarapan

Menikmati Sarapan

Belanja Oleh - Oleh

Belanja Oleh – Oleh

Pada kesempatan itu juga, Ketua Rumat Tangga Pura Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila memperkenalkan para pengurus pura dan umat Hindu Mondoluku. Juga disampaikan sejarah pura dan persiapan piodalan pertama yang jatuh pada Purnama Kawulu, 03 Pebruari 2015. Setelah itu disampaikan agar semeton ikut ngayah di pura ini. Juga diberitahukan bahwa ada rencana untuk membuat Kamar Mandi/Toilet, memperbaiki jalan ke beji dan memperbaiki dapur dan gudang.

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila

Selanjutnya Koordinator semeton tirtayatra Bapak Jero Mangku Gede Masia memberikan sambutan. Beliau menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan dan juga siap ngayah untuk pura ini. Juga siap menyebarkan proposal kepada umat di Buleleng.

Jero Mangku Gede Masia

Jero Mangku Gede Masia

Kemudian Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menyerahkan piagam dilanjutkan dengan penyerahan proposal yang diterima oleh Jero Mangku Gede Masia.

Penyerahan Piagam

Penyerahan Piagam

Penyerahan Proposal

Penyerahan Proposal

Pukul 06.50 WIB umat menuju ke Beji untuk melakukan penglukatan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu umat bersembahyang ke Lingga Yoni dan dilanjutkan dengan persembahyangan bersama di Mandala Utama. Pada kesempatan tersebut Jero Sepuh LMK Kadek Sumanila menjelaskan pelinggih-pelinggih yang ada di pura ini.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Mangku Supardi memimpin persembahyangan

Mangku Supardi memimpin persembahyangan

Penjelasan Pelinggih pura

Penjelasan Pelinggih pura

Persembahyangan di Ken Dedes

Persembahyangan di Ken Dedes

Nunas Rantasan

Nunas Rantasan

Berfoto di depan Gedong Lingga Kamulan

Berfoto di depan Gedong Lingga Kamulan

Pukul 11.00 WIB semeton pamit melanjutkan tirtayatra.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Semeton Banjar Pemamoran – Kuta dan Sekaa Demen Penyandang Cacat Denpasar

Om Swastiastu,

Pada Sabtu Paing, 25 Oktober 2014 Semeton Umat Hindu dari Banjar Pemamoran Desa Adat Kuta – Badung – Bali, melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton sampai di pura sekitar pukul 05.50 WIB diketua oleh Bapak Nyoman Merta, SH berjumlah sekitar 48 orang. Semeton kemudian menuju ke Wantilan Jenggolo untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk persembahyangan. Semeton diterima oleh Ketua dan para Pengurus Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan Umat Hindu Desa Mondoluku.

Semeton Umat Hindu dari Banjar Pemamoran Desa Adat Kuta – Badung – Bali

Semeton Umat Hindu dari Banjar Pemamoran Desa Adat Kuta – Badung – Bali

Kemudian sekitar pukul 07.15 WIB datang lagi semeton dari Sekaa Demen Penyandang Cacat – Sesetan – Denpasar juga melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton yang merupakan para penyandang tuna netra ini di pimpin oleh Bapak Ketut Masir dan berjumlah sekitar 40 orang. Sebenarnya semeton ini mau sampai di pura kemarin malam tetapi karena tersesat sampai di Kota Gresik, semeton kemudian mekemit di Pura Agung Jagat Karana Surabaya. Paginya semeton diantar ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan oleh Ketua Rumah Tangga Pura Agung Margo Wening Bapak Nyoman Mustika. Semeton kemudian menuju ke Wantilan Jenggolo dan bergabung dengan Semeton Umat Hindu dari Banjar Pemamoran Desa Adat Kuta – Badung – Bali.

Sekaa Demen Penyandang Cacat – Sesetan – Denpasar

Sekaa Demen Penyandang Cacat – Sesetan – Denpasar

Sambil beristirahat sebentar dan sambil mempersiapkan diri untuk bersembahyang, umat kemudian mendengarkan sambutan dari Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Bapak Jero Sepuh Mayor Marinir Kadek Sumanila. Beliau menyampaikan tentang sejarah pura, pelinggih-pelinggihnya dan juga bebantenannya. Beliau juga memperkenalkan para pengurus rumah tangga pura dan Umat Hindu Desa Mondoluku. Bapak Jero juga mengucapkan selamat datang dan terima kasih karena telah metirtayatra ke pura ini. Juga Beliau kagum dengan semangat para semeton penyandang cacat yang sangat antusias metirtayatra meski dengan kondisi seperti itu.

Sambutan dari Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Bapak Jero Sepuh Mayor Marinir Kadek Sumanila

Sambutan dari Ketua Rumah Tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan Bapak Jero Sepuh Mayor Marinir Kadek Sumanila

Kemudian Bapak Nyoman Merta selaku wakil dari Umat Banjar Pemamoran Desa Adat Kuta menyampaikan sambutannya. Beliau menyatakan kekagumannya dengan semangat Umat Hindu Desa Mondoluku mempertahankan Agama Hindu meski banyak mendapatkan tantangan dan cobaan. Tetapi itu juga merupakan kehendak Leluhur sehingga mereka bisa bertahan. Karena kita semua berWit di Jawi karena setelah para Rsi dari Jawi datang ke Bali untuk menyebarkan Hindu maka sejak itu Bali mempunyai peradaban. Oleh karena itu sudah seharusnya kita yang dari Bali datang ke Jawa untuk mencari Leluhur kita. Dan kita juga sangat mendukung adat dan Budaya Jawa diterapkan di pura ini dan kalau bisa di seluruh Tanah Jawa. Karena denga cara tersebut mereka yang asli Jawa akan merasa dihargai dan tambah kuat keHinduannya.

Bapak Nyoman Merta

Bapak Nyoman Merta

Selanjutnya sambutan dari Bapak Ketut Masir yang menyampaikan bahwa mereka sudah lebih dari 21 kali melaksanakan tirtayatra ke Jawa. Dan mereka tahu pura ini dari membaca di internet. Mereka kemudian dengan biaya sendiri berangkat metirtayatra ke pura ini meskipun mereka sama sekali tidak tahu pura ini. Dan akhirnya setelah tersesat dan ditunjukkan jalan oleh Bapak Nyoman Mustika mereka akhirnya sampai di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini. Bapak Ketut Masir juga sangat setuju pura ini menerapkan konsep jawa pada bantennya karena orang di sini sudah terbiasa dan dengan demikian kita tidak perlu susah-susah membawa banten dari Bali lagi.

Bapak Ketut Masir

Bapak Ketut Masir

Bapak Jero Sepuh Kadek Sumanila kemudian memberikan kenang-kenangan berupa sebuah piagam ucapan terima kasih dan sebuat stiker Medang Kamulan yang diterima oleh masing-masing perwakilan semeton.

Pemberian Kenang-Kenangan

Pemberian Kenang-Kenangan

Pemberian Kenang-Kenangan

Pemberian Kenang-Kenangan

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.19 WIB maka kemudian umat menikmati makan pagi.

Makan Pagi

Makan Pagi

Pak Made Suartana juga makan

Pak Made Suartana juga makan

Bunda dan Bu Made

Bunda dan Bu Made

Setelah makan pagi, umat kemudian menuju ke Beji Sumber Kahuripan untuk melaksanakan penglukatan. Karena tempat terbatas, maka semeton dari Banjar Pemamoran dulu yang melukat. Pada saat melukat tersebut ada empat semeton yang kerauhan. Suasanapun menjadi semakin sakral.

Semeton Banjar Pemamoran  sembahyang di Beji

Semeton Banjar Pemamoran sembahyang di Beji

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Setelah semeton Banjar Pemamotan selesai melukat, selanjutnya semeton dari Sekaa Demen yang melaksanakan penglukatan. Pada saat itu juga ada seorang umat yang kerauhan.

semeton dari Sekaa Demen sembahyang di Beji

semeton dari Sekaa Demen sembahyang di Beji

Melukat

Melukat

Semeton Kerauhan

Semeton Kerauhan

Nunas Tirta

Nunas Tirta

Selanjutnya umat matur piuning di Lingga Yoni dan Pelinggih Tri Suci Maha Rsi.

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Kemudian umat melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama. Karena cuaca sangat panas maka umat duduknya berpancar dibawah pohon-pohon yang ada di Mandala Utama.

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Setelah selesai persembahyangan, sebagian umat nunas rantasan yang disediakan oleh pura.

Nunas Rantasan

Nunas Rantasan

Semeton kerauhan

Semeton kerauhan

Sekitar pukul 11.45WIB semeton dari Banjar Pemamoran – Kuta dan Sekaa Demen Penyandang Cacat Denpasar pamit melanjutkan tirtayatra ketempat lainnya.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Semeton Umat Hindu Buleleng

Om Swastiastu,

Sabtu Pahing 20 September 2014 Semeton Umat Hindu dari Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton sampai di pura pada pukul 18.30 petang dengan menggunakan bus.

Sesampai di pura umat menuju ke wantilan untuk beristirahat dan menikmati makan malam. Pada kesempatan tersebut, Ketua Rumah Tangga Pura, Jero Sepuh Kadek Sumanila memperkenalkan para Umat Hindu di Mondoluku dan para pengurus pura. Juga disampaikan tentang sejarah pura dan kegiatan upacara yang dilaksanakan di pura ini.

Semeton Buleleng

Semeton Buleleng

Makan malam

Makan malam

Jero Sepuh Kadek Sumanila memberikan sambutan

Jero Sepuh Kadek Sumanila memberikan sambutan

Kemudian Bapak Gede selaku wakil dari semeton memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan bahwa konsep jawa yang diterapkan di pura ini sangat bagus karena menganut sistem desa kala patra. Beliau juga sangat mengharapkan agar pura ini bisa ajeg selamanya dan bisa cepat dikenal dikalangan umat Hindu se-Indonesia. Biasanya rata-rata butuh waktu lama agar sebuah pura baru bisa dikenal oleh masyarakat luas. Tetapi dengan keunikan yang dimiliki oleh pura ini, Beliau yakin bahwa pura ini akan cepat dikenal oleh masyarakat.

Bapak Gede memberikan sambutan

Bapak Gede memberikan sambutan

Selanjutnya umat menuju ke beji untuk melukat. Setelah itu umat menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

Penglukatan

Penglukatan

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Lingga Yoni

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Mandala Utama

Persembahyangan di Ken Dedes

Persembahyangan di Ken Dedes

Persembahyangan di Kanjeng Ratu

Persembahyangan di Kanjeng Ratu

Selanjutnya umat mekemit dipura dan paginya semeton kembali melanjutkan tirtayatra.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Semeton Umat Hindu Buleleng

Om Swastiastu,

Pada Jumat Umanis Semeton Umat Hindu dari Buleleng melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Semeton sampai di pura pada pukul 17.30 sore dengan menggunakan bus berjumlah 30 orang. Juga hadir Kapolsek Kedamean, Bapak AKP I Made Jatinegara yang mengawal dan memberitahu jalan menuju ke pura. Umat kemudian langsung menuju ke Wantilan untuk beristirahat. Pada kesempatan itu, Ketua Rumah Tangga Pura, Jro Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan tentang sejarah pura dan juga memperkenalkan umat dan pengurus pura yang ngayah disini.

Semeton dari Buleleng

Semeton dari Buleleng

Semeton Dari Buleleng

Semeton Dari Buleleng

Jero Sepuh Kadek Sumanila memberikan sambutan

Jero Sepuh Kadek Sumanila memberikan sambutan

Kemudian Bapak Nengah selaku perwakilan semeton menyampaikan bahwa di Buleleng pura ini cukup terkenal. Dan banyak semeton disana yang ingin metirtayatra ke pura ini. Bahkan dalam rombongan tirtayatra ini, ada sebagian umat yang sudah pernah metirtayatra ke pura ini. Rata-rata yang pernah metirtayatra ke pura ini, sangat senang dan kagum dengan suasana dan keadaan pura ini sehingga banyak yang ingin datang lagi ke pura tercinta ini.

Bapak Nengah memberikan sambutan

Bapak Nengah memberikan sambutan

Selanjutnya Bapak Jero Mangku Ketut Sumbawa menyampaikan kesannya. Beliau sangat antusias dengan konsep yang diterapkan di pura ini. Ini menunjukkan bahwa Hindu itu sangat fleksibel mengikuti adat istiadat setempat dan tidak berusaha untuk menghancurkan atau meniadakan keberadaan adat setempat.

Bapak Jero Mangku Ketut Sumbawa memberikan sambutan

Bapak Jero Mangku Ketut Sumbawa memberikan sambutan

Kemudian Kapolsek Kedamean Bapak AKP I Made Jatinegara yang menyatakan kesiapannya untuk mengawal perjalanan para semeton yang ingin metirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan ini. Beliau juga turut mepunia pasir dan paving yang digunakan untuk jalan menuju ke Beji.

Kapolsek Kedamean Bapak AKP I Made Jatinegara memberikan sambutan

Kapolsek Kedamean Bapak AKP I Made Jatinegara memberikan sambutan

Kemudian Mangku Supardi selaku umat Medang Kamulan menyampaikan bahwa kehadiran semeton dari Bali ini membuat umat di sini merasa tidak sendirian. Hal itu membuat kepercayaan diri dan kebanggaan diri sebagai Hindu semakin tinggi. Kita tidak merasa minder lagi mengaku diri sebagai seorang Hindu. Apalagi sebenarnya Hindu dan Budaya Jawa sangat erat hubungannya.

Mangku Supardi

Mangku Supardi

Selanjutnya Mangku Santoso menyampaikan bahwa kedatangan para semeton dari Bali ini adalah karena mereka sebenarnya untuk mengingat para leluhur mereka yang memang berasal dari Jawa. Mereka yang ingat kepada leluhur akan selalu dilindungi, akan diberikan apa yang diminta dan akan dijaga apa yang telah dimikili. Mangu Santoso sendiri ngayah di dua pura yaitu di Pura Kerta Bhumi di Dusun Bongso Wetan dan di Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Mangku Santoso

Mangku Santoso

Selanjutnya Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Bapak Nengah selaku wakil semeton memberikan punia yang diterima oleh Ketua Rumah Tangga Pura Bapak Jero Kadek Sumanila.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 maka umat kemudian menikmati makan malam.

Makan Malam

Makan Malam

Selanjutnya umat menuju ke Beji untuk melukat. Kemudian umat melaksanakan persembahyangan bersama di Mandala Utama Pura Penataran Luhur Medang Kamulan.

Persembahyangan di Beji

Persembahyangan di Beji

 Melukat

Melukat

Bapak AKP I Made Jatinegara

Bapak AKP I Made Jatinegara

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Semeton kerauhan

Semeton kerauhan

Isteri Bapak Siwa kerauhan

Isteri Bapak Siwa kerauhan

Jero Kadek Sumanila menampi yang kerauhan

Jero Kadek Sumanila menampi yang kerauhan

Persembahyangan bersama dipimpin Mangku Pardi

Persembahyangan bersama dipimpin Mangku Pardi

Setelah persembahyangan umat kemudian mekemit di pura dan paginya semeton kembali melanjutkan tirtayatra.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Tirtayatra Keluarga Besar Universitas Pendidikan Ganesha

Om Swastiastu
Jumat Kliwon 29 Agustus 2014 Keluarga Besar Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa) Singaraja melaksanakan tirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Rombongan menggunakan 1 bus dipimpin oleh Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA. Tiba di pura sekitar pukul 22.24 WIB. Rombongan langsung menuju ke Wantilan Jonggolo untuk beristirahat sebentar sembari mempersiapkan diri untuk melaksanakan persembahyangan. Pada kesempatan tersebut Umat semeton juga mendengarkan alunan gamelan jawa yang dibawakan oleh para penabuh yang sedang berlatih.

Semeton Undiksa

Semeton Undiksa

Latihan gamelan

Latihan gamelan

Kemudian umat mendengarkan pemaparan tentang sejarah pura dan juga rencana kegiatan yang akan dilaksanakan kedepannya dari Ketua Rumah Tangga Pura, Bapak Jero Sepuh Kadek Sumanila. Juga disampaikan akan adanya rencana sarasehan tentang Umat Hindu di Gresik dan Khususnya di Medang Kamulan yang akan dilaksanakan pada Bulan Oktober 2014 di Singaraja.

Jero Sepuh Kadek Sumanila

Jero Sepuh Kadek Sumanila

Kemudian Ketua Rombongan dari Undiksa Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan kagum dan senang bisa metirtayatra ke Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Beliau juga akan siap membantu untuk kesinambungan pura ini. Dan Beliau juga menyanggupi untuk menjadi tuan rumah acara sarasehan tersebut.

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA

Selanjutnya umat menikmati makan malam.

Makan malam

Makan malam

Kemudian umat menuju ke Beji untuk melaksanakan penglukatan.

Persembahyangan untuk penglukatan

Persembahyangan untuk penglukatan

Penglukatan

Penglukatan

Setelah itu umat menuju ke Lingga Yoni untuk matur piuning. setelah itu Umat kemudian menuju ke Mandala Utama untuk melaksanakan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama

Persembahyangan bersama

Nunas Tirta dan Bija

Nunas Tirta dan Bija

Jero Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan pelinggih pura

Jero Sepuh Kadek Sumanila menjelaskan pelinggih pura

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutan

Dean Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA memberikan sambutan

Bu Nyoman Resmi (baju Kuning) kerauhan

Bu Nyoman Resmi (baju Kuning) kerauhan

Jero Kadek Sumanila nampani yang kerauhan

Jero Kadek Sumanila nampani yang kerauhan

Setelah selesai sembahyang Rombongan Keluarga Besar Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa) Singaraja kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Sekedar catatan:
Kalau kita perhatikan pada foto-foto diatas, ada beberapa yang ada bulatan putihnya. Bulatan putih tersebut disebut dengan ORBS. ORBS berasal dari kata orbit atau pusat titik orbit yang berbentuk bulatan cahaya yang tertangkap oleh kamera foto (minimal dengan kamera digital resolusi 4 megapixel). Oleh sejumlah pemerhati mahluk ghaib ORBS dikatakan sebagai mahluk yang hadir dari dunia lain. Sebagian lagi mengatakan ORBS adalah cahaya pendamping yang terpancar dari kekuatan energy dalam diri manusia yang cukup besar dan positif. ORBS muncul dengan beberapa warna. Permukaannya bergambar seperti guratan tulisan dan ada juga yang berbentuk mirip wajah. Untuk mengetahuiakan keberadaan ORBS bisa dilakukan dengan pendekatan secara ilmu fisika atau bisa juga dengan pendekatan secara fenomena spiritual (spirit ORBS). Semakin banyak energy positif yang memancar dari satu tempat semakin banyak ORBS yang muncul disekitar tempat tersebut (contoh : kantor, kamar, ruang tamu, halaman rumah, bukit, pantai, pepohonan, di studio, Masjid, Gereja, Pura dan tempat-tempat peribadatan lainnya). Begitu juga dengan Orbs yang ada disekitar kita sangat bergantung dengan energy yang kita pancarkan. Semakin kuat energy (bahagia) kita memancar maka semakin banyak Orbs bertabur dengan bentuk yang tegas dan jelas bulatannya muncul di sekitar kita.
Lantas bagaimana dengan ORBS yang berbentuk bulatan cahaya?. Hampir sebagian besar praktisi supranatural dan spiritual mengatakan bahwa bulatan cahaya yang kerap tertangkap kamera adalah energyspirit dan eksistensi jiwa yang mempunyai keterikatan dengan tempat atau seseorang. Namun ada sebagian juga yang mengatakan bahwa ORBS sebagai salah satu tanda akan kehadiran malaikat atau bisa juga ‘kehadiran’ leluhur yang memiliki keterikatan batin yang kuat dengan seseorang yang dikelilingi Orbs dan sudah barang tentu seseorang ini tengah memancarkan energy positif bagi yang lainnya. Ada juga energy yang memancar dari lingkungan/tempat sekitar atau segala sesuatu yang berada dekat dengan obyek ORBS. Jika energy yang memancar kuat maka akan tampak bulatan cahaya yang besar dan tegas bentuknya serta bertabur bulatan cahaya kecil-kecil disekelilingnya. Umumnya sebagian besar orang takut untuk menterjemahkan ada apa dengan foto/gambar yang baru saja diabadikan dimana terdapat sebentuk lingkaran cahaya/ ORBS yang melekat di obyek atau disekitar obyek foto. Sebagian besar orang yang awam tentang ORBS berasumsi bahwa bulatan yang begitu banyak pada hasil foto tersebut hanyalah efek dari kamera miliknya yang kotor atau berdebu. Namun jika si pemilik kamera mau mengamati dengan seksama tentu ada sesuatu yang menarik yang dapat dipelajari, diteliti, diamati dari kamera foto miliknya yang berkaitan dengan unsur yang memberi spirit energy pada obyek foto atau lokasi foto. Bahkan bisa jadi, sang fotografer memiliki kaitan erat dengan kehadiran Orbs itu sendiri.

Makna Orbs dari berbagai pendapat spiritualis :
• Orbs adalah Energi Spirit
• Orbs adalah mahluk spiritual yang dinamis dengan kecepatan cahaya
• Orbs adalah Mahluk yang hidup (Roh)
• Orbs adalah ‘Cahaya’ Malaikat
• Orbs adalah ‘Cahaya’Kehidupan
• Orbs adalah Roh ‘Leluhur’/ Pendamping
• Orbs adalah Mahluk Ghaib
• Orbs adalah sinyal akan kehadiran Malaikat
• Orbs adalah energi spirit jiwa yang eksis dan selalu berada pada setiapmanusia/mahluk yang berenergi baik/positif
• Orbs adalah mahluk ghaib yang eksis
• Orbs adalah pancaran aura positif
• Orbs adalah teman jiwa
• Orbs adalah cahaya saksi/ cahaya pendamping

Seperti apa warna dan bentuk ORBS ?
Warna Orbs yang telah di susun oleh sejumlah pemerhati Orbs :
Pink : keterbukaan
Merah : kegelisahan
Merah pekat : kemarahan, penurunan nilai psikologis
Merah terang : energinya tinggi
Peach : kemampuan untuk menyamankan
Oranye : penyembuhan
Emas : energi mengalir bebas, toleransi
Kuning : hati-hati
Kuning hijau : pertumbuhan fisik
Hijau : penyembuhan, kesuburan
Hijau toska : hiburan, netralitas
Biru : ketenangan
Biru tua : perisai, rasa malu, naluri selamat
Ungu muda : damai bersama Tuhan
Ungu : menyimpan informasi
Violet : mencari spiritual
Putih : intensitas tinggi, perlindungan, melindungi
Perak : daya telekinetik
Coklat : koneksi ke bumi

Seperti apa bentuk ORBS ?

• Orbs berbentuk bulat/lingkaran
• Orbs akan berbentuk pipih jika ketika kamera itu di jepret ternyata ia sedang mengarah pada seseorang yang di tuju atau menarik perhatian Orbs karena seseorang itu mempunyai energy yang positif
• Orbs berbentuk cahaya yang memiliki warna (redup atau terang)
• Orbs bergerak dinamis dengan kecepatan cahaya sehingga dengan kecepatan cahaya blitz pula Orbs dapat dimunculkan pada obyek foto
• Orbs memiliki corak atau gambar di permukaannya.

Bagaimana cara berdialog dengan Orbs :
a. Sungguh-sungguh dan tulus ingin berkomunikasi
b. Meyakini kalau mereka memang ada disekitar kita
c. Sapa dengan lemah lembut dan beri salam
d. Hadirkan rasa cinta kasih untuk membangkitkan spirit energy
e. Yakinkan diri bahwa kita selalu berdampingan dengan mereka (Orbs)
f. Tenang dan jangan gaduh untuk bisa ‘merasakan’ kehadiran mereka
g. Selalu berusaha menyatu dan mencintai alam semesta maka anda akan peka dengan kehadiran mereka.

Sumber

Piodalan ke-7 Pura Kerta Buana Bongso Kulon & Ruwatan

Om Swastiastu,

Purnama Sasih Karo Minggu Legi 10 Agustus 2014 di Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon – Menganti – Gresik dilaksanakan upacara Ruwatan dan Piodalan yang ke-7.

Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon

Pura Kerta Bhuana Bongso Kulon

Banten Jawa

Banten Jawa

Dalang Ki Narno Sabdo dan Pak Sai

Dalang Ki Narno Sabdo dan Pak Sai

Upacara Ruwatan dilaksanakan pada pagi harinya dipimpin oleh Dalang Ki Narno Sabdo tersebut berasal dari Tengger dan merupakan dalang Hindu asli. Upacara Ruwatan dimulai pada pukul 09.00WIB diikuti oleh 31 Umat semeton dari Daerah Gresik dan sekitarnya. Upacara Ruwatan dimulai dengan pergelaran wayang kulit yang mengisahkan tentang Bhatara Kala yang ingin mendapat pengakuan anak dari Bhatara Guru. Bhatara Guru akhirnya mengakui Bhatara Kala sebagai anaknya dan memberikan ijin untuk memakan anak manusia yang merupakan Golongan Sukerto. Adapun anak-anak yang termasuk golongan sukerto adalah :Ontang-Anting (anak tunggal lelaki), Unting-Unting (anak tunggal perempuan), Anggono (anak tunggal karena saudara-saudaranya meninggal), Uger-Uger Lawang (anak dua lelaku semua), Kembang Sepasang (dua anak perempuan semua), Kedhini-Kedhono ( yaitu anak dua perempuan lelaki), Kembar (dua anak lahir bersamaan, lelaki semua atau perempuan semua), Dhampit (dua anak lahir bersamaan, lelaki perempuan), Ghondang Kasih, (bila anak kembar berlainan warna kulitnya), Cukil-Dulit (anak tiga lelaki semua), Gotong Mayit (anak tiga perempuan semua), Sendang Kapit Pancuran (anak tiga yang tengah perempuan), Pancuran Kapit Sendang (anak tiga yang ditengah lelaki), Sarimpi (anak empat perempuan semua), Sarambah (anak empat lelaki semua), dan masih banyak lagi jenis-jenisnya.

Peserta Ruwatan

Peserta Ruwatan

Pak Sai sekeluarga Nyaur Utang

Pak Sai sekeluarga Nyaur Utang

Pagelaran Wayang Ruwatan

Pagelaran Wayang Ruwatan

Sekitar pukul 13.00WIB pagelaran wayang ruwatan selesai, kemudian para peserta ruwatan dipanggil satu persatu untuk diruwat.

Prosesi Ruwatan

Prosesi Ruwatan

Bapak Sumiono juga ikut diruwat

Bapak Sumiono juga ikut diruwat

Setelah itu peserta ruwatan dilukat pakai air kembang yang telah disucikan.

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Prosesi Penglukatan

Upacara ruwatan selesai dan kemudian dilanjutkan dengan pembejian.

Persiapan Pembejian

Persiapan Pembejian

Pembejian

Pembejian

Pembejian

Pembejian

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Mapag Ida Bhatara Rawuh

Murwa Daksina

Murwa Daksina

Ngelinggihang Ida Bhatara

Ngelinggihang Ida Bhatara

Kemudian dilanjutkan dengan puncak upacara Piodalan ke-7 Pura Kerta Bhuana. Upacara dipimpin oleh Ida Pandita Dukun Hasto Broto dan Ida Pandita Dukun Eko Warnoto dari Tengger. Sedangkan pendharma wacana adalah Dalang Ki Narno Sabdo dari Tengger.

Upacara Piodalan

Upacara Piodalan

Pembacaan Palawakya

Pembacaan Palawakya

Sambutan Ketua Panitia Piodalan

Sambutan Ketua Panitia Piodalan

Sambutan Ketua PHDI Gresik, Bapak Kusno

Sambutan Ketua PHDI Gresik, Bapak Kusno

Dharma Wacana oleh Ki Narno Sabdo

Dharma Wacana oleh Ki Narno Sabdo

Pandita Dukun Hasto Broto dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara piodalan

Pandita Dukun Hasto Broto dan Pandita Dukun Eko Warnoto memimpin upacara piodalan

Setelah upacara piodalan selesai kemudian dilanjutkan dengan pagelaran kesenian dan wayang kulit semalam suntuk.

Pagelaran kesenian

Pagelaran kesenian

Umat menikmati makanan yang disiapkan panitia

Umat menikmati makanan yang disiapkan panitia

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.